hubungan trait kepribadian dengan kecenderungan …€¦ · tabel 4.1 gambaran umum responden...
Embed Size (px)
TRANSCRIPT

HUBUNGAN TRAIT KEPRIBADIAN DENGAN KECENDERUNGAN GANGGUAN KEPRIBADIAN
OBSESIF KOMPULSIF PADA KARYAWAN
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)
Disusun oleh :
DARA AMALIA
NIM: 106070002224
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431H/2010

ii
HUBUNGAN TRAIT KEPRIBADIAN DENGAN KECENDERUNGAN
GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESIF KOMPULSIF PADA
KARYAWAN
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat
memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Oleh:
DARA AMALIA
NIM: 106070002224
Di bawah bimbingan:
Pembimbing I
Netty Hartati, M.Si NIP: 19531002 198303 2 001
Pembimbing II
M. Avicenna, M.HSc.Psy
NIP: 19770906 200112 2 004
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “Hubungan Trait Kepribadian dengan Kecenderungan
Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif pada Karyawan” telah diujikan
dalam sidang munaqosyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta pada tanggal 16 November 2010. Skripsi ini telah diterima
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1)
pada Fakultas Psikologi. Jakarta, 16 November 2010
Sidang Munaqosyah
Dekan Sekretaris
Jahja Umar, Ph.d Dra.Fadhilah Suralaga,M.Si NIP. 130 885 522 NIP. 150 215 283
Anggota:
S.Evangeline I. Suaidy, M.Si.,Psi Netty Hartanti, M.Si NIP:150411217 NIP: 19531002 198303 2 001
M. Avicenna, M.HSc.Psy NIP: 19770906 200112 2 004

iv
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Dara Amalia
NIM : 106070002224
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan Trait Kepribadian dengan Kecenderungan Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif pada Karyawan” adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunan skripsi tersebut. Adapun kutipan-kutipan yang ada dalam penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber pengutipannya dalam daftar pustaka.
Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai dengan Undang-undang jika ternyata skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.
Jakarta, 16 November 2010
Dara Amalia_ NIM: 106070002224

ABSTRAK
(A) Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (B) Oktober 2010 (C) Dara Amalia (D) 60 halaman + Lampiran (E) Hubungan Trait Kepribadian dengan Kecenderungan Gangguan Kepribadian Obsesif
Kompulsif Pada Karyawan. (F) Dewasa ini banyak orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian tidak
merasa cemas dengan perilaku maladaptifnya. Kemunculan gangguan kepribadian tersebut berawal dari distress. Salah satu gangguan kepribadian yang dapat muncul karena distress tersebut adalah obsesif kompulsif, kepribadian obsesif kompulsif adalah adanya preokupasi (keterpakuan) pada keteraturan, kesempurnaan serta kontrol mental dan interpersonal. Karyawan lebih rentan untuk terkena gangguan kepribadian obsesif kompulsif mungkin dikarenakan distress atau tekanan yang dialaminya dalam pekerjaan. Salah satu teori untuk mengukur trait kepribadian adalah model lima faktor, Faktor-faktor ini diistilahkan dengan Big five: neuroticsm, extraversion, openness to experience, agreebleness dan conscientiousness. penelitian ini bertujuan ingin mengetahui trait-trait mana kah dari pendekatan big five yang berhubungan dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan. Penelitian kuantitatif dengan studi korelasional ini melibatkan 80 responden dari 400 karyawan PT Indopoly Swakarsa Industry. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan purpossive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini yaitu International Personality Item Pool NEO (IPIP-NEO) dibuat oleh Lewis Goldberg dengan nilai alpha cronbach tiap dimensi yaitu: Neuroticisms sebesar 0.894, Extraversion sebesar 0.822, Agreebleness sebesar 0.795, Openess sebesar 0.817 dan Conscientiousness sebesar 0.854. Kemudian alat ukur gangguan kepribadian obsesif kompulsif yang dibuat oleh peneliti berdasarkan kriteria gangguan kepribadian obsesif kompulsif dalam DSM IV-TR dengan nilai alpha cronbach sebesar 0.846. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara trait neuroticism dan trait extraversion dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan. Kemudian ada hubungan yang signifikan positif antara trait agreebleness, trait openess dan trait conscientiousness dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan. Penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian pada populasi yang lebih luas dan mengambil sampel dengan jumlah yang lebih besar. Selain itu disarankan untuk menggunakan alat ukur Big Five, NEO PI-R yang dibuat oleh Costa dan McCrae (1992) untuk mendapatkan hasil yang lebih mendetail bagaimana hubungan setiap facet-facet dalam dimensi big five.
(G) Daftar Bacaan: 24; buku: 17 + internet: 7
v

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhi rabbil 'alamin, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan karunia yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi dengan judul ” Hubungan Ttrait Kepribadian dengan Kecenderungan Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif pada Karyawan”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, pemimpin dan tauladan kaum yang beriman, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang senantiasa mencintainya. Penulisan laporan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Selama pengerjaan skripsi ini peneliti dihadapkan dengan beragam cobaan, kesulitan, rintangan dan penuh perjuangan serta kesabaran yang telah memberikan banyak pelajaran hidup yang berarti bagi peneliti. Saya menyadari tidak lah mudah bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan, bimbingan, masukan, dorongan dan do’a dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi. Untuk itu dengan segala ketulusan hati peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Jahja Umar, Ph.D selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan pada saya agar dapat menuntut ilmu dan mengembangkan diri dengan baik.
2. Ibu Netty Hartati, M.Si selaku pembimbing pertama saya. Terima Kasih atas bimbingan, nasihat, arahan, masukan, waktu dan semangat yang diberikan Ibu agar saya dapat menulis skripsi ini dengan baik.
3. Bapak Avicenna, M.HSc.Psy. selaku pembimbing dua skripsi saya. terima kasih atas segala bimbingan, arahan, dan waktu yang diberikan kepada peneliti, serta Motivasi yang tak henti diberikan Bapak agar saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terutama Ibu S.Evangeline I. Suaidy, M.Si.,Psi dan Ibu Yunita Faela Nisa yang telah memberikan saya kesempatan untuk belajar serta mengembangkan diri dalam program Mentor Akademis 2010.
5. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu saya dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi.
6. Orang tua saya H. Endon Syahbuddin dan Hj.Agung T atas cinta, kasih, perhatian, motivasi dan dukungan materiil serta tak hentinya memberikan do’a dalam setiap sujud dan ibadahnya agar saya dapat menyelesaikan skripsi
vi

ini. Kemudian kakak saya Taruna Ikhwanuddin yang selalu meluangkan waktunya untuk berdiskusi dan memberi masukan dalam penulisan skripsi ini.
7. Bpk. Yunan Fauzi beserta karyawan PT.Indopoly Swakarsa Industry yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian saya.
8. Sahabat-sahabat saya dari SMA Keke, Cipoy, Damai, Aldo yang selalu menjadi tangan maupun telinga kapanpun penulis membutuhkan mereka selalu ada. Sahabat Semenjak awal masuk kuliah Amalia, Hanny, Danny yang telah menghabiskan waktu selama empat tahun bersama-sama dalam tawa maupun duka. Adiyo, Pras, Rudi, Rika, Siti, Aji, Adit, Suci, Isni yang selalu memberikan warna-warni ceria kegembiraan, kebahagian dan kobodohan bersama. Nuran yang bisa menjadi adik, sahabat, kakak bagi penulis yang mengajarkan penulis untuk memandang hidup dari sisi yang berbeda. kemudian ben, jali, chris, ogy, sobok, ayu dan tari yang menamakan dirinya “geng buavita” terimakasih atas segala perhatian yang selalu kalian berikan kepada penulis. Adik-adik kelas anya, farah, effiy, laras, yemmy, uty, rara terimakasih atas dukungan semangat yang selalu dikumandangkan kepada penulis. Geng Unyu: denyu Amirra dan Shinta mari kita unyu-unyuan bersama.
9. Teman-teman kelas B angkatan 2006 yang sangat kompak serta unik. Terimakasi kebersamaan kita selama kurang lebih empat tahun telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi penulis.
10. Teman-teman mentor akademis sebagai tempat bertukar pikiran dan telah memberikan saya banyak wawasan untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.
11. Teman- teman dalam LSO TC (Trainers Community) dan rekan-rekan BEMF Psikologi 2009-2010 yang telah memberikan saya kesempatan dan pengalaman untuk berorganisasi.
12. Seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih untuk segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan untuk membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Jakarta, 12 November 2010
Penulis
vii

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Pengesahan Pembimbing ............................................................................ ii
Lembar Pengesahan Panitia Ujian ........................................................................... iii
Lembar Orisinalitas .................................................................................................. iv
Abstrak ..................................................................................................................... v
Kata Pengantar ......................................................................................................... vi
Daftar Isi .................................................................................................................. viii
Daftar Tabel ............................................................................................................. xi
Daftar Bagan ............................................................................................................ xii
Daftar Lampiran ....................................................................................................... xiii
BAB 1 Pendahuluan................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah .............................................. 7
1.2.1 Perumusan Masalah ............................................................ 7
1.2.2 Pembatasan Masalah .......................................................... 8
I.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian......................................................... 9
1.3.1 Tujuan Penelitian ................................................................. 9
1.3.2 Manfaat Penelitian ............................................................... 9
1.4 Sistematika Penulisan ...................................................................... 10
BAB 2 Kajian Pustaka ........................................................................................... 11
2.1 Definisi Kepribadian ........................................................................ 11
2.1.1 Trait (sifat) ............................................................................ 12
2.1.2 Perkembangan Kepribadian ................................................. 14
2.1.3 Gangguan Kepribadian………………………..................... 16
viii

2.1.4 Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif ………………. 19
2.1.5 Perbedaan Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif dengan
Gangguan Kecemasan Obsesif Kompulsif ……………….. 20
2.1.6 Etiologi Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif ……… 22
2.1.7 Kriteria Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif ……… 23
2.2 Kepribadian Big Five ……………………………………………… 24
2.3 Kerangka Berpikir ………………………………………………… 31
2.4 Hipotesis Penelitian ………………………………………………...33
BAB 3 Metode penelitian ....................................................................................... 35
3.1 Pendekatan Penelitian ....................................................................... 35
3.2 Populasi dan Sampel ......................................................................... 35
3.2.1 Populasi ................................................................................. 35
3.2.2 Sampel dan teknik pengambilan sampel .............................. 35
3.3 Variabel Penelitian ........................................................................... 36
3.3.1 Definisi Konseptual ............................................................. 36
3.3.2 Definisi Operasional ............................................................ 37
3.4 Pengumpulan Data ........................................................................... 37
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data .................................................. 37
3.4.2 Instrumen Penelitian ............................................................ 38
3.4.2.1 Skala Big Five ......................................................... 38
3.4.2.2 Skala Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif… 39
3.5 Uji Instrumen ………………………………………………........... 41
3.5.1 Uji Validitas Skala …………………………………........... 41
3.5.2 Uji Reliabilitas Skala………………………………............. 42
3.6 Prosedur Penelitian ...................................................................... 43
3.7 Teknik Analisis Data ....................................................................... 44
ix

BAB 4 Hasil Penelitian .....................……………………….……………............ 45
4.1 Gambaran Umum Responden ……...………………………........... 45
4.1.1 Gambaran Umum Respnden Berdasarkan Jenis Kelamin … 45
4.1.2 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia ………… 45
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ............................................................... 46
4.2.1 Kategorisasi Skor Gangguan Kepribadian Obsesif
Kompulsif ………………………………………………… 47
4.2.2 Kategorisasi Skor Trait Big Five …………………………. 48
4.3 Hasil Uji Hipotesis ........................................................................... 49
BAB 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran ................................................................ 53
5.1 Kesimpulan …………………………………………..................... 53
5.2 Diskusi ……………………………………………………............ 54
5.3 Saran …………………………………………………................... 57
5.3.1 Saran Teoritis ......................................................................... 57
5.3.2 Saran Praktis .......................................................................... 58
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 59
Lampiran
x

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Faktor-faktor Trait Big Five dalam Pervin (2005)
Tabel 3.1 Blueprint item valid skala big five
Tabel 3.2 Blueprint item valid skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif
Tabel 4.1 Gambaran umum responden berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.2 Gambaran umum responden berdasarkan usia
Tabel 4.3 Statistik deskriptif variabel penelitian
Tabel 4.4 Penyebaran skor gangguan kepribadian obsesif komplusif
Tabel 4.5 Kategorisasi skor trait big five
Tabel 4.6 Uji Korelasi trait neuroticism dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
Tabel 4.7 Uji Korelasi trait extraversion dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
Tabel 4.8 Uji Korelasi trait agreebleness dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
Tabel 4.9 Uji Korelasi trait openess dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
Tabel 4.10 Uji Korelasi trait conscientiousness dengan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif
xi

DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Bagan Kerangka Berpikir ........................................................... 33
xii

xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Instrumen Penelitian Uji Coba, Instrumen Penelitian Fieldtest.
Lampiran 2 : Uji Reliabilitas dan Validitas Skala Big Five 43 Responden, Uji
Reliabilitas dan Validitas skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif
56 Responden.

