jual beli hewan langka untuk bahan baku kesenian …etheses.iainponorogo.ac.id/3330/1/jual beli...

of 102/102
JUAL BELI HEWAN LANGKA UNTUK BAHAN BAKU KESENIAN REOG PONOROGO DALAM PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH SKRIPSI Oleh DAMAS SEPTIAWAN NIM 210214234 Pembimbing: IZA HANIFUDDIN, Ph.D. NIP 196906241998031002 JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO 2018

Post on 18-May-2019

228 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

JUAL BELI HEWAN LANGKA UNTUK BAHAN BAKU KESENIAN REOG

PONOROGO DALAM PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH

SKRIPSI

Oleh

DAMAS SEPTIAWAN

NIM 210214234

Pembimbing:

IZA HANIFUDDIN, Ph.D.

NIP 196906241998031002

JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

2018

ii

iii

iv

ABSTRAK

Damas Septiawan. Jual Beli Hewan Langka Untuk Bahan Baku Kesenian Reog

Ponorogo Dalam Perspektif Fiqh Muamalah. Skripsi. Jurusan Muamalah,

Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Iza

Hanifuddin, Ph.D.

Kata Kunci : Fiqh Muamalah, jual beli hewan langka,jual beli dilarang, harga,

tadlis.

Dalam masyarakat masih banyak dijumpai mengenai jual beli yang dilarang

dalam islam dan bertentangan dengan fiqh muamalah, salah satunya terjadi pada

jual beli hewan langka untuk pemanfaatan bahan baku kesenian Reog Ponorogo

dianggap bertentangan dengan fiqh muamalah. Para perajin Reog menggunakan

kulit harimau dan burung merak sebagai bahan baku utama dalam pembuatan

barongan dan dadak merak. Selain itu terjadi penetapan harga yang lebih dan

ketidak sesuaian barang ketika terdapat event grebeg suro yang setiap tahunya

dirayakan oleh masyarakat Ponorogo dan adanya pencampuran dan penyamaran

bahan baku dalam pembuatan Reog. Berangkat dari latar belakang masalah

tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai Jual

Beli Hewan Langka Untuk Bahan Baku Kesenian Reog Ponorogo Dalam

Perspektif Fiqh Muamalah. Dengan rumusan masalah meliputi hukum jual beli

hewan langka sebagai bahan baku kesenian Reog, tinjauan fiqh muamalah

terhadap penetapan harga yang dilakukan oleh perajin Reog, dan isu pencampuran

dan penyamaran bahan baku dalam pembuatan Reog.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang

menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui

wawancara dan observasi. Analisa data menggunakan metode deduktif. Analisis

yang digunakan menggunakan pendekatan fiqh.

Dalam skripsi ini dapat ditarik kesimpulan (1) Jual beli hewan hewan langka

yaitu harimau yang diambil kulitnya dan burung merak dalam fiqh dilarang, akan

tetapi menurut Hanafiyah jika pemanfaatan benar- benar digunakan untuk kesenian Reog dan menurut Shafii >yah dan Hanabi>lah, pengolahan kulit harus dilakukakan penyamakan untuk menjadikan kulit tersebut suci dan bersih maka

menjadi sah, karna pemanfaatanya betul-betul digunakan untuk melesetarikan

budaya dan menjaga kearifan lokal.(2) penetapan harga yang dilakukan perajin

Reog dikatakan tidak sah karna terjadi penipuan pada proses yang memperbesar

kulit untuk mendapatkan ukuran yang lebih besar. Sedangkan penetapan harga

yang diterapkan para penjual dan perajin ketika event Grebeg Suro, juga

dikatakan tidak sesuai dalam islam karna mereka melakukan penambahan harga

yang berlebih kepada para pembeli.(3)praktik penyamaran dan pencampuran

bahan yang kualitas rendah dan bagus juga tidak sah karna terdapat unsur

penipuan yang dilakukan oleh perajin yang pembeli tidak mengetahui hal itu.

v

PEDOMAN TRANSLITERASI

1. Pedoman transiliterasi yang digunakan adalah:

arab ind. Arab ind. arab ind. arab ind.

k }d d

l {t dh b

m }z r t

n z th

h gh s j

w f sh }h

y q {s kh

2. Untuk menunjukkan bunyi hidup panjang caranya dengan menuliskan

coretan horisontal di atas huruf a>, i.

3. Bunyi hidup dobel (diftong) Arab ditransliterasikan dengan menggabung

dua huruf ay dan aw

Contoh: Bayna, alayhim, qawl, mawd}u>ah

4. Kata yang ditransliterasikan dan kata-kata dalam bahasa asing yang belum

terserap menjadi bahasa baku Indonesia harus dicetak miring.

5. Bunyi huruf hidup akhir sebuah kata pada umumnya tidak dinyatakan

dalam transliterasi. Transliterasi hanya berlaku pada huruf konsonan akhir.

Contoh:

Ibn Taymimu. . Fahuwa wa>jib bukan fahuwa

wa

vi

6. Kata yang berakhir dengan ta> marbu>t}ah dan berkedudukan sebagai sifat

(naat) dan id{a>fah ditransiliterasikan dengan ah. Sedangkan mud}a>f

ditransliterasikan dengan at.

Contoh:

a. Nat dan Mud}a>f ilayh : Sunnah sayyiah, al-maktabah al-mis}riyah.

b. Mud}a>f : mat}baat al- a>mmah.

7. Kata yang berakhir dengan ya mushaddadah (ya bertashdit}ah maka

transliterasinya adalah i

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv

HALAMAN MOTTO ......................................................................................... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... vi

ABSTRAK ... ........................................................................................... vii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ........................................................................ x

HALAMAN DAFTAR ISI ................................................................................. xii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah ........................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7

C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 7

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis ................................................................................ 8

2. Secara Praktis ................................................................................. 8

E. Kajian Pustaka ....................................................................................... 8

F. Metoda Penelitian.................................................................................. 11

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ..................................................... 11

viii

2. Kehadiran Peneliti ........................................................................... 13

3. Lokasi Penelitian ............................................................................. 13

4. Sumber Data ................................................................................... 14

5. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 15

6. Analisis Data .................................................................................. 17

7. Pengecekan Keabsahan Temuan .................................................... 20

G. Sistematika Pembahasan ...................................................................... 21

BAB II : JUAL BELI HEWAN DAN PEMANFAATANYA UNTUK SENI

MENURUT FIQH MUAMALAH

A. Konsep Jual Beli Dalam Islam .............................................................. 23

1. Pengertian Bai ................................................................................ 24

2. Batasan Batasan Bai ................................................................... 25

B. Jual Beli Yang di Larang Dalam Islam ................................................ 27

C. Pandangan Ulama Tentang Jual Beli Hewan ........................................ 29

D. Penetapan Harga Dalam Islam .............................................................. 34

E. Jual Beli Tadlis ...................................................................................... 39

BAB III : PRAKTIK JUAL BELI HEWAN LANGKA DAN

PEMANFAATANYA UNTUK BAHAN BAKU KESENIAN REOG

PONOROGO

A. Gambaran umum Kabupaten Ponoro dan Reog Ponorogo .................. 44

1. Praktik Jual Beli Hewan Langka Untuk Bahan Baku Reog ............ 50

2. Praktik Penetapan Harga ................................................................ 57

ix

3. Praktik Pencampuran dan Pemalsuan Bahan Baku Reog .............. 60

BAB IV : ANALISA FIQH TENTANG JUAL BELI HEWAN LANGKA

UNTUK BAHAN BAKU KESENIAN REOG

A. Analisa Fiqh Muamalah Terhadap Hukum Jual Beli Hewan Langka

Untuk Bahan Baku Kesenian Reog. ...................................................... 64

B. Analisa Fiqh Muamalah Terhadap Penetapan Harga Yang Dilakukan

Perajin Reog Ponorogo. ........................................................................ 77

C. Analisa Fiqh Muamalah Terhadap Pemalsuan dan Pencampuran Bahan

baku Pembuatan Reog ........................................................................... 81

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................... 87

B. Saran .................................................................................................... 88

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

1

BAB I

JUAL BELI HEWAN LANGKA UNTUK PEMANFAATAN KESENIAN

REOG PONOROGO DALAM PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan ber Muamalat, islam telah memberikan garis

kebijakan yang jelas, salah satu contoh kegiatan bermuamalat adalah

transaksi jual beli atau bisnis. Transaksi bisnis adalah hal yang sangat

diperhatikan dan sangat dimuliakan dalam islam. Perdagangan yang jujur

sangat disukai oleh Allah dan memberi rahmat bagi orang yang berbuat

demikian. Perdagangan bisa saja dilakukan oleh individu atau perusahaan dan

berbagai lembaga yang serupa. Jual beli merupakan salah satu kegiatan tolong

menolong. Prinsip dasar yang telah ditetapkan dalam islam mengenai jual beli

adalah tolok ukur kejujuran, kepercayaan, dan ketulusan. jual beli adalah

salah satu kegiatan yang paling mutlak digunakan manusia untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya.

Jual beli merupakan salah satu jalan rezeki yang Allah tunjukan

kepada manusia dan satu bentuk ibadah dalam rangka pemenuhan kebutuhan

hidup yang tidak terlepas dari hubungan sosial, namun yang dimaksud adalah

jual beli yang berlandaskan syariat Islam yaitu jual beli yang tidak mengan

dung penipuan, kekerasan, kesamaran, riba, dan jual beli lain yang dapat

menyebabkan kerugian dan penyesalan pada pihak lain. Dalam praktiknya

jual beli harus dilaksanakan sacara konsekuen agar terhindar dari

2

kemudhorotan dan tipu daya dan menguntungkan serta mendatangkan

kemaslahatan.2

Bentuk mumalah seperti jual beli ada karena didasarkan atas rasa

saling membutuhkan. Dalam hal ini penjual membutuhkan pembeli agar

membeli barangnya sehingga memperoleh uang. Sedangkan pembeli

melakukan jual beli untuk memperoleh barang yang dibutuhkan. Akibat dari

saling membutuhkan ini maka rasa persaudaraan semakin meningkat.

