Kekebalan Tubuh File

Download Kekebalan Tubuh File

Post on 05-Dec-2014

55 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGIAKTIVITAS OBAT/SEDIAAN UJI TERHADAP KEKEBALAN TUBUH (IMUNITAS)NAMA : Margaret Dwi Forta Nailui Ramadhilla Doni Kurniawan Noval Saputra Intan Purnamasari Trie Kurnia Waldini Cut Alina Zahra Siti Aniroh Susita Ariani Maya Sari Bungsu : EKSTENSI : VI / SENIN : : 01 april 2013 121524087 121524103 121524128 121524072 121524091 121524064 121524053 121524159 121524162 121524057</p> <p>PROGRAM KELOMPOK/HARI ASISTEN TGL PERCOBAAN</p> <p>LABORATORIUM FARMAKOLOGI FARMASI DEPARTEMEN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI FAKULTAS FARMASI USU MEDAN 2012</p> <p>1</p> <p>Lembar Persetujuan Dan Nilai Laporan Praktikum Judul Percobaan : Immunitas</p> <p>Tanggal ACC :</p> <p>Medan,</p> <p>April 2013</p> <p>Asisten,</p> <p>Praktikan,</p> <p>(Asni Zahara Rambe)</p> <p>(Margaret Dwi Forta)Perbaikan: 1. Perbaikan I, Tanggal Telah Diperbaiki 2. Perbaikan II, Tanggal Telah Diperbaiki 3. Perbaikan III, Tanggal Telah Diperbaiki 4. Perbaikan IV, Tanggal Telah Diperbaiki 5. Pergantian Jurnal : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________ : ___________________</p> <p>Nilai :</p> <p>2</p> <p>I.</p> <p>Pendahuluan a. Latar Belakang Masuknya organisme atau benda asing ke dalam tubuh akan menimbulkan</p> <p>berbagai reaksi yang bertujuan menghancurkan atau menyingkirkan benda pengganggu tersebut. Pada makhluk tingkat tinggi seperti hewan vertebrata dan manusia, terdapat dua sistem pertahanan (imunitas), yaitu imunitas nonspesifik (innate immunity) dan imunitas spesifik (iadaptive immunity). Imunitas nonspesifik merupakan mekanisme pertahanan terdepan yang meliputi komponen fisik berupa keutuhan kulit dan mukosa, komponen biokimiawi (seperti asam lambung, lisozim, komplemen) dan komponen seluler nonspesifik(seperti netrofil dan makrofag). Sedangkan imunitas spesifik memiliki karakteristik khusus, antara lain</p> <p>kemampuannya untuk bereaksi secara spesifik dengan antigen tertentu, kemampuan membedakan antigen asing dengan antigen sendiri dan kemampuan untuk bereaksi lebih cepat dan lebih efisien terhadap antigen yang sudah dikenal sebelumnya (Nafrialdi, 2007). Reaksi hipersensitivitas meliputi sejumlah peristiwa auto-imun dan alergi serta merupakan kepekaan berbeda terhadap suatu antigen eksogen atas dasar proses imunologi. Pada hakekatnya reaksi imun tersebut walaupun bersifat merusak, berfungsi melindungi organisme terhadap zat-zat asing yang menyerang tubuh (Tjay, 2002). Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulang kali ke dalam aliran darah seorang yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B akan membentuk antibodies dari tipe IgE (disamping IgG dan IgM). IgE ini, mengikat diri pada membrane mastcells tanpa menimbulkan gejala. Apabila kemudian antigen (alergen) yang sama atau yang mirip rumus bangunnya memasuki darah lagi, maka IgE akan mengenali dan mengikat padanya. Hasilnya adalah suatu reaksi alergi akibat pecahnya membrane mast-cells. Sejumlah zat perantara (mediator) dilepaskan, yakni histamin bersama serotonin, bradikinin dan asam arachidonat yang kemudian diubah menjadi prostaglandin dan leukotrien (Tjay, 2002). Histamin dihasilkan oleh bakteri yang mengkontaminasi ergot. Pada awal abad ke 19, histamanin dapat diisolasi dari jaringan hati dan paru-paru segar. Histamin juga ditemukan pada berbagai jaringan tubuh, oleh karena itu diberi nama</p> <p>3</p> <p>histamin (histos = jaringan). Hipotesis mengenai peran fisiologis histamin didasarkan pada adanya persamaan antara efek histamin dan gejala-gejala syok anafilaktik dan trauma jaringan. Histamin berperan penting dalam fenomena fisiologis dan patologis terutama pada anafilksis, alergi, trauma dan syok. Selain itu