1
BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia lahir dengan kepribadian yang berbeda-beda. Tidak ada
satu pun manusia yang memiliki kepribadian yang sama persis walau mereka anak
kembar sekalipun. Eysenck ( dalam Suryabrata, 2007) mendefinisikan kepribadian
adalah jumlah total pola tingkah laku aktual dan potensial yang ditentukan oleh
hereditas dan lingkungan; hal tersebut asli dan berkembang selama interaksi
fungsional dengan tiga sektor utama dimana pola tingkah laku tersebut adalah
sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatik
(konstitusi). Jika kita mengacu pada pengertian kepribadian menurut Eysenck
diatas dikatakan bahwa keturunan dan lingkungan yang mempengaruhi
kepribadian tersebut. Kepribadian sudah ada semenjak lahir yang kemudian
berkembang sampai ia dewasa karena faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Pada masa dewasa kepribadian tersebut akan relatif stabil menetap tidak berubah-
ubah seperti pada masa kanak-kanak dan remaja.
Kepribadian setiap orang terdiri atas trait-trait. Allport membedakan
antara tipe dan trait, setiap orang dapat memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat
memiliki suatu tipe. Tipe merupakan konstruksi ideal seorang pengamat, dan
seseorang dapat disesuaikan dengan tipe itu tetapi konsekuensinya trait-trait khas
individunya diabaikan (Suryabrata, 2007). Jadi tipe cenderung menyembunyikan

2
trait asli dari individu tersebut, ia tidak dapat menjadi dirinya sendiri. Trait
ditekan dalam dirinya sehingga yang tampak keluar adalah tipe ideal yang
diinginkan oleh orang-orang sekelilingnya. Trait merupakan sifat sebenarnya
individu tersebut. Jika trait individu tersebut diabaikan dan lebih mementingkan
tipe ideal secara belebihan maka hal tersebut dapat membuat seseorang
mengalami gangguan kepribadian.
Dewasa ini banyak orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian
tidak merasa cemas dengan perilaku maladaptifnya. Karena orang tersebut tidak
secara rutin merasakan sakit dari apa yang dirasakan oleh masyarakat sebagai
gejalanya, mereka sering kali dianggap sebagai tidak termotivasi untuk
pengobatan dan tidak mempan terhadap pemulihan (Kaplan & Saddock,1997).
Menurut WHO (dalam O’Connor & Dyce, 2001) Gangguan kepribadian secara
mendalam sudah melekat dan menjadi pola tingkah laku yang terus berlanjut,
sebagai manifestasi mereka akan respon secara luas terhadap situasi sosial dan
personal. Mereka menampilkan penyimpangan yang ekstrim atau signifikan dari
individu pada umumnya dalam memberikan dan merasakan kebudayaan, fikiran,
perasaan, dan khususnya, hubungan dengan orang lain. Pola tingkah laku
cenderung stabil dan mencakup banyak bidang dari fungsi psikologis.
Individu dengan gangguan kepribadian secara konsisten menampilkan pola
tidak biasa dan terbatas dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang maladaptif.
Gangguan kepribadian merupakan ”ego syntonic” karena individu merasa normal

3
terhadap kondisi gangguan yang dialaminya. Kekakuan dan penyimpangan yang
dimilikinya tampak pada orang lain tetapi sering tidak tampak pada dirinya sendiri
(O’Connor & Dyce, 2001). Umumnya kemunculan gangguan kepribadian tersebut
berawal dari kemunculan distress, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-
perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distress pada
umumnya. Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan
lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara
mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati
(obsesif), dan antisosial.
Salah satu gangguan kepribadian yang dapat muncul karena distress
tersebut adalah obsesif kompulsif, Bagian terpenting dari gangguan kepribadian
obsessif kompulsif adalah adanya preokupasi (keterpakuan) pada keteraturan,
kesempurnaan serta kontrol mental dan interpersonal. Pola ini mulai ada pada
masa dewasa awal dan terlihat dalam berbagai konteks (DSM IV-TR). Yovel,
Revelle dan Minneka ( dalam Halgin & Whitbourne, 2007) mengemukakan
bahwa perasaan mereka tentang self-worth tergantung kepada tingkah laku mereka
untuk memenuhi hal abstrak yang ideal dari perfeksionis; jika mereka gagal untuk
meraih hal ideal tersebut mereka merasa tidak berharga. Dalam pola kerja ini,
gangguan kepribadian obsesif kompulsif tergantung kepada cara yang problematik
bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri.

4
Abidin (2008) mengatakan bahwa kebanyakan penderita gangguan ini
berasal dari orang kulit putih, terpelajar, menikah, dan karyawan. Karyawan lebih
rentan untuk terkena gangguan kepribadian obsesif kompulsif mungkin
dikarenakan distress atau tekanan yang dialaminya dalam pekerjaannya. Mereka
memiliki beban pekerjaan yang berat kemudian dituntut untuk melakukan hal-hal
sesempurna dan seideal mungkin serta terlalu mementingkan detail yang
berlebihan, sehingga tidak jarang akhirnya pekerjaan yang mereka lakukan tidak
dapat selesai karena terbentur dengan ide ideal yang mereka inginkan untuk
memenuhi harapan atasannya, sementara mereka tidak mampu mencapai ide
tersebut. Kemudian karena perfeksionis yang berlebihan mereka terkadang sulit
membedakan mana hal-hal yang penting untuk dikerjakan atau tidak sehingga
umumnya orang dengan gangguan ini bekerja terlalu keras karena mereka merasa
tidak puas dengan hasil pekerjaannya yang belum sempurna menurut mereka.
Orang- orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif memiliki
waktu senggang yang sedikit dan banyak menghabiskan waktu dikantor atau
dirumah untuk menyelesaikan pekerjaannya dan mengakibatkan mereka
umumnya memiliki hubungan sosial yang kurang intim dengan lingkungannya,
disamping itu karena mereka juga kaku jadi tidak mudah untuk menjalin
hubungan dengan orang lain. Gangguan kepribadian ini dapat menghambat
produktivitas karyawan tersebut, misalnya karena ingin terlalu sempurna dalam
menyelesaikan pekerjaannya sehingga ia terus mengulang-ulang mengecek
pekerjaannya dan akhirnya melewati batas waktu yang ditentukan untuk

5
menyelesaikan pekerjaan tersebut dan akhirnya justru menghambatnya untuk
melakukan pekerjaannya yang selanjutnya.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mudrack (2004) menemukan
bahwa perilaku gila kerja atau lebih dikenal dengan workaholic merupakan hasil
kombinasi dari keterlibatan pada pekerjaan yang tinggi dan kepribadian obsesif
kompulsif. Hasil ini menambah pemahaman tentang sikap keterlibatan kerja yang
diberikan kaitannya dengan beberapa sifat obsesif-kompulsif, menyarankan
relevansi kepribadian obsesif-kompulsif dalam setting non-klinis, dan menambah
pemahaman fenomena workaholism sebagai kecenderungan perilaku.
Salah satu teori untuk mengukur trait kepribadian adalah model lima
faktor, yang mengelompokkan kepribadian individu diatur dalam lima dimensi
yang luas atau faktor atau kepribadian. Widiger dan Costa mengemukakan (dalam
O’Conner &Dyce, 2001) lima dimensi ini mendasari kepribadian normal maupun
abnormal. Kepribadian abnormal dilihat sebagai varians maladaptif yang ekstrim
dari lima faktor kepribadian dan gangguan kepribadian dapat dipahami dalam arti
posisi mereka yang relatif terhadap lima dimensi utama. Faktor-faktor ini
diistilahkan dengan Big five: neuroticsm, extraversion, openness to experience,
agreebleness dan conscientiousness (McCrae & Costa, 1999). penelitian ini
mengatakan bahwa lima dimensi tersebut dapat menangkap berbagai variasi
kepribadian individu dan menemukan bahwa trait kepribadian individu secara
kuat dipengaruhi oleh genetik (Jang, McCrae, et al.,1998).

6
Sejumlah meta-analisis telah mengkonfirmasi nilai prediksi big five di
berbagai perilaku. Page dan Saulsman (2004) memeriksa hubungan antara
dimensi kepribadian big five dan masing-masing dari 10 gangguan kepribadian
yang ada dalam DSM-IV. Sepuluh gangguan tersebut antara lain adalah gangguan
kepribadian paranoid, skizoid, skizotipal, antisosial, ambang, histrionik, narsistik,
menghindar, dependen dan obsesif kompulsif. Peneliti menemukan bahwa setiap
gangguan menunjukkan gambaran yang unik dan tak terduga dari model lima
faktor ini. Kepribadian yang paling menonjol dan konsisten yang mendasari
gangguan adalah hubungan positif dengan neuroticism dan hubungan yang
negative dengan agreebleness.
Peneliti yang menggunakan pendekatan dimensional model big-five untuk
mengerti gangguan kepribadian obsesif kompulsif mencatat bahwa individu-
individu yang mengalami gangguan kepribadian tersebut memiliki level yang
tinggi pada conscientiousness (Widiger et al., 2002), yang menunjukkan pada
kesukaannya untuk bekerja secara ekstrim, perfeksionis, dan kontrol terhadap
tingkah laku yang berlebihan (McCann, 1999). Mereka juga memiliki skor yang
tinggi pada assertif (salah satu facet dalam dimensi extraversion) dan rendah pada
compliance (salah satu facet pada dimensi agreebleness).
.
Dari fenomena dan penelitian-penelitian yang telah di paparkan
sebelumnya, maka peneliti ingin mengetahui trait-trait mana kah dari pendekatan

7
big five yang berhubungan dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif pada sampel karyawan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis tertarik untuk melakukan suatu
penelitian dengan judul ”Hubungan trait kepribadian dengan Kecenderungan
Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif pada Karyawan”.
1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah
1.2.1 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya,
maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1) Apakah ada hubungan yang signifikan antara skor trait neuroticism
dalam kepribadian Big Five dengan kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan?
2) Apakah ada hubungan yang signifikan antara trait extraversion
dalam kepribadian Big Five dengan kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan?
3) Apakah ada hubungan yang signifikan antara trait agreebleness
dalam kepribadian Big Five dengan kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan?
4) Apakah ada hubungan yang signifikan antara trait openess dalam
kepribadian Big Five dengan kecenderungan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif pada karyawan ?

8
5) Apakah ada hubungan yang signifikan antara trait
conscientiousness dalam kepribadian Big Five dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada
karyawan?
1.2.2 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kesalahan persepsi dan lebih terarahnya
pembahasan, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti
yaitu sebagai berikut :
a. Trait kepribadian adalah dimensi dari perbedaan individu yang
cenderung menunjukkan pola yang konsisten pada pikiran,
perasaan dan tindakan. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan Kepribadian big five untuk mengukur trait
kepribadian . kepribadian big five adalah suatu pendekatan
yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian
manusia melalui trait yang tersusun dalam lima buah domain
kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis
faktor. Lima traits kepribadian tersebut adalah extraversion,
agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to
experiences.
b. Gangguan kepribadian obsessif kompulsif adalah adanya
preokupasi (keterpakuan) pada keteraturan, kesempurnaan serta
kontrol mental dan interpersonal (DSM IV-TR).

9
c. Sampel dalam penelitian ini adalah karyawan PT . Indopoly
Swakarsa Industry.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan yang signifikan antara trait neuroticism, extraversion, openness
to experience, agreeableness, conscientiousness dengan kecenderungan
gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
1.4 Manfaat Penelitian
1) Manfaat teoritisnya adalah untuk memperkaya khazanah kajian
psikologi, terutama yang berkaitan dengan psikologi kepribadian dan
psikologi klinis.
2) Manfaat praktisnya adalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
pembaca terutama karyawan yang tidak menyadari bahwa mereka
sebenarnya memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif karena orang dengan gangguan kepribadian ini tidak selalu
menyadari bahwa dirinya terganggu maka setelah mereka tahu mereka
dapat cepat bertindak agar kecenderungan tersebut tidak sampai pada
gangguan kepribadian obsesif kompulsif.

10
I.5 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan
Berisi latar belakang mengapa perlu dilakukan penelitian tentang
hubungan trait kepribadian dengan kecencerungaan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Di dalam bab ini akan dibahas sejumlah teori yang berkaitan
dengan masalah yang akan diteliti secara sistematis, kerangka
berpikir dan hipotesis penelitian.
BAB III : Metodelogi Penelitian
Bab ini meliputi pendekatan penelitian, populasi dan sampel,
variable penelitian, pengumpulan data, uji instrumen, prosedur
penelitian, dan teknik analisis data.
BAB IV : Analisis Hasil Penelitian
Dalam bab ini peneliti akan membahas mengenai gambaran
subjek penelitian, deskripsi data dan hasil uji hipotesis.
BAB V : Kesimpulan, Diskusi, dan Saran
Pada bab ini, peneliti akan merangkum keseluruhan isi penelitian
dan meyimpulkan hasil penelitian. Dalam bab ini juga akan
dimuat diskusi dan saran.