Islam memandang kegiatan transaksi bisnis sebagai satu aktivitas yang

memiliki nilai ganda bagi kehidupan individu dan masyarakat dalam

memenuhi hajat material dan spiritualnya. Dalam aktivitas perdagangan,

islam mensyaratkan batasan- batasan tegas dan kejelasan obyek (barang) yang

akan dijual belikan, yaitu (1) barang tersebut tidak bertentangan dengan

anjuran syariah islam, memenuhi unsur halal baik dari sisi substansi (dhtihi)

maupun halal dari sisi memperolehnya (ghairu dhtihi), (2) obyek dari barang

tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang

benar-benar bermanfaat dengan wujud yang tetap. Apabila barang itu

meliputi kebutuhan konsumsi, maka barang tersebut harus pula secara explisit

mencantumkan informasi tentang manfaat seperti informasi mutu dan gizi,

komposisi bahan dan masa kadaluwarsa, (3) barang yang dijual belikan

memerlukan media pengiriman dan distribusi yang tidak hanya tepat, tetapi

juga memenuhi standar yang baik menurut islam, dan (4) kualitas dan nilai

yang dijual itu harus sesuai dan melekat dengan barang yang akan diperjual

2 Nazar Bakry, Problema Pelaksanaan Fiqh Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), 34.

3

belikan. Tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak sesuai dengan apa

yang diinformasikan.3

Terkait dengan batasan dan kejelasan obyek barang yang dijual

belikan, yaitu berkaitan tentang praktik jual beli hewan langka yaitu harimau

yang diambil kulitnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan

Reog Ponorogo. Kesenian Reog sebagai budaya asli Ponorogo, dengan

perkembangan budaya sebagai asset daerah akan berdampak pada kegiatan

industri / pengrajin Reog. Sebagai pelaku seni yang harus tetap melestarikan

dan mengembangkan kesenian reog mereka juga harus mempertimbangkan

kegiatan kegiatan yang dapat merugikan dan merusak sumber daya alam

yang semakin langka. Mereka yang memproduksi semua atribut Reog

sehingga dapat ditampilkan dengan mempesona. Potensi pasar terhadap

permintaan Reog diwilayah Indonesia bahkan Internasional cukup

menjanjikan, tentunya dapat membawa pertumbuhan ekonomi daerah, yang

juga harus didukung dengan produktivitas pengrajin Reog yang semakin

maju, berkualitas dan kompetitif juga akan berdampak pada penyerapan

tenaga kerja. Untuk itu maka diperlukan informasi bagaimana kondisi

pengrajin Reog di Ponorogo ini, bagaimana permasalahan dan kendala yang

dihadapi para pengrajin Reog, yang pada akhirnya berkelanjutan terhadap

manajemen usaha agar tetap survive untuk jangka panjang.

Salah satu pengrajin Reog di Ponorogo mengatakan bahwa sebagian

kulit harimau yang di perjual belikan adalah hasil buruan oleh para pemburu

3 Muhammad, Aspek Hukum Dalam Muamalat (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007),93.

4

yang berasal dari berbagai daerah. Kegiatan jual beli ini menggunakan sistem

pesanan, dan pesanan ini biasanya dilakukan sebulan sebelumnya. Kulit

harimau yang dijual belikan digunakan sebagai bahan utama pembuatan

kepala Reog (barongan). Kegiatan jual beli ini tentunya dilakukan dengan

gelap, agar tidak tercium oleh petugas, dikarenakan barang yang dijual

belikan adalah hewan yang dilindungi dan bisa terancam hukuman. Alasan

penggunaan kulit harimau sebagai bahan baku utama dalam pembuatan

kepala Reog adalah selain memilki corak yang indah tapi juga mengikuti

kebiasaan orang terdahulu yang sudah menggunakan kulit harimau sebagai

bahan dalam pembuatan barongan/ kepala reog.4

Tidak hanya kegiatan penggunaan bagian tubuh hewan langka, tetapi

terdapat praktik praktik yang dilakukan oleh perajin Reog di Ponorogo yang

dinilai bermasalah dan merugikan salah satu pihak yaitu pembeli, mereka

melakukan pencampuran bahan kulit dan bulu merak yang memiliki kualitas

rendah dengan yang kualitas baik. Serta petapan harga yang tinggi ketika

terdapat suatu event dan ketidak sesuaian barang dengan harga yang

ditawarkan.

Pemanfaatan satwa semakin meningkat seiring dengan berkembang-

nya ilmu pengetahuan, teknologi, arus informasi dan tingkat ekonomi

masyarakat. Namun pemanfaatan tersebut sering tidak terkendali yang

mengakibatkan beberapa spesies menjadi langka dan terancam punah. Fiqh

secara tegas telah memberikan penjagaan terhadap species flora dan fauna

4 SB, Pengrajin Reog, Grandtour, Dirumahnya, Sumoroto, kamis 28 Desember 2017.

5

dengan cara melindunginya dari pemusnahan dan penjualan. Di dalam fiqh

terdapat ajaran, salah satunya, larangan membunuh hewan dan mencabut

rumput ketika ihram. Larangan ini memiliki sanksi tegas, yaitu batalnya

ibadah kecuali dengan membayar dam. Dam ialah darah, maksudnya yang

bersangkutan harus menyembelih hewan (kambing) sebagai denda yang

diperuntukkan bagi kaum fakir miskin. Artinya, Islam sangat perhatian dalam

melindungi flora dan fauna, bahkan perlindungan terus berlanjut ketika terjadi

pelanggaran, yaitu dendanya untuk menjamin perlindungan sosial. Namun,

melihat fenomena seni Reog Ponorogo yang begitu masiv digalakkan oleh

pemerintah dan masyarakat Ponorogo, proses jual beli hewan langka untuk

kebutuhan karya seni reog menjadi hal yang perlu dikaji ulang.5

Menurut Erwandi, dijelaskan dalam bukunya bahwa Para ulama

berbeda pendapat tentang hukum jual beli kulit hewan. Madzhab Hanafiyah

dan Ma>liki>yah membolehkan menjualnya, dan uang hasil penjualannya halal.

Sedangkan para ulama madzhab Shafii >yah dan Hanabi>lah mengharamkan

jual beli kulit hewan tersebut, bukan karena najis, tetapi karena penggunaan

kulit tersebut dilarang oleh Nabi Saw, menyerupai orang-orang kafir dan

dapat mendatangkan keangkuhan, dengan demikian tidak boleh dijual dan

hasil penjualannya termasuk harta haram. 6

5 Wahyu, Penjual Asesoris Reog, Grandtour, Di Rumahnya, Brotonegaran, Senin 4

November 2017, Jam 10.00 WIB. Bagi Wahyu, untuk di Ponorogo aturan tersebut mesti dibuat fleksibel atau diatur sedemikian rupa dengan sepengetahuan aparat agar pelaksanaan seni reog terus berkembang meskipun di sisi lain dianggap telah melanggar aturan oleh pemerintah. Dilema

6 Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer (Bogor: PT Berkat Mulia

Insani, 2017), 80.

6

Dengan dalil:

Artinya : dari Abu Malih dari Ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW telah

melarang menggunakan kulit binatang buas. (HR.An Nasa>iy).7

Di Kabupaten ponorogo tempat dimana Reog berasal dan sekaligus

menjadi produsen Reog yang dilakukan oleh para pengrajin, terdapat

permasalahan yang mengakibatkan berkurangnya populasi hewan langka

khususnya harimau yang dimanfaatkan kulitnya sebagai bahan baku

pembuatan kepala barongan dan penggunaan burung merak sebagai bahan

untuk pembuatan dadak merak. Penggunaan kulit harimau dan burung merak

ini dilakukan sejak dahulu karena sudah menjadi ciri khas dari reog dan

menjadi kebiasaan sampai saat ini. Hal ini tentu mengakibatkan rusaknya

sumber daya alam khususnya populasi harimau dan burung merak yang

semakin berkurang. Tentu dari penjualan dan pemanfaatan kulit harimau dan

burung merak ini melanggar aturan undang-undang yang telah ditetapkan

oleh pemerintah, akan tetapi hal ini dilakukan untuk melestarikan dan

mengembangkan kesenian Reog agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman.

Para pengrajin dan masyarakat pelaku seni tentunya telah memikirkan

bagaimana penggunaan dari bahan bahan yang diambil dari hewan yang

semakin langka dan kini diperlukan upaya bagaimana untuk berinovasi

menciptakan pengganti dari bahan yang semakin sulit agar seni Reog terus

7 Abu Abdur Rahman Ahmad An Nasaiy, Sunan An Nasaiy VII (Semarang: CV. Asy Syifa,2004),274.

7

berkembang dan lestari dan menjadi warisan luhur dari nenek moyang yang

tetap terjaga.8

Mengenai jual beli hewan langka yang diambil kulit dan bulunya ini,

sebagai umat muslim kita mempertanyakan bagaimana hukum mengenai jual

beli hewan langka yang dilindungi tersebut. Berangkat dari latar belakang

tersebut maka dengan maksut penulis ingin meneliti masalah ini dengan judul

penelitianJual Beli Hewan Langka Untuk Pemanfaatan Kesenian Reog

Ponorogo perspektif Fiqh Muamalah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana hukum jual beli hewan langka untuk objek seni Reog

Ponorogo?

2. Bagaimana pandangan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan penetapan

harga yang dilakukan oleh perajin Reog Ponorogo?

3. Bagaimana pandangan fiqh muamalah dengan adanya isu pemalsuan dan

pencampuran pada bahan baku pembuatan Reog?

C. Tujuan Penelitian

1. Dapat mendeskripsikan hukum terhadap jual beli hewan langka untuk

objek kesenian Reog Ponorogo.

2. Dapat mengetahui pandangan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan

penetapan harga yang dilakukan oleh perajin Reog Ponorogo

8 Y, Pengrajin Reog, Grandtour, Dirumahnya, Sumoroto, kamis 28 Desember 2017.

8

3. Dapat mengetahui pandangan fiqh muamalah terhadap adanya isu

pemalsuan dan pencampuran bahan baku pembuatan Reog Ponorogo.

D. Manfaat penelitian

1. Manfaat teoritis

Penulis berharap agar hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran

yang jelas mengenai tinjauan fiqh muamalah terhadap jual beli hewan

langka untuk pemanfaatan kesenian Reog Ponorogo di Ponorogo.

