kdk siap print

Download KDK Siap Print

Post on 07-Dec-2015

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bagian syaraf anak

TRANSCRIPT

LAPORAN KASUSIDENTITAS

Nama

: An. SUmur

: 2 tahunJenis Kelamin: PerempuanANAMNESISSeorang anak perempuan berumur 2 tahun dirawat di Bangsal Anak RSUD Arosuka tanggal 31/7/2013 dengan :Keluhan utama :Kejang sejak 1 jam SMRS.Riwayat Penyakit Sekarang :

Kejang sejak 1 jam SMRS, frekuensi 3 kali, lama + 1 menit, anak tidak sadar diantara kejang. Ini merupakan kejang yang pertama kali. Batuk pilek sejak 2 hari SMRS, batuk berdahak. Demam sejak 2 hari SMRS, tidak tinggi, terus menerus. BAB encer sejak 1 hari SMRS, frek + 4 kali/hari, darah tidak ada, lendir tidak ada. Sesak nafas tidak ada. Muntah tidak ada. Riwayat terbentur pada kepala tidak ada Buang air kecil, jumlah dan warna biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam sebelumnya.Riwayat Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam.

Riwayat Kebiasaan, Sosial dan Ekonomi :

Anak merupakan anak tunggal. Lahir spontan, ditolong bidan, BBL 2700 gram, PBL lupa, langsung menangis kuat. Riwayat imunisasi dasar lengkap. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan dalam batas normal. Higiene dan sanitasi kurang baik.PEMERIKSAAN FISIKKeadaan umum: sakit sedangTinggi Badan: 80 cm

Kesadaran: sadarBerat Badan: 10 kg

Nadi: 120 x/menitBB/U: 83,33 %

Nafas: 38 x/ menitTB/ U: 93,02 %

Suhu: 38,7 oCBB/TB: 90,90 %

Kesan: gizi baik

Kulit

: teraba hangat

KGB

: tidak ada pembesaran KGB

Kepala : normocephal, simetrisRambut: hitam, tidak mudah dicabutMata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil ukuran 2mm/2mm, refleks cahaya +/+Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah.Leher

: kaku kuduk tidak ada.Thoraks

Pulmo :

Inspeksi : normochest, simetris saat statis dan dinamisPalpasi : fremitus kiri sama dengan kananPerkusi : sonorAuskultasi : vesikuler di kedua lapangan paru, rhonki tidak ada, wheezing tidak adaJantung :

Inspeksi: iktus cordis tidak terlihatPalpasi: iktus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC VPerkusi: tidak dilakukan

Auskultasi : irama teratur, bising tidak adaAbdomen :Inspeksi: distensi tidak adaPalpasi: supel, hepar dan lien tidak terabaPerkusi: timpaniAuskultasi : bising usus (+) meningkat

Ekstremitas: akral hangat, perfusi baik.Refleks fisiologis +/+. Refleks patologis -/-.LABORATORIUM Darah :

Hb

: 12,8 gr%

Leukosit: 13.800/mm3Hitung jenis: 0/0/0/80/18/2

DIAGNOSIS KERJA Kejang demam kompleks + Diare akut dehidrasi ringanDIAGNOSIS BANDINGGangguan elektrolit

TATALAKSANA IVFD KaEN 1 B 8 tetes/menit (mikro) Stesolid supp 1 kali Cefotaxime 2 x 500 mg IV Ampicilin 4 x 200 mg IV Paracetamol + Diazepam 3 x 1 pulv Fenobarbital 1 x 75 mg IM Luminal 2 x 50 mg IVRENCANA PEMERIKSAAN

Elektrolit darahFOLLOW UP (1 Agustus 2013). Rawatan hari ke-2S/ Kejang tidak ada

Demam adaBAB encer adaBatuk pilek tidak ada

BAK jumlah dan warna biasaO/ Sakit sedang; Sadar; Nadi 120 x/i; Nafas 26 x/i; Suhu 38,7 oC

Kesan/ Kejang demam kompleks + Diare akut Terapi :