11
BAGIAN 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kepribadian
Definisi kepribadian menurut Allport (dalam Engler, 2009) adalah
organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan
caranya yang khas dalam tingkah laku dan fikirannya. Allport juga mengatakan
bahwa kepribadian terletak dibelakang perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam
individu (Suryabrata, 2007). Dari apa yang telah dikemukakan oleh Allport, maka
dapat dikatakan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang unik dan khas jadi setiap
orang pasti memiliki kepribadian yang berbeda, tidak ada seorangpun yang
memiliki kepribadian yang sama walau anak kembar sekalipun.
Sedangkan menurut Pervin dan John (2005) kepribadian mewakili
karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku
yang konsisten. Definisi tersebut memiliki arti yang cukup luas yang
membolehkan kita untuk fokus pada banyak aspek yang berbeda pada setiap
orang. Pada waktu yang bersamaan, hal tersebut menganjurkan kita untuk
konsisten pada pola tingkah laku dan kualitas dalam diri orang tersebut yang
diukur secara teratur.
Cattel (dalam Engler, 2009) memberi definisi mengenai kepribadian
sangat umum, yaitu: kepribadian adalah suatu prediksi mengenai apa yang akan

12
dilakukan oleh seseorang dalam berbagai situasi yang terjadi padanya. Jadi
persoalan mengenai kepribadian adalah persoalan mengenai segala aktivitas
individu, baik yang nampak maupun yang tidak nampak (Suryabrata, 2007). Maka
dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah ciri atau karakter yang ada pada
individu secara konsisten baik itu tampak ataupun tidak tampak yang
membedakan antara satu orang dengan orang lainnya.
Definisi kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah definisi
kepribadian yang dikemukakan oleh Allport, yaitu organisasi dinamis dalam
individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam
tingkah laku dan fikirannya (Engler, 2009).
2.1.1 Trait (Sifat)
Allport mengatakan trait adalah struktur yang jujur dan dapat dipercaya
dalam diri individu yang mempengaruhi tingkah laku; trait bukanlah label
sederhana yang kita gunakan untuk menjelaskan atau mengklasifikasikan tingkah
laku (Engler, 2009). Allport mendefinisikan trait sebagai kecenderungan
menentukan atau predisposisi untuk merespon situasi yang terjadi dalam berbagai
cara. Trait bersifat konsisten dan abadi; trait dihitung untuk konsistensinya dalam
tingkah laku manusia. Trait, sama seperti kepribadian pada dasarnya tidak dapat
di observasi. Pada saat ini, peneliti kepribadian hanya dapat mengukur trait secara
empiris. (Engler, 2009). Kemudian menurut Cattel, trait adalah suatu “struktur
mental”, suatu kesimpulan yang diambil dari tingkah laku yang dapat diamati,

13
untuk menunjukkan keajegan dan ketetapaan dalam tingkah laku itu (Suryabrata,
2007). Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga
masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai
30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang
stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Cattel (dalam Pervin & John, 2005) membagi trait menjadi dua bagian
penting:
a) ability traits, temperament traits dan dynamic traits
ability traits berhubungan dengan kemampuan individu untuk berfungsi
secara efektif. Contoh dari ability traits adalah intelegensi. Temperament
trait berhubungan dengan kehidupan emosional individu, aspek
konstitusional individu tersebut. apakah cenderung untuk bekerja dengan
cepat atau lambat; secara umum, tenang atau emosional; atau bertingkah
laku dipikirkan sebelumnya atau impulsif. Dynamic traits berhubungan
dengan perjuangan, kehidupan motivasional dari individu, segala jenis
tujuan yang ingin dicapai oleh individu tersebut. ability, temperament, dan
dynamic traits terlihat sebagai elemen utama dari kepribadian.
b) Surface trait dan source trait
Surface trait (sifat nampak) adalah kelompok variabel-variabel yang
nampak, sedangkan source trait (sifat asal) adalah variabel-variabel yang
mendasari berbagai manifestasi yang nampak. Jadi, kalau kita saksikan
sejumlah tingkah laku yang nampaknya saling berhubungan kita dapat
mengatakan itu adalah suatu variabel saja, maka itu kita sebut sifat yang

14
nampak atau sifat permukaan. Tentang sifat asal, hanya dapat diketahui
dengan macam sifat itu. Cattel menganggap, bahwa sifat asal lebih penting
daripada sifat permukaan. Sifat permukaan merupakan hasil interaksi
daripada sifat asal dan pada umumnya dapat diharapkan kurang tetap jika
dibanding dengan faktor. Menurut Cattel, bagi orang lain nampaknya sifat
permukaan itu lebih berarti dan lebih diakui daripada sifat asal, karena
sifat permukaan tersebut dapat langsung disaksikan dari observasi yang
sederhana. Namun, dalam rangka yang lebih mendalam, sifat asal lah yang
lebih mendasari tingkah laku (Suryabrata, 2007).
2.1.2 Perkembangan Kepribadian
Menurut Allport (dalam Suryabrata, 2007) individu itu dari lahir
mengalami perubahan-perubahan yang penting. Perkembangan kepribadian yang
terjadi menurutnya adalah:
a. Kanak-kanak
Allport memandang neonatus itu semata-mata sebagai makhluk yang
dilengkapi dengan keturunan-keturunan, dorongan-dorongan/nafsu-nafsu dan
refleks-refleks. Jadi belum memiliki bermacam-macam sifat yang kemudian
dimilikinya. Dengan kata lain belum memiliki kepribadian. Pada waktu lahir
ini anak telah mempunyai potensi-potensi baik fisik maupun tempramen, yang
aktualisasinya tergantung kepada perkembangan dan kematangan. Dalam
masa ini anak itu merupakan makhluk yang punya tegangan-tegangan dan
perasaan nyaman tak nyaman. Jadi pada masa ini keterangan yang biologistis

15
yang bersandar pada pentingnya hadiah atau hukum efek atau prinsip
kesenangan adalah sangat cocok. Jadi dengan didorong oleh kebutuhan
mengurangi ketidaknyamanan sampai minimal dan mencari kenyamanan
sampai maksimal anak itu berkembang. Pertumbuhan itu bagi Allport
merupakan proses diferensiasi dan integrasi yang berlangsung terus menerus.
Allport menyimpulkan, bahwa setidak-tidaknya pada bagian kedua tahun
pertama anak telah menunjukkan dengan pasti sifat-sifat yang khas
(Suryabrata, 2007).
b. Orang dewasa
Pada orang dewasa faktor-faktor yang menentukan tingkah laku adalah
sifat-sifat (traits) yang terorganisasikan dengan selaras. Sifat-sifat ini timbul
dalam berbagai cara dari perlengkapan-perlengkapan yang dimiliki neonatus.
Bagaimana jalan perkembangan ini yang sebenarnya bagi Allport tidaklah
penting; yang penting ialah yang ada kini. Sampai batas-batas tertentu
berfungsinya sifat-sifat itu disadari dan rasional. Biasanya individu yang
normal mengerti/menyadari apa yang dikerjakannya dan mengapa itu
dikerjakannya, untuk memahami manusia dewasa tidak dapat dilakukan tanpa
mengerti tujuan-tujuan serta aspirasi-aspirasinya. Motif-motif itu terutama
tidak berasal dari masa lampau tetapi terutama bersandar pada masa depan.
Pada umumnya orang dapat lebih tahu apa yang akan hendak dikerjakan
seseorang, kalau dia tahu rencana-rencana yang disadarinya daripada ingatan-
ingatan yang tertentu (Suryabrata, 2007).

16
2.1.3 Gangguan Kepribadian
Kaplan dan Saddock (1997) mendefinisikan gangguan kepribadian sebagai
suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada
sebagian besar orang. Jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan
dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan
subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami gangguan kepribadian biasanya memiliki tingkah
laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa :
a. Ketergantungan yang berlebihan
b. Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
c. Kesedihan yang mendalam
d. Tingkah laku yang eksploitatif
e. Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
f. Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan
dipenuhi ketidakpuasan
Penyebab munculnya gangguan kepribadian (Kaplan & Saddock, 1997) :
a. Faktor Genetika
Salah satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada
15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar
monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah
beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu
menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan

17
temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap sosial, kembar
monozigotik yang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan
kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama.
b. Faktor Temperamental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin
berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa.
Contohnya, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin
mengalami kepribadian menghindar.
c. Faktor Biologis
a) Hormon
Orang yang menunjukkan sifat impulsif seringkali juga menunjukkan
peningkatan kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone.
b) Neurotransmitter.
Penilaian sifat kepribadian dan sistem dopaminergik dan serotonergik,
menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter
tersebut. Meningkatkan kadar serotonin dengan obat seretonergik
tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada
beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi,
impulsivitas.
d. Elektrofisiologi
Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram ditemukan pada
beberapa pasien dengan gangguan kepribadian dan paling sering pada tipe
antisosial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.

18
e. Faktor Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan
fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada
stadium anal, yaitu anak yang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal
dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti.
Dalam Diagnostik and Statistical Manual of Mental Disorders edisi
keempat (DSM-IV), gangguan kepribadian dikelompokkan ke dalam tiga
kelompok, yaitu:
A. Kelompok A, terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid dan
skizotipal. Orang dengan gangguan seperti ini seringkali tampak aneh dan
eksentrik.
B. Kelompok B, terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, ambang,
histrionik dan narsistik. Orang dengan gangguan ini sering tampak
dramatik, emosional, dan tidak menentu.
C. Kelompok C, terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan
obsesif-kompulsif, dan satu kategori yang dinamakan gangguan
kepribadian yang tidak ditentukan (contohnya adalah gangguan
kepribadian pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif). Orang
dengan gangguan ini sering tampak cemas atau ketakutan.

19
2.1.4 Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif
Bagian terpenting dari gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah
adanya preokupasi (keterpakuan) pada keteraturan, kesempurnaan serta kontrol
mental dan interpersonal. Pola ini mulai ada pada masa dewasa awal dan terlihat
dalam berbagai konteks (DSM IV-TR). Kepribadian obsesif-kompulsif adalah
seorang perfeksionis, terfokus berlebihan pada detail, aturan, jadwal, dan
sejenisnya. Orang-orang tersebut seringkali terlalu memerhatikan detail sehingga
mereka tidak pernah menyelesaikan proyek. Mereka berorientasi pada pekerjaan
dan bukan pada kesenangan dan teramat sulit mengambil keputusan (karena takut
salah). Hubungan interpersonal mereka seringkali buruk karena mereka keras
kepala dan menuntut agar segala sesuatu dilakukan dengan cara mereka. Gila
kendali adalah istilah populer bagi orang-orang tersebut. Secara umum mereka
serius, rigid, formal dan tidak fleksibel terutama mengenai isu-isu moral. Mereka
tidak mampu membuang objek-objek yang sudah rusak dan tidak terpakai, bahkan
yang tidak memiliki nilai sentimental dan kemudian rakus serta kikir (Davidson,
Kring & Neale 2006).
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sangat
memperhatikan kerapihan dan detail-detail kecil setiap hari dalam kehidupannya.
Mereka memperlihatkan perfeksionis dan tidak fleksibel dengan cara yang
maladaptif. Hal yang membuat orang-orang disekelilingnya merasa terganggu
dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah bagaimana mereka
bertingkah laku (Halgin & Whitbourne, 2007). Mereka sering merasa cemas yang

20
berlebihan ketika berada dalam situasi yang tidak jelas peraturannya seakan-akan
situasi tersebut meningkatkan ketakutannya untuk membuat kesalahan dan merasa
bersalah dan pantas untuk mendapat hukuman. Seperti yang telah dipaparkan
sebelumnya, gangguan ini masuk kedalam kelompok yang memiliki kecemasan
dan ketakutan sebagai karakteristik utamanya (Fitzgerald, 2009).
1,7 sampai 7,7 persen dari populasi dapat didiagnosa menderita gangguan
kepribadian obsesif kompulsif dan itu lebih sering terjadi pada pria daripada
wanita (Ekselius et al., 2001; Fabrega et al., 1991; Weissman, 1993 dalam Susan
Nolen-Hoeksema, 2007). Menurut Lauren B Alloy,at al (2005) hal ini dikarenakan
wanita secara umum lebih emosional dan lebih empati daripada pria. Pria secara
umum, lebih asertif, percaya diri, dan lebih mementingkan logika dibandingkan
wanita. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika gangguan kepribadian yang
meliputi emosional (histrionik, ambang) lebih sering terjadi pada wanita dan
gangguan kepribadian yang mementingkan diri sendiri (narsistik, antisosial) lebih
sering terjadi pada laki-laki.
2.1.5 Perbedaan Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif dengan
Gangguan Kecemasan Obsesif Kompulsif
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif cukup berbeda dari gangguan
obsesif kompulsif. Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu gangguan
kecemasan dimana pikiran dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak
dapat dikendalikan dan individu dipaksa untuk terus menerus mengulang tindakan

