kabar jkpp

Download Kabar JKPP

Post on 22-Jan-2018

34 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  1. 1. 2 KABAR JKPP NO. 9, FEBRUARI 2005 No.9, Feb 2005 Yang dapat kami KABARi !! Penataan ruang dan manajemen konflik: sebuah catatan atas proses di Sanggau ...... 3 Penerapan Pemetaan Partisipatif dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang ..... 6 Inisiatif Kolaborasi untuk Resolusi Konflik Ruang; Pelajaran dari pengalaman Rencana kerjasama RAPP dan JKPP ..... 19 Terbaru dari JKPP-Jawa.. 21 DEWAN REDAKSI KABAR JKPP Penanggung Jawab: Ita Natalia, Pemimpin Redaksi: Devi Anggraini, Redaktur: Ita Natalia, Kasmita Widodo, Devi Anggraini, A.H. Pramono. Distribusi: Risma. Tata Letak: Dodo. Alamat Redaksi : Jl. Arzimar III No.17 Bogor 16152, Indonesia, Telp. 0251- 379143, Fax.0251-379825, e-Mail: jkpp@bogor.net Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) berdiri pada bulan Mei 1996 di Bogor. Penggagas berdirinya JKPP adalah berbagai NGO dan masyarakat adat yang memanfaatkan dan mengembangkan pemetaan berbasis masyarakat sebagai salah satu alat pencapaian tujuannya. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan JKPP antara lain menyelenggarakan pelatihan- pelatihan dan magang pemetaan partisipatif, perluasan dan penyebaran ide-ide pemetaan partisipatif, menyelenggarakan dialog-dialog keruangan, melakukan kajian-kajian keruangan, penerbitan dan melakukan aliansi dengan berbagai pihak yang aktif dalam gerakan-gerakan sumberdaya alam kerakyatan. Kabar Redaksi Pembaca yang budiman, Senang kami bisa menemui pembaca kembali melalui Media Kabar JKPP ini, setelah lama terjadi kekosongan dalam penerbitannya. Bukan berarti kita tidak saling menyapa, banyak forum diskusi baik tatap muka maupun jarak jauh melalui email tetap berkomunikasi. Isu-isu pemetaandantataruangyangmendorongkedaulatanrakyat atas ruang terus digagas, ditulis, dibicarakan dan diimplementasikan dalam aktivitas gerakan setiap lembaga pendukung dan oleh rakyat di tingkat basis. Pergeseran waktu mendorong bergesernya isu keruangan di Indonesia. Perlahan tetapi memiliki nilai yang menarikketikaisupemetaandantataruangolehmasyarakat menjadi hal yang diperhatikan pemerintah daerah di beberapa kabupaten di Indonesia serta perusahaan (private sector). Parapendukung(NGO)terusmelakukankerjasama untukmendorongpercepatanprosesperansertamasyarakat dalam penataan ruang dan pengelolaan ruang hidupnya. Kabar JKPP No.9, Februari 2005 ini menyampaikan beberapa kabar tentang proses diskusi revisi tata ruang di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Ini dapat dimaknai sebagai peluang semua pihak untuk membicarakan tata ruang kabupaten secara bersama, walau masih banyak hal- hal yang berbeda pendapat. Pada tulisan lain, dikemukaan bagaimana penerapan pemetaan partisipatif dalam penyusunan tata ruang kabupaten. Penulis pernah terlibat sebagai tenaga ahli dalam penyusunan tata ruang kabupaten, menyampaikan peluang penerapan pemetaan partisipatif dalam penyusunan rencana tata ruang kabupaten. Dua tulisan terakhir, membicarakan beberapa rencana inisiatif kolaborasi resolusi konflik ruang antara masyarakat dengan pihak swasta, dan perkembangan terbaru dari JKPP Region Jawa. Kami membuka segala saran dan kritik serta tulisan para pembaca untuk memperkaya media ini. Selamat membaca ! Terima kasih. Redaktur
