home visite martin

79
Klinik Dokter Keluarga FK UWKS No Berkas : Berkas Pembinaan Keluarga No RM : 11-2751-01 Puskesmas Kedundung, Mojokerto Nama KK : Tn. S Tanggal kunjungan pertama kali 2 Desember 2015 Nama pembina keluarga saat kunjungan : Martin Chandra Diputra, S.Ked Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai satu periode pembinaan ) Tangga l Tingkat Pemahaman Paraf Pembimbing Paraf Keterangan KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Alamat : Kedungsari RT 01 RW 02, Kelurahan Kedundung, Kota Mojokerto Bentuk Keluarga : Extended Family Tabel 2. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah No Nama Keduduka n L/ P Umur (tahu Pendidik an Pekerjaan Pasi en Ket

Upload: martin-chandra

Post on 28-Jan-2016

228 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

tb

TRANSCRIPT

Page 1: Home Visite Martin

Klinik Dokter Keluarga FK UWKS No Berkas :

Berkas Pembinaan Keluarga No RM : 11-2751-01

Puskesmas Kedundung, Mojokerto Nama KK : Tn. S

Tanggal kunjungan pertama kali 2 Desember 2015

Nama pembina keluarga saat kunjungan : Martin Chandra Diputra, S.Ked

Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai satu periode

pembinaan )

Tanggal Tingkat

Pemahaman

Paraf

Pembimbing

Paraf Keterangan

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Alamat : Kedungsari RT 01 RW 02, Kelurahan Kedundung, Kota Mojokerto

Bentuk Keluarga : Extended Family

Tabel 2. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

No Nama Kedudukan L/P Umur

(tahun)

Pendidikan Pekerjaan Pasien

Klinik

Y/T

Ket

1. S Suami L 34 SMP Buruh pabrik

mebel

T TB Paru

dalam masa

pengobatan

2. D Istri P 28 SMP Buruh pabrik

udang

T

Page 2: Home Visite Martin

3. S Anak P 5 TK Y TB Paru

dalam masa

pengobatan

4. J Ayah L 58 SMP Wiraswasta T Post TB

Paru 3

tahun lalu

5. W Ibu P 51 SMP Ibu Rumah

Tangga

T

6. A Saudara P 28 SMK Wiraswasta T

7. F Saudara L 25 SMK Wiraswasta T

8. T Saudara P 21 SMK Wiraswasta T

Sumber : Data Primer, 2 Desember 2015

Page 3: Home Visite Martin

BAB I

STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN

Laporan ini dibuat berdasarkan kasus poli Balai Pengobatan Puskesmas Kedundung

dengan mengambil pasien lama yang telah menjalani pengobatan di Puskesmas

Kedundung. Pasien tersebut adalah seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang

menderita TB Paru.

Berdasarkan anamnesa, pasien telah menderita TB Paru sejak kurang lebih 2 bulan

yang lalu. Pasien telah menjalani pengobatan sejak tanggal 30 September 2015 dan rutin

kontrol ke Puskesmas. Pembiayaan pengobatan pasien menggunakan BPJS.

Pemilihan kasus home visite TB Paru ini dikarenakan penyakit tersebut merupakan

kasus yang sering dijumpai di masyarakat sekitar.

Diharapkan dengan adanya kegiatan home visite ini, kita dapat lebih mengenal

kehidupan pasien seperti mengetahui keadaan lingkungan rumah dan perilaku pasien

beserta keluarga dalam proses terjadinya penyakit dan proses penyembuhannya, disamping

itu juga lebih meningkatkan pemahaman kita terhadap pasien sebagai dokter. Dengan

kegiatan ini juga diharapkan dapat memotivasi pasien untuk kesembuhannya.

B. IDENTITAS PENDERITA

Nama : An. S

Umur : 5 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikkan : TK

Alamat : Desa Kedungsari RT 01/ RW 02

Agama : Islam

Suku : Jawa

Tanggal Pemeriksaan : 2 Desember 2015

C. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama : Ada benjolan di sekitar leher sebelah kanan.

Page 4: Home Visite Martin

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

An.S seorang anak perempuan umur 5 tahun saat ini tidak merasakan adanya

keluhan, tidak ada keluhan batuk-batuk, tidak demam, tidak ada penurunan berat badan,

hanya didapatkan adanya benjolan kecil pada leher sebelah kanan.

Pada awalnya ayah pasien setiap kali pulang ke rumah selalu mengeluhkan batuk-

batuk yang tak kunjung sembuh dan sering demam sumber-sumer saat malam hari.

Semua keluhan ini sudah berjalan selama ± 2 bulan tanpa pernah diperiksakan

sebelumnya. Lalu nenek pasien memberikan inisiatif untuk memeriksakan dahak ke

fasilitas kesehatan dan hasilnya menunjukkan positif TB Paru. Ayah pasien langsung

menjalani pengobatan sejak tanggal 20 September 2015.

Dengan kejadian ini nenek pasien langsung membawa pasien ke Puskesmas

Kedundung untuk diperiksakan. Dan hasilnya pasien positif TB dari mantoux test dan

adanya benjolan pada leher sebelah kanan.

Nafsu makan pasien baik, tidak ada penurunan berat badan. Frekuensi BAK lancar,

BAB lancar.

Pasien rutin kontrol ke Puskesmas Kedundung setiap obatnya sudah habis untuk

pengobatan TB-nya yang sudah dijadwalkan oleh pihak puskesmas. Keluarga pasien

yang bertanggung jawab sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) adalah nenek pasien.

Seluruh keluarga pasien juga sangat mendukung pasien dalam hal pengobatan untuk

penyakitnya.

3. Riwayat Penyakit Dahulu:

- Riwayat imunisasi : Lengkap

- Riwayat batuk lama : Tidak ada

- Riwayat anemia : Tidak ada

- Riwayat kelainan jantung : Tidak ada

- Riwayat asma : Tidak ada

- Riwayat kejang : Tidak ada

- Riwayat alergi obat/ makanan : Tidak ada

Page 5: Home Visite Martin

4. Riwayat Penyakit Keluarga:

- Riwayat keluarga sakit batuk lama : Ada (Ayah dan Kakek)

- Riwayat sakit gula : Disangkal

- Riwayat sakit sesak nafas : Tidak ada

- Riwayat alergi obat/makanan : Tidak ada

- Riwayat hipertensi : Tidak ada

- Riwayat penyakit jantung : Tidak ada

5. Riwayat Kebiasaan:

- Riwayat keluarga merokok : Ada (Kakek)

- Riwayat olahraga : Saat ini pasien beraktivitas cukup.

- Pasien rutin minum obat untuk penyakit TB parunya dengan pengawasan dari

neneknya, karena pasien sangat ingin sembuh. Tergolong sangat aktif dan untuk

asupan makanannya pun tidak mengalami kesulitan.

6. Riwayat Gizi:

- Pasien makan 3 kali sehari pagi, siang dan malam dengan porsi seperti biasa,

dengan menu nasi dengan lauk pauk tahu, tempe , dan sayur. Kesan status gizi

baik.

7. Riwayat Sosial Ekonomi:

Penderita tinggal serumah dengan ayah, ibu, kakek, nenek serta ketiga tantenya

beserta keluarga (8 orang).Kondisi rumah satu lantai berlantai semen dan sebagian

keramik, berdinding tembok. Kebutuhan rumah tangga tersebut dipenuhi oleh Tn. S

dan Ny. D dengan total penghasilan rata-rata perbulan Rp.2.000.000,-.Pasien

kesehariannya bersekolah dan sisanya berkegiatan di rumah. Ayah pasien bekerja

sebagai buruh mebel, sedangkan ibu pasien bekerja sebagai buruh pabrik udang.

D. ANAMNESIS SISTEM

1. Kulit : warna kulit kecoklatan.

2. Kepala : rambutkeriting hitam kemerahan, sakit kepala (-), pusing (-).

3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-),

ketajaman baik.

4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)

Page 6: Home Visite Martin

5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)

6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah tidak terasa pahit

7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)

8. Pernafasan : sesak nafas (-),mengik (-), batuk lama (-)

9. Kardiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)

10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun (-), nyeri perut

(-)

11. Genitourinaria : BAK lancar, 1 kali/malam, warna kuning jernih

12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)

Psikiatrik : emosi stabil, mudah marah (-)

13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (-)

14. Ekstremitas : Atas : Kanan : bengkak (-), sakit (-)

Kiri : bengkak (-), sakit (-)

Bawah : Kanan : bengkak (-), sakit (-)

Kiri : bengkak (-), sakit (-)

E. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum:

Cukup, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan baik.

2. Tanda Vital:

HR : 96 x/ menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,7°C

3. Perhitungan Status Gizi dengan Antropometri ( Z skor):

BB : 19 kg

Usia : 5 tahun (60 bulan)

Berdasarkan perhitungan dengan tabel Z skor termasuk dalam gizi cukup.

4. Kulit:

Warna : Kecoklatan, ikterik (-), sianosis (-)

Kelembaban : baik

Turgor : baik

Page 7: Home Visite Martin

5. Kepala:

Bentuk : dalam batas normal

Wajah : edema (-)

6. Mata:

Cekung : (-)

Bulu mata : hitam, rontok(-)

Palpebra : oedem -/-

Conjunctiva : anemis (-/-)

Sklera : ikterik (-/-)

Pupil : Bulat isokor (3mm/3mm)

Reflek cahaya : (+/+)

7. Hidung:

Bentuk : normal

Sekret : (-)

Epistaksis : (-)

8. Mulut:

Bau : tidak didapatkan

Bibir : sianosis (-), pucat (-), kering (-)

Lidah : kotor (-), tepi hiperemis (-), tremor (-), papil atrofi (-)

Mukosa : basah, kandidiasis (-)

9. Telinga:

Bentuk daun telinga : dalam batas normal

Kelainan pada MAE : (-)

Serumen : (-)

Nyeri tekan mastoid : (-)

Pendengaran berkurang : (-)

10. Leher:

JVP : tidak meningkat

Trakea : ditengah

Pembesaran kel. Tyroid : (-)

Pembesaran kel. Limfe : (+) leher sebelah kanan, ukuran 1 cm x 1 cm

Page 8: Home Visite Martin

11. Tenggorok:

Tonsil : tidak membesar

Pharing : hiperemis (-)

12. Thorak

- Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak.

Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial midclavicularis line

sinistra.

Perkusi : Kesan batas jantung tidak melebar.

Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-).

- Paru

Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri, Retraksi ICS (-)

Palpasi : fremitus raba kanan = kiri

Perkusi : sonor seluruh lapang pandang paru

Batas paru hepar : ICS VI Dekstra

Batas paru lambung : ICS VII Sinistra

Redup relatif di : batas paru hepar

Redup absolut di : hepar

Auskultasi: suara dasar vesikuler (+/+)

- Payudara

Inspeksi : puting susu kesan normal, luka (-)

Palpasi : tumor (-), nyeri tekan (-)

13. Abdomen

Inspeksi : dinding perut sejajar dengan dinding dada.

Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.

Perkusi : timpani (+)

Auskultasi : peristaltik usus (+) normal.

Page 9: Home Visite Martin

14. Ekstremitas

Ekstremitas Superior Inferior

Kanan Kiri Kanan Kiri

Bentuk Normal Norma

l

Normal Normal

Luka - - - -

Eritema - - - -

Oedema - - - -

Akral hangat + + + +

15. Sistem Genitalia : dalam batas normal

16. Pemeriksaan Neurologis :

a) Fungsi Luhur : dalam batas normal b) Fungsi Vegetatif : dalam batas normal c) Fungsi Sensorik : dalam batas normal

17. Psikiatrik:

Penampilan : sesuai umur, perawatan diri baik

Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis

Afek : appropriate

Psikomotor : normoaktif

Proses pikir : bentuk : realistik

isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)

arus : koheren

Insight : baik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Mantoux Test : (+) ukuran ± 15 mm Skoring TB : Kontak TB BTA positif (3)

Uji Tuberkulin Positif > 10 mm (3)Pembesaran kelenjar limfe koli Positif (1)Foto thoraks Kesan TB (1)

Total Skor : 8 (Positif TB)

Page 10: Home Visite Martin

G. RESUME

Seorang anak perempuan umur 5 tahun awalnya mengeluh terdapat benjolan pada leher

sebelah kanan dan kebetulan baru saja ayahnya terdiagnosa TB paru. Saat ini pasien tidak

merasakan adanya keluhan, tidak ada keluhan batuk-batuk, tidak demam, tidak ada

penurunan berat badan. Nafsu makan pasien sangat baik, frekuensi BAK lancar, BAB

lancar.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum kesan normal, compos mentis, status gizi

kesan cukup. Tanda vital N: 90 x/menit, RR: 20 x/menit, S: 36,70C, BB: 20 kg, TB: 100 cm,

berdasarkan perhitungan antropometri dengan Z skor status gizi pasien tergolong cukup.

H. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS

1. Diagnosa Biologis : TB Paru

2. Diagnosa Psikologis : -

3. Diagnosa Sosial Ekonomi dan Budaya:

a. Status ekonomi menengah kebawah

b. Penyakit tidak mengganggu aktifitas sehari-hari.

I. PENATALAKSANAAN

Non Medikamentosa:

a. Bed Rest Tidak Total

Diharapkan agar penderita mengurangi aktivitas berat yang dapat mengurangi daya

tahan tubuh penderita serta banyak istirahat.

b. Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP)

Diharapkan agar penderita makan makanan yang bergizi tinggi, juga minum susu

untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga mempercepat kesembuhan dan

berat badannya akan meningkat, yang merupakan indikator kesembuhan pasien.

c. Olahraga

Diharapkan penderita dapat menjaga kesehatan tubuhnya dengan melakukan olah

raga ringan seperti jalan pagi hari di lingkungan sekitar.

Page 11: Home Visite Martin

d. Mengurangi stress tertentu

Diharapkan penderita mendapat motivasi yang adekuat dari keluarga untuk

kesembuhan.

e. Edukasi minum obat

1) Menjelaskan tahap-tahap pengobatan yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan

2) Jumlah kaplet yang harus ditelan setiap dosis perharinya

3) Cara minum obat : ditelan, diminum dengan banyak air, minum setengah jam

sebelum makan pada pagi hari dengan air yang banyak.

4) Jadwal minum obat

5) Untuk memastikan penderita memahami pasien memahami cara minum obat

yang benar, minta pasien mepraktekan menelan obat di depan petugas .

f. Edukasi perilaku

1) Diharapakan agar pasien selalu memakai masker baik di dalam maupun luar

rumah.

2) Tidak membuang ludah disembarang tempat.

3) Pada saat batuk sebaiknya di tutupi dengan saputangan tisu atau masker.

Medikamentosa :

Paket KDT atau FDC fase lanjutan 1 X 3 tab

Solvitron 3 X 1 cth

Follow Up

Nama : An. S

Diagnosis : TB Paru

No. Tanggal Nadi RR Keadaan

penyakit

Penanganan

1. 2/12/2015 90 20 Pola minum

obat yang

teratur

Menjaga pola

makan dan

minum obat

supaya tetap

Page 12: Home Visite Martin

sehat dan teratur

2. 5/12/2015 92 18 Pola minum

obat yang

teratur

Menjaga pola

makan dan

minum obat

supaya tetap

sehat dan teratur

Page 13: Home Visite Martin

BAB II

IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI KELUARGA SECARA HOLISTIK

1. Fungsi Biologis

Dalam satu rumah, Pasien tinggal serumah dengan ayah, ibu, kakek, nenek, 2

saudara ibunya serta 1 pasangan dari saudara ibunya. Pasien kesehariannya saat pagi

pergi ke sekolah dan siang sampai malam lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ayah pasien bekerja sebagai buruh pabrik mebel di Surabaya dan sangat bertanggung

jawab terhadap keluarga. Sedangkan ibu pasien bekerja juga sebagai buruh pabrik

udang. Sehari-harinya pasien lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang

nenek, ini dikarenakan kedua orang tuanya yang bekerja. Ayahnya bisa pulang hanya

saat dapat libur, kira-kira 2 hari dalam seminggu.

2. Fungsi Psikologis

Hubungan penderita dengan seluruh anggota keluarganya cukup baik. Pasien

sangat dekat dengan ayahnya, tapi kesehariannya pasien lebih banyak menghabiskan

waktu bersama neneknya. Permasalahan yang timbul dalam keluarga dipecahkan secara

musyawarah dan dicari jalan tengah, serta dibiasakan sikap saling tolong menolong

baik fisik, mental, maupun jika terdapat salah satu diantara mereka yang menderita

kesusahan. Kasih sayang yang sangat besar di berikan oleh kedua orang tua pasien

dimana dalam hal ini beliau sangat mendukung ke arah kesembuhan pasien.

2. Fungsi Sosial

Letak kediaman pasien berada di dalam perkampungan. Dalam masyarakat,

penderita hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Dalam kesehariannya penderita

bergaul akrab dengan beberapa tetangga. Tetangga pasien juga sangat rukun,saling

membantu satu sama lain dan saling memberi perhatian pada penderita.

Page 14: Home Visite Martin

3. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan

Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari Tn.S dan Ny.D yang bekerja.

Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan,

minum dan iuran listrik. Untuk kebutuhan air dengan menggunakan sumber air sumur.

Untuk memasak menggunakan kompor gas dengan tabung gas LPG 3 kg. Makan sehari-

hari dengan nasi, lauk dan sayur yang cukup dengan frekuensi makan 3 kali sehari. Untuk

biaya pengobatan ke Puskesmas, pasien menggunakan salah satu asuransi kesehatan

yakni BPJS.

4. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi

Penderita termasuk orang yang terbuka sehingga bila mengalami kesulitan atau

masalah penderita sering bercerita kepada ayah / ibu pasien.

B. FUNGSI FISIOLOGIS/ APGAR SCORE

Adaptation

Dalam menghadapi masalah selama ini penderita mendapatkan dukungan dari

seluruh anggota keluarga. Jika penderita menghadapi suatu masalah selalu menceritakan

kepada kedua orang tuanya. Dukungan dari kedua orang tua, nenek serta petugas

kesehatan membuat penderita melakukan kontrol rutin ke puskesmas.

Partnership

An.S menyadari bahwa dirinya adalah anak satu-satunya sehingga penderita

meyakinkan dirinya dengan bantuan dari neneknya agar bisa selalu sehat. Dengan

bantuan terutama dari neneknya komunikasi antar anggota keluarga dapat berjalan

dengan baik. Keluarga besar pun terkadang membantu bila penderita ada masalah.

Growth

An.S selalu bersabar menghadapi penyakitnya, yaitu dengan bantuan dari

neneknya mau rutin mengkonsumsi obat, selalu kontrol ke puskesmas dan juga mematuhi

saran yang diberikan oleh dokter yang merawatnya. Namun dengan kondisi keluarga

yang mendukung proses kesembuhannya, keadaan An.S semakin membaik dan saat ini

penderita menjalani hidup dengan bahagia.

Page 15: Home Visite Martin

Affection

An.S merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan masing-masing individu

yang ada dalam rumah berjalan cukup baik, meskipun intensitas pertemuan dengan anak

agak kurang terutama bagi kedua orang tuanya.

