Koch download

Download Koch download

Post on 16-Jun-2015

1.079 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li> 1. Galur Kacang Tanah Tahan Penyakit Karat dan Bercak Daunhttp://balitkabi.litbang.deptan.go.id/id/kacang-tanah/blog-2Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Spaeoisariopsis personata, dan penyakitkarat daun yang disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis mulai menyerang tanamankacang tanah saat tanaman berumur sekitar 5060 hari hingga panen. Karena serangan terjadipada pertengahan menjelang akhir pertumbuhan tanaman, serangan penyakit tersebut seringkalidianggap sebagai pertanda bahwa tanaman telah tua dan siap panen.Telah diperoleh delapan galur kacang tanah yang memiliki tingkat ketahanan tinggi terhadappenyakit karat dan bercak daun masing-masing dengan skor 2,5-3 dan 3-4 pada 100 hari setelahtanam. Hasil polong kering berkisar antara 2,4 hingga 2,7 t/ha. Hampir seluruh galur terpilihbertipe Spanish, dengan ukuran biji mulai sedang hingga agak besar. Warna kulit biji merahmuda cerah merupakan salah satu karakter unggul yang membedakan terhadap varietas lain.Warna yang cerah mendekati putih diminati oleh sebagian konsumen, khususnya industrimakanan olahan.Bercak daun Cercospora spp. dan karat (Puccinia arachidis) merupakan penyakit yang dominanpada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah.Bercak daun Cercospora spp. dan karat (Puccinia arachidis) merupakan penyakit yang dominanpada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah. Di Kabupaten Banjarnegara,penyemprotan fungisida Bitertanol 300 g/l pada umur 7, 9 dan 11 minggu cukup efektif menekanserangan penyakit bercak daun dan karat, sehingga dapat menghasilkan jumlah daun saat panenlebih besar dibanding perlakuan tanpa penyemprotan fungisida. Pengendalian penyakit daunselain menekan kehilangan hasil polong 8,57,4%, juga dapat menekan kerontokkan daun,sehingga hasil biomassa untuk pakan ternak semakin banyak.Intensitas serangan penyakit daun dan hasil polong kering kacang tanahtanpa dan dengan fungisida Banjarnegara, MT 2006. Intensitas seranganHasil polong Perlakuan Bercak daunKarat daun kering (t/ha)pada 85 hst (%) pada 85 hst (%) Tanpa fungisida49,347,22,16 Dengan fungisida 38,933,92,36 Petani *)54,353,71,95*) varietas lokal, tanpa seed treatment fungisida Captan, tanpa saluran drainase, tanpa fungisida kimia.http://berbagiilmukehutanan.blogspot.com/2011/03/penerapan-postulat-koch-dalam.html</li></ul><p> 2. Postulat KochPostulat Koch atau Postulat Henle-Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan Robert Koch pada1884 dan disaring dan diterbitkannya pada 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhiuntuk menentukan hubungan sebab-musabab antara parasit dan penyakit.Iamenerapkannyauntuk untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanyatelah dierapkan pada penyakit lain.Isi postulat Koch adalah: Organisme (parasit) harus ditemukan dalam hewan yang sakit, tidak pada yang sehat. Organisme harus diisolasi dari hewan sakit dan dibiakkan dalam kultur murni. Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada hewan yang sehat. Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari hewan yang dicobakan tersebutBagaimanapun, harus diperhatikan bahwa Koch mengabaikan bagian kedua dari postulatpertama (organisme penyakit tidak ditemukan pada hewan sehat), ketika ia menembukan karierasimtomatik atau tak bertanda pada kolera. Kemudian karier asimtomatik bertambah seiiringditemukannya virus seperti polio, herpes simpleks, HIV dan hepatitis C. Postulat ketiganya puntidak selalu terjadi.SejarahPostulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasipatogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu.