kasus pak haris 2

Click here to load reader

Post on 13-Apr-2016

491 views

Category:

Documents

143 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

FARM

TRANSCRIPT

  • FARMASI KLINIS Analisa Problem dengan Metode SOAP

    STUDI KASUS

    KELOMPOK 2 Ahmad Nurmin ( 10112051 )

    Armeynita ( 10112011 )

    Dheny Vebri ( 10112081 )

    Elisa Galuh Setyorini ( 10112087 )

    Henny Prasasti W. ( 10112091 )

    Indah Pitriani ( 10112060 )

    Khusniatul M. ( 10112018 )

    Moh. Syarifudin ( 10112065 )

    Mayzar Deni S. ( 10112068 )

    Rico Cahyanto ( 10112041 )

    Siska Vindia Sari ( 10112030 )

    Ternavia Faruk ( 10112078 )

    Vikta Nurpujiani ( 10112032 )

  • 2

    STUDI KASUS

    Ny. JK usia 55 tahun, mengeluh mual, muntah, badan merasa lemah, dan lesu, rasa sakit di

    seluruh anggota badan.

    Oleh keluarganya pasien dibawa ke RS.

    Setelah beberapa hari dirawat di RS, hasil diagnosa dokter menunjukkan bahwa pasien

    mengalami gagal ginjal kronik dan harus menjalani hemodialisa secara rutin.

    Riwayat Penyakit :

    - Gastritis

    - Diabetes melitus

    - Hipertensi

    - Hiperkolesterol

    Terapi :

    - Glimepiride 1 x 2 mg

    - Metformin 3 x 500 mg

    - Amlodipin 1 x 5 mg

    - Furosemid 2 x 40 mg

    - Fenofibrat 1 x 100 mg

    - Ranitin 2 x 300 mg

    - Lansoprazole 2 x 40 mg

    Pemeriksaan Fisik :

    - BB : 60 kg

    - TB : 160 cm

    - TD : 170 / 100 mmHg

    Pemeriksaan Urin :

    Proteinuria = 330 mg/hari protein

    Pemeriksaan Laboratorium :

    - GFR : 12 ml/menit/1,73 m2

    - Sr Cr : 10 mg/L

    - BUN : 43 mg/dL

    - Glukosa puasa : 200 mg/dL

    - Glukosa PP : 300 mg/dL

    - Trigliserida : 165 mg/dL

    - LDL kolesterol : 170 mg/dL

    - Kolesterol total : 280 mg/dL

    - Asam urat : 12 mg/dL

    METODE SOAP

    1. Subjektive

    Nama pasien : Ny. JK

    Jenis kelamin : Perempuan

    Umur : 55 Tahun

    Tinggi Badan : 160 cm

    Berat Badan : 60 Kg

    Riwayat Penyakit : Gastritis, Diabetes Militus, Hipertensi, Hiperkolestrol

    Keluhan : Mual, muntah, badan terasa lemah dan lesu, sakit diseluruh

    anggota badan

    Diagnosa : Gagal ginjal kronik (Hemodialica rutin)

  • 3

    2. Objective

    LDL kolestrol : 170 mg/dl ( Normal

  • 4

    4) Meningkatkan kadar albumin pasien untuk mengatur tekanan osmotic di

    dalam darah ( mempertahankan volume )

    5) Menurunkan kadar kolesterol

    b) Terapi jangka panjang

    1) Mempertahankan fungsi ginjal (berfungsi secara optimal)

