green campus

Download Green Campus

Post on 08-Apr-2016

539 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sds

TRANSCRIPT

Green Campus, yang berarti Kampus Hijau memiliki makna yang luas Green atau dengan sebutan Green Leaves sering diartikan dengan generasi muda Indonesia adalah bibit-bibit unggul yang masih hijau dan green campus berpotensi melahirkan generasi pribadi yang matang dan berguna bagi bangsa dan negara. Green dalam konteks Green Power berarti kekuatanfinancial. Green Campus sebagai kampus yang dapat memberikan power untuk menopang seluruh aktifitas perkuliahan bertujuan menciptakan pribadi raharja yang dapat mandiri secarafinancial(financially independent).

Pendahuluan

Estetika arsitektur merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut keindahan yang dipancarkan dari karya arsitektur yang mengekspresikan perpaduan wadah' dan isi' yang dikomunikasikan secara visual melalui simbol-simbol yang merupakan penghantaran pemaknaan atas suatu objek. Apabila wadah' dan isi' dapat dimaknai sebagai bentuk' dan fungsi', maka estetika arsitektural yang terpancar dan tertangkap oleh subjek dapat dimaknai sebagai makna' dari suatu karya arsitektur. Kehadiran estetika arsitektur berbasisgreen campusdalam rancang bangun perpustakaan perguruan tinggi, sebagaimana judul tulisan ini, merupakan sarana komunikasi visual yang menjadikannya sebagai teks budaya atau objek interpretasi yang harus dibaca untuk dapat diungkap makna dan diskursus (wacana) yang dikandungnya.

Menurut Foucault (2002:9) diskursus adalah cara menghasilkan pengetahuan beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subjektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua aspek ini. Lebih detail Lubis (2004:148) menjelaskan bahwa diskursus merupakan kategori manusia yang diproduksi dan direproduksi dengan berbagai aturan, sistem, dan prosedur yang membuatnya terpisah dari kenormalan. Aturan, sistem, dan prosedur itulah yang disebutnya dengan istilah "tata-wacana", yaitu keseluruhan wilayah konseptual tempat pengetahuan itu dikonstruksi, dibentuk, dan dihasilkan. Ini berarti bahwa ketika sebuah wacana dilahirkan, maka wacana/diskursus sebenarnya sudah dikontrol, diseleksi, diorganisasi, dan didistribusikan kembali menurut kemauan pembuatnya karena wacana tersebut dikonstruksikan berdasarkan tata-aturan (episteme) tertentu. Oleh karena itu, kebenaran memiliki mata rantai dengan sistem kekuasaan.

Sebagai realitas ciptaan, kebenaran estetika arsitektur berbasisgreen campusdalam rancang bangun kampus perguruan tinggi merupakan konsep yang memiliki "tata-wacana", yaitu keseluruhan wilayah konseptual tempat pengetahuan arsitektur yang merupakan gabungan lingkungan (eco) dan budaya (culture) yang dikonstruksi, dibentuk, dan dihasilkan melalui kaidah-kaidah keseimbangan antara fungsi dan konstruksi, klimatologi, kepadatan pengguna dan area, komposisi bahan, proporsi, tampilan, garis tegas ornamen, sampai makna warna. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa mengembangkan estetika arsitektur dalam rancang bangun perpustakaan perguruan tinggi dan memadukannya dengan arsitektur hijau untuk mewujudkaneco culture campusadalah sebuah keniscayaan dari sebuah cita-cita. Dalam konteks ini dipandang penting dan relevan mengetengahkan perbincangan tentang dua hal, yaitu: 1) konsep dan wacana estetika arsitektur menujueco culture campus; dan 2)green architecture aestheticdalam rancang bangun perpustakaan UNS.

B.Konsep dan Wacana Estetika Arsitektur MenujuEco Culture Campus

Manusia pada dasarnya adalah makhluk berkesadaran yang berfikir dan dijajah oleh pengetahuannya. Segala keputusan dan tindakannya selalu dilandasi oleh bangun pengetahuan yang dimiliki dan diyakini kebenarannya. Bangun pengetahuan inilah yang selanjutnya disebut konsep. Sementara itu, wacana atau diskursus dalam ilmu dan praktek sosial merupakan jaringan praktek pengetahuan dan kekuasaan. White (Foucault, 2007:xiv) mengatakan bahwa apa yang dilakukan atau dibahas dalam diskursus, seperti yang terjadi dengan yang lain adalah selalu kehendak dan kekuasaan.

Bahasa sebagai alat untuk memproduksi diskursus, bukan semata-mata mempersoalkan ucapan dan/atau tulisan, tetapi semua pernyataan kultural karena keseluruhan pernyataan tersebut adalah teks yang mengandung nilai-nilai, prasyarat, ideologi, kebenaran, dan tujuan tertentu. Sebagaimana bahasa arsitektural yang bukan hanya mempersoalkan garis dan bidang, bahkan bukan hanya mempersoalkan kaidah trinitas Marcus Vitruvius Pollio yang merupakan sintesa antara kekuatan (durabilityataufirmitas), kegunaan (convinienceatauutilitas), dan keindahan (beautyatauvenustas), melainkan lebih pada ekspresi kehendak dan kekuasaan yang berada di dalam ruang kesadaran manusia.