2. Manfaat praktis

a. Memberikan tambahan pengetahuan tentang fiqh muamalah khususnya

di lingkup jual beli terhadap praktik jual beli hewan langka untuk

pemanfaatan kesenian Reog Ponorogo.

b. Sebagai sumbangan pemikiran dalam bentuk karya tulis agar dapat

dikembangkan dikemudian hari.

c. Sebagai karya ilmiah untuk melengkapi syarat-syarat guna memperoleh

gelar Strata satu (S-1) di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

E. Kajian Pustaka

Berdasarkan hasil penelaahan yang dilakukan penulis terhadap

sejumlah karya tentang jual beli hewan langka, terdapat karya penelitian yang

sedikit menyangkut mengenai permasalahan ini. Penelitian tersebut harus

diakui memberikan kontribusi terhadap penulisan karya skripsi ini, antara lain

Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Kadafi dengan judul hukum

perburuan satwa (dalam perspektif hukum islam dan positif diindonesia)

9

dalam penelitian ini menjelaskan mengenai permasalahan hukum perburuan

satwa dalam perspektif hukum islam dan hukum positif di Indonesia.

Penelitan ini menggunakan pendekatan normatif yang diperoleh dari

observasi dan wawancara langsung yang kemudian dianalisis berdasarkan

norma-norma yang berlaku dalam hukum islam mengenai hal jual beli dan

hukum positif di Indonesia. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian

dokumentasi yaitu jenis penelitian yang data data nya diperoleh dari dari

data dokumentasi berupa Undang- undang, peraturan pemerintah dan

keputusan presiden dan lain sebagainya. Hasil kesimpulan dari penelitian ini

adalah pelaksanaan jual beli satwa liar di pasar satwa Yogyakarta tidak

memenuhi ketentuan hukum jual beli karna satwa yang dijual tidak termasuk

pada objek dan syarat syarat yang telah ditetapkan oleh hukum islam dan

dilarang dalam undang undang.9

Selanjutya Skripsi karya lutfi dengan judul tinjauan sosiologis

hukum islam terhadap jual beli tokek (studi kasus di desa Sinduharjo

Ngaglik Kabupaten Sleman). Dalam penelitian ini menjelaskan

permasalahan mengenai jual beli tokek di sardonoharjo kec Ngaglik Sleman.

jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan langsung

ke masyarakat sehingga diperoleh data yang jelas dengan teknik

pengumpulan data yang bersifat wawancara bebas terpimpin, observasi dan

dokumentasi. Dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologis

normatif. hasil penelitianya menjelaskan bahwa jual beli tokek diperbolehkan

9 Muhammad Kadafi, Hukum Perburuan Satwa (Dalam Perspektif Hukum Islam Dan

Positif di Indonesia), Skripsi(Semarang:IAIN WALISONGO, 2014).

10

dan tergolong dalam kebiasaan yang buruk hal itu disebabkan karena

kurangnya pemahaman terhadap hukum islam dan beberapa faktor yang

mempengaruhi pada masyarakat tersebut.10

Selanjutnya skripsi karya fadhilah musryid dengan judul tinjauan

hukum islam terhadap jual beli hewan yang diharamkan sebagai obat".

Permasalahan dalam penelitian ini adalah penjualan hewan dan bahan yang

diharamkan sebagai obat. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka.

Dengan teori yang digunakan adalah teori hukum islam tentang maqu>d

alaih, teori huku makanan, minuman, dan obat-obatan haram dan teori

daru>ra>t. skripsi ini menggunakan deskriptif analitik dan hasil penelitianya

menjelaskan bahwa memperjualbelikan hewan dengan bahan bahan yang

diharamkan sebagai obat adalah tidak dibenarkan dan dilarang (haram) jika

memang masih terdapat obat-obat alternatif lain yang dari segi kehalalan serta

manfaatnya masih dapat menyembuhkan.11

Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu

adalah mengenai objek jual beli yaitu hewan buas dan burung merak yang

dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kesenian bukan untuk dimanfaatkan

sebagai konsumsi dan bahan obat, dengan jenis penelitian lapangan dan

ditinjau dari perspektif Fiqh Muamalah mengenai jual beli.

10 Lutfi, Tinjauan Sosiologis Hukum Islam Terhadap Jual Beli Tokek (Studi Kasus di

Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Skripsi (Yogyakarta: UIN SUNAN

KALIJAGA, 2013). 11 Fadhilah, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Hewan Yang Di Haramkan Sebagai

Obat, Skripsi (Yogyakarta: UIN SUNAN KALIJAGA, 2014).

11

F. Metode Penelitian

Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan pokok permasalahan

diperlukan suatu pedoman penelitian yang disebut metodologi penelitian,

yaitu cara melukiskan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama

untuk mencapai suatu tujuan.12

Dengan metode penelitian sebagai cara yang dipakai untuk mencari,

merumuskan dan menganalisa sampai menyusun laporan guna mencapai

suatu tujuan. Untuk mencapai sasaran yang tepat dalam penelitian ini, penulis

menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan (field

research) dan penelitian kualitatif. Penelitian lapangan (field

research) yaitu penelitian di bidang ilmu sosial dan kemanusiaan

dengan aktivitas yang berdasarkan disiplin ilmiah untuk

menyimpulkan, menganalisis fakta-fakta hubungan antara fakta-fakta

alam, masyarakat, kelakuan dan rohani manusia.13

Sedangkan, penelitian kualitatif adalah penelitian yang

dilakukan berdasarkan paradigma, strategi, dan implementasi model

secara kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan

pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari

12 Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian (Jakarta: Bumi Pustaka, 2013),

1. 13 Imron Arifin, Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu-Ilmu Sosial dan Keagamaan (Malang:

Kalimasahada Press, 1996), 12.

12

prespektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih

dahulu tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan

sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut

kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya

abstrak tentang kenyataan-kenyataan. Penelitian kualitatif lebih

mementingkan proses daripada hasil. Hal ini terjadi karena, hubungan

bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila

diamati dalam proses.14

Dikatakan penelitian kualitatif karena penelitian ini dilakukan

dalam kancah kehidupan yang alamiah yaitu kondisi yang terjadi di

lingkup perajin Reog di Ponorogo. Dengan kata lain, penelitian

lapangan ini pada umumnya bertujuan untuk memecahkan masalah-

masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari.15

b. Pendekatan Penelitian

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini

adalah pendekatan fiqh (normatif) yang memandang masalah dari

sudut legal formal dan atau normatifnya. Maksud legal formal adalah

hubungannya dengan halal-haram, boleh atau tidak, sah atau tidak sah

dan sejenisnya. Sementara normatifnya adalah seluruh ajaran yang

terkandung dalam nash.16

14 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2008),

11, dan 20-23. 15 Aji Damanuri, Metodologi Penelitian Muamalah (Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press,

2010), 6. 16 Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Academia, 2010), 190.

13

Dikatakan pendekatan normatif dikarenakan fakta yang terjadi

di lapangan yaitu di Ponorogo para perajin menggunakan hewan

langka yaitu bagian tubuhnya, harimau diambil kulitnya dan merak

diambil bulu dan badanya secara utuh. Para perajin memanfaatkan

bahan bahan tersebut untuk pembuatan kepala Reog dan dadak merak.

Disitu terdapat objek yang mengandung najis atau terdapat larangan

didalam islam. Hal tersebut dianalisis dengan menggunakan norma-

norma dalam ajaran Islam sebagaimana yang terdapat dalam al-Quran

dan hadith.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti bertindak sebagai

instrument sekaligus pengumpulan data. Kehadiran peneliti mutlak

diperlukan, karena disamping itu kehadiran peneliti juga sebagai

pengumpul data. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam

pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Sedangkan kehadiran

peneliti dalam penelitian ini sebagai partisipan/berperan serta, artinya

dalam proses pengumpulan data peneliti mengadakan pengamatan dan

mendengarkan secermat mungkin.17

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah pemilihan tempat tertentu yang

berhubungan secara langsung dengan kasus dan situasi masalah yang akan

diteliti. Dalam penelitian ini, lokasi yang diambil oleh peneliti dalam

17 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2005), 117.

14

penulisan untuk menyusun skripsi yaitu penelitian dilakukan di rumah atau

tempat produksi kerajinan Reog, tepatnya di beberapa tempat perajin Reog

dan toko accesoris Reog di Kabupaten Ponorogo. Lokasi ini dipilih karena

merupakan tempat dimana kegiatan produksi Reog muali dari kepala Reog

atau barongan dan dadak merak di produksi dan dipasarkan.

4. Data dan Sumber Data

Dalam penyusunan skripsi ini diperlukan data dan sumber data

yang relevan dengan permasalahan yang ada, sehingga hasilnya dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya.

a. Data Penelitian

Data secara umum dapat diartikan sebagai fakta atau keterangan dari

obyek yang akan diteliti. Adapun data yang diperlukan oleh penulis dalam

penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut:

1) Data tentang maqu>d alayh dalam praktik jual beli hewan langka untuk

bahan baku kesenian Reog Ponorogo.

2) Data tentang penetapan harga dalam jual beli hewan langka untuk

bahan baku kesenian Reog Ponorogo.

3) Data tentang pencampuran bahan baku jual beli hewan langka untuk

bahan baku kesenian Reog Ponorogo.

b. Sumber Data

Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.

Adapun sumber data yang diperlukan penulis yaitu:

15

1) Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kata-kata atau informasi

yang penulis dapatkan dari informan. Data primer adalah sumber

penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak

melalui perantara). Sumber penelitian primer diperoleh para peneliti

untuk menjawab pertanyaan penelitian.18 Informan yang diwawancarai

antara lain para perajin Reog (Bapak HS, YH, MJ, NO, J), dan para

penjual (Bapak Mahfud, Wahyu, BG), penggiat seni (Bapak Shodiq

Pristiwanto). Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah data

yang umumnya tidak dirancang secara spesifik untuk memenuhi

kebutuhan penelitian tertentu. Seluruh atau sebagian aspek data

sekunder kemungkinan tidak sesuai dengan kebutuhan suatu

penelitian.19

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan dalam penulisan

skripsi ini, antara lain:

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan

melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan

terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran. Orang yang melakukan

observasi disebut pengobservasi (observer) dan pihak yang

18 Etta Mamang Sangajadi dan Sopiah, Metode Penelitian Pendekatan Praktis Dalam

Penelitian (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2010), 171. 19 Ibid., 172.

