kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman

38
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN (Studi Kasus Dampak Pembangunan Perumahan Dan Permukiman Terhadap Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang) Dosen Pembimbing : Bpk. Heru Ribawanto, Drs.MS Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebijakan Pembangunan Perkotaan Disusun oleh: Kelompok 2 Septinia Eka Silviana (115030101111069) Alien Sherly CB (115030100111088) Vanni Kumalasari (115030100111021) Imro’atul Mufida (115030107111092) Achmad Wildan Faris (115030100111091) Rizki Kurnia P (115030100111132) Kelas F

Upload: septinia-silviana

Post on 03-Nov-2014

42 views

Category:

Education


3 download

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

Page 1: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

(Studi Kasus Dampak Pembangunan Perumahan Dan Permukiman

Terhadap Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang)

Dosen Pembimbing :Bpk. Heru Ribawanto, Drs.MS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebijakan Pembangunan Perkotaan

Disusun oleh:

Kelompok 2

Septinia Eka Silviana (115030101111069)

Alien Sherly CB (115030100111088)

Vanni Kumalasari (115030100111021)

Imro’atul Mufida (115030107111092)

Achmad Wildan Faris (115030100111091)

Rizki Kurnia P (115030100111132)

Kelas F

JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

Page 2: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih menghadapi

permasalahan besar dalam perkembangan kota-kotanya. Fenomena urbanisasi

yang terjadi di kota-kota besar mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan

ruang kota, seperti fasilitas perumahan, sebagai salah satu kebutuhan dasar

manusia. Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,

merumuskan bahwa : Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai

lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan

prasarana dan sarana lingkungan. Sedangkan Permukiman adalah bagian dari

lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan,

maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau

lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan

penghidupan.

Hunian merupakan kebutuhan dasar manusia dan sebagai hak bagi semua

orang untuk menempati hunian yang layak dan terjangkau (Shellter for All)

sebagaimana dinyatakan dalam Agenda Habitat (Deklarasi Istambul) yang telah

juga disepakati Indonesia. Dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan

lingkungan pemukimannya terlihat jelas bahwa kualitas sumberdaya manusia di

masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan

permukiman di mana masyarakat tinggal menempatinya (Djoko Kirmanto, 25

Maret 2002). Agenda 21 Rio de Janeiro tahun 1992 mengartikan pembangunan

permukiman secara berkelanjutan sebagai upaya yang berkelanjutan untuk

memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan kualitas lingkungan sebagai tempat

hidup dan bekerja semua orang. Untuk itu perlu disiapkan tempat tinggal yang

layak bagi semua, perlu terus diperbaiki cara mengelola permukiman, mengatur

penggunaan tanah untuk permukiman, meningkatkan prasarana permukiman,

menjamin ketersediaan transportasi dan energi, dan juga perlu dikembangkan

industri konstruksi yang mendukung pembangunan serta pemeliharaan

permukiman. Selain itu di dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman

harus mengedepankan strategi pemberdayaan (enabling strategy).

1

Page 3: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Permasalahan permukiman yang dihadapi kota besar semakin kompleks.

Tingginya tingkat kelahiran dan migrasi penduduk yang terbentur pada kenyataan

bahwa lahan di perkotaan semakin terbatas dan nilai lahan yang semakin

meningkat serta mayoritas penduduk dari tingkat ekonomi rendah sampai tingkat

ekonomi menengah atas, menimbulkan permukiman-permukiman padat di

kawasan yang dianggap strategis yaitu kawasan pusat kota, industri dan perguruan

tinggi. Perumahan dan permukiman sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia,

memiliki fungsi strategis sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya,

dan peningkatan kualitaas generasi yang akan datang, serta merupakan

pengejawantahan jati diri.

Dalam makalah ini akan membahas tentang Kebijakan Pembangunan

Perumahan dan Permukiman (Studi Kasus Dampak Pembangunan Perumahan dan

Permukiman Terhadap Ruang Terbuka Hijau Di Kota Malang). Seperti yang kita

ketahui seiring dengan perkembangan jaman di era modernisasi ini, kebutuhan

akan tempat tinggal semakin meningkat yang di ikuti dengan meningkatnya angka

kependudukan kota Malang. Kebutuhan tempat tinggal tersebut terealisasikan

dengan maraknya pembangunan perumahan dan pemukiman di Kota Malang baik

yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah maupun swasta. Namun,

pembangunan perumahan dan pemukiman tersebut kini menjadi permasalahan

utama bagi masyarakat kota Malang yang terkait dengan Ruang Terbuka Hijau

(RTH). Wilayah kota malang tahun 2007 tercatat memiliki luas 11005,66 ha dari

keseluruhan luas kecamatan dimana luas kecamatan klojen 883,00 ha dengan luas

area ruang terbuka  441.985 m2, Kecamatan belimbing luas kawasan 1776,65 ha

dengan luas ruang terbuka hijau 196.432 m2, kecamatan sukun luas kawasan

2096,57 ha  dengan luas ruang terbuka hijau 381.537 m2, kecamatan lowokwaru

luas kawasan 2260,00 ha dengan ruang terbuka hijau 152.010 m2, kecamatan

kedung kandang luas kawasan 3989,44 ha sementara luas ruang terbuka hijau 

131.228 m2 . Sehingga total RTH kota malang  1303.192 ha (Sumber : Bappeko

Kota Malang, 2007 ).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Ruang dan Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman

Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

2

Page 4: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

disebutkan bahwa pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area

memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat

terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah

maupun yang sengaja ditanam. Sedangkan Ruang Terbuka Hijau Kawasan

Perkotaan (RTHKP) berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1

Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah bagian dari

ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman

guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 26 Tahun 2007 tentang tata ruang

menyebutkan luas areal ruang terbuka setidaknya 30% dari total luas wilayah

yakni meliputi 20% ruang publik dan 10% untuk ruang privat. Proporsi 30%

merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik

keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem

ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan

masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) di tengah-tengah ekosistem

perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota, lalu jika

melihat pada kota Malang sendiri untuk realisasi RTH (Ruang Terbuka Hijau),

yang standartnya minimal 20% dari luas wilayah sesuai dengan UU No. 26 Tahun

2007 tetapi pada faktanya hanya 17% wilayah di Malang yang menjadi kawasan

RTH. Keseimbangan ekosistem diperkotaan memang sangatlah di perlukan untuk

menunjang keindahan, keasrian serta kenyamanan kota tersebut. Maka ketika

suatu kota tersebut tidak ada keseimbangan ekosistemnya ini akan berakibat buruk

kepada lingkungan. Karena kalau kita lihat antara pembangunan perumahan dan

permukiman maupun bangunan-bangunan lainya haruslah melihat pada

keeksistensian lingkunganya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran umum pembangunan perumahan dan

pemukiman di Kota Malang ?

2. Apa dampak pembangunan perumahan dan permukiman terhadap

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang?

3

Page 5: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

3. Bagaimana kebijakan dan solusi pemerintah dalam mengatasi dampak

pembangunan perumahan dan permukiman terhadap Ruang Terbuka

Hijau (RTH) di Kota Malang?

C. Tujuan

1. Untuk menjelaskan bagaimana gambaran umum pembangunan

perumahan dan permukiman di Kota Malang.

2. Untuk menganalisis dampak pembangunan perumahan dan

permukiman terhadap RTH di Kota Malang

3. Untuk mengetahui kebijakan pemerintah serta memberikan solusi

dalam mengatasi dampak pembangunan perumahan dan permukiman

terhadap RTH di Kota Malang.

D. Manfaat

1. Manfaat Akademis

a. Sebagai tambahan pengetahuan terkait dengan kebijakan

pembangunan perkotaan

b. Sebagai tambahan pengetahuan terkait dengan pembangunan

perumahan dan permukiman

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai pertimbangan perbaikan dari kebijakan pemerintah terkait

kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman

b. Sebagai pertimbangan atas solusi mengenai permasalahan

pembangunan perumahan dan permukiman

4

Page 6: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebijakan Publik

1. Definisi Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah studi tentang apa yang dilakukan pemerintah,

mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut, dan akibat dari

tindakan tersebut (Parsons, 2006).

2. Siklus Kebijakan Publik

Secara garis besar siklus kebijakan publik memiliki beberapa tahapan.

Tahap pertama dalam siklus kebijakan ialah penyusunan agenda (agenda

setting). Tahap kedua dari siklus kebijakan ialah perumusan kebijakan

(policy formulation) atau kadang disebut adopsi kebijakan (policy

adoption). Tahap ketiga disebut implementasi kebijakan (policy

implementation). Implementasi dapat dirumuskan sebagai suatu proses,

suatu output atau keluaran, atau suatu hasil akhir (outcome). Implementasi

mengacu pada serangkaian keputusan dan tindakan pemerintah yang

dimaksudkan untuk sesegera mungkin menghasilkan akibat-akibat

tertentu yang dikehendaki.

3. Implementasi Kebijakan Publik

Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis implementasi

kebijakan tentang sertifikasi guru adalah teori yang dikemukakan oleh

George C. Edwards III. Ada empat variabel dalam kebijakan publik yaitu

komunikasi, sumberdaya, sikap, dan struktur birokrasi.

B. Kebijakan Pembangunan Perkotaan

1. Tujuan Kebijakan Pembangunan Perkotaan

Pertama, mengelola laju migrasi dari desa ke kota dengan

mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi non pertanian di

perdesaan.

Kedua, mendorong peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di

wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan

secara sinergis.

5

Page 7: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Ketiga, meningkatkan keterkaitan pembangunan antarkota.

Keempat, meningkatkan kapasitas pemerintah daerah

kabupaten/kota dalam hal pelayanan publik, pengelolaan

lingkungan perkotaan, pengembangan kemitraan dengan swasta,

dan terutama peningkatan kapasitas fiskal.

Kelima, mendorong percepatan pembangunan kota-kota menengah

dan kecil, terutama di luar Pulau Jawa, sehingga dapat menjalankan

perannya sebagai motor penggerak pembangunan di wilayah-

wilayah pengaruhnya.