Resolve

An.S sudah merasa kurang puas dengan waktu yang diluangkan oleh kedua orang

tuanya. Kurang terjalinnya komunikasi yang efektif membuat penderita menjadi kurang

nyaman.

APGAR Tn. S Terhadap Keluarga Ser

ing

/

sel

alu

Kad

ang-

kada

ng

Jarang/tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

keluarga saya bila saya menghadapi

masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya

membahas dan membagi masalah dengan

saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya

menerimadan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah

hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan,

perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan

saya membagi waktu bersama-sama

Apgar Score nilai : 9, fungsi keluarga baik.

APGAR SCORE keluarga penderita : 9

Page 16: Home Visite Martin

Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga penderita baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS

Fungsi patologis dari keluarga An.S dinilai dengan menggunakan SCREEM

sebagai berikut :

Sumber Patologis Ket

Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota

keluarga juga dengan saudara

partisipasi mereka dalam masyarakat

cukup meskipun banyak keterbatasan

+

Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap

budaya terlihat baik, hal ini dapat dilihat

dari pergaulan sehari-hari baik dalam

keluarga maupun lingkungan, banyak

tradisi dan budaya yang masih diikuti.

Sering mengikuti acara-acara yang

bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll.

Menggunakan bahasa jawa, tata krama

dan kesopanan.

+

Religius

Agama

menawarkan

pengalaman

spiritual yang

baik untuk

ketenangan

individu yang

tidak

didapatkan

dari yang

Pemahaman agama cukup serta

penerapan ajaran agama cukup, hal ini

dapat dilihat dari penderita dan suami

beserta cucunya sering kali sholat

berjamaah dan saling mengingatkan bila

waktu menjelang sholat tiba.

+

Page 17: Home Visite Martin

lain.

Economi Ekonomi keluarga ini tergolong

menengah ke bawah. Untuk kebutuhan

primer sudah bisa terpenuhi, namun

belum mampu mencukupi kebutuhan

sekunder karena ekonomi tidak

memadai, diperlukan skala prioritas

untuk pemenuhan kebutuhan hidup.

+

Educational Pendidikan anggota keluarga kurang

memadai. Tingkat pendidikan dan

pengetahuan orang tua masih rendah.

Kemampuan untuk memperoleh dan

memiliki fasilitas pendidikan seperti

buku-buku, koran terbatas.

+

Medical Tidak mampu membiayai pelayanan

kesehatan yang lebih baik. Dalam

mencari pelayanan kesehatan, keluarga

ini biasanya pergi ke Puskesmas karena

letaknya dekat sehingga mudah

dijangkau.

+

Keterangan : Keluarga memiliki masalah dalam ekonomi yang masih berkekurangan,

pendidikan dan memiliki masalah dalam pengobatan.

D. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Alamat : Kedungsari RT 01 RW 02, Kelurahan Kedundung, Kota Mojokerto

Bentuk Keluarga : Extended Family

Page 18: Home Visite Martin

Diagram 1. Genogram Keluaraga Tn. S

Tanggal Pembuatan 2 Desember 2015

Sumber Data Primer, 2 Desember 2015

E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

Berdasarkan bagan informasi interaksi dalam keluarga An.S, dapat disimpulkan

bahwa komunikasi An.S dengan kedua orang tuanya cukup efektif.

F. PERTANYAAN SIRKULER DALAM KELUARGA

1. Ketika pasien jatuh sakit apa yang dilakukan oleh ayah pasien?

Jawab : Ayah membawa penderita ke puskesmas dan menyiapkan keperluan yang

diperlukan penderita.

2. Ketika ayah pasien bertindak seperti itu apa yang dilakukan pasien?

Jawab : Pasien mendukung apa yang dilakukan oleh ayahnya.

3. Ketika ayah pasien bertindak seperti itu, apa yang dilakukan anggota keluarga lainnya ?

Jawab : Ikut mendukung serta membantu, baik secara material maupun fisik.

4. Kalau pasien membutuhkan perawatan atau operasi, ijin siapa yang diperlukan ?

An.S (5thn)

Riwayat TB (3thn)

Riwayat TB

(pengobatan)

Page 19: Home Visite Martin

Jawab : Ayah dan ibu.

5. Siapa anggota keluarga yang terdekat dengan pasien ?

Jawab : Ayah pasien.

6. Selanjutnya siapa yang terdekat ?

Jawab : Nenek pasien.

7. Siapa yang secara emosional paling jauh dengan pasien ?

Jawab : Tidak ada.

8. Siapa yang selalu tidak setuju dengan pasien ?

Jawab : Tidak ada.

9. Siapa yang biasanya tidak setuju dengan anggota keluarga yang lainnya ?

Jawab : Tidak ada

Page 20: Home Visite Martin

BAB III

IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN

A. Faktor Perilaku Keluarga dan Faktor Non Perilaku Keluarga

1. Faktor Perilaku Keluarga

Saat ini An.S memiliki kebiasaan makan teratur dengan frekuensi makan

3x/hari. Saat ini pasien patuh minum obat, serta rutin kontrol ke puskesmas jika

persediaan obat telah habis.

Lingkungan di dalam rumah pasien kurang tertata dengan rapi. Ruangan yang

terlalu kecil, pencahayaan kurang dan ventilasi yang kurang. Dalam hal kebersihan rumah

dinilai cukup bersih, tapi kurang tertata dengan rapi. Keluarga ini berusaha menjaga

kebersihan lingkungan rumahnya misalnya dengan menyapu rumah dan halaman paling

tidak sehari dua kali, pagi dan sore.

Keluarga ini memiliki jamban sendiri di dalam rumahnya dan untuk kegiatan

mencuci dan mandi keluarga ini menggunakan air dari sumber air sumur yang ada di

rumah.

2. Faktor Non Perilaku

Dipandang dari segi ekonomi, penderita termasuk keluarga menengah ke

bawah. Dari penghasilan yang didapat dari Tn.S dan Ny.D yang bekerja sebagai buruh

pabrik berusaha sekeras mungkin untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Rumah yang dihuni penderita adalah milik kakek, namun cukup memadai, namun

masih ada kekurangan dalam pemenuhan standar kesehatan. Pencahayaan ruangan yang

kurang, begitu juga dengan jumlah ventilasi yang kurang sehingga sirkulasi udara tidak

cukup lancar. Pembuangan limbah keluarga sudah memenuhi sanitasi lingkungan karena

limbah telah dialirkan ke saluran pembuangan. Sampah keluarga dibuang ditempat

pembuangan sampah.

Kamar mandi sudah ada dan sudah dilengkapi dengan jamban jongkok.

Terdapat saluran permanen untuk pembuangan saluran limbah rumah tangga. Fasilitas

kesehatan yang sering dikunjungi oleh penderita jika sakit adalah Puskesmas Kedundung.

Page 21: Home Visite Martin

B. Identifikasi Lingkungan Rumah

1. Gambaran Lingkungan Rumah

An.S tinggal ber-delapan di sebuah rumah yang sederhana milik kakeknya. Rumah

pasien terletak di pemukiman penduduk yang cukup padat, bentuk bangunan 1 lantai,

memiliki halaman rumah. Rumah terdiri dari 1 ruang tamu, 4 kamar tidur, 1 dapur, 2 kamar

mandi. Lantai beralaskan tekel, dinding terbuat dari tembok, atap rumah dari genteng.

Terdapat beberapa jendela, penerangan di tiap ruangan tergolong masih kurang. Udara

didalam ruangan terasa sedikit pengap, dan kebersihan dalam dan luar tampak cukup

bersih. Secara keseluruhan kebersihan rumah tergolong cukup bersih, tapi masih belum

memenuhi standar kesehatan yang baik.

2. Denah Rumah

Page 22: Home Visite Martin

BAB IV

DAFTAR PERMASALAHAN

1. Masalah Aktif :

TB Paru

2. Faktor Resiko :

a. Riwayat TB oleh ayah dan kakek pasien.b. Rendahnya tingkat ekonomi.c. Tingginya resiko penularan terhadap keluarga lain.

Ruang tamu

Kamar tidur pasien

Kamar tidur

Ruang TV

Kamar mandi

Dapur

Halaman

Ket :------ : tirai____ : tembok

Page 23: Home Visite Martin

d. Ruangan yang terlalu sempit.e. Ventilasi yang kurang.

DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-

faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)

BAB V

MANAJEMEN PASIEN

A. PATIENT CENTERED MANAGEMENT

1. Support Psikologis

Penderita memerlukan dukungan psikologis mengenai faktor-faktor yang dapat

menimbulkan kepercayaan baik pada diri sendiri maupun kepada dokternya. Antara lain

dengan cara :

Sumber penularan

yang diketahui Tn.S

(ayah penderita)

Pasien serumah Pasien tidur bersama

An. S

5 tahun

Lingkungan rumah: ventilasi kurang kamar sempit pencahayaan

kurang.

Sosekbud:Rendahnya tk ekonomi keluarga

Page 24: Home Visite Martin

a. Memberikan perhatian pada berbagai aspek masalah yang dihadapi.

b. Memberikan perhatian pada pemecahan masalah yang ada.

c. Memantau kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan.

d. Timbulnya kepercayaan dari pasien, sehingga timbul pula kesadaran dan

kesungguhan untuk mematuhi nasihat-nasihat dari dokter.

Pendekatan Spiritual, diarahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME,

misalnya dengan rajin ibadah, berdoa dan memohon hanya kepada Tuhan YME.

Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal yang harus

dilakukan. Bila ada masalah, evaluasi psikologis dan evaluasi kondisi sosial, dapat

dijadikan titik tolak program terapi psikososial.