terdapat bukti bahwa histamin merupakan mediator terakhir dalam respons sekresi cairan lambung, histamin juga berperan dalam regulasi mikrosirkulasi dan dalam fungsi SSP. Histamin terdapat pada hewan antara lain pada bisa ular, zat beracun, bakteri dan tanaman. Hampir semua jaringan mamalia mengandung precursor histamin. Kadar histamin paling tinggi ditemukan pada kulit, mukosa usus dan paru-paru (Dewoto, 2007). b. Tujuan percobaan Untuk mengetahui metode yang digunakan pada evaluasi aktivitas antialergi obat atau sediaan uji dalam percobaan ini . Untuk mengetahui fungsi penyuntikan antigen dan larutan evans blue Untuk mengetahui efek dari pemberian obat CTM dan ekstrak tumbuhan pada tikus c. Prinsip Percobaan Reaksi anafilaksis kutan akut akibat pemberian antigen atau protein asing dapat dihambat dengan pemberian obat antialergi.</p> <p>4</p> <p>II.</p> <p>Tinjauan Pustaka</p> <p>Alergi, istilah ini yang juga disebut hipersensitivitas pertama kali (1906) dicetuskan oleh Von Pirquet yang menggambarkan reaktivitas khusus dari tuan rumah (host) terhadap suatu unsur eksogen, yang timbul pada kontak kedua kali atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini meliputi sejumlah reaksi auto-imun dan alergi serta merupakan kepekaan berbeda terhadap suatu antigen eksogen atas dasar proses imunologi. Pada hakekatnya reaksi imun tersebut, walaupun bersifat merusak, berfungsi melindungi organisme terhadap zat-zat asing yang menyerang tubuh (Tan,2007). Bila suatu protein asing masuk berulang kali ke dalam aliran darah seorang yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B akan membentuk antibodi dari tipe IgE, yang juga disebut reagin, mengikat diri pada membran mast-cells tanpa menimbulkan gejala. Apabila kemudian antigen yang sama atau mirip rumus bangunnya memasuki darah lagi, maka IgE akan mengenali dan mengikat padanya. Hasilnya adalah suatu reaksi alergi alibat pecahnya membran mast-cell. Sejumlah zat perantara (mediator) dilepaskan, yakni histamin bersama serotonin, bradikinin dan asam arakidonat,yang kemudian diubah menjadi prostaglandin dan leukotrien. Zatzat itu menarik makrofag dan neutrofil ke tempat infeksi untuk memusnahkan penyerbu. Di samping itu juga menyebabkan beberapa gejala bronkokonstriksi, vasodilatasi dan pembengkakan jaringan sebagai reaksi terhadap masuknya antigen. Mediator tersebut secara langsung atau melalui susunan saraf otonom menimbulkan bermacam-macam penyakit alergi penting, seperti: asma, rhinitis alergika dan eksim (Tan, 2007). Gejala reaksi alergi tergantung pada lokasi di mana reaksi alergen- antibodi berlangsung,misalnya di hidung (rhinitis), di kulit (eksim), mukosa</p> <p>mata(konjungtivitis) atau di bronchi (asma). Gejala tersebut juga dapat timbul bersamaan waktu di berbagai tempat (Tan, 2007). Reaksi alergi dapat digolongkan berdasarkan prinsip kerjanya menurut Gell &amp; Coombs(1968) dalam 4 tipe hipersensitivitas, yaitu : Tipe I</p> <p>5</p> <p>gangguan-gangguan alergi berdasarkan reaksi antara alergen-antibodi (IgE) dengan degranulasi mast-cells dan khusus terjadi pada orang yang berbakat genetis (keturunan). Tipe-I ini juga dinamakan alergi atopis atau reaksi anafilaksis dan terutama berlangsung di saluran napas dan di kulit, jarang di saluran cerna dan di pembuluh darah. Mulai reaksinya cepat, dalam waktu 5 sampai 20 menit setelah terkena alergen, maka sering kali disebut reaksi segera. Gejalanya bertahan lebih kurang 1 jam (Tan, 2007). Tipe II, autoimunitas(reaksi sitolitis) Antigen yang terikat pada membran sel bereaksi dengan IgG atau IgM dalam darah dan menyebabkan sel musnah. Reaksi ini terutama berlangsung di sirkulasi darah. Contohnya adalah gangguan auto-imun akibat obat, seperti anemia hemolitis (akibat penisilin), agranulositosis(akibat sulfonamida), SLE (systemic lupus