hermeneutika tradisional sayyed hossein nasr...

141
i HERMENEUTIKA TRADISIONAL SAYYED HOSSEIN NASR DALAM THE STUDY QURAN A NEW TRANSLATION AND COMMENTARY SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S. Ag) Oleh : Luluk Khumaerah NIM 53020150029 PROGRAM ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USULUDIN, ADAB DAN HUMANIORA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA 2019

Upload: others

Post on 09-Feb-2021

18 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

  • i

    HERMENEUTIKA TRADISIONAL SAYYED HOSSEIN NASR

    DALAM

    THE STUDY QURAN A NEW TRANSLATION AND COMMENTARY

    SKRIPSI

    Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

    Sarjana Agama (S. Ag)

    Oleh :

    Luluk Khumaerah

    NIM 53020150029

    PROGRAM ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

    FAKULTAS USULUDIN, ADAB DAN HUMANIORA

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

    2019

  • ii

    Halaman ini sengaja dikosongkan

  • iii

  • iv

    Halaman ini sengaja dikosongkan

  • v

  • vi

    Halaman ini sengaja dikosongkan

  • vii

    MOTTO

    Berjuang dan Berbuat Kebaikan Seluas-luasnya

    PERSEMBAHAN

    Kupersembahkan untuk:

    Ibunda, Nur Wachidah

    Ayahanda, Muh. Umar Fattah

    Kedua adik tersayang, Lilik Zakiatul F dan Ali Kaustar.

    Belahan hati dunia akhirat, Hamdan Yuafi.

  • viii

    Halaman ini sengaja dikosongkan

  • ix

    ABSTRAK

    Khumaerah, Luluk. 2019. Hermeneutika Tradisional Seyyed Hossein Nasr dalam The

    Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Dr. Adang Kuswaya, M.Ag

    Banyak pendapat yang menyatakan bahwa metode tafsir klasik atau tradisional

    sudah tidak relevan lagi untuk mengungkap pesan-pesan dalam Al-Qur'an. Bahkan ada

    yang berpendapat bahwa metodologi tafsir ulama klasik, diasumsikan memandang

    sebelah mata terhadap kemampuan akal, terlalu mengaggungkan teks dan mengabaikan

    realita sosial. Mereka yang berpendapat seperti itu, lebih memilih metode hermeneutika

    sebagai alat untuk mengungkap makna didalam Al-Qur'an.

    Sebaliknya, sosok cendekiawan Muslim kontemporer bernama Seyyed Hossein

    Nasr datang membawa hal baru. Dia memilih menfsirkan Al-Qur'an dengan tetap

    mengambil pendapat dari ulama tafsir klasik atau tradisional. Terutama dalam karya

    terbarunya yang berjudul The Study Quran: A New Translation and Commentary. Hal

    inilah yang menjadi research gap bagi penulis sehingga tertarik melakukan penelitian

    ini.

    Melalui penelitian ini penulis ingin mengkaji metode hermeneutika yang

    digunakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam menafsirkan Al-Qur'an terutama dalam

    karya tafsirnya tersebut. Metodologi yang digunakan penulis dalam menyusun

    penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif. Sumber penelitian ini berupa bahan

    kepustakaan atau kajian literatur dengan sumber primer buku asli The Study Quran: A

    New Translation and Commentary yang sampai saat ini masih terus digunakan sebagai

    bahan kajian di rumah penulis.

    Untuk menemukan hermeneutika yang dipegang oleh Seyyed Hossein Nasr

    dalam melakukan penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an penulis mencoba

    menganalisisnya dengan pokok-pokok hermeneutika filosofis yang salah satunya

    menekankan bahwa selalu ada konteks antara penafsir dengan teks, yang menurut

    bahasa Gadamer disebut dengan Teori Kesadaran Sejarah atau affective history.

    Konteks disini tentu saja prinsip tradisionalisme Islam yang dipegang oleh Seyyed

    Hossein Nasr. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa Seyyed Hossein Nasr memegang

    prinsip hermeneutika tradisional dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an..

    Penelitian ini memiliki kontribusi yang sangat besar, sejauh pengetahuan

    penulis, sampai penelitian ini diselesaikan belum pernah diangkat penelitian terkait

    hermeneutika Seyyed Hossein Nasr di kampus manapun. Terlebih lagi belum ada

    terjemahan dalam Bahasa Indonesia dari buku The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary tersebut.

    Kata Kunci : Hermeneutika, Seyyed Hossein Nasr, The Study Quran A New Tranlation

    and Commentary.

  • x

    Halaman ini sengaja dikosongkan

  • xi

    PEDOMAN TRANSLITERASI

    Pedoman transliterasi huruf (pengalihan huruf) dari huruf Arab ke huruf Latin

    yang digunakan bersumber dari buku The Study Quran karya Seyyed Hossein Nasr dkk.

    Penulis mengambil keputusan ini karena, banyak pengalihan huruf diambil dari buku

    tersebut.

    A. Penulisan huruf :

    No Huruf Arab Huruf Latin

    ʾ ا .1

    b ب .2 t ت .3 th ث .4 j ج .5 ḥ ح .6

    kh خ .7 d د .8 dh ذ .9 r ر .01 z ز .00 s س .02 sh ش .03 ṣ ص .04

    ḍ ض .05 ṭ ط .06

    ẓ ظ .07

    ʿ ع .08

    gh غ .09 f ف .21 q ق .20 k ك .22 l ل .23 m م .24 n ن .25 h, -t- ة .26 h ه .27

  • xii

    B. Huruf Vokal dan Konsonan

    Huruf ا, ي , dan و dapat berfungsi sebagai konsonan atau vokal yang panjang:

    ا ditulis ʾ ketika digunakan sebagai hamzah yang terletak diawal

    ا ditulis ā ketika digunakan sebagai vokal yang dibaca panjang

    ي ditulis y ketika digunakan sebagai konsonan

    ي ditulis ī when ketika digunakan sebagai huruf vokal

    و ditulis w ketika digunakan sebagai konsonan

    و ditulis ū ketika digunakan sebagai huruf vokal

    C. Vokal Pendek

    a seperti huruf vokal dalam kata ‘san’ ketika bertemu dengan konsonan yang

    berat yaitu kh, r, ṣ, ḍ, ṭ, ẓ, gh, q dan seperti dalam kata ‘set’ untuk konsonan

    yang ringan yaitu ʾ, b, t, th, j, ḥ, d, dh, z, s, sh, ʿ, f, k, l, m, n, h, w, y

    i seperti huruf vokal dalam kata ‘sit’

    u seperti huruf vokal dalam kata ‘sut’

    D. Vokal Panjang:

    ā seperti huruf vokal dalam kata ‘saab’ jika jatuh setelah huruf konsonan berat

    yaitu kh, r, ṣ, ḍ, ṭ, ẓ, gh, q dan seperti huruf vokal dalam kata ‘sat’ untuk

    konsonan yang lebih ringan yaitu ʾ, b, t, th, j, ḥ, d, dh, z, s, sh, ʿ, f, k, l, m, n, h,

    w, y akan tetapi diucapkan dengan agak lama.

    ī seperti huruf vokal dalam kata ‘siin’

    ū seperti huruf vokal dalam kata ‘suun’

    E. Alif Lam Shamshiah dan Qamariyah

    Ketika dibaca, huruf ‘l’ dalam kata ‘al-’ mengambil suara sesuai dengan huruf konsonan

    yang mengikutinya, pertama disebut dengan huruf Shamshiah ysitu t, th, d, dh, r, z, s,

    sh, ṣ, ḍ, ṭ, ẓ, l, n. Seperti contoh, al-nūr dibaca dengan an-noor, bukan alnoor.

    Untuk konsonan yang lain, yang biasa disebut dengan huruf Qamariyah yaitu ʾ, b, j, ḥ,

    kh, ʿ, gh, f, q, k, m, h, w, y huruf ‘l’ dalam kata ‘al-‘ tetap diucapkan, seperti contoh, al-

    kitāb diucapkan dengan al-ki-taab.

  • xiii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah

    memberikan rahmat, taufik serta hidayah kepada setiap ciptaan-Nya. Sehinnga penulis

    dapat menyelesaikan Penelitian ini. Solawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada

    baginda Nabi Muhammad SAW. beserta keluraga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan dari

    berbagai pihak, penulisan Penelitian ini tidak dapat terselesaikan. Banyak orang yang

    berada di sekitar penulis, baik secara langsung maupun tidak, telah memberi dorongan

    yang berharga bagi penulis. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyyudin Baidhawi, M.Ag. beserta segenap

    jajaranya.

    2. Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga, Dr. Benny

    Ridwan, M.Hum beserta jajaranya

    3. Ketua Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Salatiga, Tri Wahyu Hidayati,

    M.Ag. yang telah memberikan izin untuk penelitian dan penyusunan Penelitian.

    4. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag. selaku dosen pembimbing Penelitian penulis yang

    telah membimbing, memberi nasihat, arahan serta masukan-masukan yang sangat

    membantu penyusunan tugas akhir ini.

    5. Seluruh dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Salatiga, terlebih

    dosen Ilmu Tafsir untuk ilmu-ilmu dan warisan-warisan intelektual beliau curahkan

    sehingga mengantarkan penulis untuk berproses menjadi lebih baik lagi.

  • xiv

    6. Bapak dan ibu tercinta beserta keluarga yang tak pernah lelah mendo’akan penulis

    untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu serta dukungan selama proses

    pembuatan Penelitian.

    7. Suami tercinta Hamdan Yuafi yang tak pernah lelah memberi semangat dan selalu

    membantu memberikan arahan juga pemikiran dalam menyelesaikan Penelitian ini,

    semoga Allah membalas dengan lebih baik.

    8. Ibu mertua yang selalu sabar dan perhatian disetiap kesibukanku serta tak lelah

    mendo’akan penulis.

    9. Teman-teman program studi ilmu al-Qur’an dan Tafsir angkatan 2015 yang terus

    memberikan dukungan serta selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan ocehan

    penulis di tengah-tengah perjalanan luar biasa dalam menulis dan menyelesaikan

    Penelitian.

    10. Terakhir, untuk semua pihak dan elemen yang secara langsung maupun tidak

    langsung dalam membantu menyelesaikan tulisan ini dari awal hingga proses

    penelitian hingga Penelitian ini terselesaikan.

    Penulis menyadari bahwa Penelitian ini masih banyak kekurangan, sehingga

    kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga Penelitian

    ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat dipergunakan sebagaimana mesti.

    Salatiga, 26 September 2019

    Penulis

  • xv

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .............................................................................................................. i

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ............................................................................. iii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................................................... iii

    PENGESAHAN KELULUSAN ............................................................................................ v

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....................................................................................... vii

    ABSTRAK ............................................................................................................................ ix

    PEDOMAN TRANSLITERASI ........................................................................................... xi

    KATA PENGANTAR ........................................................................................................ xiii

    DAFTAR ISI ........................................................................................................................ xv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ................................................................................... 1

    B. Batasan dan Rumusan Masalah ......................................................... 5

    C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 6

    D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 6

    E. Kajian Pustaka .................................................................................... 7

    F. Kerangka Pemikiran ......................................................................... 10 ........................

