issn

7
ISSN. 1978-4724 Jurnal Kewirausahaan Volume 5 Nomor 2, Desember 2011 PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY OLEH YULIA SETYARINI MELVIE PARAMITHA JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS) Peranan Audit Intern Sebagai Strategic Business Partner di PT. Pertani (Persero) Wilayah Sumatera Bagian Selatan VOL. 1 NO. 1 JANUARI 2011 PERANAN AUDIT INTERN SEBAGAI STRATEGIC BUSINESS PARTNER DI PT. PERTANI (PERSERO) WILAYAH SUMATERA BAGIAN SELATAN Muhammad Hidayat Politeknik PalComTech Palembang Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 8 Desember 2006 REGULATORY DRIVEN DALAM IMPLEMENTASI PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA Joni Emirzon Tenaga Pengajar dan Ketua Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya JURNAL HUKUM NO. 2 VOL. 15 APRIL 2008: 182 - 205 Kegagalan Penerapan Good Corporate Governance Pada Perusahaan Publik Di Indonesia Oleh: Djohari Santosa Dosen FH UII Yogyakarta e-mail:[email protected]

Upload: bastian

Post on 01-Oct-2015

220 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

akuntansi

TRANSCRIPT

ISSN. 1978-4724 Jurnal Kewirausahaan Volume 5 Nomor 2, Desember 2011 PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY OLEH YULIA SETYARINI MELVIE PARAMITHA

JURNAL EKONOMI DAN INFORMASI AKUNTANSI (JENIUS)Peranan Audit Intern Sebagai Strategic Business Partner di PT. Pertani (Persero)Wilayah Sumatera Bagian SelatanVOL. 1 NO. 1JANUARI 2011PERANAN AUDIT INTERN SEBAGAI STRATEGIC BUSINESSPARTNER DI PT. PERTANI (PERSERO)WILAYAH SUMATERA BAGIAN SELATANMuhammad HidayatPoliteknik PalComTech Palembang

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 8 Desember 2006REGULATORY DRIVEN DALAM IMPLEMENTASI PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA Joni Emirzon Tenaga Pengajar dan Ketua Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

JURNAL HUKUM NO. 2 VOL. 15 APRIL 2008: 182 - 205Kegagalan Penerapan Good CorporateGovernance Pada Perusahaan PublikDi IndonesiaOleh: Djohari SantosaDosen FH UII Yogyakartae-mail:[email protected]

INSPEKTORATKEDUDUKANInspektorat adalah unsur pengawasan yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Kepala BKN.TUGASInspektorat mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan tugas rutin dan pembangunan di lingkungan BKN.FUNGSIDalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Inspektorat menyelenggarakan fungsi :1. penyiapan petunjuk pemeriksaan di bidang personil, keuangan, perlengkapan, pelaksanaan tugas dan fungsi BKN; 1. pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di bidang personil, keuangan, perlengkapan, pelaksanaan tugas dan fungsi BKN; 1. pemeriksaan pembukuan dan laporan pelaksanaan program dan anggaran BKN; 1. penyiapan saran dan pemantauan tindak lanjut penyelesaian hasil pengawasan dan pemeriksaan; 1. pelaksanaan pengusutan, pemeriksaan atas adanya laporan, pengaduan, penyimpangan, penyalahgunaan jabatan, atau wewenang dan menyiapkan usulan tindakan terhadap pegawai BKN yang terbukti melakukan perbuatan tercela atau yang terbukti melakukan tindak pidana; 1. membina kerja sama dan melakukan koordinasi dengan aparat pengawasan fungsional instansi lain mengenai pelaksanaan pengawasan pada umumnya; 1. penyusunan dan penyiapan laporan hasil pengawasan dan pemeriksaan; 1. melaksanakan tugas-tugas lain sesuai petunjuk Kepala BKN; 1. pelaksanaan tata usaha pada Inspektorat.

Etika Dalam Auditing (independensi, tanggung jawab auditordll)Pengertian Etika Berdasarkan BahasaMenurut bahasa Yunani Kuno, etika berasal dari kata ethikos yang berarti timbul dari kebiasaan. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika/Auditing adalah suatu proses dengan apa seseorang yang mampu dan independent dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti dari keterangan yang terukur dari suatu kesatuan ekonomi dengan tujuan untuk mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari keterangan yang terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.Etika dalam auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut, serta penyampaian hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.IndependensiIndependensi adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain (Mulyadi dan Puradireja, 2002: 26).Dalam SPAP (IAI, 2001: 220.1) auditor diharuskan bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan di dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern).Terdapat tiga aspek independensi seorang auditor, yaitu sebagai berikut.(1) Independence in fact (independensi dalam fakta)Artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas.(2) Independence in appearance (independensi dalam penampilan)Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit.(3) Independence in competence (independensi dari sudut keahliannya)Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor.Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat. Baik dalam hal auditor menyatakan pendapat maupun menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia mengharuskan auditor menyatakan apakah, menurut pendapatnya, laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan jika ada, menunjukkan adanya ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.Perbedaan tanggung jawab auditor independen dengan tanggung jawab manajemen. Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.1 Oleh karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, namun bukan mutlak, bahwa salah saj i material terdeteksi.2 Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang tidak material terhadap laporan keuangan.Auditor adalah seseorang yang memiliki kualifikasi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dan kegiatan suatu perusahaan atau organisasi.Tanggung Jawab AuditorThe Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal dari Auditing Practices Board, ditahun 1980, memberikan ringkasan (summary) tanggung jawab auditor:1. Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjannya.1. Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.1. Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk memberikan kesimpulan rasional.1. Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu dan melakukan compliance test.1. Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor melaksanakan tinjau ulang laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan keuangan.Opini AuditorMunawir (1995) terhadap hasil audit memberikan beberapa pendapat sepotong-sepotong auditor, antara lain:1. Pendapat Wajar Tanpa Bersyarat. Pendapat ini hanya dapat diberikan bila auditor berpendapat bahwa berdasarkan audit yang sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan adalah sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU), tidak terjadi perubahan dalam penerapan prinsip akuntansi (konsisten) dan mengandung penjelasan atau pengungkapan yang memadai sehingga tidak menyesatkan pemakainya, serta tidak terdapat ketidakpastian yang luar biasa (material).1. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian. Pendapat ini diberikan apabila auditor menaruh keberatan atau pengecualian bersangkutan dengan kewajaran penyajian laporan keuangan, atau dalam keadaan bahwa laporan keuangan tersebut secara keseluruhan adalah wajar tanpa kecuali untuk hal-hal tertentu akibat faktor tertentu yuang menyebabkan kualifikasi pendapat (satu atau lebih rekening yang tidak wajar).1. Pendapat Tidak Setuju. Adalah suatu pendapat bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar keadaan keuangan dan hasil operasi seperti yang disyaratkan dalam Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU). Hal ini diberikan auditor karena pengecualian atau kualifikasi terhadap kewajaran penyajian bersifat materialnya (terdapat banyak rekening yang tidak wajar).1. Penolakan Memberikan Pendapat. Penolakan memberikan pendapat berarti bahwa laporan audit tidak memuat pendapat auditr. Hal ini bisa diterbitkan apabila: auditor tidak meyakini diri atau ragu akan kewajaran laporan keuangan, auditor hanya mengkompilasi pelaporan keuangan dan bukannya melakukan audit laporan keuangan, auditor berkedudukan tidak independent terhadap pihak yang diauditnya dan adanya kepastian luar biasa yang sangat mempengaruhi kewajaran laporan keuangan.1. Pendapat Sepotong-sepotong. Auditor tidak dapat memberikan pendapat sepotong-sepotong. Hasil auditnya hanya akan memberikan kesimpulan bahwa laporan keuangan yang diaudit secara keseluruhan.Dalam praktek sehari-hari, tidak jarang ditemukan kesalahpahaman klien yang menganggap laporan keuangan adalah merupakan tanggung jawab auditor sepenuhnya karena merupakan produk dari hasil pekerjaan auditor. Dalam proses penerbit audit report, auditor memang sering membantu klien mempersiapkan draft laporan keuangan, sebagaian ataupun seluruhnya, sehingga klien menganggap bahwa laporan keuangan adalah merupakan tanggung jawab auditor.