kabar caritas

Download kabar caritas

Post on 12-Mar-2016

217 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kabar untuk anda dari caritas maumere

TRANSCRIPT

  • caritasMaumere

    Kabaruntuk Anda

    Caritas Maumere KABAR UNTUK ANDA 1

    Rokatenda & Kesiagaan Kita

    Edisi Desember-Januari 2013

    Rokatenda adalah adalah nama gunung di Pulau Palue, tetapi ia sekaligus adalah nama dari ujian yang tetap tentang kesiapsiagaan umat keuskupan Maumere dalam menghadapi bencana; selain itu ia adalah ujian yang tetap tentang kualitas solidaritas kemanusiaan kita dengan orang-orang yang sedang menderita.

    Gunung itu meletus lagi pada tanggal 12 Oktober 2012, setelah pernah meletus hebat pada tahun 1928. Di antara 1928 dan 2012, gunung ini sempat meletus banyak kali, yaitu, tahun 1963, 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, dan 1985. Artinya, gunung ini terbilang sangat aktif dan sering meletus. Pada letusan sekarang, sejak 12 Oktober 2012 sampai dengan laporan ini dibuat, gunung api bertipe strator yang tingginya 875 meter dpl dan berposisi di koordinat 121 42 bujur timur dan 8 19 lintang selatan ini terus mengeluarkan abu vulkanik. Pada bulan Desember berturut-turut mulai tanggal 10, 12 dan 24 gunung Rokatenda meletus dengan letusan paling besar terjadi pada tanggal 30 Desember, meletus sebanyak 16 kali dan terakhir tanggal 4 Januari 2013. Letusan-letusan tersebut tidak disertai gempa. Tetapi, sampai hari ini Senin, 21 Januari 2013, menurut PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), gunung api tersebut masih berstatus SIAGA.

    Bahaya justru datang melalui semburan abu vulkanik yang konstan dari puncak gunung Rokatenda yang terjadi hampir setiap hari. Karena gunung itu terletak di sebelah barat laut pulau, maka ketika semburan terjadi pada saat ada angin timur, seluruh pulau Palue akan tersiram debu vulkanik. Hingga laporan ini dibuat, sebagian besar wilayah pulau yang luasnya 41 km2 dengan diameter kira-kira 7,2 km serta berpenghuni sebanyak 10.252 jiwa itu sudah tertutup abu vulkanik setebal kurang lebih 5-10 cm. Atap rumah, tanaman, hewan, air, tertutup atau sekurang-kurangnya dicemari oleh abu vulkanik.

    Hujan abu vulkanik ini menciptakan masalah yang sangat besar dalam bidang suplai air bersih untuk warga. Tanpa letusan dan hujan abu vulkanik pun, warga pulau ini ada dalam situasi darurat air minum yang konstan. Di seluruh wilayah pulau ini tak satu pun sumber air bersih. Untuk kebutuhan air bersih warga bergantung pada air hujan dari atap rumah yang ditampung ke dalam bak-bak. Kini abu vulkanik mencemari air bersih. Air bersih yang sudah tertampung juga tercemar.

    Jarak pulau yang jauh dari kota Maumere, ibu kota kabupaten Sikka, memerlukan waktu tempuh sekitar 5 jam melewati laut Flores dengan motor laut serta ditambah dengan kondisi laut di musim barat dengan gelombang yang tinggi, memperhambat kegiatan tanggap darurat dari berbagai pihak, khususnya dari Pulau Flores.