    G. Metodologi Penelitian ...................................................................... 13

    H. Sistematika Pembahasan .................................................................. 15

    BAB II HERMENEUTIKA AL-QURAN

    A. Hermeneutika ................................................................................... 19

    1. Pengertian dan Ruang Lingkup Hermeneutika .......................... 19 ........................

    2. Model-model Hermeneutika Al-Quran ...................................... 23

    3. Pokok Pokok Hermeneutical Philosophy .................................. 25

    4. Hermeneutika Tradisional .......................................................... 27

    5. Hermeneutika Kontemporer ...................................................... 30

    6. Tipologi Hermeneutika Al-Qur’an ............................................ 33

  • xvi

    BAB III BIOGRAFI SEYYED HOSSEIN NASR DAN PROFIL THE STUDY

    QURAN A NEW TRANSLATION AND COMMENTARY

    A. Biografi Seyyed Hossein Nasr ......................................................... 37

    1. Guru-guru Seyyed Hossein Nasr ............................................... 39

    2. Karir Seyyed Hossein Nasr ........................................................ 40

    3. Pemikiran Seyyed Hossein Nasr ................................................ 42

    4. Karya-Karya Seyyed Hossein Nasr ........................................... 49

    B. Deskripsi Hermeneutika Seyyed Hossein Nasr Dalam The Study

    Quran A New Translation and Commentary ................................... 52

    1. Profil The Study Quran A New Tranlation and Commentary

    A New Translation and Commentary ....................................... 52

    2. Setting Sosial Penulisan The Study Quran A New Tranlation

    and Commentary ...................................................................... 56

    3. Sumber Penafsiran The Study Quran A New Translation and

    Commentary ............................................................................. 57

    BAB IV APLIKASI DAN ANALISIS HERMENEUTIKA SEYYED

    HOSSEIN NASR DALAM THE STUDY QURAN A NEW

    TRANSLATION AND COMMENTARY

    A. Aplikasi Hermeneutika Seyyed Hossein Nasr Dalam The Study

    Quran A New Translation And Commentary................................... 63

    1. Kategori Ayat-ayat Yang Mengandung Perdebatan Dalam

    Hal Praktik Ibadah .................................................................... 67

    a. al-Fātiḥah ayat 1 ................................................................ 67 .........................

    b. al-Isrāʾ 78 .......................................................................... 71

    c. al-Māʾidah ayat 6 .............................................................. 74

    2. Kategori Ayat-ayat Yang Memiliki Kata-kata Yang Sulit

    Dalam Pemaknaan (Mutasyabihat) .......................................... 81

    a. al-Aʿrāf 54 ......................................................................... 81 ........................

    b. al-Fatḥ 10 .......................................................................... 85

    c. al-Nisāʾ ayat 24 ................................................................. 88

    3. Kategori Ayat-ayat Yang Mengandung Spiritualitas Islam

    atau Sufistik Dalam Al Qur’an ................................................. 96

    a. āl ʿImrān 31 ....................................................................... 96 ........................

    b. āl-Baqarah 245 .................................................................. 98

    c. āl-Qashash Ayat 73 ......................................................... 100

  • xvii

    B. Analisis Hermeneutika Seyyed Hossein Nasr Dalam The Study

    Quran A New Translation And Commentary................................. 104

    1. Kontruksi Penafsiran Seyyed Hossein Nasr Dalam The Study

    Quran A New Translation And Commentary ......................... 104

    2. Tipikal Kitab Tafsir Rujukan The Study Quran A New

    Tranlation and Commentary .................................................. 109

    3. Penerapan Hermeneutika Seyyed Hossein Nasr dalam The

    Study Quran A New Tranlation and Commentary.................. 111

    BAB V PENUTUP

    A. Simpulan........................................................................................ 117

    B. Saran .............................................................................................. 118

    DAFTAR PUSTAKA

    BIODATA PENULIS

  • Halaman ini sengaja dikosongkan

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, ada kecenderungan

    dikalangan para pakar-pakar studi Islam kontemporer untuk

    menjadikan hermeneutika sebagai mitra1, ada juga yang berpendapat

    hermeneutika sebagai sebuah pendekatan2, bahkan ada pula yang

    berpendapat bahwa hermeneutika dapat bertindak sebagai pengganti

    ilmu tafsir Al-Qur’an3. Pendapat tersebut bukan tanpa dasar, mereka

    mengambil dasar bahwa Al-Qur’an merupakan refleksi dan respon atas

    kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik masyarakat Arab Jahiliyah

    abad ke-7 Masehi4, yang cenderung primitif dan patriarkis.5

    Mereka berpendapat seperti itu karena Ulumul Qur’an

    dianggap belum cukup bisa menggambarkan konteks realita kehidupan.6

    Lebih jauh lagi ada yang berpendapat bahwa metodologi tafsir ulama

    klasik, diasumsikan memandang sebelah mata terhadap kemampuan

    1Aksin Wijaya, arah Baru Studi Ulumu Al-Qur’an: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 175. 2M. Amin Abdullah dalam kata pengantar buku, Sahiron Syamsuddin (dkk.), Hermeneutika Al-

    Qur’an Mazhab Yogya (Yogyakarta: Islamika, 2003), xxiii. 3M. Zainal Abidin, Ketika Hermeneutika Menggantikan Tafsir Al-Qur’an dalam Republika, 24 Juni

    2005. 4Sahiron Syamsuddin (dkk.), Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya (Yogyakarta: Islamica, 2003), xv. 5Asghar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf

    (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), 3. 6Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-Tema Kontroversial (Yogyakarta: eLSAQ Press,

    2005), 19-20.

  • 2

    akal, terlalu mengaggungkan teks dan mengabaikan realita sosial7,

    dinilai tidak memiliki teori yang solid, teruji dan terseleksi8, dianggap

    memaksakan prinsip-prinsip universal, akhirnya mengarahkan

    pemahaman yang tekstualis dan literalis.9 Bahkan ada pandangan yang

    menyebutkan bawha tafsir klasik dinilai tidak lagi memberi makna dan

    fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam dan telah turut

    melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral,

    politik, dan budaya.10

    Sehingga menurut para pemikir kontemporer, dekonstruksi

    sekaligus rekonstruksi metodologi penafsiran Al-Qur’an perlu

    dilakukan. Dan menurut mereka, hermeneutika merupakan sebuah

    keniscayaan dan merupakan satu-satunya pilihan (the only

    alternative).11 Mereka juga berpendapat bahwa hermeneutika menjadi

    solusi untuk menjembatani kebuntuan dan krisis Ulumul Qur’an dan

    tafsir klasik yang menurut mereka tidak relevan lagi dengan konteks

    hari ini.12

    7Ulil Abshar-Abdalla (dkk.), Metodologi Studi Al-Qur’an (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), 140. 8Hassan Hanafi, Hermeneutika Al-Qur’an? terj. Yudian Wahyudi (Yogyakarta: Pesantren Nawesea,

    2010), 80-81. 9Abdul Mustaqim, Epestemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: LKiS, 2010), 55. 10M. Amin Abdullah, dalam kata pengantar buku, Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan

    (Jakarta: Teraju, 2002), xxv-xxvi, 10. 11M. Zainal Abidin, Ketika Hermeneutika Menggantikan Tafsir Al-Qur’an dalam Republika, 24 Juni

    2005. 12M. Amin Abdullah dalam kata pengantar buku, Abdul Mustaqim, Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi Penafsiran Al-Qur’an Periode Klasik Hingga Kontemporer (Yogyakarta: Nun Pustaka,

    2003), xii.

  • 3

    Salah satu pemikir kontemporer yang dikenal memiliki metode

    hermeneutika yang baru dalam memahami Al-Qur’an adalah Seyyed

    Hossein Nasr. Dalam karya tafsir terbarunya, The Study Quran A New

    Tranlation and Commentary dia tidak hanya menggunakan pendekatan

    sejarah, sosial maupun kajian secara bahasa saja akan tetapi juga

    menggabungkan antara pendapat dari ulama tafsir dari masa ke masa

    dan juga semangat tradisi karena dia berpendapat bahwa pembaca karya

    tersebut tidak hanya dari kalangan Muslim saja.13

    The Study Quran A New Tranlation and Commentary sendiri

    berisi terjemahan atas Al-Qur’an berbahasa Inggris yang komprehensif

    dan penafsiran luas tentang seluruh Al-Qur’an. Dalam karya tafsir ini,

    juga dilengkapi beberapa esai tentang topikn yang beragam, termasuk

    etika dan hukum Al-Qur’an, cabang-cabang teologi, dan seni dalam Al-

    Qur’an.14 Yang menarik dari The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary ini adalah pendekatan tafsir yang menghindari pendekatan

    fundamentalis atau modernis yang berkembang dalam dua abad terakhir.

    Tujuannya adalah untuk menjaga interpretasi tradisional ulama klasik.15

    Penjelasan dalam The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary mengambil pendapat dari puluhan karya tafsir klasik baik

    dari karya tafsir ulama Syiah maupun Sunni. Sebagai contoh karya

    13Seyyed Hossein Nasr, The Study Quran (New York: Harper Collins Publishers, 2015), 28. 14Bahar Davary, “Review Essay on The Study Quran: A New Translation and Commentary”, Horizon (vol. 43, Issue 2, Desember/2016), 1. 15Ibid, 2

  • 4

    tafsir dari Muqatil ibn Sulaiman (w. 767) yang berjudul al-kabir, hingga

    Muhammad Husain Thabathaba'i (w. 1981) al-mizan. Setidaknya ada

    empat puluh satu penafsiran dari kitab tafsir klasik yang diangkat dalam

    The Study Quran A New Tranlation and Commentary. Yang lebih

    menarik lagi, adalah konsep hermeneutika Al Qur’an yang digunakan

    Seyyed Hossein Nasr yaitu hermeneutika tradisional.

    Sebagai gambaran awal tentang konsep Islam tradisional yang

    selanjutnya digunakan oleh Sayyed Hosein Nasr sebagai metode

    penafsiran Al-Qur’an, didefinisikan sebagai seperangkat prinsip yang

    turun dari langit disertai dengan manifestasi ilahi (wahyu) yang

    disusaikan dengan konteks masyarakat yang berbeda-beda. Bukan

    sebatas kebiasaan, adat istiadat atau transmisi ide dan motif dari satu

    generasi ke generasi setelahnya. Hal tersebut ditulis oleh Sayyed Hosein

    Nasr dalam karyanya berjudul Islam and the Plight of Modern Man.16

    Dalam karya Traditional Islam in the Modern World , Nasr

    menyerukan untuk kembali melestarikan tradisi dalam rangka

    menghindari dampak negatif dari modernitas yang menggeser banyak

    nilai.17 Adapun di bukunya yang lain yang berjudul Knowledge and the

    Sacred, Nasr menyebutkan tradisi adalah kebenaran-kebenaran atau

    prinsip-prinsip Ilahlmi yang diturunkan kepada manusia melalui para

    16Seyyed Hossein Nasr, Islam and Plight of Modern Man (USA: ABC International Group, 2001), 73. 17Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam in the Modern World (London: Columbia University Press,

    1987), 12.