erythematodes) akibat hidralazin atau prokainamida. Reaksi autoimun jenis ini umumnya sembuh dalam waktu beberapa bulan (Tan, 2007). Tipe III,ganguan imun- kompleks (reaksi Arthus). Pada peristiwa ini,antigen dalam sirkulasi bergabung dengan terutama IgG menjadi suatu imun-kompleks,yang diendapkan pada endotel pembuluh. Di tempat itu sebagai respons terjadi peradangan,yang disebut penyakit serum yang bercirikan urticaria,demam dan nyeri otot serta sendi. Reaksinya dimulai 4-6 jam setelah terkena dan lamanya 6-12 hari. Obat-obat yang dapat menginduksi reaksi ini adalah sulfonamida, penisilin dan iodida. Imun-kompleks dapat terjadi di jaringan yang menimbulkan raksi ootaksis. Mulai reaksinya sesudah 24-48 jam dan bertahan beberapa hari. Contohnya adalah reaksi tuberkulin dan dermatitis kontak (Tan , 2007). Tipe IV (reaksi lambat,delayed) Antigen terdiri dari suatu komplek hapten(+)protein yeng beraksi dengan Tlimfosit yang sudah disensitasi. Limfokin tertentu (sitokin dari</p> <p>limfosit)dibebaskan yang menarik makrofag dan neutrofil, sehingga terjadi reaksi peradangan. Proses penarikan itu disebut chemotaxis. Mulai reaksinya sesudah 24-28 jam dan bertahan beberapa hari. Contohnya reaksi tuberkulin dan dermatitis kontak(Tan , 2007).</p> <p>6</p> <p>Bentuk alergi tipe I-III berkaitan dengan imunoglobulin dan imunitas humoral( Lat.humor=cairan tubuh), artinya ada hubungan dengan plasma. Hanya tipe IV berdasarkan imunitas seluler( limpfosit T) (Tan , 2007). Asma, demam hay dan anfilaksis (tanpa perlindungan) disebabkan oleh proses yang sama dasarnya yaitu antibodi IgE menempel pada sel mast dan pada pemaparan berulang dengan antigen yang sama,terjadi degranulasi sel mast sehingga terjadi produksi dan pelepasan mediator. Bila perlepasan mediator terlokalisai,terjadi demam hay atau asma,tetapi pelepasan mediator yang menyeluruh dan masif menyebabkan anafilaksis,yang walaupun jarang terjadi,mengancam jiwa akibat sengatan lebah atau penisilin atau obat lainnya. Antigen yang bisa memicu reaksi ini disebut alergen(zat penyebab alergi).Asma bronkial merupakan penyakit inflamasi dimana ukuran diameter jalan napas menyempit secara kronis akibat edema dan tidak stabil. Selama serangan pasien mengalami menginitis dan kesulitan bernafas akibat bronkospasme, edema mukosa, dan pembentukan mukus. Terkadang inflamasi kronis menyebabkan peubahan ireversibel pada jalan nafas. Bila serangan akut mempunyai dasar alergi,sering digunakan istilah asma ektrinsik. Bila tidak ada dasar alergi yang jelas untuk penyakit ini,disebut asma intrinsik.Pada asma ringan sampai sedang,obat ini pertama adalah agonis adrenoseptor beta 2,bekerja singkat yang dibutuhkan dapat diinhalasi dari wadah bertekanan. Bila agonis beta2, dibutuhkan lebih dari sekali sehari, maka ditambahkan pemakaian teratur steroid inhalasi atau kromolikat. Pada asma yang lebih berat,agonis beta kerja singkat dipertahankan ,dengan penambahan steroid inhalasi dosis tinggi,ataupun dengan penambahan stimulan beta kerja panjang (misalnya salmeterol) yang diinhalasi secara teratur bersama dengen steroid inhalasi dosis standart. Jika dibutuhkan,steroid inhalasi dosis tinggi dapat dikombinasikan dengan salmeterol,ipratropium inhalasi atau teofilin lepas lambat oral. Beberapa pasien dikontrol hanya dengan steroid oral (Neal,1995). Histamin dihasilkan oleh bakteri yang mengkontaminasi ergot. Pada awal abad ke 19, histamanin dapat diisolasi dari jaringan hati dan paru-paru segar. Histamin juga ditemukan pada berbagai jaringan tubuh, oleh karena itu diberi nama histamin (histos = jaringan). Hipotesis mengenai peran fisiologis histamin didasarkan pada adanya persamaan antara efek histamin dan gejala-gejala syok anafilaktik dan trauma jaringan. Meskipun didapatkan perbedaan diantara spesies, pada