kelompok mangrove

Download Kelompok Mangrove

Post on 05-Aug-2015

20 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MAKALAH EKOLOGI AKUATIK Ekosistem Mangrove

Disusun oleh: Alfa alminiah Narita Ayu Maharani Larasati Ratna Rachmasari D.W Nurul Mufitdhah (091810401032) (101810401003) (101810401006) (101810401011) (101810401018)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB 1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau dan mempunyai wilayah pantai sepanjang 54.716 kilometer. Wilayah pantai (pesisir) ini banyak ditumbuhi hutan mangrove. Luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4.251.011,03 hektar dengan penyebaran: 15,46 persen di Sumatera, 2,35 persen di Sulawesi, 2,35 persen di Maluku, 9,02 persen di Kalimantan, 1,03 persen di Jawa, 0,18 Bali dan Nusa Tenggara, dan 69,43 persen di Irian Jaya (FAO/UNDP, 1990 dalam Hainim, 1996). Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya di sepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung. Sedangkan Ekosistem mangrove sebagai ekosistem peralihan antara darat dan laut yang telah diketahui mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai penghasil bahan organik, tempat berlindung berbagai jenis binatang, tempat memijah berbagai jenis ikan dan udang, sebagai pelindung pantai, mempercepat pembentukan lahan baru, penghasil kayu bangunan, kayu bakar, kayu arang, dan tanin. Masing-masing kawasan pantai dan ekosistem mangrove memiliki historis perkembangan yang berbeda-beda. Perubahan keadaan kawasan pantai dan ekosistem mangrove sangat dipengaruhi oleh faktor alamiah dan faktor campur tangan manusia(Soedjarwo, 1979). Pada dasarnya kawasan pantai merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut. Oleh karena itu posisi garis pantai bersifat tidak tetap dan dapat berpindah (walking land atau walking vegetation) sesuai dengan pasang surut air laut dan abrasi serta pengendapan lumpur (Waryono, 1999). Secara umum dapat dimengerti bahwa bentuk dan tipe kawasan pantai, jenis vegetasi, luas dan penyebaran ekosistem mangrove tergantung kepada karakteristik biogeografi dan hidrodinamika setempat. Berdasarkan kemampuan daya dukung (carrying capacity) dan kemampuan alamiah untuk mempengaruhi (assimilative capacity), serta kesesuaian penggunaannya. Kawasan pantai dan ekosistem mangrove menjadi sasaran kegiatan eksploitasi sumber daya alam dan pencemaran lingkungan akibat tuntutan pembangunan yang masih cenderung menitik beratkan bidang ekonomi. Semakin banyak manfaat dan keuntungan ekonomis yang diperoleh, maka semakin berat pula beban kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sebaliknya makin sedikit manfaat dan keuntungan ekonomis, makin ringan pula kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Dampak-dampak lingkungan tersebut dapat diidentifikasi dengan adanya degradasi kawasan pantai dan semakin berkurangnya luas ekosistem mangrove.

Secara fisik kerusakan-kerusakan lingkungan yang diakibatkannya berupa abrasi, intrusi air laut, menurunnya keanekaragaman hayati dan musnahnya habitat dari jenis flora dan fauna tertentu. Kerusakan kawasan pantai mempunyai pengaruh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang hidup di dalam atau di sekitarnya. Kemunduran ekologis mangrove dapat mengakibatkan menurunnya hasil tangkapan ikan dan berkurangnya pendapatan para nelayan kecil di kawasan pantai tersebut. Eksploitasi dan degradasi kawasan mangrove mengakibatkan perubahan ekosistem kawasan pantai seperti tidak terkendalinya pengelolaan terumbu karang, keanekaragaman ikan, hutan mangrove, abrasi pantai, intrusi air laut dan punahnya berbagai jenis flora dan fauna langka, barulah muncul kesadaran pentingnya peran ekosistem mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan pantai.

