intoksikasi organofosfat

Click here to load reader

Post on 26-Oct-2015

252 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dgsg

TRANSCRIPT

PRESENTASI KASUS

INTOKSIKASI ORGANOFOSFATDiajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Dalam

Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:

Aviv Aziz Triono, S. Ked

20080310209

Diajukan kepada :

dr. Warih, Sp. PD

BAGIAN ILMU BEDAH

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI

RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

2013

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS

INTOKSIKASI ORGANOFOSFATDiajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Dalam

Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:

Aviv Aziz Triono, S. Ked

20080310209

Telah dipresentasikan dan disetujui pada:

Januari 2013Mengetahui,

Dosen Pembimbing & Penguji Klinik

dr. Warih, Sp. PD

DAFTAR ISI

HalamaniPRESENTASI KASUS

iiLEMBAR PENGESAHAN

iiiDAFTAR ISI

1BAB I

1LAPORAN KASUS

1A.Identitas Pasien

1B.Keluhan Utama

1C.Riwayat Penyakit Sekarang

1D.Riwayat Penyakit Dahulu

1E.Pemeriksaan Fisik

3F.Hasil lab

3G.Ro thorax: Cor dan Pulmo dalam batas normal

4BAB II

4TINJAUAN PUSTAKA

4A.Pendahuluan

5B.Definisi

5C.Predisposisi

7D.Patofisiologi

9E.Gejala

9a.Efek muskarinik

9b.Efek Nikotinik

9c.Efek sistem saraf pusat

10F.Diagnosis Banding

10G.Diagnosis

10H.Pemeriksaan penunjang

10I.Penatalaksanaan

10a.Stabilisasi Pasien

11b.Dekontaminasi

11c.Pemberian Antidotum

12d.Pemberian anti-kejang

12J.Komplikasi

13BAB III

13KESIMPULAN

14DAFTAR PUSTAKA

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Nama

: Nn S. C.Umur

: 18 tahunJenis Kelamin: perempuan

Alamat

: kasihanPekerjaan

: karyawan swasta

Agama

: Islam

Tgl masuk RS: 6 Desember 2012No.RM

: 480894B. Keluhan Utama

Mual-muntah setelah minum racun tikus

C. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD dengan keluhan mual dan muntah, setelah sebelumnya pasien minum racun tikus warna coklat bungkus merah, 3 jam SMRS. Muntah kurang lebih 8 kali, muntah cair, warna putih-kekuningan, lendir(-), darah (-). Pasien juga mengeluh pusing, senut-senut, beberapa saat setelah keluhan mual-muntah. Pasien mengeluh nyeri perut, senep, pusing.

D. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan serupa: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat mondok di RS: GastritisRiwayat asma/ Alergi

: disangkal

Riwayat penyakit gula

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkalE. Pemeriksaan Fisik

a. Kesan Umum: LemahKesadaran: Compos Mentisb. Vital Sign:Tekanan darah: 100/60 mmHgNadi

: 72 x/menitSuhu badan: 36,4oCPernafasan: 26 x/menitc. Pemeriksaan kulitTurgor dan elastisitas dalam batas normal, kelainan kulit (-), sianosis (-)d. Pemeriksaan kepala Rambut

: Warna hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata

Pemeriksaan mata: Palpebra edema (-/-), Konjungtiva Anemis (-/-) Sklera ikterik (-/-)

Pupil

: Reflek cahaya (+/+), isokor

Pemeriksaan Telinga: Otore (-/-), nyeri tekan (-/-), serumen (-/-)

Pemeriksaan Hidung: Sekret (-/-), epistaksis (-)e. Pemeriksaan Leher

:

Kelenjar tiroid tidak membesar

Kelenjar lnn Tidak membesar, nyeri (-)

f. Pemerikasaan dada

: Inspeksi : retraksi (-), simetris

Palpasi: ketinggalan gerak (-)

Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi:Suara dasar vesikuler (+), Suara tambahan : RK (-), wheezing (-), krepitasi (-), S1 S2 reguler

g. Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Bentuk bulat, defans muskular (-), venektasi (-), sikatrik (-)

Auskultasi: Peristaltik usus (+)

Perkusi : Timpani, nyeri ketok kostovertebra (-), pekak beralih (-), undulasi (-)

Palpasi: Nyeri tekan abdomen (+) bagian epidastrik dan umbilikalis, abdomen kiri, nyeri lepas tekan (-), massa (-), Nyeri tekan suprapubik (-).

h. Extremitas atas edema (-/-), nadi lemah (+), akral hangat (+).

i. Extremitas bawah: edema (-/-), nadi lemah (+), akral hangat (+).F. Hasil lab

G. Ro thorax: Cor dan Pulmo dalam batas normalBAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan

Pestisida adalah bahan kimia untuk membunuh hama (insekta, jamur dan gulma). Sehingga pestisida dikelompokkan menjadi :

Insektisida (pembunuh insekta)

Fungisida ( pembunuh jamur)

Herbisida (pembunuh tanaman pengganggu)

Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan dirumah tangga untuk memberantas nyamuk, kepinding, kecoa dan berbagai serangga penganggu lainnya. Dilain pihak pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan keracunan pada orang. Kematian yang disebabkan oleh keracunan pestisida banyak dilaporkan baik karena kecelakaan waktu menggunakannya, maupun karena disalah gunakan (unttuk bunuh diri). Dewasa ini bermacam-macam jenis pestisida telah diproduksi dengan usaha mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya daya toksisitas pada manusia, tetapi sangat toksik pada serangga.

