Kata Pengantar - ?· Timbel (Pb) yang dikenal juga dengan timah hitam merupakan neurotoxin atau racun…

Download Kata Pengantar - ?· Timbel (Pb) yang dikenal juga dengan timah hitam merupakan neurotoxin atau racun…

Post on 04-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>Kata Pengantar </p> <p>Saat pagi dan sore hari di hampir semua kota besar di Indonesia, kemacetan selalu menjadi pemandangan yang lumrah. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor kurang diimbangi dengan pertumbuhan ruas jalan, di sisi lain ada kecenderungan perilaku pengendara yang tidak mengindahkan pengendara lain. Jumlah kendaraan yang meningkat dan juga kondisi kemacetan lalu lintas pada akhirnya menyebabkan emisi gas buang dari kendaraan bermotor semakin hari semakin meningkat. </p> <p>Berbagai upaya untuk menanggulanginya telah dilakukan baik dalam konteks pencegahan, penanggulangan, maupun mitigasi. Di antaranya adalah dalam bentuk perbaikan kualitas bahan bakar, mempromosikan teknologi kendaraan yang rendah emisi, mengefektifkan manajemen lalu lintas, pengetatan standar emisi serta penegakan hukum. Sekali pun belum semuanya terlaksana secara optimal, upaya yang terintegrasi dalam konteks pencegahan tersebut telah dan terus dijalankan. </p> <p>Dalam kerangka mendorong ketersediaan bahan bakar bersih, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas bahan bakar bensin dan solar untuk kendaraan bermotor di 30 kota. Tahun lalu kegiatan serupa hanya dilaksanakan di 20 kota. Kegiatan pemantauan dimaksudkan untuk mengetahui dan kemudian memberikan informasi kepada masyarakat dan kalangan otomotif tentang kualitas bahan bakar bensin dan solar yang ada di pasar Indonesia. </p> <p>Dari hasil pemantauan lapangan terlihat bahwa kualitas bahan bakar bensin menunjukkan hasil yang mengembirakan. Ada 19 kota yang telah terbebas dari Timbel, tujuh kota lainnya telah memenuhi persyaratan kandungan maksimum, walaupun masih ada empat kota lainnya yang masih memiliki kandungan Timbel lebih dari 0.013 g/l. </p> <p>Seiring dengan upaya untuk terus memperbaiki kualitas bahan bakar bensin, kita tidak boleh lupa bahwa saat ini ternyata bahan bakar solar kita masih memiliki kandungan Sulfur yang cukup tinggi meskipun masih dalam batasan yang ditetapkan oleh SK Dirjen Migas No .tahun .(3500 ppm). Dari hasil pemantauan didapatkan bahwa kandungan Sulfur rata-rata pada bahan bakar solar di 30 kota adalah 2125 ppm. Angka ini masih cukup tinggi jika kita bandingkan dengan standar Euro 2 (500 ppm). </p> <p>Ke depan kita akan terus berupaya melakukan perbaikan sehingga pada akhirnya kualitas udara kita bisa memenuhi standar kesehatan. </p> <p> Semoga hasil pemantauan kualitas bahan bakar ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga sasaran yang hendak diwujudkan dari program pengendalian pencemaran udara dapat dicapai seiring dengan upaya untuk keluar dari krisis bahan bakar minyak. </p> <p>Executive Summary </p> <p>Sebagai realisasi dari program Langit Biru, Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan pemantauan rutin tahunan terhadap kualitas bahan bakar bensin dan solar di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan agar bahan bakar yang beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat dapat dikontrol kualitasnya. Dengan demikian, data yang diperoleh diharapkan dapat mendorong dan memacu produsen secara bertahap untuk memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan. </p> <p>Secara umum, kegiatan ini dari tahun ke tahun secara bertahap menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Hal ini dapat diukur dari dua hal, yaitu bertambahnya kota yang dipantau dan kualitas bahan bakar bensin dan solar. Pada tahun 2006, KLH memantau kualitas bahan bakar kendaraan bermotor di 20 kota, sedangkan tahun ini, terdapat penambahan jumlah kota yang dipantau menjadi 30 kota, yang antara