    Tiap letusan Rokatenda tidak harus menjadi suatu bencana atau setidaknya besaran bencana dapat diminimalisasi, kalau umat kita, masyarakat kita secara umum, dan juga pemerintah daerah kita siaga bencana. Artinya, mesti dikembangkan suatu pola hidup dan kebijakan yang sadar bencana. Kapasitas-kapasitas yang ada pada warga dan pemerintah kita dimaksimalisasi untuk mengurangi resiko bencana. Juga, kerentan-kerentanan yang dipunyai harus diminimalisir (Tim Caritas)

    Kaba

    r Sol

    idar

    itas

  • Caritas Maumere KABAR UNTUK ANDA2

    Data Dasar Gunung Api Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Geologi tahun 2011, mengatakan bahwa jika dihitung dari dasar laut maka tinggi gunung Rokatenda bisa mencapai 3.000 meter. Artinya, yang muncul di atas permukaan laut setinggi 875 meter hanyalah sebagian dari badan gunung dimaksud. Gunung ini punya sejarah letusan yang sering terjadi dan memakan korban jiwa. Data Dasar Gunung Api Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Geologi tahun 2011, mengatakan bahwa jika dihitung dari dasar laut maka tinggi gunung Rokatenda bisa mencapai 3.000 meter. Artinya, yang muncul di atas permukaan laut setinggi 875 meter hanyalah sebagian dari badan gunung dimaksud. Malah seluruh pulau Palue adalah tubuh gunung api bawah laut

    Karena itu, tak mengherankan jika PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana) memasukkan seluruh wilayah Pulau Palue ke dalam KRB (Kawasan Rawan Bencana) II. Jika terjadi lontaran batu pijar, lontaran berpontensi menimpa seluruh pulau ini. Jika terjadi hujan abu lebat, maka juga seluruh wilayah pulau ini akan tertimpa hujan abu. Dalam kenyataannya, apa yang disebutkan paling akhir ini yang sekarang terjadi.

    Keadaan menjadi lebih sulit lantaran gunung tersebut meletus pada musim hujan seperti ini. Pada musim basah seperti ini, hujan terus turun dan mengakibatkan banjir. Di Pulau Palue, transportasi sulit karena jalan dari Uwa ke Desa Lidi, dan dari Uwa ke Nitung Lea terputus. Di desa Nitung Lea, sebanyak 16 rumah rusak parah dan tidak bisa dihuni lantaran banjir lahar dingin. Dan sebanyak dan 39 atap rumah rusak, harus diperbaiki.

    Pada musim seperti ini gelombang laut tinggi. Karenanya, transportasi dari Maumere ke sana menjadi sulit.

    Secara umum seluruh warga dari delapan desa di kecamatan Palue sebanyak lebih dari 10.000 jiwa itu bisa digolongkan sebagai populasi terdampak. Mereka mengalami dampak negatif dari abu vulkanik yang menyebar ke seluruh pulau. Kebanyakan dari mereka mengalami gangguan saluran pernapasan, gangguan pencernaan, dan iritasi kulit. Keadaan ini diperburuk lagi dengan tidak optimalnya pelayanan kesehatan karena sebagian besar petugas medis mengungsi ke Maumere. Walau keadaannya demikian, sekitar 80% dari total penduduk masih bertahan di Palue. Ini lebih karena pertimbangan praktis bahwa kalau mengungsi, tinggal di kemah-kemah di Flores, keadaannya tidak lebih baik ketimbang tetap bertahan di Palue.

    Hingga laporan ini dibuat, tercatat satu orang meninggal

    Kaba

    r Kom

    unita

    s

    Caritas Keuskupan Maumere didirikan pada tanggal 01 November 2006 oleh Mgr. Vincentius Sensi, Uskup Maumere, sebagai respon terhadap rentetan bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2004. Selanjutnya, tahun 2008 sampai dengan 2010 Caritas Maumere menjalankan tiga program yang sesuai dengan rencana strategisnya yaitu Pengurangan Resiko Bencana

    yang Dimanajemeni oleh Masyarakat, Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga (Anti Domestic Violence), dan Program Dukungan untuk Pengembangan Lembaga.

    Pada tahun 2010 sampai 2012 selain melanjutkan tiga program yang sudah ada, Caritas Maumere menjalankan beberapa program baru yaitu Program Paroki Hijau (Green Parish), Manajemen Sampah, Partnership for Resilience (PfR) dan Rehabilitasi Berbasis Komunitas (Community Based Rehabilitation).

