kesandung cinta

Click here to load reader

Post on 31-Jan-2016

33 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KESANDUNG CINTA

Di malam yang sunyi senyap berniat menemui sang Pencipta, dengan kesungguhan hati, Ia berdoa, kemudian bersyahadat:

Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah... Lalu Ia pun memejamkan matanya.Menit-menit berlalu malampun semakin larut, tiada seorangpun yang terjaga, malam yang di tunggu-tunggu telah tiba, yaitu malam yang mulia, yang di naungi oleh para Malaikat, yang tidak semua orang tahu betapa nikmatnya bercinta dengan Tuhan pencipta alam, Allah memberikan Maghfiroh kepada hambaNya yang bertaqwa, Allah akan selalu ingat kepada hambaNya yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya, Allah akan selalu membuka pintu rizki, dari manapun yang Dia kehendaki untuk hambaNya yang tawakal, dan Allah akan memberikan Rahman dan Rahim-Nya, kepada hamba-hamba yang ikhlas dan istiqomah dalam beribadah kepada-Nya, itulah petuah yang selalu di ingat oleh seorang anak, yaitu seorang hamba muda yang tinggal di rumah sederhana, Ia sudah terbiasa menjalankan Sholat sunah malam, maupun Sholat sunah yang lainnya, sehingga Ia selalu merasa dekat dengan Tuhannya, Ia adalah anak sulung kebanggaan Ayahnya, namun dalam mendidik, Ayahnya tidak pernah memanjakannya, Ayahnya menanamkan ketegasan dan kedisiplinan dalam dirinya.

Setiap harinya Ia harus menyetorkan hafalan-hafalan ayat suci Al-Quan, dan malamnya di khususkan untuk belajar dan beristirahat, Ayahnya adalah seorang petani dan peternak ikan, sehingga banyak kolam-kolam ikan di belakang rumahnya, pernah suatu ketika Ia tak menyetorkan hafalan, kemudian Ayahnya memberikan hukuman menimba air untuk di isikan kedalam kolam-kolam di belakang rumahnya sampai penuh, walaupun Ibunya merasa kasihan, namun Ibunya tak bisa berkutik apa-apa, karena Ibu sangat menghargai didikan Ayahnya, walaupun didikan Ayahnya sangat keras, namun Ayahnya tetap menyayanginya, dan pernah suatu ketika Ia mengalami sakit panas, yang paling hawatir adalah Ayahnya, sampai Ayahnya tidur dan menjaga di sampingnya, dan ketika Ia menginjak kelas 2 Tsanawiyah, Ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung. Kenangan terindah bersama sang Ayah adalah ketika Ia sudah fasih dalam menghafal semua juz Al-Quran, sampai tak terasa Ia melihat Ayahnya menitikkan air mata, lalu menciumi kening dan memeluknya dengan hangat. Dan kini suasana rumah terasa sepi tanpa kehadiran seorang Ayah di sisinya lagi, dan kini Ia bertekad keras ingin mengabulkan harapan Ayahnya menjadi seorang ahli Tafsir Al-Quran, entah bagaimanapun caranya, dengan bermodalkan niat, Ia yakin Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tekun, kini Ia menggantikan pekerjaan sang Ayah demi kelancaran hidupnya. Setiap pagi, Ia membantu Ibunya berbelanja kepasar, untuk di masak dan di jual di warteg Ibunya yang sudah berjalan dua tahunan, yang letaknya cukup strategis di pinggir jalan yang selalu di lintasi banyak orang, namun Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai Ia tidak boleh membantu apapun yang sedang Ibunya lakukan, namun Ia tetap membantu karena Ia tak tega melihat Ibunya mengerjakannya sedirian, Ia mempunyai seorang adik perempuan yang masih kelas 4 SD, adiknya sangat berbeda dengan dirinya, adiknya sangat manja, karena selalu di manjakan oleh Ibu dan dirinya, kemudian ketika Ia lulus SMA, Ia mengikuti beberapa tes beasiswa.