Keenam, mengelola pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan

dengan memperhatikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

Ketujuh, peningkatan kerja sama antar pemerintah kabupaten/kota ,

khususnya dalam pembangunan prasarana dan sarana. Semua ini

memerlukan adanya keterpaduan dan skala ekonomi tertentu untuk

pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup

2. Kebijakan Pembangunan Perkotaan dan Pemerintah Daerah

Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah meningkatkan

kesempatan bagi Pemerintah daerah untuk memberikan alternatif

pemecahan-pemecahan inovatif. Saat ini, konsep desentralisasi dan

otonomi daerah masih terfokus untuk menata dan mempercepat

pembangunan di wilayahnya masing-masing. Untuk

memaksimalkan/mengoptimalkan potensinya dan meningkatkan

pelayanan publik, Pemerintah Daerah diharapkan dapat bekerja sama

dan mengeluarkan inovasi-inovasi/konsep yang didasarkan pada

pertimbangan efisiensi dan efektivitas, sinergis dan saling

menguntungkan terutama dalam bidang lintas wilayah.

C. Perumahan dan Permukiman

Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan

Permukiman, merumuskan bahwa: Perumahan adalah kelompok rumah

yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian

yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Sedangkan

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung,

6

Page 8: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

baik yang berupa kawasan perkotaan, maupun perdesaan yang berfungsi

sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat

kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

1. Pembangunan Perumahan Dan Permukiman

Pembangunan di bidang yang berhubungan dengan tempat tinggal

beserta sarana dan prasarananya memang perlu mendapatkan prioritas

mengingat tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar (basic

need) manusia. Sudah selayaknya apabila untuk pembangunan perumahan

dan permukiman itu pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-

undangan tentang perumahan dan permukiman yang dimaksudkan untuk

memberikan arahan (guide line) bagi pembangunan sektorperumahan dan

permukiman.

Apabila dilihat dari perkembangannya, proses pembangunan memang

sangat dipengaruhi oleh adanya landasan pembangunan yang kuat, pelaku

pembangunan, serta modal dasar pembangunan yang kuat pula, yaitu

agama. Dalam lingkup pembangunan, masyarakat merupakan pelaku

utama pembangunan tersebut. Mengarahkan, membimbing, dan

menciptakan suasana yang menunjang pembangunan adalah kewajiban

pemerintah (Sasta, S dan E, Marlina. 2006).

2. Visi dan Misi Pembangunan Perumahan dan Permukiman yang

Berkelanjutan 

Visi dan misi penyelenggaraan perumahan dan permukiman

didasarkan pada kondisi yang diharapkan ideal secara realistis, dengan

memperhatikan kondisi yang ada, potensi kapasitas yang

ditumbuhkembangkan dan sistem nilai yang melandasi hakikat perumahan

dan permukiman bago kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi

serta dalam kerangka tujuan pembangunan berkelanjutan.

Perumahan dan permukiman merupakan salah satu sektor yang

strategis dalam upaya membangun manusia Indonesia yang seutuhnya.

Perumahan dan permukiman strategis didalam mendukung

terselenggaranya pendidkan keluarga, persemaian budaya dan peningkatan

kualitas generasi akan datang yang berjati diri. Karenanya, pada

7

Page 9: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

tempatnyalah pada visi penyelenggaraan perumahan dan permukiman

diarahkan untuk mengusahakan dan mendorong terwujudnya kondisi

setiap orang atau keluarga di Indonesia yang mampu bertanggung jawab

didalam memenuhi kebutuhan perumahannya yang layak terjangkau

dilingkungan permukiman ynag sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan,

guna mendukung terwujudnya masyarakat dan lingkungan ynag berjati

diri, mandiri dan produktif. Untuk selanjutnya, visi yang ditetapkan hingga

2020 didalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman :

“Setiap orang (KK) Indonesia mampu memenuhi kebutuhan rumah yang

layak dan terjangkau pada lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan

berkelanjutan dalam upaya terbentuknya masyarakat yang berjati diri,

mandiri dan produktif ”.

Misi yang harus dijalankan dalam rangka mewujudkan visi

penyelenggaraan perumahan dan permukiman:

1) Melakukan pemberdayaan masyarakat dan para pelaku kunci lainnya

di dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman

2) Mamfasilitasi dan mendorong terciptanya iklim yang kondusif

didalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman

3) mengoptimalkan pandayagunaan sumber daya pendukung

penyelenggaraan perumahan dan permukiman.

Dengan pernyataan misi tersebut jelas bahwa pemerintah harus

berperan sebagai fasilitator dan pendorong dalam upaya pemberdayaan

bagi berlangsungnya seluruh rangkaian proses penyelenggaraan

perumahan dan permukiman.

D. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

1. Definisi Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan Ruang dan Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008 tentang

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan

Perkotaan disebutkan bahwa pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH)

8

Page 10: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang

penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang

tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dalam

UU No. 26 Tahun 2007, secara khusus mengamanatkan perlunya

penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau, yang proporsi luasannya

ditetapkan paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota.

Sedangkan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP)

berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun

2007 tentang Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah bagian dari

ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan

tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan

estetika.

2. Tipologi Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008

tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di

Kawasan Perkotaan, mengklasifikasikan RTH yang ada sesuai dengan

tipologi berikut :

Berdasarkan Fisik

a. RTH Alami, berupa habitat liar alami, kawasan lindung, dan taman-

taman nasional.

b. RTH Non Alami/Binaan, yang terdiri dari taman, lapangan lahraga,

makam, dan jalur-jalur hijau jalan.

Berdasarkan Struktur Ruang

a. RTH dengan pola ekologis, merupakan RTH yang memiliki pola

mengelompok, memanjang, tersebar.

b. RTH dengan pola planologis, merupakan RTH yang memiliki pola

mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan.

