jambi independent | 04 maret 2011

Click here to load reader

Post on 10-Mar-2016

385 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

epaper Jambi Independent

TRANSCRIPT

  • ECERAN RP. 3.500,-jumAt, 04 mAREt 2011

    Dua petak ruangan kecil di rumah Maryani, kawasan Notoyudan,

    Jogjakarta, kalau malam disulap menjadi tempat salat. Beberapa ruangan di belakang rumahnya juga difungsikan sebagai kamar bagi teman-temannya yang da-

    tang untuk belajar agama. Siapa sangka, rumah sederhana itu

    kini menjadi pondok pesantren khusus waria.

    AINUR ROHMAH, Jogjakarta

    PONDOK pesantren itu diberi nama Ponpes Waria Al-Fatah Senin-Kamis, Notoyudan. Mulai beroperasi pada 2008

    ketika pendirinya, Maryani, mendapat pengalaman-pengalaman yang meng-gelisahkan batin. Misalnya, selama ini kaum waria sulit beribadah di tempat ibadah pada umumnya. Ponpes um-umnya mungkin akan menolak waria yang hendak beribadah. Karena itu, saya mendirikan pondok ini untuk memberikan tempat bagi waria untuk beribadah. Apalagi saya mendapat dukungan kiai yang bersedia me ngajari kami, terang Maryani ketika ditemui Jogja Raya (Jawa Pos Group) pekan lalu.

    Pondok itu diberi nama Al-Fatah Senin-Kamis semata-mata untuk mengajak

    Maryani dan Pondok Pesantren Khusus Waria di Jogjakarta

    Mencari Sangu sebelum Naik Keranda

    Saksi Beberkan Keterlibatan Bupati Sidang SengketaPilkada Tanjab Timur

    JAKARTA - Sidang lanjutan seng keta Pemilihan Kepala Daer-ah (Pilkada) Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur), Provinsi Jambi, kembali digelar di Mah-kamah Konstitusi (MK), kemarin (3/3). Di hadapan majelis hakim yang diketuai Ahmad Sodiki, para

    saksi yang diajukan penggugat, JuberIsroni (Jerni) membe-berkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan pasangan Zumi Zola Zulkifli-Ambo Tang.

    Kecurangan-kecurangan terse-but di antaranya, soal money politic (politik uang), intimidasi dan keterlibatan pejabat pemer-intah Kabupaten (Pemkab) Tan-jabtimur. Saksi Mulyadi, misal-nya. Kepada majelis hakim, dia

    mengungkapkan bahwa dirinya bersama tiga orang rekannya dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), panwaslu, dan intel kepoli-sian menemukan adanya indikasi money politic di Desa Merbau, Kecamatan Mendahara.

    Kami menemukan telah ter-jadi pembagian uang oleh sau-dara Nurdin, kepada 20 orang warga. Satu orang mendapat Rp 100 ribu. Ini saya ketahui setelah

    menginterogasi salah seorang warga yang menerima uang tersebut, katanya.

    Selain itu, Mulyadi juga mem-benarkan tudingan penggugat sebelumnya yang mengatakan adanya intimidasi dari Camat Mendahara, kepada Ketua Pan-waslu Kecamatan tersebut un-tuk memenangkan pasangan Zumi Zola Zulkifli-Ambo Tang. Kebetulan pagi itu saya be-

    rada di rumah ketua panwaslu. Intimidasi dilakukan melalui percakapan menggunakan HP (handphone) antara ketua panwaslu dengan pak ca-mat. Saya tahu kalau dia Camat Mendahara dari suara dan no-mor kontaknya, jelas Mulyadi meya-kinkan hakim.n

    Kajati Janji Sikat Pejabat Unja

    Jika Terbukti Melakukan Tindak Pidana Korupsi

    sementara itu...

    JAMBI - Zulkifli Somad, mantan ketua DPRD Kota Jambi yang tersandung kasus dugaan ko-rupsi/pemerasan terhadap direktur CV Usaha Sehat Bersama (USB), dituntut lima tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU). Tun-tutan ini lebih tinggi setahun dibandingkan rekannya, Ridwan Wahab yang sebelumnya dituntut empat tahun penjara.

