jurnal riset dan manajemen satwa liar di wanagama i, gunung kidul, yogyakarta

Post on 14-Jul-2015

1.191 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

A journal that contents wildlife research results at Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta.

TRANSCRIPT

PENGARUH KEPADATAN VEGETASI TERHADAP KEANEKARAGAMAN JENIS AVIFAUNA DI HUTAN WANAGAMA I, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA ZAIDIL FIRZA* 09/285558/KT/06585 FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS GADJAH MADA Jl. Agro No. 1 Bulaksumur, Yogyakarta 55281 2012 INTISARI Hal yang paling pokok dalam deskripsi avifauna (satwa burung) suatu lokasi adalah daftar jenis. Suatu daftar jenis akan memperlihatkan keanekaragaman jenis yang terdapat pada suatu lokasi. Penelitian ini berlokasi pada salah satu hutan sekunder di daerah Gunung Kidul, yaitu Wanagama I. Menurut beberapa peneliti, hutan sekunder dipandang sebagai habitat alternatif untuk konservasi keanekaragaman hayati di kawasan tropis Kompleksitas vegetasi seperti keanekaragaman spesies, kepadatan tajuk dan kepadatan vegetasi memberikan pengaruh terhadap komposisi komunitas burung pada suatu habitat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi ilmiah mengenai pengaruh kepadatan vegetasi terhadap keanekaragaman jenis satwa burung, dengan studi kasus di hutan

Wanagama I. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode point count sebanyak 75 plot dengan jarak antar plot sejauh 200 m dan data vegetasi dengan menggunakan metode density board dalam protocol sampling untuk mengetahui persentase kepadatan vegetasi. Data dianalisis dengan model generalized linear model dengan menggunakan software R. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sejumlah 456 individu burung dari 37 jenis dan 22 famili, yang kemudian mampu diperoleh Indeks Diversitas burung di Hutan Wanagama I sebesar 3,1. Nilai tersebut termasuk memiliki keanekaragaman sedang hingga cukup tinggi (1,5 - 3,5). Sedangkan dari hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh signifikan faktor kepadatan vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung, yakni pada variabel kepadatan tiang (negatif) dan kepadatan belukar (positif). Kata kunci: kepadatan vegetasi, keanekaragaman jenis, avifauna, satwa burung, habitat preference *Penulis untuk korespondensi: zaidil-firza@hotmail.com , zaidil.firza@mail.ugm.ac.id ,+6287738099073

I. PENDAHULUAN Hal yang paling pokok dalam deskripsi avifauna (satwa burung) suatu lokasi adalah daftar jenis. Suatu daftar jenis akan memperlihatkan keanekaragaman jenis yang terdapat pada suatu lokasi. Di dalam suatu kawasan, habitat jelas merupakan bagian penting bagi distribusi dan jumlah burung. Penurunan keanekaragaman burung erat kaitannya dengan aktivitas manusia dalam menggunakan sumber daya alam, terutama sumber daya lahan dan sumber daya hayati (Prawiradilaga, 1990). Salah satu hutan percontohan di daerah Gunung Kidul yaitu Wanagama I. Dahulu kawasan ini merupakan lahan kritis dengan sebutan batu bertanah karena ketebalan solum tanahnya yang sangat tipis akibat penebangan hutan yang tidak terkontrol, sehingga terjadi pengikisan dan erosi. Keadaan seperti ini mendorong untuk pelaksanaan reboisasi. Wanagama I dikelola oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sejak tahun 1966 sekaligus atas dorongan keinginan untuk memiliki suatu hutan pendidikan (Oemi Haniin dkk., 1982). Secara teoritis hutan sekunder dipandang kurang memiliki nilai konservasi. Namun demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa hutan sekunder juga memiliki

keanekaragaman spesies burung yang tinggi (Barlow dkk., 2007). Hutan sekunder juga dipandang sebagai habitat alternatif untuk konservasi keanekaragaman hayati di kawasan tropis (Sodhi dkk., 2005). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas vegetasi seperti keanekaragaman spesies, kepadatan tajuk dan kepadatan vegetasi memberikan pengaruh terhadap komposisi komunitas burung pada suatu habitat (Chettri dkk., 2005; Anderson dkk., 1983). Barlow dkk. (2007) menemukan fakta bahwa keanekaragaman spesies burung sangat berkorelasi dengan luas bidang dasar hutan dan tingkat pembukaan kanopi. Pada hutan dengan luas bidang dasar yang tinggi dan kanopi yang rapat memiliki tingkat keanekaragaman spesies burung yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ilmiah mengenai pengaruh kepadatan vegetasi terhadap keanekaragaman jenis satwa burung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagian dan bahan masukan dalam mengembangkan program pelestarian burung dan kawasan Hutan Wanagama I pada umumnya secara komprehensif.

II. BAHAN DAN METODE 2.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Hutan Pendidikan Wanagama I yang meliputi petak 5, 6, 7, 13, dan 16 serta dilaksanakan pada 17 Desember 2011.

2.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Data kepadatan vegetasi (pohon, tiang, belukar, dan semak), dan 2. Data satwa burung.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Kepadatan vegetasi, dan 2. Keanekaragaman jenis satwa burung.