BAB 2.PEMBAHASAN 2.1 Pengertian mangrove Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya di sepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung (Nontji, 1987). Ekosistem hutan mangrove bersifat kompleks dan dinamis, namun labil. Dikatakan kompleks karena ekosistemnya di samping dipenuhi oleh vegetasi mangrove, juga merupakan habitat berbagai satwa dan biota perairan. Jenis tanah yang berada di bawahnya termasuk tanah perkembangan muda (saline young soil) yang mempunyai kandungan liat yang tinggi dengan nilai kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation yang tinggi. Kandungan bahan organik, total nitrogen, dan ammonium termasuk kategori sedang pada bagian yang dekat laut dan tinggi pada bagian arah daratan (Kusmana, 1994). Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Dikatakan labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala. Sebagai daerah peralihan antara laut dan darat, ekosistem mangrove mempunyai gradien sifat lingkungan yang tajam. Pasang surut air laut menyebabkan terjadinya fluktuasi beberapa faktor lingkungan yang besar, terutama suhu dan salinitas. Oleh karena itu, jenis-jenis tumbuhan dan binatang yang memiliki toleransi yang besar terhadap perubahan ekstrim faktor-faktor tersebutlah yang dapat bertahan dan berkembang. Kenyataan ini menyebabkan keanekaragaman jenis biota mangrove kecil, akan tetapi kepadatan populasi masing-masing umumnya besar (Kartawinata et al., 1979). Adapun ciri-ciri dari hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah : memiliki jenis pohon yang relatif sedikit; memiliki akar yang unik misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.; memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora, memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon. Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah : tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang; tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat; daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat; airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2-22 )(Rismunandar,2000).

2.1.1 Zonasi dan Formasi Mangrove Hutan mangrove terdiri atas beberapa lapisan kelompok tumbuhan yang begitu teratur sehingga tidak terkesan tumbuh sembarangan akan tetapi membentuk suatu zonasi. Berdasarkan jenis-jenis pohon penyusun hutan mangrove, umumnya mangrove di indonesia jika dirunut dari arah laut ke arah daratan biasanya dapat di bedakan menjadi 4 zonasi yaitu: Zona Api-api Prepat (Avicennia - Sonneratia)

Terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut ,keadaan tanah berlumpur agak lembek(dangkal), sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zona ini biasanya di dominasi oleh jenis api-api (Avicennia spp.)

dan prepat (Sonneratia spp.) dan biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora spp.) Zona Bakau (Rhizophora )

Biasanya terletak di belakang api-api dan prepat keadaan tanah berlumpur lembek (dalam). Pada umumnya di dominasi oleh jenis-jenis bakau (Rhizophora

spp.) dan di beberapa tempat dijumpai berasosiasi dengan jenis lain seperti tanjang (Bruguiera spp.), nyirih (Xylocarpus spp.) dan dungun (Heritiera spp.). Zona Tanjang (Brugueira)

Terletak di belakang zona bakau ,agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak keras,agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya di tumbuhi jenis tanjang (Brugueira spp.) dan

dibeberapa tempat berasosiasi dengan jenis lain seperti tingi (Ceriops spp.) dan duduk (Lumnitzera spp.). Jenis Brugueira gymnorrizha merupakan jenis pohon penyusun

terakhir formasi mangrove. Zona Nipah (Nypa fructicane)

Terletak paling jauh dari laut atau paling dekat ke arah darat.

Zona ini mengandung air dengan salinitas sangat rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang dipengaruhi pasang surut, dan kebanyakan berada di tepi-tepi sungai dekat laut. Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (Nypa fructicane), Deris spp.

dan sebagainya. Menurut Nybakken (1992) pembagian daerah zonasi dapat juga dikarenakan oleh kondisi lokal seperti penguapan air dari tanah yang mengakibatkan terjadinya hipersalinitas. Hipersalinitas cenderung mematikan bakal, membentuk daerah gundul. Perkembangan maksimal hutan bakau ditemukan pada daerah-daerah dengan curah hujan tinggi atau pada daerah-daerah dimana sungai-sungai memberikan air tawar yang cukup untuk mencegah perkembangan kondisi hipersalin. Zonasi juga dibatasi oleh gerakan pasang surut. Bila kisaran pasang kecil, maka zona intertidal juga terbatas, seperti halnya hutan-hutan bakau. Kebanyakan hutan-hutan yang luas berkembang pada pantai yang mempunyai kisaran pasang surut vertikal yang besar. Menurut struktur ekosistemnya, secara garis besar dikenal 3 tipe formasi mangrove : Mangrove Pantai Pada tipe ini pengaruh air laut lebih dominan dari air sungai. Struktur horizontal formasi ini dari arah laut ke darat adalah mulai dari tumbuhan pionir (Sonneratia alba), diikuti oleh komunitas campuran S. Alba, Avicennia spp., Rhizophora apiculata, selanjutnya komunitas murni Rhizophora spp. dan akhirnya komunitas campuran Rhizophora-Bruguiera. Bila genangan berlanjut, akan ditemui komunitas murni Nypa fructicane di belakang komunitas campuran yang terakhir. Mangrove Muara Pada tipe ini pengaruh air laut sama kuat dengan pengaruh air sungai. Mangrove muara dicirikan oleh mintakat tipis Rhizophora spp.. Ditepian alur, diikuti komunitas campuran Rhizophora-Bruguier