Dalam ruang kesadaran manusia, kehendak dan kekuasaan ini adalah refleksi dari hasrat manusia. Manusia dengan hasratnya telah mengembangkan arsitektur menjadi ilmu rancang bangun tidak hanya dibatasi oleh ruang dangatra(sesuatu yang tampak terwujud) atau garis dan bidang. Akan tetapi, arsitektur telah berkembang menjelajahi ruang kesadaran manusia jauh ke relung-relung keindahan yang kemudian, diposisikan menjadi nilai ideal. Nilai keindahan inilah bahasa manusia yang disampaikan dengan media arsitektur. Malahan Merleau-Ponty mengatakan bahwa berarsitektur adalah berbahasa manusia dengan citra unsur-unsurnya, baik dengan bahan material maupun bentuk dan komposisinya. Begitulah bahasa arsitektur selalu menghadirkan nilai keindahan dengan penuh kejujuran dan kewajaran, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas Aquinas,'pulchrum splendor est veritatis', 'keindahan adalah pancaran kebenaran' (Mangunwijaya, 1992:9-10). Demikianlah seharusnya perwujudan arsitektur hijau (green architecture) dengan bahasa keindahan dan pancaran kebenarannya hadir dan diterima dengan suka cita oleh masyarakat perguruan tinggi, khususnya UNS yang berada dalam lingkup budaya Jawa.

Pararelitas di atas setidak-tidaknya mampu menunjukkan bahwa estetika yang dikandung dalam arsitektur kampus UNS merupakan wujud budaya yang memiliki metafisikanya sendiri yang dibangun atas kesadaran dan diskursus pemilikinya. Artinya, arsitektur kampus UNS yang berada dalam lingkup budaya Jawa memiliki bahasa ibu sendiri dalam mengungkapkan estetikanya, yaitu kearifan lokal. Inilah yang selanjutnya menjelma dalam dunia sosial-budaya menjadi nilai-nilai. Sistem nilai, baik sebagai pedoman hidup maupun perilaku hidup tidak pernah final karena senantiasa mengalami perkembangan inheren dalam perubahan zaman. Faktanya manusia tidak bisa menjalankan kehidupannya sendiri tanpa terlibat dalam kehidupan sosial berupa kegiatan kemasyarakatan. Malahan dalam kehidupan sosialnya manusia tidak jarang harus membangun toleransi sehingga dimungkinkan terjadinya proses saling menerima dan memberi nilai. Begitulah dalam dunia global masyarakat UNS tidak dapat menutup diri dari pengaruh lain. Oleh karenanya, membangun identitas menujueco culture campusmenjadi penting untuk diwacanakan bagi UNS agar tetap terjaga keselarasan antara wadah (bentuk) dan isi (fungsi) sehingga makna arsitektur sebagai ruang hidup material manusia dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya dapat terwujud.

Dalam budaya Jawa, manusia meyakini bahwa antara "wadah" dengan "isi" diperlukan adanya keseimbangan, kesejajaran, bahkan keterpaduan sehingga tercipta ketenteraman batin, kesejahteraan, dan kemakmuran dalam hidup dan kehidupan. Kesesuaian antara kesadaran dan respons yang dimiliki manusia Jawa atas tempatnya diartikan sebagai keselarasan antara wadah dan isi. Keselarasan ini merupakan bagian dari upaya pengkondisian untuk mencapai kesempurnaan hidup (bahagia dan selamat dunia akhirat) yang direfleksikan melalui pandangan hidupnya terhadap alam tempatnya berpijak. Mereka mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadari merupakan penentuan dari kehidupan seluruhnya. Keyakinan ini seperti yang terkandung dalam wejangan Sang Dewa Ruci pada Bima dalam Serat Dewa Ruci yang dikutip Mangunwijaya (1992:3) berikut ini.

"Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadaq lan batine,

pepindhane wadhah lan isine...

Jeneng wadah yen tanpa isi, alahdene arane wadhah,

tanpa tanja tan ana pigunane

semono uga isi tanpa wadhah, yekti barang mokal...

Tumrap urip kang utama tertamtu ambutuhake wadhah lan isi,

kang utama karo-karone."

Yang disebut hidup adalah manunggalnya tubuh dan batin (raga dan jiwa),

ibarat wadah dan isinya...

Wadah tanpa isi, adalah sia-sia disebut wadah,

tidak akan berarti dan berguna.

Demikian juga isi tanpa wadah, adalah sesuatu yang mustahil...

Untuk hidup yang sempurna membutuhkan wadah dan isi,

yang utama adalah kedua-duanya

Subjektifitas dan interpretasi bebas mengenai kutipan Serat Dewa Ruci di atas mengarahkan tulisan ini untuk menjadikannya sebagai suatu analogi pandangan manusia Jawa yang arkais[2]mengenai keberadaan makrokosmos (jagad gede= jagad raya) dan mikrokosmos (jagad cilik= diri manusia) yang akhirnya menghasilkan empat asumsi dasar untuk dijadikan pijakan argumen dalam pembahasan mengenai pentingnya mengembangkan spiritualitas dan kesadaran manusia Jawa terhadap ruang hidupnya (eco culture architecture) dalam upaya mewujudkan arsitektur hijau (green architecture) yang berkelanjutan.

Pertama, pandangan masyarakat Islam-Jawa terhadap kosmosnya merupakan bentuk nilai tetap yang selalu hadir dalam kehidupannya. Kesejajaran antara wadah dan isi tersebut dilambangkan dengan adanya suatu konsep kesatuan makrokosmos (alam raya) dengan mikrokosmos (manusia).Konsep kemanunggalan makrokosmos dan mikrokosmos diartikan bahwa manusia telah menjalin hubungan dengan kekuatan diluar dirinya yang jauh lebih besar (Tuhan) sehingga manusia bersangkutan akan terjaga dan mampu meningkatkan kekuatannya menjadi lebih besar yang pada akhirnya, akan