hospital by law

Download Hospital by Law

Post on 12-Aug-2015

194 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

dr. HM Mambodyanto SP., SH., MMR.

HOSPITAL BY LAW

Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital By Law) adalah peraturan organisasi Rumah Sakit (Corporate By Law) dan peraturan staf medis Rumah Sakit (Medical Staff By Law) yang disusun dalam rangka menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Dalam peraturan staf medis Rumah Sakit (Medical Staff By Law) antara lain diatur kewenangan klinis (Clinical Privilege)

UU No.44 th 2009 Rumah Sakit adalah Institusi pelayanan kesehatan yg menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yg menyediakan

pelayanan Rawat Inap, Rawat Jalan dan Gawat Darurat. Pengaturan di Rumah Sakit kebanyakan dilakukan berdasarkan kebiasaan, shg belum dilakukan dalam satu peraturan tertulis yang disebut dengan Hospital By Law (HBL)

Hospital Law merupakan bagian dari hukum umum

(Lex Generalis) sehingga merupakan kepanjangan tangan dari Hukum umum sehingga merupakan Lez Spesialis. Hospital Law merupakan peraturan perundangundangan yang mengatur tentang RS di Indonesia. Sedangkan Hospital By Law (HBL) adalah bagian dari Hospital Law yaitu suatu tata cara pengaturan internal RS atau tata tertib adanya kepastian hukum dalam RS. Aturan & disiplin manajemen yang dituangkan dalam HBL dipatuhi dengan baik, mk dpt berfungsi sbg pedoman dalam menjalankan roda manajemen RS yang baik & tertib.

CIRI DAN SUBSTANSI HBL1. HBL Adalah Tailor-Made

Tiap RS walaupun kelasnya sama, tapi mempunyai aturan yang berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi lingkungan, kemampuan, sumber daya yang ada, kepemilikan, jenisnya dan pengelolaannya, seperti tukang jahit atau Tailor Made. 2. HBL bersifat sistematis & tingkatnya berjenjang Dalam pengaturan secara sistematis dan berjenjang sesuai aturan tatacara yang berlaku di manajemen RS tersebut. (Teori Hans Kelsen, Jerman tentang Stufenbau das Rechts)

3.

Rumusan jelas, tegas, terperinci sesuai prosedur yang berlaku di manajemen RS tsb. Yang mengatur secara terperinci sesuai kebutuhan, kondisi dan situasi RS itu sendiri. Dan aturan dalam RS ini tidak boleh bertentangan dengan aturan2/UU yang lebih tinggi, HBL dapat berfungsi sbg. Perpanjangan Tangan dari Hukum Berfungsi sebagai perpanjangan hukum dari Hospital Law dan merupakan perpanjangan aturan, dan peraturan internal RS sesuai kemampuan dan sumberdaya yang ada. Fungsi hukum adalah membuat peraturan yg bersifat umum & berlaku scr umum dlm berbagai hal. Kasus Hukum RS & Kedokteran bersifat kasuistis shg. Peraturan perundangannya harus ditafsirkan dengan peraturan yg lbh rinci yaitu HBL.

4.

5. Mengatur seluruh manajemen di RS

Baik dibidang medik, keperawatan, administrasi, SDM, pasien keamanan dan kenyamanan. 6. Mengatur tugas pokok dan fungsi sesuai profesi dan disiplin ilmu masing-masing di RS.