16

diobservasi disebut terobservasi (observe).20 Dari segi proses

pelaksanaannya, observasi yang dilakukan oleh penulis di tempat

produksi Reog, yaitu ditempat para perajin Reog di Kabupaten

Ponorogo dengan menggunakan observasi nonpartisipan. Dalam

observasi nonpartisipan ini penulis tidak terlibat langsung namun

hanya sebagai pengamat independen.21 Misalnya penulis mengamati

bagaimana proses jual beli hewan yang dilakukan oleh para perajin

Reog di Ponorogo, mulai dari proses dari pemasok sampai pada

perajin dan antar perajin, proses penetapan harga yang dilakukan oleh

para perajin terhadap barang yang dijual dan ketika perayaan Grebeg

suro, dan proses pengolahan dan pembuatan Reog dari yang benar

benar menggunakan bahan yang baik, samapai dengan bahan yang

dicampur dengan kualitas bahan yang rendah, di dalam proses ini

terjadi unsur penyamaran dan penipuan yang dilakukan oleh perajin

Reog yang hanya mementingkan keuntungan yang berlebih saja.

b. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang,

melibatkan seseorang yang memperoleh informasi dari seseorang

lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan

tujuan tertentu.22 Jadi dengan wawancara, maka peneliti akan

mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam

20 Abdurrahman Fathoni, Metode Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2006), 104. 21 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, 109. 22 Deddy Mulyaba, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2004), 180.

17

menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini

tidak bisa ditemukan melalui observasi.23 Di dalam teknik wawancara

ini, penulis akan bertanya langsung kepada perajin Reog mengenai

proses jual beli dan pengolahan bahan baku sampai dengan keadaan

Reog yang sudah jadi secara utuh, proses terjadinya pencampuran dan

penyamaran bahan bak, serta penetapan harga Reognya, penjual

aksesoris Reog mengenai proses jual beli dan penetapan harga ketika

perayaan Grebeg suro. dan pengamat seni Reog di Kabupaten

Ponorogo.

c. Dokumentasi

Suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-

catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti,

sehingga akan memperoleh data yang lengkap, sah dan bukan

berdasarkan perkiraan.24 Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar,

atau karya-karya monumental dari seseorang untuk mencari data

terkait deengan jual beli hewan langka yang digunakan untuk objek

bahan baku kesenian Reog, penetapan harga yang dilakukan oleh

perajin Reog, dan adanya isu pencampuran dan penyamaran bahan

baku pembuatan Reog.

6. Analisa Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-

23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta,

2013), 232. 24 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, 158.

18

bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat

diinformasikan kepada orang lain. Analisis digunakan untuk memahami

hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan

dan dievaluasi.25 Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada

saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data

dalam periode tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis

data dari Miles dan Huberman yang mengemukakan bahwa aktivitas

dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung

secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.26 Data

jenuh artinya kapan dan dimana pun pertanyaan pada informan, dan pada

siapa pun pertanyaan sama diajukan, hasil jawaban yang diperoleh tetap

konsisten sama.

Teknik analisis data menurut Miles dan Huberman terdiri dari tiga

alur yaitu kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, yaitu reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan.27

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data diartikan sebagai suatu proses pemilihan,

pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian, dan

transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di

lapangan. Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus, dan selama

25 Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods) (Bandung: Alfabeta, 2013),

332. 26 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, 246. 27 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 339.

19

proses pengumpulan berlangsung maka terjadi tahapan reduksi.28 Pada

penelitian ini reduksi data dilakukan untuk memfokuskan data

mengenai praktik jual beli hewan langka untuk bahan baku kesenian

Reog Ponorogo. Semua data yang didapatkan dari observasi dan

wawancara dikelompokkan dan diklasifikasikan sesuai dengan

kategorinya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran

yang lebih tajam tentang hasil pengamatan, juga mempermudah peneliti

untuk mencari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan.

b. Data Display (Penyajian Data)

Penyajian data yaitu sebagai suatu sekumpulan informasi yang

tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan

pengambilan tindakan.29 Menurut Sugiyono, yang paling sering

digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah

dengan teks yang bersifat naratif.30 Dalam penelitian ini penyajian data

berupa teks naratif yang memaparkan praktik jual beli hewan langka

untuk bahan baku kesenian Reog Ponorogo serta objek jual beli yang

ditinjau dari bahan dan manfaat di Kabupaten Ponorogo. Tujuan dari

penyajian data adalah untuk memudahkan membaca dan menarik

kesimpulan.31

28 Ibid., 340-341. 29 Ibid., 340-341. 30 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, 249. 31 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, 209.

20

c. Conclusion Drawing&Verification (Menarik Kesimpulan dan

Verifikasi)

Langkah terakhir dalam analisis data menurut Miles dan

Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan

awal dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila

tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif

merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan

dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya

masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas,

dapat berupa hubungan kausal atau interaktif.32

Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian

berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus selalu diuji

kebenaran dan kesesuaiannya sehingga validitasnya terjamin.33 Proses

verifikasi hasil pada temuan ini dapat berlangsung singkat yaitu

dilakukan secara selintas dengan mengingat hasil temuan terdahulu dan

melakukan cek silang (cross check) dengan temuan yang lainnya.34

Peneliti kualitatif melakukan verifikasi agar dapat mempertahankan dan

menjamin validitas dan reliabilitas hasil temuannya, sehingga

kesimpulan penelitian bersifat kokoh.

32 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, 252-253. 33 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, 210. 34 Muhammad Idris, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitaf

(Jakarta: Erlangga, 2009), 151.

21

7. Pengecekan Keabsahan Temuan

Keabsahan data merupakan konsep yang penting yang diperbaharui

dari konsep keshahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas).35 Dalam

penelitian ini akan menggunakan teknik pengecekan keabsahan data

dengan teknik triangulasi yaitu peneliti akan menguji kredibilitas dengan

cara mengecak data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Teknik

ini salah satunya dapat dicapai dengan membandingkan data hasil

pengamatan dengan data hasil wawancara.

Peneliti melakukan pemilahan yaitu dengan cara membandingkan

data hasil pengamatan langsung di perajin Reog Ponorogo dengan para

penikmat seni atau pembeli Reog.

G. Sistematika Pembahasan

Bab I : Pendahuluan. Bab ini merupakan pendahuluan atau gambaran

umum untuk memberikan pola pemikiran keseluruhan skripsi ini yang

meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab II : Konsep jual beli, penetapan harga dan tadlisndalam fiqh

muamalah, Bab ini merupakan serangkaian teori sebagai landasan teori yang

digunakan untuk menganalisa permasalahan-permasalahan pada Bab III.

Dalam bab ini diungkapkan mengenai jual beli, rukun dan syarat jual beli,

macam macam jual beli, dan ketentuan objek yang dijual belikan dalam

35 Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 1 (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), 42.

22

islam, penetapan harga dalam islam, dan jual beli yang mengandung tadlis

atau penyamaran.

Bab III : Praktik jual beli hewan langka yang digunakan sebagai bahan

baku pembuatan Reog, mengenai mauqud alaih, proses jual beli, dan proses

pembuatan kepala reog yang terbuat dari kulit binatang buas dan burung

merak, praktik penetapan harga dan isu penyamaran dan pencampuran bahan

baku dalam pembuatan Reog Ponorogo.

Bab IV : Analisa fiqh muamalah terhadap jual beli hewan langka

untuk pemanfaatan kesenian reog Ponorogo di ponorogo, penetapan harga

pada barang dan ketika perayaan Grebeg suro, serta isu pencampuran dan

penyamaran bahan baku Reog .

Bab V : Penutup. Bab ini merupakan bab yang paling akhir dari

pembahasan skripsi ini, yang berisi kesimpulan sebagai jawaban dari pokok

permasalahan dan saran-saran.

23

BAB II

Jual Beli Hewan Dan Pemanfaatanya Untuk Seni menurut Fiqh Muamalah

A. Konsep Jual Beli Dalam Islam

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia dianjurkan untuk

mencari rezeki yang halal sesuai dengan syariat dan ketentuan hukum islam

yang ada, kegiatan yang paling sering dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

hidup manusia adalah berbisnis dan berdagang. Bisnis dan perdagangan

merupakan proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari

masing-masing pihak. Kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi bisnis

secara bebas menentukan untung rugi pertukaran tersebut. Bisnis dan

perdagangan terjadi apabila tidak ada satu pihak yang memperoleh keuntungan

atau manfaat tidak ada pihak lain yang merasa dirugikan dalam kegiatan

tersebut. Islam secara jelas memberikan resep transaksi bisnis yang mampu

menghindarkan orang lain dari kerugian. Norma-norma syariah dalam Islam

ditempatkan sebagai kerangka dasar yang paling utama yang dapat dijadikan

payung strategis bagi pelaku bisnis. Dengan sinaran nilai-nilai syariah, maka

bisnis yang dilakukan seseorang diarahkan untuk mencapai empat hal: (1)

profit: materi dan non materi, (2) pertumbuhan, artinya terus meningkat, (3)

keberlangsungan dalam kurun waktu yang selama mungkin, dan (4)

keberkahan dan keridaan Allah.36 Keempat hal tersebut menjadi suatu karakter

dasar yang membedakan tujuan bisnis dan dan perdagangan dalam perspektif

36 Muhammad Ismail Yusanto dan M. Karebat Widjajakusuma, Menggagas Bisnis Islam (Jakarta:

GIP,2000),17-18.

23

24

Islam dengan tujuan bisnis secara umum. Kegiatan bisnis dalam kerangka

pemahaman umum mengarahkan individu atau organisasi pada pencapain

profit yang tampak wujudnya (tangible). Berbeda bisnis dengan pandangan

Islam yang menempatkan profit dalam dua sisi yang saling menyatu yaitu,

material dan non material (spiritual).37 Islam memandang kegiatan transaksi

bisnis sebagai suatu aktivitas yang memiliki nilai ganda bagi kehidupan

individu dan masyarakat dalam memenuhi hajat meterial dan spritualnya.

Melalui interaksi dan transaksi antara penjual dan pembeli yang kemudian apa

yang dikenal dengan pasar, yaitu tempat dimana antara penjual dan pembeli

bertemu dalam rangka melaksanakan aktivitas jual beli, atau tempat dimana

penjual menawarkan barang maupun jasa kepada pembeli, mendapat apresiasi

positif dalam Islam selama tidak dilakukan di luar konteks yang digariskan

Islam.38

Secara etimologis, bai berarti tukar menukar secara mutlak. Adalah

mengambil sesuatu meskipun dalam bentuk a>riyah (sewa) dan wadiah

(penitipan). Secara terminologis para fuqaha berbeda pendapat mengenai

definisi bai. Definisi yang dipilih adalah tukar menukar (barter) harta dengan

harta, atau manfaat (jasa) yang mubah meskipun dalam tanggungan. Penjelasan

definisi diatas adalah sebagai berikut :

1. Tukar menukar (barter) harta dengan harta. Harta mencakup semua bentuk

benda yang boleh dimanfaatkan meskipun tanpa hajat (ada kebutuhan),

37 ibid 38 Muhammad, Merekonstruksi Ekonomi Moderen dengan Paradigma Syariah. Himmah

Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan, vol. VIII No. (21 Januari April 2007), 71

25

seperti emas, perak, jagung, gandum, kurma, garam, kedaraan, dan lain

sebagainya.

