hasil dan pembahasan - .hasil dan pembahasan . budidaya cabai keriting hibrida tm 999 secara...

Download HASIL DAN PEMBAHASAN - .HASIL DAN PEMBAHASAN . Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional

Post on 06-Mar-2019

221 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

HASIL DAN PEMBAHASAN

Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT

Budidaya konvensional merupakan budidaya cabai yang menggunakan

pestisida kimia secara intensif dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman.

Sebagian besar petani di Indonesia menerapkan budidaya jenis ini dalam

mengembangkan tanaman cabai. Penggunaan pestisida kimia yang intensif pada

kegiatan budidaya menimbulkan dampak negatif yang besar bagi tanaman,

lingkungan dan manusia (Igbedioh 1991). Penggunaan pestisida kimia yang

intensif dipicu oleh minimnya informasi mengenai teknologi budidaya tanaman

yang ramah lingkungan dan tingginya tingkat kekhawatiran petani terhadap

kemungkinan gagal panen. Kondisi ini diperparah dengan cara aplikasi pestisida

kimia yang tidak sesuai dengan aturan dan dosis yang berlaku.

Besarnya dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia

mengharuskan adanya pembatasan atau pengurangan penggunaannya dalam

budidaya tanaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan

menerapkan budidaya tanaman secara pengendalian hama terpadu (PHT). PHT

merupakan strategi budidaya tanaman yang menerapkan pendekatan budidaya

alami dan ramah lingkungan. Konsep budidaya PHT telah terbukti mampu

meminimalisir penggunaan pestisida kimia dalam kegiatan budidaya tanaman.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan memanfaatkan agen

antagonis, musuh alami dan meningkatkan ketahanan alami tanaman. Penggunaan

pestisida kimia dalam budidaya PHT hanya dilakukan ketika upaya pengendalian

yang lain gagal dan disesuaikan dengan nilai ambang ekonomi, sehingga kerugian

ekonomi pada budidaya cabai dapat dihindari.

Budidaya konvensional yang diterapkan pada penelitian ini mengadopsi

praktik budidaya cabai yang dilakukan oleh petani, mulai dari pengolahan lahan

sampai dengan panen. Praktik budidaya cabai konvensional yang dilakukan pada

penelitian ini disajikan secara lengkap di dalam lampiran. Aplikasi pestisida kimia

dalam budidaya konvensional tidak sepenuhnya sama dengan yang dilakukan oleh

petani, penelitian ini hanya mengadopsi jenis-jenis pestisida kimia yang umum

digunakan oleh petani dalam megendalikan hama dan penyakit pada budidaya

cabai keriting hibrida TM 999. Jenis pestisida kimia yang digunakan umumnya

dikenal dengan nama dagang Dithane, Curacron, Antracol dan Actara.

Budidaya PHT yang dilakukan dalam penelitian ini memanfaatkan beberapa

jenis bakteri yang telah terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan dan

perkembangan tanaman, serta membantu meningkatkan sistem ketahanan alami

tanaman. Bakteri yang digunakan adalah Bacillus polymixa dan Pseudomonas

fluorrescens yang terkandung dalam Actigrow, bakteri ini termasuk dalam

kelompok plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). PGPR merupakan

kelompok bakteri yang hidup pada perakaran tanaman, bakteri ini mampu

mengikat nitrogen bebas dari alam dan mengubahnya menjadi amonia yang

kemudian dimanfaatkan oleh tanaman. PGPR juga mampu menginduksi sistem

ketahan tanaman, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan hama

16

dan penyakit (Kaymak 2010). Aplikasi kedua bakteri ini juga membantu

meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai keriting dengan

cara memproduksi zat pengatur tumbuhan (ZPT) dan meningkatkan penyerapan

fosfat pada akar tanaman. Selain itu, kedua bakteri ini juga mampu merangsang

pembentukan antibodi dan fitoaleksin pada tanaman yang membantu

meningkatkan kesehatan tanaman (Dardanelli 2010).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat bahwa budidaya

PHT mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi cabai keriting

hibrida TM 999, namun masih kurang begitu baik dalam mengendalikan

keberadaan hama dan penyakit. Secara umum, kedua jenis budidaya yang

dilakukan pada penelitian ini memberikan hasil yang hampir sama terhadap

budidaya cabai keriting hibrida TM 999. Uji selang ganda Duncan yang dilakukan

terhadap hasil penelitian tidak menunjukkan adanya nilai beda nyata yang

signifikan diantara kedua jenis budidaya yang dilakukan.

Pertumbuhan Tanaman Cabai Keriting Hibrida TM 999

Berdasarkan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman, budidaya cabai

keriting hibrida TM 999 secara PHT menunjukkan hasil yang lebih baik daripada

konvensional. Secara umum pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999

pada petak PHT terlihat lebih cepat, tanaman tumbuh lebih subur dan

perkembangan tanaman optimal. Budidaya PHT membantu tanaman cabai

keriting hibrida TM 999 mengoptimalkan unsur-unsur penting yang

dibutuhkannya, sehingga tanaman mampu berkembang dengan baik.