2. Penentraman Hati

Menentramkan hati diperlukan untuk penderita dengan problem psikologis antara

lain yang disebabkan oleh persepsi yang salah tentang pemasalahannya. Faktor yang

paling penting untuk mengurangi kecemasan adalah ketekunan dalam menjalani

pengobatan dan komunikasi sesuai petunjuk dokter. Selain itu juga didukung dengan

pola makan yang benar, olahraga teratur dan istirahat yang cukup. Diharapkan

penderita bisa berpikir positif sehingga membangun semangat hidupnya sehingga bisa

meningkatkan kualitas hidupnya.

3. Penjelasan, Basic Konseling dan Pendidikan

Diberikan penjelasan yang benar mengenai penyakit TBC. Pasien TBC dan

keluarganya perlu tahu tentang penyakit, pengobatannya, pencegahan dan penularannya.

Hal ini bisa dilakukan melalui konseling setiap kali pasien kontrol dan melalui kunjungan

rumah baik oleh dokter maupun oleh petugas Yankes. Pasien diberi penjelasan tentang

perannya sebagai suber penularan dan paham apa yang harus dilakukan supaya jangan

menular ke anggota keluarga lainnya maupun tetangga.

Maka pasien harus diberi pengertian untuk terus mengupayakan kesembuhannya

melalui program pengobatan dan rehabilitasi yang dianjurkan oleh dokter. Penderita juga

Page 25: Home Visite Martin

diberi penjelasan tentang pentingnya menjaga diet TKTP yang benar agar mencapai berat

badan ideal, olah raga yang teratur dan sebagainya.

4. Menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab

Dokter perlu menimbulkan rasa percaya dan keyakinan pada diri pasien bahwa ia

bisa melewati berbagai kesulitan dan penderitaannya. Selain itu juga ditanamkan rasa

tanggung jawab terhadap diri sendiri mengenai kepatuhan dalam jadwal kontrol,

keteraturan minum obat, diet yang dianjurkan dan hal-hal yang perlu dihindari serta

yang perlu dilakukan. Pasien dimotivasi agar rajin dan teratur minum obat yang

diberikan, dan bersabar dalam pengobatan karena penyakit yang diderita merupakan

penyakit dengan jangka waktu pengobatan yang lama.

5. Pengobatan

Medikamentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera dalam

penatalaksanaan.

6. Pencegahan dan Promosi Kesehatan

Hal ini berupa perubahan tingkah laku (tidak meludah di sembarang tempat,

menutup mulut jika batuk), lingkungan (tempat tinggal yang tidak boleh lembab

dengan penggunaan ventilasi yang cukup, pemakaian genteng kaca sehingga

pencahayaan cukup dan kebersihan lingkungan rumah dan luar rumah yang bersih

dengan disapu 2x/hari), meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara makan makanan

bergizi dan olah raga yang teratur. Dengan demikian paradigma yang salah tentang

penyakit TBC di masyarakat tentang TBC dapat diluruskan.

7. Perbaikan Status Gizi

Dengan memberikan makanan sesuai dengan keadaan penderita.

8. Deteksi terhadap penyakit lain yang mungkin menyertai

Dengan melakukan pemeriksaan penunjang sesuai dengan keluhan pasien,

sehingga dapat diketahui lebih dini kemungkinan komplikasi yang akan terjadi.

Page 26: Home Visite Martin

B. FAMILY CENTERED MANAGEMENT

1. Prevensi bebas Tuberculosis untuk Keluarga Lainnya (Ayah, Ibu, Anak dan keluarga lainnya)

Secara umum prevensi untuk bebas TBC dapat dilakukan dengan berbagai cara ,

seperti :

1. Bagi penderita jangan terlalu dekat dengan anggota keluarga yang lain (adik dan

ayah ibu), apalagi saat berbicara atau batuk, agar tidak tertular langsung kuman TB

dari penderita. Saat batuk sebaiknya di tutup kain atau masker.

2. Diusahakan agar penderita tidak meludah di sembarang tempat yang

mengakibatkan kuman TB dapat berterbangan dan terhirup oleh anggota keluarga

yang lain.

3. Membujuk keluarga penderita agar mau memeriksakan kesehatan.

4. Istirahat yang cukup 6-8 jam semalam.

5. Olah raga teratur dan makan-makanan yang bergizi.

Semua ini merupakan langkah untuk meningkatkan daya tahan tubuh bagi anggota

keluarga yang serumah dengan penderita agar tidak tertular infeksi TBC dari penderita.

BAB VI

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi saluran pernafasan bawah menular

yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa.5

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman

Mycobacterium tuberculosis tipe Humanus. Kuman tuberkulosis pertama kali ditemukan

oleh Robert Koch pada tahun 1882.Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah

penyakit berat pada manusia dan juga penyebab terjadinya infeksi tersering. 6

Page 27: Home Visite Martin

Tuberkulosis paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil

Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan

bagian bawah yang sebagian besar basil tuberculosis masuk melalui airbone infection dan

selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai fokus primer dari ghon .8

B. Epidemiologi

Organisasi kesehatan sedunia memperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia

terinfeksi dengan M.tuberculosis. Angka infeksi tertinggi di Asia Tenggara, China, India,

Afrika, dan Amerika Latin. Tuberkulosis terutama menonjol di populasi yang mengalami

stress nutrisi jelek, penuh sesak, perawatan kesehatan tidak cukup, dan perpindahan

tempat.Sepuluh sampai dua puluh juta orang yang hidup di Amerika Serikat mengandung

basil tuberkel.2

Frekuensi kasus tuberkulosis turun selama setengah abad pertama jauh sebelum

penemuan obat – obat anti tuberkulosis sebagai akibat perbaikan kondisi kehidupan.

Insidensi di Amerika Serikat mulai naik pada tahun 1985. Kebanyakan orang di Negara

maju tetap beresiko rendah untuk tuberkulosis kecuali untuk kelompok – kelompok

tertentu yang sangat terbatas. Kota – kota yang dengan populasi lebih besar dari 250.000

merupakan 18 % populasi Amerika Serikat tetapi ada lebih dari 45 % kasus tuberkulosis.

Pada setiap umur, f

rekuensi tuberkulosis sangat lebih tinggi pada individu kulit berwarna. Genetik

mungkin memainkan peran kecil, tetapi faktor – faktor lingkungan seperti status sosio –

ekonomi jelas memainkan peran besar pada insiden.2

Pada orang dewasa, dua pertiga kasus terjadi pada orang laki – laki, tetapi ada

sedikit dominasi tuberkulosis pada wanita di masa anak. Frekuensi tuberkulosis tertinggi

pada orang tua populasi kulit putih di Amerika Serikat; individu – individu ini mendapat

infeksi beberapa dekade yang lalu. Sebaliknya pada populasi kulit berwarna tuberkulosis

paling sering pada orang dewasa muda dan anak – anak umur kurang dari 5 tahun.

Kisaran umur 5 – 14 tahunsering disebut “umur kesayangan” karena pada semua

populasi manusia kelompok ini mempunyai frekuensi penyakit tuberkulosis yang

terendah.2

Page 28: Home Visite Martin

Di Amerika Serikat kebanyakan anak terinfeksi dengan M.tuberculosis di rumahnya

oleh seseorang yang dekat padanya, tetapi wabah tuberkulosis anak juga terjadi pada

sekolah – sekolah dasar dan tinggi, sekolah perawat, pusat perawatan anak, rumah, gereja,

bus sekolah dan tim olahraga. Orang dewasa yang terinfeksi virus defisiensi imun manusia

(HIV) dengan tuberkulosis dapat menularkan M.tuberculosis ke anak, beberapa darinya

berkembang penyakit tuberkulosis, dan anak dengan infeksi HIV bertambah resiko

berkembang tuberkulosis sesudah infeksi.2

Insidens tuberkulosis resisten obat telah bertambah secara dramatis. Di Amerika

Serikat, sekitar 14 % isolate M.tuberculosis resisten terhadap sekurang–kurangnya satu

obat, sementara 3 % resisten terhadap isoniazid maupun rifampicin. Namun di beberapa

Negara frekuensi resisten obat bekisar dari 20 % sampai 50 %. Alasan utama terjadinya

resisten obat adalah kesetiaan penderita yang buruk pada pengobatan dan peresepan

regimen obat yang tidak adekuat oleh dokter. 2Tuberkulosis masih merupakan penyakit

yang sangat luas didapatkan di Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, baik

pada anak maupun pada orang dewasa yang juga dapat menjadi sumber infeksi. Menurut

penyelidikan WHO dan Unicef di daerah Yogyakarta 0.6 % penduduk menderita

tuberkulosis dengan basil tuberkulosis positif dalam dahaknya, dengan perbedaan

prevalensi antara di kota dengan di desa masing – masing 0.5 – 0.85 % dan 0.3 – 0.4 %.

Uji tuberkulin (uji Mantoux ) pada 50 % penduduk menunjukan hasil positif dengan hasil

terbanyak pada usia 15 tahun ke atas.1

Di Indonesia penyakit ini merupakan penyakit infeksi terpenting setelah

eradikasi malaria, merupakan penyakit nomor satu dan sebagai penyebab kematian

nomor tiga.

C. Klasifikasi

TBC Primer adalah peradangan paru yang disebabkan oleh basil tuberkulosis pada

tubuh penderita yang belum pernah mempunyai kekebalan spesifik tehadap basil tersebut

1. Pembagian tuberculosis paru primer

a. Tuberkulosis primer yang potensial ( potential primary tuberculosis) terjadi

Page 29: Home Visite Martin

kontak dengan kasus terbuka, tetapi uji tuberculin masih negative.

b. Tuberkulosis primer laten ( latent primary tuberculosis )

1) Tanda – tanda infeksi sudah kelihatan, tetapi luas dan aktivitas penyakit

tidak diketahui.