2. Atau manfaat (jasa) yang mubah. Maksudnya tukar menukar harta dengan

manfaat (jasa) yang diperbolehkan. Syarat mubah dimasukan sebagai

proteksi terhadap manfaat (jasa) yang tidak halal.

3. Meskipun dalam tanggungan. Kata meskipun (lau) disini tidak berfungsi

sebagai indikasi adanya perbedaan, tetapi menunjukan arti bahwa harta yang

ditransaksikan ada kalanya telah ada (saat transaksi) da nada kalanya berada

dalam tanggungan (jaminan). Kedua hal ini dapat terjadi dalam bai.39

Dalam Islam melakukan jual beli harus melihat batasan-batasan dalam

melakukan aktivitas jual beli, termasuk dalam kejelasan objek yang

diperjualbelikan, batasan batasan dan syarat benda yang menjadi objek ialah

sebagai berikut :

1. Barangnya suci atau mungkin untuk disucikan sehingga tidak sah penjualan

benda-benda najis seperti anjing, babi, dan yang lainya.

2. Memberi manfaat menurut shara> . tidaklah sah memperjualbelikan

jangkrik, ular, semut, atau binatang buas. Akan tetapi boleh dijual kalau

hendak diambil kulitnya untuk disamak, dijadikan sepatu, tas, dan

dimanfaatkan untuk kebaikan lainya. Namun tidak sah bila digunakan untuk

permainan karena menurut shara> tidak ada manfaatnya. Begitu juga alat

alat permainan yang digunakan untuk melakukan perbuatan yang haram

39 Miftahul Khairi, Ensikopledi Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Madzab,

(Yogyakarta: Maktabah Al-hanif,2014), 1-2.

26

atau untuk meninggalkan kewajiban kita terhadap Allah.40 Perbuatan itu

digolongkan mubazir (sia-sia) dn dilarang keras oleh agama. Firman Allah

swt dalam surat al-Israa 27 :

Artinya: sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan

dan syaitan adalah sangat ingkar kepada Tuhanya.41 (QS. Al-Israa: 27)

3. Jangan ditaklikan, yaitu dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal lain,

seperti jika ayahku pergi, kujual motor ini kepadamu.

4. Tidak dibatasi waktunya.

5. Dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat tidaklah sah menjual

binatang yang sedang berlari dan tidak dapat ditangkap lagi. Barang yang

sudah hilangatau barang yang sulit diperoleh kembali karena samar.

6. Milik sendiri, tidaklah sah menjual barang orang lain dengan tidak seizing

pemiliknya atau barang-barang yang baru akan jadi miliknya.

7. Diketahui (dilihat), barang yang dijual belikan harus dapat diketahui

banyaknya, beratnya, takaranya, maka tidaklah sah jual beli yang

menimbulkan keraguan salah satu pihak.42

Secara umum rambu-rambu perdagangan yang harus dihindari pelaku

pasar adalah memperdagangkan barang dan jasa yang membawa mafsadat atau

kerusakan bagi konsumen maupun pembeli. Dengan kata lain objek yang

diperdagangkan adalah komoditas yang tidak mendatangkan mudarat bagi

40 Ibn Masud, Fiqh Madzab SyafiI (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 31. 41 Al-Quran, 17:27. 42 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), 72-73.

27

dirinya sendiri maupun orang lain (harmfullness dan impurity), sepanjang

komoditas yang diperdagangkan itu tidak mengandung mudarat, maka

sepanjang itu pula transaksi perdagangan diperbolehkan dalam Islam.43

B. Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam

Adapun jual beli yang dilarang dalam islam dan batal hukumnya

adalah sebagai berikut :

1. Barang yang dihukumkan najis oleh agama, seperti anjing, babi, hewan

buas, berhala, bangkai, dan khamr. Tidak diperbolehkan membeli binatang

buas kecuali yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai hewan

pemburu. Sedangkan hewan yang tidak mungkin dijadikan sebagai hewan

pemburu, tidak boleh menjualnya atau pun membelinya, karena tidak ada

manfaat mubah yang bisa diambil darinya. Para ulama mengatakan bahwa

hewan buas itu tidak bisa dijadikan sebagai hewan pemburu dan tidak

boleh diperjualbelikan. An Nawawi Asy Syafii dalam Al-Majmu 9:286

mengatakan, Binatang yang tidak mungkin diambil manfaatnya itu tidak

sah diperjualbelikan contohnya kumbang, kalajengking, ular, serangga,

tikus, semut dan berbagai serangga yang lain serta binatang yang semisal.

Para ulama Syafiiyyah mengatakan bahwa segelintir manfaat yang ada

pada hewan tersebut karena karakter khas hewan tersebut tidaklah

teranggap karena manfaat tersebut adalah manfaat yang tergolong remeh.

2. Jual beli mani hewan (sperma). Seperti mengawinkan seekor domba jantan

dengan betina agar dapat memperoleh turunan.

43 Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam (Jakarta : Kencana,

2006), 173.

28

3. Jual beli anak binatang yang masih dalam kandungan induknya. Jual beli

ini dilarang karena barangnya belum ada dan tidak nampak.

4. Jual beli dengan muh>{aqalah, menjual tanaman yang masih diladangnya.

Baqalah berarti tanah, sawah, dan kebun. Hal ini dilarang agama sebab

ada persangkaan riba didalamnya.

5. Jual beli dengan mukh>ad{arah, menjual buah-buahan yang belum pantas

untuk dipanen. Seperti menjual rambutan yang masih hijau, manga yang

masih kecil. Hal ini dilarang dalam islam karena masih samar.

6. Jual beli dengan mula>masah, jual beli secara sentuh menyentuh. Hal ini

dilarang karena dapat merugikan salah satu pihak dan mengandung unsur

penipuan.

7. Jual beli dengan muna>badhah, jual beli secara lempar melempar.

8. Jual beli dengan muza>banah, menjual buah yang basah dengan buah yang

kering

9. Menentukan dua harga untuk satu barang yang dijual belikan.

10. Jual beli dengan syarat. Jual beli seperti ini sama dengan jual beli dengan

menentukan dua harga, hanya saja disini dianggap sebagai syarat, seperti

seorang berkata aku jual rumahku yang butut ini kepadamu dengan syarat

kamu mau menjual mobilmu kepadaku.

11. Jual beli dengan gha>rar. Jual beli yang samar, kemungkinan terjadi

penipuan, seperti penjualan ikan yang masih di kolam atau menjual kacang

tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi didalamnya jelek.

12. Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual.

29

13. Larangan menjual makanan hingga dua kali ditakar. Hal ini menunjukan

kurangnya saling percaya antara penjual dan pembeli. Jumhur ulama

berpendapat bahwa seseorang yang membeli sesuatu dengan takaran dan ia

telah menerimanya, kemudian ia menjual kembali, maka ia tidak boleh

menyerahkan kepada pembeli kedua dengan takaran yang pertama

sehingga ia harus menakar lagi untuk pembeli yang kedua itu.44

C. Pandangan Para Ulama Mengenai Jual Beli Hewan

Menurut Hanafiyah, semua jenis hewan yang memiliki gigi taring bisa

saja dijual, seperti anjing, harimau, singa, serigala, dan kucing. Kerena, anjing

dan semacamnya adalah sesuatu yang bernilai sebab bisa dimanfaatkan dan

islam membolehkan untuk menggunakanya dalam hal penjagaan dan berburu.

Boleh juga jual beli serangga dan binatang melata seperti ular dan

kalajengking, kalau memang bisa dimanfaatkan.

Menjual barang bernajis boleh, begitu pula memanfaatkanya selain

untuk dimakan, seperti dipakai untuk menyamak, mengecat, dan dibuat lampu

selain di masjid. Namun tidak boleh memanfaatkan minyak yang terbuat dari

bangkai karena tidak sah secara shara> untuk memanfaatkanya. Ketentuanya

menurut Hanafiyah, semua yang bisa dimanfaatkan dan halal menurut agama

maka boleh saja menjualnya, karena pada dasarnya semua benda diciptakan

untuk kepentingan manusia, berdasarkan firman- Nya,

44 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), 78-81.

30

Artinya : Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk

kamu45(QS. Al-Baqarah:22)

Adapun Ma>liki>yah mengatakan bahwa jual beli minuman keras,

babi, dan bangkai adalah batal, ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,

Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli minuman keras, bangkai, babi,

dan patung berhala. Untuk jual beli anjing, meskipun bersih, baik sebagai

penjaga maupun anjing buruan dianggap batal, karena adanya menjual anjing.

Nabi Saw melarang menjual anjing, pemberian mahar wanita pelacur, dan uang

dukun. Begitu pula yang dianggap batal jual beli barang bernajis yang tidak

bisa dibersihkan, seperti minyak, madu, dan minyak mentega yang terkena

najis. Adapun sesuatu yang bernajis dan bisa dibersihkan seperti pakaian maka

boleh saja dijual.

Tidak sah jual beli benda yang memang najis seperti kotoran hewan

yang tidak bisa dimakan dagingnya, kotoran manusia, tulang bangkai, dan

kulitnya. Akan tetapi, boleh saja jual beli kotoran sapi, domba unta, dan

semacamnya karena dibutuhkan untuk tanaman dan bentuk- bentuk

pemanfaatan lainya.

Adapun Shafii >yah dan Hanabi>lah berpendapat bahwa tidak boleh

menjual barang yang tidak ada manfaatnya, seperti serangga dan binatang buas

45 Al-Quran, 2:22.

31

yang tidak bisa digunakan untuk berburu, singa, serigala misalnya. Juga

burung-burung yang tidak dimakan dan tidak pula untuk berburu, seperti

burung gagak, rajawali, dan nasar. Karena sesuatu yang tidak punya manfaat

tidak ada nilainya, maka menerima uang atau imbalan dari barang tersebut

termasuk memakan harta orang dengan bathil. Begitupun sebaliknya, memberi

imbalan atas barang seperti itu termasuk perilaku yang bodoh.