PERBANDINGAN ETIKA DAN BHLETIKA KODE ETIK BHL HOSPITAL POLICIES 1. Pedoman 2. SOP 3. Juklak Juknis 4.Butir-butir Akreditasi

PERBANDINGAN ETIKA & BHLCIRI SIFAT TOLOK UKUR DIBUAT OLEH SANKSI OLEH BERLAKU ETIK SEHARUSNYA HATI NURANI (CONSCIENCE) KELOMPOK SENDIRI (SELF IMPOSE REGULATION) ORGANISASI INTERN BHL WAJIB DITAATI KETENTUAN TERTULIS BADAN (ATASAN) RUMAH SAKIT BADAN (ATASAN) PEMERINTAH INTERN & DAPAT DIPAKAI SEBAGAI PERATURAN BUKTI/ HUKUM ATASAN/ PERADILAN

ATASAN YANG BERWENANG

ATASAN/ INSTANSI MKEK

Hukum Kesehatan menurut Leenen dapat dikelompokkan menjadi 4 rumusan :1. Ketentuan-ketentuan hukum yang

langsung berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan misalnya :a. UU RI No.29/2004 ttg Praktik Kedokteranb. UU RI No.36/1948 ttg Kesehatan c. UU No.44/2009 ttg RS

2. Ketentuan-ketentuan yang tidak langsung berhubungan dengan pelayanan kesehatan, seperti hukum pidana, perdata dan administratif dapat diterapkan dalam hubungannya dengan Health Care. a. Pidana; Pasal 359 KUHAP, Karena lalai

sehingga menyebabkan matinya seseorang, dihukum Pasal ini penerapannya untuk siapa saja, Dokter karena kelalaiannya mengobati pasien meninggal dapat dikenakan pasal ini.

b. Perdata : KUH Perdata psl. 1365; Setiap perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian pada orang lain mewajibkan untuk mengganti kerugian tersebut. c. Administrasi : Setiap dokter yang berpraktek harus memiliki Surat Izin Praktik, dari jajaran

Departemen Kesehatan/ Dinas Kesehatan, yang hanya dapat diperoleh bila telah memiliki Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia.

PERATURAN DASAR RUMAH SAKIT (HBL VERSI INDONESIA)1. ANGGARAN DASAR (AD)

2. ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART) 3. PERATURAN RUMAH SAKIT (PRS) BIDANG UMUM (Um) BIDANG MEDIK (Med) 4. SURAT KEPUTUSAN (SK) 5. PENGUMUMAN

RULES & REGULATIONS FOR HOSPITALS Arti : suatu perangkat peraturan yg scr formal dibuat intern

oleh suatu badan di RS tertentu untuk memberikan pedoman dalam pelaksanaan fungsi2 intern atau praktek The set of rules formally adopted internally by a specified hospital body to provide guidance for internal functions or practices (Georgia Departement of Human Resources Home Page, Revised May 20, 2002) Contoh Pengaturan tentang : penerimaan pasien, rekam medik,

konsultasi, pengobatan, instruksi lisan, prosedur kebijakan pelayanan & prosedur, pasien cenderung bunuh diri, pemulangan pasien, kematian pasien, kriteria untuk otopsi, donasi organ & jaringan tubuh, pelayanan gawat darurat, peraturan umum tentang bedah, supervisi staff kerumahtanggaan, kerahasiaan.

3. Pedoman internasional, hukum kebiasaan dan

jurisprudensi yang ada kaitannya dengan 'health carea. Pedoman Internasional

Konvensi Helsinki (1964) merupakan kesepakatan dokter sedunia mengenai penelitian kedokteran, khususnya eksperimen dengan manusia. Ditekankan pentingnya INFORMED CONSENT, yaitu persetujuan pasien setelah mendapat informasi sebelumnya dan informasi tersebut benar-benar telah dimengerti olehnya.

b. Hukum Kebiasaan

Hukum kebiasaan, merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis. Misalnya pada transplantasi organ, tim dokter yang menangani DONOR harus berbeda dengan yang menangani RESIPIEN; karena ada dua kepentingan yang berbeda, yang satu menyembuhkan lainnya mengakibatkan mengakibatkan cacat. Hukum kebiasaan yang sudah diterapkan sejak zaman Belanda dulu dalam praktik kedokteran adalah surat izin operasi dan pembuatan status pasien. Kedua kebiasaan tersebut yang belum jelas dasar hukumnya dalam tata hukum Indonesia, berubah menjadi hukum positif melalui Peraturan Menteri Kesehatan, yaitu tentang Persetujuan Tindakan Medis dan Rekam Medis.