21
tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan menganggu keberfungsian
sehari-hari (Davidson, Kring & Neale 2006). Dalam hal ini gangguan ini tidak
mencakup obsesi dan kompulsi yang menandai gangguan obsesif kompulsif. Bila
penggunaan istilah yang sama menunjukkan bahwa dua gangguan tersebut
memiliki hubungan, hubungan tersebut nampaknya tidak sangat kuat. Orang-
orang yang mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak secara
umum merasa perlu untuk mengulang-ulang aksi ritual yang merupakan gejala
umum dari gangguan obsesif kompulsif (Kiff, 2007).
Pikiran dan tingkah laku yang ditemukan pada orang gangguan obsesif
kompulsif jarang yang relevan dengan permasalahan hidupnya yang nyata.
Sedangkan orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif mengatur
dengan sangat detail kegiatan-kegiatan apa saja yang harus mereka lakukan setiap
harinya (Fitzgerald, 2009). Gangguan kepribadian obsesif kompulsif
memperlihatkan cara interaksi yang lebih umum dengan sekelilingnya
dibandingkan dengan gangguan obsesif kompulsif, yang meliputi hanya pikiran
obsesif yang spesifik dan memaksa dan tingkah laku yang kompulsif (Nolen-
Hoeksema, 2007).
Orang dengan gangguan obsesif kompulsif melakukan ritual secara
berulang-ulang untuk menghindari atau menghilangkan kecemasannya. Misalnya
mencuci tangan berulang kali karena merasa tangannya masih kotor. Sementara
gangguan kepribadian obsesif kompulsif merupakan kondisi pervasif meliputi

22
filosofi kepribadian seseorang yang memiliki karakteristik perfeksionis dan rumit,
mereka akan merasa cemas jika hal-hal yang mereka lakukan tidak berjalan secara
sempurna (Phillipson, 2008).
2.1.6 Etiologi Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif
Teori psikodinamik awal mengatribusikan gangguan kepribadian ini pada
fiksasi perkembangan saat masa anal karena orangtua pasien terlalu keras dan
menghukum selama masa toilet training (Freud, 1923). Harry Stack Sullivan
(1953) menyatakan bahwa gangguan kepribadian obsesif kompulsif muncul ketika
anak-anak tumbuh dirumah dimana disana banyak kemarahan dan kebencian yang
tersembunyi dibalik tampak luarnya yang penuh cinta dan kebaikan. Anak-anak
tidak mengembangkan kemampuan interpersonal dan selain itu menghindari
keintiman dan mengikuti peraturan yang kaku untuk meraih self-esteem dan self-
control. Akan tetapi teori ini belum teruji secara empiris.
Teori kognitif mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan ini
mempunyai kepercayaan selalu merasa ada yang kurang, kecacatan atau kesalahan
dan hal-hal tersebut tidak dapat ditoleransi. Salah satu penelitian menemukan
bahwa orang-orang yang didiagnosa dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif mengalami kepercayaan tersebut secara signifikan lebih sering
dibandingkan dengan orang-orang yang didiagnosa dengan gangguan kepribadian
yang lainnya (Beck et al., 2001). Perasaan mereka tentang self-worth tergantung
kepada tingkah laku mereka untuk memenuhi hal abstrak yang ideal dari

23
perfeksonis; jika mereka gagal untuk meraih hal ideal tersebut mereka merasa
tidak berharga. Dalam pola kerja ini, gangguan kepribadian obsesif kompulsif
tergantung kepada cara yang problematik bagaimana mereka memandang diri
mereka sendiri. Mendukung pentingnya faktor kognitif, peneliti telah
mengidentifikasi diantara orang-orang dengan gangguan ini memiliki
kecenderungan untuk diganggu oleh hal-hal detail yang tidak penting dalam
proses rangsang visual mereka (Yovel, Revelle, & Mineka, 2005). Para terapis
akan menganjurkan orang-orang dengan gangguan ini untuk melakukan
perawatan dengan terapi tingkah laku agar dapat mengurangi tingkah laku
kompulsif mereka (Beck & Freeman, 1990; Millon et al.,2000).
2.1.6 Kriteria gangguan kepribadian obsesif kompulsif dalam DSM
IV-TR
Tedapat minimal empat dari ciri berikut ini (Davidson et.al., 2006) :
1. Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utam
suatu aktifitas terabaikan
a
2. Perfeksionisme ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai
proyek jarang terselesaikan
3. Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan
kesenangan dan persahabatan
4. Tidak fleksibel tentang moral
5. Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti

24
6. Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi
standardnya
7. Kikir
8. Ridig (kaku) dan keras kepala
Dalam penelitian ini yang ingin dilihat adalah kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif bukan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
secara keseluruhan. Karena untuk mendiagnosa gangguan kepribadian obsesif
kompulsif secara keseluruhan diperlukan tes psikiatrik lebih lanjut kemudian perlu
dilakukan observasi secara mendalam. Sementara dalam penelitian ini hanya
menggunakan skala pengukuran yang disusun berdasarkan kriteria gangguan
kepribadian obsesif kompulsif yang telah di paparkan sebelumnya untuk melihat
kecenderungan gangguan kepribadian tersebut.
2.2 Kepribadian Big Five
Kepribadian Big Five adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam
psikologi untuk melihat kepribadian manusia melalui trait yang tersusun dalam
lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis
faktor. Lima trait kepribadian tersebut adalah extraversion, agreeableness,
conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences. Dimulai pada tahun
1960 dan semakin meningkat pada tahun 1980, 1990, dan 2000. Tokoh
pelopornya adalah Allport dan Cattell (Friedman & Schustack, 2008). Banyak
studi longitudinal data, yang berkorelasi dengan hasil nilai tes individu dari waktu

25
ke waktu, dan data cross-sectional, yang membandingkan tingkat kepribadian
kelompok usia yang berbeda, menunjukkan tingkat stabilitas yang tinggi dalam
sifat kepribadian saat dewasa (McCrae & Costa 1990).
Penelitian yang lebih baru dan meta-analisis penelitian sebelumnya,
menunjukkan bahwa perubahan terjadi di semua lima karakter pada berbagai titik
dalam rentang kehidupan. Penelitian menunjukkan bukti untuk efek pendewasaan,
rata-rata tingkat agreebleness dan conscientiousness biasanya meningkat dengan
waktu, sedangkan extraversion, neuroticism dan openess cenderung menurun.
Disamping efek kelompok ini, terdapat perbedaan-perbedaan individual:
demostrate unik orang yang berbeda pola-pola perubahan pada semua tahap
kehidupan (Roberts & Mroczek, 2008).
Ada beberapa instrumen untuk mengukur big five (Briggs, 1992; Widiger
& Trull, 1997). Diantaranya: Goldberg (1982, 1992) telah mengembangkan
beberapa bagian untuk mengukur big five, terdiri dari 50 transparent bipolar
adjective dan 100 unipolar adjective markers. Wiggins dan Trapnell (1997)
mengembangkan Interpersonal Adjective Scaled Revised. tersedia pula Q-Sort
yang dikembangkan oleh McCre Costa, dan Busch (1986) dan Robbins, John, dan
Caspi (1994). Kemudian ada NEO-PI-R yang di kembangkan oleh Paul T.Costa
dan Robert R.McCrae (1992).

26
Trait-trait dalam domain-domain dari kepribadian Big Five Costa & McCrae
(1997) adalah sebagai berikut.
A. Extraversion (E)
Faktor pertama adalah extraversion, atau bisa juga disebut faktor dominan-
patuh (dominance-submissiveness). Faktor ini merupakan dimensi yang penting
dalam kepribadian, dimana extraversion ini dapat memprediksi banyak
tingkah laku sosial. Menurut penelitian, seseorang yang memiliki faktor
extraversion yang tinggi, akan mengingat semua interaksi sosial, berinteraksi
dengan lebih banyak orang dibandingkan dengan seseorang dengan tingkat
extraversion yang rendah. Dalam berinteraksi, mereka juga akan lebih banyak
memegang kontrol dan keintiman. Peergroup mereka juga dianggap sebagai
orang-orang yang ramah, menyenangkan, penyayang dan cerewet.
Extraversion dicirikan dengan afek positif seperti memiliki antusiasme
yang tinggi, senang bergaul, memiliki emosi yang positif, energik, tertarik dengan
banyak hal, ambisius, workaholic juga ramah terhadap orang lain. Extraversion
memiliki tingkat motivasi yang tinggi dalam bergaul, menjalin hubungan dengan
sesama dan juga dominan dalam lingkungannya. Extraversion dapat memprediksi
perkembangan dari hubungan sosial. Seseorang yang memiliki tingkat
extraversion yang tinggi dapat lebih cepat berteman daripada seseorang yang
memiliki tingkat extraversion yang rendah. Extraversion mudah termotivasi oleh
perubahan, variasi dalam hidup, tantangan dan mudah bosan. Sedangkan orang-

27
orang dengan tingkat ekstraversion rendah cenderung bersikap tenang, menarik
diri dari lingkungannya, pemalu, tidak percaya diri, submisif dan pendiam.
B. Agreeableness (A)
Agreebleness dapat disebut juga mudah beradaptasi dengan lingkungan
sosial yang mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang
selalu mengalah, menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk
mengikuti orang lain. Berdasarkan value survey, seseorang yang memiliki skor
agreeableness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki value
suka membantu, pemaaf, dan penyayang.
Namun, ditemukan pula sedikit konflik pada hubungan interpersonal orang
yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi, dimana ketika berhadapan
dengan konflik, self-esteem mereka akan cenderung menurun. Selain itu,
menghindar dari usaha langsung dalam menyatakan kekuatan sebagai usaha untuk
memutuskan konflik dengan orang lain merupakan salah satu ciri dari seseorang
yang memiliki tingkat aggreeableness yang tinggi. Pria yang memiliki tingkat
agreeableness yang tinggi dengan penggunaan kekuatan yang rendah, akan lebih
menunjukan kekuatan jika dibandingkan dengan wanita. Sedangkan orang-orang
dengan tingkat agreeableness yang rendah cenderung untuk lebih agresif dan
kurang kooperatif.

28
C. Neuroticism (N)
Neuroticism menggambarkan seseorang yang memiliki masalah dengan
emosi yang negatif seperti rasa khawatir dan rasa tidak aman. Secara emosional
mereka labil, seperti juga teman-temannya yang lain, mereka juga mengubah
perhatian menjadi sesuatu yang berlawanan. Seseorang yang memiliki tingkat
neuroticism yang rendah cenderung akan lebih gembira dan puas terhadap hidup
dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tingkat neuroticism yang tinggi.
Selain memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan dan berkomitmen, mereka
juga memiliki tingkat self- esteem yang rendah. Individu yang memiliki nilai atau
skor yang tinggi di neuroticism adalah kepribadian yang mudah mengalami
kecemasan, rasa marah, depresi, dan memiliki kecenderungan emotionally
reactive.
D. Openness (O)
Faktor openness terhadap pengalaman merupakan faktor yang paling sulit
untuk dideskripsikan, karena faktor ini tidak sejalan dengan bahasa yang
digunakan tidak seperti halnya faktor-faktor yang lain. Openness mengacu pada
bagaimana seseorang bersedia melakukan penyesuaian pada suatu ide atau situasi
yang baru.
Openness mempunyai ciri mudah bertoleransi, kapasitas untuk menyerap
informasi, menjadi sangat fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai
perasaan, pemikiran dan impulsivitas. Seseorang dengan tingkat openness yang

29
tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki nilai imajinasi dan
pemikiran yang luas. Sedangkan seseorang yang memiliki tingkat openness yang
rendah memiliki nilai kebersihan, kepatuhan, dan keamanan bersama, kemudian
skor openess yang rendah juga menggambarkan pribadi yang mempunyai
pemikiran yang sempit, konservatif dan tidak menyukai adanya perubahan.
Openness dapat membangun pertumbuhan pribadi. Pencapaian kreatifitas
lebih banyak pada orang yang memiliki tingkat openness yang tinggi dan tingkat
agreeableness yang rendah. Seseorang yang kreatif, memiliki rasa ingin tahu, atau
terbuka terhadap pengalaman lebih mudah untuk mendapatkan solusi untuk suatu
masalah.
E. Conscientiousness (C)
Conscientiousness dapat disebut juga dependability, impulse control, dan
kemauan untuk mencapai prestasi, yang menggambarkan perbedaan keteraturan
dan disiplin diri seseorang. Seseorang yang conscientious memiliki nilai
kebersihan dan ambisi. Orang-orang tersebut biasanya digambarkan oleh teman-
teman mereka sebagai seseorang yang terorganisir, tepat waktu, dan ambisius.
Conscientiousness mendeskripsikan kontrol terhadap lingkungan sosial,
berpikir sebelum bertindak, menunda kepuasan, mengikuti peraturan dan norma,
terencana, terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Di sisi negatifnya trait
kepribadian ini menjadi sangat perfeksionis, kompulsif, workaholic,

