implementasi quality function deployment untuk produk... · pdf filefor designing the...

Click here to load reader

Post on 10-Jun-2018

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    Implementasi Quality Function Deployment untuk Perancangan

    Produk Kursi Bambu dengan Evaluasi Ergonomi

    Antropometri dan Biomekanik

    Sritomo Wignjosoebroto, Iwan Vanany dan A.A. Alit Triadi

    Laboratorium Ergonomi & Perancangan Sistem Kerja

    Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

    Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111

    Ph/Fax : (031)-5939361, 5939362; e-mail :

    ABSTRAK

    Perancangan produk kursi bambu yang ada selama ini tampak masih belum banyak yang

    memperhatikan dan mempertimbangkan kelayakan ergonomi. Padahal keergonomisan

    sebuah produk ataupun fasilitas kerja yang nantinya akan digunakan/dioperasikan oleh

    manusia sungguh sangat penting agar bisa memenuhi kriteria- kriteria efektif, nyaman,

    aman, sehat dan efisien (ENASE). Rancangan produk kursi bambu yang banyak dijumpai

    dan diperjual-belikan lebih terfokus pada aspek fungsional dan kurang melihat parameter-

    parameter yang terkait dengan keinginan maupun kepuasan konsumen. Penelitian yang

    dilakukan berawal dari upaya mengidentifikasikan parameter-parameter yang mampu

    memberikan kepuasan konsumen untuk kemudian dijadikan dasar penentuan parameter-

    parameter teknis dalam proses perancangan produk kursi bambu.

    Dalam perancangan kursi bambu ini, metode yang diterapkan untuk mengidentifikasikan

    keinginan konsumen (the voice of customer) untuk kemudian diterjemahkan kedalam

    paramater teknis rancangan produk adalah Quality Function Deployment (QFD). Selain

    itu analisa/evaluasi yang berkaitan dengan kelayakan-ergonomi akan diimplementasikan

    untuk melihat seberapa jauh rancangan produk mampu memberikan nilai tambah dalam hal

    kenyamanan yang bisa dirasakan oleh konsumen pada saat mereka ingin memanfaatkan

    hasil rancangan produk baru tersebut. Dengan melakukan analisa dan evaluasi ergonomi-

    antropometri dan biomekanik terhadap prototipe yang dibuat dapat diperoleh kesimpulan

    apakah rancangan baru kursi bambu tersebut benar-benar memiliki kelayakan-ergonomis

    dibandingkan dengan yang selama ini ada.

    Kata kunci : Rancangan Produk Kursi Bambu, Kepuasan Konsumen, Quality Function

    Deployment (QFD), Ergonomi Antropometri, dan Biomekanik

    ABSTRACT

    Design of bamboo chair has not used to consider the feasibility of ergonomic aspects

    before. However, ergonomics based of products, equipments or facilities are very

    important in order to obtain the criterias of effective, comfort, safety, healthy, and

    efficiency. Design of bamboo chair commonly are focused in functional aspecs and lacked

    on the parameters which will fulfill the customer needs and/or satisfactions. This study tries

    to begin with the identification of the needs of customers; and based upon these data the

    technical specifications of designing product will be decided.

    For designing the ergonomics bamboo chair, the method of Quality Function Deployment

    (QFD) is applied to identify the needs of customers for some products attributes (the voice

    of customers). These attributes will be converted to technical parameters of the product

    design (the engineering specifications). As the final result of the study, a prototype will be

    developed and made, especially for testing purpose. The analysis and evaluation are also

    mailto:[email protected]

  • 2

    implemented in order to check how far the product design has fulfilled the ergonomics

    feasibility. In this case the anthropometrics data and biomechanics are used to analyze and

    evaluate the products prototype.

    Keywords : Ergonomic Design of Bamboo Chair, Customers Satisfactions, Quality

    Function Deployment (QFD), Anthropometric and Biomechanic.

    1. Pendahuluan

    Perkembangan industri kerajinan bambu di Bali dewasa ini menunjukkan prospek

    yang sangat cerah. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan semakin meningkatnya

    volume ekspor komoditi produk tersebut. Tidak berbeda halnya dengan dengan

    kondisi ekspor , maka permintaan didalam negeri juga menunjukkan arah

    permintaan yang terus bertambah untuk produk-produk kerajinan bambu baik

    berupa furniture, komponen-komponen bangunan dan interior, maupun benda-benda

    seni lainnya. Salah satu produk kerajinan bambu yang sangat banyak diminati

    berupa kursi tamu dimana volume permintaannya mendekati angka 70% dari

    komoditas produk bambu yang ada (Depperindag-Gianyar, 2001). Kursi tamu

    dengan bahan bambu ini sangat diminati, karena terkesan unik, tradisional, estetis,

    artistik dan memiliki karakteristik natural yang sangat kental dengan tekstur kulit

    bambu yang khas. Keunikan lain yang dimiliki kursi bambu adalah sambungan-

    sambungan yang ada memberikan tampilan yang berbeda dengan produk furniture

    dari bahan yang lain (logam, kayu, dll), yaitu digunakannya pasak dan rotan sebagai

    pengikat yang menjadikannya lebih berkarakter kuat.