2) Uji tuberculin masih negative.

3) Radiologis tidak tampak kelainan

c. Tuberkulosis primer yang manifest ( manifest primary tuberculosis )

1) uji tuberculin positif.

2) telihat kelainan radiologis

2. Penyulit tuberkulosis paru primer

a. Pembesaran kelenjar servikal superficial

Penyebaran langsung tuberkulosis ke kelenjar limfe mediastinum bagian atas

dan paratrakea berasal dari kelenjar hilus, paling sering menyerang kelenjar limfe

supraklavikula dan servikal anterior. Kelainan di kelenjar tersebut bereaksi sangat

lambat terhadap obat anti tuberkulosis. Bila terjadi abses pada kelenjar dilakukan

pembedahan. Untuk selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas dalam baba

tersendiri.

b. Pleuritis tuberculosis

Kelainan pada pleura merupakan penyakit dini tuberculosis primer dan

terjadi 6– 8 bulan setelah serangan awal sering disertai kelainan pada kulit yaitu

eritema nodosum.

c. Efusi pleura

Biasanya jernih, prognosa masih baik, reaksi tehadap obat anti tuberkulosis

sering kali dramatis karena dapat memberi resolusi sempurna dalam 1 – 2 minggu.

Kemungkinan untuk menderita tuberkulosis post primer di kemudian hari lebih

besar.

d. Tuberculosis Millier

Page 30: Home Visite Martin

Kelainan ini paling dini dibanding dengan penyakit tuberkulosis primer yang

lain. Proses tuberculosis milier terjadi 8 bulan setelah timbul tuberkulosa primer.

Gambaran radiologik tampak 2 minggu setelah gejala klinik.

e. Meningitis tuberculosis

Dapat terjadi sebagai akibat penyebaran hematogen atau fokus pengejuan

yang pecah di rongga subarachnoid pada tahap akhir dari tuberculosis milier.

3. Tuberkulosis paru post primer

Adalah peradangan paru yang disebabkan oleh basil tuberkulosis pada tubuh

yang telah peka tehadap tuberkuloprotein.5

a. Dari luar ( eksogen ) infeksi ulang pada tubuh yang pernah menderita

tuberculosis.

b. Dari dalam ( endogen ) infeksi berasal dari basil yang sudah berada dalam

tubuh, merupakan proses lama yang pada mulanya tenang dan oleh suatu

keadaan menjadi aktif kembali.

Adapun pembagian primer paru post primer adalah :

a. Tuberculosis minimal

Terdapat sebagian kecil infiltrat non kavitas pada satu paru maupun

kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.

b. Moderately Advanced Tuberculosis

Ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Jumlah infiltrat

bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru, bila bayangan kasar tidak

lebih dari sepertiga bagian satu paru.

c. Far advanced tuberculosis

Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada Moderately

Advanced Tuberculosis

D. Etiologi

Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Ada 2 macam

Page 31: Home Visite Martin

mycobacteria yang menyebabkan penyakit tuberculosis yaitu tipe human ( berada dalam

bercak ludah dan droplet ) dan tipe bovin yang berada dalam susu sapi

Agen tuberculosis, Mycobacterium tuberculosa, Mycobacterium bovis, dan

Mycobacterium africanum, merupakan anggota ordo Actinomycetes dan famili

Mycobacteriaceae. .Ciri – ciri kuman berbentuk batang lengkung, gram positif

lemah, pleiomorfik, tidak bergerak, dengan ukuran panjang 1 – 4 μm dan tebal 0.3 – 0.6

μm, tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan sinar matahari dan ultra

violet. Mereka dapat tampak sendiri – sendiri atau dalam kelompok pada spesimen klinis

yang diwarnai atau media biakan, tumbuh pada media sintetis yang mengandung gliserol

sumber karbon dan garam ammonium sebagai sumber nitrogen. Mikobakteria ini tumbuh

paling baik pada suhu 37 – 41 ºC, menghasilkan niasin dan tidak ada pigmentasi. Dinding

sel kaya lipid menimbulkan resistensi terhadap daya bakterisid antibodi dan komplemen.1,2

Tanda semua mikobakteria adalah ketahanan asamnya, kapasitas membentuk

kompleks mikolat stabil dengan pewarnaan aril metan seperti kristal violet, karbol fuschin,

auramin dan rodamin. Bila diwarnai mereka melawan, perubahan warna dengan ethanol

dan hidroklorida atau asam lain. Sifatnya aerob obligat, hal ini menunjukan kuman lebih

menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigen nya, dan sebagian besar kuman

terdiri dari asam lemak, sehingga membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan

merupakan factor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan

tuberkel. Selain itu kuman terdiri dari protein yang menyebabkan nekrosis jaringan

Kuman dapat tahan hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan udara

kering maupun dalam keadaan dingin, hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat

dormant. Tetapi dalam cairan mati pada suhu 60 ºC dalam waktu 15 – 20 menit.1,2

Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam

sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian

disenangi karena banyak mengandung lipid.

Faktor resiko terpajan tuberkulosis

Mereka yang paling beresiko terpajan ke basil adalah mereka yang tinggal

Page 32: Home Visite Martin

berdekatan dengan orang yang terinfeksi aktif. Mereka mencangkup para gelandangan

yang tinggal di tempat penampungan dimana terdapat tuberkulosis, serta anggota

keluarga pasien. Terutama pada negara – negara berkembang.2Yang juga beresiko

terpajan atau terjangkit tuberkulosis adalah para pekerja kesehatan yang merawat pasien

tuberkulosis, dan mereka yang menggunakan fasilitas klinik perawatan atau rumah sakit

yang juga digunakan oleh para penderita tuberkulosis. Di antara mereka yang terpajan ke

basil, individu yang sistem imunnya tidak adekuat misalnya mereka yang kekurangan

gizi, orang berusia lanjut atau bayi. individu yang mendapat obat immunosupressan dan

mereka yang mengidap virus immunodefisiensi manusia ( HIV ) kemungkinan besar

akan terinfeksi.

E. Patogenesis

Masuknya basil tuberkulosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit.

Terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis serta daya

tahan tubuh manusia.

Infeksi primer biasanya terjadi dalam paru. Ghon dan Kudlich ( 1930 ) menemukan

bahwa 95.93 % dari 2.114 kasus mereka mempunyai fokus primer di dalam paru. Hal ini

disebabkan penularan sebagian besar melalui udara dan mungkin juga jaringan paru

mudah terpapar infeksi tuberculosis ( susceptible ),karena memiliki kandungan oksigen

yang sangat tinggi.

Lokasi fokus primer pada 2.114 kasus Ghon dan Kudlich ialah :1

- Paru 95.93 %

- Usus 1.14 %

- Kulit 0.14 %

- Hidung 0.09 %

- Tonsil 0.09 %

- Telinga tengah 0.09 %

- Kelenjar parotis 0.09 %

- Konjungtiva 0.05 %

- Tidak diketahui 2.41 %

Page 33: Home Visite Martin

Penularan kuman terjadi melalui udara. Hal ini disebabkan kuman dibatukkan atau

dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap

1 – 2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultra violet, ventilasi yang buruk dan

kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat bertahan berhari – hari sampai

berbulan – bulan. Ia akan menempel pada jalan nafas atau paru – paru. Partikel dapat

masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5 mikro. Apabila bakteri dalam jumlah bermakna

berhasil menembus mekanisme pertahanan sistem pernafasan dan berhasil. menempati

saluran nafas bawah, maka penderita akan mencetuskan sistem imun dan peradangan yang

kuat. Karena respon yang hebat ini, yang terutama diperantarai oleh sel T, maka hanya

sekitar 5 % orang yang terpajan basil tersebut menderita tuberkulosis aktif. Yang bersifat

menular bagi orang lain adalah mereka yang mengidap infeksi tuberkulosis aktif dan hanya

pada masa infeksi aktif.

Respon imun terhadap tuberkulosis

Karena basil Mycobacterium tuberculosis sangat sulit dimatikan apabila telah

mengkolonisasi saluran nafas bawah, maka tujuan respon imun adalah lebih umtuk

mengepung dan mengisolasi basil bukan untuk mematikannya. Respon seluler melibatkan

sel T dan makrofag. Makrofag mengelilingi basil diikuti oleh sel T dan jaringan fibrosa

membungkus kompleks makrofag – basil tersebut. Kompleks basil, makrofag, sel T, dan

jaringan parut disebut tuberkel. Tuberkel akhirnya mengalami kalsifikasi dan disebut

kompleks Ghon, yang dapat dilihat pada pemeriksaan sinar-X thoraks. Sebelum ingesti

bakteri selesai, bahan menglami perlunakan ( pengkijuan ). Pada saat ini, mikroorganisme

hidup dapat memperoleh akses ke sistem trakeobronkus dan menyebar melalui udara ke

orang lain. Bahkan walaupun telah dibungkus secara efektif, basil dapat bertahan hidup di

dalam tuberkel. Diperkirakan bahwa karena viabilitas ini, sekitar 5 – 10 % individu yang

pada awalnya tidak menderita tuberkulosis mungkin pada suatu saat dalam hidupnya akan

menderita penyakit tersebut.

Bila kuman menetap di jaringan paru, ia tumbuh dan berkembang biak dalam

sitoplasma makrofag. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan menjadi fokus primer.

Page 34: Home Visite Martin

Basil tuberkulosis akan menyebar dengan cepat melalui saluran getah bening menuju

kelenjar regional yang kemudian akan mengadakan reaksi eksudasi.