Kesimpulanya, Hanafiyah dan Za>hiri>yah membolehkan jual beli

hewan yang bisa dimanfaatkan. Bolehnya dijual suatu barang tergantung pada

bermanfaat atau tidaknya barang itu. Maka menurut kelompok ini, semua yang

bisa dimanfaatkan bisa pula dijual. Namun, Shafii >yah, Hanabi>lah, dan

pendapat yang mahsyur dalam pengikut Hanafiyah, tidak membolehkan jual

beli yang tidak ada manfaatnya, karena boleh tidaknya dijual suatu barang

tergantun pada manfaat dan bersih tidaknya barang itu. Dengan demikian,

semua barang yang bermanfaat dan bersih artinya barang yang dibolehkan oleh

agama untuk digunakan maka bisa dijual, menurut Shafii >yah.46

Menurut Erwandi, dijelaskan dalam bukunya bahwa Para ulama

berbeda pendapat tentang hukum jual beli kulit hewan. Madzhab Hanafiyah

dan Ma>liki>yah membolehkan menjualnya, dan uang hasil penjualannya halal.

Sedangkan para ulama madzhab Shafii >yah dan Hanabi>lah mengharamkan jual

beli kulit hewan tersebut, bukan karena najis, tetapi karena penggunaan kulit

tersebut dilarang oleh Nabi Saw. menyerupai orang-orang kafir dan dapat

46 Wahbah az-Zuhaili, Fiqh Islam 5, terj. Abdul Hayyie al - Kattani (Jakarta: Gema Insani,

2011), 116-118.

32

mendatangkan keangkuhan, dengan demikian tidak boleh dijual dan hasil

penjualannya termasuk harta haram.47 Dengan dalil

Artinya : dari Abu Malih dari Ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW telah

melarang menggunakan kulit binatang buas. (HR.An Nasa>iy).48

Dalam Al-quran dan hadis sudah dijelaskan aturan mengenai jual beli

yang berkaitan dengan a>qidayn, s{ighat, dan maqu>d alayh, para fuqaha

sepakat bahwa sesuatu yang tidak dapat menerima hukum akad tidak dapat

menjadi objek akad. Dalam jual beli, barang yang diperjualbelikan harus benda

bernilai dan mengandung manfaat bagi pihak-pihak yang mengadakan akad

jual beli. Seperti contoh minuman keras adalah barang yang tidak bernilai bagi

kaum muslimin, maka ia tidak memenuhi syarat sebagai objek akad jual beli.49

Sedangkan pengertian manfaat dalam hal ini adalah nilai guna bagi kebaikan

dan keselamatan lima pokok tujuan syara atau dikenal dengan istilah al-

maqid al-syarat al-khamsah. Yaitu keselamatan agama, jiwa, benda, akal,

dan keturunan. Maka, tidak dapat disebut manfaat barang yang memabukkan

meskipun secara ekonomis mendatangkan keuntungan.50

Mengenai perihal pengharaman bangkai yang dimanfaatkan, yang

dimaksud hanyalah soal memakanya. Adapun memanfaatkan kulit, tanduk,

tulang, atau rambutnya tidaklah terlarang. Bahkan, satu hal yang terpuji karena

47 Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer (Bogor: PT Berkat Mulia

Insani, 2017), 80. 48 Abu Abdur Rahman Ahmad An Nasaiy, Sunan An Nasaiy VII (Semarang: CV. Asy

Syifa,2004),274. 49 Muhammad, Etika Bisnis Islam (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2004), 80. 50 M.Yazid Affandi, Fiqh Muamalah (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2009), 53.

33

barang-barang tersebut masih mungkin dipergunakan. Oleh karena itu, tidak

boleh disia-siakan.

Jual Beli Hewan Langka Dalam Islam

Pada dasarnya jual-beli diperbolehkan dan legal menurut syara', dalam

konteks jual-beli satwa langka hukum jual-belinya tidak berlaku lagi. Jika kita

kembali ke hukum berburu satwa langka yang sudah jelas hukumnya haram,

maka pemanfaatannya pun akan menjadi haram. Praktek jual-beli yang

awalnya halal diperbolehkan akan menjadi haram menjadi tidak diperbolehkan

karena termasuk dalam kategori tolong-menolong dalam hal kemaksiatan dan

hal ini juga melanggar undang-undang yang telah dibuat oleh pemerintah. Ada

unsur jual beli hewan yang tidak ada manfaatnya menurut syariat, walaupun

sebagian kecil individu ada yang menganggapnya barang bermanfaat. Bahkan

dampak kepunahannya lebih jelas, dan akan berdampak terhadap ketidak-

seimbangannya alam, sehingga jual beli demikian adalah termasuk larangan

syara'. Disisi lain pemerintah juga sudah menetapkan undang-undang tentang

dilarangnya perburuan satwa langka yang dilindungi. Hal ini menjadi penguat

tentang hukum keharaman berburu satwa langka dan perdagangannya.51

Berkaitan dengan keseimbangan kehidupan di alam ini Allah Swt,

dalam Al-Quran Surat Al-Mulk, ayat 3 berfirman:

51 Profauna Indonesia. Islam Peduli Terhadap Satwa., Malang: Profauna, 2010: 24

34

Artinya : "Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu

lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang

Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat

sesuatu yang cacat?52

Berdasarkan Firman Allah ini, maka sebenarnya manusia tidak

mempunyai hak untuk mengurangi dan menghilangkan suatu spesies

hewan, karena semua spesies mempunyai fungsi sebagai penyeimbang

kehidupan dalam lingkungan. Selanjutnya Rasulullah SAW juga melarang

membunuh binatang dengan cara menganiaya yaitu dengan cara menahan

(mengurung) dalam keadaan hidup kemudian melemparnya sampai mati.

Nabi pun menganjurkan bila akan menyembelih hewan harus menyembelihnya

dengan pisau yang tajam agar tidak menyiksa atau menyebabkan hewan itu

lama dalam kesakitan.53

Secara tidak disadari memperjual belikan hewan liar yang dilindungi

dapat berdampak buruk terhadap pelestarian lingkungan, salah satu diantaranya

adalah mengakibatkan ketidak stabilan ekosistem di bumi ini. Banyak hewan

hewan liar menjadi langka dan punah sehingga ekosistem dibumi ini menjadi

terganggu. Padahal islam melarang merusak lingkungan dan dianjurkan untuk

selalu memelihara bumi ini dn berbuat kebajikan antar sesame makhluk hidup.

D. Penetapan harga dalam islam

Sudah menjadi kelaziman bahwa harga suatu barang ditentukan oleh

kedua belah pihak, akan tetapi para pihak yang terlibat dalam perjanjian dapat

52 Al-Quran, 67:3 53 Efendi,Perlindungan Sumber Daya Alam Dalam Islam,Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 55(2011), 27.

35

pula meminta pendapat/perkiraan pihak ketiga. Pembayaran harga barang pada

umumnya dilakukan secara tunai bersamaan dengan penyerahan barang. Akan

tetapi dalam beberapa jenis perjanjian harga tersebut tidak dilakukan secara

tunai, akan tetapi dilakukan dengan secara angsuran.54

Nilai-nilai syariat mengajak orang muslim untuk menerapakan konsep

tasir dalam kehidupan ekonomi yaitu menetapkan harga sesuai dengan nilai

yang terkandung dalam komoditas yang dijadikan objek transaksi, serta dapat

dijangkau oleh masyarakat. Bila konsep ini diterapkan dalam setiap kondisi

ekonomi, bukan hanya karena dipaksa dalam suatu kondisi ekonomi yang

sedang mengalami krisis atau pun paceklik. Dengan adanya tasi>r maka akan

menghilangkan beban ekonomi yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh

masyarakat, menghilangkan praktik penipuan, serta memungkinkan ekonomi

dapat berjalan dengan mudah dan penuh dengan kerelaan hati. Dalam

menetapkan harga sebuah barang, harus disesuaikan dengan nilai yang

terkandung didalamnya.55

Secara etimologis tasi>r adalah menetapkan harga. Adapun tasi>r

secara terminologis adalah penetapan harga standar pasar yang ditetapkan oleh

pemerintah atau yang berwenang untuk disosialisasikan secara paksa kepada

masyarakat dalam jual beli.56 Unsur terpenting dalam jual beli adalah nilai

tukar dari barang yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang). Terkait

dengan masalah nilai tukar ini para ulama fiqh membedakan al-thaman dengan

54 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak Bernuansa Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2012), 143. 55 Abdul Sami Al Mishri, Terj. Dimyauddin Djuwaini, Pilar-Pilar Ekonomi Islam

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 95. 56Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar, Ensikopledi Fiqh Mauamalah Dalam

Pandangan 4 Madzhab, (Yogyakarta, Maktabah Al-Hanif: 2004), 72.

36

al-sir. menurut mereka, al-thaman adalah harga pasar yang berlaku ditengah-

tengah masyarakat secara actual, sedangkan al-sir adalah modal barang yang

seharusnya diterima oleh para pedagang sebelum dijual kekonsumen. Dengan

demikian, harga barang itu ada dua, yaitu harga antara pedagang dan harga

antara pedagang dengan konsumen (harga jual pasar). Oleh sebab itu, harga

yang dapat dipermainkan oleh para pedagang adalah al-thaman .57

Para ulama fiqh menegemukakan syarat-syarat al-thaman sebagain

berikut :

1. Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.

2. Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum seperti

pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar

kemudian (berutang) maka waktau pembayarannya harus jelas.

3. Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling memempertukarkan barang

(Al-muqa>yada) maka barang yang dijadikan nilai tukar barang yang

diharamkan oleh Shara>, seperti babi dan khamr, karna kedua jenis benda

ini tidak bernilai menurut Shara>.58

Para ulama menyimpulkan bahwa haram bagi penguasa untuk

menentukan harga barang-barang karena hal itu adalah sumber kedzaliman.

Masyarakat bebas untuk melakukan transaksi dan pembatasan terhadap mereka

bertentangan dengan kebebasan ini. Penetapan harga menurut Rasulullah

merupakan suatu tindakan yang menzalimi kepentingan para pedagang, karena

para pedagang dipasar akan merasa terpaksa untuk menjual barangnya dengan

57 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak,143. 58 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamallah, (Jakarta:Kencana,2010), 76-77.