  2. 2. 3 TATA RUANG SIAPA? PADA awal Desember 2004 saya dan beberapa teman dari Seknas JKPP, WALHIdanPPSDAKPancurKasihmenghadirisebuahrangkaiankegiatan dalam rangka revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sanggau (Kalimantan Barat). Revisi diperlukan pemerintah kabupaten (pemkab) karena setengah dari kabupaten tersebut sudah menjadi kabupaten sendiri yaitu Kabupaten Sekadau, yang dibentuk pada tahun 2003. Selain itu pada tahun 2002 DPRD Kabupaten Sanggau telah mengesahkan Perda Kampung yang memberi otonomi lebih besar pada kampung yang menjadi satuan sosio-politik masyarakat Dayak. Rekan- rekanpenggiatdanbeberapaorganisasirakyat(OR)yangtergabungdalam Gerakan Rakyat untuk Pemberdayaan Kampung (GRPK) melihat revisi ini sebagai momentum yang penting untuk bisa mempengaruhi proses revisi agar lebih berpihak pada kepentingan rakyat kecil, termasuk masyarakat Dayak. Karena itulah GRPK dan PPSDAK Pancur Kasih berusaha mengajak pemerintah kabupaten untuk bekerja sama melakukan revisi tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan kelompok diskusi terfokus (focus group discussion-FGD)selamasatuhariyangmelibatkanwakil-wakilorganisasi rakyat anggota GRPK, pengurus GRPK, ditambah dengan rombongan dari Seknas JKPP dan WALHI. Dengan dipandu oleh Abdon Nababan, yang sebelumnya telah beberapa kali memfasilitasi kegiatan GRPK, PENATAAN RUANG DAN MANAJEMEN KONFLIK: SEBUAH CATATAN ATAS PROSES DI SANGGAU Oleh : ALBERTUS HADI PRAMONO Tampaknya bagi mereka hak atas tanah adalah sesuatu yang sangat nyata karena berhubungan langsung dengan kehidupan mereka. Tanpa kejelasan hak atas tanah mereka tidak bisa berkebun, meramu, berburu, mengumpulkan jenis- jenis obat, dan lain- lain Semiloka Tata Ruang Kabupaten Sanggau (dok.JKPP)
  3. 3. 4 KABAR JKPP NO. 9, FEBRUARI 2005 pertemuan di Wisma Tabor, Bodok, tersebut bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang kepentingan rakyat dalam penataan ruang dan membahas agenda-agenda kunci yang dibicarakan dalam semiloka di Balai Betomu yang berada di tengah kota Sanggau pada tiga hari berikutnya. FGD yang semula banyak didominasi para penggiat Ornop akhirnya berlangsung cukup seru setelah para wakil OR mulai mengerti proses yang akan terjadi dalam penataan ruang. Semilokayangdiharapkanmenjadi klimaks dari proses ini justru menjadi anti klimaks. Acara tiga hari yang merupakan hasil kerja sama antara GRPK dan Pemkab Sanggau dan dibantu oleh PPSDAK Pancur Kasih, JKPP, dan DfID tersebut dimaksudkan sebagai forum pertukaran pendapat tentang revisi tata ruang Sanggau dan bertujuan untuk menghasilkan suatu persetujuan kerja sama antara pemkab dan organisasi-organisasi non-pemerintah yang hadir dalam proses revisi. Tujuan ini tidak tercapai karena tidak adanya wakil- wakil pemerintah kabupaten yang terlibat dalam seluruh proses semiloka. Walaupun acara dibuka oleh Bupati Sanggau, namun praktis tidak ada peserta dari Pemkab Sanggau. Peserta dari kalangan pemerintahan yang bertahan adalah wakil-wakil dari beberapa kecamatan, sementara dari wakil pemkab hanya dari Kantor Pertanahan yang datang pada hari pertama sebagai pembicara. Akhirnya semiloka ini menjadi acara rakyat, karena pemkab yang diharapkan menjadi mitra debat tidak hadir. Dari kedua pertemuan tersebut ada beberapa catatan menarik yang perlu disimak, dan bisa dijadikan pelajaran bagi semua yang terlibat dalam penataan ruang. Pada FGD menjadi pemanasan bagi anggota-anggota dan mitra-mitra GRPK dalam proses