hipertensi stage ii, hiperglikemia, gagal ginjal

Download Hipertensi Stage II, Hiperglikemia, Gagal Ginjal

Post on 02-Dec-2015

102 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IIPRAKTIKUM 4

Disusun oleh : kelompok C2

Aghita Purwaningsih

G1F009046Puji Lestari

G1F009047Bhaskara Maulana

G1F009048Ratih Juwita Ninda

G1F009049Andrew Goldfrid

G1F009064Sofatul Azizah

G1F009065Winahto

G1F009066Rani Febriyanti

G1F009068KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN FARMASI

PURWOKERTO

2012

PROFIL PASIENNAMA: Tn. Znr

STATUS SOS: Askes PNS

UMUR/BB: 54 thn/54 kg

MRS

: 25 okt 2007

SUBJEKTIF Keluhan : bengkak dikedua kaki sejak 2 minggu SMRS, mual, muntah, kadang nyeri dada dan sesak, nyeri menjalar di pinggang, lemah, urin seperti teh dan sedikit

Riwayat penyakit : HT dan ginjal sejak 1 tahun yang lalu

Diagnosa : hipertensi stage II, hiperglikemia, gagal ginjal.

OBJEKTIF

Hipertensi

Data Date

Normal25

IRD26

OKT29303112

(Post HD)6

(Pro HD)6

(post HD)8910111213Ket

TD120/80160/110150/90140/80130/80130/80120/70130/80190/100120/70130/90150/100160/100150/100120/70160/100HT stg 1 & 2

Nadi80/mnt609288848478808896887880888094

RR20x/mnt242424242424182020202020

Bengkak+++++++

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya.

Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.

Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

DiabetesData Date

Nilai normal26/10272931245791112Keterangan

GDA70-110152132166meningkat

DM yang tidak terkontrol merupakan salahsatu faktor terjadinya nefropatidiabetikum. Telah diperkirakan bahwa 35-40% pasien DM tipe 1 kanberkembangmenjadi gagal ginjal kronik dalam waktu 15-25 tahun setelahawitan diabetes.Sedang DM tipe 2 lebih sedikit.Hiperurisemia

Data Date

Nilai normal26/10272917916ket

Asam urat2,4 5,7

8,6meningkat

Nilai asam urat yang tinggi karena ginjal pasien tidak berfungsi dengan seharusnya.Jadi terdapat penumpukan asam urat,asam urat seharusnya diekskresikan oleh ginjal.Hiperkalemia

Data Date

Nilai normal26/10272931245791112Ket

K3,8-56,7-4,45,85,24,83,84,03,43,53,43,1meningkat

Nilai kalium yang tinggi karena Kaliumterakumulasi dalam darah (dikenal sebagaihiperkalemiadengan berbagai gejala termasukmalaisedan berpotensi fatalaritmia jantung)

DATA PEMERIKSAAN LAIN

26 kt 2007

a. USG: tampak intensitas echo cairan di abdomen, hepatomegali, dan asites,nefritis bilateral, nefrolitiasis kiri, HN ringan kiri b. Foto thorak: cardiomegali c. Konsul paru: tdk didapatkan kelainan

30 Okt 2007

a. Renogram kiri:pola curve renal failure sedang

b. Renogram kanan:pola curve renal failure sedang sampai berat

31 Okt 2007

Kultur urine:

a. klebsiella pneumoni(>105)b. Sensitif:amikacin, fosfomycin, imipenem/meropenem c. Resisten:amok, amoksiklav, ampi-sulbac, seftazidim, sefotaksim, sefepim, kotrim, ciprofloksasin

2 Nov 2007

a. CT scan kepala:tak tampak gambaran infark maupun perdarahan intracranialb. Hd cito tgl 2,6,10c. HD regular tgl 15ASSESMENTGAGAL GINJAL KRONISPasien Tn. Znr didiagnosa menderita penyakit CKD Chronic Kidney Disease) stage 5, Hipertensi stage 2 dan poteinuria. Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m, seperti pada tabel berikut: Tabel1. Batas penyakit ginjal kronik