Berdasarkan Segi Kepemilikan

1) RTH Publik

2) RTH Privat

Berdasarkan Fungsi

1) Fungsi Ekologis

9

Page 11: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

2) Fungsi Sosial Budaya

3) Fungsi Arsitektural/Estetika

4) Fungsi Ekonomi

3. Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)

RTH memiliki fungsi sebagai berikut:

Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis:

Memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem

sirkulasi udara (paru-paru kota);

Pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara

alami dapat berlangsung lancar;

Sebagai peneduh;

Produsen oksigen;

Penyerap air hujan;

Penyedia habitat satwa;

Penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta;

Penahan angin.

Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu:

Fungsi sosial dan budaya:

o menggambarkan ekspresi budaya lokal;

o merupakan media komunikasi warga kota;

o tempat rekreasi;

o wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam

mempelajari alam.

Fungsi ekonomi:

o sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah,

daun, sayur mayur;

o bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan

dan lainlain.

Fungsi estetika:

o meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik

dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukimam,

maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan;

10

Page 12: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

o menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota;

o pembentuk faktor keindahan arsitektural;

o menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun

dan tidakterbangun.

Dalam suatu wilayah perkotaan, empat fungsi utama ini dapat

dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota

seperti perlindungan tata air, keseimbangan ekologi dan konservasi hayati.

11

Page 13: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

BAB III

PEMBAHASAN

1. Gambaran Umum Pembangunan Perumahan dan Pemukiman di Kota

Malang

Sejalan perkembangan yang pesat di Kota Malang, urbanisasi terus berlangsung

dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat diluar kemampuan

pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya

akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya

berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai,

rel kereta api, dan lahan –lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama

kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup

mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus

meningkat dan sulit dibayangkan apay ang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.

Kota Malang memiliki luas 110.06 Km2. Kota dengan jumlah penduduk sampai

Tahun 2013 sebesar 836.373 jiwa yang terdiri dari 418.100 jiwa penduduk laki-laki,

dan penduduk perempuan sebesar 418.273 jiwa. Kepadatan penduduk kurang lebih

7.599 jiwa per kilometer persegi. Tersebar di 5 (lima) Kecamatam (Klojen = 107.212

jiwa, Blimbing = 185.187 jiwa, Kedungkandang = 191.851 jiwa, Sukun = 191.229

jiwa, dan Lowokwaru = 160.894 jiwa). Terdiri dari 57 Kelurahan, 536 unit RW dan

4.011 RT.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh faktor alamiah

maupun adanya perpindahan penduduk ke daerah perkotaan, permintaan akan lahan

untuk pemukiman juga semakin meningkat, sedangkan jumlah lahan jika dilihat

secara administratif jumlahnya tetap sehingga membuat penduduk yang status

ekonominya lemah dan tidak mempunyai kemampuan untuk memiliki rumah

membangun sejumlah pemukiman yang akhirnya menjadi daerah permukiman kumuh

(slum area) yang dibangun di daerah tepi sungai (contohnya: terdapat beberapa

kawasan permukiman di Kota Malang yang berbatasan langsung dengan sungai

Brantas atau sungai Amprong, yang berada di Kampung Kebalen, permukiman di

Kampung Embong Brantas, permukiman industri keramik di Dinoyo, dan

permukiman di Kampung Kotalama. Hal tersebut yang pada akhirnya menimbulkan

permasalahan dan dampak terhadap pelaksanaan penataan ruang dan kebijakan

12

Page 14: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

pembangunan permukiman dan perumahan di Kota Malang. Kawasan permukiman

yang berbatasan langsung dengan sungai tersebut mempunyai ciri yaitu adanya

permukiman yang kumuh dan tidak layak huni yang berkembang pesat yang

dibangun di tepi sungai yang dari waktu ke waktu dan jumlahnya semakin padat.

Selain itu, kawasan perumahan yang berdiri pada pertengahan 2007 Ijen Nirwana

Residence melanggar Perda Nomor 7 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah (RTRW). Karena kawasan tesebut pada mulanya terdapat hutan Kota yang

berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Malang. Kini kawasan yang

sebelumnya berfungsi sebagai hutan Kota tersebut telah disulap menjadi kawasan

pemukiman dengan berdirinya Ijen Nirwana Residence.

Pengembangan permukiman baik di perkotaan maupun pedesaan pada

hakekatnya untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni

(livible), aman, nyaman, damai dan sejahtera serta berkelanjutan. Permukiman

merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah wajib memberikan

akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh permukiman yang layak huni,

sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial. Pengembangan permukiman ini

meliputi pengembangan prasarana dan sarana dasar perkotaan, pengembangan

permukiman yang terjangkau, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah,

proses penyelenggaraan lahan, pengembangan ekonomi kota, serta penciptaan

sosial budaya di perkotaan.

Sedangkan perumahan merupakan sebagai salah satu kebutuhan dasar,

sampai dengan saat ini sebagian besar disediakan secara mandiri oleh masyarakat

baik membangun sendiri maupun sewa kepada pihak lain. Kendala utama yang

dihadapi masyarakat pada umumnya keterjangkauan pembiayaan rumah. Di lain

pihak, kredit pemilikan rumah dari perbankan memerlukan berbagai persyaratan

yang tidak setiap pihak dapat memperolehnya dengan mudah serta suku bunga

yang tidak murah.