Parameter yang diamati seperti tinggi tanaman, tinggi cabang dikotom,

diameter dan jumlah cabang menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada

budidaya cabai secara PHT. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa parameter

tinggi tanaman pada budidaya keriting hibrida TM 999 secara PHT memiliki nilai

yang lebih tinggi daripada konvensional, walaupun setelah dilakukan uji lanjut

tidak menunjukkan adanya nilai beda nyata diantara kedua jenis budidaya yang

dilakukan. Perbedaan tertinggi dapat dilihat pada pengamatan ke-2 mst. Tinggi

cabang dikotom adalah tinggi tanaman dimana cabang pertama mulai terbentuk.

Budidaya cabai keriting hibrida TM 999 secara PHT menunjukkan nilai tinggi

cabang dikotom yang lebih tinggi daripada konvensional, perbedaan tertinggi

terlihat pada pengamatan ke-4 mst.

Parameter berikutnya yang diamati adalah diameter batang tanaman cabai

keriting hibrida TM 999, dari 3 kali pengamatan yang telah dilakukan hanya

pengamatan ke-2 mst yang menunjukkan adanya tingkat perbedaan nyata. Jumlah

cabang berkorelasi positif dengan kemampuan tanaman cabai keriting hibrida TM

999 dalam menghasilkan buah, semakin banyak cabang yang dihasilkan maka

kemungkinan buah yang dihasilkan akan semakin besar. Budidaya PHT

menghasilkan jumlah cabang yang lebih banyak daripada konvensional,

perbedaan tertinggi terlihat pada pengamatan ke-2 mst.

17

Tabel 1 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada petak

konvensional dan PHT di desa Cibatok I, Cibungbulang, Bogor 2010

Sifat agronomi Umur saat

pengamatan (mst) Konvensional PHT

Tinggi tanaman

2 31.53a 46.80a

4 66.80a 75.20a

10 74.67a 80.00a

Tinggi cabang

Dikotom

2 17.13a 30.73a

4 29.97a 33.93a

10 31.47a 34.30a

Diameter

2 0.49a 0.66a

4 0.91b 1.06a

10 1.03a 1.14a

Jumlah cabang

2 5.73a 12.47a

4 39.13a 52.27a

10 91.00a 89.87a

Keterangan: Angka pada baris yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan

tidak berbeda nyata pada taraf = 5 % berdasarkan uji selang ganda Duncan

Aplikasi mikroorganisme bermanfaat seperti Bacillus polymyxa dan

Pseudomonas fluorescens yang dilakukan pada budidaya PHT mampu memacu

pertumbuhan tanaman cabai. Kedua mikroorganisme tersebut merupakan bagian

dari plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) yang berfungsi sebagi pupuk

hayati (Vessey 2003). PGPR mampu mengikat nitrogen bebas di udara dan

mengubahnya menjadi senyawa yang siap diserap oleh tanaman (Dardanelli et al.

2010). PGPR juga mampu menekan keberadaan penyakit pada tanaman dengan

cara menstimulus pembentukan ketahanan tanaman. Selain itu budidaya PHT juga

memberikan ruang bagi perkembangan organisme lain yang bermanfaat bagi

tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kondisi

inilah yang menjadikan PHT mempunyai nilai lebih dalam pengembangan

pertanian berkelanjutan (Heinrichs et al. 2009).

18

(a) (b) (c)

Gambar 2 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada budidaya

Konvensional: (a) 2 mst, (b) 4 mst, (c) 10 mst

(a) (b) (c)

Gambar 3 Pertumbuhan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada budidaya

PHT: (a) 2 mst, (b) 4 mst, (c) 10 mst

Perkembangan Hama dan Penyakit

Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Gejala serangan thrips terlihat dari adanya bercak berwarna putih atau

keperakan yang tidak beraturan pada daun cabai. Setelah beberapa waktu bercak

tersebut akan berubah menjadi cokelat tembaga. Daun cabai yang terserang akan

mengeriting/keriput dan kemudian mati. Serangan berat menyebabkan pucuk daun

menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor. Keberadaan thrips

menyebabkan pertumbuhan tanaman cabai terganggu, tanaman menjadi kerdil

atau bahkan mati pucuk. Terhambatnya pertumbuhan tanaman cabai keriting

hibrida TM 999 pada lahan penelitian menyebabkan terganggunya proses

produksi buah.

Berdasarkan Tabel 2, aplikasi Fitplanta dan insektisida kimia pada tanaman

cabai keriting hibrida TM 999 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang

signifikan dalam mengendalikan keberadaan thrips. Kerusakan yang ditimbulk

Recommended

View more >