Berdasarkan data laboratorium, pasien sah mengalami proteinuria dan data lain yang spesifik menunjukkan adanya kerusakan ginal seperti penngkatan serukm kreatinin, peningkatan BUN dan penurunan lau filtrasi glomerulus.Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium (Perazella, 2005)Table 2. stadium penyakit ginjal kronik

Laju filtrasi glomerulus dapat dihitung dengan rumus MDRD (Modification of Diet in Renal Disease), rumusnya sebgai berikut :GFR = 186 X (SCr)-1,154 X (age)-0,203 x (0,74 if female) x (1,21 if African-American) (Dipiro J et al, 2008).Dengan menggnakan rumus di atas, maka dapat di hitung GFR dari pasienGFRpasien = 186 x (15,1)-1,154 x (54)-0,203 = 3,57 mL/menit/1,73 m2 (menggunakan data Serum Kreatinin yang paling

tinggi dari pasien) Nilai GFR pasien berdasarkan perhitungan yaitu sebesar 3,57

mL/menit/1,73 m2 , nilai tersebut lebih rendah dari 15, sehingga berdasarkan nilai

tersebut pasien didiagnosa penyakit ginjl kronis stage 5 atau fase gagal ginjal.Faktor RisikoFaktor risiko gagal ginjal kronik, yaitu pada pasien dengan diabetes melitus atau hipertensi, obesitas atau perokok, berumur lebih dari 50 tahun, dan individu dengan riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal dalam keluarga (National Kidney Foundation, 2009).

Dari data yang sampai saat ini dapat dikumpulkan oleh Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2007-2008 didapatkan urutan etiologi terbanyak sebagai berikut glomerulonefritis (25%), diabetes melitus (23%), hipertensi (20%) dan ginjal polikistik (10%) (Roesli, 2008).

a. Glomerulonefritis

Istilah glomerulonefritis digunakan untuk berbagai penyakit ginjal yang etiologinya tidak jelas, akan tetapi secara umum memberikan gambaran histopatologi tertentu pada glomerulus (Markum, 1998). Berdasarkan sumber terjadinya kelainan, glomerulonefritis dibedakan primer dan sekunder. Glomerulonefritis primer apabila penyakit dasarnya berasal dari ginjal sendiri sedangkan glomerulonefritis sekunder apabila kelainan ginjal terjadi akibat penyakit sistemik lain seperti diabetes melitus, lupus eritematosus sistemik (LES), mieloma multipel, atau amiloidosis (Prodjosudjadi, 2006). Gambaran klinik glomerulonefritis mungkin tanpa keluhan dan ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan urin rutin atau keluhan ringan atau keadaan darurat medik yang harus memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis (Sukandar, 2006). Gejala ini terlihat pada pasien melalui pemeriksaan USG.

b. Diabetes melitus

Menurut American Diabetes Association (2003) dalam Soegondo (2005) diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi. Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang menurun. Gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya (Waspadji, 1996). Pasien dengan hiperglikemia maka konsentrasi glukosa dalam darah meningkat, viskositas darah tinggi atau mengental sehingga memperlambat laju aliran darah. Aliran darah yang lambat dapat menimbulkan resiko penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) sehingga menyebabkan kerja jantung dalam memompa darah lebih berat yang pada akhirnya tekanan darah meningkat. Ketika kerja jantung berat, maka perfusi darah ke seluruh tubuh menjadi berkurang, termasuk ke ginjal. Ginjal akan berjalan lebih beraturan untuk memfiltasi darah dan zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh salah satunya adalah glukosa, sehingga performa ginjal dalam penyaringan menjadi berkurang dan ginjal mengalami kerusakan (nefropatik) (Masharani, 2006). Pada kondisi komplikasi diabetes terdapat manifestasi makroangiopati yang berdampak pada kerusakan ginjal atau disebut dengan nefropati diabetik. Namun pasien Tn. Znr tidak didiagnosa Diabetes mellitus tetapi kadar gula garahnya yang meningkat/ hiperglikemi.HIPERTENSIHipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihipertensi (Mansjoer, 2001). Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hiperten