37

harga patokan, yang tidak sesuai dengan keridhaanya.59 Harga harus

mencerminkan manfaat bagi pembeli dan penjualnya secara adil, yaitu penjual

memperoleh keuntungan yang normal dan pembeli memperoleh manfaat yang

setara dengan harga yang dibayarkan.60Sehingga tidak boleh mementingkan

pembeli dalam penetapan harga, tetapi harus ada keadilan diantara keduanya.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat an nisa 29

Artinya : hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan

harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan

yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu

membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang

.61kepadamu

Dalam fiqh Islam dikenal dua istilah berbeda mengenai harga suatu

barang, yaitu al-thaman dan al-sir. al-thaman adalah patokan harga satuan

barang, sedangkan al-sir adalah harga yang berlaku secara aktual dipasar.

Ulama fiqh menyatakan bahwa fluktuasi harga suatu komoditas berkaitan erat

dengan al-sir bukan al-thaman .62

59 Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam (Jakarta:kencana,

2006),161. 60 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam (Jakarta:PT Raja

Grafindo Persada),322. 61 Al-Quran, 4:29. 62 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer (Jakarta:

Gema Insani Press, 2003),90.

38

Adanya suatu harga yang adil telah menjadi pegangan yang mendasar

dari transaksi yang Islam. Pada prinsipnya transaksi bisnis harus dilakukan

pada harga yang adil sebab ia adalah cerminan dari komitmen syariat Islam

terhadap keadilan yang menyeluruh. Secara umum, harga yang adil ini adalah

harga yang tidak menimbulkan eksploitasi atau penindasan sehingga

merugikan salah satu dan menguntungkan pihak yang lain.63 Dalam

kenyataanya seringkali penjual menawarkan dagangan dengan harga yang

terlalu tinggi, sementara konsumen menginginkan terlalu rendah. Jika proses

tawar menawar diantara keduanya tidak dapat terjadi, maka dapat dipastikan

mekanisme pasar akan terganggu.

Harga sebuah komoditas (barang) ditentukan oleh penawaran dan

permintaan, perubahan yang terjadi pada harga berlaku juga ditentukan oleh

terjadinya perubahan permintaan dan perubahan penawaran.64 Dalam ekonomi

Islam siapapun boleh berbisnis. Namun, para pelaku usaha tidak boleh

melakukan ikhikar. Ikhtikar adalah secara sengaja menahan atau menimbun

barang.

Menurut ulama fiqh, pematokan harga oleh pihak pemerintah harus

memenuhi persyaratan syariah, yaitu :

1. Komoditas atau jasa itu sangat dibutuhkan masyarakat luas.

2. Terbukti bahwa produsen, pedagang, dan sepekulan melakukan manipulasi,

sepekulasi, penimbunan, ataupun rekayasa keji dalam menentukan harga

komoditas dan tarif jasa mereka.

63 Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi, 332. 64 Nasution, Pengenalan Eksklusif, 160.

39

3. Pemerintah tersebut adalah pemerintah yang adil.

4. Pihak pemerintah harus melakukan studi kelayakan harga dan kajian pasar

dengan berkonsultasi kepada para ahlinya.

5. Pematokan harga tersebut dengan mengacu kepada prinsip keadilan bagi

semua pihak.

6. Pemerintah secara proaktif harus melakukan control dan pengawasan yang

kontinu terhadap kegiatan pasar, baik menyangkut stok barang, harga,

maupun indikator dan variabel lainya sehingga tidak terjadi praktik

penimbunan barang dan monopoli jasa yang berakibat kesewenangan harga

dan tarif.65

E. Jual Beli Tadlis

Menurut Abdul Halim Mahmud al-Baly, yang dimaksud dengan

penipuan (tadli>s) adalah suatu upaya untuk menyembunyikan cacat pada

objek kontrak dan menjelaskan dengan gambaran yang tidak sesuai dengan

kenyataanya untuk menyesatkan pihak yang berkontrak dan berakibatkan

merugikan salah satu pihak yang berkontrak tersebut. Lebih lanjut, al-baly

menjelaskan bahwa penipuan (tadli>s) ada tiga macam yakni : pertama,

penipuan yang bentuk perbuatanya yaitu menyebutkan sifat yang tidak nyata

pada objek. Kedua, penipuan yang berupa ucapan, seperti berbohong yang

dilakukan oleh seorang yang berkontrak untuk mendorong agar pihak lain

mau melakukan kontrak. Penipuan juga dapat terjadi pada harga barang yang

65 Utomo, fiqh aktual, 93-94.

40

dijual dengan menipu memberi penjelasan yang menyesatkan, dan ketiga,

penipu menyembunyian cacat pada objek kontrak, padahal ia sudah

mengetahui kecacatan tersebut.

Kontrak yang mengandung tipuan (tadli>s) dilarang dalam syariat

Islam. Oleh Karena itu, seandainya dalam kontrak itu terdapat tipuan yang

besar, maka pihak yang kena tipu itu berhak membatalkan kontrak itu kepada

pihak yang berwenang atau pengadilan. Sebagai pihak yang ditipu, ia berhak

untuk membatalkan kontrak (jual beli) yang di buatnya. Dengan demikian,

kontrak yang dibuatnya tidak terlaksanakan sebagaimana mestinya, sebab ia

sebagai pihak yang ditipu sudah menderita rugi dengan adanya kontrak

tersebut. Dalam praktik muamalat dalam masyarakat sering ditemukan tipu

muslihat terutama dalam kontrak bisnis, terutama pada barang yang dijual

dipasaran. Penipuan yang terjadi dalam masyarakat itu, betapapun bentuknya

merupakan tindakan yang diharamkan oleh syariat islam. Para ahli hukum

islam sepakat bahwa pihak yang ditipu berhak membatalkan kontrak yan

telah dibuatnya.66

Disamping hal tersebut, kontrak dalam islam juga dikenal dengan

ketidakseimbangan objek kontrak (ghabn) yang disertai dengan tipuan

(taghri>r). ghabn menurut para ahli hukum islam adalah tidak terwujudnya

keseimbangan antara objek kontrak (barang) dengan harganya, seperti

harganya lebih rendah atau lebih tinggi dari harga yang seesungguhnya.

Adapun taghri>r (penipuan) adalah menyebutkan keunggulan pada barangnya

66 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah, (Jakarta, PT Fajar Interpratama Mandiri :

2012), 94-97.

41

yang tidak sesuai dengan sebenarnya. Terhadap ghabn yang sedikit (yasir)

tidak boleh dijadikan alasan untuk membatalkan kontrak yang telah

dilakukanya, karna hal ini sulit untuk menghindarinya, tetapi jika ghabn

sangat menyolok (fahisy) biasanya berpengaruh terhadap asas sukarela yang

ada pada kontrak tersebut. Tentang hal yang terakhir ini dikalangan para ahli

hukum islam berbeda pendapat, tetapi sebagaian dari mereka membenarkan

bahwa pihak yang tertipu berhak membatalkan kontraknya.67

Praktik penipuan tersebut bisa berbentuk perbuatan, ucapan, dan

menyembunyikan cacat pada barang.

1. Contoh bentuk perbuatan, seperti mengikat pentil susu hewan agar tampak

isinya banyak.

2. Contoh bentuk ucapan, seperti penjuual berbohong kepada pembeli

mengenai keberadaan kualitas barang yang diperjual belikan.

3. Contoh bentuk menyembunyikan cacat pada barang, seperti menjual kain

yang sobek, yang tidak diketahui oleh pembeli.

Kemudian para ulama sepakat bahwa pembeli apabila dia mengetahui

cacat yang disembunyikan oleh penjual, maka jual beli tersebut hukumnya

sah. Akan tetapi perbedaan pendapat diantara mereka muncul apabila

pembeli tidak mengetahuinya, apakah jual beli tersebut fasid (rusak) atau

sah ?

Hanafiyah berpendapat menyembunyikan cacat yang ada pada barang

hukumnya haram. Barang siapa menemukan cacat pada barang, maka dia

67 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah, (Jakarta, PT Fajar Interpratama Mandiri :

2012), 94-97.

42

harus menyerahkan kembali barang yang sudah dibeli dan mengambil

kembali uang yang sudah diserahkan kepada penjual, karena kemutlakan

sahnya akad itu barang yang diperjual belikan harus terbebas dari cacat.

Syafii >yah berpendapat barang siapa yang memiliki barang dan dia

mengetahui barang tersebut terdapat cacat, maka dia tidak boleh

menjualnya, sampai dia sendiri menjelaskan kepada pembeli bahwa barang

tersebut ada cacatnya. Namun jika dia tetap saja menjualnya dan tidak

menjelaskan cacat pada barang tersebut, maka sah jual belinya. Karena Nabi

Saw. Menasahkan jual beli susu dari hewan yang pentil susunya diikat agar

tampak isinya banyak (bai al-misrah) yang mengandung penipuan. Jika dia

(pembeli) tidak mengetahui cacat pada barang tersebut dan membelinya,

kemudian setelahnya mengetahuinya bahwa yang dibeli itu ternyata ada

cacatnya, maka dia mempunyai hak khiyar, yaitu apakah dia mau

meneruskannya jual beli itu atau mau membatalkanya.

Hanabi>lah berpendapat bahwa setiap penipuan dapat mempengaruhi

harga barang yang dijual, misalnya baial-misrah (pengertianya diatas dalam

pendapat Syafii >yah). Dalam keadaan demikian, maka dia berhak khiyar.

Adapun apabila tidak mempengaruhi harga, maka tidak mempunyai hak

khiyar. Alasanya adalah karena tidak ada kemudaratan didalamnya.

Ma>liki>yah berpendapat tidak diperbolehkan penipuan dalam baial-

mura>bahah (jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan

yang disepakati ) dan yang lainya. Jika hal ini terjadi, maka bagi pembeli

ada hak khiyar antara meneruskanya atau membatalkanya akad jual beli.

43

Akan tetapi jika apabila si pembeli tidak mengetahui bahwa barang yang

dibelinya itu ada cacatnya, maka jual beli dapat diteruskan.

Za>hiri>yah berpendapat jika penjual tidak menjelaskan perihal cacatnya

barang yang dijual kepada pembeli, kemudian si pembeli menemukanya,

maka baginya ada hak khiyar antara meneruskan atau membatalkan akad

jual beli. Jika ternyata si pembeli tidak menghiraukanya, maka akad dapat

diteruskanya. Karena alasanya si pembeli rela terhadap hal demikian.

