kebutuhan wadah koordinasi dalam membangun ?· saja yang akan dikelola (baik itu infrastruktur dan...

Download KEBUTUHAN WADAH KOORDINASI DALAM MEMBANGUN ?· saja yang akan dikelola (baik itu infrastruktur dan ekosistem);…

Post on 05-Mar-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MERCY CORPS INDONESIA KEBUTUHAN WADAH KOORDINASI DALAM MEMBANGUN KETANGGUHAN TERHADAP PERUBAHAN IKILM 1

KEBUTUHAN WADAH KOORDINASI DALAM MEMBANGUN KETANGGUHAN TERHADAP PERUBAHAN IKILM PADA KOTA-KOTA DI INDONESIA Learning Paper (2016)1 NYOMAN PRAYOGA, MERCY CORPS INDONESIA

Abstrak Dalam membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim, salah satu unsur penting yang harus menjadi

perhatian adalah keberadaan aktor atau stakeholder yang mengakomodir isu perubahan iklim tersebut.

Seperti yang telah didefinisikan oleh ISET (2013), ketahanan kota terhadap perubahan iklim diperlukan

untuk membuat kota mampu menghadapi perubahan dan ketidakpastian dengan menggunakan berbagai

sumber daya dan kemampuan yang memungkinkan pembangunan tetap berfungsi di tengah dampak

perubahan iklim yang terjadi. Keberadaan sumber daya manusia yang mengupayakan ketahanan di level

kota menjadi penting karena merekalah yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan berdasarkan

pengalaman dan kapasitas mereka. Unsur-unsur seperti pemerintah kota, akademisi, praktisi, dunia usaha,

dan masyarakat memiliki kapasitas yang berbeda-beda dan diperlukan suatu kolaborasi untuk memperkuat

perwujudan kota berketahanan. Pengalaman dari Program Asian Cities Climate Change Resilience Network

di Indonesia menunjukkan bahwa keberadaan suatu wadah kolaboratif dengan beragam unsur stakeholder

di level kota dapat menunjang upaya peningkatan ketahanan kota. Tidak dapat dipungkiri bahwa masing-

masing unsur dan latar belakang para pemangku kepentingan di tingkat kota memiliki kekuatan dan

kekurangan masing-masing yang harapannya dapat bekerjasama untuk memberikan capaian lebih dalam

upaya membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kota-kota seperti Bandar Lampung,

Semarang, Cirebon, Probolinggo, Palembang, Pekalongan, Tarakan, dan Blitar memiliki tim ketahanan

terhadap perubahan iklim dengan bentuk dan struktur yang disesuaikan dengan kebutuhan kota masing-

masing. Dalam proses membangun ketahanan kota tersebut, banyak hal yang dipelajari dari keberadaan

Tim Kota di bawah Program ACCCRN tersebut, baik peran dan kebutuhan adanya Tim Kota, sampai

tantangan yang harus dihadapi untuk menghasilkan Tim Kota dengan performa yang baik dalam

mengarusutamakan isu perubahan iklim di kotanya.

Kata Kunci: adaptasi perubahan iklim, ketahanan kota, stakeholder, kolaborasi

Pendahuluan Istilah Ketahanan Kota terhadap Perubahan Iklim lebih dikenal di dunia internasional dengan istilah Urban

Climate Change Resilience (UCCR). The Institute for Social and Environmental Transition (ISET), sebuah

lembaga penelitian mendefinisikan UCCR sebagai upaya untuk menghadapi perubahan dan ketidakpastian

1 Learning paper title in English: The Need of Coordination Platform in Building Climate Change Resilience in Indonesian Cities

MERCY CORPS INDONESIA KEBUTUHAN WADAH KOORDINASI DALAM MEMBANGUN KETANGGUHAN TERHADAP PERUBAHAN IKILM 2

menggunakan berbagai sumber daya dan kemampuan yang memungkinkan pembangunan untuk tetap

berfungsi dan berjalan di tengah dampak-dampak perubahan iklim yang terjadi (ISET, 2013).

Melalui konsep Urban Climate Resilience Planning Framework (UCRPF), ketahanan didefinisikan dengan

bagaimana sistem perkotaan, agen sosial, dan tata kelola berinteraksi untuk menyerap gangguan dan

belajar dari gangguan dalam menghadapi dampak dari perubahan iklim. Sistem perkotaan adalah apa

saja yang akan dikelola (baik itu infrastruktur dan ekosistem); agen adalah siapa saja yang dapat membuat

keputusan dan kemudian bertindak berdasarkan keputusannya (baik itu organisasi dan perorangan); dan

institusi memberikan pedoman bagaimana suatu tindakan diperbolehkan atau dilarang (hukum, peraturan,

perundang-undangan, dan struktur).

Keberadaan sumber daya manusia yang mengupayakan ketahanan di level kota menjadi penting karena

merekalah yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman dan kapasitas

mereka. Unsur-unsur seperti pemerintah kota, akademisi, praktisi, dunia usaha, dan masyarakat memiliki

kapasitas yang berbeda-beda dan diperlukan suatu kolaborasi untuk memperkuat perwujudan kota

berketahanan. Tidak dapat dipungkiri bahwa masing-masing unsur dan latar belakang para pemangku

kepentingan di tingkat kota memiliki kekuatan dan kekurangan masing-masing yang harapannya dapat

bekerjasama untuk memberikan capaian lebih dalam upaya membangun ketahanan kota terhadap

perubahan iklim.