[1] Walaupun dalam masa Koch, dikenalbeberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidakmemenuhi semua postulatnya.[2] Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saatmendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belumdapat dilihan atau diisolasi dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi.[3][4]Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhisemua isi postulat.[5] Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidakdiperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.Aplikasi Postulat Koch Pada Lahan Pertanaman AgroforestriPada pertanaman agroforestri terdapat kompetisi yang konstan untuk mendapatkan sumberdayaterutama yang tersedia terbatas terutama dalam hal cahaya, air serta makro dan mikro nutrien 3. esensial. Dalam rangka persaingan unsur hara ini, banyak tanaman telah mengadopsikan stategipenggunaan bahan kimia untuk mendapatkan pemenuhan sumberdaya tersedi dalam proporsiyang lebih besar.Pada pertanaman agroforestry dimana tanaman dari berbagai jenis diusahakan pada lahan yangsama dengan pengaturan waktu tertentu sehingga kehadiran allelopati dari beberapa jenis dapatmempengaruhi pertumbuhan jenis yang lain, sehingga pengelola harus mengetahui akibat dariadaya allelopati ini dalam rangka perencanaan kedepan (Anonim, 2008).Metode interaksi penyebaran allelopati dari aksi kompetitif secara alami dapat dijelaskan denganmenerapkan penelitian menggunakan prinsip postulat Koch. Dalam tujuan menghadirkanallelopati dengan baik, maka harus dihadirkan dengan cara mengambilnya dari tanaman yangterkena pengaruh, kemudian mengamatinya untuk mengetahui gejala yang ditimbulkan (Carroll,1994).Postulat Koch juga dapat digunakan ketika terdapat serangan oleh pathogen (Anonim, 2008)pada pertanaman agroforestry, hal ini dimungkinkan misalnya pada agroforestry berbasis buahataupun agroforestry berbasis tanaman pertanian.Penerapan Postulat Koch pada Pertanaman ManggisPermasalahan yang dihadapi petani dan pelaku bisnis manggis di Indonesia adalah rendahnyaproduktivitas dan kualitas manggis yang diproduksi. Pada tahun 2001, dari total produksinasional hanya 18,86% manggis yang memiliki kualitas layak ekspor. Hal ini terkait dengansistem produksi manggis yang sebagian besar berasal dari tanaman manggis rakyat yangberada dalam kebun campuran maupunpekarangan yang tidak dipelihara secara optimal. Sampai tahun 2004 ini, dari studi kasusyang dilakukan oleh PKBT IPB dalam kegiatan pendampingan konversi hutan manggismenjadi kebun manggis telah berhasil meningkatkan produktivitas dan kualitas buah ekspor.Peningkatan produktivitas mencapai 45 80 kg/pohon dari semula hanya 5 20 kg/pohon dankualitas buah ekspor yang dihasilkan mencapai 40%. Oleh karena itu, perbaikan sistemproduksi manggis perlu mendapat perhatian yang serius dalam upaya meningkatkanagribisnis manggis (Anonim, 2004). 4. Salah satu penyebab rendahnya mutu manggis adalah penyakit getah kuning yang menyebabkan rasanya menjadi pahit dan burik di kulit buah yang membuat warna kulit buah menjadi kusam dan tidak menarik. Penyakit getah kuning dan burik tidak hanya terdapat pada buah yang matang, tetapi juga sudah menyerang buah yang umur 9 minggu setelah bunga mekar (minggu setelah anthesis). Pengendalian hama dan penyakit dapat meningkatkan kualitas buah (Anonim, 2004). Penyebab getah kuning belum diketahui dengan pasti sehingga perlu dilakukan identifikasi penyebab penyakit untuk menetapkan metode pengendalian yang efektif. Sebagian ahli menduga, getah kuning merupakan penyakit fisiologis yang terjadi karena pecahnya sel-sel kulit buah akibat perubahan potensial air saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Pendapat lain mengatakan getah kuning disebabkan karena pelukaan kulit buah bagian dalam akibat benturan antar buah. Identifikasi awal terhadap mikroorganisme yang berasosiasi dengan getah kuning mendapatkan lima isolat bakteri patogen. Verifikasi apakah bakteri tersebut adalah penyebab primer atau sekunder dilakukan dengan pengujian Postulat Koch (Anonim,2009). ReferensiAnonim. 