Adapun perbedaan pendapat diantara mereka terjadi bilamana si

penjual menyembunyikan cacat pada barang, sedangkan si pembeli tidak

mengetahuinya. Maka dalam hal ini terdapat dua pendapat: 1.

Sesungguhnya jual beli tersebut hukumnya batal. Ini adalah pendapat Daud

al-Zhahiri dan Abu bakar dari ulama Hanabi>lah, 2. Jual beli itu hukumnya

sah, tapi berdosa. Tapi bagi si pembeli ada hak khiyar, jika cacat tersebut

dapat menyebabkan berkurangnya harga barang. Ini adalah pendapat

Hanafiyah, Syafii >yah, Imam Ahmad, dan Ma>liki>yah. Akan tetapi mereka

berbeda pendapat apabila cacatnya barang tersebut tidak menyebabkan

berkurangnya harga. Menurut Ma>liki>yah, dalam hal ini bagi pembeli ada

hak khiyar, sedangkan menurut ulama lainya tidak ada hak khiyar.68

68 Enang Hidayat, Fiqh Jual Beli (Bandung, PT Remaja Rosdakarya:2015), 139-144.

44

BAB III

FENOMENA JUAL BELI HEWAN LANGKA DAN PEMANFAATANNYA

UNTUK BAHAN BAKU KESENIAN REOG

A. Gambaran Umum Kabupaten Ponorogo

Kabupaten Ponorogo mempunyai luas 1.371,78 km. yang berbatasan

dengan, sebelah utara kabupaten Madiun, Magetan, Nganjuk, sebelah timur

Kabupateen Tulungagung,dan Trenggalek, sebelah selatan Kabupaten Pacitan

serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan dan Wonogiri

(jawa tengah). Ditinjau berdasarkan geografisnya, Kabupaten Ponorogo

dibagi menjadi dua sub area, yaitu area dataran tinggi yang meliputi

kecamatan Ngrayun, Sooko, Pudak, dan Ngebel. Sisanya merupakan dataran

rendah. Sungai yang melewati sebanyak 17 sungai dengan panjang antara 4

sampai dengan 58 km, yang digunakan sebagai sumber pengairan bagi

pertanian yang mayoritas menanam padi. Di Ponorogo sebagian besar

wilayahnya berupa area kehutanan dan lahan persawahan sedangkan sisanya

digunakan untuk tegal dan perkarangan. 69

B. Gambaran Umum Tentang Reog Ponorogo

Ponorogo yang dikenal sebagai kota yang berbudaya memiliki

kesenian asli daerah yaitu kesenian Reog, kesenian tradisional yang telah

lama hidup di daerah Ponorogo. Kesenian ini berkembang seiring dengan

perkembangan masyarakat di Ponorogo. Kesenian Reog berupa tarian yang

dimainkan oleh sekelompok orang. Ada yang membawa dadak merak,

69 Badan Perencanaan Daerah Ponorogo,Ponorogo Dalam Angka.2011

44

45

pemain jatil, penabuh gamelan, dan kelompok senggakan. Mereka bermain

dengan iringan gamelan dan teriakan senggakan. Kesenian khas ponorogo ini

dibawakan dengan sangat riang oleh pemainya. Ada beberapa versi

sehubungan dengan asal mula lahirnya Reog, namun secara umum legenda

Reog mengacu pada beberapa tokoh yang pernah berkuasa diwilayah

Ponorogo zaman dahulu. Legenda versi Bantarangin yang menyebutkan

empat tokoh penting dalam kesenian reog Ponorogo, yaitu Raja Kerajaan

Bantarangin bernama Klana Sewandana, patih kerajaan Bantarangin yang

bernama Pujangga Anom, sekelompok prajurit berkuda kerajaan Bantarangin,

dan Singa Barong yang merupakan penguasa hutan Lodaya.

Dari lahirnya kesenian Reog Ponorogo munculah sekelompok

masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin Reog yang turut serta

membangun pereonomian masyarakat Ponorogo. Pengrajin Reog ini memiliki

keunikan tersendiri yang menghasilkan seperangkat alat Reog dengan segala

accesoris yang juga mendorong petumbuhan ekonomi dan mengurangi

pengangguran. Selain itu juga berperan dalam pelestarian kesenian Reog yang

membawa nama Ponorogo sehingga dikenal masyarakat Indonesia hingga

masyarakat mancanegara. Perajin Reog, sebagai pelaku UKM penghasil reog

tentunya harus diperhatikan perkembangan usahanya baik secara kualitas dan

kuantitas, yang mampu memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi

daerah terbukti kerajinan Reog tersebut telah dapat diekspor ke berbagai

negara seperti Australia, Bangladesh, Filipina, dan lain-lain. Prospek

kerajinan Reog ini semakin menggembirakan karena seni Reog sekarang ini

46

merupakan salah satu andalan pariwisata Ponorogo berskala nasional bahkan

internasional. Kesuksesan reog sangat didukung oleh pengrajin reog, karena

merekalah yang membentuk dan mendesain reog dengan indah dan

mempesona. Jumlah pengrajin reog dari tahun ke tahun semakin bertambah

meskipun tidak terlalu besar.

Keadaan tersebut telah membawa angin segar bagi pengrajin Reog di

Ponorogo bagi kemajuan kerajinan Reog. Pemakaian bulu merak dan kulit

harimau asli sebagai bahan dasar pembuatan Dadak Merak merupakan

sifatnya yang khas. Satu unit Reog Ponorogo terdiri dari: Dadak Merak,

topeng reog (kepala macan), topeng klanasewandono, topeng bujangganong,

jaran kepang, pecut samandiman serta ragam busana penari dan penabuh

gamelan dengan segala atributnya. Harga satu unit Reog Ponorogo ini

berkisar 20 sampai 25 juta rupiah.

Kesenian Reog Ponorogo tidak hanya dipandang sebagai bentuk

kesenian pertunjukan semata, tetapi juga terkandung nilai filosofi yang

mendalam. Kesenian Reog Ponorogo mempunyai nilai nilai sebagai berikut:

1. Nilai kerohanian yang meliputi nilai dakwah, nilai kelestarian, nilai

kepercayaan, dan nilai magis.

a. Nilai dakwah, nilai ini digambarkan pada gamelan reog. Gamelan

dipakai saat Batara Katong menyebarkan agama islam ke masyarakat

Ponorogo yang mayoritas pada zaman dahulu beragama Hindu.

Gamelan Reog pada zaman wengker dahulu digunakan sebagai

pengiring pasukan perang dalam berlatih. Cara Raden Batara Katong

47

dalam menyebarkan agama islam tampak sama dengan cara yang

digunakan wali songo dalam berdakwah, khususnya Sunan Kalijogo

yang menggunakan media kesenian dalam dakwahnya.

b. Nilai kelestarian, yang mana nilai ini dapat dilihat dari strategi Batara

Katong untuk menakhlukan Ki Ageng Kutu, yaitu dengan melakukan

pendekatan kultural.

c. Nilai kepercayaan, yang mana nilai ini terlihat jelas pada perlengkapan

sembahyang dan doa yang telah menjadi tradisi dan persyaratan

sebelum dimulainya pertunjukan Reog.

d. Nilai kesejarahan, yang mana nilai ini terdapat pada sejarah dan asal-

usul berdirinya kabupaten Ponorogo yang menyatu dengan tokoh Batara

Katong yang melegenda. Keberadaan kesenian Reog dan wilayah

ponorogo tidak bisa terlepas dari tokoh sentral yaitu Raden Batara

Katong.

e. Nilai magis, yang mana nilai ini terlihat pada pemberian unsur magis

dalam setiap pertunjukan Reog. Unsur magis ini terutama terlihat pada

Barongan. Tujuan pemberian unsur magis ini adalah untuk menambah

daya kekuatan pembarong dan jga memberikan daya pijat bagi

masyarakat yang menonton.

2. Nilai spiritual.

a. Nilai budaya, yang mana didalam nilai ini terdapat unsur spiritual

kesenian reog yang memuat nilai-nilai jawa yang adiluhung. Kesenian

reog menjadi tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat.

48

b. Nilai keindahan, yang mana terlihat pada gerakan tari para pemain reog

pada saat memainkannya, keindahan dadak merak yang terbuat dari

bulu merak dan kepala barongan harimau, serta iringan gamelan yang

menambah suasana menjadi lebih indah.

c. Nilai moral, yang terungakap pada kesenian Reog , yang membangun

jiwa kebersamaan, menjalin kerukunan, menciptakan kegotong

royongan.

d. Nilai seni, yang dapat dilihat pada kesenian reog yang merupakan hasil

seni budaya masyarakat ponorogo. Dipandang sebagai seni panggung

dan pentas yang terus dikembangkan melalui pembinaan dan pengadaan

festival setiap tahunya.

e. Nilai simbolik, yang dapat dilihat dari suatu lambing peristiwa, dimana

pada saat itu Klono Sewandono melamar Dewi Songgolangit.

f. Nilai superioritas, terlihat pada kesenian Reog pada Warok yang sakti,

dan memiliki ilmu kanuragan serta mempunyai daya linuwih

dibandingkan orang lain.

3. Nilai kehidupan

a. Nilai kepahlawanan, terdapat pada warok yang dipandang sebagai

tokoh masyarakat yang memiliki beberapa kelebihan. Warok memiliki

ilmu yang tinggi, memiliki kesaktian/ kanuragan mempunyai sifat rela

berkorban, bertindak sebagai pengayom, dan tanpa pamrih.

49

b. Nilai keadilan, terdapat pada hakikat yang menjadi tujuan akhir

kesenian Reog. Pelaku kesenian mempunyai misi adil, tidak memihak

atau berat sebelah.

c. Nilai kesejahteraan, terlihat pada semua pemain dan semua pihak yang

terlibat pada kesenian Reog ini yang selalu menekankan nilai

kesejahteraan yang dimaknai dengan kehidupan yang tentram, aman,

dan makmur.

4. Nilai kesenangan

a. Nilai hiburan, terdapat pada kesenian reog yang memiliki daya tarik

yang menghibur penontonya. Reog yang dinamis, lucu, dan kadang kala

mendebarkan mampu memberikan kepuasan bagi penonton.

b. Nilai kompetisi, Reog mampu menghadirkan kemauan untuk

berkompetisi bagi grup Reog dalam suatu kesempatan yang saat ini

setiap tahunya diselenggarakan oleh pemerintah Ponorogo melalui

event Grebeg Suro.

c. Nilai ma