lain: Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar, Gorontalo, Jabodetabek, Jambi, Jayapura, Kendari, Kupang, Makassar, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Palu, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Sorong, Surabaya, dan Yogyakarta. Dari segi jumlah, kota-kota yang dipantau tersebut dapat mewakili seluruh wilayah Indonesia yang berjumlah 33 provinsi. </p> <p>Kualitas bahan bakar yang dipasarkan di Indonesia menunjukkan perbaikan dari tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2006 dari 20 kota yang dipantau ditemukan bahan bakar bensin masih mengandung Timbel dengan nilai rata-rata 0,038 gr/l, sedangkan tahun ini dari 30 kota yang dipantau ditemukan nilai rata-rata 0.0068 gr/lt. </p> <p>Dari 30 kota yang dipantau, 10 kota kandungan Timbelnya sudah tidak terdeteksi atau unleaded gasoline. Kota-kota tersebut adalah Bandung, Denpasar, Makassar, Medan, Surabaya, Ambon, Banjarmasin, Mataram, Pekanbaru, dan Sorong. Kemudian 19 kota menunjukkan kandungan timbalnya sama dengan dan atau di bawah ambang maksimum. Kota-kota tersebut adalah Batam, Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Balikpapan, Kupang, Manado, Padang, Palu, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bengkulu, Gorontalo, Jambi, Jayapura, Kendari, Palangkaraya, Pangkalpinang, dan Pontianak. Sementara kota Palembang yang terburuk, karena kandungan Timbelnya masih di atas ambang maksimum 0.013 gr/lt dengan nilai rata-rata sebesar 0.021 gr/lt. </p> <p>Hal ini merupakan pertanda baik bagi upaya pengendalian pencemaran udara, karena Timbel merupakan faktor kunci keberhasilan penurunan </p> <p>tingkat pencemaran udara. Apabila bahan bakar sudah bebas Timbel maka kendaraan dapat dilengkapi dengan catalytic converter yang mampu mereduksi emisi kendaraan sampai 90 persen. </p> <p>Parameter lain yang juga dipantau adalah Angka Oktana (RON) bensin. Dari 30 kota yang dipantau angka rata-rata adalah 88.74 di mana tingkat maksimal 90.76. Angka ini sudah memenuhi spesifikasi yang ada di Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 88. </p> <p>Walaupun kandungan Timbel pada bahan bakar bensin sudah di bawah standar, namun ditemukan kenaikan kandungan Sulfur dalam bahan bakar solar. Hasil pantauan di lapangan menunjukkan kandungan Sulfur dalam solar di beberapa kota masih di atas 3.500 ppm. Dari 30 kota yang dipantau, rata-rata kandungan Sulfur adalah 2125 ppm dengan rentang nilai maksimal 4.600 ppm dan minimal 400 ppm. </p> <p>Menurut kebijakan yang tertuang di dalam SK Menteri Pertambangan dan Energi No 1585.k/32-MPE/1999 yang ditetapkan pada tanggal 13 Oktober 1999 ditetapkan bahwa terhitung mulai tanggal 16 Maret 2006, produsen solar wajib menurunkan kadar Sulfur dari 5.000 ppm menjadi 3.500 ppm. Sejatinya, penetapan kadar Sulfur dalam solar maksimal 3.500 ppm ini dilaksanakan tahun 2006. Namun, para produsen pada saat itu mengatakan belum siap, sehingga pemerintah memberikan tenggat waktu selama satu tahun untuk menurunkan kandungan Sulfur. </p> <p>Peningkatan kandungan Sulfur dalam solar merupakan masalah yang segera harus diselesaikan. Hasil pemantauan menunjukkan kenaikan cukup signifikan dibandingkan tahun lalu. Nilai rata-rata kandungan Sulfur tahun 2006 yaitu 1516 ppm, sedangkan tahun ini sebesar 2156 ppm. Beberapa kota yang mengalami kenaikan yang cukup mengkhawatirkan adalah di Manado menjadi 3775 ppm dan Mataram menjadi 4250 ppm. </p> <p>Sulfur dalam bahan bakar solar secara alami berasal dari minyak mentah. Apabila tidak dihilangkan pada proses pengilangan, maka Sulfur akan mengontaminasi bahan bakar kendaraan. Sulfur dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap usia mesin dan sangat signifikan terhadap keberadaan emisi partikulat (PM). Dalam program European Auto Oil, diprediksi pengurangan kandungan Sulfur dari 500 ppm menjadi 30 ppm akan menurunkan emisi partikulat menjadi 7 persen. Dengan demikian