Isu Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Isu-isu perkembangan yang ada pada saat ini adalah :

Konflik kepentingan yang disebabkan oleh kebijakan yang memihak pada

suatu kelompok dalam pembangunan perumahan dan permukiman;

Alokasi tanah dan ruang yang kurang tepat akibat pasar tanah dan perumahan

yang cenderung mempengaruhi tata ruang sehingga berimplikasi pada alokasi

13

Page 15: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

tanah dan ruang yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan pembangunan lain

dan kondisi ekologis daerah yang bersangkutan;

Terjadi masalah lingkungan yang serius di daerah yang mengalami tingkat

urbanisasi dan industrialisasi tinggi, serta eksploitasi sumber daya alam;

Urbanisasi di daerah tumbuh cepat sebagai tantangan bagi pemerintah untuk

secara positif berupaya agar pertumbuhan lebih merata;

Perkembangan tak terkendali daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh

dengan mengabaikan sektor lainnya seperti sektor pertanian, hal ini berakibat

pada semakin tingginya alih fungsi lahan sawah. Ironisnya alih fungsi terjadi

pada sawah lestari, dengan lokasi yang relatif datar/landai cocok untuk

pengembangan permukiman atau industri/perdagangan;

Permasalahan perumahan dan permukiman merupakan sebuah isu utama yang

selalu mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Permasalahan perumahan

dan permukiman merupakan sebuah permasalahan yang berlanjut dan bahkan

akan terus meningkat, seirama dengan pertumbuhan penduduk, dinamika

kependudukan dan tuntutan-tuntutan sosial ekonomi yang semakin

berkembang;

Kekurangsiapan kota dengan sistem perencanaan dan pengelolaan kota yang

tepat, dalam mengantisipasi pertambahan penduduk dengan berbagai motif

dan keragaman, nampaknya menjadi penyebab utama yang memicu

timbulnya permasalahan perumahan dan permukiman.

Tidak sesuainya jumlah hunian yang tersedia jika dibandingkan dengan

kebutuhan dan jumlah masyarakat yang akan menempatinya; dan

Penduduk Indonesia yang selalu berkembang, merupakan faktor utama yang

menyebabkan permasalahan perumahan dan permukiman. Pesatnya angka

pertambahan penduduk yang tidak sebanding dengan penyediaan sarana

perumahan menyebabkan permasalahan ini semakin pelik dan serius;

2. Dampak Pembangunan Perumahan dan Permukiman terhadap

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang

Sebagai kota wisata dan kota pendidikan, Kota Malang cukup dikenal bagi

sebagian masyarakat Indonesia dan luar negeri. Diapit oleh beberapa gunung

membuat udara Kota Malang menjadi sejuk sehingga cocok sebagai kawasan

14

Page 16: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

pemukiman. Lalu bagaimana kondisi Kota Malang saat ini jika dibandingkan

dengan beberapa tahun lalu?

Banyak perubahan yang terjadi di kota Malang. Bukan perubahan ke arah

yang lebih baik namun justru sebaliknya. Pembangunan yang cukup pesat lebih

berdampak pada kerusakan lingkungan. Pertama, kenaikan suhu di wilayah Kota

Malang. Kota Malang kini tidak dingin lagi terlebih di saat siang hari. Kenaikan

suhu ini didukung oleh banyak faktor. Selain karena dampak pemanasan global,

banyaknya pembangunan perumahan dan ruko di hampir semua kawasan

membuat berkurangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan. Kedua,

pertumbuhan ruang terbuka hijau seperti hutan kota sepertinya cenderung stagnan.

Kawasan hutan kota hanya dapat ditemui di daerah Jalan Jakarta dan sekitarnya

yang sudah ada sejak lama. Ketiga, menurunnya kualitas lingkungan hidup di

kawasan kota dan di lingkungan permukiman warga. Keempat, perubahan

perilaku sosial masyarakat yang cenderung kontra-produktif dan destruktif seperti

kriminalitas. Kelima, rendahnya kualitas air tanah. Keenam, tingginya polusi

udara dan, ketujuh, kebisingan di perkotaan

Berkurangnya daerah resapan juga mengakibatkan banjir di saat hujan.

Contoh nyata: pada 29 April 2013 hujan mengguyur sebagian wilayah Kota

Malang dengan intensitas sedang. Namun di Jalan Veteran di sekitar salah satu

mall dan perumahan terjadi banjir yang menggenangi sebagian jalan tersebut.

Ketika hujan reda, banjir tidak kunjung surut. Hal ini dipicu karena buruknya

drainase dan kurangnya daerah resapan. Setelah banjir surut, sampah pun

berserakan dimana-mana. Penyebab kerusakan lingkungan lainnya adalah

pertumbuhan kendaraan pribadi yang cukup tinggi. Hal ini tentunya berdampak

pada naiknya polusi udara dan kemacetan.