Saat ini berbagai isu yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pembangunan perkotaan banyak menarik

perhatian baik bagi pihak masyarakat, komunitas, pemerintah, dan swasta. ACCCRN (Asian Cities Climate

Change Resilience Network Jejaring Ketahanan Kota Asia Terhadap Perubahan Iklim), suaru program

yang diinisiasi oleh Rockefeller Foundation telah berjalan dari tahun 2008 sampai tahun 2016. ACCCRN

bertujuan untuk membangun ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim melalui fokus perhatian

kepada kebutuhan masyarakat yang rentan. Di Indonesia, ACCCRN di bawah koordinasi Mercy Corps

Indonesia memiliki wilayah kerja di Bandar Lampung dan Semarang pada awalnya di tahun 2009 dan

selanjutnya memperluas cakupan kerjanya ke Cirebon, Blitar, Probolinggo, Palembang, Pekalongan, dan

Tarakan sampai 2016 ini.

Program ACCCRN di Indonesia memiliki tujuan untuk mengarusutamakan isu perubahan iklim pada level

kebijakan pemerintah sehingga isu tersebut lebih banyak terakomodir dalam program-program pemerintah.

Dalam mencapai tujuan tersebut, tentu ada upaya untuk meningkatkan kapasitas kota dalam mengenali

karakter kerentanan dan risiko kota terhadap perubahan iklim, termasuk menyusun strategi dan aksi untuk

merespon dampak yang mereka hadapi. Selain itu, kota juga didorong untuk dapat mengimplementasikan

aksi untuk membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim sehingga dapat menjadi pembelajaran

untuk aksi dan praktik membangun ketahanan kota selanjutnya. Dari hal itu dapat disadari bahwa

keberadaan aktor atau stakeholder yang bertanggung jawab dalam mengakomodir isu ketahanan kota

terhadap perubahan iklim amat dibutuhkan untuk realisasi segala proses tersebut.

Pengalaman dari Program ACCCRN di Indonesia menunjukkan bahwa keberadaan suatu wadah kolaboratif

dengan beragam unsur stakeholder di level kota dapat menunjang upaya peningkatan ketahanan kota.

Kota-kota seperti Bandar Lampung, Semarang, Cirebon, Probolinggo, Palembang, Pekalongan, Tarakan,

dan Blitar memiliki tim ketahanan terhadap perubahan iklim (Tim Kota) dengan bentuk dan struktur yang

disesuaikan dengan kebutuhan kota masing-masing. Dalam proses membangun ketahanan kota tersebut,

banyak hal yang dipelajari dari keberadaan Tim Kota di bawah Program ACCCRN tersebut, baik peran dan

kebutuhan adanya Tim Kota, sampai tantangan yang harus dihadapi untuk menghasilkan Tim Kota dengan

performa yang baik dalam mengarusutamakan isu perubahan iklim di kotanya.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai kebutuhan dan peran Tim Ketahanan Kota terhadap Perubahan

Iklim pada kota-kota di Indonesia. Proses untuk mendapatkan Tim Kota yang memiliki performa yang

MERCY CORPS INDONESIA KEBUTUHAN WADAH KOORDINASI DALAM MEMBANGUN KETANGGUHAN TERHADAP PERUBAHAN IKILM 3

maksimal dalam mengarusutamakan isu perubahan iklim ke level kebijakan tidak dapat dikatakan mudah.

Bahkan, membawa isu perubahan iklim sebagai suatu isu yang mendesak di level kota juga bukan sesuatu

yang mudah. Tulisan ini berusaha untuk menguraikan hal-hal mulai dari upaya menumbuhkan kesadaran,

membentuk tim dengan struktur yang sesuai, membangun dan mengelola kapasitas tim, memotivasi para

stakeholder yang ada di dalam tim, dan hal-hal lain yang dapat diambil pembelajarannya baik dari segi

keberhasilan maupun tantangan.

Tantangan Manajemen Perkotaan di Bawah Ancaman Perubahan Iklim

Kompleksitas Urbanisasi dan Perubahan Iklim

Masalah perkotaan adalah masalah yang memiliki kompleksitas tinggi. Hal ini dapat dilihat dari berbagai

tantangan urbanisasi mulai dari masalah kependudukan, transportasi, tata guna lahan, ekonomi,

lingkungan, dan sebagainya. Seiring perkembangan dan waktu, beratnya tantangan yang harus dihadapi

dari masalah urbanisasi menjadi semakin kompleks dengan adanya tantangan dari masalah perubahan

iklim. Area perkotaan dengan berbagai macam aktivitasnya harus disadari memiliki keterkaitan erat baik

sebagai salah satu penyebab maupun terdampak dari perubahan iklim.

Mengacu pada World Population Prospect yang dirilis oleh PBB (UN United Nations) tahun 2015, populasi

dunia diperkirakan akan mencapai 8,5 miliar pada tahun 2030, 9,7 miliar pada tahun 2050, dan melampaui

11 miliar pada tahun 2100. Konsentrasi peningkatan jumlah populasi yang pesat ini banyak terjadi di

daerah-daerah negara Asia dan Afrika. Indonesia sendiri di tahun 2050 diprediksi akan memiliki populasi di

atas 300 juta penduduk. Pada tahun 2014 sendiri, 54% dari total populasi dunia tinggal di area perkotaan.

Berdasarkan proyeksi, maka jumlah penduduk di kota-kota besar akan meningkat hingga 66 persen pada

2050. Masih menurut proyeksi PBB, pada tahun