Joint Venture Di Indonesia

Download Joint Venture Di Indonesia

Post on 06-Dec-2015

23 views

Category:

Documents

15 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

joint venture

TRANSCRIPT

<p>Joint VentureOleh: Mega Aisyah Septiandara (1306403094)</p> <p>Joint venture dalam bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai perjanjian patungan. Secara istilah joint venture merupakan salah satu bentuk kegiatan menanam modal yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing melalui usaha patungan untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.[footnoteRef:1] [1: Bimo Prasetyo &amp; Niken Nathania, Pengaturan &amp; Pengawasan Joint Venture di Indonesia, (http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4da7214a4789f/pengaturan-dan-pengawasan-pelaksanaan-joint-venture), diakses pada 16 September 2015.] </p> <p>Menurut Undang-Undang Penanaman Modal, joint venture atau usaha patungan ini dikategorikan sebagai kegiatan penanaman modal asing (PMA).[footnoteRef:2] [2: Pasal 1 huruf (c) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU Penanaman Modal).] </p> <p>Menurut Peter Mahmud, joint venture merupakan suatau kontrak antara dua perusahaan untuk membentuk suatu perusahaan baru. Perusahaan baru inilah yang kemudian disebut perusahaan joint venture.[footnoteRef:3] [3: Peter Mahmud, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 222.] </p> <p>Menurut Erman Rajagukguk, joint venture merupakan suatu kerja sama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional berdasarkan suatu perjanjian (kontraktual).[footnoteRef:4] [4: Erman Rajagukguk, Indonesianisasi Saham, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hal. 68.] </p> <p>Menurut Sunarjati Hartono, joint venture adalah suatu istilah yang diberikan secara khusus untuk suatu bentuk kerjasama tertentu antara pemilik modal nasional (swasta atau Perusahaan Negara) dan pemilik modal asing.[footnoteRef:5] [5: Sunarjati Hartono, Masalah-masalah Joint Ventures Antara Modal asing dan modal Indonesia, (Bandung: Alumni, 1974), hal. 5.] </p> <p>Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat kita ketahui unsur-unsur yang terdapat dalam joint venture ialah:1. Kerja sama antara pemilik modal asing dan nasional2. Membentuk perusahaan baru antara pengusaha asing dan nasional3. Didasarkan pada kontraktual atau perjanjianNamun, pada kenyataannya poin ke satu dan ke dua terlalu sempit, karena kontrak joint venture tidak hanya antara pengusaha asing dan nasional, tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam,[footnoteRef:6] yaitu: [6: Budiarta &amp; Kustoro, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Mitra Wacana, 2010), hal. 43.] </p> <p>1. joint venture domestic, terjadi antara dua perusahaan domestik, yaitu perusahaan yang terdapat di dalam negeri, pada umumnya antara pemerintah daerah/BUMD dengan pihak swasta.2. joint venture international, apabila salah satu dari perusahaan itu adalah perusahaan asing.Poin ketiga menunjukkan bahwa joint venture adalah suatu perjanjian, maka harus memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian menurut ketentuan pasal 1320 KUH Perdata. Namun dalam pengaturan joint venture tersebut berada diluar KUH Perdata, karena joint venture termasuk dalam perjanjian yang tidak bernama serta tidak diatur dalam KUH Perdata.Ada 2 (dua) sifat khas penanaman modal asing, menurut Robert Gilpin,[footnoteRef:7] yaitu: [7: Robert Gilpin, Foreign Direct Investment, (New York: Basic Books, 1975), hal. 291. ] </p> <p>a. Perusahaan multi/transnasional (PMN/PTN) melakukan penanaman modal langsung di negara-negara asing (Foreign Direct Investment, FDI), melalui pendirian anak atau cabang perusahaan atau pengambilalihan sebuah perusahaan asing, dengan sasaran melakukan pengawasan manajemen terhadap suatu unit produksi di suatu negara asing, yang berbeda dengan penanaman modal fortofolio pembelian saham dalam suatu perusahaan. b. Suatu PMN ditandai dengan adanya perusahaan induk dan sekelompok anak perusahaan atau cabang perusahaan di berbagai negara dengan satu penampung bersama sumber-sumber manajemen, keuangan dan teknik dengan integrasi vertikal dan sentralisasi pengambilan keputusan. Ditinjau dari negara yang terkait dalam PMN, maka ada 2 (dua) negara yang terkait yaitu negara asal investasi (home state) dengan negara tuan rumah (host state) atau negara yang merupakan pusat PMN (home country) dengan negara lain yang merupakan tempat perusahaan tersebut melakukan operasi atau kegiatanya (host country).Pemerintah mengoordinasi kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi Pemerintah dengan Bank Indonesia, antar instansi Pemerintah dengan pemerintah daerah, maupun antar pemerintah daerah.[footnoteRef:8] Koordinasi pelaksanaan kebijakan penanaman modal ini dilakukan oleh Badan Kepala Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). BKPM merupakan lembaga independen non-departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Presiden kemudian menetapkan Peraturan Presiden No. 