Kerusakan pada paru akibat infeksi adalah disebabkan oleh basil serta reaksi imun

dan peradangan yang hebat. Edema interstitium dan pembentukan jaringan parut

permanent di alveolus meningkatkan jarak untuk difusi oksigen dan karbondioksida

sehingga pertukaran gas menurun.

Pembentukan jaringan parut dan tuberkel juga mengurangi luas permukaan yang

tersedia untuk difusi gas sehingga kapasitas difusi paru menurun. Timbul kelainan V/Q

yang apabila penyakitnya cukup luas, dapat menimbulkan vasokonstriksi hipoksik arteriol

paru dan hipertensi paru. Jaringan parut juga dapat menurunkan compliance paru.

Fokus primer, limfangitis, dan kelenjar gatah bening regional yang membesar,

membentuk kompleks primer. Kompleks primer terjadi 2 – 10 minggu ( 6 – 8 minggu )

setelah infeksi. Bersamaan dengan terbentuknya kompleks primer terjadi hipersensitivitas

terhadap tuberkuloprotein yang dapat diketahui dari uji tuberkulin. Waktu antara terjadinya

infeksi sampai terbentuknya kompleks primer disebut masa inkubasi. Kompleks primer ini

selanjutnya dapat menjadi5 :

1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.

2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis – garis fibrotik

komplikasi dan menyebar secara :

a. Per kontinuatum, yakni menyebar ke sekitarnya.

b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di

sebelahnya.

c. Secara hematogen ke organ tubuh lainnya.

Pada anak lesi dalam paru dapat terjadi dimana pun, terutama di perifer dekat pleura.

Lebih banyak terjadi di lapangan bawah paru dibanding dengan lapangan atas, sedangkan

pada orang dewasa lapangan atas paru merupakan tempat predileksi. Pembesaran kelenjar

regional lebih banyak terdapat pada anak dibanding orang dewasa. Pada anak

penyembuhan terutama kalsifikasi, sedangkan pada orang dewasa terutama kearah fibrosis.

Penyembuhan hematogen lebih banyak terjadi pada bayi dan anak kecil.3

Page 35: Home Visite Martin

F. Gambaran klinis

Permulaan tuberkulosis primer biasanya sukar diketahui secara klinis karena penyakit

mulai secara perlahan – lahan. Kadang – kadang tuberkulosa ditemukan pada anak – anak

tanpa keluhan atau gejala – gejala tuberkulosis primer, dapat juga hanya panas yang naik

turun selama 1 – 2 minggu dengan atau tanpa batuk pilek.

Gambaran klinis tuberkulosis primer lain ialah panas atau demam biasanya pagi hari,

malese, keringat malam, dispneu ringan, batuk purulent produktif kadang disertai nyeri

dada lebih dari tiga minggu sering dijumpai pada infeksi aktif, anoreksia dan berat badan

yang menurun, kadang – kadang dijumpai panas yang menyerupai tifus abdominalis atau

malaria yang disertai atau tanpa hepatosplenomegali. Oleh karena itu bila dijumpai panas

seperti tifus abdominalis pada bayi atau anak kecil, harus dipikirkan juga kemungkinan

tuberkulosis sebagai penyebab panas tersebut. Selain itu bila didapatkan riwayat kontak

erat dengan penderita.

G. Uji Tuberkulin

Perkembangan hipersensitivitas tipe lambat pada kebanyakan individu yang

terinfeksi dengan basil tuberculosis membuat uji tuberculin sangat

dibutuhkan.Pemeriksaan ini merupakan alat diagnosis yang penting dalam menegakkan

diagnosis tuberkulosis. Uji multi punksi tidak seakurat uji Mantoux karena dosis antigen

tuberculin yang dimasukkan ke dalam kulit tidak dapat di control.Uji tuberkulin lebih

penting lagi artinya pada anak kecil bila diketahui adanya konvensi dari negatif. Pada anak

dibawah umur 5 tahun dengan uji tuberkulin positif, proses tuberkulosis biasanya masih

aktif meskipun tidak menunjukkan kelainan klinis dan radiologis.4

Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin yaitu dengan cara mono dengan

salep, dengan goresan disebut patch test cara von pirquet, cara mantoux dengan

menyuntikan intrakutan dan multiple puncture metode dengan 4 – 6 jarum

berdasarkan cara Heat and Tine. Uji kulit Mantoux adalah injeksi intradermal 0.1 mL

yang mengandung 5 unit tuberculin ( UT ) derivate protein yang dimurnikan ( PPD )

yang distabilkan dengan Tween 80. 1

Sampai sekarang cara Mantoux masih dianggap sebagai cara yang paling dapat

Page 36: Home Visite Martin

dipertanggung jawabkan karena jumlah tuberkulin yang dimasukkan dapat diketahui

banyaknya.

Reaksi lokal yang terdapat pada uji Mantoux terdiri atas 1:

1. Eritema karena vasodilatasi perifer

2. Edema karena reaksi antara antigen yang dimasukkan dengan antibodi

3. Indurasi yang dibentuk oleh sel mononukleus.

Pembacaan uji tuberculin dilakukan 48 – 72 jam. Setelah penyuntikan diukur

diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Kadang – kadang penderita akan mulai

berindurasi lebih dari 72 jam sesudah perlakuan uji, ini adalah hasil positif. Faktor –

factor yang terkait hospes, termasuk umur yang amat muda, malnutrisi, immunosupresi

karena penyakit atau obat – obat, infeksi virus, vaksin virus hidup, dan tuberculosis yang

berat, dapat menekan reaksi uji kulit pada anak yang terinfeksi dengan M.tuberculosis.

Terapi kortikosteroid dapat menurunkan reaksi erhadap tuberculin, dengan pengaryh

yang sangat bervariasi4.

Interpretasi hasil test Mantoux1,2,5 :

1. Indurasi 10 mm atau lebih → reaksi positif

Arti klinis adalah sedang atau pernah terinfeksi dengan kuman

Mycobacterium tuberculosis.

2. Indurasi 5 – 9 mm → reaksi meragukan

Arti klinis adalah kesalahan teknik atau memang ada infeksi dengan

Mycobacterium atypis atau setelah BCG. Perlu diulang dengan konsentrasi yang

sama. Kalau reaksi kedua menjadi 10 mm atau lebih berarti infeksi dengan

Mycobacterium tuberculosis. Kalau tetap 6 – 9 mm berarti cross reaction atau BCG,

kalau tetap 6 – 9 mm tetapi ada tanda – tanda lain dari tubeculosis yang jelas maka

harus dianggap sebagai mungkin sering kali infeksi dengan Mycobacterium

tuberculosis.

Page 37: Home Visite Martin

3. Indurasi 0 – 4 mm → reaksi negatif.

Arti klinis adalah tidak ada infeksi dengan Mycobacterium tuberculosis.

Reaksi positif palsu terhadap tuberculin dapat disebabkan oleh sensitisi silang

terhadap antigen mikobakteria non tuberculosis. Reaksi silang ini biasanya

sementaraselama beberapa bulan sampai beberapa tahundan menghasilkan indurasi

kurang dari 10 – 12 mm. Vaksinasi sebelumnya ( BCG ) juga dapat menimbulkan

reaksi terhadap uji kulit tuberculin. Sekitar setengah dari bayi yang mendapat vaksin

BCG tidak pernah menimbulkan uji kulit tuberculin reaktif, dan reaktivitas akan

berkurang 2 – 3 tahun kemudian pada penderitayang pada mulanya memiliki uji

kulit positif.1,5

H. Pemeriksaan Radiologis

Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk

menemukan lesi tuberkulosis. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih

dibanding pemeriksaan sputum, tapi dalam beberapa hal pemeriksaan radiologis

memberikan beberapa keuntungan seperti tuberkulosis pada anak – anak dan tuberkulosis

millier. Pada kedua hal tersebut diagnosa dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologi

dada, sedangkan pemeriksaan sputum hampir selalu negatif.

Pada anak dengan uji tuberkulin positif dilakukan pemeriksaan radiologis.

Gambaran radiologis paru yang biasanya dijumpai pada tuberkulosis paru:

1. Kompleks primer dengan atau tanpa pengapuran.

2. Pembesaran kelenjar paratrakeal.

3. Penyebaran milier.

4. Penyebaran bronkogen

5. Atelektasis

6. Pleuritis dengan efusi.

Pemeriksaan radiologis pun saja tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis

tuberkulosis, tetapi harus disertai data klinis lainnya.

Page 38: Home Visite Martin

I. Pemeriksaan Laboratorium

1. Darah

Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang – kadang

meragukan. Pada saat tuberkulosis baru dimulai ( aktif ) akan didapatkan sedikit

leukosit yang sedikit meningkat. Jumlah limfosit masih normal. Laju Endap Darah

mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan

laju endap darah mulai turun kea rah normal lagi.

2. Sputum

Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA,

diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga

dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan, tetapi kadang –

kadang tidak mudah untuk menemukan sputum terutama penderita yang tidak batuk atau

pada anak –anak. Pada pemeriksaan sputum kurang begitu berhasil karena pada umumnya

sputum langsung ditelan, untuk itu dibutuhkan fasilitas laboratorium berteknologi yang

cukup baik, yang berarti membutuhkan biaya yang banyak

Adapun bahan – bahan yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologi adalah1 :

1. Bilasan lambung

2. Sekret bronkus

3. Sputum

4. Cairan pleura

5. Liquor cerebrospinalis

6. Cairan asites

Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang – kurang nya ditemukan tiga

batang kuman BTA pada suatu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman

dalam 1 ml sputum.

