Isi (Ricky)

Download Isi (Ricky)

Post on 06-Dec-2015

214 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tugas SPSS, blok 26, semester 6, contoh spss, format spss.

TRANSCRIPT

<p>AbstrakDiabetes Melitus adalah kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Kurangnya aktivitas fisik seseorang dapat menyebabkan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Diketahui juga perbedaan jenis kelamin dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Seseorang dengan jenis kelamin wanita lebih beresiko terhadap diabetes mellitus (DM) tipe 2. Faktor usia dan Indeks Massa Tubuh (IMT) juga mempengaruhi kadar glukosa darah seseorang. Semakin tinggi IMT, maka semakin tinggi juga resiko terkena DM. Kata Kunci: Glukosa darah, usia, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh, aktivitas fisikAbstractDiabetes Mellitus is a rise in blood glucose levels, or hyperglycemia due to hormonal disturbances that cause a variety of chronic complications in the eyes, kidneys, nerves and blood vessels. There are several factors that cause an increase in blood glucose levels. Lack of physical activity a person can lead to increased levels of glucose in the blood. Also known gender differences can affect blood glucose levels. Women has more risk of diabetes mellitus (DM) type 2. Age and body mass index (BMI) also a factor that affect a person's blood glucose levels. The higher the BMI, the higher the risk of developing diabetes.Keywords: Blood glucose, age, sex, Body Mass Index, physical activity</p> <p>Bab IPendahuluan1.1 Latar BelakangMenurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiper-glikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.1DM biasa disebut dengan the silent killer karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Penyakit yang akan ditimbulkan antara lain gangguan penglihatan mata, katarak, penyakit jantung, sakit ginjal, impotensi seksual, luka sulit sembuh dan membusuk/gangren, infeksi paru-paru, gangguan pembuluh darah, stroke dan sebagainya. Tidak jarang, penderita DM yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi pembusukan.2Melihat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar, maka sangat diperlukan program pengendalian DM Tipe 2. DM Tipe 2 bisa dicegah, ditunda kedatangannya atau dihilangkan dengan mengendalikan faktor resiko. Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah faktor resiko yang tidak dapat berubah misalnya jenis kelamin dan umur. Yang kedua adalah faktor resiko yang dapat diubah misalnya aktivitas fisik dan IMT.31.2 Rumusan MasalahBerdasarkan uraian pada latar belakang maka rumusan masalah adalah faktor resiko yang meningkatkan kadar gula darah sehingga menyebabkan DM tipe 2. Faktor resiko yang dapat diubah adalah aktivitas fisik dan IMT. Faktor yang tidak dapat diubah adalah umur dan jenis kelamin.1.3Tujuan Penelitian1.3.1Tujuan UmumUntuk menganalisa orang-orang yang memiliki faktor resiko terhadap DM tipe 2. 1.3.2Tujuan KhususYang menjadi tujuan khusus dalam masalah ini: Mengindetifikasi kejadian DM tipe 2. Mengidentifikasi umur pasien. Mengidentifikasi IMT pasien. Mengidentifikasi aktivitas fisik pasien.1.4Manfaat PenelitianHasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk a. Bagi peneliti Mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari teori dengan keadaan dalam masyarakat. b. Bagi institusi akademi Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan untuk pembuatan Karya Tulis Ilmiah lebih lanjut dan dapat digunakan sebagai masukan bagi rekan dan peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian. c. Bagi institusi dinas kesehatan Hasil penelitian dapat memberikan informasi dalam perbaikan, pengembangan program dan kualitas pelayanan kesehatan terutama tentang faktor-faktor resiko DM tipe 2.</p> <p>Bab IITinjauan Pustaka2.1 Diabetes Melitus Tipe 22.1.1Pengertian Diabetes Melitus Tipe 2Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai oleh kenaikan gulah darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin).2Beberapa proses patogenik terlibat dalam perkembangan diabetes. Ini berkisar dari kehancuran autoimun dari sel b pankreas dengan kekurangan insulin akibat kelainan yang menghasilkan resistensi terhadap aksi insulin. Dasar dari kelainan pada karbohidrat, lemak, dan protein pada diabetes adalah kurangnya aksi insulin pada jaringan target. Defisiensi aksi insulin dihasilkan dari kurangnya sekresi insulin dan/atau tidak adanya respon jaringan terhadap insulin pada satu atau beberapa titik pada jalur kompleks dari aksi hormone. Kerusakan pada sekresi insulin