30
membosankan. Tingkat conscientiousness yang rendah menunjukan sikap
ceroboh, tidak terarah serta mudah teralih perhatiannya.
Tabel 2.1
Faktor-faktor Trait Big Five dalam Pervin (2005)
Karakteristik Skor Tinggi Skala Trait Karakteristik Skor Rendah
Worrying, nervous,
emotional, insecure,
inadequate, hypochodriacal
Neuroticism Calm, relaxed,
unemotional, hardly,
secure, self-satisfied
Sociable, active, talkaktive,
peson-oriented, optimistic,
fun-loving, affectionate
Extraversion Reserved, sober,
unexuberant, aloof, task-
oriented, retireng, quiet
Curious, broad interests,
creative, original,
imaginative, untraditional
Openness Conventional, down-to-
earth, narrow interests,
unartistic, unanalytical
Soft-hearted, good, natured,
trusting, helpful, forgiving,
gullble, straightforward
Agreebleness Cynical, rude, suspicious,
uncooperative, vengeful,
ruthless, irritable,
manipulative
Organized, reliable, hard-
working, self-disciplined,
punctual, scrupulous, neat,
ambitious, persevering
Conscientiousness Aimless, unreliable, lazy,
careless, laz,negligent,
weak-willed, hedonistic

31
2.3 Kerangka Berpikir
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah salah satu jenis gangguan
kepribadian yang ditandai dengan perfeksionis, terfokus berlebihan pada detail,
aturan, jadwal dan memiliki hubungan interpersonal yang yang tertutup.
Gangguan kepribadian ini termasuk dalam kelompok pencemas atau ketakutan.
Mereka takut semua hal tidak berjalan seperti yang sudah mereka rencanakan.
Bahkan mereka mengatur hal-hal sedetail mungkin, jika mereka tidak melakukan
ini setiap harinya mereka akan merasa cemas dan tidak tenang.
Peneliti ingin meneliti apakah dalam populasi normal yaitu pada
karyawan, trait kepribadian memiliki hubungan dengan kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif karena sebelumnya ada artikel yang mengatakan
bahwa orang-orang yang rentan terkena gangguan kepribadian ini salah satunya
adalah karyawan (Abidin: 2008). Kemudian Penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Mudrack (2004) menemukan bahwa perilaku gila kerja atau lebih
dikenal dengan workaholic merupakan hasil kombinasi dari keterlibatan pada
pekerjaan yang tinggi dan kepribadian obsesif kompulsif. Maka dapat dikatakan
bahwa keterlibatan pada pekerjaan yang tinggi berhubungan dengan kepribadian
obsesif kompulsif. Keterlibatan pada pekerjaan yang tinggi tentunya disebabkan
karena beban pekerjaan yang berat sehingga mengharuskan mereka untuk terlibat
pada pekerjaan yang tinggi. Karyawan lebih rentan untuk terkena gangguan
kepribadian obsesif kompulsif mungkin dikarenakan distress atau tekanan yang
dialaminya dalam beban pekerjaan tersebut. Mereka dituntut untuk melakukan

32
hal-hal sesempurna dan seideal mungkin serta terlalu mementingkan detail yang
berlebihan, sehingga tidak jarang akhirnya pekerjaan yang mereka lakukan tidak
dapat selesai karena terbentur dengan ide ideal yang mereka inginkan untuk
memenuhi harapan atasannya, sementara mereka tidak mampu mencapai ide
tersebut.
Big five personality merupakan suatu pendekatan trait untuk melihat
kepribadian individu dalam lima dimensi, yaitu: extraversion, agreebleness,
conscientiousness, neuroticism, dan openess. Masing-masing dimensi tersebut
terdiri dari trait-trait yang sudah dipaparkan sebelumnya diatas. Pendekatan
model ini digunakan untuk melihat trait kepribadian individu normal. Bagaimana
dengan individu dengan gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian
obsesif kompulsif salah satunya. Sebelumnya telah diadakan penelitian oleh
McCrae &Costa (1999) individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian
tersebut memiliki level yang tinggi pada conscientiousness (Widiger et al., 2002),
yang menunjukkan pada kesukaannya untuk bekerja secara ekstrim, perfeksionis,
dan kontrol terhadap tingkah laku yang berlebihan (McCann, 1999). Mereka juga
memiliki skor yang tinggi pada assertif (salah satu facet dalam dimensi
extraversion) dan rendah pada compliance (salah satu facet pada dimensi
agreebleness).
Peneliti ingin meneliti apakah dalam populasi normal yaitu pada
karyawan, trait kepribadian memiliki hubungan dengan kecenderungan gangguan

33
kepribadian obsesif kompulsif karena sebelumnya ada artikel yang mengatakan
bahwa orang-orang yang rentan terkena gangguan kepribadian ini salah satunya
adalah karyawan. Selain itu peneliti ingin membuktikan penelitian yang telah
ditemukan sebelumnya. Jika di gambarkan maka akan menjadi seperti ini:
Bagan 2.1
Bagan Kerangka Berpikir
Keterangan :
Ada hubungan =
Tidak ada hubungan =
agreebleness
Openess
Kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif
conscientiousness
extraversion
Big five
distress kepribadian
neuroticism
karyawan Beban kerja
2.4 Hipotesis penelitian
Ho1 : tidak ada hubungan yang signifikan antara trait neuroticism dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.

34
Ho2 : tidak ada hubungan yang signifikan antara trait extraversion dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
Ho3 : tidak ada hubungan yang signifikan antara trait agreebleness dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif karyawan.
Ho4 : tidak ada hubungan yang signifikan antara trait openess dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
Ha1 : Ada hubungan yang signifikan antara trait conscientiousness dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.

35
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Desain
penelitian yang digunakan adalah non-eksperimen.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Gay (dalam Sevilla, 1993) mendefinisikan populasi sebagai kelompok
dimana peneliti akan menggeneralisasikan hasil penelitiannya. Populasi dalam
penelitian ini adalah karyawan PT . Indopoly Swakarsa Industry yang berjumlah
400 orang.
3.2.2 Sampel dan teknik pengambilan sampel
Proses yang meliputi pengambilan sebagian dari populasi, melakukan
pengamatan pada populasi secara keseluruhan disebut sampling atau
pengambilan sampel (Ary, Jacob dan Razavieh dalam Sevilla 1993). Sampling
yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 80 orang.
Sampel diambil dengan menggunakan teknik non-probability sampling yaitu
pengambilan sampel dimana setiap objek penelitian yang diambil tidak
memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel penelitian. Dengan jenis
purposive sampling yaitu sampel yang diambil adalah sampel yang memenuhi
kriteria atau tujuan yang telah ditentukan peneliti. Langkah-langkahnya sampel

36
diambil dengan cara mencari sampel yang representatif dengan meliputi
kelompok-kelompok yang diduga sebagai anggota sampel.
Karakteristik sampel dalam penelitian ini adalah:
a. Berusia 21 tahun ke atas
b. Sudah bekerja di perusahaan tersebut minimal satu tahun.
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Definisi Konseptual
Dependen variabel : Gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah
adanya preokupasi (keterpakuan) pada keteraturan, kesempurnaan serta kontrol
mental dan interpersonal.
Independen variabel : Kepribadian Big Five adalah suatu pendekatan
yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian manusia melalui
trait yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk
dengan menggunakan analisis faktor.
3.3.2 Definisi Operasional
Dependen variabel : Gangguan kepribadian obsesif kompulsif diukur
melalui 8 indikator, yaitu:
a. Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utama
suatu aktifitas terabaikan
b. Perfeksionisme ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek
jarang terselesaikan

37
c. Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan kesenangan
dan persahabatan
d. Tidak fleksibel tentang moral
e. Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti
f. Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi
standardnya
g. Kikir
h. Ridig (kaku) dan keras kepala
yang ingin dilihat disini adalah kecenderungan terjadinya gangguan
kepribadian obsesif kompulsif pada populasi normal yaitu karyawan.
Independen variabel : skor pada skala kepribadian Big five. Dalam skala
ini terdapat lima subskala yang masing-masing mengukur extraversion,
agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences.
Individu akan digolongkan ke dalam trait dominan berdasarkan skor trait yang
paling menonjol pada dirinya dibandingkan skor pada trait lainnya.
3.4 Pengumpulan Data
3.4.1 Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
dengan menyebarkan kuesioner yang terdiri dari dua skala yaitu skala untuk
mengukur trait big five dan mengukur kecenderungan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif.

38
3.4.2 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini akan digunakan dua alat ukur untuk mengukur
variabel yang diteliti. Untuk mengukur trait big five individu alat ukur yang
digunakan dalam penelitian ini adalah International Personality Item Pool
NEO (IPIP-NEO) yang dibuat oleh Lewis Goldberg pada tahun 1992.
Kemudian untuk mengukur kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif peneliti menyusun skala yang berdasarkan pada indikator-indikator
yang merupakan ciri-ciri gangguan kepribadian obsesif kompulsif yang telah
dijelaskan sebelumnya pada bab dua di kerangka teori.
3.4.2.1 Skala untuk Mengukur Kepribadian Big Five
Untuk mengukur trait big five individu alat ukur yang digunakan dalam
penelitian ini adalah International Personality Item Pool NEO (IPIP-NEO)
yang dibuat oleh Lewis Goldberg pada tahun 1992. Skala ini dibuat
berdasarkan teori Big Five yang digunakan oleh Costa dan McCrae dalam
membuat NEO PI-R pada tahun 1992, alat ukur ini berjumlah 240 item. Skala
IPIP-NEO berjumlah 100 item, setiap trait berjumlah 20 item. Skala ini
diadaptasi dan diterjemahkan oleh Adriaan H.Boon Van Ostade bernama 100
Big Five factor markies. peneliti menggunakan skala likert yang mengacu
pada IPIP-NEO tersebut. Adapun skala big five untuk uji coba adalah sebagai
berikut:

39
Tabel 3.1
Blueprint item valid (*)
Skala Big Five
No
Aspek
Butir soal jumlah reliabilitas Favorable Unfavorable
1. 2. 3. 4. 5.
Neuroticism Extraversion Agreebleness Openess Conscientiousness
4*,14*,24,34*,44*,54*,59*,64*,69*,74*,79*,84*,89*,94*,99* 1,11*,21*,31*,41*,46, 51*,61,71*,81*,96* 7,17,27*,37,47*,57,62*,67*,72*,77,82*,87*,92*,97* 5,15,25*,35*,45,55, 65*,75,80*,85*,90,95*,100* 3,13*,23*,33*,43*,53*,63*, 73,83*,93*,98*
9,19, 29, 39, 49 6*,16,26*,36,56*,66,76, 86, 91 2*,12,22*,32,42,52* 10*,20,30,40,50, 60*,70* 8*,18,28*,38*,48*,58*,68*, 78*,88*
14 11 12 10 17
0.8940 0.8220 0.7956 0.8173 0.8548
Jumlah 54 46 64
Beberapa contoh item dalam skala ini seperti saya mudah memulai
percakapan, saya mudah tertarik pada orang, saya mampu melakukan banyak
hal, Saya suka menolong orang lain, dst.
3.4.2.2 Skala Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif
Skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif disusun dalam 55 item
yang terbagi atas 8 kriteria utama dari gangguan kepribadian obsesif
kompulsif. Dalam penelitian ini digunakan skala Likert. Adapun skala
gangguan kepribadian untuk uji coba adalah sebagai berikut:

40
Tabel 3.2
Blueprint item valid (*)
Skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif
No
Aspek
Butir soal jumlah reliabilitasFavorable Unfavorable
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utama suatu aktifitas terabaikan. Perfeksionisme ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan kesenangan dan persahabatan Tidak fleksibel tentang moral Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi standardnya Kikir Ridig (kaku) dan keras kepala
1*, 9, 17*, 21*, 25*, 27, 29, 31*, 35, 51 2*, 10*, 18*, 28*, 30*, 32, 36, 48* 3*, 11*,19 12* 5, 13* 6, 22, 23, 26*, 43, 54* 15, 53, 56* 4, 7, 8, 44*, 46,55*
47, 52 34 33, 38* 20, 40, 49 39, 42 41*, 45*, 50 16, 24, 37
5 6 3 1 1 4 1 2
Jumlah 39 16 23 0.8469
Beberapa contoh item dalam skala ini diantaranya adalah bagi saya setiap
pekerjaan harus dikerjakan sesempurna mungkin, saya merasa cemas jika ada
satu rutinitas dalam jadwal yang tidak terlaksana, Saya mampu menyesuaikan
diri dimana pun saya berada dst.

41
3.5 Uji instrumen
Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan pengujian
validitas dan reliabilitas alat ukur tersebut dengan menggunakan sampel yang
tidak sesungguhnya dengan karakteristik yang sama berjumlah 43 orang untuk
skala big five dan 56 orang pada skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
3.5.1 Uji validitas skala
Validitas adalah derajat ketepatan suatu alat ukur tentang pokok isi atau arti
sebenarnya yang diukur (Sevilla, 2006). Secara singkat validitas dapat diartikan
sebagai sejauhmana suatu alat ukur mengukur variabel yang hendak diukur.
Teknik uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
rumus perhitungan statistik pearson correlation. Untuk menentukan item yang
dibuang dan dipertahankan, peneliti menggunakan hasil penghitungan pada
internal konsistensi, yaitu dengan melihat corrected item-total correlations.
Batas bobot indeks konsistensi internal yang digunakan untuk menentukan item
tersebut dibuang atau dipertahankan adalah 0.3. Berdasarkan uji validitas yang
dilakukan, didapatkan dari 100 item pada skala big five yang diujicoba hanya
64 item yang valid, dengan begitu terdapat 36 item yang belum mengukur dari
trait big five. Sedangkan untuk skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif
berdasarkan uji validitas yang dilakukan dari 55 item yang diujicoba ditemukan
23 item yang valid.