2.3. Metode 2.2.1. Data Primer a. Data Burung Pengambilan data burung menggunakan metode point count, dengan asumsi yang dipakai sebagai landasan agar dapat ditarik kesimpulan yang baik, yaitu: Burung tidak berpindah dari dalam plot ke luar plot atau sebaliknya, dan juga tidak ada perpindahan burung antar plot. Burung dapat terdeteksi sepenuhnya dari titik pengamat. Pengukuran jarak dilakukan oleh pengamat adalah tepat. Tidak ada kesalahan identifikasi burung yang dilakukan oleh pengamat. Perilaku burung terpisah satu dengan yang lain. Langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dilapangan : 1) penempatan titik di lapangan (random maupun sistematik sampling), 2) pengaturan jarak antar titik 200 meter, 3) dalam sebuah titik dibuat distance bands dengan jari-jari 50 m, 4) pengamatan dilakukan selama 10 menit, dengan 2 menit sebelumnya untuk adaptasi, dan 8 menit untuk pencatatan hasil pengamatan.

r = 50 m

Arah transek

200 m Gambar 1.Point Count

b. Data Vegetasi Plot lingkaran (jari-jari 11.3 meter), titik pusat yang sama pada point count. Penutupan horisontal menggunakan alat density board, data diambil pada tepi plot di empat arah mata angin (Utara, Timur, Selatan, dan Barat).

Gambar 2.Density Board dan Protocol Count

2.2.2 Metode Analisis Data 1. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung digunakan indeks keanekaragaman Shannon.

Keterangan: H ni n ln = Indeks Diversitas Shannon = Jumlah individu spesies ke-i = Jumlah individu semua spesies = logaritma alami

2. Untuk mengetahui pengaruh kepadatan vegetasi terhadap keanekaragaman jenis satwa burung, data diolah dengan menggunakan software R, dengan pengujian model generalized linear model (pengaruh - data tidak normal).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sejumlah 456 individu burung dari 37 jenis dan 22 famili (lihat Tabel 2 pada lampiran), yang kemudian mampu diperoleh Indeks Diversitas satwa burung di Hutan Wanagama I sebesar 3,1. Nilai tersebut termasuk memiliki keanekaragaman sedang hingga cukup tinggi (1,5 - 3,5). Sedangkan dari hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh faktor kepadatan vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung (lihat Tabel 1). Estimate (Intercept) 0.942227 Pden Sden -0.01306 0.004787 Std. Error 0.123407 0.003051 0.002305 t value 7.635 -4.282 2.077 Pr(>|t|) 7.35e-11 *** 5.63e-05 *** 0.0414 *

Signif. codes: 0 *** 0.001 ** 0.01 * 0.05 . 0.1 1 AIC : 128.06 Tabel 1. Tabel Analisis Statistik

Dari tabel tersebut, faktor kepadatan vegetasi yang berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis avifauna, antara lain: 1. Kepadatan tiang (pole density) signifikan (***) ke arah negatif, dan 2. Kepadatan belukar (shrub density) signifikan (*) ke arah positif.

Dari tabel tersebut juga dapat diketahui persamaan liniernya yaitu: Y = 0.942227 0.01306 X1 + 0.004787 X2 Keterangan: Y = Nilai indeks keanekaragaman avifauna

X1 = Kepadatan tiang X2 = Kepadatan belukar

Dengan kata lain, semakin rendah kepadatan tiang, semakin tinggi keanekaragaman jenis satwa burung, dan sebaliknya, semakin besar kepadatan belukar akan semakin tinggi pula keanekaragaman jenis satwa burung. Hal ini sesuai dengan teori yang diacu pada literatur mengenai kebiasaan hidup satwa burung (lihat Tabel 3 pada lampiran), terbukti bahwa satwa burung melakukan seleksi dalam pemilihan habitatnya. Kebanyakan jenis satwa burung yang dijumpai, memiliki habitat preference pada lahan terbuka (pengaruh kepadatan tiang - negatif) seperti pada satwa burung dari famili Aegithinidae, Alcedinidae, Campephagidae, Columbidae, Cuculidae, Dicaeidae,

Dicruridae, Meropidae, Phasianidae, Pycnonotidae, Sturnidae, Sylviidae (54% dari famili yang dijumpai), sedangkan untuk habitat preference pada habitat belukar (pengaruh kepadatan belukar - positif) digunakan oleh famili Aegithinidae, Cuculidae, Pycnonotidae, Nectarinidae, Sylviidae, Corvidae (27% dari famili yang dijumpai) untuk beraktivitas, bersembunyi, membuat sarang, dan sebagainya. Berdasarkan grafik coplot, signifikansi terbesar kepadatan tiang tersebar pada rentang 0 - 5% (lihat Grafik 1 pada lampiran), sedangkan untuk signifikansi terbesar kepadatan belukar tersebar pada rentang 50 - 65% (lihat Grafik 2 pada lampiran). Pada angka-angka ini kita bisa mengoptimalkan pengaruhnya terhadap keanekaragaman jenis satwa burung, melalui upaya-upaya mempertahankan nilai kepadatan pada nilai rentang tersebut, baik secara silvikultur, konservasi, ataupun mekanis.

IV. KESIMPULAN Dari penelitian diketahui bahwa faktor kepadatan vegetasi berpengaruh signifikan terhadap keanekargaman jenis avifauna, yakni: 1. Sangat signifikan, pada kepadatan tiang (ke arah negatif) dalam rentang 0 - 5%, 2. signifkan, pada kepadatan belukar (ke arah positif) dalam rentang 50 65 %, dan 3. tidak berpengaruh signifikan, pada kepadatan pohon dan kepadatan semak.

V. DAFTAR PUSTAKA Anderson B.W., Ohmart R.D., Rice J. 1983. Avian and Vegetation Community Structure and Their Seasonal Relationship in the Lower Colorado River Valley. Condor 85:392-405.

Barlow J., Mestrec L.A.M., Gardnera T.A., Peresa C.A. 2007

Recommended

View more >