jurnal skripsi - copy (2).docx

Download JURNAL SKRIPSI - Copy (2).docx

Post on 27-Jan-2016

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

JURNAL SKRIPSI

HASIL BELAJAR KETERAMPILAN BULUTANGKIS DITINJAU DARI KEMAMPUAN MOTORIK, KOORDINASI MATA-TANGAN, DAN PERSEPSI KINESTETIK PADA MAHASISWA PUTRA PENKEPOR SEMESTER IV JPOK FKIP UNS TAHUN AKADEMIK 2013/2014

SKRIPSI

Oleh:

Muhammad Cahya Buana K5610054

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA

2015

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.id

commit to user

HAS IL BELAJAR KETERAMPILAN BULUTANGKIS DITINJAU DARI KEMAMPUAN MOTORIK, KOORDINAS I MATA-TANGAN, DAN PERS EPS I KINES TETIK PADA MAHAS ISWA PUTRA PENKEPOR S EMESTER IVJPOK FKIP UNS TAHUN AKADEMIK 2013/2014 TAHUN 2015Muhammad Cahya Buana K5610054

Pendidikan Kepelatihan Olahraga JPOK FKIP Universitas Sebelas Maret Email : cahyabuana1992@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kemampuan motorik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa putra Penkepor semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta. (2) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan koordinasi mata-tangan dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa Putra Penkepor Semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta. (3) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa putra penkepor semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta dan bila ada seberapa besar hubungan tersebut.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan studi korelasional. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Penkepor semester IV JPOK FKIP UNS surakarta yang mengikuti perkuliahan bulutangkis pada tahun akademik 2013/2014. Penetapan sampel yang digunakan adalah purposive sampling berjumlah 58 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan tes dan pengkuran yang terdiri dari empat variabel yaitu kemampuan motorik, koordinasi mata-tangan, persepsi kinestetik dan hasil belajar keterampilan bulutangkis. Untuk mengukur kemampuan motorik dengan tes medicine ball, standing broad jump dan dogging run. untuk mengukur koordinasi mata-tangan dengan lempar tangkap bola tenis. Untuk mengukur persepsi kinestetik dengan vertical dan horizontal linear space test. Dan tes keterampilan bulutangkis. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment dan analisis regresi tiga prediktor dengan taraf signifikansi 5%.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : (1) Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan motorik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis , rhitung = 0,461 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 19,40%. (2) Ada hubungan yang signifikan antara koordinasi mata-tangan dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis, rhitung = 0,341 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 8,85%.(3) Ada hubungan yang signifikan antara persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis ,rhitung = 0,367 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 12,48 %. (4) Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan motorik, koordinasi mata-tangan, persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis. Nilai Fhitung 12,371 > Ftabel 2,78 dan memberikan sumbangan sebesar 40,73%. Besarnya R antara kemampuan motorik (X1), koordinasi mata-tangan (X2), persepsi kinestetik (X3) dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis (Y) adalah 0,407.

Kata Kunci : Hasil belajar Keterampilan bulutangkis, kemampuan motorik, koordinasi mata-tangan, persepsi kinestetik

PENDAHULUAN

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.id

Bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang pada saat ini cukup diminati oleh masyarakat Indonesia. Bulutangkis merupakan olahraga permainan yang menggunakan raket serta serta sutllecock sebagai alatnya, yang mana pemain memainkan sutllecock dengan cara mumukulnya dengan raket dengan mematuhi peraturan yang telah ditentukan. O lahraga ini digemari dari berbagai macam kalangan masyarakat, dari berbagai usia baik pria maupun wanita. Diberbagai daerah pun banyak dijumpai perkumpulan-perkumpulan bulutangkis, yang mewadahi minat dan kegemaran masyarakat akan olahraga bulutangkis ini. Pemerintah pun merespon dengan baik perkembangan bulutangkis di Indonesia dengan memfasilitasi prasarana bulutangkis. Ini dapat dilihat dari banyaknya gedung- gedung bulutangkis yang dibangun di setiap daerah, sehingga hampir di setiap desa memiliki gedung bulutangkis. Dengan adanya kesinambungan antara minat masyarakat dan sarana prasarana bulutangkis maka olahraga ini semakin berkembang.Pengaruhpositif berkembangnya bulutangkis selain sebagai olahraga sampingan yang hanya sekedar menjadi hobi, kini bulutangkis menjadi olahraga prestasi yang cukup menjanjikan. Sehingga pembinaan atlit-atlit dilakukan di berbagai daerah dengan dibentuknya perkumpulan/klub.Selain berkembangnya perkumpulan- perkumpulan(klub)bulutangkis