dan kelainan pada aksi insulin sering terdapat pada pasien yang sama, dan sering tidak jelas kelainan yang mana adalah penyebab utama dari hiperglikemia.2Gejala klasik diabetes antara lain poliuria (sering berkemih), polidipsia (sering haus), polifagia (sering lapar), dan berat badan turun. Gejala lain yang biasanya ditemukan pada saat diagnosis antara lain: adanya riwayat penglihatan kabur, gatal-gatal, neuropati perifer, infeksi vagina berulang, dan kelelahan. Meskipun demikian, banyak orang tidak mengalami gejala apapun pada beberapa tahun pertama dan baru terdiagnosis pada pemeriksaan rutin.Pasien dengan diabetes melitus tipe 2 jarang datang dalam keadaan koma hiperosmolar nonketotik (yaitu kondisi kadar glukosa darah sangat tinggi yang berhubungan dengan menurunnya kesadaran dan tekanan darah rendah).42.1.2Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah, tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam menegakkan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis DM, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan glukosa darah plasma vena. Untuk memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya . Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai bahan darah kapiler. Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Secara berkala , hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional.52.2Gula Darah2.2.1Pengertian Gula DarahKadar gula darah adalah jumlah kandungan glukosa dalam plasma darah. Kadar gula darah digunakan untuk menegakkan diagnosis DM. Untuk penentuan diagnosis, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat menggunakan pemeriksaan gula darah kapiler dengan glucometer.1Glukosa merupakan karbohidrat terpenting yang kebanyakan diserap ke dalam aliran darah sebagai glukosa dan gula lain diubah menjadi glukosa di hati. Glukosa adalah bahan bakar utama dalam jaringan tubuh serta berfungsi untuk menghasilkan energi.9 Kadar glukosa darah sangat erat kaitannya dengan penyakit DM. Peningkatan kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dL yang disertai dengan gejala poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM.12.2.2Mekanisme Pembentukan Gula DarahGlukosa merupakan hasil akhir dari pencernaan dan diabsorsi secara keseluruhan sebagai karbohidrat. Kadar glukosa darah bervariasi dengan daya penyerapan, glukosa dalam darah menjadi lebih tinggi setelah makan dan akan terjadi penurunan jika tidak ada makanan yang masuk dalam beberapa jam. Glukosa dapat keluar masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai sumber energi, glukosa di simpan sebagai glikogen dalam jaringan dan sel hati oleh insulin yaitu hormon yang disekresi oleh pankreas. Glikogen akan diubah kembali menjadi glukosa jika tubuh tidak ada makanan yang masuk sebagai energi oleh glukogen yaitu hormone lain yang dihasilkan oleh pankreas dan hormone adrenalin yang disekresi oleh kelenjar adrenalin.62.2.3Pengukuran Kadar Gula DarahPengukuran kadar gula darah terdapat beberapa pemeriksaan, menurut jenis pemeriksaan kadar gula darah ada beberapa jenis yaitu gula darah puasa, pemeriksaan gula darah dimana pasien sebelum pengambilan darah dipuasakan selama 10-14 jam, gula darah sewaktu, pemeriksaan gula darah yang dilakukan tanpa memperhatikan waktu terakhir pasien makan. Gula darah 2 jam, pemeriksaan gula darah yang tidak dapat distandarkan, karena makanan yang dimakan baik jenis maupun jumlahnya sulit diawasi dalam jangka waktu 2 jam, sebelum pengambilan darah pasien perlu duduk istirahat tenang tidak melakukan kegiatan yang berat dan tidak merokok.42.3Faktor Resiko Peningkat Gula Darah2.3.1Hubungan Umur dengan Gula DarahProses menjadi tua adalah keadaan alamiah yang tidak dapat dihindarkan. Yang dimaksud dengan usia lanjut (lansia) di negara barat pada umumnya adalah umur 65 tahun ke atas sedang untuk orang di Indonesia adalah umur 60 tahun ke atas. Usia lebih dari 45 tahun merupakan golongan umur dewasa tua. Diabetes Mellitus pada pasien &gt; 45 tahun umumnya adalah Diabetes Mellitus Tipe 2. Prevalensi Diabetes Mellitus makin meningkat dengan lanjutnya usia. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan meningkatnya umur, intoleransi terhadap glukosa juga meningkat. Jadi untuk golongan umur usia dewasa tua usia lanjut diperlukan batas glukosa darah yang lebih tinggi daripada batas yang dipakai untuk menegakkan diagnosis Diabetes Mellitus pada orang dewasa non usia intoleransi glukosa pada usia berkaitan dengan obesitas, aktivitas fisik yang berkurang, kurangnya massa otot, penyakit penyerta, penggunaan obat-obatan, disamping karena pada usia lanjut terjadi penurunan sekresi insulin dan insulin resisten.7Peningkatan kadar gula darah pada usia lanjut/dewasa tua disebabkan beberapa hal, antara lain sebagai berikut :71. Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang.2. Perubahan-perubahan karena usia lanjut sendiri yang berkaitan dengan resistensi insulin, akibat berkurangnya massa otot dan perubahan vaskular.3. Aktivitas fisik yang berkurang, banyak makan, badan kegemukan.4. Keberadaan penyakit lain, sering menderita stres, operasi dan istirahat lama.5. Sering menggunakan bermacam-macam obat-obatan.6. Adanya faktor keturunan.</p> <p>2.3.2Hubungan Obesitas dengan Gula DarahObesitas didefenisikan sebagai penimbunan lemak berlebihan dalam jaringan tubuh. Penimbunan ini dapat terjadi di seluruh tubuh atau di tempat-tempat tertentu misalnya di daerah perut yang lebih sering disebut sebagai obesitas sentral atau obesitas abdominal. Salah satu cara untuk mengukur distrubusi lemak dalam tubuh adalah dengan metode antropometri, yaitu dengan mengukur IMT untuk menentukan obesitas seluruh tubuh, dan lingkar pinggang serta rasio lingkar pinggang-panggul untuk menentukan obesitas sentral. Pada penderita obesitas diketahui terjadi berbagai gangguan metabolisme diantaranya diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan batu empedu. Besarnya risiko menderita penyakit-penyakit ini sebanding dengan besar penumpukan lemak yang terjadi.5Pada penyakit diabetes mellitus tipe 2, peranan obesitas dijelaskan dalam berbagai teori. Salah satu teori menyebutkan bahwa sel-sel lemak yang mengalami hipertrofi menurunkan jumlah reseptor insulin. Teori lain menyebutkan tingginya asam lemak, peningkatan hormon resistin dan penurunan adiponektin akibat penumpukan lemak pada penderita obesitas mempengaruhi kerja insulin sehingga dapat menyebabkan tingginya kadar glukosa darah.5Berdasarkan penjelasan di atas maka terlihat adanya hubungan antara besarnya penumpukan lemak dengan peningkatan kadar glukosa darah. Hubungan antara distribusi lemak tubuh dan risiko timbulnya diabetes mellitus tipe 2 ini telah banyak diteliti di berbagai negara diantaranya Jepang, Cina, Finlandia dan Amerika Serikat.52.3.3Hubungan Aktivitas Fisik dengan Gula DarahAktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan energi. Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global.8Pengaruh aktivitas fisik atau olahraga secara langsung berhubungan dengan peningkatan kecepatan pemulihan glukosa otot (seberapa banyak otot mengambil glukosa dari aliran darah). Saat berolahraga, otot menggunakan glukosa yang tersimpan dalam otot dan jika glukosa berkurang, otot mengisi kekosongan dengan mengambil glukosa dari darah. Ini akan mengakibatkan menurunnya glukosa darah sehingga memperbesar pengendalian glukosa darah.8Pada diabetes melitus tipe 2 olahraga berperan dalam pengaturan kadar glukosa darah. Masalah utama pada diabetes melitus tipe 2 adalah kurangnya respon terhadap insulin (resistensi insulin) sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel. Permeabilitas membran terhadap glukosa meningkat saat otot berkontraksi karena kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin. Maka dari itu, pada saat beraktivitas fisik seperti berolahraga, resistensi insulin berkurang. Aktivitas fisik berupa olahraga berguna sebagai kendali gula darah dan penurunan berat badan pada diabetes melitus tipe 2.8Manfaat besar dari beraktivitas fisik atau berolahraga pada diabetes melitus antara lain menurunkan kadar glukosa darah, mencegah kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi terjadinya komplikasi, gangguan lipid darah dan peningkatan tekanan darah.8Aktivitas fisik yang dianjurkan untuk para penderita diabetes melitus tipe 2 adalah aktivitas fisik secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit dan sesuai dengan CRIPE (continuous, rhythmical, interval, progresive, endurance training). Dan diusahakan mencapai 75-85% denyut nadi maksimal.82.3.4Hubungan Jenis Kelamin dengan Gula DarahPenelitian ini menunjukkan perbedaan seks pada tingkatan insulin plasma setelah pemberian glukosa, tidak jelas disebabkan perbedaan kadar gula darah. Jadi wanita memiliki rata-rata tingkat insulin lebih tinggi sepanjang tes toleransi, meskipun kadar gula darah rata-rata mereka lebih tinggi hanya pada 90 dan 120 menit. Perbedaan juga tidak dapat dikaitkan dengan efek kontrasepsi oral.9Wanita lebih berisiko mengidap diabetes karena secara fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan (premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses hormonal...</p>