inisiasi ii kepemimpinan

Download Inisiasi II Kepemimpinan

Post on 07-Jan-2016

227 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

good

TRANSCRIPT

Inisiasi IIKepemimpinan

Memahami Bacaan

Saudara, pada inisiasi II ini dibahas tentang kepemimpinan. Bukalah Modul 3. Tema Kepemimpinan merupakan tema penting dalam perilaku organisasi. Materi kepemimpinan membahas bagaimana perilaku pemimpin dari waktu ke waktu dan bagaimana para peneliti organisasi dan manajemen memberikan nama atas perilaku pemimpin tersebut. Lalu tema kekuasaan membahas tentang pengertian kekuasaan, sumber kekuasaan, politik organisasi dan etika organisasi.

Kepemimpinan berbicara tentang apa sih yang membuat seseorang itu bisa dipatuhi sehingga layak menjadi pemimpin dan cara-cara yang umum dilakukan orang dalam melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin hingga orang mau menuruti kemauannya. Jika Anda perhatikan, perkembangan teori-teori kepemimpinan sangat erat berhubungan dengan setting social di mana para anggota organisasi hidup.

Kekuasaan membahas tentang mengapa seseorang dapat memiliki kekuasaan, dan ini berarti berbicara tentang sumber kekuasaan dan cara menggunakan kekuasaan untuk memperoleh dan menggerakkan sumberdaya organisasi. Penggunaan kekuasaan sering disebut sebagai politik organisasi. Agar penggunaan kekuasaan tidak menjurus kepada perilaku otoriter, konflik, dan permainan kotor maka penggunaan kekuasaan perlu dibatasi dengan etika organisasi.Pada bahasan terakhir dijelaskan tentang konflik organisasi. Konflik ini berkait erat dengan kemampuan kepemimpinan seseorang dan factor penggunaan kekuasaan. Dalam bab ini, bahasan konflik tentang sumber konflik dan cara mengatasi konflik.

Strategi Belajar a. Anda perlu memahami secara baik konsep-konsepnya, untuk itu perlu membaca dengan seksama kegiatan belajar dengan kegiatan belajar Modul 3 ini dengan seksama. b. Cobalah untuk mengobservasi atau menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan di tempat kerja Saudara.

c. Perhatikan bagaimana atasan Anda atau mungkin Anda sendiri dalam menggunakan kekuasaan, dan menemukan sumber konflik serta mengatasi konfliknya. Tanpa pengalaman tersebut Anda akan kesulitan dalam memahami kepemimpinan, kekuasaan, dan konflik.

d. Kerjakan tugas setiap Modul dan diskusikan dengan teman-teman Anda.

Sumber Bacaan lain

a. Robbins, Stephen P., and Judge, Timothy A., Organizational Behavior, (12th ed), New Jersey, Pearson Prentice Hall, 2007.

b. Agar lebih memahami materi ini silakan Anda mengunduh dari internet materi-materi yang terkait dengan pokok bahasan Modul 3 ini.Diskusi II

Saya menyampaikan apresiasi atas diskusinya pada inisiasi pertama semoga menambah semangat Anda untuk terus belajar. Pada inisiasi ke-2 ini, Anda tentunya telah membaca dan mencermati isi pokok-pokok bahasan pada Modul 2 mengenai Teori-teori Klasik dan Neoklasik Administrasi. Silahkan diskusikan topik-topik berikut

1. Apakah konsep birokrasi dan manajemen Max Weber dalam administrasi publik di era New Public Service masih relevan?

2. Apa yang dapat saudara maknai dari konsep Administrative Behavior (keputusan rasional, dan kepuasan) dalam implementasi pelayanan publik dan berikan salah satu contoh sesuai dengan kondisi empiris sekarang ini?.