J. Komplikasi Tuberkulosis

Tuberkulosis primer cenderung sembuh sendiri, tetapi sebagian akan menyebar lebih

lanjut dan dapat menimbulkan komplikasi. Tuberkulosis dapat meluas dalam jaringan

Page 39: Home Visite Martin

paru sendiri. Selain itu basil tuberkulosis dalam aliran darah dapat mati, tetapi

dapat pula berkembang terus, hal ini tergantung keadaan penderita dan virulensi

kuman. Melalui aliran darah basil tuberkulosis dapat mencapai alat tubuh lain seperti

bagian paru lain, selaput otak, otak, tulang, hati, ginjal dan lain – lain. Dalam alat tubuh

tersebut basil tuberkulosis dapat segera menimbulkan penyakit, tetapi dapat pula menjadi

tenang dahulu dan setelah beberapa waktu menimbulkan penyakit atau dapat pula tidak

pernah menimbulkan penyakit sama sekali.3,5

Sebagian besar komplikasi tuberkulosis primer terjadi dalam 12 bulan setelah

terjadinya penyakit. Penyebaran hematogen atau millier dan meningitis biasanya terjadi

dalam 4 bulan, tetapi jarang sekali sebelum 3 – 4 minggu setelah terjadinya kompleks

primer. Efusi plura dapat terjadi 6 – 12 bulan setelah terbentuknya kompleks primer, kalau

efusi pleura disebabkan oleh penyebaran hematogen maka dapat terjadi lebih cepat.

Komplikasi pada tulang dan kenjar getah bening permukaan ( superficial ) dapat terjadi

akibat penyebaran hematogen, hingga dapat terjadi dalam 6 bulan setelah terbentuknya

kompleks primer, tetapi komplikasi ini dapat juga terjadi setelah 6 – 18 bulan ( Lincoln ).

Komplikasi pada traktus urogenitalis dapat terjadi setelah bertahun – tahun ( Lincoln ).

Pembesaran kelenjar getah bening yang kena infeksi dapat menyebabkan atelektasis karena

menekan bronkus hingga tampak sebagai perselubungan segmen atau lobus, sering lobus

tengah paru kanan.Selain oleh tekanan kelenjar gatah bening yang membesar, atelektasis

dapat terjadi karena kontraksi bronkus pada tuberkulosis dinding bronkus, tuberkuloma

dalam lapisan otot bronkus atau oleh gumpalan keju di dalam lumen bronkus.

Pembesaran kelenjar getah bening yang terkena infeksi selain menyebabkan

atelektasis karena penekanan, dapat juga menembus bronkus kemudian pecah dan

menyebabkan penyebaran bronkogen. Lesi tuberkulosis biasanya sembuh sebagai proses

resolusi, fibosis dan atau kalsifikasi.

K. Lymphadenitis Tuberculosa

Tuberkulosis lymphonodi superficial atau yang sering disebut sebagai

scropuloderma, merupakan bentuk tuberculosis ekstra pulmonal yang paling sering pada

anak. Secara histories scopuloderma biasanya disebabkan karena minum susu yang tidak

dipasteurisasi yang mengandung M.bovis. Kebanyakan kasus sekarang terjadi dalam 6 – 9

bulan infeksi awal oleh M.tuberculosis walaupun beberapa kasus tampak bertahun – tahun

kemudian.2Limfonodi tonsil, cervical anterior, submandibuler, dan supraclavicular menjadi

Page 40: Home Visite Martin

terlibat akibat perluasan lesi primer lapangan paru atas. Limfonodi yang terinfeksi pada

inguinal, epithrochanter, atau daerah axiller akibat dari limfadenitis regional dihubungkan

dengan tuberkulosis kulit atau sistem skeleton.2Limfonodi biasanya membesar perlahan –

lahan pada awal stadium penyakit limfonodi. Limfonodi ini tetap, tidak keras, tersendiri,

dan tidak nyeri. Limfonodi sering terasa difiksasi pada jaringan di bawahnya atau ada yang

menumpanginya. Penyakit paling sering unilateral, tetapi terjadinye bilateral dapat terjadi

karena perpindahan pola drainase pembuluh limfa pada dada dan leher bagian bawah. Bila

infeksi memburuk banyak nodus yang terinfeksi.2

Tanda – tanda dan gejala sistemik selain demam ringan biasanya tidak ada. Uji kulit

tuberculin biasanya reaktif. Radiografi dada normal pada 70 % kasus. Mulainya sakit

kadang – kadang lebih akut dengan pembesaran limfonodi yang cepat, demam, nyeri dan

berubah – ubah. Tanda permulaan jarang merupakan massa yang berubah – ubah dengan

selulitis atau perubahan warna.2Limfonodi tuberculosis dapat memburuk ke pengejuan

dan nekrosis bila tidak di terapi. Apabila kapsul limfonodi pecah, menyebabkan

penyebaran infeksi ke limfonodi yang berdekatan. Robekan limfonodi biasanya berakibat

pengaliran saluran sinus yang mungkin memerlukan pembuangan secara bedah.

Limfadenitis tuberculosis berespon baik terhadap terapi anti tuberkulosis, walaupun

limfonodi tidak kembali pada ukuran normal selama berbulan – bulan. Pembuangan

secara bedah kurang dianjurkan kerana limfadenitis ini merupakan bagian dari penyakit

sistemik.2

1. Diagnosis

Definitif limfadenitis tuberculosa biasanya memerlukan konfirmasi histologis

ataubakteriologis, yang paling baik disempurnakan dengan biopsi eksisi limfonodi

yang terlihat. Biakan jaringan limfonodi yang menghasilkan organisme hanya sekitar

50 % kasus. Banyak keadaan – keadaan lain dapat dirancukan dengan limfadenitis

tuberkulosa, termasuk infeksi karena mikobakteria nontuberkulosis ( MNT ), penyakit

cakaran kucing, tularemia, brusellosis, toksoplasmosis, tumor, kista celah brakial,

higoma kistik dan infeksi piogenik. Masalah yang paling sering adalah membedakan

infeksi karena

M.tuberculosis dari limfadenitis karena MNT pada daerah geografi dimana MNT

Page 41: Home Visite Martin

lazim. Kedua keadaan biasanya disertai dengan radiografi dada normal dan uji

tuberkuin reaktif. Kunci penting untuk diagnosa limfadenitis tuberculosis merupakan

kaitan epidemiologis, adakah penderita yang infeksius di sekitarnya. Di daerah dimana

kedua penyakit lazim ada, satu – satunya cara membedakannya dapat membiakkan

jaringan yang terlibat.2

2. Pengobatan dan prognosa

a. Sejarah Pengobatan Tuberkulosis

Sebelum ditemukan obat – obat anti tuberkulosis, pengobatan tuberkulosis

mengalami beberapa tahapan yaitu:

1) Health Resort Era

Setiap penderita tuberkulosis harus dirawat di sanatorium, yakni tempat –

tempat berudara segar, suasana yang menyenangkan dan makanan yang

bergizi tinggi,

2) Bed – Rest Era

Dalam hal ini penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit tetapi cukup diberi

istirahat setempat terhadap fisiknya saja, disamping makanan yang bergizi

tinggi.

3) Collapse therapy Era

Di sini cukup paru – paru yang sakit saja yang diistirahatkan dengan melakukan

pneumothorax artificial. Paru – paru yang sakit menjadi kolaps dan tidak bias

lagi aktif bekerja.

4) Resection Era

Paru – paru yang sakit dibuang dengan cara operasi. Bagian yang sakit dibuang

dengan cara wedge resection, atau satu lobus maupun satu bagian pun.

5) Chemotherapy Era

Di sini terjadi revolusi dalam pengobatan tuberkulosis, yakni dengan

ditemukannya streptomisin atau obat anti tuberkulosis mulai tahun 1944 dan

bermacam – macam obat lainnya pada tahun – tahun berikutnya.

Page 42: Home Visite Martin

3. Penatalaksanaan

Pengobatan tuberkulosis ditentukan berdasarkan dua pertimbangan

bakteriologis. Pertama adalah adanya mutan yang resisten terhadap obat. Hal

ini dapat dicegah terjadinya resistensi dengan pemakaian 2 obat atau lebih.1,4

Kedua adalah adanya basil tuberkulosis yang hidup karena pertumbuhannya

yang lambat dan intermitten. Hal ini biasanya ditanggulangi dengan

mamperpanjang masa pengobatan sampai 18 bulan atau lebih. Kalau tidak ada

masalah resistensi terhadap rimfapicin dan INH maka pemberian kombinasi

rimfapicin dan INH dikatakan cukup berhasil.dalam 9 bulan.1,4

Dalam tubuh seorang penderita dengan tuberkulosis aktif, diduga

terdapat tiga macam populasi basil tuberkulosis yang masih dapat diobati

yaitu :

a. Basil yang berkembang aktif dan terdapat ekstraseluler.

b. Basil yang tumbuh lambat atau intermitten dan terdapat di dalam makrofag

dengan pH asam.

c. Basil yang tumbuh lambat atau intermitten dalam daerah kaseosa dengan pH

netral.

Berikut ini obat – obat tuberkulosa yang penting 4

Obat Dosis Aktivitas Efek samping

Rifampicin 10 -15 mg/kg BB/hari Bakterisidal Hepatotoksik

Per oral Ektra dan intraseluler Hipersensitivitas

Nausea

INH 10 – 20 mg/kgBB/hari Bakterisidal Hepatotoksik

Per oral Ektra dan intraseluler Neuritis perifer

Pyrazinami

de 30 – 35 mg/kgBB/hari Bakterisidal Hiperurisemia

Page 43: Home Visite Martin

Per oral Intraseluler Hepatotoksik

Sreptomisin 30 – 35 mg/kgBB/hari Bakterisidal Ketidak seimbangan

Intra muscular Ekstraseluler Pendengaran

Ethambutol 15 – 25 mg/kgBB/hariBakteriostatik Neuritis optika

Per oral Ektra dan intraseluler Skin rash

P

A

S

200 – 300 mg/kgBB/hari Bakteriostatik Gastritis

Per oral Ekstraseluler Hepatotoksik

Dari beberapa obat tersebut, obat yang diberikan pada tahap intensif terdiri dari

rimfapicin, Izoniazid, Pyrazinamid selama dua bulan diberikan setiap hari.