42
3.5.2 Uji reliabilitas skala
Reliabilitas menunjukkan pada konsistensi pengukuran, dan secara frekuensi
mengukur metode reliabilitas test-retest. Untuk menguji reliabilitas dalam
penelitian ini menggunakan teknik alpha cronbach.
a. Skala kepribadian Bigfive
Pengukuran reliabilitas dilakukan pada setiap domain yang terdapat pada
skala ini karena skala ini merupakan skala multidimensional sehingga tidak
didapatkan skor total. Menurut Anastasi &Urbina (1997) bobot alpha yang
dapat diterima dan digunakan lebih lanjut adalah berkisar antara 0,6-0,8. uji
reliabilitas untuk skala bigfive melalui SPSS 11.5 didapatkan nilai koefisien
cronbach alpha sebesar 0,8940 untuk dimensi neuroticism; 0,8220 untuk
dimensi extraversion; kemudian 0,7956 untuk dimensi agreebleness
selanjutnya 0,8173 untuk dimensi openess dan 0,8548 untuk dimensi
conscientiousness. Dengan begitu alat ukur ini reliabel untuk mengukur semua
variabel yang terdapat dalam big five.
b. Skala kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
uji reliabilitas untuk skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif
melalui SPSS 11.5 didapatkan nilai koefisien cronbach alpha sebesar 0,8469
setelah dilakukan uji coba kedua. Sehingga alat ukur ini reliabel untuk
mengukur variabel gangguan kepribadian obsesif kompulsif.

43
3.6 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
1. Persiapan
Sebelum turun ke lapangan, peneliti merumuskan masalah yang akan
diteliti kemudian mengadakan studi pustaka untuk melihat masalah tersebut dari
sudut pandang teoritis. Setelah mendapatkan teori-teori secara lengkap kemudian
menyiapkan, membuat dan menyusun alat ukur yang akan di gunakan dalam
penelitian ini yaitu adaptasi alat ukur IPIP (International Personality Item Pool)
dari Goldberg (1999) yang diterjemahkan oleh Adriaan H.Boon Van Ostade
bernama 100 Big Five factor markies dan alat ukur kecenderungan kepribadian
obsesif kompulsif yang dibuat berdasarkan indikator yang diturunkan dari DSM-
TR IV. Kemudian peneliti melakukan try out (uji coba) alat ukur penelitian yang
dilakukan di beberapa perusahaan melalui teknik accidental sampling. Setelah
mendapatkan data yang diinginkan peneliti kemudian melakukan pengolahan data
dan membuang item-item yang tidak valid dalam alat ukur tersebut. Sebelumnya
peneliti menentukan sampel penelitian yaitu karyawan PT . Indopoly Swakarsa
Industry yang diambil melalui teknik purposive sampling, kemudian melakukan
proses permintaan izin penelitian kepada pihak perusahaan tersebut .
2. Pelaksanaan
Melakukan pengambilan data dengan memberikan alat ukur yang telah
diujikan sebelumnya kepada subjek penelitian yang dilakukan di PT . Indopoly
Swakarsa Industry. Kemudian melakukan pengolahan terhadap data yang sudah di
dapatkan.

44
3.7 Teknik Analisis Data
Perhitungan statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik
analisis statistik korelasi Pearson Product-Moment. Untuk analisis ini, peneliti
menggunakan software SPSS versi 11.5.

45
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Bab berikut ini akan membahas mengenai presentasi dan analisis data
meliputi gambaran umum responden, analisis deskriptif, kategorisasi, dan hasil uji
hipotesis.
4.1 Gambaran Umum Responden
Penelitian ini dilakukan di PT. Indopoly Swakarsa Industry, Cikampek.
Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 80 karyawan
4.1.1 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Jumlah Presentase
Laki-laki 34 42,5% Perempuan 46 57,5%
Total 80 100%
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa responden perempuan jumlahnya
lebih banyak daripada laki-laki yaitu 46 orang atau 57,5 % sedangkan responden
laki-laki berjumlah 34 orang atau 42,5%.
4.1.2 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia
Tabel 4.2 Gambaran Umum Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Presentase
21-40 tahun 61 76,25 %
41-60 tahun 19 23,75 %
Jumlah 80 100 %

46
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa usia paling banyak yang di jadikan
responden penelitian berada pada rentangan dewasa awal 21-40 tahun yaitu
sebanyak 61 responden atau dengan presentasi 76,25 %, dan jumlah responden
paling sedikit berada pada rentangan dewasa madya, 41-50 tahun sebanyak 19
orang atau 23,75 %.
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Selanjutnya akan dijelaskan statististik deskriptif dari variabel dalam
penelitian ini yang berisi nilai mean, median, standar deviasi (SD), nilai maksimal
dan minimal dari masing-masing variabel. Nilai tersebut disajikan dalam tabel
berikut ini
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif Variabel penelitian
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation neuroticism 80 23.00 50.00 37.1625 6.23271extraversion 80 23.00 37.00 29.8500 3.01935agreebleness 80 30.00 48.00 37.5875 3.42623openess 80 22.00 38.00 28.1375 2.88928conscientiousness 80 38.00 65.00 52.1000 6.25937gang kepribadian obsesif kompulsif 80 53.00 76.00 62.5875 5.01818
Valid N (listwise) 80
Berdasarkan tabel 4.3 skor trait neuroticism terendah 23 dan tertinggi 50
dengan nilai rata-rata 37,16 dan standar deviasi 6,23. Kemudian skor terendah
trait extraversion yaitu 23 dan skor tertinggi 37 dengan nilai rata-rata 29,85 dan
standar deviasi 3,019. Selanjutnya skor terendah yang diperoleh trait agreebleness
sebesar 30 dan skor tertingginya 37 dengan nilai rata-rata 37,58 dan standar
deviasi 3,42. Setelah itu skor terendah trait openess adalah 22 dan skor
tertingginya 38 dengan nilai rata-rata 28,13 dan standar deviasi 2,88. Sedangkan
trait conscientiousness skor terendahnya yaitu 38 dan skor tertinggi sebesar 65
dengan nilai rata-rata 52,10 dan standar deviasi 6,25. Serta gangguan kepribadian
obsesif kompulsif nilai terendahnya adalah 53 dan nilai tertinggi 76 dengan nilai
rata-rata 62,58 dan standar deviasi 5,018. Nilai rentangan terbesar (nilai maximal-

47
minimal) terdapat pada trait neuroticism dan trait conscientiousness sebesar 27.
Hal ini berarti variabel yang paling heterogen hasilnya adalah trait neuroticism
dan trait conscientiousness.
4.2.1 Kategorisasi Skor Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif
Skala gangguan kepribadian obsesif kompulsif terdiri dari 23 item dengan
empat pilihan jawaban yang diberi skor 1 sampai dengan 4. Dengan demikian,
skor yang mungkin diperoleh tiap subjek berkisar dari 23 sampai 92.
Peneliti membagi klasifikasi skor gangguan kepribadian obsesif kompulsif
menjadi tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Rumus untuk
mengkategorisasikannya adalah: = X ; 23
Dengan begitu, kategorisasi yang diperoleh untuk skala gangguan Kepribadian
obsesif kompulsif adalah:
Tabel 4.4
Penyebaran Skor Gangguan Kepribadian Obsesif Komplusif
Kategori Rumus nilai Jumlah
Subjek Persen
Tinggi 3X + nilai minimum 70 - 92 9 11,25 %
Sedang 2X + nilai minimum 47 - 69 71 88,75 %
Rendah X+ nilai minimum 23- 46 0 0 %
∑ 80 100%
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa tidak ada responden yang
memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif, sebagian besar
responden memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
sedang dengan jumlah 71 orang (88,75%) atau dapat dikatakan hampir seluruh
responden dari total responden yang berjumlah 80, dan ada 9 responden dengan
presentase 11,25% memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif tinggi.

48
4.2.2 Kategorisasi Skor Trait Big Five
Skala trait big five terdiri dari 5 trait yaitu neuroticism, extraversion,
agreebleness, openess dan conscientiousness. Masing-masing trait memiliki
jumlah item yang berbeda-beda. Neuroticism terdiri dari 14 item, extraversion 11
item, kemudian agreebleness dengan 12 item, openess memiliki 10 item dan
conscientiousness 17 item. Skala tersebut menyediakan empat pilihan jawaban
yang diberi skor 1 sampai dengan 4. Dari tabel 4.3 telah diketahui mean dan
standar deviasi masing-masing trait tersebut. Karena tiap trait memiliki jumlah
item yang berbeda sehingga untuk mengkategorikannya perlu dilakukan
perhitungan standar baku (z-score).
Rumus untuk mencari z-score adalah
jadi total skor pada tiap trait dikurangi dengan nilai meannya dan dibagi dengan
standar deviasinya. setelah semua item telah distandar baku-kan kemudian item-
item tiap trait itu dibandingkan skornya satu sama lain, skor (z-skor) yang paling
tinggi dari kelima item tersebut lah yang termasuk dalam pengkategorian. Berikut
ini adalah hasil kategorisasi yang diperoleh oleh masing-masing trait.
Tabel 4.5
Kategorisasi Skor Trait Big Five
Trait big five
Jumlah
subjek
Persentase (%)
Kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif
Tinggi Sedang Rendah
neuroticism 23 28,75 % 2 21 0
extraversion 23 28,75 % 4 19 0
agreebleness 10 12,5 % 1 9 0
openess 11 13,75 % 1 10 0
onscientiousness 13 16,25 % 1 9 0

49
Total 80 100 % 9 71 0
Berdasarkan tabel diatas maka dapat dilihat ada 23 responden atau 28,75
% yang termasuk dalam trait neuroticism dengan dua orang memiliki
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif tinggi dan 21 orang
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sedang. Kemudian ada
23 responden yang memiliki trait extraversion dominan dalam dirinya atau
sebesar 28,75 % responden dengan 4 orang yang kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif tinggi dan 21 orang pada taraf sedang. Selanjutnya
trait agreebleness ada 10 responden yang tergolong dalam trait ini atau 12,5 %,
ada 9 orang yang memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif dalam taraf sedang dan satu orang dengan taraf kecenderungan tinggi.
Selain itu trait openess ada 10 responden yang masuk kategori trait tersebut
dengan 1 orang yang memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif tinggi dan 10 orang pada taraf sedang. Terakhir trait conscientiousness
ada 13 responden atau 16,25 % masuk dalam kategori ini dengan 1 orang yang
memiliki kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif tinggi dan 9
orang pada tingkat sedang. Maka dapat dikatakan bahwa responden dalam
penelitian ini dominan termasuk dalam trait neuroticism dan extraversion,
masing-masing sebanyak 23 responden kemudian responden yang paling banyak
memiliki kecenderungan gangguan kepribadian tinggi ada pada trait extraversion
sebanyak 4 orang.
4.3 Uji Hipotesis
Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian
ini dengan rumus korelasi Person. Dalam penghitungannya, peneliti menggunakan
program SPSS versi 11.50. berikut ini adalah hasil penelitiannya.

50
Tabel 4.6
Uji Korelasi trait neuroticism dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
neuroticism
gang kepribadian
obsesif kompulsif
neuroticism Pearson Correlation 1 -.104 Sig. (2-tailed) . .359 N 80 80
gang kepribadian obsesif kompulsif
Pearson Correlation -.104 1 Sig. (2-tailed) .359 . N 80 80
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai korelasi antara trait neuroticism
dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sebesar -1,104 dengan nilai
signifikansi 0.359 berarti hubungan tersebut tidak signifikan sehingga Ho1
diterima yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara trait neuroticism
dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
Tabel 4.7
Uji Korelasi trait extraversion dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
extraversion
gang kepribadian
obsesif kompulsif
extraversion Pearson Correlation 1 .114 Sig. (2-tailed) . .315
N 80 80 gang kepribadian obsesif kompulsif
Pearson Correlation .114 1 Sig. (2-tailed) .315 .
N 80 80
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai korelasi antara trait extraversion
dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sebesar 0,104 dengan nilai
signifikansi 0.315 berarti hubungan tersebut tidak signifikan sehingga Ho2

51
diterima yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara trait extraversion
dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
Tabel 4.8
Uji Korelasi trait agreebleness dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
agreebleness
gang kepribadian
obsesif kompulsif
agreebleness Pearson Correlation 1 .299(**) Sig. (2-tailed) . .007 N 80 80
gang kepribadian obsesif kompulsif
Pearson Correlation .299(**) 1 Sig. (2-tailed) .007 . N 80 80
Dari tabel diatas terlihat bahwa terdapat hubungan yang positif antara trait
agreebleness dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif dengan nilai 0,299
dengan taraf signifikansi 0,007 berarti hubungan tersebut signifikan pada
probabilitas 1% sehingga Ho3 ditolak. Tanda positif menyatakan bahwa semakin
tinggi skor trait agreebleness maka semakin tinggi kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif.
Tabel 4.9
Uji Korelasi trait openess dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
openess
gang kepribadian
obsesif kompulsif
Openess Pearson Correlation 1 .329(**) Sig. (2-tailed) . .003 N 80 80
gang kepribadian obsesif kompulsif
Pearson Correlation .329(**) 1 Sig. (2-tailed) .003 . N 80 80
Dari tabel diatas terlihat bahwa terdapat hubungan yang positif antara trait
openess dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif dengan nilai 0,329

52
dengan taraf signifikansi 0,03 berarti hubungan tersebut signifikan pada
probabilitas 1% sehingga Ho4 ditolak. Tanda positif menyatakan bahwa semakin
tinggi skor trait openess maka semakin tinggi kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif.
Tabel 4.10
Uji Korelasi trait conscientiousness dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif
conscientio
usness
gang kepribadian
obsesif kompulsif
conscientiousness Pearson Correlation 1 .379(**) Sig. (2-tailed) . .001 N 80 80
gang kepribadian obsesif kompulsif
Pearson Correlation .379(**) 1 Sig. (2-tailed) .001 . N 80 80
Dari tabel diatas terlihat bahwa terdapat hubungan yang positif antara trait
conscientiousness dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif dengan nilai
0,379 dengan taraf signifikansi 0,001 berarti hubungan tersebut signifikan pada
probabilitas 1% sehingga Ho5 ditolak. Tanda positif menyatakan bahwa semakin
tinggi skor trait conscientiousness maka semakin tinggi kecenderungan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif.