    Pembacaan tuntutan Zulkifli Somad ini dibacakan dalam sidang Pengadilan Negeri (PN) Jambi, sekitar pukul 12.25, kemarin (3/3). Selain hukuman penjara lima tahun, Zul Somadsapaan Akrab Zulkifli Somadjuga dikenakan denda sebesar Rp 200 juta dengan subsider empat bulan kurungan. Subsider ini diterapkan, jika politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu tidak membayar denda.

    Menurut JPU Nova dan Evrin, Zul Somad terbukti secara sah melanggar pasal 12 huruf e Undang-Undang No 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi.n

    Zul Somad Dituntut 5 Tahun Penjara

    JAMBI - Pengusutan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan gedung Pascasarjana Universitas Jambi (Unja) dan pengelolaan dana mahasiswa terus berlanjut. Kepala Kejaksaan Tinggi (Ka-jati) Jambi BD Nainggolan, kepada Jambi Independent menegaskan, pihaknya tidak akan main-main dalam menangani kasus tersebut.

    Menurut orang nomor satu di Kejak-saan Tinggi (Kejati) Jambi itu, laporan masyarakat tersebut kini tengah diproses oleh penyidik untuk mencari alat bukti. Dia berjanji akan menyikat pejabat Unja dan pihak terkait lainnya jika dalam penyelidikan terbukti ada korupsi da-lam dua kasus tersebut. Sekarang kita mencari alat bukti dan puldata. Kalau terbukti ada tindak pidana, kita sikat, tegasnya.n

    para santri banyak beribadah. Salah satunya dengan puasa setiap Senin-Kamis. Karena itu, pondok ini saya na-makan Pondok Al-Fatah Senin-Kamis, tuturnya.

    Awal didirikan, ponpes tersebut memi-liki 35 santri. Yang mondok bukan hanya kaum transgender. Ada pula kaum gay dan lesbian. Tapi, sekarang hanya tinggal 20 waria yang aktif. Teman-teman gay dan lesbian sudah tidak ada, ungkap waria 51 tahun yang membuka salon di rumahnya tersebut.

    Selain Jogja, waria-waria yang men-jadi santri di Ponpes Al-Fatah datang dari berbagai kota di Indonesia. Di antaranya, Surabaya, Mataram, Medan, dan Bandung.

    Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.n

    tEmPAt SINGGAH: maryani dan ponpes khusus waria yang dia dirikan di jogja-karta. AINuR ROHmAH/jPNN

    Sekarang kita mencari alat bukti dan puldata. Kalau terbukti ada tindak pidana, kita sikat.

    Kajati jambiBD Nainggolan

    Jambi Belum Cairkan Dana BOSMA Lipatgandakan Hukuman Anggodo

    JAKARTA - Mahkamah Agung (MA) rupanya geregetan dengan Anggodo Widjojo. Dalam putusan kasasi, terdakwa kasus mengha-langi penyidikan dan percobaan suap terh-

    adap pimpinan K o m i s i P e m -berantasan Ko-rupsi (KPK) ini diganjar pidana sepuluh tahun dan denda Rp 250 juta sub-sider lima bulan kurungan.

    Permohonan kasasi Anggodo d i t o l a k M A karena semua pasal-pasal yang

    menjeratnya terbukti, kata anggota majelis kasasi hakim ad hoc tipikor MA Krisna Hara-hap saat dikonfirmasi kemarin (3/3). Majelis hakim kasasi terdiri atas Artijo Alkostar, Krisna Harahap, MS Lumme, Surya Jaya, dan Abdul Latief.n

    Mendiknas Ultimatum Bupati-Wali Kota

    JAKARTA - Kening Mendiknas M. Nuh se-makin berkerut. Sebab, dia mendapati data tentang masih banyaknya kabupaten/kota yang tidak menyalurkan dana bantuan opera-sional sekolah (BOS). Di Jawa Timur (Jatim), tercatat separo lebih kabupaten/kota yang belum menyalurkan dana BOS.