Salah satu permasalahan dalam pembangunan perumahan disuatu

kawasan adalah faktor lingkungan terutama keberadaan ruang terbuka hijau

(RTH) yang selalu menjadi bagian terkecil dari keberadaannya didalam lokasi

perumahan. Banyak pemikiran bahwa keberadaan ruang terbuka hijau tersebut

hanya bagian dari suatu sistem keindahan dan estetika belaka. Padahal, fungsi

RTH dalam suatu kawasan memberikan konstribusi menjaga keseimbangan

15

Page 17: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

lingkungan dan justru akan menambah nilai eksternalitas kawasan yang

berdampak pada harga riel produk “rumah” yang semakin tinggi.

Dasar dari kebijakan pemerintah tentang penataan ruang terbuka hijau

berlandaskan pada Permendagri N0 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan dengan tujuan adalah, pertama,

meningkatkan mutu lingkungan hidup perkotaan yang nyaman, segar, indah,

bersih dan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan, kedua, menciptakan

keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi

masyarakat banyak.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 26 Tahun 2007 tentang tata

ruang menyebutkan luas areal ruang terbuka setidaknya 30% dari total luas

wilayah yakni meliputi 20% ruang publik dan 10% untuk ruang privat. Dan

pada kenyataannya RTH publik kota Malang hanya 17 % dari luas Kota

Malang. Namun, untuk RTH privat yang terdapat di area privat luasnya

mencapai sekitar 13 % dari luas Kota Malang. Untuk RTH privat (pribadi)

seluas 10 persen sudah melebihi ketentuan, sedangkan untuk RTH publik masih

belum tercapai dan masih dalam proses target pencapaian oleh Pemerintah Kota

Malang. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin

keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan

keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat

meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta

sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

3. Kebijakan dan Solusi Pemerintah dalam Mengatasi Dampak

Pembangunan Perumahan dan Permukiman terhadap Ruang Terbuka

Hijau (RTH) di Kota Malang

Kajian Kebijakan Perumahan dan Permukiman

Rekomendasi akan perlunya penetapan prioritas kebijakan di dalam

penyelenggaraan perumahan dan permukiman, secara ringkas dibagi dalam 4 isu

strategis yang perlu secara ditindaklanjuti antara lain sebagai berikut:

1. Merumuskan agenda kebijakan dan mendorong BKP4N untuk lebih berperan

sebagai lembaga pengambil keputusan, sekaligus berperan sebagai

16

Page 18: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

mengoordinasikan implementasi berbagai program perumahan dan

permukiman. Persoalan utama yang dihadapi sektor perumahan dan

permukiman di Indonesia adalah masih rendahnya kinerja sektor memenuhi

kebutuhan yang ada. Untuk menangani masalah perumahan dan permukiman

diusulkan untuk mendorong lembaga koordinasi lintas sektoral dibidang

perumahan dan permukiman (BKP4N) sebagai lembaga yang permanen, yang

mengambil keputusan- keputusan penting dalam mengarahkan fungsi-fungsi

kebijakan perumahan dan permukiman. Adapun perlu dibentuk anggota

kelompok dibawah BKP4N, yaitu anggota tetap dan anggota sementara

seperti para spesialis dalam bidang tertentu dan dapat berasal dari lembaga

pemerintah swasta amaupun LSM. Tugas kelompok kerja ini adalah

mempersiapkan alternative keputusan kebijakan penyelenggaraan perumahan

dan permukiman.

2. Membuat kebijakan dan peraturan baru yang meningkatkan partisipasi sektor

keuangan dalam pembiayaan perumahan dan mempelajari penyediaan lahan

siap bangun.

3. Menyusun program-program bantuan perumahan yang bersifat komplementer

terhadap kebijakan yang ada.

4. Merumuskan sistem pelaksanaan yang efektif untuk program-program

bantuan perumahan nasional.

Pembangunan Perumahan Berwawasan Lingkungan

Dalam rangka mewujudkan pembangunan perumahan dan pemukiman

yang berwawasan lingkungan pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang

nomor 23 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH). Khusus

menyangkut perumahan dan pemukiman pemerintah mengundangkan Undang-

Undang nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.

Undang-Undang nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan

Pemukiman mengarahkan pemenuhan kebutuhan pemukiman diwujudkan melalui

pembangunan kawasan pemukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh

dan terpadu dengan pelaksanaan secara bertahap. Disamping itu juga

mengarahkan bahwa penataan perumahan dan pemukiman berlandaskan pada azas

17

Page 19: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

manfaat, adil dan merata, kebersamaan dan kekeluargaan, kepercayaan pada diri

sendiri, keterjangkauan dan kelestarian lingkungan hidup.

Demikian juga dalam Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang

Penataan Ruang menyatakan tujuan penataan ruang yaitu terselenggaranya

pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan, terselenggaranya pemanfaatan ruang

kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan ruang

yang berkualitas.

Sementara itu Undang-Undang nomor 23 tahun 2009 tentang Pengelolaan

Lingkungan Hidup, menuliskan bahwa pembangunan berkelanjutan yang

berwawasan lingkungan adalahupaya sadar dan terencana, yang memadukan

lingkungan hidup termasuk sumber daya, kedalam proses pembangunan untuk

menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan

generasi masa depan.

Salah satu pedoman dalam mewujudkan berbagai sarana dan prasarana

serta utilitas adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri no 1 tahun 1987 tentang

penyerahan prasarana lingkungan utilitas umum dan fasilitas sosial kepada

pemerintah daerah, dimana diatur mengenai jenis jenis fasosum yang harus

diadakan serta bentuk dan tata cara penyerahannya kepada Pemerintah Daerah.

Tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH), hal ini diatur dalam Permendagri N0 1

Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan

Dengan mengacu pada perundang-undangan dan peraturan mengenai

lingkungan hidup serta memperhatikan masalah utama dalam pembangunan

perumahan dan pemukiman, maka upaya mewujudkan pembangunan kawasan

perumahan yang berwawasan lingkungan adalah melaksanakan pembangunan

yang terpadu dan terencana yang dapat mengatasi masalah tersebut dan

menghasilkan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa

mengurangi kemungkinan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

Pembangunan perumahan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan

menyangkut berbagai aspek. Salah satunya adalah keberadaan Ruang Terbuka

Hijau sebagai bagian dari sistem ruang terbuka di wilayah perkotaan (Urban

Metropolitan Park System).

18

Page 20: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Solusi Pemecahan Masalah Urbanisasi di Kota

Menurut Todaro (1997:343-345) berpendapat bahwa adapun strategi yang

tepat untuk menanggulangi persoalan urbanisasi dan kaitannya dengan

kesempatan kerja secara komprehensif, adalah sebagai berikut :

1.   Penciptaan keseimbangan  ekonomi yang memadai antara desa – kota.

Keseimbangan kesempatan ekonomi yang lebih layak antara desa dan kota

merupakan suatu unsur penting yang tidak dapat dipisahkan  dalam strategi

untuk menanggulangi masalah pengangguran di desa-desa maupun di

perkotaan, jadi dalam hal ini perlu ada titik berat pembangunan ke sektor

perdesaan.

2.    Perluasan industri-industri kecil yang padat karya.

Komposisi atau paduan output sangat mempengaruhi jangkauan kesempatan

kerja karena beberapa produk. Membutuhkan lebih banyak tenaga kerja bagi

tiap unit output dan tiap unit modal dari pada produk atau barang lainnya.

3.    Penghapusan distorsi harga faktor-faktor produksi

Untuk meningkatkan  kesempatan kerja dan memperbaiki penggunaan sumber

daya modal langka yang tersedia maka upaya untuk menghilangkan distorsi

harga faktor produksi, terutama melalui penghapusan berbagai subsidi modal

dan menghentikan pembakuan tingkat upah diatas harga pasar.

4.    Pemilihan teknologi produksi padat karya yang tepat

Salah satu faktor utama yang menghambat keberhasilan setiap program

penciptaan kesempatan kerja dalam jangka panjang baik pada sektor industri di

perkotaan maupun pada sektor pertanian diperdesaan adalah terlalu besarnya

kekaguman dan kepercayaan pemerintah dari negara-negara dunia ketiga

terhadap mesin-mesin dan aneka peralatan yang canggih (biasanya hemat

tenaga kerja) yang diimpor dari negara-negara maju.

5.    Pengubahan keterkaitan langsung antara pendidikan dan kesempatan kerja.

Munculnya fenomena “pengangguran berpendidikan” dibanyak negara

berkembang mengundang berbagai pertanyaan tentang kelayakan

pengembangan pendidikan khususnya pendidikan tinggi secara besar-besaran

yang terkadang kelewat berlebihan.

19

Page 21: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

6.    Pengurangan laju pertumbuhan penduduk melalui upaya pengentasan

kemiskinan absolut dan perbaikan distribusi pendapatan yang disertai dengan

penggalakan program keluarga berencana dan penyediaan  pelayanan

kesehatan di daerah perdesaan.

Selain itu dikena pula pembangunan agropolitan yang dapat mendorong

kegiatan sektor pertanian dan sektor komplemennya di wilayah perdesaan.

Untuk itu diharapkan adanya kebijaksanaan desentralisasi, sehingga terjadi

keseimbangan ekonomi secara spasial antar wilayah perdesaan dengan

kawasan perkotaan yang lebih baik dan sekaligus mampu menyumbang pada

pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Adapun komponen dari strategi pembangunan agropolitan, antara lain :

a. Melakukan dan menggalakan kebijaksanaan desentralisasi dan

penentuan keputusan alokasi investasi dengan mempermudah ijin-ijin

kepada pihak swasta yang didelegasikan dari pusat kepada pemerintah

daerah dan lokal.

b. Meningkatnya partisipasi kelompok sasaran dalam pembayaran sub-sub

proyek untuk membangun rasa memiliki terhadap proyek yang

dibangun bersama mereka.

Langkah-langkah yang perlu dilaksanakan dalam pemecahannya terhadap

masalah Urbanisasi dan Perkotaan adalah, adalah:

1.      Mengembalikan para penganggur di kota ke desa masing-masing.

2.      Memberikan keterampilan kerja (usaha) produktif kepada angkatan kerja di

daerah pedesaan.

3.      Memberikan bantuan modal untuk usaha produktif.

4.      Mentransmigrasikan para penganggur yang berada di perkotaan.

5.      Dan langkah-langkah lainnya yang dapat mengurangi atau mengatasi terjadinya

"urbanisasi".

Selain langkah-langkah tersebut di atas, juga dapat dilaksanakan berbagai

upaya preventif yang dapat mencegah terjadinya "urbanisasi", antara lain:

1.      Mengantisipasi perpindahan penduduk dari desa ke kota, sehingga "urbanisasi"

dapat ditekan.