Diantara jenis atau pengelompokan pestisida tersebut diatas, jenis insektisida banyak digunakan dinegara berkembang, sedangkan herbisida banyak digunakan dinegara yang sudah maju. Dalam beberapa data Negara-negara yang banyak menggunakan pestisida adalah sebagai berikut

Amerika Serikat 45%

Eropa Barat 25%

Jepang 12%

Negara berkembang lainnya 18%

Dari data tersebut terlihat bahwa negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan pestisida masih tergolong rendah. Bila dihubungkan dengan pelestarian lingkungan maka penggunaan pestisida perlu diwaspadai karena akan membahayakan kesehatan bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya.

B. Definisi

Organofosfat adalah nama umum ester dari asam fosfat. Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya. Contoh dari organofosfat termasuklah insektisida (malathion, parathion, diazinon, fenthion, dichlorvos, chlorpyrifos, ethion), dan antihelmintik (trichlorfon). Organofosfat bisa diabsorpsi melalui absorpsi kulit atau mukosa atau parenteral, per oral, inhalasi dan juga injeksi.

Struktur umum organofosfat

Gugus X pada struktur di atas disebut leaving group yang tergantikan saat organofosfat menfosforilasi asetilkholin serta gugus ini paling sensitif terhidrolisis. Sedangkan gugus R1 dan R2 umumnya adalah golongan alkoksi, misalnya OCH3 atau OC2H5. Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya.

C. Predisposisi

Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian keracunan pestisida adalah faktor dalam tubuh (internal) dan faktor dariluar tubuh (eksternal), faktor-faktor tersebut adalah :1. Faktor dalam tubuh (internal) antara lain :a. UmurUmur merupakan fenomena alam, semakin lama seseorang hidup maka usia pun akan bertambah. Seiring dengan pertambahan umur maka fungsi metabolisme tubuh juga menurun. Semakin tua umur maka rata-rata aktivitas kolinesterase darah semakin rendah, sehingga akan mempermudah terjadinya keracunan pestisida.b. Status giziBuruknya keadaan gizi seseorang akan berakibat menurunnya daya tahantubuh dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi. Kondisi gizi yangburuk, protein yang ada dalam tubuh sangat terbatas dan enzimkolinesterase terbentuk dari protein, sehingga pembentukan enzimkolinesterase akan terganggu. Dikatakan bahwa orang yang memilikitingkat gizi baik cenderung memiliki kadar rata-rata kolinesterase lebihbesar.c. Jenis kelaminKadar kholin bebas dalam plasma darah laki-laki normal rata-rata 4,4g/ml. Analisis dilakukan selama beberapa bulan menunjukkan bahwatiap-tiap individu mempertahankan kadarnya dalam plasma hingga relatifkonstan dan kadar ini tidak meningkat setelah makan atau pemberian oralsejumlah besar kholin. Ini menunjukkan adanya mekanisme dalam tubuhuntuk mempertahankan kholin dalam plasma pada kadar yang konstan.Jenis kelamin sangat mempengaruhi aktivitas enzim kolinesterase, jeniskelamin laki-laki lebih rendah dibandingkan jenis kelamin perempuankarena pada perempuan lebih banyak kandungan enzim kolinesterase,meskipun demikian tidak dianjurkan wanita menyemprot denganmenggunakan pestisida, karena pada saat kehamilan kadar rata-ratakolinesterase cenderung turun.d. Tingkat pendidikanPendidikan formal yang diperoleh seseorang akan memberikan tambahanpengetahuan bagi individu tersebut, dengan tingkat pendidikan yang lebihtinggi diharapkan pengetahuan tentang pestisida dan bahayanya jugalebih baik jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang rendah,sehingga dalam pengelolaan pestisida, tingkat pendidikan tinggi akanlebih baik.2. Faktor di luar tubuh (eksternal)a. DosisSemua jenis pestisida adalah racun, dosis semakin besar semakinmempermudah terjadinya keracunan pada petani pengguna pestisida.Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunanpestisida, hal ini ditentukan dengan lama pajanan. Untuk dosispenyemprotan di lapangan khususnya golongan organofosfat, dosis yangdianjurkan 0,5 1,5 kg/ha.b. Lama kerjaSemakin lama bekerja sebagai petani maka semakin sering kontak denganpestisida sehingga risiko terjadinya keracunan pestisida semakin tinggi.Penurunan aktivitas kolinesterase dalam plasma darah karena keracunanpestisida akan berlangsung mulai seseorang terpapar hingga 2 ming