manusia</p> <p>7</p> <p>histamin merupakan mediator yang penting pada reaksi alergi tipe segera (immediate) dan reaksi imflamasi, selain itu histamin memiliki peran penting dalam sekresi asam lambung dan berfungsi sebagai suatu neuromodulator (Dewoto, 2007). Histamin bekerja dengan menduduki reseptor tertentu pada sel yang terdapat pada permukaan membran. Dewasa ini didapatkan 3 jenis reseptor histamin H1, H2, dan H3. Reseptor tersebut termasuk golongan reseptor yang berpasangan dengan protein G. pada otak, reseptor H1 dan H2 terletak pada membrane pascasinaptik sedangkan reseptor H3 terutama prasinaptik. Aktivasi reseptor H1 yang terdapat pada endotel dan sel otot polos, menyebabkan kontraksi otot polos, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan sekresi mukus. Sebagian dari efek tersebut mungkin diperrantarai oleh peningkatan cyclicguanosine monophosphate (cGMP) di dalam sel. Histamin juga berperan sebagai neurotransmitter dalam susunan saraf pusat (Dewoto, 2007). Reseptor H2 didapatkan pada mukosa lambung, sel otot jantung dan beberapa sel imun. Aktivasi reseptor H2 terutama menyebabkan sekresi asam lambung. Selain itu juga berperan dalam menyebabkan vasodilatasi dan flushing. Histamin menstimulasi sekresi asam lambung, meningkatkan kadar cAMP dan menurunkan kadar cGMP, sedangkan antihistamin H2 menghambat efek tersebut. Pada otot polos br oleh histamin menyebabkan bronkokonstriksi, sedangkan aktivasi reseptor H2 oleh agonis reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi(Dewoto, 2007). Reseptor H3 berfungsi sebagai penghambat umpan balik pada berbagai sistem organ. Aktivasi reseptor H3 yang didapatkan pada beberapa daerah di otak mengurangi penglepasan transmitter baik histamin maupun norepinefrin, serotonin dan asetilkolin. Meskipun agonis reseptor H3 berpotensi untuk digunakan antara lain sebagai gastroprotektif dan antagonis reseptor H3 antara lain berpotensi untuk digunakan sebagai antiobesitas, sampai saat ini belum ada agonis maupun antagonis reseptor H3 yang diizinkan untuk digunakan di klinik (Dewoto, 2007). Efek histamin yang terpenting pada manusia adalah dilatasi kapiler (arteriol dan venul), dengan akibat kemerahan dan rasa panas di wajah (blushing area), menurunnya resistensi perifer dan tekanan darah. Afinitas histamin terhadap reseptor H1 amat kuat, efek vasodilatasi cepat timbul dan berlangsung singkat. Sebaliknya</p> <p>8</p> <p>pengaruh histamin terhadap reseptor H2, menyebabkan vasodilatasi yang timbul lebih lambat dan berlangsung lebih lama. Akibatnya pemberian AH1 dosis kecil hanya dapat menghilangkan efek dilatasi oleh histamin dalam jumlah kecil. Sedangkan efek histamin dalam jumlah lebih besar hanya dapat dihambat oleh kombinasi AH1 dan AH2 (Dewoto, 2007). Antihistamin H1 mengantagonis semua efek histamin, kecuali untuk histamin yang hanya diperantarai oleh oleh reseptor H2. Efek semua penyekat reseptor H1 secara kualitatif adalah sama. Namun, kebanyakan penghambat ini mempunyai efek tambahan yang tidak berhubungan dengan penghambatan reseptor H1, kemungkinan efek ini-efek ini memantulkan ikatan antagonis H1 pada reseptor kolinergik, adrenergik, atau reseptor serotonin. Beberapa penyekat H1, seperti difenhidramin, mempunyai aktivitas anestetik lokal yang baik (Mycek, 2002). Penyekat H1 berguna pada pengobatan alergi yang disebabkan oleh antigen yang bekerja pada antibodi-IgE yang mensensitisasi sel mast. Misalnya, antihistamin adalah obat pilihan dalam mengontrol gejala rinitis alergika dan urtikaria karena histamin merupakan mediator yang terpenting. Namun penyekat reseptor H1 tidak efektif pada pengobatan asma bronkiale, karena histaminadalah satu-satunya dari mediator (Mycek, 2002). Banyak obat atau zat kimia bersifat antigenik sehingga akan melepaskan histamin dari sel mast dan basofi...</p>