  • 5

    Utusan-Nya yang disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat pada

    waktu itu.18

    Demikian pandangan Sayyed Hosein Nasr tentang Islam

    tradisi, bagaimanakah pandangan tersebut diterapkan dalam pendekatan

    hermeneutika penafsiran atas ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana yang

    tertuang dalam karya tafsirnya yang berjudul The Study Quran A New

    Tranlation and Commentary? Pertanyaan inilah yang membuat penulis

    tertarik memilih pemikiran hermeneutika dari tokoh ini melalui

    karyanya. Terlebih lagi, sejauh pengetahuan penulis belum ada

    Penelitian di perguruan tinggi manapun yang mengangkat pemikiran

    tokoh ini. Terutama yang berkaitan dengan pemikiran Seyyed Hossein

    Nasr tentang hermeneutika Al-Qur’an.

    B. Batasan dan Rumusan Masalah

    Berpijak dari uraian di atas, maka ada beberapa permasalahan

    yang penulis anggap dapat dijadikan pikiran utama, yaitu:

    1. Bagaimana kontruksi hermeneutika Seyyed Hossein Nasr dalam

    karyanya The Study Quran A New Tranlation and Commentary?

    2. Bagaimana aplikasi hermeneutika al-Qur’an dalam The Study Quran A

    New Tranlation and Commentary?

    18Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (New York: State University of New York Press,

    1989), 64.

  • 6

    C. Tujuan Penelitian

    Setiap penelitian sudah semestinya memiliki maksud dan

    tujuan tertentu. Begitu pun dengan Penelitian yang sedang penulis akan

    kerjakan juga memiliki maksud dan tujuan, di antaranya adalah:

    1. Untuk mengetahui konstruksi hermeneutika Seyyed Hossein Nasr

    dalam karyanya The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    2. Untuk mengetahui aplikasi hermeneutika al-Qur’an dalam The Study

    Quran A New Tranlation and Commentary.

    Kemudian manfaat dari Penelitian yang akan penulis kerjakan

    adalah sebagai berikut:

    1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada

    pegiat tafsir mengenai hermeneutika al-Qur’an dalam The Study

    Quran A New Tranlation and Commentary yang ditulis oleh Seyyed

    Hossein Nasr.

    2. Menambah khazanah keilmuan di bidang Studi Ilmu Qur’an dalam

    kajian hermeneutika al-Qur’an.

    D. Manfaat Penelitian

    Sebuah karya akademik harus memiliki manfaat dan kontribusi

    dalam pengembangan keilmuan Islam, dalam konteks ini adalah studi

    al-Qur’an. Secara umum penelitian ini bermanfaat untuk memahami

    konsep sentral hermeneutika Al-Qur’an Sayyed Hosein Nasr dalam The

  • 7

    Study Quran A New Tranlation and Commentary. Secara terperinci

    manfaat dan kontribusi penelitian ini, sebagai berikut:

    1. Memperluas kajian seputar metodologi penafsiran al-Qur’an sebagai

    salah satu sarana untuk menjawab problematika di era kontemporer ini

    salah satunya dengan metode hermeneutika.

    2. Penelitian ini diharapkan dapat memperbarui mindset umat Muslim

    mengenai term-term al-Qur’an yang masih menimbulkan kontroversi di

    antara pendapat para Ulama’.

    3. Memberikan wawasan tentang konsep hermeneutika Sayyed Hosein

    Nasr dalam The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    E. Kajian Pustaka

    Setelah melacak karya-karya sebelumnya yang berkaitan

    dengan studi ini, penulis tidak menemukan penelitian tentang Seyyed

    Hossein Nasr dan The Study Quran A New Tranlation and Commentary

    secara spesifik mengenai hermeneutika al-Qur’an. Adapun karya- karya

    terdahulu yang membahas tentang Seyyed Hossein Nasr adalah:

    Pertama, Penelitian yang ditulis oleh Risaldi dengan Judul

    “Pengaruh Seyyed Hossein Nasr Terhadap Perkembangan Pemikiran

    Islam di Indonesia”. Tulisan ini hanya membahas mengenai pengaruh

    pemikiran Seyyed Hossein Nasr terhadap pemikiran ulama di Indonesia

    dan tidak berfokus pada pembahasan metode hermeneutika yang beliau

  • 8

    lakukan. Bahkan buku ini tidak satupun menyentuh karya tafsir beliau

    yang berjudul The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Kedua, Penelitian yang ditulis oleh Hamidah Harafiani dengan

    Judul “Humanisme Spiritual Seyyed Hossein Nasr bagi Manusia

    Modern”. Tulisan ini membahas mengenai pemikiran Seyyed Hossein

    Nasr tentang manusia dan humanisme dan dan tidak berfokus pada

    pembahasan metode hermeneutika yang beliau lakukan. Bahkan buku

    ini tidak satupun menyentuh karya tafsir beliau yang berjudul The Study

    Quran A New Tranlation and Commentary.

    Ketiga, Penelitian yang ditulis oleh Agung Hidayat dengan

    judul “Musik Sufistik Perpektif Seyyed Hossein Nasr”. Tulisan ini juga

    sama, tiadak menyentuh aspek hermeneutika yang digunakan oleh

    Seyyed Hossein Nasr melaikan lebih membahas pada pemikiran beliau

    tentang musik sufistik. Sekali lagi, tidak satupun referensi dari tulisan

    ini menyentuh The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Keempat, ada Tesis yang merupakan hasil karya Ahmad Sidqi

    dengan judul “Konsep Metafisika Seyyed Hossein Nasr; Relevansinya

    Bagi Pembentukan Manusia Sempurna dalam Era Modern”. Tulisan ini

    secara khusus membahas hakikat metafisika dengan paradigma Seyyed

    Hossein Nasr, ditinjau dari konteks kekinian. Sekali lagi ini merupakan

    tulisan yang membahas pemikiran beliau di luar hermeneutika.

  • 9

    Kelima, ada juga Tesis berjudul “Islam dan Humanisme

    menurut Seyyed Hossein Nasr” yang merupakan karya Zaki

    Hidayatulloh. Tulisan ini secara spesifik membahas tentang

    bagaimanakah bangun konsep Humanisme dalam Islam, Bagaimanakah

    kerangka berpikir Seyyed Hossein Nasr tentang Islam dan Humanisme

    dan Bagaimanakah pemikiran Seyyed Hossein Nasr tentang konsep

    Islam dan Humanisme dalam menghadapi problem Humanisme global.

    Dan lagi, tulisan ini juga belum menyentuh aspek hermeneutika beliau

    dalam menyusun The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Keenam, jurnal yang ditlis oleh Dosen IAIN Salatiga, Asfa

    Widiyanto dengan judul “Reception of Sayeyed Hossein Nar,s Ideas

    Within the Indonesia Intellectual Lndscape” Tulisan ini membahas

    apresiasi dan penerimaan atas pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam

    konteks wacana intelektual di Indonesia.

    Setelah melakukan pencarian yang menyeluruh, penulis

    berkesimpulan bahwa belum ada karya tulis ilmiah yang membahas

    mengenai metode hermeneutika yang dilakukan oleh Seyyed Hossein

    Nasr. Bahkan jika mau dipersempit tidak ada juga yang membahas

    karya beliau yang terbaru yaitu The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary.

  • 10

    F. Kerangka Pemikiran

    Berbicara Hermeneutika, setidaknya ada empat terma yang

    menjadi bagian dari hermeneutika. Sebagaimana yang dipaparkan oleh

    Ben Vender: dalam bukunya was ist hermeneutic.19 Keempat terma

    yang dimaksud ialah hermeneus/interpretation (penafsiran),

    hermeneutika / hermeneutics (hermeneutika), phosphische hermeneutika

    /philoshopial hermeneutics (hermeneutika filosofis) dan hermeneutische

    /hermenetical philosphy (filsafat hermeneutis). Adapun pengertian

    keempat terma itu adalah;

    Pertama, Hermeneuse ialah penjelasan atau interpretasi sebuah

    teks merupakan karya seni atau perilaku seseorang. Dari definisi

    tersebut, dapat disimpulkan merefer kepada aktivitas penafsiran

    terhadap obyek-obyek tertentu seperti teks, simbol-simbol seni (lukisan,

    novel, puisi, dan lain-lain) dan perilaku manusia. Secara subtansial,

    hermeneuse tidak terikat dengan metode requirements (syarat-syarat)

    serta foundation (hal yang melandasi penafsiran).

    Kedua, hermeneutika adalah jika seseorang berbicara tentang

    regulasi/aturan, metode /strategi langkah penafsiran, maka sedamg

    berbicarahermeneutika. Jadi hermeneutika lebih berbicara pada konteks

    metode penafsiran.

    19Syahiron Syamsudin, Hermeneutika dan pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta: Pesanten

    Nawasea Press, 2009), 7.

  • 11

    Ketiga, philoshophical Hermeneutika; tidak lagi berbicara

    metode eksegetik tertentu sebagai obyek pembahasan inti, melainkan

    hal-hal yang terkait dengan “Conditions of the Possibility” (kondisi-

    kondisi kemungkinan) yang dengannya seorang dapat memahami dan

    menafsirkan sebuah teks, simbol atau perilaku. Pertanyaan yang di

    munculkan dala hermeneutika filosofis bagaimana kita mungkin

    menafsirkan teks atau perilaku manusia? Syarat-syarat (Requirements)

    apa yang dapat membuat penafsiran itu mungkin dilakukan?

    Requirement adalah suatu kerangka (Framework) yang atasnya sebuah

    penafsiran didasarkan dan karenanya ia mungkin dilakukan. Menurut

    Jung, yang menjadi sentral pemikiran dalam hermeneutika filosofis

    adalah “meneliti jalan masuk ke realitas penafsiran’.20

    Dan Keempat, Hermeneutische Philosophie: bagian dari

    pemikiran filsafat yang mencoba menjawab problem kehidupan manusia

    dengan cara menafsirkan apa yang di terima oleh manusia dari sejarah

    dan tradisi. Manusia dipandang sebagai makhluk hermeneutis (a

    hermeneutical being), dalam arti makhluk yang harus memahami

    dirinya.21

    Pada dasarnya, Istilah-istilah demikian yang dikemukakan oleh

    Vedder dan Jung murupakan tingkatan dan perkembangan pemikiran

    20Ibid, 9. 21Irsyadunnas, Hermeneutika Feminisme; Dalam Pemikiran Tokoh Islam Kontemporer, (Yogyakarta:

    Kaukaba, 2014), 21.

  • 12

    hermeneutika. Yang awalnya merupakan realitas pemikiran

    hermeneutika berkembang menjadi strata dalam pemikiran

    hermeneutika.

    Supaya terma-terma Ben Verder dapat termuat dalam cabang

    ilmu hermeneutika. Maka penulis menggunakan definisi hermeneutika

    sebagai cabang ilmu yang membahas metode interpretasi teks dan dasar

    filosofis penafsiran.22

    Secara aksiomatika hermeneutika merupakan metode tafsir Al

    Quran yang menghasilkan penafsiran obyektif, tegas dan menyeluruh,23

    meskipun pada awalnya, hermenutik merupakan alat untuk

    menginterpretasikan kitab Injil.

    Menurut Hassan Hanafi, hermeneutika al Quran ialah metode

    untuk memahami al Quran sebagai transformasi wahyu ilahi kepada

    tujuan kemanusiaan.24 Hermenetika digunakan Hasan Hanafi sebagai

    metode filsalfat yang berkembang di barat sebagai metodologi untuk

    memahami al Quran.25

    Dalam penelitian ini, penulis akan meanalisis salah satu

    kategori hermeneutika yaitu Hermeneutical Philosopy yang lebih

    memfokuskan diri pada ontologis bahasa sebagai dasar eksistensial,

    22Syahiron Syamsudin, Hermeneutika dan pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta: Pesanten Nawasea Press, 2009), 18. 23Adang Kuswaya, Hermeneutika Al Quran: Model Riset Tafsir Sosio-Tematik, ( IAIN Salatiga:

    LP2M-Press.215), 49. 24Ibid, 4. 25Ibid, 6.