53
BAB 5
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai diskusi, kesimpulan, dan saran dari
hasil penelitian
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data serta pengujian hipotesis menggunakan
perhitungan Pearson Correlation yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya,
maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Ho1 diterima yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara trait
neuroticism dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif pada karyawan. Dengan nilai signifikansi 0.359 > 0.05.
2. Ho2 diterima yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara trait
extraversion dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif pada karyawan. Nilai signifikansi 0.315 > 0.05.
3. Ho3 ditolak yaitu tidak ada hubungan antara trait agreebleness dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan
karena dalam penelitian ini ditemukan ada hubungan antara trait
agreebleness dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif pada karyawan . Taraf signifikansi 0,007 < 0.01. Tanda positif
menyatakan bahwa semakin tinggi skor trait agreebleness maka semakin
tinggi kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada
karyawan.
4. Ho4 ditolak yaitu tidak terdapat hubungan yang positif antara trait openess
dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada
karyawan karena dalam penelitian ini ditemukan ada hubungan antara trait
openess dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
pada karyawan. Dengan nilai signifikansi 0,003 < 0.01. Tanda positif

54
menyatakan bahwa semakin tinggi skor trait openess maka semakin tinggi
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan.
5. Menerima Ha5 yaitu terdapat hubungan yang positif antara trait
conscientiousness dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif pada karyawan dengan nilai 0.001 < 0.01. Tanda positif
menyatakan bahwa semakin tinggi skor trait conscientiousness maka
semakin tinggi kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
pada karyawan.
5.2 Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara trait neuroticism dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif, kedua hal tersebut sesuai dengan apa yang di temukan oleh penelitian
sebelumnya oleh Widiger (2001) dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa trait
neuroticism tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan
kepribadian obsesif kompulsif kemudian penelitian berikutnya oleh Jonathan
Shedler dan Drew Westen juga tidak menemukan hubungan tersebut. Sementara
jika kita lihat pada teori yang ada ciri-ciri yang ada pada trait neuroticism,
individu yang memiliki nilai atau skor yang tinggi di neuroticism adalah
kepribadian yang mudah mengalami kecemasan, rasa marah, depresi, dan
memiliki kecenderungan emotionally reactive. Salah satu ciri kepribadian tersebut
yaitu kecemasan berhubungan dengan beberapa gejala yang ada pada gangguan
kepribadian obsesif kompulsif, yaitu terfokus pada aturan dan detail kemudian
perfeksionis. Jika aturan yang telah ia buat tidak sesuai dengan rencana yang
berjalan maka akan membuatnya merasa cemas, begitupun dengan pekerjaan yang
dilakukannya jika tidak sesuai dengan kriteria yang ia inginkan maka ia akan
merasa cemas. hasil dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang
signifikan seperti yang telah dikatakan sebelumnya. Hal ini mungkin karena hanya
ada satu ciri dari trait neuroticism yang berhubungan dengan kencenderungan
gangguan kepribadian obsesif kompulsif, keseluruhan ciri trait yang lainnya tidak

55
berhubungan dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Sehingga tidak mewakili trait neuroticism secara keseluruhan.
Sama halnya dengan trait neuroticism, dalam penelitian ini pun tidak
ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara trait extraversion dengan
kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Pada penelitian
sebelumnya oleh Thomas Widiger (2001) Ia menemukan salah satu facet dalam
trait extraversion yaitu assertif memiliki hubungan dengan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif akan tetapi hanya karena satu facet saja yang berhubungan
dengan gangguan kepribadian tersebut sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa
trait extraversion berhubungan secara signifikan dengan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif, hal ini disebabkan satu facet tersebut tidak dapat mewakili
facet-facet lain yang terdapat dalam trait extraversion. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya oleh Jonathan Shedler dan Drew Westen (2004) yang
mengukur dimensi patologis kepribadian dengan menggunakan five factor model,
dalam penelitian tersebut tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara trait
extraversion dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Selanjutnya hasil dari penelitian ini menemukan bahwa trait agreebleness
memiliki hubungan yang signifikan dengan kecenderungan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif, sedangkan dalam hipotesis yang dirumuskan peneliti
berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Thomas Widiger (2004) mengenai Five
Factor model untuk mengukur gangguan kepribadian, bertolak belakang dengan
hasil penelitian ini, penelitian sebelumnya tidak ditemukan hubungan yang
signifikan antara trait agreebleness dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif. Akan tetapi penelitian yang dilakukakan oleh Brian P.O’connor dan
Jamie A.Dice (2001) menemukan adanya hubungan yang positif kuat antara trait
agreebleness dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif dan hal tersebut
mendukung hasil yang ditemukan dalam penelitian ini. Keduanya memiliki hasil
yang sama mungkin dikarenakan penelitian oleh Brian P.O’connor dan Jamie
A.Dice tersebut menggunakan alat ukur yang sama dengan yang peneliti gunakan
dalam penelitian ini yaitu IPIP NEO oleh Goldberg (1992) selain itu sampel

56
populasi yang di gunakan pun sama-sama pada orang normal bukan pada orang
yang memiliki gangguan psikiatrik.
Kemudian hasil penelitian trait openess ditemukan bahwa ada hubungan yang
signifikan positif dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
dimana hasil ini bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya oleh Thomas
Widiger (2001) yang tidak menemukan adanya hubungan antara trait openess
dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Hal ini terjadi mungkin
dikarenakan dalam pengukuran yang dilakukan oleh peneliti dan Thomas Widiger
menggunakan skala Big-Five yang berbeda. Perbedaan hasil penelitian ini dapat
disebabkan karena Penelitian sebelumnya menggunakan skala NEO PI-R yang
dapat mengukur facet-facet dalam setiap dimensi dengan lebih mendetail
sedangkan skala IPIP NEO yang digunakan oleh peneliti hanya mampu mengukur
satu dimensi kepribadian secara keseluruhan tanpa diketahui hubungan tiap facet.
Kemudian item-item pada skala IPIP NEO yang digunakan merupakan hasil
terjemahan mungkin ada item-item kalimat yang tidak sesuai dengan kebudayaan
di indonesia sehingga menghasilkan interpretasi yang berbeda dan hasil yang
berbeda. Alasan peneliti menggunakan skala IPIP NEO dibandingkan dengan
NEO PI-R adalah karena peneliti ingin melihat bagaimana hubungan antara tiap
dimensi trait big five secara global dengan kecenderungan gangguan kepribadian
obsesif kompulsif. Kemudian peneliti juga ingin melihat apakah antara alat ukur
IPIP NEO dengan NEO PI-R memiliki hasil yang sama/ berbeda untuk melihat
hubungan kecenderungan obsesif kompulsif tersebut sedangkan kedua alat ukur
tersebut mengukur hal yang sama yaitu trait big five. Kemudian perbedaan hasil
tersebut bisa dikarenakan pada penelitian ini sampel yang digunakan berbeda
dengan penelitian sebelumnya, pada penelitian sebelumnya oleh Widiger (2001)
dilakukan pada sampel pasien psikiatrik gangguan kepribadian sementara pada
penelitian ini dilakukan pada populasi normal dengan sampel yaitu karyawan.
Selain itu social desirability juga bisa menyebabkan terjadinya perbedaan hasil
tersebut, reponden tidak menampilkan dirinya yang sebenarnya dengan mengisi
skala yang diberikan peneliti sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat
bukan yang sesuai dengan pribadinya. Jika pada pasien psikiatrik mungkin mereka

57
lebih jujur untuk mengisi skala yang diberikan padanya sementara pada responden
yang normal sulit untuk jujur terhadap diri mereka karena mereka masih berusaha
menutup-nutupinya dengan mencoba menjawab mengikuti norma yang baik di
masyarakat sehingga tidak menampilkan diri mereka sebenarnya.
Trait conscientiousness dalam penelitian ini didapatkan hubungan yang
positif signifikan dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
hal ini sesuai dengan apa yang dirumuskan peneliti sebelumnya berdasarkan hasil
penelitian sebelumnya oleh Thomas Widiger (2001) yang menemukan bahwa skor
conscientiousness yang tinggi berhubungan dengan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif. Ciri ciri yang terdapat dalam trait conscientiousness seperti
menunjukkan pada kesukaannya untuk bekerja secara ekstrim, perfeksionis, dan
kontrol terhadap tingkah laku yang berlebihan sangat sesuai dengan gejala yang
terdapat pada gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Saran
Berdasarkan penulisan penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih
terdapat banyak kekurangan di dalamnya. Untuk itu, peneliti memberikan
beberapa saran untuk bahan pertimbangan sebagai penyempurnaan penelitian
selanjutnya, baik berupa saran teoritis dan saran praktis.
5.2.1 Saran Teoritis
1. Untuk penelitian selanjutnya peneliti lebih memperhatikan dan
memeriksa kalimat-kalimat item dari skala bigfive IPIP NEO oleh
Goldberg yang merupakan hasil terjemahan sehingga lebih disesuaikan
dengan budaya yang ada di indonesia. Untuk hasil yang lebih
mendetail untuk mengetahui bagaimana hubungan setiap facet-facet
dalam dimensi big five peneliti disarankan untuk menggunakan alat

58
ukur Big Five, NEO PI-R yang dibuat oleh Costa dan McCrae (1992).
Dengan alat ukur tersebut akan lebih jelas mengukur hubungan tiap
facet yang merupakan ciri-ciri/karakteristik dalam dimensi tersebut.
2. Untuk perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya psikologi
kepribadian, psikologi industri dan organisasi serta psikologi klinis
dapat memperbanyak dan mengembangkan penelitian mengenai tipe-
tipe kepribadian dan gangguan kepribadian karena penelitian tersebut
belum cukup banyak di indonesia kemudian untuk lebih mengetahui
tipikal kepribadian masyarakat indonesia khususnya karyawan dan
untuk mengetahui seberapa besar prevelensi kecenderungan terjadinya
gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada populasi normal
terutama karyawan karena berdasarkan artikel kesehatan yang ditulis
oleh Abidin (2008) dikatakan bahwa kebanyakan penderita gangguan
obsesif kompulsif salah satunya berasal dari karyawan.
5.2.2 Saran Praktis
1. Untuk para karyawan yang memiliki skor tinggi pada trait
agreebleness, openess dan conscientiousness lebih berhati-hati agar
tidak mengalami kecenderungan gangguan kepribadian obsesif
kompulsif dengan cara memperhatikan, mengarahkan atau mengontrol
trait yang ia miliki kearah yang positif bukan ke arah penyimpangan
yang ekstrim bahkan maladaptif seperti misalnya perfeksionis,
ambisius dan workaholic pada conscientiousness kemudian mudah

59
mengikuti orang lain pada trait agreebleness dan fokus yang
berlebihan pada trait openess.
2. Penelitian selanjutnya agar dapat melakukan penelitian pada populasi
yang lebih luas tidak hanya di PT.Indopoly Swakarsa Industry, tapi
dilakukan di perusahaan-perusahaan lainnya yang lebih besar dan
mengambil sampel dengan jumlah yang lebih banyak agar hasilnya
lebih beragam serta untuk melihat apakah ada kecenderungan
gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada karyawan diperusahaan-
perusahaan besar lain.