2004. Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2004 Pengembangan Buah-buahan Unggulan Indonesia. www.google.com/search?.Anonim.2008. Crop Diversity andthe Food Crisis. http://www.spc.int/lrd/Publications/ LRD_Newsletter/LRD%20news%20Vol%20no.2.pdfAnonim. 2009. Budidaya Gaharu Sistem Bio Induksi, Hasil Kerja Keras Peneliti Balitbang Kehutanan Dephut. www.Baungcamp.com. Diunduh tanggal 12 April 2009.Carroll, Matthew W. 1994. Allelopathic Interactions In A Temperate Forest Setting By Higher Woody Plants And Understory Components. Colorado State University. 5. postulat kouch04 MarPOSTULAT KOCHI. PendahuluanPenyakit tanaman adalah suatu keadaan dimana tumbuhan mengalami gangguan fungsi fisiologissecara terus menerus sehingga menimbulkan gejala dan tanda. Gangguan fisiologis inidisebabkan oleh faktor biotik (bakteri, cendawan, virus dan nematoda) maupun faktor abiotik(suhu, kelembaban, unsur hara mineral) (Agrios, 1996). Percobaan Koch dan peneliti-penilititelah membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan penyakit tertentu pula yang dikenaldengan postulat Koch.Dalam Postulat Koch disebutkan, untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebabpenyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat. Pertama, organisme selaluberasosiasi dengan inang dalam semua kejadian penyakit. Kedua, organisme (patogen) dapatdiisolasi dan dikulturkan menjadi biakan murni. Ketiga, hasil isolasi saat diinokulasikan padatanman sehat akan menghasilkan gejala penyakit yang sama dengan tanaman yang telah terkenapenyakit. Keempat, dari tanaman yang telah diinokulasi didapatkan hasil isolasi yang samadengan hasil isolasi yang pertama.Postulat Koch ini dapat membuktikan bahwa hasil isolasi tanaman sakit jika diinokulasikan padatanman sehat akan menghasilkan gejala penyakit yang sama dengan tanaman yang telah terkenapenyakit. Praktikum kali ini akan mengisolasi Colletotrichum capsici ke cabai yang masih sehat.II. TujuanPraktikum ini bertujuan untuk mengetahui aplikasi Postulat Koch pada cabe.III. Hasil PengamatanFoto Colletotrichum capsiciKontrol 6. Bagian yangterserangpenyakit agrilands.netKarena pada praktikum kali ini kelompok kami gagal, maka kami tidak menyertakan perhitungandiameter.IV. PembahasanPostulat Koch menyebutkan bahwa untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebabpenyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat. Pertama, organisme selaluberasosiasi dengan inang dalam semua kejadian penyakit. Kedua, organisme (patogen) dapatdiisolasi dan dikulturkan menjadi biakan murni. Ketiga, hasil isolasi saat diinokulasikan padatanman sehat akan menghasilkan gejala penyakit yang sama dengan tanaman yang telah terkenapenyakit. Keempat, dari tanaman yang telah diinokulasi didapatkan hasil isolasi yang samadengan hasil isolasi yang pertama.Berdasarkan kriteria diatas, pada praktikum ini dilakukan isolasi cendawan Colletotricum capsicipada tanaman cabai. Cabai yang telah dimasuki inokulum Colletotricum capsici seharusnyaterinfeksi oleh cendawan tersebut. Akan tetepi ternyata percabaan yang kami lakukan gagal.Terdapat polutan yang menyebabkan Colletotricum capsici tidak tumbuh pada cabai. Berdasrkanpostulat Koch ada dua hal yang dapat menyebabkan percobaan ini gagal yaitu biakanmikroorganisme yang di isolasi ke cabai bukan merupakan biakan murni atau terkontaminasaioleh mikroorganisme yang lain. Yang kedua adalah cabai yang digunakan merupakan cabai yangtahan (tidak suseptibel) sehingga cendawan Colletotricum capsici tidak