hama dan penyakit tanaman jagung

Download Hama Dan Penyakit Tanaman Jagung

Post on 17-Jul-2015

2.719 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

0

MAKALAH

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG (Zea mays)

Disusun oleh Nur Machfiroh Nurul Amanah H0710079 H0710080

Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Semusim dan Tahunan

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

1

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG (Zea mays) Secara umum, hama dapat diartikan sebagai semua bentuk gangguan pada manusia, ternak, dan tanaman. Secara khusus, hama diartikan sebagai semua hewan yang merusak tanaman atau hasilnya karena aktivitas hidupnya sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomis. Hewan yang dapat menjadi hama antara lain serangga, tungau, tikus, burung, dan mamalia besar. Penyakit diartikan sebagai gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Penyakit tidak memakan tanaman melainkan merusak tanaman dengan mengganggu proses-proses dalam di dalamnya. Tanaman yang terserang penyakit umumnya memiliki bagian tubuh yang utuh, tetapi aktivitas hidupnya terganggu sehingga dapat mengalami kematian. Jagung (Zea mays) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Di beberapa daerah, seperti Madura dan Nusa Tenggara, jagung bahkan dijadikan sebagai makanan pokok. Jagung diminati karena memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Dalam 100 gram jagung terkandung kalori (355 kal), protein (9,2 gram), lemak (3,9 gram), karbohidrat (73,7 gram), kalsium (10 mg), fosfor (256 mg), ferum (2,4 mg), vitamin A (510 SI), vitamin B1 (0,38 mg), air (12 gram) (Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia). Kandungan ini bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan beras. Jagung memiliki banyak manfaat, tetapi tidak sedikit pula kendala yang dihadapi dalam membudidayakan tanaman ini akibat adanya serangan hama maupun penyakit. Hama tanaman jagung menyerang sejak fase awal tanam hingga panen. Jadi, perlu adanya pemantauan dan pengendalian selama proses budidaya berlangsung. Berikut adalah berbagai macam hama yang menyerang tanaman jagung. 1. Lalat Bibit Jagung (Agromyza exigua-Srein) Lalat dewasa berukuran kecil (3-3,5 mm), berwarna abu-abu kehitaman. Bagian perut berwarna kekuningan, telur berbentuk oval memanjang, berwarna oval muda dengan ukuran 0,33 x 1,55 mm. Larva yang baru menetas berwarna putih krem bening kemudian berubah menjadi kekuningan pada instar berikutnya. Larva tidak bertungkai, bagian kepala

1

2

tumpul dan bagian ujung belakangnya runcing. Larva instar akhir dapat mencapai ukuran 8,5 mm. Pupa berwarna coklat gelap, berbentuk tong dengan bagian ujung yang tumpul. Hama ini menyerang pada fase awal tanaman, terutama pada musim awal penghujan. Tanaman terserang pada umur 4-10 hari. Lalat aktif pada sore hari antara jam 16.00-19.00. Lalat betina dewasa meletakkan telur sebanyak 18 butir pada salah satu permukaan daun termuda, seminggu setelah kawin. Telurnya diletakkan secara terpisah satu per satu sesaat setelah tanaman tumbuh sampai tanaman berumur dua minggu. Meskipun banyak telur yang diletakkan pada permukaan daun tetapi hanya satu larva yang tumbuh pada satu tanaman. Untuk berkembang larva membutuhkan kelembaban yang tinggi. Itulah sebabnya serangan hama ini hanya terjadi pada musim hujan. Gejala akibat serangan lalat bibit jagung mirip yaitu bagian daun termuda menjadi layu, berwarna kekuningan yang apabila dicabut maka akan lepas dengan mudah dan tampak membusuk. Hal ini disebabkan terputusnya sebagian jalan translokasi bahan makanan dalam batang yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Pada serangan yang berat, tanaman akan segera mati. Bilamana tanaman tersebut sembuh, namun daun-daunnya akan kelihatan kering dengan bercak yang memanjang. Melihat kerusakan tersebut, ada beberapa cara untuk mengatasinya yaitu a. Kultur Teknis/Pola Tanam Lalat bibit aktif hanya pada musim penghujan sehingga dengan mengubah waktu tanam maka jagung dapat terhindar dari serangan lalat bibit, tanam serempak dan tidak menanam pada awal musim penghujan. b. Sanitasi Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan agar tidak menyebar ke tanaman yang sehat. c. Pada daerah endemi pengendalian dilakukan dengan perlakuan benih dengan insektisida.

3

2. Kutu Daun (Rhopalosiphum Aphis maidis-Fitch) Hama kutu daun berwarna hijau pucat berukuran kecil, panjang 2 mm, siphunculi pendek dan pada ujung kaudal terdapat seta yang jelas. Ada serangga yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Jenis yang bersayap berwarna kuning kehijauan, sayapnya dua pasang, tipis dan tembus cahaya. Bentuk nimfa mirip serangga dewasa, tidak bersayap dan berukuran lebih kecil. Bila makanan cukup tersedia, sebagian besar serangga ini ada dalam bentuk tidak bersayap. Kutu daun berkembang secara partenogenetik, ovipar dan ovovivipar. Kerusakan akibat serangga ini yaitu daun menguning dan selanjutnya mengering. Selain menyerang daun, hama ini juga menyerang bunga jantan dan bunga betina sehingga tongkol tidak terisi. Hama ini juga sebagai vektor patogen tanaman yaitu mosaik pada tebu. Hama ini dapat menularkan patogen dari tanaman tebu ke tebu, dari tebu ke sorghum, jagung dan rumput liar. Beberapa upaya pengendalian untuk mengatasi kerusakan akibat hama kutu daun diantaranya a. Penggunaan varietas tahan. Varietas dengan bulu tegak lebih tahan serangan daripada varietas dengan bulu tidur. b. Pelepasan musuh alami berupa predator Coccinelids, lalat syrpids dan larva Chrysopa sp.