Satu minggu telah berlalu, dan malamnya Ia di datangi Kepala Sekolah. Sedang asyik mengajari adiknya mengaji, tiba-tiba Ibunya memanggil untuk menemui gurunya yang sedang duduk di teras, sedikit Ia terkejut, dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa yah? Pak Kepala datang kerumah. Dan tak terasa Ia merasakan jantungnya berdebar begitu kencang, dengan perlahan Ia bersama sang Ibu menghampiri gurunya itu, dan tak di duga gurunya memberi selamat atas keberhasilannya mendapat beasiswa di luar Negeri, dengan terkejut Ia hampir tak percaya, Ia merasa sedang berada dalam mimpi, Ia begitu sangat bahagia dan langsung sujud Syukur kepada Allah, karena Allah telah mengabulkan doanya, kemudian Ia memeluk Ibunya di susul dengan pelukan gurunya.

Rencana pemberangkatan adalah besok lusa, sang Ibu banyak menyiapkan barang-barang yang akan di bawanya, namun Ia merasa bimbang karena tak bisa meninggalkan Ibu dan adiknya, lantaran tak ada yang menjaga mereka.Jam menunjukkan pukul 21.00 malam, Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian Ia menatap ke dinding-dinding kamarnya, lalu Ia menatap ke langit-langit memikirkan Ibu dan adiknya yang akan di tinggalnya pergi, tak lama kemudian Ia mulai mengantuk, dan akhirnya Ia tertidur.

Malam yang di tunggupun telah tiba, perlahan Ia membuka matanya dan melihat jam dinding sudah pukul 02.30, kemudian Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, lalu mengambil air wudhu untuk bertahajud bermunajat kepada-Nya, dan di dalam doanya Ia memohon:

Ya Allah, ya Muhammad ya Rasulullah....... Hamba berserah diri kepada-MU, ampunilah segala dosa-dosa hamba, dan kedua orangtua hamba. Ya Sami ya Basyir.... Hamba pasrahkan hidup dan mati hamba hanya untuk beribadah kepada-MU. Ya Ghofuuur....... Ridhoilah hamba untuk membahagiakan kedua orangtua hamba, lancarkanlah jalan hamba menuju ridho-MU, aamiinn.... Allahumma aamiin,Tiba-tiba terdengar suara lembut memanggil Fatih... Anak Ibu, sudah selesai Sholatnya nak? Kemudian Fatih menyahut dengan lembut.

Nggeh Bu. Kalau sudah, coba keluar sebentar, Ibu pengen anak Ibu yang periksa lagi apa yang mau di bawa Fatih menyahut lagi Nggeh Bu... Sebentar lagi Fatih keluar,

Kemudian Fatih keluar dan menemui Ibunya yang sedang merapikan barang-barang yang akan di bawanya untuk kuliah di luar Negeri.

Bu... Sudah Bu sudah! masa semuanya di bawa, ini sudah cukup Bu. Fatih melihat barang-barangnya sangat banyak, kemudian Fatih memandangi Ibunya sangat dalam di temani dengan deraian air mata yang berjatuhan di pipinya, dan perlahan Ibunya menyeka air mata di pipi Fatih.

Loh, kok anak Ibu sedih begini? Bu, Fatih ingin Ibu ikut ke Mesir tinggal bersama Fatih di sana, Fatih takut terjadi apa-apa sama Ibu di sini.Fatih anak Ibu, luruskanlah niatmu menuntut ilmu, Ibu akan baik-baik saja di sini, kan ada Hanifah adikmu,

Ibu, berat sekali Fatih meninggalkan Ibu dan ade, rasanya Fatih ingin membatalkan beasiswa ini, Fatih takut nanti Ibu sakit, sedangkan Ayah sudah tiada, mana mungkin Ifah bisa merawat Ibu, Ifahkan suka manja, Bu.Jangan hawatir nak, ada Allah yang selalu melindungi kita semua, sudah jangan bersedih lagi, nanti Ibu ikut sedih, Ibu akan selalu mendoakanmu, hati-hati disana, jaga diri, jangan lupa SholatFatih menciumi tangan Ibunya dan memeluknya dengan erat, pelukan hangat dengan penghormatan kasih sayang, lalu Ibunyapun membalasnya.

