identifikasi serangga tanaman cabai

Download Identifikasi Serangga Tanaman Cabai

Post on 12-Apr-2017

21 views

Category:

Education

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

    IDENTIFIKASI SERANGGA TANAMAN CABAI

    DI KEBUN PERCOBAAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

    UNIVERSITAS PADJADJARAN

    JOSUA CRYSTOVEL

    150320160005

    Dosen:

    Yusuf Hidayat, S.P., M.Phill., Ph.D

    PASCASARJANA AGRONOMI

    FAKULTAS PERTANIAN

    UNIVERSITAS PADJADJARAN

    SUMEDANG

    2016

  • 2

    PENDAHULUAN

    Cabai (Capsicum annuum, L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang

    digolongkan kedalam sayuran dan paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Kebutuhan

    cabai setiap tahunnya semakin meningkat dengan harga yang semakin meningkat namun

    kebutuhan tersebut tidak dibarengi dengan meningkatnya produksi cabai (Khasanah 2011).

    Produktivitas tanaman cabai nasional sekarang ini meningkat 10,12 %, peningkatan produksi

    cabai di tahun 2012 terjadi di Pulau Jawa sebesar 15,424 ribu ton. Sedangkan di luar Pulau

    Jawa meningkat sebesar 66,268 ribu ton (Badan Pusat Statistik Nasional, 2012). Sedangkan

    di Provinsi Gorontalo produktivitas tanaman cabai mengalami peningkatan pada tahun 2009

    sebesar 312 ton dan penurunan pada tahun 2011 sebesar 213 ton (BPS dan Direktorat Jendral

    Hortikultura, 2011).

    Informasi dan teknik merupakan pondasi dalam membangun suatu program manajemen

    hama. Informasi yang penting antara lain (a) informasi biologis yang meliputi data tentang

    cara hama makan, tumbuh, berkembang, berproduksi, dan menyebar serta habitat yang

    dibutuhkan, (b) dinamika populasi yang dikaitkan dengan musuh alami, cuaca, makanan, dan

    habitat. Teknik yang menjadi dasar antara lain identifikasi spesies, pemeliharaan dan

    pencuplikan (Pedigo, 1999).

    Salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas tanaman cabai adalah

    gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit. Seranga

    hama dan penyakit tersebut dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi bahkan sampai

    mengakibatkan gagal panen (Setiawati et. al. 2005) melaporkan terdapat 14 jenis hama

    penting pada tanaman cabai di antaranya hama trips, kutu daun persik, hama tungau teh

    kuning, hama ulat tanah, hama gangsir, hama anjing tanah atau orong-orong, hama uret, hama

    ulat bawang, hama ulat grayak, hama penggorok daun, hama wereng kapas, hama kutu kebul,

    hama dan hama lalat buah. Kehilangan hasil akibat organisme penggangu tanaman ini dapat

    mencapai 20 sampai 100%.

    Pemilihan varietas unggul merupakan salah taktik dalam konsep pengendalian hama

    terpadu. Pada umunya cabai yanng banyak dibudikayakan oleh petani adalah cabai keriting,

    cabai merah biasa, paprika dan cabai keriting hibrida ( Tim Bina Karya Tani, 2008).

  • 3

    Tujuan

    Tujuan pengamatan praktikum ini dengan materi identifikasi serangga pada tanaman

    cabai adalah:

    Menambah wawasan tentang pemahaman secara langsung di lapangan bahwa apa

    saja serangga yang terdapat pada tanaman cabai secara umum.

    Untuk mengetahui lebih jelas perbedaan masing-masing bagian tubuh serangga

    (kepala, dada, sayap, perut, dan kaki) sehingga memudahkan

    penglasifikasian/identifikasi di lapangan.

    Mengenali gejala secara langsung akibat jenis-jenis serangga yang bersifat

    merugikan bagi tanaman cabai.

    METODOLOGI

    Lokasi dan Waktu Praktikum

    Kegiatan Praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Hama dan Penyakit Tanaman

    Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat pada hari Sabtu, 19 November

    2016.

    .

    Alat dan Bahan

    Pengamatan dilakukan secara sederhana yaitu dengan visual (mata) secara langsung

    pada siang hari dilapangan secara acak di bagian masing masing yang telah ditentukan oleh

    dosen pengampu kuliah. Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah , kertas, pena,

    buku identifikasi/ internet. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kantung

    plastik, kamera atau handphone.

  • 4

    PEMBAHASAN

    No Nama Serangga Ordo

    Serangga

    Tipe

    Perkembangan

    Bentuk

    Sayap

    Tipe Alat

    Mulut

    Bagian

    Tanaman

    yang

    Diserang

    1 Spodoptera

    exigua (Larva)

    Lepidoptera Holometabola - Menggigit-

    mengunyah

    Daun

    2 Spodoptera

    litura (Larva)

    Lepidoptera Holometabola - Menghisap-

    menusuk

    Daun

    3 Belalang kayu

    (Valanga

    nigricornis)

    Orthoptera Paurometabola Lurus Menggigit-

    mengunyah

    Daun

    4 Walang Sangit

    (Leptocorisa

    acuta)

    Hemiptera paurometabola Setengah

    sayap

    Menusuk-

    menghisap

    Malar

    padi

    5 Kepik (Nezara

    viridula)

    Hemiptera Paurometabola Setengah

    sayap

    Menusuk-

    menghisap

    Buah

    6 Kutu Daun

    (Aphis sp.)