  • 13

    sehingga bahasa dan teks merupakan dua entitas yang otonom dalam

    diri manusia.26 Aliran ini juga dianut oleh Hans George Gadamer (w.

    2002). Menurutnya, persoalan hermeneutika menjadi titik perubahan

    bahasa filosofis yang terkait dengan pencapaian sebuah persetujuan

    dengan pihak lain tentang makna bersama. Komunikasi tersebut

    dilakukan dengan cara dialog dalam peleburan cakrawala.27

    Sehingga dalam Penelitian ini, penulis akan memfokuskan

    pada teori hermeneutika yang dipaparkan oleh Gadamer diatas, dengan

    alasan bisa membantu penulis dalam menelusuri hermeneutika Al-

    Qur’an Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya The Study Quran A New

    Tranlation and Commentary. Hal ini memiliki kesamaan karena

    Gadamer mencoba menggabungkan dua cakrawala yaitu cakrawala

    penulis dan pengarang teks (Fussion of Horizons) sehingga dalam

    penulisan Penelitian ini mengupayakan pandangan seobjektif mungkin

    atas analisis pemikiran hermeneutika Seyyed Hossein Nasr dalam

    karyanya The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    G. Metodologi Penelitian

    Untuk memperoleh sebuah kajian yang dapat

    dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka penelitian dalam Penelitian

    ini menggunakan metodologi sebagai berikut:

    26Irsyadunnas, Hermeneutika Feminisme; Dalam Pemikiran Tokoh Islam Kontemporer (Yogyakarta: Kaukaba, 2014), 21. 27Ibid.22.

  • 14

    1. Jenis Penelitian

    Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, karena

    penelitian ini bersifat kualitatif maka data-data yang digunakan

    bersumber dari kepustakaan (library research) yakni keseluruhan data

    dan bahan yang digunakan merupakan data atau bahan pustaka yang

    sesuai dengan permasalahan yang diangkat. Sedangkan bahan-bahan

    pustaka yang dijadikan objek penelitian adalah buku-buku, jurnal,

    majalah atau tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan

    hermeneutika Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya The Study Quran A

    New Tranlation and Commentary

    2. Sumber Data

    Mengingat penelitian Penelitian ini adalah berbentuk penelitian

    kualitatif yang sumber datanya adalah kepustakaan, maka untuk

    mencapai hasil yang maksimal maka sumber data akan diklasifikasikan

    berdasar kedudukan data tersebut, yaitu sumber primer dan sumber

    sekunder.

    a. Sumber Primer

    Adapun sumber primer yang digunakan dalam penelitian

    adalah buku The Study Quran A New Tranlation and Commentary karya

    Seyyed Hossein Nasr. Adapun proses peneliti dalam mendapatkan

    Sumber Prime sebagai berikut; awalnya peneliti memiliki Sumber

    Primer ini berupa E-Book kemudian berbentuk Fisiknya.

  • 15

    b. Sumber Sekunder

    Sedangkan sumber data skunder yang penulis gunakan adalah

    Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Quran karangan Syahiron

    Syamsuddin, Dalam buku tersebut menjelaskan tentang pengertian dari

    Hermeneutika al-Qur’an, sejarah perkembangan hermeneutika dan

    menerangkan tentang perbedaannya dengan tafsir al- Qur’an. Buku

    tersebut juga menjelaskan tentang aplikasi hermeneutika al- Qur’an

    dalam sebuah tafsir.

    3. Metode Pengumpulan Data

    Dalam penulisan penelitian ini, metode pengumpulan data

    yang penulis gunakan adalah telaah dokumen. Hal ini dilakukan dengan

    jalan membaca, memahami serta menelaah buku-buku, baik yang

    berupa tulisan dari Seyyed Hossein Nasr maupun tulisan-tulisan yang

    berhubungan dengan penelitian Seyyed Hossein Nasr.

    4. Metode Analisis Data

    Karena penelitian yang penulis lakukan berbentuk penelitian

    yang mengkaji tentang pemikiran tokoh maka penulisan ini

    menggunakan metode pendekatan deskriptif-interpretatif.28

    H. Sistematika Pembahasan

    Sistematika ini berguna sebagai gambaran yang akan menjadi

    pokok bahasan dalam penulisan Penelitian, diharapkan mampu

    28Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Sarasin, 1996), 104.

  • 16

    memudahkan dalam memahami masalah-masalah yang akan dibahas.

    Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut.

    Bab pertama, pendahuluan yang memiliki fungsi untuk

    menggambarkan keseluruhan isi dari Penelitian dengan sekilas.

    Kemudian dirinci ke dalam sub bab yang berisi latar belakang, rumusan

    masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review studi terdahulu, metode

    penelitian, serta sistematika penulisan.

    Bab kedua, pembahasan mengenai hermeneutika al-Qur’an.

    Bab ini memperkenalkan hermeneutika dan analisis perkembangan

    hermeneutika.

    Bab ketiga membahas biografi dari Seyyed Hossein Nasr yang

    merupakan pengarang dari The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary. Di dalamnya berisi riwayat hidup Seyyed Hossein Nasr

    atau sosio-historis Seyyed Hossein Nasr sejak ia menempuh pendidikan

    hingga ia menulis The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Selain itu di bab ini juga membahas karya Seyyed Hossein Nasr yang

    berjudul The Study Quran A New Tranlation and Commentary.

    Bab keempat,aplikasi dan anlisis hermeneutika al-Qur’an

    Seyyed Hossein Nasr dalam The Study Quran A New Tranlation and

    Commentary. Di bab ini akan menjelaskan, bagaimana aplikasi

    hermeneutika al-Qur’an dari Seyyed Hossein Nasr dalam The Study

    Quran A New Tranlation and Commentary.serta analisisi terhadap

  • 17

    kontruksi hermeneutika Seyyed Hossein Nasr dalam The Study Quran A

    New Tranlation and Commentary.

    Bab kelima, penutup. Di bab terkahir ini berisi simpulan dan

    saran yang merupakan hasil akhir dari penulisan Penelitian dengan judul

    Hermeneutika Tradisional Seyyed Hossein Nasr dalam The Study

    Quran A New Tranlation and Commentary.

  • Halaman ini sengaja dikosongkan

  • BAB II

    HERMENEUTIKA AL-QUR’AN

    A. Hermeneutika

    1. Pengertian dan Ruang Lingkup Hermenetika

    Hermeneutika secara etimologi berasal dari bahasa yunani,

    yakni hermeneuuein yang memiliki arti menafsirkan atau hermenia

    yang berarti penafsiran.29 Istilah hermeneutika merujuk kepada seorang

    tokoh mitologis yaitu Hermes dengan fungsi, Hermes sebagai transmisi

    pesan dari Tuhan yang menggunakan bahasa langit ke dalam bahasa

    manusia agar mudah di pahami oleh intelegensia manusia ke dalam

    bentuk teks suci.30 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa asosiasi

    hermeneutika dengan Hermes merupakan gambaran urgensi proses

    interpretasi terhadap pemahaman sebuah teks.31

    Secara sekilas pengasosiasian hermeneutika dengan Hermes

    menunjukkan adanya tiga unsur variabel utama pada kegiatan manusia

    dalam memahami teks. Pertama, adanya tanda, pesan atau teks yang

    menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan

    pesan yang dibawa oleh Hermes. Kedua, adanya perantara atau penafsir

    29James M.Robinson, “Hermeneutic since Barth” dalam The New Hermeneutic, ed.J. M. Robinson dan Jhon B. Cobb, New York: Harper and Row Publisher, 1964, 1. 30Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka

    Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta:Belukar,2004), 135 31Adang Kuswaya, Hermeneutika Al Quran: Model Riset Tafsir Sosio-Tematik, ( IAIN Salatiga:

    LP2M-Press.215), 15.

  • 20

    yaitu Hermes dan ketiga, penyampaian pesan oleh seorang perantara

    agar dapat dipahami dan sampai kepada yang menerima.32

    Secara terminologi, Hermeneutika didefinisikan secara

    beragam dan bertingkat. Menurut Budi Hardiman, secara terminology

    hermeneutika dapat diderivasikan dalam tiga definisi. Pertama,

    pengungkpatan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan

    sebagai penafsir. Kedua, usaha mengalihkan dari bahasa asing yang

    maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa

    dimengerti oleh pembaca. Ketiga, pemindahan ungkapan pikiran yang

    kurang jelas di ubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.33

    Beberapa kajian menyebutkan bahwa definisi hermeneutika

    secara umum adalah proses mengubah sesuatu atau situasi

    ketidaktauhan menjadi tahu dan mengerti.34 Lebih luasnya, menurut

    Zygmunt Bauman hermeneutika merupakan upaya menjelaskan dan

    menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan

    yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiktif yang

    menimbulkan kebingungan bagi para pendengar atau pembacanya.35

    32Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an Tema-tema Kontroversial, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 5. 33F. Budi Hardiman, “Hermeneutika; Apa itu?” dalam Basis XL. No. 3. 1990, 3. 34Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an Tema-tema Kontroversial, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hlm.5; Lihat pula Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Scheirmacher,

    Dithey, Heidegger and Gadamer, 3. 35Komarudin Hidayat, Menafsirkan Kehendak Tuhan, (Jakarta : paramadina, 1998), hlm.138; Lihat Zygmunt Bauman, Hermeneutic and Social Sciensi, New York: Columbia University Press, 1978,

    hlm.7

  • 21

    Hermeneutika adalah seni praktis, yakni techne yang

    digunakan dalam hal-hal seperti berceramah, menafsirkan bahasa-

    bahasa lain, menerangkan dan menjelaskan teks-teks, dan sebagai dasar

    dari semua ini (ia merupakan) seni memahami, sebuah seni yang secara

    khusus dibutuhkan ketika makna sesuatu (teks) itu tidak jelas.36

    Dengan makna ini pulalah F. Schleiermacher mengartikan

    istilah tersebut dengan seni memahami secara benar bahasa orang lain,

    khususnya bahasa tulis (the art of understanding rightly another man’s

    language, particularly his written language). Selain sebagai seni,

    hermeneutika pada masa modern, menurut Gadamer diartikan sebagai

    art of exegesis (seni menafsirkan), melainkan lebih dari itu sebagai

    disiplin yang membahas aspek-aspek metodis yang secara teoritis dapat

    menjustifikasi aktivitas penafsiran. Definisi hermeneutika sebagai

    gabungan antara aktivis dan metode penafsiran ini juga didapati pada

    definisi yang dikemukakan oleh Franz-Peter Burkard yaitu “seni

    menafsirkan teks dan dalam arti yang lebih luas hermeneutika adalah

    refleksi teoritis tentang metode-metode dan syarat-syarat pemahaman.

    Definisi tersebut dengan jelas memasukkan aktivitas penafsiran dan

    metodenya ke dalam istilah hermeneutika.37

    36Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta:Pesantren Nawesea Press, 2009), 5-6. 37Ibid, 6.