keberadaan Sulfur di atas 1000 ppm sebagaimana yang terukur di banyak kota akan berimplikasi pada tingginya emisi partikulat di udara ambien kota-kota tersebut. Hal tersebut tercermin dari kondisi kualitas udara ambien kota-kota sebagai tersebut di atas, di mana menunjukan partikulat sebagai parameter kritis dominan. </p> <p>BAB I </p> <p>PENDAHULUAN </p> <p>1.1 Latar Belakang </p> <p>Pencemaran udara merupakan permasalahan lingkungan yang mengancam kota-kota besar di Indonesia, terutama yang bersumber dari emisi kendaraan bermotor. Dari tahun ke tahun, jumlah kendaraan bermotor meningkat dan menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar. Sementara pencemaran udara juga berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, kecenderungan mobilitas dan kepadatan kendaraan bermotor yang sangat tinggi membahayakan kesehatan mereka. </p> <p>Pencemaran udara berkaitan dengan konsumsi energi, seperti bahan bakar minyak, bahan bakar gas dan batu bara (bahan bakar konvensional). Sumber-sumber energi ini dibutuhkan untuk menggerakkan kendaraan, membangkitkan listrik, menjalankan mesin-mesin industri dan lain-lain. Seiring dengan konsumsi sumber energi yang berlebihan, emisi polutan memengaruhi atmosfer dalam skala yang sangat besar. Emisi karbondioksida (CO2) yang merupakan komponen utama Gas Rumah Kaca (GRK) dapat memperbesar Efek Rumah Kaca (ERK) yang pada gilirannya akan meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi yang dikenal juga dengan Pemanasan Global. </p> <p>Sementara emisi Timbel (Pb) dapat mengancam kelangsungan generasi penerus bangsa, karena mengandung salah satu neurotoxin atau racun penyerang syaraf yang sangat sensitif bagi kesehatan anak-anak. </p> <p>Kebijakan yang mampu mendorong digunakannya energi yang lebih bersih seperti gas, bahan bakar nabati, fuels cell dan lain-lain mutlak diperlukan. Setidaknya untuk jangka 10 tahun ke depan, pemerintah dapat meningkatkan kualitas bahan bakar fosil yang digunakan, terutama menjamin penyediaan bensin tanpa Timbel dan solar berkadar Sulfur rendah di seluruh Indonesia. Khususnya bensin tanpa Timbel, kebijakan ini telah lama dituangkan dalam SK Menteri Pertambangan dan Energi No 1585.k/32-MPE/1999 pada tanggal 13 Oktober 1999. Kebijakan ini menetapkan bahwa terhitung 1 Januari 2003, bensin yang dipasarkan di seluruh Indonesia harus sudah bebas Timbel. </p> <p>1.2 Dampak Pencemaran Udara </p> <p>Dalam kehidupan sehari-hari, pencemaran udara dirasakan oleh manusia yang bermukim dan beraktivitas di daerah urban, perdesaan, industri dan perumahan. Pencemaran udara di kota-kota besar, terutama di negara berkembang telah mencapai tingkat yang kritis. Rendahnya kualitas udara menyebabkan kematian sekitar tiga juta orang per tahun dan menjadi dilema bagi jutaan orang lainnya di dunia yang menderita asma, gangguan pernafasan akut, gangguan kardiovaskular dan penderita kanker paru-paru. Polusi udara perkotaan di beberapa negara berkembang umumnya disebabkan oleh sumber emisi bergerak seperti kendaraan bermotor dan sumber tidak bergerak seperti kegiatan industri. Sekitar 0.5 juta hingga 1 juta orang di negara berkembang mengalami kematian dini akibat dari pencemaran udara setiap tahunnya.1 </p> <p>Polutan yang diemisikan oleh sumber-sumber tersebut seperti Hidrokarbon (HC) dapat menyebabkan iritasi mata, batuk dan juga berpotensi terhadap perubahan kode genetik. Partikulat Matter (PM) adalah pencemar yang apabila masuk ke dalam sistem pernafasan dapat menyebabkan bronchitis, asma, gangguan kardiovaskular dan berpotensi menyebabkan kanker. Sedangkan Sulfur dalam bentuk gas SO2 dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan, seperti pada selaput lendir hidung, tenggorokan dan saluran udara di paru-paru. </p> <p>Timbel (Pb) yang dikenal juga dengan timah hitam merupakan neurotoxin atau racun syaraf yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat kecerdasan dan kemampuan otak pada anak anak, sementara pada orang dewasa dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, anemia, mengurangi fungsi reproduksi dan kematian. Selain dari itu, masih banyak lagi parameter pencemar yang semuanya memiliki dampak negatif terhadap tubuh manusia. Tabel berikut ini menggambarkan jenis-jenis polutan, sumber, dampak serta pencegahan dan kontrol yang dapat dilakukan. </p> <p> 1 World Bank Technical Paper No. 508, Masami Kojima dan Magda Lovei, Hal 3 </p> <p>Table 1. Air Pollution Impact on Human Health and the Environment. </p> <p>POLLUTANT SOURCES EFFECT PREVENTION and CONTROL Ozone (O3) Formed when </p> <p>reactive organic gas (ROG) and nitrogen oxides react in the presence of sunlight. ROHGS sources include any source that burns fuels (e.g., gasoline, natural gas, wood, oil);solvents: petroleum processing and storage; and pesticides </p> <p>Breathing difficulties, lung tissue damage, vegetation damage, damage to rubber and some plastics </p> <p>Reduce motor vehicle reactive organic gas (ROG) and nitrogen oxide (NOx) emission through emission standards, reformulated fuels, inspection program, and reduce vehicle use. Limit ROG emission from commercial operations and consumer products. Limit ROG and NOx emission from industrial sources such as power plants and refineries. Conserve energy. </p> <p>Respirable Particulate Matter (PM10) </p> <p>Road dust, windblown dust, agriculture and construction, fireplace, also formed from other pollutants (acid rain, NOx, Sox, organics). Incomplete combustion of any fuel </p> <p>Increase respiratory disease, lung damage, cancer, premature death, reduced visibility, surface soiling </p> <p>Control dust sources such as particulate matter from motor vehicle emission </p> <p>Fine Particulate Matter (PM2.5) </p> <p>Distinct pollutant in urban areas, which comes from diesel engine emission. </p> <p>Increase respiratory disease, lung damage, cancer, and premature death, reduced visibility. </p> <p>Low sulfur diesel fuel and diesel particulate filter implementation and anticipating new diesel vehicle with common rail. </p> <p>Carbon Monoxide (CO) </p> <p>Any source that burns fuel such as </p> <p>Chest pain in heart patient, headaches, </p> <p>Control motor vehicle emission. </p> <p>POLLUTANT SOURCES EFFECT PREVENTION and CONTROL automobiles and </p> <p>trucks. reduced mental alertness </p> <p>Nitrogen Dioxide (NO2) </p> <p>See Carbon Monoxide </p> <p>Lung irritation and damage. Reacts in the atmosphere to form ozone and acid rain </p> <p>Control motor vehicle emission and conserve energy. </p> <p>Lead Leaded Gasoline Learning disabilities, brain and kidney damage, anemia on children. Hypertension, anemia and infertility on adults. </p> <p>Leaded gasoline phaseout </p> <p>Hydrocarbons (HC) </p> <p>Incomplete combustion process </p> <p>Respiration problems, eye irritation, can potentially triggers cancer, genetic distortion. </p> <p>Inspection and maintenance for motor vehicle, emission control, conserve energy sources. </p> <p>Sulfur Dioxide (SO2) </p> <p>Coal or oil burning power plants and industries, refineries, diesel engines </p> <p>Increases lung disease and breathing problems for asthmatics. React in the atmosphere to form acid rain </p> <p>Reduce of high sulfur fuels (e.g use low sulfur reformulated diesel or natural gas) conserve energy </p> <p>Visibility Reducing Particle </p> <p>See PM 2.5 Reduce visibility (e.g obscure mountains and the other scenery) reduce airport safety, </p> <p>See PM2.5 </p> <p>Sulfate Produced by reaction in the air of SO2,(see SO2 sources), a component of acid rain </p> <p>Breathing difficulties, aggregates asthma, reduced visibility </p> <p>See SO2 </p> <p>Pencemaran udara anthropogenic berasal dari berbagai sumber termasuk aktivitas rumah tangga, kendaraan bermotor, industri, sektor pertanian dan pembakaran ba...</p>