60
DAFTAR PUSTAKA
Alloy, Lauren B; John H Riskind & Margaret J Manos. (2005). Abnormal
psychology current perspective: 9th edition. New York: McGraw Hill
American Psychiatric Association. (2002). DSM-IV-TR. Washington :APA
Barlow & Durand. (2002). Abnormal psychology: 3rd edition. Canada:
Wadsworth Group
Butcher, James N ; Susan Mineka & Jill M Hooley. (2008). Abnormal
psychology: core concepts. USA: Pearson Education, Inc
Cozby,Paul C. (2009). methods is behavioral research 10th edition. Americas
new york: . Mc graw hill higher education
Costa Jr, Paul T & Thomas A Widiger. (2002). Personality disorders and the five
factor model of personality: second edition. Washington: APA
Davidson, Gerald C; John M Neale & Ann M Kring. (2006). Psikologi abnormal
edisi ke-9. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada
Engler, Barbara. (2009). Personality theories. USA: Houghton Mifflin Harcourt
Publishing Company
Friedman, Howard S & Miriam W Schustack. (2008). Kepribadian: Teori klasik
dan riset modern edisi ketiga jilid 1. Jakarta: Erlangga

61
Halgin, Richard P & Susan K Whitbourne. (2007). Abnormal psychology 5th
edition: Clinical perspective on psychological disorders. New York:
McGraw Hill
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
Kaplan, HI ; BJ. Sadock, JA Grebb. (1997). Sinopsis psikiatri: jilid 2. Jakarta:
Binarupa Aksara
Nolen-Hoeksema, Susan. (2007). Abnormal psychology: 4th edition. New York:
Mc.Graw Hill
Pervin, Lawrance A; Daniel Cervone & Oliver P John. (2005). Personality:
Theory and research. USA: John Wiley & Sons, Inc
Suryabrata, Sumadi. (2007). Psikologi kepribadian. Jakarta: PT.RajaGrafindo
Persada
Jurnal :
O’Connor, Brian P., & Dyce, Jamie A. (2001). Rigid and Extreme: A Geometric
Representation of Personality Disorders in Five-Factor Model Space. Journal of
Personality and Social Psychology, 81 (6), 1119-1130.
Lynam. Donald R & Widiger, Thomas A. (2001). Using the Five-Factor Model to
Represent the DSM-IV Personality Disorders: An Expert Consensus Approach.
Journal of Abnormal Psychology, 110 (3),401-412.
Shedler, Jonathan Ph.D & Westen,Drew Ph.D. (2004). Dimensions of Personality Pathology: An Alternative to the Five-Factor Model. American Journal Psychiatry, 161:1743–1754.

62
Internet :
Abidin. (2008). gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Diambil pada 14
OKtober 2009, dari http://abidinblog.blogspot.com/kesehatan
Dr Joe Kiff. (2007). Obsessive-compulsive personality disorder. Diambil pada 10
oktober 2009, dari http://en.wikipedia.org/wiki/obsessif-compulsif_disorder
Emerald Group Publishing Limited. (2004). Job involvement, obsessive-
compulsive personality traits, and workaholic behavioral tendencies. Diambil
pada 27 Desember 2009, dari
(http://www.emeraldinsight.com/10.1108/09534810410554506 )
Jane A. Fitzgerald, Ph.D. (2009). Obsessive-compulsive personality disorder.
Diambil pada 10 oktober 2009 darihttp://www.minddisorders.com
Philipson Ph.D, Steven. (2008). Obsessive compulsive personality disorder: A
defent of philosophy, not anxiety. Diambil pada 10 oktober 2009, dari
e-dukasi. (2009). Sosialisasi dan pembentukan kepribadian. Diambil pada 14
oktober 2009 dari http://www.e-dukasi.net
Rumah belajar psikologi. (2009). Kepribadian. diambil pada 14 oktober 2009,
dari http://www.rumahbelajarpsikologi.com
Wikipedia. (2009). Personality traits. Diambil pada 14 Oktober 2009, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/big_five_personality_traits

63
dengan kecenderungan gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Seseorang
yang memiliki tingkat extraversion yang tinggi dapat lebih cepat berteman
daripada seseorang yang memiliki tingkat extraversion yang rendah, dan hal
tersebut tidak sesuai dengan gejala terjadinya gangguan kepribadian obsesif
kompulsif. Dimana salah satu ciri gangguanya adalah kaku sehingga tidak mudah
untuknya berkenalan dengan orang lain.
Kemudian selanjutnya trait
Penelitian sebelumnya menggunakan skala NEO PI-R yang dapat mengukur facet-facet dalam setiap dimensi dengan lebih mendetail sedangkan skala IPIP NEO yang digunakan oleh peneliti hanya mampu mengukur satu dimensi kepribadian secara keseluruhan tanpa diketahui hubungan tiap facet.
O’connor dan Dyce (2001) melakukan penelitian hubungan gangguan kepribadian dengan five factor model menggunakan pendekatan geometrik. pada penelitian ini terdapat dua sample utama, sample pertamanya adalah gabungan antara pasien yang sudah sembuh dan pasien psikiatrik yang masih dirawat kemudian samplenya yang kedua adalah pasien yang sudah sembuh. Dari penelitian ini ditemukan pada sample pertama, gangguan kepribadian obsesif kompulsif memiliki skor yang tinggi pada neuroticism dan skor yang rendah pada extraversion, agreebleness dan conscientiousness. Sedangkan pada sample yang kedua ditemukan hasil yang berbeda yaitu skor tinggi pada agreebleness dan skor rendah pada neuroticism, extraversion, dan conscientiousness

63
LAMPIRAN
Uji Reliabilitas dan Validitas
1. Skala Big Five (43 responden)
a. Skala Neuroticism
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.817 50
Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020
49.8140 49.9767 49.8605 49.9767 50.0930 49.9767 49.8140 49.7442 49.7674 49.9767 49.6744 49.6047 49.7442 49.7674 49.6512 50.6977 49.9767 49.8605 49.5349 49.7674
49.2027 50.3090 51.7420 49.3566 49.8007 50.5947 50.2503 49.3378 47.1827 47.3566 46.4153 48.1495 49.0997 50.7542 46.5659 54.9779 52.9280 52.6467 52.8738 53.3732
.5757
.4129
.2959
.7107
.5289
.3844
.4611
.5831
.6710
.6253
.7185
.5117
.5744
.4173
.7803 -.0304 .1472 .2597 .2587 .1512
.8504
.8565
.8607
.8476
.8523
.8577
.8547
.8503
.8454
.8473
.8430
.8527
.8503
.8563
.8412 .8727 .8673 .8612 .8610 .8651

64
b. Skala Extraversion
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.817 50
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if
Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020
52.6047 52.6047 52.9070 52.8837 52.7442 53.1163 52.4884 52.5581 52.6977 52.6744 52.7674 52.7907 52.7907 53.2791 52.6047 52.8605 52.9535 53.5349 52.8605 52.7674
29.5305 29.3876 27.2769 27.7719 29.2425 31.0576 28.7320 30.5858 29.6445 29.9867 29.5161 28.5028 28.9790 27.0631 31.7209 28.7896 30.3311 33.4928 32.6944 31.7542
.2683
.3398
.5553
.5838
.4234
.1194
.5155
.2370
.4206
.3165
.4377
.4807
.2846
.6062
.0685
.5533
.1893 -.1844 -.0840 .0904
.7343
.7276
.7069
.7073
.7218
.7458
.7152
.7354
.7233
.7298
.7221
.7161
.7338
.7026
.7470
.7140
.7409
.7624
.7655
.7440
c. Skala Agreebleness
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.817 50

65
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if
Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020
56.5116 55.9070 56.0000 56.0000 56.0930 56.0465 56.1860 56.2791 55.7442 55.9070 55.9070 56.1628 56.3953 55.6977 55.7907 56.5116 56.1628 56.3721 56.3256 56.3256
33.1606 32.8007 32.0476 33.1905 30.8959 34.1406 31.2979 30.1107 31.4806 32.8483 31.8959 30.4729 31.4352 31.7398 30.8837 33.5891 32.2824 33.4297 32.3677 31.6058
.1873
.2227
.3288
.2935
.5104
.1795
.4964
.5528
.4870
.2748
.4524
.4296
.4582
.5195
.4115
.1464
.3105
.1640
.2740
.4221
.7922
.7902
.7832
.7850
.7715
.7897
.7731
.7676
.7740
.7860
.7764
.7764
.7752
.7736
.7777
.7940
.7842
.7931
.7869
.7773
d. Skala Openess
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.817 50
Scale
Mean if
Item
Deleted
Scale
Variance if
Item Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Cronbach's
Alpha if
Item
Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005
52.9767 53.1163 52.9070 52.8605 53.7674
27.6423 28.7243 25.3721 26.6467 27.2303
.1869
.0117
.6023
.4214
.2298
.7551
.7705
.7254
.7391
.7524

66
VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020
53.5814 53.0233 52.9767 53.0465 52.9535 52.9535 53.0465 52.8372 53.3953 53.3023 52.9070 53.3256 53.0000 53.4651 53.2326
29.1539 26.4518 27.3566 26.4264 26.2359 28.9978 25.7121 25.3300 25.5781 27.4064 27.4197 27.6534 27.2857 24.3499 25.6589
-.0453 .4029 .2765 .4705 .4930 .0282 .5548 .5945 .5294 .1733 .2520 .2002 .2317 .5549 .3956
.7758 .7395 .7483 .7361 .7343 .7614 .7292 .7255 .7297 .7582 .7500 .7538 .7520 .7236 .7389
e. Skala Conscientiousness
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.817 50
Scale
Mean if
Item
Deleted
Scale
Variance if
Item Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Cronbach's
Alpha if
Item
Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013
57.3256 57.3023 57.2558 57.1860 57.3488 57.3023 57.2326 56.9535 57.0465 57.1860 57.3256 57.1860 57.1395
42.4629 40.9779 40.3854 40.4408 41.9468 39.3112 40.0399 44.3311 40.6168 39.1074 41.3677 40.7741 42.5039
.2368
.4758
.5160
.4089
.3800
.6640
.5845
.0321
.4657
.5074
.4053
.3335
.1865
.8417
.8321
.8302
.8347
.8359
.8239
.8276
.8474
.8321
.8297
.8348
.8390
.8452

67
2. Skala Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif (56 responden)
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.8548 17
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if
Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if
Item Deleted
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022
141.3889 140.8333 142.0370 142.2222 142.0185 142.1111 141.4074 142.1296 141.4074 142.0556 141.8704 140.9259 140.9444 142.0926 142.2407 142.3148 141.2037 140.9630 141.6296 141.8704 141.7593 141.1111
104.8459 105.3868 104.7911 111.7610 108.3581 105.5346 109.6422 106.3036 107.0384 103.9403 103.7376 104.9001 105.7516 107.7082 109.6957 106.9745 103.0332 104.6778 106.6150 108.4546 103.8466 109.3836
.3397
.3491
.3038 -.1361 .0750 .2602 .0153 .2147 .2045 .3492 .4025 .3620 .3016 .1587 .0077 .1785 .4573 .4317 .2163 .0973 .4430 .0417
.7634
.7636
.7643
.7785
.7731
.7660
.7739
.7677
.7680
.7625
.7610
.7629
.7649
.7694
.7745
.7690
.7591
.7615
.7676
.7715
.7603
.7728
VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 VAR00019 VAR00020
57.5116 57.1628 57.0000 57.3256 57.2326 57.5814 57.2558
40.1606 38.9491 40.5714 42.7962 39.9446 39.4873 39.4806
.4027
.5664
.5274
.3021
.5556
.4210
.4768
.8353
.8268
.8301
.8386
.8283
.8349
.8314

68
VAR00023 VAR00024 VAR00025 VAR00026 VAR00027 VAR00028 VAR00029 VAR00030 VAR00031 VAR00032 VAR00033 VAR00034 VAR00035 VAR00036 VAR00037 VAR00038 VAR00039 VAR00040 VAR00041 VAR00042 VAR00043 VAR00044 VAR00045 VAR00046 VAR00047 VAR00048 VAR00049 VAR00050 VAR00051 VAR00052 VAR00053 VAR00054 VAR00055 VAR00056
141.3889 142.3704 141.1296 141.7963 141.2778 141.4259 141.0926 141.1852 141.5185 141.1481 142.1852 141.7778 141.3333 141.3333 142.3148 142.1852 141.5370 142.2778 141.7593 141.8333 141.3148 141.8889 141.4074 141.9815 141.6852 141.3889 141.8333 141.6111 141.9074 141.5185 142.0370 141.2593 141.9259 142.0741
106.3176 112.8791 104.6055 104.0143 105.7516 101.3057 109.1422 105.3990 105.1600 107.0342 110.7198 107.9497 105.3208 106.4151 107.6160 104.8707 109.9137 109.8270 104.2240 113.0094 109.5028 104.2893 106.3592 108.3581 110.7103 103.2610 113.9151 109.6384 110.3498 106.1412 106.6024 102.8372 103.2774 103.8435
.2625 -.2261 .4077 .3939 .2693 .5549 .0361 .3713 .3691 .2760 -.0628 .1381 .2517 .2571 .1440 .3538 -.0146 .0075 .4900 -.2070 .0506 .3831 .3046 .1301 -.0627 .4519 -.2878 .0107 -.0305 .2756 .2415 .4275 .4251 .4226
.7662
.7804
.7618
.7614
.7657
.7551
.7741
.7632
.7630
.7664
.7779
.7701
.7663
.7664
.7701
.7631
.7763
.7737
.7601
.7822
.7719
.7619
.7653
.7701
.7784
.7594
.7830
.7745
.7742
.7658
.7668
.7595
.7600
.7607