    UD. Tree Ellen adalah satu dari sekian banyak pengrajin bambu yang ada di Desa

    Belega (Bali). Perusahaan ini sudah cukup lama menggeluti usaha pembuatan

    berbagai macam produk dengan bahan bambu. Dalam pembuatan produk kursi

    bambu umumnya pengrajin masih mengalami kesulitan dalam pengembangan desain

    maupun model yang mengacu pada keinginan konsumen. Acapkali desain atau

    model yang dihasilkan belum sepenuhnya sesuai dengan keinginan konsumen.; dan

    disisi lain dapat dikatakan tingkat pemahaman pengrajin terhadap tuntutan-tuntutan

    pasar global (ekspor) masih terasa sangat kurang. Kesan lain yang lebih spesifik

    menunjukkan bahwa desain yang dibuat terasa tidak nyaman untuk diduduki yang

    bisa dilihat dari aspek kelayakan ergonomi-antropometri didalam penetapan

    kedalaman kursi (50 cm), tinggi (45 cm) dan sudut kemiringan (90o

    atau tegak lurus)

    sandaran punggung. Selain itu tidak digunakannya busa sebagai alas duduk dan

    sandaran punggung menambah ketidak-nyamanan pemakai akibat sifat material

    yang cenderung keras, rigid dan/atau kaku . Keluhan lain yang sering ditangkap

    terfokus pada kualitas proses finishing yang belum mampu dikerjakan dengan baik

    ditunjukkan oleh adanya lapisan pernis pada permukaan kursi yang lengket dengan

    kulit tangan dan/atau kaki penggunanya.

    Untuk membantu pengrajin didalam upayanya memenuhi keinginan dan kepuasan

    konsumen, maka studi/penelitian dilakukan dengan menekankan pada aspek

    ergonomis dalam perancangan produk kursi bambu; dimana perancangan akan

    terfokus pada manusia pemakainya (Human Centered Design). Untuk memahami

    hal-hal yang menjadi keinginan, harapan, maupun yang bisa menimbulkan kepuasan

    manusia-pemakai (konsumen); maka parameter-parameter berupa keinginan/harapan

  • 3

    (the voice of customer) tersebut akan dikembangkan melalui implementasi metode

    Quality Function Deployment (QFD), untuk kemudian diterjemahkan dalam

    parameter-parameter teknis (engineering specification) dalam proses perancangan

    produk. Berdasarkan analisa QFD akan dibuat protipe rancangan baru yang

    memenuhi kelayakan ergonomis. Evaluasi ergonomis untuk menentukan tingkat

    kenyamanan yang dihasilkan akan menggunakan tolok ukur kelayakan antropometri

    dan biomekanika (tinjauan untuk sikap/posisi duduk) dengan menggunakan

    perbandingan rancangan awal dan rancangan yang telah dimodifikasi (redesign).

    2. Perumusan masalah

    Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan, maka rumusan

    permasalahannya adalah (a) bagaimana kajian - kajian ergonomis bisa dilakukan

    terhadap rancangan produk kursi bambu yang ada; (b) seberapa jauh bisa dilakukan

    modifikasi untuk menghasilkan rancangan ulang (redesign) yang memiliki

    kelayakan ergonomis-antropometri; dan (c) kemungkinan untuk pembuatan

    prototipe rancangan produk kursi bambu hasil modifikasi (redesign) agar bisa

    dilakukan analisa perbandingan berdasarkan tolok ukur kelayakan ergonomis

    (analisa ergonomi antropometri dan biomekanika).

    3. Tujuan penelitian

    Tujuan penelitian adalah untuk mengindentifikasikan keinginan-keinginan yang

    mampu mengakomodasikan kepuasan konsumen terhadap rancangan produk kursi

    bambu. Tolok ukur kepuasan konsumen dalam hal ini dilihat dari aspek kelayakan

    ergonomi-antropometri.

    4. Metodologi penelitian

    Penelitian diawali dengan identifikasi permasalahan, pengumpulan dan pengolahan

    data, dilanjutkan dengan analisa serta interpretasi data. Pengumpulan data dilakukan

    dengan menerapkan metode Quality Function Deployment (QFD) terutama untuk

    mengetahui hal-hal yang bisa memenuhi keinginan, harapan maupun kepuasan

    konsumen (the voice of customers) untuk beberapa atribut/parameter yang relevan

    dengan kebutuhan perancangan produk. Berdasarkan suara pelanggan ini, maka

    parameter dan spesifikasi teknis produk akan bisa dikembangkan sebagai bahan

    pertimbangan untuk melakukan modifikasi rancangan (redesign) dan pembuatan

    prototipe. Pembuatan prototipe akan diperlukan agar bisa dilakukan test maupun

    evaluasi yang berkaitan dengan kelayakan ergonomi-antropometri dan biomekanika

    dari produk kursi bambu. Secara sistematis langkah-langkah penelitian dapat

    dijelaskan dalam gambar 1 di halaman selanjutnya.

    4.1. Identifikasi permasalahan

    Rancangan kursi bambu yang selama ini banyak dijumpai dan digunakan oleh

    konsumen seringkali me