interpretasi citra landsat, ikonos, foto udara

Download Interpretasi Citra Landsat, Ikonos, Foto Udara

Post on 24-Jun-2015

5.912 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Foto Udara, Ikonos, Landsat

TRANSCRIPT

INTERPRETASI CITRA (FOTO UDARA, LANDSAT, IKONOS) Uftori Wasit1

I. PENDAHULUANInterpretasi citra merupakan kegiatan pengkajian foto udara atau citra satelit untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut (Estes dan Simonett, 1975). Dalam pengenalan obyek terdapat tiga kegiatan yaitu deteksi ada tidaknya suatu obyek, identifikasi ciri-ciri obyek dan analisis. Kegiatan interpretasi citra ini berdasarkan format data penginderaan jauh dibedakan atas interpretasi digital yaitu pada data berformat numerik dan interpretasi manual pada data berbentuk visual. Interpretasi citra secara digital proses klasifikasi obyek berdasarkan nilai spektralnya, dapat berupa klasifikasi terbimbing melalui penetapan daerah contoh yang diketahui jenis obyek dan nilai pikselnya dan tanpa penentuan daerah contoh atau disebut klasifikasi tidak terbimbing. Untuk kasus interpretasi digital secara umum lebih mudah karena merupakan proses pembatasan (delinasi) yang dilakukan perangkat lunak komputer. visual. Secara umum interpretasi visual dilakukan pada data penginderaan jauh dalam bentuk cetakan seperti foto udara pada pemetaan manual. Namun tidak menuntut kemungkinan, interpretasi visual juga dapat dilaksanakan pada data vormat digital yang tersedia langsung pada komputer. Kelebihan dari interpretasi visual secara langsung di komputer ini lebih mudah dan dapat mendeteksi obyek melalui pengaturan komposisi band citra. Dan perkembangan satelit penginderaan jauh yang menyediakan citra satelit berresolusi tinggi yang melebihi data foto udara memungkinkan interpretasi visual bermanfaat dalam kegiatan interpretasi citra. Interpretasi citra secara visual menurut Vink (1965) dilakukan melalui enam tahap yaitu deteksi, identifikasi, analisis, deduksi, klasifikasi dan idealisasi. Kegiatan deteksi merupakan kegiatan penyadapan data secara selektif atas obyek1

Sementara

interpretasi yang cukup menyita waktu adalah interpretasi secara manual atau

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

1

yang tampak langsung dan tidak tampak langsung atau sulit dikenali. Obyek yang dikenali kemudian dipisahkan dengan cara penarikan garis batas antara kelompok yang memiliki kesamaan ujud. Proses deduksi pada dasarnya untuk memastikan obyek berdasarkan konvergensi bukti atau ciri-ciri yang mengarah pada obyek tersebut. Berikutnya dilakukan klasifikasi atau pengelompokkan obyek kedalam kelas-kelas berdasarkan kesamaan antara obyek dan secara idealis merupakan kegiatan menggambar hasil interpretasi yang dilakukan. Pengenalan obyek pada citra penginderaan jauh pada hakekatnya didasarkan pada kunci interpretasi yaitu terkait dengan unsur-unsur interpretasi citra. Unsur-unsur interpretasi citra antara lain rona dan warna, bentuk, pola, ukuran, banyangan, asosiasi dan situs. Rona dan warna merupakan unsur interpretasi yang paling mudah di kenali. Rona menunjukkan tingkat kegelapan dan kecerahan suatu obyek sedangkan warna merupakan tampilan obyek berdasarkan nilai spektralnya terutama pada sinar tampak (biru, hijau dan merah). Obyek yang menyerap sinar biru akan tampak kuning sebagai akibat menyerap warna hijau dan merah. Bentuk merupakan kerangka atau konvigurasi obyek, kenampakan pada foto udara atau citra berresolusi umumnya jelas sehingga mudah dikenali sebagai contoh bentuk memanjang mencirikan obyek jalan atau saluran. Ukuran menggambarkan variabel jarak baik panjang, lebar mapun luas suatu obyek. Ukuran tergantung pada skala foto udara atau citra satelit. Pola dapat terbentuk secara alami maupun oleh buatan manusia. Pola alami bisasnya pola acak sedangkan akibat buatan manusia seperti penanaman dengan jarak tertentu membentuk pola teratur. Textur merupakan perulangan dari ukuran, rona atau warna. Tekstur halus sebagai akibat perulangan ukuran yang semakin banyak, sedangkan tekstur kasar perulangan ukuran sedikit. Bayangan merupakan kenampangan obyek pada daerah gelap. Assosiasi merupakan keterkaitan/hubungan antara objek yang dikenali dengan objek lain yang didekatnya. Pengenalan suatu objek berguna untuk mengidentifikasi obyek yang lain, sedangkan situs adalah dapat berupa lokasi keberadaan obyek berdasarkan lingkungannnya. Situs tanaman sagu biasanya pada daerah berawa atau situs hutan bakau bisanya di sepanjang garis pantai. Interpretasi citra selain didasarkan pemahaman tentang obyek bedasarkan unsur-unsur interpretasi yang dikenali. Pengenalan obyek juga sangat tergantung pada data citra penginderaan jauh yang tersedia baik foto udara maupun citra 2

satelit. Citra foto udara skala besar atau citra satelit beresolusi tinggi senantiasa akan memperlihatkan unsur-unsur interpretasi citra secara jelas, sedangkan yang berskala kecil atau beresolusi rendah obyek sulit dikenali hanya didasarkan pada pembeda warna atau bentuk. Sebagai pelengkap agar interpretasi berlangsung dengan mudah maka data dasar tersedia dan pengalaman interpreter terhadap lokasi yang dikaji yang memadai sangat membantu interpreter dalam pengenalan obyek sebenarnya. Sesuai dengan data pengginderaan jauh yang diperoleh yaitu Foto Udara skala 50.000, citra Landsat 7 resolusi 30 x 30 meter, dan citra ALOS resolusi 10 x 10 meter maka secara mendasar dapat dikatakan bahwa kenampakan obyek setiap data tersebut akan berbeda-beda. Semakin besar skala/resolusi data penginderaan jauh maka akan semakin baik obyek yang akan ditampilkan, sebaliknya semakin kecil skala/resolusi maka obyek yang ditampilkan akan semakin buruk. Kegiatan praktikum ini bertujuan untuk melakukan interpretasi citra secara visual untuk memetakan penutupan lahan dan membedakan hasil pemetaan penutupan lahan dari tiga data penginderaan jauh yang diperoleh. Praktikum ini bermanfaat dalam mengetahui cara-cara interpretasi, yang terutama mencakup pemahaman tentang unsur-unsur interpretasi dan kenampakannya pada berbagai skala citra penginderaan jauh dalam menentukan jenis obyek.

3

II. METODE INTERPRETASI CITRAInterpretasi citra pada kegiatan praktikum ini berlokasi di wilayah Kabupaten Bogor Barat dan Kabupaten Bogor. Adapun alat dan bahan yang digunakan meliputi citra foto udara hitam putih skala 1: 50.000 (didigitalkan) dan citra landsat 7 resolusi 30 x 30 meter dan Citra ALOS resolusi 10 x 10 meter, sofewere ArcVie 3.2 dan ArcGis 9.2 dan komputer. Metode interpretasi citra pada praktikum ini adalah metode interpretasi secara visual melalui digitasi onscren. Pelaksanaan interpretasi mengikuti langkahlangkah sebagi berikut : Pemasukan data kedalam sistem komputer Koreksi geometri untuk menyesuaikan posisi geografis data penginderaan jauh. Pemilihan lokasi dengan luasan tertentu untuk areal interpretasi Pengaturan band Citra dan Penajaman citra penginderaan jauh Interpretasi ;Identifikasi obyek berdasarkan unsur-unsur interpretasi citra Pembatasan (digitasi) obyek hasil identifikasi dan klasifikasi Penyajian hasil interpretasi Kaitannya dengan pengaturan band citra merupakan langkah penting untuk interpretasi obyek. interpretasi. Setiap Pengaturan band citra pada dasarnya merupakan upaya obyek pada dasarnya memiliki kenampakan tertentu Petunjuk mencirikan kenampakan obyek berdasarkan rona dan warna sebagai unsur dasar berdasarkan rona dan warn, baik warna alami maupun warna palsu.

pengenalan obyek dari perbandingan band citra untuk citra landsat sebagi berikut :

4

R, G, B 3,2,1 4,3,2 3,4,2

Informasi Obyek Permukaan Lahan Kombinasi warna alami, menampakkan vegetasi hutan berwarna hijau, dan tanaman pertanian berwarna coklat kuning, jalan berwarna abuabu, air tampak biru mudah atau putih. Daerah bervegetasi berwarna merah, permukiman berwarna biru cyan, dan tanah terbuka bervariasi dari coklat gelap ke terang. Es, salju dan awan berwarna putih atau cyan. Daerah bervegetasi hijau muda, permukaan tanah terbuka tampak coklat, coklat kemerahan, permukiman tampak ungu, sungai tampak biru tua dan awan tampak putih. Vegetasi berwarna hijau teduh, kuning merah, coklat atau kuning, obyek tanah berwarna coklat, permukiman tampak biru terang, putih, cyan atau abu-abu, lahan baru dibuka atau vegetasi yang tumbuh jarang tampak kemerahan dan air akan tampak biru tua Kombinasi juga memunculkan vegetasi berwarna hijau teduh, coklat dan kuning merah, daerah permukiman tampak biru muda, air tampak biru tua, daerah yang berair tampak biru dan tanah tampak coklat kuningdigunakan band inframerah. Seperti kombinasi 4 5 1 vegetasi akan muncil, hijau, kuning coklat. Vegtasi yang sehat tampak hijau dan ungu muda, permukiman berwarna ping, tubuh air atau tanah yang berair tampak biru. Vegetasi tampak hijau,coklat dan kuning terang, permukiman tampak merah muda, tubuh air atau daerah yang berair tampak biru sangat gelap Kombinasi ini akan memunculkan tekstur topografi. Seperti halnya kombinasi 5,4,1 kenampakan obyek vegetasi hijau,coklat dan kuning terang, permukiman tampak merah muda, tubuh air atau daerah yang berair tampak biru sangat gelap

4,5,1

4,5,3

5,4,3 5,4,2

5,3,1

Kenampakan obyek berdasarkan perbandingan band tersebut tergantung pada band citra yang tersedia dan resolusi dari citra satelit. Untuk foto udara, perbandingan band komposit tidak dapat dilakukan karena tidak merupakan data digital sebenarnya sehingga foto udara hanya ditampakkan dalam warna hitam dan putih. Interpretasi obyek selanjutnya didasarkan pada unsur-unsur interpretasi lainnya yang meliputi bentuk, ukuran, tekstur, pola, banyangan, situs dan asosiasi.

5

III. HASIL INTERPRETASI CITRACitra Foto Udara Interpretasi citra untuk foto udara karena merupakan data hasil skaning maka obyek yang ditampakkan pada citra nampak sulit untuk dibedakan. Untuk membedakan obyek maka unsur interpretasi yang dominan digunakan adalah rona/warna, bentuk dan tekstur. Gambaran tentang kondisi citra foto udara sebagaimana disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Citra Foto Udara wilayah Bogor Barat Citra foto udara sebagaimana di tunjuk