20

Page 22: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

2.      Memperbaiki tingkat ekonomi daerah pedesaan, sehingga mereka mampu hidup

dengan penghasilan yang diperoleh di desa.

3.      Meningkatan fasilitas pendidikan, kesehatan dan rekreasi di daerah pedesaan,

sehingga membuat mereka kerasan 'betah' tinggal di desa mereka masing-masing.

4.      Dan langkah-langkah lain yang kiranya dapat mencegah mereka untuk tidak

berbondong-bondong berpindah ke kota.

Berbagai langkah tersebut di atas akan dapat dilaksanakan apabila ada

jalinan kerja sama yang baik antara masyarakat dan pihak pemerintah. Dalam hal

ini partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan, sehingga program-program

pembangunan akan berjalan lebih tertib dan lancar.

21

Page 23: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan

tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan

sarana lingkungan. Sedangkan Permukiman adalah bagian dari lingkungan

hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan, maupun

perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan

hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Pembangunan perumahan dan pemukiman di Kota Malang kini menjadi

permasalahan karena hal ini akan berdampak pada Ruang Terbuka Hijau

(RTH). Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 26 Tahun 2007 tentang tata

ruang menyebutkan luas areal ruang terbuka setidaknya 30% dari total luas

wilayah yakni meliputi 20% ruang publik dan 10% untuk ruang privat. Dan

pada kenyataannya RTH publik kota Malang hanya 17 % dari luas Kota

Malang. Namun, untuk RTH privat yang terdapat di area privat luasnya

mencapai sekitar 13 % dari luas Kota Malang. Untuk RTH privat (pribadi)

seluas 10 persen sudah melebihi ketentuan, sedangkan untuk RTH publik masih

belum tercapai dan masih dalam proses target pencapaian oleh Pemerintah Kota

Malang. Keseimbangan ekosistem diperkotaan memang sangatlah di perlukan

untuk menunjang keindahan, keasrian serta kenyamanan kota Malang. Maka

ketika suatu kota tersebut tidak ada keseimbangan ekosistemnya ini akan

berakibat buruk kepada lingkungan.

Dengan mengacu pada perundang-undangan dan peraturan mengenai

lingkungan hidup serta memperhatikan masalah utama dalam pembangunan

perumahan dan pemukiman, maka upaya mewujudkan pembangunan kawasan

perumahan yang berwawasan lingkungan adalah melaksanakan pembangunan

yang terpadu dan terencana yang dapat mengatasi masalah tersebut dan

menghasilkan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan

generasi mendatang.

22

Page 24: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

B. Saran

Untuk itu diperlukan upaya untuk mengatasi masalah perumahan dan

permukiman antara lain:

Perlu dilakukan judicial review atas regulasi atau undang-undang yang

terkait mengenai pembangunan perumahan dan perkotaan

Perlu adanya pengawasan yang lebih dari pihak yang terkait maupun dari

masyarakat, jika perlu diadakannya sidak langsung atau pengawasan

bangunan di titik-titik yang terjadi penyalahgunaan pemanfaatan bangunan

atau pelanggaran tata ruang.

Upaya penegakan hukum terhadap penerbitan IMB yang melanggar tata

ruang dibagi menjadi 3, yaitu sarana hukum administrasi, sarana hukum

perdata dan sarana hukum pidana.

Harus adanya tindakan yang tegas dari pihak pemerintah kota Malang dan

Badan Lingkungan Hidup (BLH) mengenai Ijin Mendirikan Usaha (IMB)

Dalam rangka memperlancar pelaksanaan pembangunan perkotaan dan

memberikan peluang bagi masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi

lemah untuk memiliki tempat tinggal, serta untuk membangun kawasan RTH

(ruang terbuka hijau), yang sesuai dengan standart ataupun ketentuan hukum

yakni 20%, sesuai dengan UU No.26 Tahun 2007, mungkin solusi ataupun saran

dari kelompok kami mengenai semakin sedikitnya lahan produktif di perkotaan,

maka seharusnya mulai dipikirkan pembentukan bank tanah (land banking).

Konsep bank tanah merupakan konsep pembangunan berkelanjutan

dimana pemerintah mampu menjamin ketersediaan tanah bagi masyarakatnya

terutama untuk penyediaan prasarana dan fasilitas umum. Pengertian yang lebih

jelas dan konsep bank tanah adalah suatu proses pembelian tanah dan property

untuk keperluan di masa mendatang. Melalui bank tanah setiap individu,

kelompok atau perusahaan dapat membeli tanah dengan harga riil saat itu (today’s

prices).

23

Page 25: Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman

DAFTAR PUSTAKA

http://lovebintang.blogdetik.com/2010/04/21/masalah-perumahan/

http://bojhezjanur.blogspot.com/2012/02/kebijakan-pemerintah-tentang-lingkungan.html

http://rustam2000.wordpress.com/karya-tulisku/

http://dispendukcapil.malangkota.go.id/?p=496

http://carlz185fr.wordpress.com/2013/04/24/strategi-kebijakan-yang-dapat-dilakukan-untuk-mengatasi-permasalahan-yang-dihadapi-dalam-migrasi-dan-urbanisasi-penduduk/

http://catatankecillina.blogspot.com/2012/03/masalah-perumahan-bagi-masyarakat.html

24