Ibu jangan telat kasih kabar ke Fatih ya Bu,Insya Allah nak, semoga Allah selalu melindungimu. Ibupun menciumi kening Fatih dengan lembut di iringi dengan doa dan kasih sayang, deraian air mata terus mengalir sebelum keberangkatan Fatih, kemudian Ifah bertanya pada kakaknya. Aa Fatih.. Aa nanti kapan pulang? Fatih tersenyum kecil, lalu menjawab. Adik Aa kok nanya gituh sih, belum juga berangkat.Ifah memeluk kakaknya dengan manja, Fatih mencubit pipi Ifah yang menggemaskan itu lalu berpesan, Ifah adik Aa, jangan nakal yah!, jaga Ibu di rumah, jangan habiskan waktu dengan hal-hal yang tidak manfaat!, Aa sayang sama Ifah.

Nggeh A, Ifah juga sayang sama Aa, insya Allah Ifah akan jaga Ibu baik-baik, Aa hati-hati di sana yah

Kemudian setelah Sholat Subuh, Ibupun mengajak untuk sarapan bersama diruang tengah, seperti hari-hari biasa, mereka sarapan sepiring bertiga, itulah keluarga Fatih yang selalu di naungi kesederhanaan dan kasih sayang.

Setelah sarapan, Fatih segera bersiap-siap dan memakai pakaian yang telah di siapkan Ibunya, dan Ia terlihat begitu tampan dan wibawa dengan kemeja berwarna krem di temani dengan kaca mata yang di belikan almarhum Ayahnya, setelah semuanya siap, tiba-tiba datang seorang tamu perempuan cantik, berbusana gaul namun syari, Ia adalah teman dekat Fatih dari Jakarta, Ia teman kursus bahasa inggris sewaktu sekolah SMA. Dengan suara lembut perempuan itu mengucapkan salam Assalamualaikum.. Lalu Fatih menjawab. Waalaikumussalam.. Kemudian Fatih menoleh kearah pintu depan, dan ternyata itu adalah teman perempuan yang dekat dengannya sewaktu sekolah, dengan terkejut Fatih berkata Humaira...

Iyah Fatih, ini aku temanmu, aku sempatkan datang kemari hanya untuk memberikan ini untukmu,

Ini apa Humaira?

Nanti di bukanya jangan disini, semoga bermanfaat yah sob

Ok thankyou so much Humaira.Humaira tersenyum manis dan menundukkan kepalanya, lalu Fatihpun membalasnya dengan senyuman, kemudian Humaira berpesan, Titi di je yah..! Fatihpun menjawab. Ok sob, makasih salam buat keluarga yah!. Walaupun berpakaian sangat gaul namun Humaira tetap Syari, dari itu semua ikhwan mengaguminya, termasuk Fatih.

Pemberangkatan yang sangat mengharukan antara keluarga dan sahabat, mereka mengantar Fatih sampai ke bandara, lalu Fatihpun mulai menaiki Pesawat yang telah siap terbang, dan beberapa menit kemudian terbanglah pesawat yang di tumpangi Fatih, dan Fatihpun melambai-lambaikan tangannya kepada Ibu, adik, dan sahabatnya.

Di pesawat Fatih duduk di paling depan bersama seorang anak kecil, dia sangat lucu dan pintar, kemudian dengan lugunya anak kecil itu menyapa Kakak mau kemana? Fatih menjawab, Kakak mau ke Mesir, ade mau kemana? tanyanya lagi.Azam mau pulang ke Mesir, Azam habis dari Surabaya, dari rumah nenek, oh yah, nama kakak siapa? Azam mengulurkan tangannya yang mungil itu dan melemparkan senyum manjanya kepada Fatih, kemudian Fatih pun menjabat tangannya dengan hangat.

Nama kakak Fatih, nama ade.. Azam yah, bagus sekali

Nama kakak juga bagus, pasti orangtua kakak sangat bangga sama kakak, karena kakak selalu takut sama Allah

Amiin... Ade Azam, ngomongnya kaya