  • 22

    Hermeneutika berbicara tentang pemahaman bukan untuk

    menciptakan kembali hal yang dibaca. Hermeneutika bukan hanya

    mengeluarkan kembali sesuatu yang sudah tersimpan lama akan tetapi

    sebagai sebuah seni yang bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman.

    Menurut Schleiermacher terdapat dua masalah universal dalam

    hermeneutika yaitu penjumpaan dengan sesuatu yang asing dan

    kemungkinan salah paham manakala harus memahami lewat kata-

    kata.38Maka dengan adanya hermeneutika, pemahaman atas sebuah teks

    diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman dan dapat dicapai makna

    objektiforisinil.39

    Problem dasar yang diteliti hermeneutika adalah masalah

    penafsiran teks secara umum, baik berupa teks historis maupun teks

    keagamaan. Oleh karenanya, yang ingin dipecahkan merupakan

    persoalan yang sedemikian banyak lagi kompleks yang terjalin sekitar

    watak dasar teks dan hubungannya al-turats di satu sisi, serta hubungan

    teks dengan pengarangnya di sisi lain. Yang terpenting di antara sekian

    banyak persoalan di atas adalah bahwa hermeneutika

    mengkonsentrasikan diri pada hubungan mufasir dengan teks.

    38W. Poespoprodje, Hermeneutika, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 24. 39Siti Robikah, “Contextual Interpretations of the Quran: Telaah Hermeneutika Inklusif Nasr Hamid

    Abu Zayd”, Proceeding The 2nd BUAF 17-20 Juli 2017, (Banjarmasin:UIN Antasari).

  • 23

    Konsentrasi atas hubungan mufasir dengan teks merupakan titik pangkal

    dan persoalan serius bagi hermeneutika.40

    Memahami teks melalui interpretasi menurut hermeneutika

    tidak bisa lepas dari konteks sejarah dimana teks itu muncul, kepada

    siapa teks itu berdialog, mengapa teks itu dibuat dan seterusnya, yang

    pasti tidak lepas dari ruang yang mengintarinya. Teks adalah produk

    kebudayaan yang mengintarinya sehingga harus dipahami secara kritik

    historis. Menurut Schleiermacher, karya sastra atau seni merupakan

    manifestasi pribadi sehingga membaca teks adalah suatu dialogia

    dengan pengarang atau seniman. Teks bukanlah objek mati, bukan

    sekedar benda yang merentang dalam ruang dan waktu (res extensa).41

    2. Model-Model Hermeneutika

    Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika terdiri atas

    tiga bentuk atau model. Pertama, hermeneutika objektif yang

    dikembangkan tokoh-tokoh klasik, khususnya F. Schleimacher, W.

    Dilthey, dan Emilio Betti. Menurut model ini, penafsiran berarti

    memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarangnya, sebab apa

    yang ada di dalam teks adalah ungkapan jiwa pengarangya, sehingga

    40Nasr Hamid Abu Zayd, Isykaliyat al-Qira’ah wa Aliyyat at-Ta’wil, terj. Muhammad Mansur, ’’Problematika Pembacaan Teks dan Takwil’’ (Jakarta: ICIP, 2004), 3. 41W. Poespoprodje, Hermeneutika, 19.

  • 24

    apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan pada

    kesimpulan pembaca melainkan diturunkan dan bersifat instruktif.42

    Kedua, hermeneutika subjektif yang dikembangkan oleh tokoh

    modern Hans Georg Gadamer dan Jacques Derida. Menurut model ini,

    hermeneutika bukan sebuah usaha untuk menemukan makna objektif

    yang dimaksud penulis melainkan memahami apa yang tertera dalam

    teks itu sendiri.43

    Stressing mereka adalah isi teks itu sendiri secara mandiri

    bukan pada ide awal penulis. Inilah yang membedakan antara

    hermeneutika subjektif dan objektif. Dalam pandangan subjektif, teks

    bersifat terbuka dan dapat diinterpretasikan oleh siapapun, ia telah

    berdiri sendiri dan tidak lagi berkaitan dengan penulis. Karena itu, teks

    tidak harus dipahami berdasarkan ide penulis melainkan berdasarkan

    materi yang ada dalam teks itu sendiri. seseorang menafsirkan teks

    berdasarkan apa yang dimiliki saat ini (vorhabe), apa yang dilihat

    (vorsicht), dan apa yang diperoleh kemudian (vorgriff).44

    Ketiga, hermeneutika pembebasan yang dikembangkan oleh

    tokoh Muslim kontemporer yaitu Hassan Hanafi dan Farid Esack. Pada

    42Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics, (London: Roudege & Kegars Paul,1980), 29. 43Nasr Hamid Abu Zayd, Al-Qur’an, Hermeneutika dan Kekuasaan, terj. Dede Iswadi, (Bandung :

    RqiS), 47. 44Agus Darmaji, “Dasar-Dasar Ontologis Pemahaman Hermeneutika Hans-Georg Gadamer”,

    Refleksi, (Vol.13,No.4,2013), 473.

  • 25

    model ini hermeneutika tidak hanya berarti ilmu interpretasi akan tetapi

    lebih pada aksi.45

    Dengan demikian, jika di hubungkan dengan Ilmu Al-Qur’an

    terdapat tiga model hermeneutika. Pertama, hermeneutika objektif yang

    berusaha memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengajak

    kembali ke pendapat ulama-ulama terdahulu/klasik. Kedua,

    hermeneutika subjektif yang memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an

    dalam konteks kekinian dengan mengesampingkan pendapat ulama-

    ulama terdahulu/klasik. Ketiga, hermeneutika pembebasan yang

    memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dalam konteks kekinian tanpa

    mengesampingkan pendapat ulama-ulama terdahulu/klasik.

    3. Pokok Pokok Hermeneutical Philosophy

    Untuk menganalisis hermeneutika yang digunakan oleh Seyyed

    Hossein Nasr, sebelumnya penulis harus membahs terlebih dahulu

    tentang Hermeneutical Philosophy atau hermeneutika filosofis.

    Hermeneutika filosofis tidak hanya berkaitan dengan teks, melainkan

    berkaitan dengan seluruh objek sosial dan humaniora. Hermeneutika

    jenis ini juga dianut oleh Gdamer. Hal ini ia jelaskan dalam bukunya

    berjudul Truth And Method. Berikut kami akan memjelaskan terlebih

    dahulu pokok-pokok hermeneutika filosofis.

    45Hassan Hanafi, ad Dinnu wa Stauroh, terj. Jajat Firdaus, Liberalisasi, Revolusi, Hermeneutika,

    (Yogyakarta: Prisma, 2003), 109.

  • 26

    Pertama, dalam karyanya itu, Gadamer menjelaskan bahwa

    bahasa dalam sebuah teks tentu masih mendapatkan porsi perhatian dan

    juga merupakan objek pertama. Kaitanya dengan hal itu, menurut

    Gadamer semua yang tertulis pada kenyataannya lebih diutamakan

    sebagai hermeneutika baik secara eksplisit maupun implisit.46

    Alasan lain kenapa pendekatan hermeneutika filosofis

    mengedepankan fakta atau fenemona yang terlihat sebagai objek utama,

    karena filsafat hanya berbicara tentang ide-ide yang umum, mendasar

    dan prinsipil. Tentang suatu objek pembahasan. Sehingga pendekatan

    hermeneutika filosofis menyerahkan sepenuhnya pembicaraan mengenai

    pendakatan penafsiran kepada panfsir itu sendiri.47

    Pokok selanjutnya dari hermenetika filosofis yaitu penggunaan

    pemahaman affective history. Time (waktu) dalam kacamata pendekatan

    hermeneutika ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah paest

    (masa lalu), dengan kata lain tempat dimana teks itu dilahirkan atau

    dipublikasikan. Kedua, present (waktu sekarang) yang didalamnya

    berisi penafsiran yang penuh dengan dugaan (prejudice). Artinya

    dugaan- dugaan ini akan menghasilkan penafsiran yang sesuai dengan

    konteks penafsir. Adapun letak dari Affective history tadi lebih pada

    46Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, (Yale University Press: London, 1994). Hlm 117. 47Ibid, hlm 106

  • 27

    tataran waktu ketiga yaitu future (masa depan ) yang mana didalamnya

    dijelaskan nuansa yang bersifat baru dan produktif.48

    Pokok Ketiga dari hermeneutika filosofis yang dianut oleh

    Gadamer yaitu Understanding as Questioning and Therefore

    Application atau pemahaman sebagai pertanyaan dan aplikasi. Tujuan

    dari pemahaman dari sebuah teks adalah untuk memahami makna-

    makna yang tidak familiar. Pemahaman itu kemudian termasuk

    mengaplikasikan sebuah makna kepada situasi atau kondisi penafsir

    dimana pertanyaan yang kemungkinan ingin dijawab oleh pembaca.49

    Pokok terakhir dari hermenetika filosofis yang dianut oleh

    Gadamer adalah The Universality of The Hermeneutic Universe atau

    universalisme sebagai pendekatan hermeneutika. Universalisme disini

    menurut Gadamer sebagai bentuk bahaasa pemahaman yang

    memperhatikan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Dengan

    kata lain pemahaman terhadap teks harus memberikan efek kepada

    peembaca agar ia dapat memahami kondisi alam sekitarnya atau

    universal.50

    4. Hermeneutika Tradisional

    Dari segi letak dan kedalaman makna, pendekatan tradisional

    sebagian besar menganggap bahwa pembaca dapat memahami maksud

    48Syahiron Syamsuddin dkk, Hermeneutika Alquran Madzhab Yogya, (Islamika; Yogyakarta, 2003).

    Hlm 59. 49Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, (Yale University Press: London, 1994). Hlm 115. 50Ibid, 121

  • 28

    penulis dan menerjemahkan beberapa makna obyektif dari teks. Karena

    makna teks itu tetap, peran pembaca dalam menentukan atau

    mempengaruhi makna sangatlah minimal. Pendekatan ini percaya pada

    keberadaan obyektif makna dalam pikiran penulis, yang mudah diakses

    dengan cara yang sama obyektif untuk pembaca, memberikan kontribusi

    pada gagasan bahwa hanya ada satu interpretasi yang benar dari teks.51

    Sementara dari segi hubungan antara teks dan konteks,

    Hermeneutika tradisional cenderung meminggirkan konteks historis di

    mana teks Al-Qur'an diturunkan. Meskipun ada pengakuan terhadap

    karakter historis dan perkembangan Al-Qur'an ketika berbicara tentang

    asbab al-nuzul dan naskh, tidak ada model hermeneutika yang jelas

    untuk sepenuhnya mengintegrasikan dan memanfaatkan aspek-aspek ini

    dalam menafsirkan bahasa Al-Qur’an. Sejauh konteks historis

    dipertimbangkan, para tradisional tidak secara sistematis membedakan

    antara dimensi historis dan historis dari makna teks. Akibatnya, ada

    kecenderungan kuat untuk menguniversalkan makna historis tertentu.52

    Kita mengetahui bahwa, Al-Qur'an diturunkan secara lisan

    dalam kurun waktu dua dekade, dan proses kanonisasi membutuhkan

    waktu puluhan tahun lebih. Urutan kanonik sūrah Qur'an tampaknya

    tidak diatur oleh kronologi; juga tidak tampak diatur oleh tema, karena

    51Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1994), hlm. 73 52Ibid, hlm. 74

  • 29

    referensi ke tema sering tersebar di seluruh Al-Qur’an. Para penafsir

    tradisional mengecilkan sifat dasarnya lisan dan kerygmatic dari wahyu

    dan terutama mengambil analisis kata demi kata segmental dan

    berurutan dari teks kanonik. Dengan demikian pendekatan ini memang

    tidak menggunakan koherensi tematik Al-Qur'an dalam penafsiran

    mereka.53

    Dari segi kontribusi Nalar dalam Interpretasi Etika-Legal Al-

    Qur’an, pendekatan hermenutika tradisional sangat membatasi peran

    nalar pada bentuk analoginya, sehingga semua penafsiran yang

    berkaitan dengan etika dan hukum harus dikaitkan dengan bukti tekstual

    dalam al quran. Jika tidak ada teks yang terkait secara langsung, maka

    setiap upaya dilakukan untuk mengidentifikasi teks yang terkait secara

    tidak langsung dengan prinsip dasar yang sama dan untuk

    menafsirkannya dengan mengingat signifikansinya terhadap kasus baru.

    Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa pengetahuan etika dan legal

    harus selalu berasal dari wahyu dan bahwa manusia tidak dapat

    mengetahui apa yang benar secara etika atau hukum dengan alasan

    independen. Dari perspektif ini, banyak penafsir menyimpulkan dimensi

    legalistik untuk semua Al-Qur'an, sehingga bahkan nasihat Al-Qur'an

    53Ibid, 78.

  • 30

    yang dapat dilihat sebagai etika atau didaktik luas ditafsirkan sebagai

    perintah hukum yang positif.54

    Dalam pendekatan hermeneutika tradisonal penggunaan

    sunnah sebagai alat penafsiran tentu merupakan konstitutif dan dibatasi

    oleh kumpulan teks hadis. Salah satu implikasi penting dari konsepsi

    tekstual sunnah ini adalah bahwa penalaran interpretatif hanya sampai

    batas tertentu dalam memilih dan mengevaluasi hadis semata, tidak

    merupakan konstitutif dari konsep sunnah sebagai alat penafsiran.55

    Sehingga menurut pemahaman penulis berdasarkan semua

    aspek hermeneutika tradisional yang disebutkan di atas, pemahaman Al-

    Qur’an terbatas ketika menyangkut perwujudan nilai-nilai etika dasar,

    seperti keadilan dan kesetaraan, dan tujuan yang mendasarinya. Hal itu

    dapat dilihat dari pendekatan hermeneutika tradisional yang

    mengedepankan filologi dan morfologi teks semata dan

    mengesampingkan konteks keadaan sosial dan permasalahan kekinian.

    5. Hermeneutika Kontemporer

    Seperti yang berkembang pada masa kontemporer, aliran

    hermeneutika pada dasarnya sangat beragam. Richard E.Palmer,

    berdasarkan kronologi, hermenutika didefinisikan kedalam enam bentuk

    yang berbeda. Pertama, Hermeneutika sebagai Teori Eksegesis Bible.

    Menurut Richard E.Palmer hermeneutika dan exsegesis memiliki arti

    54Ibid, hlm. 78 55Ibid, hlm. 82

  • 31

    yang sama tetapi memiliki hakikat yang berbeda. Hermeneutika

    menunjukan metodologi penfsiran, sedangkan exegesis berkaitan

    dengan aspek praksisnya atau penerapan komentar actual terhadap kitab

    suci. Dengan kata lain, hermeneutika adalah exegesis theorica,

    sedangakan exegesis practica adalah exegesis itu sendiri.56

    Kedua, heremeutika sebagai metodologi filologi. Bersamaan

    perkembangan rasionalisme, lahirnya filologi klasik pada abad 18 yang

    mempunyai pengaruh besar terhadap hermeneutika kitab suci.57 Karena

    munculnya filologi memberikan dorongan terhadap kajian kritik sejarah

    dalam teologi dan kitab suci.58

    Munculnya rasinoalisme membuat tugas exegeses menjadi

    bergeser, penafsir harus masuk kedalam arti teks yang bersangkutan

    dengan penggunaan akal budi yang bertujuan untuk menemukan

    kebenaran moral yang dimaksud dalam kitab suci. Dalam konteks

    filologi usaha menginterpretasikan elemen mistis dalam kitab suci

    bukan untuk melakukan demitologisasi. Dengan teknik analisis

    gramatika mufasir dapat menangkap konteks historisnya. Sejak abad

    pencerahan metode riset kitab suci tidak dapat dipisahkan dari filologi

    56Adang Kuswaya, Studi Kritis terhadap Metode Tafsir Tradisonal ala Hassan Hanafi, ( Salatiga: Penerbit STAIN Salatiga Press, 2009). Hlm, 28 Lihat, James Robinson, The New Hermeneutic, hlm. 1 57Richard E Palmer, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and

    Gadamer, terj. Masnur Hery dan Damanhuri Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 43 58Adang Kuswaya, Studi Kritis terhadap Metode Tafsir Tradisonal ala Hassan Hanafi, ( Salatiga:

    Penerbit STAIN Salatiga Press, 2009). hlm, 29

  • 32

    dengan kata lain, hermeneutika kitab suci selalu ada di bawah aturan

    dalam exegeses filologi.59

    Ketiga, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik.

    Dengan kata lain, pendekatan ini mengimplikasikan bahwa setiap teks

    kitab suci didalamnya pasti menggunakan bahasa tertentu, dan setiap

    bahasa memiliki kaidah ketata bahasaan atau gramatikal. Sehingga

    setiap makna dari teks kitab suci tersebut dapat dipahami dengan

    pendekatan gramatikal.60

    Keempat, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi ilmu-

    ilmu sosial kemanusiaan. Hermeneutika sebagai ilmu sosial

    kemanusiaan merupakan ilmu pengetahuan untuk mengungkapkan

    terdalam (bathiniah) kehidupan manusia dan menafsirkan perilau atau

    sikap sosial kemanusiaan.61

    Kelima, hermeneutika sebagai fenomologi das sein dan

    pemahaman eksistensial. Heremenutika sebagai fenomologi das sein

    merupakan studi terhadap bagaimana adanyanya keberadaan keseharian

    59Richard E Palmer, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and

    Gadamer, terj. Masnur Hery dan Damanhuri Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 43-

    44 Lihat, Adang Kuswaya, Studi Kritis terhadap Metode Tafsir Tradisonal ala Hassan Hanafi, ( Salatiga: Penerbit STAIN Salatiga Press, 2009). hlm. 29

    60Ibid, 46-47 Lihat, Adang Kuswaya, Studi Kritis terhadap Metode Tafsir Tradisonal ala Hassan

    Hanafi, ( Salatiga: Penerbit STAIN Salatiga Press, 2009). hlm. 30

    61Adang Kuswaya, Studi Kritis terhadap Metode Tafsir Tradisonal ala Hassan Hanafi, ( Salatiga:

    Penerbit STAIN Salatiga Press, 2009). hlm. 31 Lihat, Richard E Palmer, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, terj. Masnur Hery dan Damanhuri

    Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). hlm. 45-46

  • 33

    manusia di dunia. Dalam konteks ini hermeneutika gadamer merupakan

    suatu perjumpaan dengan being, ada melalui bahasa dengan

    menganalisis realitas manusia yang berdimensi linguistik.62 Keenam,

    hermeneutika sebagai sistem interpretasi. Merupakan keseluruhan

    aturan yang mengatur suatu tafsiran teks tertentu dengan meliputi tanda

    yang terkandung dalam teks.63

    6. Tipologi Hermeneutika Al-Qur’an

    Terkait tipologi pemikiran tafsir pada masa sekarang ini, para

    peniliti studi tafsir Al-Qur’an berbeda-beda. Rotraud Wielandt

    membagi pemikiran tafsir modern dan kontemporer menjadi enam

    macam yakni;

    a. Penafsiran yang didasarkan pada rasionalisme,64 pada masa ini

    hermeneutika Al-Qur’an di ilhami oleh modernitas barat yang lebih

    fokus meneliti demitologisasi konsep-konsep tententu dalam Al-

    Qur’an yang bersifat metodologis seperti konsep tentang mukjizat

    dan hal ghaib. Sedangkan di Mesir, Muhammad Abduh

    menyatakan hermeneutika Al-Qur’an bertumpu pada analisis sosial

    63Ibid, 32-35 Lihat, Richard E Palmer, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, terj. Masnur Hery dan Damanhuri Muhammed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

    2003). hlm. 46-49

    64Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta: Pesantren

    Nawesea Press, 2017), 52.

  • 34

    masyarakat.65 Hal ini di tegaskan oleh M Arkoun bahwa setiap

    pembaca atau pengarang tidak dapat lepas dari konteks sosial,

    politis psikologi, teologi dan konteks lainnya dalam ruang dan

    waktu tertentu, sehingga dalam memahami sejarah diperlukan

    tranformasi makna sehingga pemaknaan Al-Qur’an dapat

    berkembang sesuai zamannya.66 Seperti penafsiran yang disusun

    oleh Sayyed Ahmad Khan (1817 -1898), Amin Ali (1849-1928)

    dan Muhammad ‘Abduh (1849-1905).

    b. Penfasiran yang berdasarkan sains modern dan kontemporer,

    seperti penafsiran Thanthawi Jawhari.

    c. Penafsiran yang berangkat dari ilmu sastra (balaghah).

    Sebenarnya, penafsiran ini sudah ada dalam hermeneutika Al-

    Qur’an tradisional yakni dalam tradisi keilmuan al Bayan terutama

    Ushul Fiqh. seperti penafsiran Amin al-Khuli, Ahmad Muhammad

    Khalafallah dan ‘A’ isyah Abdurrahman (Bint al-Syathi).

    d. Penafsiran dengan prespektif historisitas teks Al-Qur’an. Aliran

    ini sangat menekanka pentingnya memperhatikan konteka sosiao-

    hintoris dalam proses pamahaman dan penafsiran terhadap teks Al-

    Qur’an baik situasi politik, sosial, historis, kultural dan ekonomi

    65Adang Kuswaya, Hermeneutika Al Quran: Model Riset Tafsir Sosio-Tematik, ( IAIN Salatiga: LP2M-Press.215), 22.

    66Ibid, 37.

