gigitan ular

Download Gigitan Ular

Post on 18-Oct-2015

91 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

word

TRANSCRIPT

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    1/29

    Gigitan Ular

    Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies

    ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa

    memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat

    saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara

    subkutan atau intramuskular.

    Bisaadalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa

    dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan

    ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang

    mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang

    terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya

    terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama

    protein, yang memiliki aktivitas enzimatik.

    Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies,

    ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu

    atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi. Ular

    berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa

    yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah

    ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular

    jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat

    yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae,

    atau Viperidae.Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa

    contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling

    (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra(Ophiophagus hannah).

    Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian

    rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua

    subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki

    organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di

    antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    2/29

    (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut

    (Trimeresurus albolabris).

    Korban gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang

    ular, pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang

    tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara

    tidak sengaja. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular

    memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus.

    Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies

    ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular

    berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang

    dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala

    segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas

    taring.

    Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa

    hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah;

    bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa

    sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan.

    Gambar Bekas gigitanan ular.

    (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring,

    (B) Ular berbisa dengan bekas taring

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    3/29

    Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada

    korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke

    tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi

    kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan

    bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang

    diinjeksikan pada korban. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda

    gigitan taring (fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan

    kelenjar getah bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan

    (terutama akibat gigitan ular dari famili Viperidae).

    Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular

    Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:

    1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitanular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh

    korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan

    pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa,

    mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum

    mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini

    yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan

    medis.

    Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang

    cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit

    dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi

    kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan

    penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkanpressure-immobilisationpada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap

    luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan

    menimbulkan pendarahan lokal.

    2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yangaman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot

    untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.

    3. Pengobatan gigitan ular

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    4/29

    Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular.

    Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat

    peredaran darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat

    gigitan, pendinginan daerah yang digigit, pemberian antihistamin dan

    kortikosteroid harus dihindarikarena tidak terbukti manfaatnya.

    4. Terapi yang dianjurkan meliputi: Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.

    menggunakan perban.

    Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katunelastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di

    sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai

    bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban

    seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu

    kencang agar aliran darah tidak terganggu.

    Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran

    darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang

    lebih berat.

    Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputipenatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;

    penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu

    dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan

    shock, shock perdarahan,kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang

    tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban,

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    5/29

    hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan

    komplikasi nekrosis lokal.

    Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkantoksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.

    Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secaraintramuskular.

    Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepatmati/panik.

    Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atasprotein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari

    serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang

    mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini

    hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.

    Ciri-ciri umum ular

    a) Penampang melintang tubuh membulat dan memanjangb) Tubuhnya tertutup oleh sisikc) Ukuran panjang tubuhnya dari 10 mm9000 mmd) Memiliki tulang belakang dan sepasang tulang rusuk pada setiap ruas

    tulang belakang (sampai cloaca)

    e) Suhu tubuhnya poikilotermik, suhu ideal 23,929,4C. Namun ular masihdapat bertahan pada suhu yang ekstrem 7.2C atau 37.8C, bila lebih dari

    suhu ini akan berakibat fatal bagi ular.

    f) Ular melata dengan menggunakan otot pada bagian perutnya secarabergantian sehingga dapat bergerak menuju ke tempat lain.

    g) Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaputtransparan. Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia. Sensor

    yang ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya.

    h) Tidak seperti manusia, hidung pada ular hanya berfungsi sebagai alatuntuk bernafas, sedangkan alat penciumannya adalah lidahnya dengan

    dibantu organ Jacobson.

  • 5/28/2018 Gigitan Ular

    6/29

    i) Indera panas, terletak diantara mata dan hidung, berfungsi untukmendeteksi panas yang dikeluarkan oleh makhluk lain yang berdarah

    panas (endotermik), Namun tidak semua ular memiliki organ ini

    j) Ular tidak memiliki lubang telinga, tapi memiliki membran tympani yangdapat mendeteksi getaran. Ular yang menari mengikuti irama suling

    sebenarnya bergerak bukan karena suaranya, namun karena mengkuti

    gerakan sulingnya.

    k) Pewarnaan tubuh ular sangat beragam, menyesuaikan dengan lingkungandimana dia tinggal. Pewarnaan b