penataan ruang ini muncul hal yang menarik. Semula para penggiat Ornop lebih banyak memaparkan pendapatnya, sementara wakil-wakil OR lebih banyak diam. Akhirnya salah satu wakil OR bertanya apa hubungan antara hak atas tanah dan penataan ruang. Mulailah wakil-wakil OR lain bersuara. Rupanya kebanyakan dari mereka, kalau tidak bisa dikatakan semua, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan penataan ruang. Terkesan bahwa bagi mereka kata penataan ruangadalahistilahakademisatau teknokratis yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan mereka. Tampaknya bagi mereka hak atas tanah adalah sesuatu yang sangat nyata karena berhubungan langsung dengan kehidupan mereka. Tanpa kejelasan hak atas tanah mereka tidak bisa berkebun, meramu, berburu, mengumpulkan jenis-jenis obat, dan lain-lain. Sedangkan penataan ruang adalah suatu istilah yang asing, dan bahkan mungkin sesuatu yang abstrak. Fasilitator memberikan penjelasan singkat dan sederhana arti penataan ruang, tetapi jarak antara penataan ruang dengan kehidupan mereka tetap terasa. Seperti kita tahu, penataan ruang lebih menekankan alokasi wilayah atas kepentingan ekonomis dan ekologis, sementara wilayah bagi penduduksetempatjugabermakna identitas dan keterikatan mereka dengan tempat hidup mereka. Perbedaan tersebut makin mengemuka dalam diskusi selama semiloka yang dihadiri wakil-wakil pemerintah kabupaten. Dalam pemaparan seorang wakil masyarakat dalam seminar dan pembahasan pada lokakarya duahariberikutnyabeberapawakil masyarakat mengangkat masalah konflik lahan dan sumber daya alam yang mereka hadapi sehari- hari akibat munculnya perkebunan, konsesi hutan dan pertambangan di atas atau di sekitar kampung mereka. Mereka juga bicara soal perubahan hubungan sosial dalam kampung mereka dan sulitnya mereka melakukan upacara-upacara adat yang biasa dilakukan di hutan, ladang atau sungai di wilayah kampung mereka setelah masuknya pengaruh perusahaan- perusahaan tersebut ke dalam wilayah mereka. Jelaslah bagi masyarakat wilayah bukan semata- mata punya nilai ekonomis dan ekologis, tetapi punya keterikatan yang kompleks dengan kehidupan mereka. Di lain pihak dari paparan wakil pemerintah, RTRW yang masih berlaku dan dokumen- dokumen pemerintah lainnya dalam proses revisi ini sangat kuat terasa bahwa bagi pemerintah penataan ruang adalah persoalan alokasi lahan dalam wilayah kabupaten berdasarkan fungsi ekonomis dan ekologisnya dalam bentuk permintakatan (zonasi), siapa yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan
  4. 4. 5 TATA RUANG SIAPA? melakukannya, dan dari mana anggarannya. Jadi penataan ruang lebih menjadi persoalan teknis dan birokratis. Sayangnya para peserta tidak bisa lebih banyak belajar lebih jauh tentang pandangan pemerintah kabupaten atas perencanaan ruang, karena ketidakhadiranwakil-wakilmereka dalamlokakarya.Walaupunbegitu kita bisa merasakan perbedaan mendasar antara masyarakat lokal dan pemerintah dalam melihat wilayah yang sama. Bagi pemerintah, dan para perencana wilayah yang terlibat secara teknis dalam pembuatan rencana tata ruang, wilayah dilihat dengan kacamata ilmiah dalam bentuk informasi statistik, kesesuaian lahan, jaringan pelayanan, dan sejenisnya. Yang tersirat dalam cara pandang ini adalah bahwa wilayah dianggap sebagai sesuatu yang abstrak dan tercerabut dari kehidupan manusia. Manusia dan wilayah adalah obyek yang perlu diatur dalam wi