Tahap lanjutan terdiri dari Rimfapicin dan Isoniazid selama 4 bulan diberikan

setiap hari. Dalam memberikan terapi anti TBC tidak lupa ditambahkan vit B6 karena

Izoniasid menghambat absorpsi dari asam folat.1,4,5

Pada TBC berat ( TBC milier, TBC meningitis dan TBC tulang ) juga diberikan

streptomisin atau ethambutol pada permulaan pengobatan. Jadi pada TBC berat

biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4 – 5 obat selama 2 bulan, kemudian

dilanjutkan dengan Isoniazid dan Rimfapicin selama 10 bulan lagi atau lebih sesuai

dengan klinisnya.

Selain obat anti tuberkulosis dapat juga diberikan kortikosteroid.

Pemberian kortikosteroid diberikan pada keadaan1 :

Page 44: Home Visite Martin

a. Tuberculosis milier

b. Tuberculosis meningitis

c. Tuberculosis endobronkial

d. Tuberkulosis pluritis

e. Tuberkulosis pericarditis

f. Tuberkulosis peritonitis

4. Prognosa

Dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur anak, berapa lama setelah mendapat

infeksi, luasnya lesi, keadaan gizi, keadaan sosial ekonomi keluarga, diagnosa dini,

pengobatan adekuat, kepatuhan minum obat, dan adanya infeksi lain seperti morbilli,

pertusis, diare yang berulang dan lain – lain.

5. Pencegahan

Penularan perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan – tindakan pencegahan

selayaknya untuk menghindarkan droplet infection dari penderita ke orang lain. Salah

satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup mulut atau hidung dengan sapu

tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan Lysol atau dibakar. Bila

penderita berbicara dianjurkan untuk tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya.

Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.4

Anak – anak di bawah usia 1 tahun dari keluarga yang menderita TBC perlu

divaksinasi BCG sebagai pencegahan.

a. Vaksinasi BCG ( Bacille Calmette – Guerin )

Pemberian BCG meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil

tuberkulosis yang virulen. Imunitas timbul 6 – 8 minggu setelah pemberian BCG.

Imunitas yang terjadi tidaklah lengkap sehingga masih mungkin terjadi super

infeksi meskipun biasanya tidak progresif dan menimbulkan komplikasi yang

berat.

Vaksin ini mengandung basil TBC sapi yang telah dihilangkan virulensinya

setelah dibiakkan di laboratorium selama bertahun – tahun. Vaksinasi

Page 45: Home Visite Martin

meninggalkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya di lengan bawah dan

memberikan kekebalan selama 3 – 6 tahun terhadap infeksi primer dan efektif

untuk rata – rata 70 % bayi yang diimunisasi.4

Efektivitas vaksin BCG adalah controversial, walaupun suah digunakan lebih

dari 50 tahun di seluruh dunia. Hasilnya sangat bervariasi, beberapa penelitian baru

telah memperlihatkan perlindungan terhadap lepra, tetapi sama sekali tidak

terhadap TBC. Vaksin BCG diberikan intradermal 0.1 mL bagi anak – anak dan

orang dewasa, bayi 0.05 mL.4

Sekarang pemberian BCG dianjurkan secara langsung tanpa didahului uji

tuberkulin karena cara ini dapat menghemat biaya dan mencakup lebih banyak

anak.

b. Chemoprofilaksis

Sebagai kemoprofilaksis biasanya dipakai INH dengan dosis 10

mg/kgBB/hari selama 1 tahun. Kemoprofilaksis primer diberikan untuk mencegah

terjadinya infeksi pada anak dengan kontak tuberkulosis dan uji tuberkulin masih

negatif yang berarti masih belum terkena infeksi atau masih dalam masa inkubasi.

Kemoprofilaksis sekunder diberikan untuk mencegah berkembangnya

infeksi menjadi penyakit, misalnya pada anak yang berumur kurang dari 5 tahun

dengan uji tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis paru dan pada anak dengan

konsensi uji tuberkulin tanpa kelainan radiologis paru.

6. Education

Edukasi sangat penting dianjurkan untuk diberitahukan kepada keluarga dengan

penderita TBC aktif di dalamnya. Pentingnya sirkulasi udara yang baik, usaha menutup

mulut pada saat batuk atau bersin, kebersihan dari bahan – bahan pribadi dari penderita

sangat banyak membantu mengurangi penularan dari TBC.

Edukasi tentang kepatuhan penderita dalam menjalanan terapinya juga perlu

untuk disampaikan, untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Juga bagi ibu – ibu yang

Page 46: Home Visite Martin

tidak mau mengimunisasikan anaknya dengan alasan takut anaknya menjadi panas juga

perlu untuk dijelaskan lebih jauh mengapa imunisasi diperlukan, dan resiko yang akan

diterima bila anak tidak diimunisasI.

Page 47: Home Visite Martin

BAB VII

P E N U T U P

A. Kesimpulan

Dari Laporan home visit ini dapat diambil kesimpulan tentang permasalahan yang

dialami penderita, yaitu sebagai berikut:

1. Adanya kecenderungan penderita dapat menularkan penyakitnya pada orang

disekitarnya, dalam hal ini keluarga dan lingkungan sekitarnya, baik disebabkan

oleh kondisi lingkungan maupun perilaku pasien dan keluarganya.

2. Keadaan rumah dan lingkungan penderita yang kurang sehat.

3. Fasilitas rumah seperti luasan kamar, ventilasi dan bidang pencahayaan yang

belum memenuhi syarat kesehatan.

4. Ekonomi keluarga termasuk menengah kebawah yang mengakibatkan kebutuhan

sehari-hari terkadang sudah dapat tercukupi, sehingga asupan gizi yang belum

sepenuhnya terpenuhi..

B. Saran

1. Untuk kecenderungan penularan penyakit dapat dilakukan upaya:

a. Promosi Kesehatan: edukasi penderita dan keluarga mengenai TB Paru dan

pengobatannya oleh petugas kesehatan atau dokter yang menangani. Yang

harus ditekankan dalam hal ini terutama masalah penularan TB , cara

membangun lingkungan yang sehat yang secara tidak langsung berperan dalam

memutus rantai penularan TB.

b. Proteksi Spesifik : mengedukasi penderita agar tidak meludah di sembarang

tempat dengan cara menyediakan sputum pot yang diberi disinfektan untuk

digunakan oleh penderita, menutup mulut dengan kain atau masker terutama

saat batuk. Rajin membersihkan rumah, menjemur bantal, guling dan kasur.

Memperluas bidang pencahayaan, ventilasi dan mengupayakan tidak tidur

sekamar dengan pasien.

c. Diagnosa Awal : dilakukan contact tracing, yaitu dengan melakukan

pemeriksaan SPS terhadap semua orang yang dekat dan sering kontak dengan

47

Page 48: Home Visite Martin

penderita, terutama keluarga pasien yang serumah dengan penderita, hal ini

bertujuan agar kita bisa mengetahui sedini mungkin apabila terjadi penularan

TB pada orang terdekat penderita dalam rangka memutus rantai penularan TB.

d. Rehabilitation : mengembalikan kepercayaan diri An.S sehingga tetap memiliki

semangat untuk sembuh.

2. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal, rumah yang kurang sehat, dan

kekambuhan yang berulang kali dilakukan upaya :

a. Edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka jendela tiap pagi,

penggunaan genteng kaca, dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan

rumah,lebih sering membersihkan lantai.

b. Meningkatkan penyuluhan tentang TB kepada masyarakat sekitar, sehingga

masyarakat dapat mengetahui gejala-gejala TB, penularan TB, risiko-risiko

yang terjadi.

3. Untuk masalah Ekonomi perlu dilakukan upaya peningkatan gizi keluarga UPGK)

dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti pekarangan, bila masih

memungkinkan.

48

Page 49: Home Visite Martin

DAFTAR PUSTAKA

1. Alatas, Dr. Husein et al :Ilmu Kesehatan Anak, edisi ke 7, buku 2, Jakarta; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1997, hal 573 – 761.

2. Behrman, Kliegman, Arvin, editor Prof. Dr. dr. A. Samik Wahab, SpA(K) et al : Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15, buku 2, EGC 2000, hal 1028 – 1042.

3. Price, Sylvia A; Wilson, Lorraine M. : Patofisiologi Klinik, edisi ke 5, Tuberkulosis, hal 753 – 761.

4. Tan, Hoan Tjay Drs.; Rahardja, Kirana Drs. : Obat – obat Penting, Khasiat,Penggunaan dan Efek – efek Sampingnya, edisi ke 5, cetakan ke 2, Penerbit PTElex Media Komputindo, Kelompok Gramedia Jakarta, Bab 9 Tuberkulostatika, hal 145 – 154.

5. Waspadji,Soparman; Waspadji, Sarwono : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hal 573 – 761.

6. Hood, A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga Univercity press: Surabaya

49

Page 50: Home Visite Martin

LAMPIRAN

FOTO RUMAH TAMPAK DEPAN

FOTO RUANG TAMU

50

Page 51: Home Visite Martin

KAMAR TIDUR ORANG TUA DAN PASIEN

KAMAR TIDUR KELUARGA LAIN

51

Page 52: Home Visite Martin

DAPUR

MUSHOLA

52

Page 53: Home Visite Martin

KAMAR MANDI

53

Page 54: Home Visite Martin

PASIEN (An.S)

54