    Homoptera Paurometabola Sama Menghisap Daun

    7 Lalat (Musca

    domestica)

    Diptera holometabola 2 sayap Imago:

    Menjilat

    Buah

    8 Lalat Buah

    (Daccus sp.)

    Diptera holometabola 2 sayap Larva =

    menggigit-

    mengunyah

    Imago =

    menjilat

    Buah

  • 5

    Spesies Serangga Pada Tanaman Cabai Hasil Pengamatan

    Belalang kayu (Valanga nigricornis)

    Morfologi dari belalang kayu (Valanga nigricornis) termasuk ordo Orthoptera yang

    mempunyai badan berwarna cokelat kekuningan, mempunyai kaki depan yang pendek dan

    kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat, bentuk sayap lurus, dan perut

    bergaris. Belalang kayu (Valanga nigricornis) termasuk serangga dengan tipe perkembangan

    paurometabola yang mempunyai tipe alat mulut menggigit-mengunyah menyerang daun pada

    tanaman.

    Siklus hidup dari belalang kayu (Valanga nigricornis) dimulai dari telur belalang

    menetas menjadi nimfa, dengan tampilan belalang dewasa versi mini tanpa sayap dan organ

    reproduksi. Nimfa belalang yang baru menetas biasanya berwarna putih, namun setelah

    terekspos sinar matahari, warna khas mereka akan segera muncul. Selama masa

    pertumbuhan, nimfa belalang akan mengalami ganti kulit berkali kali (sekitar 4-6 kali) hingga

    menjadi belalang dewasa dengan tambahan sayap fungsional. Masa hidup belalang sebagai

    nimfa adalah 25-40 hari. Setelah melewati tahap nimfa, dibutuhkan 14 hari bagi mereka

    untuk menjadi dewasa secara seksual. Setelah itu hidup mereka hanya tersisa 2-3 minggu,

    dimana sisa waktu itu digunakan untuk reproduksi dan meletakkan telur mereka. Total masa

    hidup belalang setelah menetas adalah sekitar 2 bulan (1 bulan sebagai nimfa, 1 bulan sebagai

    belalang dewasa), itupun jika mereka selamat dari serangan predator. Setelah telur yang

    mereka hasilkan menetas, daur hidup belalang yang singkat akan berulang (Lugito, 2013).

    Pengendalian belalang kayu (Valanga nigricornis) dapat dilakukan secara mekanik yaitu

    dengan menangkap, membuang, memusnahkan dengan cara dibakar aga populasi dari

    belalang kayu dapat berkurang.

    Walang Sangit (Leptocorisa acuta)

    Morfologi walang sangit (Leptocorisa acuta) termasuk ordo serangga Hemiptera yang

    mempunyai warna hijau pada bagian bawah badan dan warna cokelat pada bagian atas badan,

    antenna yang panjang, dan sayap setengah. Walang sangit (Leptocorisa acuta) merupakan

    serangga dengan tipe perkembangan paurometabola yang mempunyai tipe alat mulut

    menusuk-menghisap menyerang malar padi.

    Siklus hidup dari hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) mengalami metamorfosis

    sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago (Harahap dan

    Tjahyono, 1997). Walang sangit dewasa meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman

  • 6

    khususnya pada area daun bendera tanaman padi. Lama periode bertelur 57 hari dengan total

    produksi terlur per induk + 200 butir. Lama stadia telur 7 hari, terdapat lima instar

    pertumbuhan nimpa yang total lamanya + 19 hari. Lama preoviposition + 21 hari, sehingga

    lama satu siklus hidup hama walang sangit + 46 hari (Balai Besar Penelitian tanaman padi,

    2009). Telur setelah menetas menjadi nimfa aktif bergerak ke malai mencari bulir padi yang

    masih stadia masak susu sebagai makananan. Nimpa-nimpa dan dewasa pada siang hari yang

    panas bersembunyi dibawah kanopi tanaman. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang

    dari rumpun ke rumpun sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau

    malam hari (Balai Besar Penelitian tanaman padi, 2009).

    Pengendalian hama walang sangait secara kultur teknik, secara biologis, serta dengan

    menggunakan perilaku serangga. Pengendalian secara kultur teknis dengan cara plot-plot

    kecil ditanam lebih awal dari pertanaman sekitarnya dapat digunakan sebagai tanaman

    perangkap. Setelah tanaman perangkap berbunga walang sangit akan tertarik pada plot

    tanaman perangkan dan dilakukan pemberantasan sehingga pertanaman utama relatif

    berkurang populasi walang sangitnya. Secara biologis yaitu dengan cara potensi agens hayati

    pengendali hama walang sangit masih sangat sedikit diteliti. Beberapa penelitian telah

    dilakukan terutama pemanfaatan parasitoid dan jamur masih skala rumah kasa atau semi

    lapang. Parasitoid yang mulai diteliti adalah O. malayensis sedangkan jenis jamurnya adalan

    Beauveria sp dan Metharizum sp. Sedangkan pengendalian dengan menggunakan perilaku

    serangga adalah walang sangit tertarik oleh senyawa (bebauan) yang dikandung tanaman

    Lycopodium sp dan Ceratophylum sp. Hal ini dapat dimanfaa