c. Jurisprudensi

Jurisprudensi, bukan merupakan peraturan perundang-undangan, melainkan keputusan hakim yang diikuti oleh hakim2 lain dalam menghadapi kasus yang serupa. Ada dua jurisprudensi, yaitu:1. Constante Jurisprudentie, yaitu jurisprudensi yang

konstan, merupakan putusan-putusan hakim yang serupa dalam kasus-kasus yang mirip. 2. Jurisprudensi Mahkamah Agung, yaitu jurisprudensi yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dan diikuti oleh hakim dari badan peradilan yang lebih rendah tingkatnya sewaktu menghadapi kasus serupa.

Dalam sejarah hukum kedokteran di Indonesia, ada suatu jurisprudensi yang berkaitan dengan transeksualisme. Pada sekitar tahun 70-an, seorang beautician pria yang transeksual, menjalani operasi perubahan kelamin menjadi wanita secara fisik di Singapura. Menurut ilmu kedokteran, pengobatan untuk kasus tersebut memang operasi perubahan kelamin. Hal ini dilakukan agar identitas sesuai dengan kondisi psikologisnya, hingga individu ini memperoleh keseimbangan jasmani-rohani. Permohonan untuk merubah status hukum dari pria menjadi wanita, pada waktu itu diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan bantuan seorang pengacara.

Dalam KUH Perdata, Hakim tidak menemukan pasal yang mengatur masalah terkait transeksualisme ini. Akan tetapi, karena kepiawaian pengacara pemohon, hakim dapat diyakinkan bahwa ia harus membuat penetapan, mengabulkan permohonan tersebut. Apabila permohonan itu ditolak, maka akan menderita seumur hidupnya. Hukum untuk kesejahteraan seseorang, tidak untuk menyengsarakan seseorang.

Dengan dikabulkannya permohonan tersebut, maka Ketetapan ini menjadi jurisprudensi dalam kasus-kasus serupa, meskipun pernah ada sidang yang dinyatakan tertutup bagi umum, karena majelis hakim ingin melihat sendiri secara fisik apakah pemohon benar sudah menjadi wanita.

4. Hukum otonom, ilmu dan literature juga merupakan

sumber hukum kedokteran.a. Hukum Otonom

Istilah hukum otonom biasanya digunakan sehubungan dengan ketentuan yang berlaku bagi suatu daerah tertentu. Misalnya Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur, berlaku khusus untuk penduduk daerah itu saja. Dalam bidang kesehatan pengertian ini analog, dimana ketentuan yang dimaksud berlaku hanya bagi anggota dari suatu ikatan profesi kesehatan. Misalnya Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) berlaku hanya untuk dokter-dokter anggota IDI.22 Kodeki berlaku untuk seluruh dokter di Indonesia dengan Kep. Menkes RI No. 434183

Organisasi IDI memiliki suatu badan peradilan intern yang disebut Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Badan ini berwenang menjatuhkan hukuman kepada anggota IDI yang melanggar etika profesinya. Hukuman tersebut dapat mulai berupa peringatan, ringan atau lisan dan tertulis; atau sampai kepada pemecatan dari keanggotaan IDI, sementara atau selamanya. Di samping MKEK, di luar struktur organisasi IDI dikenal badan lain yang merupakan struktur organisasi Departemen Kesehatan.

MKEK tugasnya memberi saran kepada pimpinan mengenai tindakan yang harus dilakukan terhadap pelanggaran/kesalahan yang dilakukan oleh dokter atau pun tenaga kesehatan lainnya. Oleh karena bukan merupakan badan peradilan, maka tidak ada vewenang untuk menjatuhkan hukuman sendiri. Akan teta