kajian stok kepiting bakau (scylla sp ... - · pdf filekepiting rajungan. kepiting bakau...

Click here to load reader

Post on 27-Feb-2018

251 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    KAJIAN STOK KEPITING BAKAU (Scylla sp) DI DESA

    KELUMU KECAMATAN LINGGA KABUPATEN LINGGA

    PROVINSI KEPULAUAN RIAU

    Andi Lariski, [email protected]

    Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    Andi Zulfikar, S.Pi, MP.

    Dosen Jurusan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    Tengku Said Razai, S.Pi, MP.

    Dosen Jurusan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    ABSTRAK

    Kepiting bakau merupakan salah satu hasil tangkapan komoditas sektor

    perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Tingginya permintaan pasar terhadap

    kepiting bakau dapat mengakibatkan upaya penangkapan kepiting bakau yang

    juga akan meningkat oleh karena itu penelitian mengenai Kajian Stok Kepiting

    Bakau di Desa Kelumu perlu di teliti. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

    Februari sampai April 2015 di Perairan Desa Kelumu Kabupaten Lingga. Tujuan

    dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi stok kepiting bakau di

    Perairan Desa Kelumu Kabupaten Lingga. Total sampel kepiting bakau yang

    diukur selama penelitian berjumlah 416 ekor Kisaran panjang 5-11 cm yang

    terdiri atas 4 kelompok ukuran kepiting bakau. Nilai koefisien pertumbuhan (K)

    sebesar 0,163 per tahun. Sedangkan hubungan panjang berat kepiting bakau

    adalah allometrik negatif (pertumbuhan panjang kerapas lebih cepat dari

    pertambahan bobot). Laju mortalitas total (Z) adalah 0,6472 per tahun dan laju

    eksploitasi (E) pada kepiting bakau adalah 0,17 per tahun menunjukkan masih

    berada dibawah rata-rata optimum (0,5).

    Kata kunci : Stok, Kepiting Bakau, Hubungan Panjang Berat, Mortalitas,

    Pertumbuhan, Desa Kelumu

    mailto:[email protected]

  • 2

    Mangrove Crab Stock Assessment (Scylla sp) in the village of Lingga Lingga

    District Kelumu District of Riau Islands Province.

    Andi Lariski, andila[email protected]

    Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    Andi Zulfikar, S.Pi, MP.

    Dosen Jurusan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    Tengku Said Razai, S.Pi, MP.

    Dosen Jurusan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP-UMRAH

    ABSTRACT

    Mangrove crab is one of the catches of the fisheries sector of commodities

    of high economic value. The high market demand for mangrove crabs can lead to

    mangrove crab fishing effort will also increase therefore research on Mangrove

    Crab Stock Assessment in the village Kelumu needs carefully. The research was

    conducted from February to April 2015 in the Water Village Kelumu Lingga

    District. The purpose of this study was to determine the condition of the mangrove

    crab stocks in the waters of the Village Kelumu Lingga District. The total sample

    of mud crab measured during the study amounted to 416 long range 5-11 cm tail

    which consists of 4 groups of mud crab size. Value growth coefficient (K) equal

    to 0.163 per year. While heavy long relationship mud crab is negative allometric

    (carapace length growth faster than weight gain). Total mortality rate (Z) was

    0.6472 per year and the rate of exploitation (E) on the mud crab is 0.17 per year

    showing still be below the average of optimum (0.5).

    Key Words: Stock, Crab Bakau, Relationship Length Weight, Mortality, Growth, Kelumu village.

    mailto:[email protected]

  • 3

    I. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Sebagai Provinsi kepulauan,

    wilayah ini terdiri atas 96 % lautan

    (DKP-KEPRI,2011). Kondisi ini

    sangat mendukung bagi

    pengembangan usaha budidaya

    perikanan mulai usaha pembenihan

    sampai pemanfaatan teknologi

    budidaya maupun penangkapan.

    Potensi perikanan yang terdapat di

    Provinsi Kepulauan Riau salah

    satunya adalah berbagai jenis

    kepiting yang hidup di ekosistem-

    ekosistem perairan Kepulauan Riau.

    Jenis-jenis kepiting yang hidup

    di perairan Provinsi Kepulauan Riau

    adalah jenis kepiting bakau dan

    kepiting rajungan. Kepiting bakau

    (scylla sp) yaitu jenis kepiting yang

    hidup di daerah hutan mangrove.

    Kepiting bakau (scylla sp)

    merupakan komoditas ekspor yang

    dominan paling tinggi permintaan

    pemasarannya yang mempunyai

    nilai-nilai ekonomis penting sebagai

    hasil produksi daging dalam

    kalengan dan dalam keadaan beku,

    maka kepiting bakau dapat di

    pasarkan dalam keadaan hidup di

    karenakan kepiting bakau lebih tahan

    hidup di luar air.

    Namun bersama dengan itu,

    rata rata pertumbuhan produksi

    kepiting bakau di beberapa provinsi

    penghasil utama kepiting bakau

    justru agak lambat dan cenderung

    menurun (Cholik 1999). Penurunan

    populasi kepiting bakau di alam

    diduga di sebabkan oleh degradasi

    ekosistem mangrove dan kelebihan

    tangkapan (overexploitation)

    (Siahainenia 2008).