mampumenginfeksicabai tersebut. yang sehat.V. SimpulanIsolasi cenadawan Colletotricum capsici pada cabai memenuhi criteria organisme penyebabpenyakit. Namun inokulum yang di isolasi harus merupakan biakan murni agar percobaanberhasil dan dilakukan secara aseptic agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroorganisma lain. 7. VI. Daftar PustakaAgrios G N. 1996. Plant Pathology. Gainesville: Unyversity of Florida. (13 Desember 2010)Pelezar, Michael J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)(13 Desember 2010)Streets, R.B. 1972. Diagnosis of Plant Diseases. Tuscon:The University of Arizona PressRobert Koch (1843-1910)SALAH satu faktor utama penyebab timbulnya penyakit adalah kontaminasi mikroorganismeberupa bakteri. Meskipun terdapat spesies bakteri tertentu yang menguntungkan bagi hewan danmanusia, namun bakteri dapat pula menjadi penyebab timbulnya suatu penyakit yang sangatmerugikan. Salah satunya adalah penyakit antraks.Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Bacillus anthracis yangbersifat akut. Penyakit ini sering kali ditemui pada hewan-hewan ternak (farm animals), namundapat menular pula pada manusia (zoonosis). Antraks masih menjadi masalah khusus disejumlah negara, termasuk Indonesia. Keberadaannya sangat ditakuti oleh masyarakat danpelaku usaha pada bidang peternakan. Selain karena menyebabkan kerugian materi akibat 8. matinya ternak, antraks juga bisa menyebabkan nyawa manusia melayang.Untungnya, manusia memiliki pengetahuan mengenai antraks, meski pengetahuan itu masihterbatas. Pengetahuan manusia terhadap antraks tidak terlepas dari jasa para peneliti di masa lalu.Antraks dapat diketahui sebagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri setelah melalui berbagaimacam percobaan dan penelitian. Pada saat ini, bakteri antraks dapat diidentifikasi dandikembangbiakkan dalam sebuah media tertentu. Hal tersebut dapat terwujud berkat hasil kerjakeras seorang bakteriologis berkebangsaan Jerman bernama Robert Koch (1843-1910).Penelitian pada tikusRobert Koch lahir pada tanggal 11 Desember 1843 di Clausthal-Zellerfeld, Hannover, Jermandengan nama Robert Heinrich Hermann Koch. Ayahnya adalah seorang ahli pertambanganterkemuka. Koch menempuh pendidikan dasar di sekolah lokal yang terletak tidak jauh daritempat tinggalnya. Pada saat memasuki sekolah menengah atas, Koch menunjukkanketertarikannya yang sangat tinggi terhadap biologi.Dalam biografi Robert Koch pada sebuah publikasi yang berjudul Nobel Lectures, Physiology orMedicine 1901-1921 dijelaskan, Koch mempelajari ilmu kedokteran di University of Gottingenpada tahun 1862. Kemudian, di tempat ini Koch mengenal seorang profesor dalam bidanganatomi, Jacob Henle. Perkenalan tersebut tampaknya menjadi pengalaman yang bersejarah bagiKoch.Jacob Henle adalah orang pertama yang mempengaruhi Koch untuk mempelajari bakteriologi.Hal itu dirasakan Koch ketika mengetahui pendapat Henle yang menyatakan, penyakit menulardisebabkan oleh organisme parasit hidup. Setelah itu, Koch pun lulus dan mendapat gelar M.D.(medical doctor) pada tahun 1866. Koch kemudian menikah dengan Emmy Fraats yangmemberikannya seorang anak bernama Gertrud.Penelitian Koch terhadap antraks dimulai ketika antraks menjadi penyakit hewan denganprevalensi paling tinggi pada masa itu. Dengan berbekal sebuah mikroskop sederhana dalamlaboratorium di ruangan rumahnya, Koch mencoba membuktikan secara ilmiah mengenaibacillus yang menyebabkan antraks. Hal itu dilakukan dengan menyuntikkan Bacillus anthraciske dalam tubuh sejumlah tikus. Koch mendapatkan Bacillus anthracis tersebut dari limpa hewanternak yang mati karena antraks.Hasilnya, semua tikus yang telah disuntik oleh Bacillus anthracis ditemukan dalam keadaan mati.Sementara itu, tikus yang suntik oleh da...</p>