    2) Meningkatkan kualitas hidup pasien

    3) Mempertahankan tekanan darah, glukosa darah, kolesterol dalam batas

    normal untuk mencegah komplikasi CKD stadium akhir

    2. Sasaran Terapi

    a) Menurunkan tekanan darah

    b) Menurunkan kadar glukosa darah

    c) Menurunkan kadar kolestrol

    d) Mengatasi mual, muntah, lemas, etc

    e) Mempetahankan fungsi ginjal

    3. Stategi Terapi

    a) Terapi Farmakologi

    1) Glimenpiride 1x2 mg

    2) Metformin 3x500 mg

    3) Amplodipin 1x5 mg

    4) Furosemid 2x40 mg

    5) Fenofibrat 1x100 mg

    6) Ranitidin 2x300 mg

    7) Lanzoprazol 2x40 mg

    b) Terapi Non Farmakolgi

    1) Dialisis (cuci darah) dilakukan dengan frekuensi minimal 2-3 kali

    seminggu. Lamanya cuci darah sekitat 3-5 jam setiap kali tindakan. Dialisis

    dilakukan pada penderita CKD dengan tingkkat stadium akhir dimana GFR

    < 15 ml/ menit.

    2) Cukup dengan asupan cairan (cukup minum), menurut keadaan ginjal dan

    jumlah produksi air seni, biasanya cairan diperlukan tubuh berkisar antara

    1500-2000 ml/hari. Jika air seni berkurang pemberian cairan dilakukan

    berdasarkan jumlah urin dan air yang dapat terlihat seperti melalaui tinja,

    keringat dan paru-paru.

    3) Diet tinggi protein untuk penyakit yang mengalami cuci darah secara rutin,

    menghitung asupan protein bisa dilakukan dengan Berat Badan / Berat

    Badan tanpa edema dikalikan 1,2 gram protein/hari (untuk pasien cuci

    darah)

    4) Pengaturan keseluruhan asupan energi dari makanan. Pada orang normal

    komposisi makanannya 60 kH : 20 lemak : 20 protein. Bila pasien cuci

    darah maka komposisi makanan dengan perbandingan 55 kH : 30 lemak :

    15 protein.

    5) Retriksi asupan protein untuk mencegah resiko malnurisi dengan

    rekomendasi asupan protein pada pasien gangguan ginjal kronik,

    hemodialisis 1,2 g/kg BB ideal/hari. Protein yang dipilih adalah yang

    memiliki kandungan biologis tinggi (protein hewani)minmal 50%. Pada

    protein hewani banyak mengandung asam amino essensial yang penting

    untuk tubuh, namun tubuh tidak dapat memproduksinya sendiri.

  • 5

    6) Membatasi asupan garam. Rekomendasi untuk penderita ginjal kronik

    dengan hemodialisis 5-6 gram/hari. Hanya dibatasi untuk penderita yang

    menjalani cuci darah.

    7) Membatasi asupan kalium hingga 50-60 mmol/hari (3 gram/hari), untuk

    penderita cuci darah yaitu

    8) Menghindari stres fisik dan mental karena dapat meningkatkan tekanan

    darah dan kadar gula darah.

    9) Melakukan olah raga ringan secara rutin minimal 30 menit perhari.

    10) Terapi dislipidemia pembatasan asupan kolestrol, penurunan bobot tubuh,

    olah raga

    TINJAUAN PENYAKIT

    Cronic Kidney Diease (CKD)

    1. Pengertian

    Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersiat presisten dan

    irreversible (Mansjoer dkk, 2000).

    Gagal ginjal kronik merupakan penyakit ginjal tahap akhir yang progresif dan

    irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan

    keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia (Smeltzer dan Bare, 2002).

    2. Klasifikasi

    Klasifikasi CKD (Cronic Kidney Disease) berdasarkan tingkat LFG (Laju Filtrasi

    Glumerulus), yaitu :

    a) Stadium I

    Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminuria presisiten dan LFG (Laju Filtrasi

    Glumerulus) nya yang masih normal yaitu > 90 ml/menit / 1,72 m

    b) Stadium II

    Kelainan gagal ginjal dengan albuminuria presisten dan LFG (Laju Filtrasi

    Glumerulus) antara 60 89 ml/ menit / 1,73 m

    c) Stadium III

    Kelainan ginjal dengan LFG (Laju Filtrasi Glumerulus) antara 30 59 ml/ menit /

    1,73 m

    d) Stadium IV

    Kelainan ginjal dengan LFG (Laju Filtrasi Glumerulus) antara 15 29 ml/ menit /

    1,73 m

    e) Stadium V

    Kelainan ginjal dengan LFG < 15 ml/ menit / 1,73 m

    Untuk menilai GFR (Glumerular Filtration Rate) atau CCT (Clearance Creatinin Test)

    dapat digunakan dengan rumus :

    CCT (ml / menit) =

    Untuk perempuan CCT = CCT laki laki x 0,85 (Smeltzer dan Bare, 2000).