    Salah satu daerah di Provinsi

    yang berpotensial terhadap kepiting

    bakau yaitu di Kabupaten Lingga

    terutama di Desa Kelumu. Desa

    kelumu merupakan kawasan hutan

    mangrove yang berpotensial untuk

    penangkapan kepiting bakau dan

    salah satunya pemanfaatan hutan

    bakau sebagai produksi pembuatan

    arang. Sehingga sebagian besar

    masyarakat di desa kelumu bermata

    pencarian sebagai nelayan

    penangkapan kepiting bakau dan

    juga sebagai pengumpul atau

    menampung kepiting bakau di desa

    kelumu.

    Tinggi nilai ekonomis kepiting

    bakau dalam perekonomian akan

    mendorong meningkatnya hasil

    tangkapan kepiting bakau yang dapat

    memicu akan terjadinya overfishing

    atau penangkapan berlebihan.

    Dengan demikian perlu adanya

    upaya untuk pengkajian stok kepiting

    bakau dan metode-metode untuk

    mempertahankan stok kepiting bakau

    di perairan desa kelumu.

    II. METODE

    A. Waktu dan Tempat

    Penelitian ini dilaksanakan

    pada bulan Februari sampai dengan

    April 2015 di Kawasan Perairan

    Ekosistem Hutan Mangrove Desa

    Kelumu Kecamatan Daik Lingga

    Kabupaten Lingga. Pengumpulan

    data primer berupa berat panjang

    sampel kepiting bakau dengan

    interval waktu pengambilan sampel

    di lakukan dua kali dalam satu

    minggu selama dua bulan. Peta

    lokasi penelitian berupa daerah desa

    kelumu kecamatan lingga kabupaten

    lingga.

  • 4

    B. Alat dan Bahan

    Alat dan bahan yang di

    gunakan dalam p enelitian ini

    yaitu ( Tabel 1 ) :

    Tabel 1. Alat dan Bahan No Alat & Bahan Kegunaan

    1 Alat tulis Mencatat data

    penelitian

    2 Kamera Digital Dokumentasi

    3 Timbangan 2 kg Mengukur berat dari

    objek penelitian

    4 Penggaris 30

    cm ketelitian

    0.1 cm

    Mengukur panjang

    objek penelitian

    5 Kepiting bakau Objek penelitian

    6 Formulir

    Kusioner

    Data skunder

    C. Metode

    Sebelum melakukan

    pengumpulan data, dilakukan survey

    atau pengamatan lapangan yang

    meliputi keseluruhan kawasan

    hutan mangrove, data yang

    digunakan adalah data primer yang

    diambil dari pengamatan hasil

    lapangan dan wawancara kepada

    penduduk sekitar.

    Data sekunder diambil dari

    instansi-instansi terkait sebagai

    pendukung penelitian yang akan

    dilakukan. Data primer diperoleh

    contoh yang dilakukan dengan

    menggunakan metode acak.

    Pengambilan contoh kepiting bakau

    menggunakan alat tangkap yang biasa

    digunakan oleh masyarakat berupa

    Alat Pengait dan Bubu ijab dengan

    interval 3 kali dalam waktu yang

    sama. Sehingga pengambilan contoh

    dilakukan tiga hari sekali dalam satu

    minggu selama dua bulan. Total

    target kepiting adalah 300 ekor selama

    dua bulan. Hal ini berpedoman pada

    Carlander (1956) dalam Miller (1966)

    Bahwa minimal berjumlah contoh

    yang diperlukan pada tingkat

    kepercayaan 99%, 98%, dan 95%

    adalah 550, 150, dan 300 dengan

    asumsi bahwa contoh yang diambil

    sudah mewakili populasi yang

    sebenarnya.

    Kepiting Bakau di ukur panjang

    dan berat. Panjang yang diukur

    adalah panjang total. Panjang total

    adalah panjang crapas kepiting yang

    diukur dari kerapas sebelah kanan

    sampai kerapas sebelah kiri dan lebar

    kerapas diukur mulai dari interior

    bagian kepala sampai ujung posterior

    bagian bawah kerapas, Kanna (2002).

    Pengambilan contoh resfonden

    dilakukan dengan menggunakan

    metode porposive sampling atau

    pemilihan responden dengan sengaja

    berdasarkan kesediaan anggota

    populasi. Menurut Solistyo & Basuki

    (2006) dalam Ningsih, (2014)

    metode pengambilan contoh secara

    porvosipe ( purposive sampling )

    adalah penaarikan contoh yang

    dilakukan berdasarkan kriteria yang

    ditentukan oleh peneliti.

    D. Prosedur Penelitian

    1. Pengambilan Sampel

    Metode pengambilan sampel

    menggunakan metode sistem random

    sampling sistematis. Langkah-

    langkah pada metode ini sebagai

    berikut :

  • 5

    1. Menyusun kerangka sampling 2. Menetapkan jumlah sampel yang

    akan diambil. Sampel yang

    diambil dua kali dalam satu

    minggu selama dua bulan.

    3. Pengambilan sampel secara sistematis, sampel diambil secara

    tersistem. Pendataan sampel

    berdasarkan total rata-rata hasil