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 3 September 2007 (Perpres No. 90/2007). [8: Salim H. S. dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 54.] </p> <p>Sesuai dengan Pasal 28 UU Penanaman Modal dan Pasal 2 Perpres No. 90/2007, maka BKPM memiliki tugas utama untuk melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan kewenangan yang diberikan kepadanya, BKPM mengeluarkan Peraturan Kepala BKPM No. 13 Tahun 2009 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal pada 23 Desember 2009 (Perka BKPM No. 13/2009). Pengendalian Pelaksanaan Modal ini dimaksudkan untuk melaksanakan pemantauan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penanaman modal sesuai dengan hak, kewajiban, dan tanggung jawab penanam modal.Ciri ciri khas joint venture antara lain: Perusahaan baru yang didirikan oleh beberapa perusahaan lain secara bersama-sama, Modalnya berupa saham yang disediakan oleh perusahaan pendiri dengan perbandingan tertentu, Kekuasaan dan hak suara didasarkan pada banyak saham masing-masing perusahaan pendiri, Memiliki eksistensi dan kebebasan masing-masing, Kerjasama antara perusahaan domestik dan asing, dan Resiko ditanggung secara bersama-sama. Joint venture harus memiliki bentuk hukum PT (Perseroan Terbatas). joint venture dipimpin oleh Dewan Direktur yang dipilih oleh para pemegang saham.[footnoteRef:9] [9: Lihat catatan kaki No. 1 Bab IV dart Sunarjati Hartono, Beberapa Masalah Transnasional Dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia, (Jakarta: Binacipta, 1972), hal. 127.] </p> <p>Pembentukan joint venture[footnoteRef:10] [10: Sunarjati Hartono, op. cit., hal. 19.] </p> <p>1. Persyaratan Masing-Masing Pihak dalam Perjanjian joint venturea. Persyaratan bagi BUMD/Perusahaan Daerah BUMD/Perusahaan Daerah yang dapat mengadakan kerjasama dengan Pihak Ketiga harus memenuhi syarat-syarat: Mempunyai status hukum Perusahaan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Mempunyai proposal dan pra studi kelayakan tentang prospek usaha yang menjadi obyek kerjasama; Mempunyai bukti pemilikan secara sah atas kekayaan Perusahaan Daerah yang akan dijadikan obyek kerjasama.b. Persyaratan Bagi Pihak Ketiga Pihak Ketiga yang berbentuk Badan Usaha/Perorangan dan akan mengadakan kerjasama dengan Perusahaan Daerah harus memenuhi syarat sebagai berikut: Memiliki status hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia; Memiliki NPWP; Lembaga/swasta asing harus mendapat ijin/rekomendasi dari pejabat berwenang dan tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku; Memiliki bonafiditas dan kredibilitas; Pihak Ketiga yang berbentuk badan usaha yang melakukan kerjasama usaha patungan menyampaikan Laporan Keuangan secara lengkap 3 (tiga) tahun terakhir yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. . Bagi perusahaan patungan yang baru dibentuk harus menyampaikan Laporan Keuangan secara lengkap dari salah satu unsur perusahaan induk.2. Isi Materi dan Sifat Perjanjian Kerjasama joint venture antara BUMD dengan SwastaPada dasarnya suatu perjanjian kerjasama joint venture memiliki sedikit perbedaan dengan perjanjian pada umumnya, dimana untuk perjanjian joint venture antara BUMD dengan Pihak Ketiga terdapat hal-hal yang wajib dipatuhi dalam rangka pengadaan kerjasama tersebut seseuai dengan Peraturan Perundang-undangan.a. Isi Materi PerjanjianMeskipun berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata menjelaskan bahwa pada dasarnya suatu isi atau materi perjanjian ditentukan oleh masing-masing Pihak dalam perjanjian tanpa ada paksaan, akan tetapi berbeda halnya dengan Perjanjian joint venture antara BUMD dengan Pihak swasta. Perjanjian joint venture antara BUMD dengan Pihak Ketiga (yang dalam hal ini Pihak swasta) mempunyai standard tersendiri mengenai isi materi yang diatur oleh Peraturan Perundang-undangan agar dapat dilaksanakan, meskipun pada dasarnya pengaturan isi materi tersebut tidak jauh beda dengan isi materi suatu Perjanjian joint venture pada umumnya.Hal-hal yang diatur dalam perjanjian kerjasama harus meliputi: Maksud dan tujuan, subyek, bentuk dan lingkup kerjasama, wilayah, jangka waktu, jaminan pelaksanaan, masa transisi, hak dan kewajiban para pihak, kewajiban asuransi, keadaan memaksa (force majeur), pengakhiran, penyelesaian sengketa, perpajakan, masa berlakunya perjanjian kerjasama, dan lain-lain yang diperlukan. Serta, perjanjian kerjasama yang dimaksud dibuat dengan Akte Notaris dan mendapatkan persetujuan prinsip dari Kepala Daerah.b. Sifat PerjanjianSuatu isi perjanjian kerjasama joint venture antara BUMD dengan Pihak Ketiga harus dapat menjamin: Peningkatan efisiensi dan produktivitas Perusahaan Daerah atau peningkatan Pelayanan kepada masyarakat; Peningkatan pengamanan modal / asset Perusahaan Kerjasama harus saling menguntungkan bagi kedua belah pihak; Peranan dan tanggung jawab masing-masing pihak dikaitkan dengan resiko yang mungkin terjadi, baik dalam masa kerjasama maupun setelah berakhirnya perjanjian kerjasama.3. Laba / Hasil UsahaBagian laba atau hasil usaha kerjasama BUMD/Perusahaan Daerah dengan Pihak Ketiga yang menjadi hak Perusahaan yang diperoleh selama tahun anggaran Perusahaan, dibukukan dengan prinsip-prinsip akuntansi Indonesia.4. Berakhirnya Perjanjian dan ProsedurnyaPada dasarnya berakhirnya kerjasama joint venture antara BUMD dengan Pihak Ketiga dapat dilakukan dengan cara: kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kerjasama sebelum jangka waktu berakhir; terjadinya wan prestasi oleh satu pihak yang dapat mengakibatkan pemutusan perjanjian kerjasama; jangka waktu kerjasama telah berakhir.Sedangkan dalam hal berakhirnya perjanjian joint venture antara BUMD /Perusahaan Daerah dengan Pihak Ketiga diatur sedemkian rupa prosedurnya, yaitu meliputi: Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum perjanjian tersebut berakhir, kedua belah pihak harus melakukan penelitian dan evaluasi bersama terhadap asset dan hutang piutang yang berhubungan dengan pelaksanaan usaha kerjasama; Untuk membantu pelaksanakan penelitian dan evaluasi, Direksi dapat membentuk Tim Peneliti dan Penilai yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dan Konsultan ahli dibidangnya; Berakhirnya kerjasama selanjutnya dituangkan dalam Berita Acara dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak.Hak dan kewajiban penanam modal, khususnya penanaman modal asing telah ditentukan dalam Pasal 8, Pasal 10, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Hak investor asing, disajikan berikut ini:a. Mengalihkan aset yang dimilikinya kepada pihak yang diinginkannya;b. Melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing.Hak transfer merupakan suatu perangsang untuk menarik penanam modal asing. Repatriasi (pengiriman) dengan bebas dalam bentuk valuta asing, tanpa ada penundaaan yang didasarkan pada perlakuan non diskriminasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak-hak transfer dan repatrisiasi ini, meliputi:1. Modal;2. Keuntungan, bunga bank, deviden, dan pendapatan lainnya;3. Dana-dana yang diperlukan, untuk a) Pembelian bahan baku dan penolong, barang setengah jadi atau barang jadi; atau b) Penggantian barang modal dalam rangka untuk melindungi kelangsungan hidup penanaman modal;4. Tambahan dana yang diperlukan bagi pembiayaan penanaman modal;5. Dana-dana untuk pembayaran kembali pinjaman;6. Royalti atau biaya yang harus dibayar;7. Pendapatan dari perseorangan Warga Negara Asing yang bekerja dalam perusahaan penanaman modal;8. Hasil penjualan atau likuidasi penanaman modal;9. Kompensasi atas kerugian;10. Kompensasi atas pengambilalihan;11. Pembayaran yang dilakukan dalam rangka: bantuan teknis, biaya yang harus dibayar untuk jasa teknik dan manajemen, pembayaran yang dilakukan di bawah kontrak proyek, dan pembayaran hak atas kekayaan intelektual.12. Hasil penjualan aset.</p> <p>Hak ini, tidak mengurangi kewenangan pemerintah untuk: Memberlakukan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mewajibkan pelaporan pelaksanaan transfer dana; Mendapatkan pajak dan/atau royalti dan/atau pendapatan pemerintah lainnya dari penanaman modal;c. Menggunakan tenaga ahli Warga Negara Asing untuk jabatan dan keahlian tertentu;d. Mendapat kepastian hak, hukum, dan perlindungan;e. Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya.f. Hak pelayanan.g. Berbagai bentuk fasilitas kemudahan.Kewajiban penanaman modal, khususnya investor asing telah ditentukan dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, meliputi:a. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik; Sistem tatakelola organisasi perusahaan yang baik ini menuntut dibangunnya dan dijalankannya prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (GCG) dalam proses manajerial perusahaan. Dengan mengenal prinsip-prinsip yang berlaku secara universal ini diharapkan perusahaan dapat hidup secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi para stakeholder-nya.b. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan; Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) mungkin masih kurang popular dikalangan pelaku usaha nasional. Namun, tidak berlaku bagi pelaku usaha asing. Kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan secara sukarela itu, sudah biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional ratusan tahun lalu. Penjelasan Pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Pelaksanaan CSR yang baik dan benar sesuai dengan aturan hukum yang berlaku akan berimplikasi pada iklim penanaman modal yang kondusif. Untuk bisa mewujudkan CSR setiap pelaku usaha (investor) baik dalam maupun asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI wajib melaksanakan aturan dan tunduk kepada hukum yang berlaku di Indonesia, sebaliknya pemerintah sebagai regulator wajib dan secara konsisten menerapkan aturan dan sanksi apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak melaksanakan CSR sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.c. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampa...</p>