3. Bagaimana kontribusi mazhab klasik dan neoklasik dalam perkembangan administrasi public dan bagaimanakah kesesuaiannya dengan kondisi saat ini? Selamat berdiskusi, kami hanya mengingatkan 3 hal :1. Luangkan waktu untuk membaca modul 2 dan dukunglah dengan referensi yang relevan, sebelum saudara berdisikusi pada inisiasi II ini.2. Tutor dalam tuton ini sebagai media dan moderator komunikasi akademik antara mahasiswa dengan mahasiswa dalam berdiskusi, tetapi disisi lain dengan mengikuti tuton secara baik akan berkontribusi signifikan terhadap nilai ujian akhisr (UAS)saudara, untuk itu luangkanlah waktu membuka tuton ini.3. Jangan lupa persiapkan untuk pertemuan inisiasi III, dengan membaca terlebih dahulu modul 3.SELAMAT BERDISKUSI!Kami yakin Saudara telah memahami modul 1 dan 2 melalui membacanya secara intensif dan berdiskusi dengan teman sejawat dan tutor pada Inisiasi I dan II. Dengan melalui langkah ini kami yakin bahwa Saudara telah dapat menjelaskan administrasi publik, teori-teori klasik dan neoklasik, dan teori hubungan kemanusiaan serta prilaku organisasi. Dengan kompetensi ini, Saudara dapat menganalisis fenomena empirik terkait dengan administrasi publik berdasarkan konsep dan teori tersebut.

Agar Saudara semakin kompeten dalam menganalisis fenomena empirik, kami memberikan tugas kepada Saudara. Tugas ini terdiri atas tiga tugas. Untuk Tugas pertama ini, ketentuannya sebagai berikut.

Pertama: Carilah 2 artikel/karya ilmiah HASIL PENELITIAN yang dimuat pada JURNAL ILMIAH

Kedua:buatlah resensi dari artikel tersebut

Ketiga : setiap tugas dikumpulkan setelah pelaksanaan tutorial tatap muka

Setiap tugas yang dikerjakan cukup tinggi kontribusinya terhadap nilai tuton saudara!

SELAMAT MENGERJAKAN TUGAS!

Bahan :Seta Basri Menulis Terus

Konsep-konsep Birokrasi menurut Max Weber dan Martin Albrow

oleh: seta basri 15 komentar birokrasi dan demokrasi

Share:

Konsep-konsep birokrasi secara awam lekat dengan stempel tak efektif, lambat, kaku, bahkan menyebalkan. Stempel-stempel seperti ini pada satu sisi menemui sejumlah kebenarannya pada fakta lapangan. Namun, sebagian lain merupakan stereotipe yang sesungguhnya masih dapat diperdebatkan keabsahannya.Pada materi ini, kita akan kembali kepada tema awal maksud dari gagasan birokrasi. Konsep birokrasi yang dikaji pada materi ini mengikut pada dua teoretisi yang cukup berpengaruh di bidang ini. Pertama adalah konsep birokrasi yang disodorkan Max Weber. Kedua adalah konsep birokrasi yang disodorkan oleh Martin Albrow. Potret IndonesiaMax Weber on BureaucracySebelum masuk pada pandangan Weber soal Birokrasi ada baiknya ditinjau etimologi (asal-usul) konsep ini yang berasal dari kata bureau. Kata bureau berasal dari Perancis yang kemudian diasimilasi oleh Jerman. Artinya adalah meja atau kadang diperluas jadi kantor. Sebab itu, terminologi birokrasi adalah aturan yang dikendalikan lewat meja atau kantor. Di masa kontemporer, birokrasi adalah "mesin" yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ada di organisasi baik pemerintah maupun swasta. Pada pucuk kekuasaan organisasi terdapat sekumpulan orang yang menjalankan kekuasaan secara kurang birokratis, dan dalam konteks negara, mereka misalnya parlemen atau lembaga kepresidenan.Hal yang perlu disampaikan, Max Weber sendiri tidak pernah secara definitif menyebutkan makna Birokrasi. Weber menyebut begitu saja konsep ini lalu menganalisis ciri-ciri apa yang seharusnya melekat pada birokrasi. Gejala birokrasi yang dikaji Weber sesungguhnya birokrasi-patrimonial. Birokrasi-Patrimonial ini berlangsung di waktu hidup Weber, yaitu birokrasi yang dikembangkan pada Dinasti Hohenzollern di Prussia.Birokrasi tersebut dianggap oleh Weber sebagai tidak rasional. Banyak pengangkatan pejabat yang mengacu pada political-will pimpinan Dinasti. Akibatnya banyak pekerjaan negara yang salah-urus atau tidak mencapai hasil secara maksimal. Atas dasar ketidakrasional itu, Weber kemudian mengembangkan apa yang seharusnya (ideal typhus) melekat di sebuah birokrasi.Weber terkenal dengan konsepsinya mengenai tipe ideal (ideal typhus) bagi sebuah otoritas legal dapat diselenggarakan, yaitu:1. tugas-tugas pejabat diorganisir atas dasar aturan yang berkesinambungan;2. tugas-tugas tersebut dibagi atas bidang-bidang yang berbeda sesuai dengan fungsi-fungsinya, yang masing-masing dilengkapi dengan syarat otoritas dan sanksi-sanksi;3. jabatan-jabatan tersusun secara hirarkis, yang disertai dengan rincian hak-hak kontrol dan pengaduan (complaint);4. aturan-aturan yang sesuai dengan pekerjaan diarahkan baik secara teknis maupun secara legal. Dalam kedua kasus tersebut, manusia yang terlatih menjadi diperlukan;5. anggota sebagai sumber daya organisasi berbeda dengan anggota sebagai individu pribadi;6. pemegang jabatan tidaklah sama dengan jabatannya;7. administrasi didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis dan hal ini cenderung menjadikan kantor (biro) sebagai pusat organisasi modern; dan8. sistem-sistem otoritas legal dapat mengambil banyak bentuk, tetapi dilihat pada bentuk aslinya, sistem tersebut tetap berada dalam suatu staf administrasi birokratik.Bagi Weber, jika ke-8 sifat di atas dilekatkan ke sebuah birokrasi, maka birokrasi tersebut dapat dikatakan bercorak legal-rasional.Selanjutnya, Weber melanjutkan ke sisi pekerja (staf) di organisasi yang legal-rasional. Bagi Weber, kedudukan staf di sebuah organisasi legal-rasional adalah sebagai berikut:1. para anggota staf bersifat bebas secara pribadi, dalam arti hanya menjalankan tugas-tugas impersonal sesuai dengan jabatan mereka;2. terdapat hirarki jabatan yang jelas;3. fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas;4. para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak;5. para pejabat dipilih berdasarkan kualifikasi profesional, idealnya didasarkan pada suatu diploma (ijazah) yang diperoleh melalui ujian;6. para pejabat memiliki gaji dan biasanya juga dilengkapi hak-hak pensiun. Gaji bersifat berjenjang menurut kedudukan dalam hirarki. Pejabat dapat selalu menempati posnya, dan dalam keadaan-keadaan tertentu, pejabat juga dapat diberhentikan;7. pos jabatan adalah lapangan kerja yang pokok bagi para pejabat;8. suatu struktur karir dn promosi dimungkinkan atas dasar senioritas dan keahlian (merit) serta menurut pertimbangan keunggulan (superior);9. pejabat sangat mungkin tidak sesuai dengan pos jabatannya maupun dengan sumber-sumber yang tersedia di pos terbut, dan;10. pejabat tunduk pada sisstem disiplin dan kontrol yang seragam.Weber juga menyatakan, birokrasi itu sistem kekuasaan, di mana pemimpin (superordinat) mempraktekkan kontrol atas bawahan (subordinat). Sistem birokrasi menekankan pada aspek disiplin. Sebab itu, Weber juga memasukkan birokrasi sebagai sistem legal