IVFD KaEN 1B 8 tetes/menitPCT + Diazepam 3x1 pulv

Cefotaxime 2x500 mg IVLuminal pulv 2x50 mg

Ampicillin 4 X 250 mgGuanistrep 3x1

FOLLOW UP (2 Agustus 2013). Rawatan hari ke-3S/ Kejang tidak ada

Demam tidak ada

Batuk pilek tidak ada

BAK dan BAB biasaO/ Sakit sedang; Sadar; Nadi 110 x/i; Nafas 24 x/i; Suhu 37 oC

Kesan/ Kejang demam kompleks + Diare akut

Terapi :

IVFD KaEN 1B 8 tetes/menitPCT + Diazepam 3x1 pulv

Cefotaxime 2x500 mg IVLuminal pulv 2x50 mg

Ampicillin 4 X 250 mgGuanistrep 3x1

Keluarga pasien meminta untuk pulang paksa, anak mendapat obat pulang :Luminal pulv 2x25 mg

Cefixime 2x50 mg

PCT + Diazepam pulv K/P

Guanistrep K/P

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kejang

Sebelum memahami definisi mengenai kejang, perlu diketahui tentang seizure dan konvulsi. Yang dimaksud dengan seizure adalah cetusan aktivitas listrik abnormal yang terjadi secara mendadak dan bersifat sementara di antara saraf-saraf diotak yang tidak dapat dikendalikan. Akibatnya, kerja otak menjadi terganggu.

Manifestasi dari seizure bisa bermacam-macam, dapat berupa penurunan kesadaran, gerakan tonik (menjadi kaku) atau klonik (kelojotan), konvulsi dan fenomena psikologis lainnya. Kumpulan gejala berulang dari seizure yang terjadi dengan sendirinya tanpa dicetuskan oleh hal apapun disebut sebagai epilepsi (ayan). Sedangkan konvulsi adalah gerakan mendadak dan serentak otot-otot yang tidak bias dikendalikan, biasanya bersifat menyeluruh. Hal inilah yang lebih sering dikenal orang sebagai kejang. Jadi kejang hanyalah salah satu manifestasi dari seizure.

Kejang demam

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal lebih dari 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Mengenai definisi kejang demam ini masing-masing peneliti membuat batasan-batasan sendiri, tetapi pada garis besarnya hampir sama. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Derajat tingginya demam yang dianggap cukup untuk diagnosis kejang demam ialah 38C atau lebih, tetapi suhu sebenarnya saat kejang tidak diketahui. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi usia kurang dari 1 bulan tidak termasuk kejang demam.

B. Epidemiologi

Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan). Kejang demam sedikit lebih sering terjadi pada laki-laki.

C. Faktor Risiko

Faktor risiko kejang demam pertama adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orangtua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama kira kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan), dan kira kira 9 % anak mengalami rekurensi 3 kali atau lebih, resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.Kejang demam sangat tergantung pada umur, 85% kejang pertama sebelum berumur 4 tahun, terbanyak diantara 17-23 bulan. Hanya sedikit yang mengalami kejang demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun. Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi, walaupun pada beberapa pasien masih dapat mengalami sampai umur lebih dari 5-6 tahun. Kejang demam diturunkan secara dominan autosomal sederhana.

D. Klasifikasi

Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana ( simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever). Definisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan. Di Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FK UI-RSCM Jakarta, kriteria Livingston tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana ialah:

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 5 tahun.

2. Kejang hanya berlangsung sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.

3. Kejang bersifat umum.

4. Kejang timbul setalah 16 jam pertama setelah timbulnya demam.

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.

7. Frekuensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan,yaitu :

a. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) yaitu kejang menyeluruh yang berlangsung kurang dari 15, menit dan tidak berulang dalam 24 jam.

b. Kejang demam kompleks( Complex Febrile Seizure) yaitu kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung lebih dari 15 menit dan atau berulang dalam waktu singkat ( selama demam berlangsung).

Disini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau kejang tanpa demam dalam keluarga.

E. Etiologi

Hingga kini belum diketahui secara pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.

F. Patofisiologi

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh te