islam sebagai way of life - ?· bersifat universal, rahmatan lil alamin, ... islam secara tegas...

Download ISLAM SEBAGAI WAY OF LIFE -  ?· bersifat universal, rahmatan lil alamin, ... Islam secara tegas formal sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad ini baru terjadi pada periode Madinah,

Post on 02-Feb-2018

230 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    ISLAM SEBAGAI WAY OF LIFE

    Oleh: Saiful Amien, M.Pd1

    A. PENGERTIAN ISLAM

    Secara etimologis

    Kata `Islam berasal dari bahasa Arab. Akar katanya s-l-m ( ). Kata kerja

    bentuk pertamanya ialah salima ( ), artinya merasa aman, utuh dan integral.

    Kata kerja bentuk pertama ini tidak digunakan dalam al-Qur`an, tetapi ungkapan-

    ungkapan bahasa tertentu dari akar kata itu seringkali digunakan. Di antaranya ialah

    kata silm ( ) dalam surat al-Baqarah ayat 208 yang berarti damai; salam ( ) dalam

    surat az-Zumar ayat 29, dengan arti utuh sebagai lawan dari pemilahan-pemilahan

    dalam bagian-bagian yang bertentangan, juga dalam surat an-Nisa` ayat 91 yang juga

    digunakan dalam pengertian damai. Dengan demikian kata tersebut dalam al-Qur`an

    seringkali digunakan dengan makna damai, aman atau ucapan salam2.

    Kata kerja bentuk keempatnya ialah aslama ( ), artinya ia menyerahkan

    dirinya atau memberikan dirinya. Sering digunakan dalam ungkapan aslama

    wajhahu (ia menyerahkan pribadi atau dirinya) yang diikuti dengan lillah (kepada

    Tuhan)3. Ada pendapat lain yang menambahkannya dengan arti memelihara dalam

    keadaan selamat sentosa, tunduk patuh dan taat4. Kata `islam merupakan verbal noun

    (mashdar; kata benda verbal) dari bentuk keempat ini, yang berarti penyerahan yang

    sesungguhnya atau keberserahan diri yang amat sangat, ketundukan dan ketaatan.

    Muncul dalam al-Qur`an sebanyak enam kali5.

    Dengan pengertian kebahasaan tersebut, kata Islam dekat dengan arti kata

    agama (ad-Din) yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan dan

    kebiasaan6. Senada dengan itu Nurcholis Madjid menegaskan bahwa sikap pasrah

    kepada Tuhan merupakan hakikat Islam. Sikap ini tidak saja merupakan ajaran Tuhan

    kepada hamba-Nya, tetapi ia diajarkan oleh-Nya dengan disangkutkan kepada alam asli

    1

    Pengajar AIK di Universitas Muhammadiyah Malang 2 Fazlur Rahman, 1993, Metode Dan Alternatif Neomodernisme Islam, (terj. Taufiq Adnan Amal),

    Bandung: Mizan, hal. 95. lihat juga Maulana Muhammad Ali, 1980, Islamologi (Dinul Islam), Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve, hal. 2. Ia mengartikan `islam dengan selamat, sentosa dan damai

    3 Op.cit. 4 Nasruddin Razak, 1977, Dienul Islam, Bandung: al-Maarif, hal. 56 5 Fazlur Rahman, op.cit., hal. 96. 6 Harun Nasution, 1979, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid I, Jakarta: UI-Press, hal. 9.

  • 2

    (fitrah) manusia. Dengan kata lain ia diajarkan sebagai pemenuhan alam manusia,

    sehingga pertumbuhan perwujudannya pada manusia selalu bersifat dari dalam

    (internal), tidak tumbuh apalagi dipaksakan dari luar, karena cara yang demikian

    menyebabkan Islam tidak otentik, karena kehilangan dimensinya yang paling mendasar

    dan mendalam, yaitu kemurnian dan keikhlasan7.

    Subjek (fa`il; partisipan aktif) dari aslama ialah muslim ( ). Baik dalam

    bentuk tunggal, dua atau jamak kata muslim sering muncul dengan pengertian

    seseorang yang menyerahkan dirinya kepada (hukum) Tuhan. Dalam surat Alu Imran

    ayat 83, alam semesta dikatakan sebagai muslim sebab ia mematuhi hukum-hukum

    Tuhan8.

    Menurut Fazlur Rahman, kata `islam dan muslim selalu digunakan oleh al-

    Qur`an kadang dalam makna harfiahnya, yakni menyerah atau orang yang

    menyerahkan dirinya kepada (hukum) Tuhan, kadang juga dalam makna sebagai nama-

    diri untuk pesan keagamaan yang dikumandangkan oleh al-Qur`an dan bagi komunitas

    yang menerimanya. Bahkan dalam surat al-Hajj /22:78, pesan keagamaan ini

    dinisbatkan kepada Ibrahim, yang dikatakan telah memberikan nama Muslim kepada

    komunitas yang menerima pesan al-Qur`an ini. Maka nyatalah bahwa Islam di masa

    Madinah, selain bermakna harfiah, telah direifikasi menjadi nama agama yang dibawa

    oleh Muhammad SAW. Dan muslimun menjadi komunitas formal yang memeluk Islam

    (lihat QS. 5:111).

    Selanjutnya Rahman menjelaskan, bahwa ada dua hal penting untuk disimak

    sehubungan dengan istilah islam. Pertama, bahwa islam integral dengan iman.

    Penyerahan kepada Tuhan, dalam karakteristiknya yang hakiki, adalah mustahil

    tanpa iman. Bahkan kedua kata ini pada dasarnya adalah sama dan telah digunakan

    secara ekuivalen dalam banyak bagian al-Qur`an9.

    Kedua, islam merupakan pengejahwantahan lahiriah, konkret dan terorganisasi

    dari iman, melalui suatu komunitas normatif. Karena itu, anggota-anggota komunitas

    ini harus didasarkan pada iman dan cahayanya, dan sebaliknya- cahaya iman

    7 Nurcholis Madjid, 1992, Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah

    Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, Jakarta: Paramadina, hal. 426. 8 Lihat juga Nazaruddin Razak, op.cit., dengan nada yang sama ia menyebutnya sebagai orang yang

    berserah diri, patuh dan taat. juga lihat Abuddin Nata, 1999, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo, hal. 62. Ia menyebut muslim sebagai orang yang taat, menyerahkan diri dan patuh kepada Allah swt. yang selanjutnya orang tersebut akan dijamin keselamatannya di dunia dan akherat.

    9 Lihat QS. 3:52, 10:84, 5:111, 43:69, 28:52-53.

  • 3

    semacam itu harus menjelma keluar sendiri melalui komunitas ini. Seseorang mungkin

    saja mempunyai iman, tetapi iman tersebut bukanlah iman sejati dan sepenuhnya

    kecuali jika ia diekspresikan secara islami dan dijelmakan melalui suatu komunitas

    yang semestinya, suatu komuitas yang muslim (berserah diri) dan Muslim10.

    secara terminologis

    Ada beberapa ulama dan pemikir Islam yang memberikan pengertian Islam

    secara terminologis, di antaranya ialah Syaikh Mahmud Syaltut. Ia memberikan

    pengertian Islam sebagai agama yang disyariatkan oleh Allah melalui nabi-Nya

    Muhammad SAW. untuk disampaikan dan diajarkan kepada seluruh manusia11.

    Harun Nasution memberikan pengertian Islam sebagai agama yang ajaran-

    ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad

    SAW sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya

    mengenal satu segi, tatapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia12.

    Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama

    perdamaian, di mana dua ajaran pokoknya yaitu keesaan Tuhan dan kesatuan atau

    persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa Islam selaras benar dengan

    namanya. Islam bukan saja sebagai agama seluruh Nabi Allah, melainkan pula sebagai

    hakikat ketundukan dan keberserahan diri alam semesta kepada hukum Tuhan13.

    Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam putusannya memberikan pengertian

    agama Islam sebagai apa yang telah disyariatkan Allah dengan perantaraan para Rasul-

    Nya berupa perintah, larangan dan petunjuk untuk kemaslahatan manusia di dunia dan

    akhirat mereka. Sedangkan agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW

    adalah apa yang telah diturunkan oleh Allah dalam al-Qur`an dan termuat dalam

    sunnah shahihah berupa perintah, larangan dan petunjuk untuk kemaslahatan manusia

    di dunia dan akhirat mereka14.

    Di kalangan masyarakat Barat, Islam sering diidentikkan dengan istilah

    Muhammadanism dan Muhammedan. Peristilahan ini merupakan bentuk analog

    dengan nama agama di luar Islam yang pada umumnya disandarkan pada nama

    10

    Fazlur Rahman, op.cit., hal. 96-102. 11

    Syeikh Mahmud Syaltut, 1967, Islam Sebagai Aqidah dan Syariah, (terj. H. Bustami dkk.), Jakarta, hal. 15.

    12 Harun Nasution, Op.Cit., hal. 24

    13 Ali, op.cit., lihat hal. 2-7.

    14 Seperti yang dikutip oleh Abdullah Ali dkk, 1994, Studi Islam I, Surakarta: PSIK-UMS, hal.39 dari

    Himpunan Putusan Tarjih, Yogyakarta: PP. Muhammadiyah

  • 4

    pendirinya. Di Persia umpamannya ada agama Zoroaster. Agama ini disandarkan pada

    pendirinya Zarathustra (w.583 SM). Selanjutnya terdapat agama Budha yang

    dinisbahkan kepada tokoh pendirinya Sidharta Gautama Budha (lahir 560 SM).

    Demikian pula agama Yahudi yang disandarkan pada orang-orang yahudi (Jews), asal

    nama dari negara Juda (Judea) atau Yahudi. Juga agama Kristen yang dinisbahkan

    kepada Jesus Kristus.

    Penyebutan Muhammadanism atau Muhammedan untuk agama Islam bukan

    saja tidak tepat, tetapi secara prinsipil salah. Peristilahan itu bisa mengandung arti

    bahwa Islam adalah paham Muhammad atau pemujaan terhadap Muhammad seperti

    yang terdapat dalam agama Budha atau Kristen. Atau peristilahan itu juga bisa

    membawa pengertian bahwa agama Islam hanya untuk bangsa atau komunitas tertentu

    yang berkaitan dengan Muhammad, seperti agama Yahudi untuk bani Israel atau

    bangsa Yahudi.

    Analogi nama dengan agama-agama lainnya jelas tidaklah mungkin bagi Islam.

    Karena pertama, agama Islam bersumber dari wahyu yang datang dari Allah SWT.

    Bukan dari manusia, bukan pula Muhammad. Posisi Nabi SAW dalam agama Islam

    diakui sebagai manusia yang ditugasi untuk menyebarkan ajaran Islam tersebut kepada

    ummat manusia. Dalam proses penyebarannya peranan Nabi terbatas hanya memberi

    keterangan, penjelasan, uraian dan contoh prakteknya. Tidak lebih. Kedua, Islam

    bersifat universal, rahmatan lil alamin, untuk siapa saja, tidak terbatas komunitas atau

    bangsa tertentu seperti agama-agama sebelum Islam, muthabiqun likulli zaman wa

    makan, menembus batas ruang dan waktu, sesuai untuk manusia kapan dan di mana

Recommended

View more >