    Siapa Kami

    Wilayah dan Populasi Terdampak

    karena banjir lahar dingin dan satu lagi lainnya cedera berat karena tertusuk kayu ketika terjadi hujan lebat dan banjir.

    Selain warga yang masih tetap berada di Palue, mereka yang mengungsi keluar dari Palue adalah warga yang sungguh-sungguh harus menghindar dari bahaya semburan abu vulkanik yaitu yang tinggal Awa, Koa, Nitung, Okacere, Lidi dan beberapa kampung lainnya yang terletak di sekeliling gunung Rokatenda.

    Seluruh warga Palue yang mengungsi saat ini berjumlah 2.247 orang yang terdiri dari 646 kepala keluarga. Sebahagian pengungsi mengungsi ke kabupaten Ende (Ropa 141 jiwa, Uludala 188 jiwa, Mausambi 140 jiwa, Aewora 80 jiwa, dan Mukusaki 143 jiwa). Total pengungsi di Kabupaten Ende: 692 orang. Sedangkan yang mengungsi di Kabupaten Sikka menurut data Caritas:

    No Lokasi Jumlah1 Reroroja 52 Waturia 7223 Nangahure 4484 Wolomarang 105 Kompleks SMA 2 136 Transito 527 Misir 208 Kota Uneng 989 Wairumbia 12610 Lorena 3411 Nara 1112 Pensip 9

    Total 1.555

    Karena pengungsian ini maka sekolah-sekolah pun tidak ada proses belajar mengajar seperti SDK Awa, SD Nitung dan SD Kaki Okacere. (Tim Caritas)

  • Apa saja kebutuhan mendesak warga saat ini? Pertama, air minum bersih. Pulau ini tidak mempunyai mata air. Warga menggantungkan kebutuhan akan air bersih dari air hujan yang ditampung di bak-bak di samping rumah. Tetapi kini air minum sudah tercemar oleh abu vulkanik. Untuk itu, dibutuhkan obat-obatan/atau zat pembersih air agar dapat digunakan oleh warga. Juga, dibutuhkan suplai air bersih dari luar pulau.

    Kedua, bahan makanan. Pada hari-hari ini warga membutuhkan bantuan bahan makanan. Dalam situasi yang tidak pasti ini warga yang umumnya petani dan nelayan tidak bekerja di kebun-kebun dan tak banyak yang melaut. Apalagi tanaman dan sayur-sayuran sudah dirusakkan oleh abu vulkanik. Keluarga tercerai-berai, sebagiannya mengungsi ke Flores.

    Ketiga, pelayanan Kesehatan. Puskemas di Uwa tidak berfungsi, sudah rusak diterjang banjir. Keadaan pada saat laporan ini dibuat, lumpur-lumpur belum dibersihkan, kaca-kaca jendela yang pecah dan pintu-pintu yang rusak belum diganti . Sementara itu tidak ada pelayanan tetap di Puskesmas Tuanggeo karena petugas kesehatan mengungsi ke Maumere. Praktis sampai dengan laporan ini dibuat tidak ada petugas kesehatan yang menetap di Palue dan melayani kebutuhan warga.

    Keempat, kelanjutan Sekolah Anak-anak. Praktis kegiatan belajar mengajar tidak berjalan baik. Murid-murid tercerai berai. Guru-guru sebagiannya mengungsi ke Maumere. Kegiatan belajar-mengajar kacau balau.

    Apa yang dilakukan oleh Keuskupan kita? Pada tanggal 22 Desember 2012, bapak Uskup Maumere mengeluarkan surat himbauan solidaritas kepada seluruh umat Keuskupan Maumere. Surat himbauan tersebut dibacakan di mimbar gereja mulai tanggal 23 Desember 2012. Himbauan tersebut ditegaskan kembali oleh Rm.Cyrilus Meo Mali, Pr pada acara natal bersama para pastor, rohaniwan-rohaniwati pada tanggal 28 Desember 2012 dan rekoleksi para pastor tanggal 09 Januari 2013.

    Sampai tulisan ini diturunkan, 29 Januari 2013, umat sudah memberikan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi.

    Sud