    Berdasar data di Kemendiknas, hingga ke-marin (3/3) pukul 11.00 ada 96 kota/kabupaten se-Indonesia yang melapor sudah menyalurkan dana BOS. Sisanya, 401 kabupaten/kota, masih nggandoli dana untuk biaya operasional pen-didikan tersebut. Itu tidak bisa dibiarkan. Harus cepat diselesaikan, kata Nuh, kemarin.

    Nuh merinci, ada tujuh provinsi yang selu-ruh kabupaten/kotanya belum menyalurkan dana BOS. Yakni, Jambi, Sumatera Utara, Riau, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Papua Barat.

    Khusus di Jatim, Nuh menyesalkan langkah lebih dari separo kabupaten/kota yang belum mengucurkan dana BOS itu. Baru 15 kabu-paten/kota di Jatim yang sudah menyalurkan dana bantuan tersebut.n

    Baca jambi hal 2

    Baca Kajati hal 2

    DuGAAN KORuPSI: Cek malina, Benda-hara Penerimaan Rektorat unja.

    LEBIH tINGGI: Zulkifli Somad usai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri jambi, kemarin (3/3).EDDY juNAEDY/jAmBI INDEPENDENt

    DjA

    tm

    IKO

    /jAm

    BI IN

    DE

    PE

    ND

    EN

    t

    DjAtmIKO/jAmBI INDEPENDENt

    Baca mA hal 2

    Baca Saksi hal 2

    Anggodo Widjojo

    EDDY juNAEDY/jAmBI INDEPENDENt

    Baca Zul hal 2

    Baca mencari hal 2

  • Jambi IndependentJumat, 04 Maret 2011

    Mencari Sangu sebelum Naik Keranda ----------------------------------dari hal 1Ada yang bekerja sebagai

    perias pengantin, penata rambut di salon, pegawai PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), pera-jin perak, aktif di LSM, dan sebagainya. Tapi, ada juga yang masih senang keluar malam.

    Mereka memang tidak men-etap di rumah Maryani yang tidak begitu besar. Namun, setiap hari mereka datang ke pondok Maryani mulai pukul 17.00 hingga esoknya. Selama di pondok itulah mereka diajak menjalankan ibadah bersama-sama. Misal-nya, salat berjamaah, belajar membaca Alquran, dan salat malam. Ketika magrib, kami salat berjamaah, dilanjutkan membaca salawat nariyah, Al Fatihah 100 kali, lalu salat Isya dan belajar membaca Alquran mulai alif, ba, ta, jelas Maryani.

    Menurut dia, waria yang da-tang ke pondok tidak dipun-gut biaya sepeser pun. Untuk biaya operasional, Maryani menggunakan tabungannya dari hasil usaha salon rias pengantin serta sumbangan dermawan yang datang untuk bertamu. Tapi, kadang saya harus ngutang ngalor-ngidul (mencari utang kesana-ke-mari, Red). Gak apa-apa. Yang penting pondok jalan.

    Selain kegiatan rutin tiap hari, Maryani dan para sant-ri sering melakukan bakti sosial di lokasi bencana alam. Misalnya, saat Gunung Mera-pi meletus tahun lalu. Ponpes Al-Fatah mengirimkan 20 waria yang ahli di bidang

    pangkas rambut. Mereka bertugas di posko penampun-gan korban. Tugasnya, antara lain, memotong rambut para pengungsi, ceritanya.

    Bakti sosial itu dilakukan Maryani dan kawan-kawan di beberapa tempat penam-pungan pengungsi di Mage-lang. Alhamdulillah, selama kegiatan, kami bisa mencukur sekitar 250 pengungsi. Karena yang kami miliki keahlian memotong rambut, ya itu yang bisa kami sumbangkan, ujarnya.

    Keunikan ponpes Mary-ani ternyata mengundang rasa penasaran berbagai pihak. Selain media massa, para peneliti asing sering bertandang. Di antaranya datang dari Prancis, Jerman, dan Belanda. Mungkin pon-dok kami satu-satunya yang pernah ada di dunia. Karena itu, orang-orang asing terse-but ingin tahu seperti apa isinya, tambah waria murah senyum itu.

    Di Jogja, saat ini terdapat sekitar 200 waria. Kebanyakan b