bulutangkis termasuk dalam salah satu olahraga yang wajib diajarkan dalam kurikulum pembelajaran formal. Baik itu di tingkat sekolah dasar, tingkat menengah hingga perguruan tinggi.Pembelajaran bulutangkis yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, merupakan hal yang sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik/masyarakat akan kebutuhan kebugaran jasmani dan olahragapermainanyang menyenangkan.Sehingga pembelajaran bulutangkis secara formal sangat berguna bagi peserta didik, selain meningkatkan kebugaran jasmani juga membekali peserta didik akan kemampuan teknik dasar bulutangkis untuk menunjang prestasi.Namun pada pembelajaran formal, pada umumnya kurang berjalan dengan maksimal. Banyak faktor yang menyebabkan, antara lain dengan terbatasnya sarana dan prasarana, terbatasnya waktu pembelajaran, terlalu banyak peserta didik, metode pembelajaran yang kurang efektif dan pengajar/guru yang kurang menguasai teknik dasar bulutangkis. Untuk dapat mencapai dan menguasai teknik dasar bulutangkis, kualitas dan kuantitas pembelajaran sangat penting. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai, kualitas pengajar yang mumpuni dan kuantitas pembelajaran yang mencukupi maka, hasil belajar pun kurang maksimal.Perkembangan pembelajaran bulutangkis dalam

yangbersifatnonformal,kcoinmi mit to upseenrdidikanformal,bukanhanya

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.id

pada tingkat sekolah dasar dan menengah, namun juga pada tingkat perguruan tinggi. Pada kurikulum perguruan tinggi terutama pada jurusan pendidikan olahraga dan kesehatan, bulutangkis menjadi salah satu olahraga yang wajib dipelajari. Bahkan perguruan tinggi yang merupakan LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan), bukan hanya berorientasi untuk dapat menguasai bidang keilmuan, namun juga bertujuan mencetak tenaga pendidik/pengajar yang berkualitas, yang mampu mentransferkan keilmuan melalui pembelajaran dengan baik. Begitu pula dalam bidang olahraga khususnya bulutangkis, seorang mahasiswa bukan hanya dituntut menguasai teknik dasar bulutangkis, namun juga dituntut mampu mengajarkannya dengan maksimal dan menjadi pengajar yang berkualitas.Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang terkemuka di Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga memilikijurusanbidang keolahragaan yaitu Jurusan Pendidikan O lahraga dan Kesehatan (JPOK), dibawah naungan Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dalam kurikulum pendidikan JPOK FKIP UNS, bulutangkis merupakan salah satu cabor yang wajib diajarkan. Bulutangkis biasanya diajarkan pada semester 4 atau semester 6 dengan bobot 2 SKS. Tujuan Pembelajaran bulutangkis di JPOK UNS khususnya aspek psikomotor/keterampilan yaitu mahasiswa/peserta didik mampu menguasai teknik dasar bulutangkis.

meningkatkan kualitas pembelajaran bulutangkis.Namun dengan terbatasnya sarana dan prasarana pembelajaran bulutangkis di JPOK FKIP UNS, tujuan pembelajaran sulit untuk terpenuhi. Sehingga hasil belajar keterampilan bulutangkis mahasiswa JPOK UNS pun kurang baik. Ini terjadi pada beberapa tahun terakhir, banyak mahasiswa yang kurang memenuhi syarat kelulusan mata kuliah bulutangkis. Banyak mahasiswa yang kurang menguasai keterampilan bulutangkis dengan baik. Menghadapi permasalahan ini, perlu adanya pembenahan kualitas dalam pembelajaran bulutangkis di JPOK FKIP UNS terutama sarana dan prasarana pembelajaran.Pembelajaran bulutangkis pada mahasiswa JPOK FKIP UNS perlu dikaji dan dievaluasi, terutama mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga (Penkepor) dikarenakan mahasiswa Penkepor selain diarahkansebagaicalon pengajar/guru mereka juga diberikan dasar dalam kepelatihan sehingga diharuskan memahami dan menguasai teknik dasar bulutangkis. Selain itu perlu dikaji pula keefektifan pembelajaran bulutangkis di JPOK UNS dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai, sehinggadapatdiketahui pengaruhnya terhadap hasil belajar keterampilan bulutangkis.Sehubungan dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis, terdapat beberapa aspek/unsur yang terkait dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis. Aspek

Untukmencapaitujuantersecboumt mit to uysaenrg terpenting adalah kemampuan

usaha yang dilakukan adalah dengan

motorik, koordinasi mata-tangan dan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.id

persepsi kinestetik. Ketiga aspek/unsur tersebut sangat mendukung dalam pencapaian hasil belajar yang baik. O leh karena itu dalam pembelajaran bulutangkis bukan hanya hasil belajar keterampilan bulutangkis yang dikaji, namun ketiga unsur yaitu kemampuan motorik, koordinasi mata tangan, dan persepsi kinestetik sangat perlu dikaji untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran.Dari ketiga unsur atau variabel diatas, yaitu kemampuan motorik, koordinasi mata tangan, dan persepsi kinestetik, masing- masing memiliki peranan dan pengaruh terhadap hasil belajar keterampilan bulutangkis. Hal tersebut dapat dilihat dari hubungan dan besarnya pengaruh hubungan tiap variabel terhadap hasil belajar keterampilan bulutangkis