4

c. Aplikasi insektisida apabila telah melampaui ambang ekonomi dan ditemukan gejala serangan virus.

3. Hama Uret Warna kumbang coklat kemerahan, panjangnya kurang lebih 12,5-14 mm. Kumbang meletakkan telurnya di dalam tanah sedalam 520 cm. Pada awalnya larva hanya makan bahan organik (humus) dan kotoran lainnya, tetapi larva yang besar akan memakan akar-akar tanaman yang masih hidup, bahkan memakan kulit batang yang berada dalam tanah sehingga menyebabkan tanaman mati. Kumbang aktif pada mulai senja dan pada waktu fajar kembali masuk tanah. Kumbang makan daun tetapi kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu terlihat. Bila larva memakan daun jagung maka akan menyebabkan tanaman kelihatan tidak segar, kekuning-kuningan, kerdil dan akhirnya mati. Apabila tanaman itu tidak mati maka tanaman akan tetap kerdil dan biji buahnya hanya sedikit. Untuk mengatasi kerusakan tersebut, ada beberapa upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu a. Pratanam Pengolahan tanah dimana tanah dibalik, larva dikumpulkan atau kumbang ditangkap secara fisik, dan dengan menggenangi lahan secara fisik. b. Biologis dengan Penggunaan parasitoid larva c. Kimiawi Aplikasi insektisida granular hanya efektif dilakukan pada barisan yang akan ditanami. Insektisida tersebut ditutup tanah bersamaan dengan waktu tanam. Pengendalian perlu dilakukan pada jagung fase vegetatif (14-41

5

HST) apabila populasinya mengkhawatirkan. Dosis rendah efektif untuk mengendalikan uret instar satu dan dua yang banyak ditemukan pad awal musim hujan. 4. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Larva instar awal berwarna hijau muda atau hijau tua sampai seperti hitam dengan garis samping yang sempit.larva instar akhir berwarna kelabu tua atau muda dengan garis samping yang jelas. Ngengat betina meletakkan telur dalam barisan memanjang, di balik daun bagian dasar. Satu ngengat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 400 butir. Stadium telur sekitar 5 hari. Stadia larva sekitar 18 hari. Selanjutnya larva masuk ke tanah dan membentuk pupa 4 cm di bawah tanah. Stadia pupa sekitar 18 hari dan siklus hidup hama ini rata-rata 31 hari. Larva aktif pada malam hari. Pada siang hari larva bersembunyi di bawah pohon atau didalam tanah. Seringkali hama tidak terlihat tetapi kerusakan yang diakibatkan cukup berat. Larva ini memakan bagian tepi daun yang lunak dan larva yang sudah besar memakan seluruh bagian daun kecuali bagian tulang yang ada di tengah. Bila serangannya berat maka daun akan terlihat berserakan diatas tanah dan akhirnya tanaman akan mati. Upaya pengendalian untuk mengatasi masalah kerusakan tersebut yaitu a. Pengendalian dilakukan pada instar awal, yaitu secara mekanik dengan menekan larva yang masih kecil yang mengelompok dibagian pucuk. b. Pemberian musuh alami seperti katak, burung dan beberapa tumbuhan parasitoid. c. Aplikasi insektisida setelah populasi hama mencapai ambang ekonomi pada tanaman sampai umur 42 HST yaitu pada larva instar awal.

6

5. Ulat Tanah Telur bulat putih dengan diameter 0,5 mm. Setelah berkembang penuh panjang larva dapat mencapai 25-35 mm. Telur diletakkan pada permukaan tanah yang lembab. Jumlah telur per ekor betina mencapai 1500 butir. Larva aktif pada siang hari dan pada siang hari bersembunyi di dalam tanah. Larva muda memakan daun pada berbagai inang. Larva yang tua makan pada pangkal tanaman atau akar dan batang yang ada di dalam tanah. Tanaman muda akan dipotong pada bagian pangkalnya sehingga tanaman akan mati. Satu larva dapat merusak banyak tanaman muda dalam satu malam. Untuk mengatasi kerusakan tersebut ada beberapa upaya pengendalian yang dapat dilakukan seperti: a. Pengendalian pratanam, yaitu dengan sanitasi sisa-sisa tanaman jagung. Pengolahan tanah membalik tanah dan penggenangan lahan. Tanah diberi mulsa jerami dan kemudian dibakar. b. Larva dikumpulkan dari celah tanah kemudain dibunuh atau diberi umpan dan kemudian ditangkap. c. Pemberian musuh alami berupa tumbuhan parasitoid. d. Pengendalian secara kimiawi dilakukan apabila serangan

mengkhawatirkan.

7

6. Penggerek Batang Serangga betina yang sudah dewasa meletakkan telur secara berkelompok sebanyak 1040 butir di bawah daun. Selama hidupnya sekitar satu minggu mampu menghasilkan 500-1500 butir telur. Stadia telur 310 hari dan stadia larva berkisar 34 minggu. Larva instar awal pada mulanya makan daun sebelah bawah. Selanjutnya larva membuat gerekan pada tulang daun. Pada instar berikutnya membuat gerekan pada batang, biasanya dekat pada bata