    3. Etiologi

    Menurut Smeltzer dan Bare (2000) penyebab dari gagal ginjal kronik adalah :

    a) Diabetes mellitus

    b) Glumerulonefritis kronis

    c) Pielonefritis

    d) Hipertensi tak terkontrol

  • 6

    e) Obstruksi saluran Kemih

    f) Penyakit ginjal polikistik

    g) Gangguan Vaskular

    h) Lesi herediter

    i) Agen toksisk (timah, kadmium, dan merkuri)

    4. Patofisiologi

    Gagal ginjal kronik disebabkan gangguan atau kerusakan pada ginjal, terutama pada

    komponen filtrasi ginjal, seperti membran basal glomerulus, sel endotel, dan sel sel

    podosit. Kerusakan komponen komponen ini dapat dsebabkan secara langsung oleh

    kompleks imun, mediator inflamasi, atau toksin. Selain itu dapat disebabkan oleh

    mekanisme progresif yang berlangsung dalam jangka panjang. Selain itu berbagai sitokin

    dan growth factor berperan dalam menyebabkan kerusakan ginjal (Tanto dkk, 2014).

    Penurunan GFR (Glumerular Filtration Rate) dapat dideteksi dengan mendapatkan

    urin, 24 jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Akibat dari penurunan GFR

    (Glumerular Filtration Rate), maka klirens kreatinin akan menurun, kreatinin akan

    meningkat, dan nitrogen urea darah juga akan meningkat (Smeltzer dan Bare, 2002).

    Gangguan Klirens renal, banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebgai akibat dari

    penurunan jumlah glumeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens

    (substansi darah yang seharusnya dibersihakan oleh ginjal) (Smeltzer dan Bare, 2002).

    Retensi cairan dan natrium. Ginjal kehilangan kemampuan untuk

    mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal. Terjadi penahanan cairan

    dan natrim, meningkatkan resiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif dan

    hipertensi (Smeltzer dan Bare, 2002).

    5. Manifestasi Klinis

    Menurut Tanto dkk (2014), manifestasi klinis gagal ginjal kronik tidak spesifik dan

    biasanya ditemukan pada tahap akhir penyakit. Pada stadium awal, PGK (Penyakit Ginjal

    Kronik) biasanya asimtomatik. Tanda dan gejala PGK (Penyakit Ginjal Kronik)

    melibatkan berbagai sistem organ diantaranya :

    a) Gangguan keseimbangan cairan : edema perifer, efusi pleura, hipertensi,

    peningkatan JVP (Jugular Venous Pressure), asites.

    b) Gangguan elektrolit dan asam basa: tanda dan gejala hiperkalemia asidosis

    metabolik , hiperfosfatemia.

    c) Gangguan gastrointestinal dan nutrisi : metallic taste, mual, muntah, gastritis, ulkus

    peptikum, malnutrisi.

    d) Kelainan Kulit : kulit terlihat pucat, kering, pruritus, pigmentasi kulit, ekimosis.

    e) Gangguan neuromuskular : kelemahan otot, fasikulasi, gangguan memori,

    ensefalopati uremikum.

    f) Gangguan metabolik endokrin : dislipidemia, gangguan metabolisme glukosa,

    gangguan hormon seks.

    g) Gangguan hematologi: Anemia (dapat mikrositik hipokrom maupun normositik

    normokrom), ganggua