intoksikasi makanan kelompok 6

Click here to load reader

Post on 14-Dec-2014

192 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia yang diperlukan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Adapun pengertian makanan yaitu semua substansi yang diperlukan tubuh, kecuali air dan obat-obatan dan semua substansi-substansi yang dipergunakan untuk pengobatan (Depkes RI, 1989). Dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, makanan mempunyai peranan penting dengan alasan setiap manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidupnya,dan manusia yang terpenuhi semua kebutuhan

makannya akan terlindung dan terjamin kesehatannya dan memiliki tenaga kerja yang produktif, namun bahan makanan dapat merupakan media perkembangbiakan kuman penyakit atau dapat merupakan media perantara dalam penyebaran suatu penyakit. Makanan merupakan suatu hal yang yang sangat penting di dalam kehidupan manusia, makanan yang dimakan bukan saja memenuhi gizi dan mempunyai bentuk menarik, akan tetapi harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit. Menurut Depkes RI, (2000) Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor tempat, peralatan, orang dan makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan gangguan kesehatan

1

Aspek penyehatan makanan adalah aspek pokok dari penyehatan makanan yang mempengaruhi terhadap keamanan makanan yang meliputi

kontaminasi/pengotoran makanan (food contaminasi), Keracunan makanan (food poisoning), pembusukan makanan (food dikomposition) dan pemalsuan makanan (food adualteration). Pada kali ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah tentang keracunan makanan (food poisoning). Keracunan makanan adalah timbulnya gejala klinis penyakit atau gangguan kesehatan lainnya akibat mengkontaminasi makanan. Makanan yang menjadi penyebab keracunan biasanya telah tercemar oleh unsurunsur fisika, mikroba ataupun kimia dalam dosis yang membahayakan. Kondisi tersebut dikarenakan pengelolaan makanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah hygiene sanitasi makanan (Depkes RI, 2004). Penyebab keracunan antara lain disebabkan oleh mikroba (bactrical food poisoning), yaitu racun atau toxin yang dihasilkan oleh mikroba dalam makanan yang masuk ke dalam tubuh dengan jumlah yang membahayakan seperti racun botulism tang disebabkan oleh colostridium pseudomonas cocovenenas. Terdapat pada tempe bongkrek. Selain itu juga dapat dikarenakan Mushrooms Amatoxin Type, Mushrooms, Boric acid, Borates, dan Boron.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana jenis bahan intoksikasi yang dapat menyebabkan intoksikasi makanan?

2

2. Bagaimana

mekanisme

bahan

mikroorganisme

tersebut

dapat

menyebabkan intoksikasi makanan ? 3. Bagaimana tanda dan gelaja yang muncul jika seseorang mengalami intoksikasi makanan ? 4. Bagaimana pemeriksaan fisik dan tes pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnostik intoksikasi makanan ? 5. Bagaimana prinsip terapi yang dilakukan ? 1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui jenis bahan yang dapat menyebabkan intoksikasi makanan. 2. Untuk mengetahui mekanisme bahan mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan intoksikasi makanan. 3. Untuk mengetahui tanda dan gejala yang muncul jika seseorang mengalami intoksikasi makanan. 4. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan apa yang dilakukan untuk menegakkan diagnostik intoksikasi makanan. 5. Untuk mengetahui prinsip terapi apa yang tepat untuk penderita intoksikasi makanan.

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 INTOKSIKASI BAKTERI Bakteri makanan dan toksin bakteri seringkali menjadi penyebab gastroenteritis epidemik. Secara umum, penyakit ini relatif ringan dengan masa recovery dalam jangka waktu 24 jam. Walaupun beberapa dan bahkan keracunan fatal mungkin terjadi dengan listeriosis, salmonellosis, atau botulism (lihat Botulism) dan dengan siksaan tertentu dari Eschericia coli. Keracunan setelah mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan dibahas pada Keracunan Makanan : Ikan dan Kerang-kerangan. Keracunan Jamur dibahas pada Jamur, Type Amatoxin. Virus-virus seperti Norwalk Virus dan Norwalk seperti Calicivirus, enterovirus, dan rotavirus menjadi penyebab 80% penyakit-penyakit karena makanan. Mikroba lain yang dapat menyebabkan penyakit karena makanan mengandung

Cryptosporidium dan Cyclospora dapat menyebabkan penyakit serius pada pasien immunocompromised. Walaupun lebih dari separuh perjangkitan yang dilaporkan, tidak ada microbiologic pathogents yang ditemukan. 2.1.1 Mekanisme Toksisitas Gastroenteristis mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri penyerbuan (invasive bacterial infection) dari mucosa intestinal atau oleh toxin yang diuraikan oleh bakteri. Toksin bakteri bisa jadi sebelumnya dibentuk dalam bentuk makanan yang tidak tepat disiapkan dan disimpan sebelum penggunaan atau mungkin diproduksi di usus oleh bakteri setelah tertelan (Tabel II-26)