  • 35

    pada masa Nabi Saw maupun pada masa sekarang seperti

    penafsiran Fazlur Rahman dan Nashr Hamid Abu Zayd.

    e. Penafsiran yang bernuansa kembali ke pemahaman generasi awal

    Islam, seperti penafsiran Sayyid Qutb dan Abu al-A’la al-

    Mauwdudi.

    f. Penafsiran secara tematik seperti pemikiran Hasan Hanafi.67

    67Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta: Pesantren

    Nawesea Press, 2017), 52-53

  • Halaman ini sengaja dikosongkan

  • BAB III

    BIOGRAFI SEYYED HOSSEIN NASR DAN PROFIL THE STUDY QURAN

    A NEW TRANSLATION AND COMMENTARY

    A. Biografi Seyyed Hossein Nasr

    Seyyed Hossein Nasr lahir di kota Teheran, Iran, pada tanggal

    7 April 1933 dari keluarga yang berpendidikan dan terhormat. Ayahnya

    bernama Seyyed Valiullah Nasr, beliau adalah seorang ulama besar

    sekaligus menjabat sebagai menteri pendidika dan dokter pada masa

    pemerintahan raja Syah Reza Pahlevi.68 Gelar Seyyed adalah sebutan

    kebangsawanan yang dianugerahkan oleh raja Syah Reza Pahlevi

    kepada keduanya.69 Nasr juga merupakan nama penghargaan yang

    memiliki arti kemenangan atau Victory of Physicion. Nama perhargaan

    tersebut diberikan kepada kakek Nasr dari Raja Persia atas

    pengabdiannya.70

    Keluarga Nasr adalah penganut aliran Syi’ah tradisional yang

    menjadi aliran teologi Islam. Selain itu, Nasr juga keturunan dari ulama

    68Aminrazavi dan Zailan Moris, The Complete Bibliography of the Works of Science of Hpssein Nasr

    from 1958-1993, (Kuala Lumpur: Islamic Academy of Science of Malaysia, 1994) 69Mehdi Aminrazavi, " Persia" dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Seyyed Hossein Nasr dan

    Oliver Leaman, (Bandung: Mizan, 2003), hlm, 1376-1380. Dalam,

    http://digilib.uinsby.ac.id/902/5/Bab%202.pdf, diakses 14 Agustus 2019. 70Ach. Maimun, Seyyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritual Menuju Paradigma Kosmologi

    Alternatif, (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2015). Hlm, 44 Lihat, nasrfoundation.org

    http://digilib.uinsby.ac.id/902/5/Bab%202.pdf

  • 38

    sufi Kashan yang bernama Mulla Seyyed Muhammad Taqi

    Poshtmashhad.71

    Pada masa pendidikannya di Iran, ketegangan telah mewarnai

    hubungan antara barat dan timur. Kebudayaan Barat telah

    mempengaruhi negara muslim dalam banyak hal yang bertentangan

    dengan islam tradisional. Dengan demikian, hal ini yang mendorong

    Nasr untuk belajar ke barat.Nasr memperoleh pendidikan trdisional di

    Iran pada usia 12 tahun. Pendidikan tradisional ini diperoleh secara

    informal dan formal. Pendidikan informalnya dia dapat dari keluarga,

    terutama dari ayahnya, sedangkan pendidikan tradisional formalnya

    diperoleh di madrasah Teheran.72 Kemudian, Nasr berangkat ke

    Amerika Serikat untuk menuntut ilmu. Mulailah kehidupan Nasr yang

    bertolak belakang dengan kehidupannya di Iran. Nasr belajar di The

    Peddie School Hightstown, New Jersey, Amerika Serikat dan dan

    selesai tahun 1950.73

    Kemudian melanjutkan ke Massacheusetts Institute of

    Technology (MIT),74 Dan Nasr mengenal pemikiran-pemikiran Timur,

    diantaranya ialah pemikiran Frithjof Schuon tentang perenialisme, Rene

    71Siti Fatimah, Pemikiran Tasawuf Seyyed Hossein Nasr: Pembahasan terhadap Buku Living Sufism, Skripsi Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1990). 72Ibid, hlm, 20 73Ibid, hlm. 46. 74Seyyed Hossein Nasr dan Ramin Jahanbegloo, In Search of The Sacred, (California: Peager, 2010).

    hlm. 36.

  • 39

    Guenon, A. K. Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan

    Martin Lings yang mempengaruhi intelektual dan spiritual Nasr.75

    Pada usia 25, Nasr menyelesaikan pendidikan Doktoral. Dalam

    menyelesaikan pendidikan formal atau non formal Seyyed Hssein Nasr

    bertemu dengan guru-guru hebat dan berlatar belakang intelektual dan

    spiritual yang bergama. Berikut pembahasan selanjutnya mengenai

    guru-guru Seyyed Hossein Nasr, karir Seyyed Hossein Nasr, Pemikiran

    beserta karya-karya Seyyed Hossein Nasr;

    1. Guru-guru Seyyed Hossein Nasr

    Bertrand Russsel membimbing Seyyed Hossein Nasr dalam

    memahami ilmu fisika dan matematika teoritis di MIT Massacheusetts

    of Technologi. Geogio De Santillana seorang metafisika yang

    mengenalkan Seyyed Hossein Nasr tantang metafisika dan keberagaman

    tradisi di timur mislanya tentang Hinduisme. George Sorton sebagai

    supervisi desertasi Seyyed Hossein Nasr pertama kemudian di lanjutkan

    oleh I.Bernard Cohe, H.A.R. Gibb dan Harry A. Wolfson.76

    Selama belajar di Harvard, Nasr juga memperluas cakrawala

    pemikirannya dengan mengunjungi beberapa kota, terutama Prancis,

    Switzerland, Inggris, Italia dan Spanyol. Dalam wisata intelektual, Nasr

    bertemu dengan Schuon dan Burkhardt yang dapat memperkuat

    75Ach. Maimun, Seyyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritual Menuju Paradigma Kosmologi

    Alternatif, (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2015). Hlm. 48. 76 Ibid Hlm, 48.

  • 40

    pandangan hidupnya. Selain itu, Nasr juga berjumpa dengan Syaikh

    Ahmad al-Alawi di Maroko. Tahun 1958, Seyyed Hossein Nasr belajar

    filsafat Islam dengan tokoh tradisional seperti, Muhamad Kazim Assar,

    Muhammad Husayn Thabathaba’I serta Sayyid Abu al-Hasan Qazwini.

    Nasr juga belajar dengan putri pendiri Tarekat Yashturiyah salah satu

    cabang tarekat Syadziliyah bernama Sayyidina Fatimah Yashrutiyah77

    2. Karir Seyyed Hossein Nasr

    Seyyed Hossin Nasr adalah guru besar studi Islam di George

    Washington University, Washington D.C. sekaligus seorang ilmuwan

    dalam bidang perbandingan agama, filsafat, sejarah sains dan seorang

    spiritual.78 Nasr mendapat gelar M.Sc pada tahun 1956 di Harvard

    University.

    Menyelesaikan pendidikan doktoral dan meraih gelar Ph. D

    tahun 1958. Setelah selesai dari pendidikan doktoral Nasr menjadi guru

    besar filsafat dan sejarah sains di Fakultas Sastra Universitas Teheren, 5

    tahun kemudian mendapat gelar Profesor termuda di Universitasnya.

    Seyyed Hossein Nasr juga berperan dalam memprakasai dibukanya

    jurusa Persia di Universitas Teheren. Tahun 1965, Nasr mengajar di

    universitas Harvard serta mengadakan seminar di universitas Princeton

    dan universitas Utah. Selain itu, Nasr rutin berdialog dengan sarjana

    77Seyyed Hossein Nasr dan Ramin Jahanbegloo, In Search of The Sacred, (California: Peager, 2010).

    hlm. 80. 78Ach. Maimun, Seyyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritual Menuju Paradigma Kosmologi

    Alternatif, (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2015). Hlm, 46.

  • 41

    terkemukau, seperti Huston Smith dan Jacob Needleman tokoh-tokoh

    serta para filsuf dan teologi Kristen. Di samping itu, Nasr juga aktif

    berdialog dengan tokoh-tokoh Katolik dan Syiah.79

    Tahun 1969-1972, Nasr menjabat Dekan Fakultas dan Tangan

    kanannya Rektor di bidang akademik. Melalui jabatan ini, Seyyed

    Hossein Nasr mengembangkan programnya dalam bidang ilmu

    humanities dan filsafat. Tahun 1972, Seyyed Hossein Nasr ditunjuk oleh

    Syah Iran sebagai pempinan Arymehr dan memprakasi studi filsafat

    sains dan filsafat sains Islam. tahun 1973, di tunjuk Ratu Iran untuk

    memimpin Akademi Filsafat Kekaisaran Iran. Tahun 1966, Nasr

    memberikan perkuliahan Rockefeller di Chicago dengan topik, aspek-

    aspek hubungan antara agama, filsafat dan krisis lingkungan. Nasr tetap

    aktif mengajar di Universitas Harvard (1952-1965) dan mengisi seminar

    di UniversitasPrinceto dan Universitas Utah. Kemudian tahun 1977,

    Nasr memberikan kuliah kevorkian tentang makna filsafat seni Islam di

    Universitas New York. Tahun berikutnya, Nasr memberi kuliah

    Wiegand tentang filsafat dan agama di Universitas Toronto Kanada dan

    terlibat dalam pembentukan seksi Hermetisisme dan filsafat perennial di

    Akademi Agama Amerika. Nasr juga banyak terlibat diskusi serta

    79Ibid, 53

  • 42

    dialog dengan para filsuf dan teolog Kristen maupun Yahudi seperti,

    Hans Kung, Jhon Hick dan Rabbi Izmar Schorch.80

    Tahun selanjutnya, 1990, Nasr terpilih sebagai pelindung The

    Center for the Study of Islam and Christian Muslim Realition di Sally

    Oaks College Birmingham dan terpilihnya Nasr sebagai anggotan

    parlemen Agama-agama Dunia tahun 1993. Pada tahun ini, Nasr juga

    menghadiri Nasr juga termasuk salah satu anggota Temenos Academy.

    Nasr juga termasuk salah satu anggota Temenos Academy dan

    menerbitkan karya Religion and The Order of Naturepada pada 1994.81

    Demikian aktivitas Nasr yang lebih ditunjukan dalam

    sosialisasi gagasan melalui karya-karyanya dan prestasi lainnya

    menjadikan sebagai gagasan tawaran dalam menyikapi seluruh ajaran

    tradisional agama.

    3. Pemikiran Seyyed Hossein Nasr

    Pemikiran Nasr merambah pada kajian berikut: hermeneutika

    dan studi Islam. Dalam studi Islam, pemikiran Nasr menyentuh tiga hal

    yaitu doktrin dan pemikiran yang meliputi disiplin tradisional Islam

    seperti filsafat, tasawuf, kalam serta fiqih, sains Islam dan seni Islam.

    80Abdullatif Ahmadi Ramchahi ddk., “Seyyed Hossein Nasr’s Perspective on the Theory of Islamization

    of Knowledge”, International Journal of Contemporary Applied Sciences 3, No.5 (Mei 2016): 30 81Asfa Widianto, The Reception of Seyyed Hossein Nasr’s Ideas within the Indonesian Intellectual

    Landscape, Studia Islamika 23, No.5 (2015), 195.