4

2.1.2 Toxic Dose (Dosis Toxic) Dosis toksin tergantung dari tipe bakteri atau toksin dan konsentrasinya di dalam makanan yang tertelan juga tergabtung dari resistensi individual. Beberapa preformed toksin (misalnya; staphylococcal toxin) resisten panas dan tidak hilang/mati di makanan walau sudah dimasak dan direbus. 2.1.3 Presentasi Klinis (Clininal Presentation) Periode Inkubasi 2 3 hari sebelum gejala-gejala (Lihat Tabel II-26) a. Gastroenteritis paling sering dijumpai dengan mual, muntah, cram abdominal dan diarrhea. Muntah lebih sering dengan preformed (awal pembentukan) toksin. Significan fluid dan electrolyte abnormality mungkn terjadi, khususnya pada pasien anak-anak dan manula. b. Demam, tinja berdarah dan fecal leukocytosis seringkali terjadi pada infeksi bakteri invasive. c. Infeksi yang tersistem (systemic infection) saat hasil dari E coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau Listeria. 1. Listeriosis dapat menyebabkan sepsis dan meningitis, khususnya pada manula dan orang yang immunocompromised. 2. Siksaan Shigella dan E coli mungkin menyebabkan colitis hemorrhagic akut dirumitkan oleh hemolytic-uremic syndrome, gagal ginjal, dan kematian khususnya pada anak-anak dan orang dewasa yang immunocompromised. 3. infeksi Campylobacter kadang-kadang diikuti oleh Guillani-Barre syondrome atau reactive arthritis.

5

2.1.4 Diagnosa a. Level Spesifik 1. Biakan Tinja (Stool culture) mungkin membedakan infeksi Salmonella, Shigella, dan Campylobacter. Walaupun culture untuk E Coli 05157:H7 harus secara khusus diminta. Tes An enzymelinked immunosorbent assay (ELISA) dapat mendeteksi virus Norwalk pada ninja. 2. Darah dan CSF mungkin menumbuhkan organisma yang invasive (invasive organism), khususnya Listeria (dan jarang Salmonella atau Shigella). 3. Sample Makanan sebaiknya disimpan untuk pembiakan bakteri (bakterial culture) analisa toksin terutama untuk penggunaan kesehatan umum/publik. b. Study Laboratorium berguna yang lain meliputi CBC, electrolytes, glucose, BUN, dan creatini. Keracunan makanan karena bakteri seringkali sulit dibedakan dari viral gastroenteritis yang umum jika tidak adanya periode inkubasi pendek dan korban multiple yakni orang yang makan makanan sejenis pada hidangan besar. Adanya banyak sel darah putih pada pap tinja mengesankan infeksi bakteri yang invasive. Dengan adanya gastroentetis yang epidemic mempertimbangkan penyakit-penyakit karena makanan seperti yang

disebabkan oleh virus atau parasit, penyakit yang terkait dengan makanan laut (Lihat Keracunan makanan : Ikan dan Kerang-kerangan), (Botulism), dan menelan jamur-jamur tertentu (Jamur, Jenis-jenis Amatoxin).

6

2.1.5 Treatment a. Ukuran-ukuran supportive dan Emergengy i. Tempatkan fluit dan halangan electrolyte dengan intravenous saline atau crystalloid solutions lain (pasien dengan penyakit ringan mungkin toleran oral rehydration). Pasien dengan hipertensi mungkin membutuhkan volume besar intravenous fluid resuscitation (Lihat Hipertensi) ii. Agen Antiemetic asektabel/cocok untuk treatmen yang symptomatic tetapi agen antidiarrrheal yang kuat seperti Lomotil (diphenoxylate plus atropine) sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang diduga infeksi bakteri invasive (fever and bloody stools) b. Penangkal dan Obat Specific. Tidak ada spesific Penangkal 1. Pasien dengan infeksi bakteri yang invasive, antibiotik mungkin digunakan sekali the stool menyingkap specific bacteria respondible, walaupun antibiotic tidak selalu memendekkan penyakit dan dengan E coli 0157 : H7 antibiotic mungkin meningkatkan resiko hemolyticuremic syndrome. Treatmen Empiric dengan trimethoprim-

sulfamethoxazole atau quinolones seringkali diprakarsai selagi menunggu hasil culture . 2. Wanita hamil yang telah memakan makanan yang terkontaminasi Listeria sebainya ditreatmen secara empirik, walaupun jika hanya mild symptomatic (gejala ringan), untuk mencegah infeksi

intrauterine yang serious. Pilihan antibiotic adalah intravenous

7

ampicillin dengan gentamicin yang ditambahkan untuk beberapa infeksi. c. Dekontaminasi (lihat Decontamination) prosedur tidak terindikasikan pada banyak kasus. Walaupun, mempertimbangkan menggunakan activated charcoal jika segera tersedia setelah seafood yang bertoxic tinggi (misalnya; ikan fugu) d. Eliminasi yang Ditingkatkan (enhanced elimination). Tidak ada aturan untuk meningkatkan prosedur penghapusan.

8

Tabel II-26. Keracunan makanan karena Bakteri Periode Organism Inkubasi 1-6 h V>D. Toxin (emesis) Bacillusn Cereus 8-16 h makanan dan usus (diarrhea) D+, F. invasive dan Campylobacter 1-8 d Jejuni diproduksi di usus D>V. Toxin yg Clostridium 6-16 h perfringens makanan dan usus Diarrhea D>V. Toxin yg Escherichia coli 12-72 h enterotoxigenic usus Pemegang makanan) Air, berbagai macam makanan ; Escherichia coli 24-72 h enteroinvasive invasive Pemegang makanan) Escherichia coli enterohemorrhagic 0157:H7 1-8 d D+,