  • 43

    klasifikasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembagian yang ketat,

    tetapi lebih sebagaia upaya untuk mempermudah pemetaan.82

    a. Studi Islam

    Dalam pandangan Nasr, studi Islam yang ada telah mereduksi

    Islam dalam makna hakikinya. Reduksi tersebut diakibatkan oleh

    kemiskinan perspektif yang mampu menghadirkan kesatuan fenomena

    Islam yang beragam.83 Dalam fenomena tersebut, Nasr selalu berusaha

    menampilkan dimensi esotoriknya yang berujung pada kesatuan pada

    dimensi yang lebih tinggi. Dalam hukum Islam, Nasr membedakan

    hukum semitik dengan konsepsi modern. Konsepsi hukum semitik

    merupakan pengejawantahan kehendak ilahiah. Dengan nuansa

    tradisional Nasr melihat hukum dalam kerangka transedental dan

    keyakinan akan nilai manfaat serta kesesuaian. Sementara kajian tentang

    ilmu kalam, Nasr merujuk pada satu sumber yang bertujuan sama

    dengan inti ajaran Islam.84

    Dalam kajian terhadap sejarah dan pemikiran kalam, Nasr

    memberi apresiasi dan interpretasi spiritual atas konsep automisme

    Asy’ariyah atau occasionalisme. Automisme konseptual yang

    mendominasi sunni menentang kontinuitas sebab horizontal pada

    realitas jagat raya dalam metra, ruang dan waktunya. Dengan keyakinan

    82Ach. Maimun, Seyyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritual Menuju Paradigma Kosmologi

    Alternatif, (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2015). 57. 83Ibid, 77 84Ibid, 80

  • 44

    terhadap diskontinuitas sebab horizontal atau konsep atau konsepsi

    kausal kaum filsuf dan saintis, konsep tersebut menegaskan Tuhan

    sebagai satu-satunya sebab. Pada hakikatnya, konsep kausal para filsuf

    dan saintis menekanan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari

    serta penegasan kehendak-Nya dalam memutar kehidupan. Segalanya

    disebabkan oleh Tuhan sebagai sebab Adikodrati. Dengan konsep itu,

    manusia akan selalu diingat akan kehadiran Ilahiah sekaligus

    penghubung yang transenden dengan kehidupan sehari-hari. Atomisme

    dinilai Nasr memiliki akar dalam karakter spesifik Islam yang

    menetapkan transendensi absolut dasar Ilahiah dan ketiadaan segala hal

    yang lain.85

    Pemikiran Nasr dalam fiqih dan kalam memang tidak banyak,

    tetapi mencerminkan konsistensi pandangan dunianya sebagai

    tradisionalis. Dalam filsafat, Nasr tidak lepas dari paradigma filsafat

    perennial yang dianutnya. Baginya kebenaran universal dan hakiki

    hanya terdapat dalam rumah transendental. Akar tradisi filsafat yang

    demikian dapat dilacak pada neoplatonisme yang membentuk aliran

    iluminasi sebagai lawan peripatetik. Bidang tasawuf merupakan jantung

    pemikiran Nasr yang menyebar dan mewarnai pemikiran dalam bidang

    lainnya. Dalam tasawuf, Nasr menggabung tasawuf falsafi dan sunni

    dan juga tasawuf praktis dan teoritis. Sebagai orang tradisional, Nasr

    85Ibid, 81

  • 45

    tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai fondasi tasawuf. Sebab,

    kitab suci itulah yang mengajarkan manusia tentang hal yang bisa

    diketahui dan menjadi pembimbing menuju tujuan penciptanya.

    Tasawuf bertujuan membebaskan manusia dari kemajemukan realitas

    semu, membersihkan dari kemunafikan sehingga menjadi suci

    sebagaimana fitrahnya. Orang yang berhasil mencapai tujuan tersebut

    akan menjadi manusia universal.86

    Meskipun, pemikiran Nasr masih terlihat adanya pengaruh dari

    filsafat perennial. Akan tetapi, dalam hal ini Nasr mampu memberi

    intrepretasi baru terhadap tasawuf dengan tuntutan era kontemporer.

    Nasr menghadirkan tasawuf sebagai solusi krisi modernitas serta

    sanggahan atas kecenderungan spiritual yang dinilainya menyimpang,

    sekaligus jawaban bagi kaum modernis muslim yang anti dengan segala

    hal yang berbau mistis dan metafisika. Pemikiran tasawuf turut

    mewarnai pemikiran Nasr dalam bidang sains. Baginya, sains Islam

    termasuk salah satu manifestasi dimensi spiritual-esoterik yang menjadi

    inti Islam. Manifestasi lain dari Islam transendental ialah gagasan

    spiritual seni yang dilihat dari dua sisi yaitu, dari proses kelahiran dan

    fungsinya. Dari sisi fungsinya, seni Islam termasuk salah satu sarana

    menghadirkan Allah dalam kehidupan. Adapun sumbangan Nasr dalam

    seni perspektif spiritual ialah sastra, musik, tata ruang, dan arsitektur

    86Ibid, 87

  • 46

    yang disajikan secara filosofis. Dengan demikian bahasa seni dapat

    menjadi bahasa media komunikasi.87

    Dalam bidang studi sains, titik pemikiran terfokus pada kritik

    terhadap sains modern. Menurut Nasr, sains telah keluar dari peran

    fungsi dan aplikasi yang seharusnya, sehingga membawa dampak

    negatif terhadap ekologi maupun krisis manusia. Paradigma sains

    modern tersebut menjadi masalah bagi Nasr, karena telah menyebabkan

    desakralisasi terhadap alam dan menjelma saintisme yaitu sebuah

    keyakina yang dinilai absolut dan menolak kebenaran lain. Pelepasan

    dari dogmatisme gereja, sains modern justru buta terhadap dimensi

    kebenaran lain, sedangkan mekanisasi alam mengantarnya pada

    eksploitasi tanpa ampun.88

    Untuk mengatasi persoalan ini, Nasr menawarkan paradigma

    baru dengan merombak cara pandang terhadap alam dan filsafat alam

    (kosmologi) tradisional sebagaimana diajarkan oleh scientia sacra.

    Selain itu, Nasr ingin mengingatkan masyarakat pada teologi natural

    (natural theology) dan ajaran Plotinus yang melihat alam sebagai

    sesuatu yang sakral, suci, dan jalan menuju Tuhan. Menurut Nasr,

    pendekatan yang dinilai lebih adil untuk memahami agama secara utuh

    adalah pendekatan kaum tradisional yang tak lain adalah pendekatan

    filsafat perennial. Pendekatan ini menjanjikan dua hal yaitu, pertama

    87Ibid, 76-94. 88Ibid, 69

  • 47

    pengetahuan yang terletak di jantung agama bisa memancarkan makna

    ritus-ritus, doktrin dan simbol keagamaan. Kedua kunci untuk

    memahami keniscayaan pluralitas agama dan jalan untuk menembus

    alam agama lain dalam pengkajiannya tanpa harus mereduksi makna

    penting dan komitmen iman pada agama yang dianutnya sendiri.89

    Sebagai peneliti agama, perhatian filsafat perennial ditunjukan

    kepada dimensi transhistoris yakni menembus kawasan di balik realitas

    kasat mata untuk menyingkap makna dan pengetahuan ilahiah yang

    unversal melintas batas ruang maupun waktu. Oleh karena itu,

    pendekatan ini harus sesuai dengan teori filsafat perennial tentang

    realitas hakiki, sedangkan realitas kasat mata hanya sebatas manifestasi.

    Bukan berarti kaum perennial menyangkal aspek-aspek sosial-hinstoris,

    tetapi menilai sebagai manifestasi semata dari hakikat agama. Menurut

    kaum perennial, pendekatan semacam ini bisa memberi kemungkinan

    untuk mengembangkan teologi perbandingan agama yang lebih adil di

    tengah pluralitas agama dan memberi peluang kepada peneliti untuk

    melintas ke wilayah agama lain tanpa beban teologis. Dengan gagasan

    ini, Nasr menyebutnya sebagai relatively-absolute, karena manifestasi

    agama itu berbeda-beda tetapi absolut. Tampak dalam studi agama, Nasr

    masih konsisten dengan pendekatan perennial. Karena tanpa pendekatan

    89Ibid, 72

  • 48

    tersebut, Nasr tidak akan pernah menemukan pengetahuan suci yang

    merupakan iluminasi dari langit tentang hakikat agama.90

    b. Hermeneutika Alquran

    Penulis beranggapan bahwa Hermeneutika Seyyed Hossein

    Nasr lebih tergolong kepada hermeneutika yang memiliki tipologi

    kembali kepada pendapat genersi awal. Hal tersebut akan penulis coba

    jelaskan pada bab-bab selanjutnya yang akan membahas tentang

    Pengertian, Tioplogi dan Model-Model Hermeneutika serta

    Hermeneutika Tradisional. Akan tetapi generasi awal ini bukan generasi

    tabi’in atau sahabat, menurut Seyyed Hossein Nasr generasi awal adalah

    para ulama tradisional yang kitabnya sudah dibaca dan menjadi sebagai

    kitab rujukan.91

    Hermeneutika tradisional merupakan interpretasi atas

    obyektifitas makna dalam ayat Al-Qur’an melalui pendekatan tradisi.

    Tradisi disini di artikan Seyyed Hossein Nasr sebagai pendekatan

    penafsiran melalui pendapat mufasir terdahulu dengan mengedepankan

    filolofi dan morfologi. Itulah prinsip penafsiran Seyyed Hossein Nasr

    dalam metode hermeneutikanya. Dia memilih karya-karya yang paling

    otoritatif dan banyak dibaca. Dia juga tidak segan-segan menggunakan

    90Ibid, 74-76.

    Seyyed Hossein Nasr (dkk), The Study Quran A New Translation and Commentary (New York:

    HarperOne, 2015), xIiii

  • 49

    referensi dari ulama tafsir dari kalangan Sunni dan Syiah.92 Sehingga,

    penafsiran Al-Qur’an dalam pendekatan ini sangat terbatas jika

    dikaitkan dengan nilai-nilai etika dasar.

    4. Karya Seyyed Hossein Nasr

    Berbagai karya yang lahir dari produktivitas Nasr, memiliki

    paradigma, pendekatan dan metodologi tertentu yang tidak terlepas dari

    sense of crisis (kepekaan terhadap suasana).93 Berikut karya-karya

    Seyyed Hossein Nasr:

    a. Islamic Sudies

    Awal penulisan Seyyed Hossein Nasr dimulai dari penulisan

    Desertasi Conception of Nature in Islamic Thought and Methods Used

    for Its Study by the Ikhwan al-Salaf, al-Biruni and Ibnu Sina tahun 1958

    yang kemudian dipublikasikan oleh Harvard University Press pada

    tahun 1964 dengan judul “An Introduction to Islamic Cosmological

    Doctrines”. Kemudian berkat bantuan William Chittick, Nasr

    menerbitkan Bibliografi Sains Islam tiga volume disertai anotasi bahasa

    Inggris dan Persia. Bersamaan dengan itu Seyyed Hossein Nasr

    menerbitkan beberapa kritis naskah filsafat ke dalam berbagai edisi

    seperti, edisi Persia dengan karya Suhrawardi al-Maqtul dan Mulla

    Sadra, dan naskah Arab karya Ibnu Sina dan al-Biruni. Pada tahun 1962,

    92Ibid, xIiii. 93Ach. Maimun, Seyyed Hossein Nasr: Pergulatan Sains dan Spiritual Menuju Paradigma Kosmologi

    Alternatif, (Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD, 2015), 60.

  • 50

    Nasr juga menerbitkan karyanya diantaranya, Ceenter of Study of World

    Relegions yang membahas seluruh tradisi intelektual Islam dari ajaran

    agama Islam. kemudian buku ini, menginspirasi Nasr untuk terus

    berkarya dan menerbitkan Science and Civilization in Islam yang

    kemudian menjadi buku wajib perkuliahan filsafat dan sains di

    Universitas Iran.94

    Buku Nasr yang lain berjudul Ideal and Realities of Islam,

    Islamic Studies yang membahas aspek-aspek fundamental tradisi Islam.

    buku tersebut dikembangkan dan diterbitkan kembali dengan judul

    Islamic Life and Thought. Tahun 1966, selanjutnya Nasr menerbitkan

    karyanya yang berjudul Man and Nature:The Spiritual Crisis of Modern

    Man merupakan buku pertama Nasr yang membah