fungsi sosial budaya bahasa lio, flores .penutur bahasa lio di wilayah kabupaten sikka pun...

Download FUNGSI SOSIAL BUDAYA BAHASA LIO, FLORES .penutur bahasa Lio di wilayah Kabupaten Sikka pun dimasukkan

Post on 09-Aug-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    Laporan Penelitian

    FUNGSI SOSIAL BUDAYA BAHASA LIO,

    FLORES

    Tim Peneliti:

    I Wayan Simpen

    Ida Bagus Putra Yadnya

    Aron Meko Mbete

    A.A. Putu Putra

    Gek Wulan Novi Utami

    Nissa Puspitaning Adni

    Didanai oleh

    Program Magister Linguistik

    Universitas Udayana

    2015

  • 2

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Keberagaman atau kebhinekaan bangsa ditandai oleh keanekaragaman bahasa

    lokal (vernacular) yang ada di Indonesia. Dari pelbagai sumber memang disimpulkan

    bahwa lebih dari 720 bahasa dan ratusan etnik, masing-masing dengan tradisi, adat

    istiadat, dan tentunya sistem sosial yang berbeda-beda pula antara satu daerah dengan

    daerah yang lain. Ada etnik Lio, Ngadha, Nagekeo, Sikka, Lamaholot, Manggarai, di

    daratan Flores, ada etnik Lembata, ada pula sejumlah etnik di Pulau alor dan Pantar,

    masing-masing dengan subetnik bahkan dengan bahasa-bahasa yang berbeda pula.

    Tidak ada bahasa Flores, kendati ada “Orang Flores” yang diidentikkan dengan suku

    Flores. Secara historis, bahasa di Flores memang direkonstruksi dan dihipotesiskan

    berasal dari proto-Flores (Fernandes, 1986l 1996). Brandes bahan menetapkan garis

    pisah kelinguistikan atas dasar kontruksi genetif yang membelah Pula Flores, khususnya

    antara wilayah pakai bahasa Lio dan bahasa Sikka.

    Bahasa Lio, Flores, adalah salah satu bahasa lokal, atau bahasa daerah, atau juga

    bahasa etnik Lio yang ada di Flores Tengah, Nusa Tenggara Timur. Selain bahasa Lio,

    di Kabupaten Ende ada juga dialek Ende dan dialek Nage. Oleh masyarakat di

    Kabpupaten Ende, ketiga dialek itu dikenal sebagai logat Aku untuk bahasa Lio, logat

    Ja’o untuk dialek Ende, dan logat Nga’o dialek Nage. Ketiga bentuk persona pertama

    (tunggal) yang mengandung makna aku atau saya itu menjadi nama bahasa atau dialek-

    dialek. Kesalingpahaman dalam komunikasi verbal antardialek itu masih memadai atau

    cukup baik kendati disadari pula oleh para guyub tuturnya sebagai bahasa atau dialek

  • 3

    yang berbeda. Pranasalisasi merepresentasikan dialek-dialek Ja’o dan Nga’o dan bahasa

    Lio. Selain bahasa Lio dan kedua dialek itu, di Kabupaten Ende, sebagai bagian NKRI,

    hidup pula Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi. Sebagai mata

    pembelajaran di sekolah-sekolah (SMP, SMA, dan SMK) dan di perguruan tinggi,

    sejumlah bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, juga hidup dan berkembang walau

    tidaklah menjadi bahasa sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat di Kabupaten Ende,

    seperti juga banyak masyarakat Indonesia lainnya, telah berkembang menjadi

    masyarakat dwibahasa (bilingualism) dalam arti lebih dari dua bahasa (lihat Romaine,

    1995).

    Bahasa Lio juga mengenal dan memiliki dialek yang berkorespondensi antara k-

    h. Dialek /k/ ada di kawasan barat dan utara Lio, sedangkan dialek /h/ ada di wilayah

    timur khususnya daerah Lise. Sebagai contoh dapat dilihat pada korespondensi berikut

    ini.

    Dialek k Dialek h

    ki hi ‘ilalang’

    kasa hasa ‘pagat’

    kea hea ‘sej. labu’

    kolo holo ‘kepala’

    kubu hubu ‘atap’

    koro horo ‘lombok’

    Dari segi daya dukung penuiturnya, bahasa Lio dikuasai dan digunakan oleh

    sebagian besar masyarakat di Kabupaten Ende. Bahasa Lio juga memiliki beberapa

    dialek dengan ciri-ciri fonologis dan leksikal, di samping ciri-ciri suprasegmental yang

    sangat jelas pula. Jumlah penutur bahasa Lio diperkirakan lebih dari 100 ribu orang jika

  • 4

    penutur bahasa Lio di wilayah Kabupaten Sikka pun dimasukkan ke dalamnya. Dialek

    Ende didukung oleh sekitar empat puluh ribu penutur sedangkan dialek Nag’o didukung

    oleh sekitar tiga puluh ribu penutur. Perlu diinformasikan kembali bahasa Lio

    digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Sikka khususnya di dua kecamatan yakni

    Kecamatan Paga dan Kecamatan Mego. Kedua kecamatan itu berbatasan langsung

    dengan wilayah Kabupaten Ende, termasuk Kecamatan Kotabaru di bagian Utara.

    Sungai Nangabolo di Kabupaten Sikka menjadi pembatas wilayah pakai bahasa Lio dan

    Bahasa Sikka. Masyarakat di kedua kecamatan itu juga berkembang menjadi

    masyarakat multibahasa, bahasa Lio, bahasa Sikka, dan bahasa Indonesia. Adat, budaya,

    dan tradisi Lio masih cukup kuat terpelihara di kedua kecamatan itu, Paga dan Mego

    kendati adat, budaya, dan tradisi Sikka juga kuat menyatu dalam masyarakat di kawasan

    itu.

    Sebagai turunan Proto-Austronesia, bahasa Lio berkerabat erat (closed

    relationship) dengan bahasa Ngadha dan bahasa Palu’e (Fernandes, 1986; Mbete 1981).

    Bahasa Palu’e terdapat di Pulau Palu’e, utara Kabupaten Ende dan secara administratif

    termasuk wilayah Kabupaten Sikka. Secara administratif, Dalam hubungan kekerabatan

    yang besar, bahasa Lio termasuk kelompok bahasa Flores Barat dengan bahasa

    Manggarai sebagai anggota kelompok yang lebih besar jumlah penuturnya. Pada

    jenjang lebih tinggi bahasa Lio berkerabat erat pula dengan subkelompok bahasa Flores

    Timur (termasuk bahasa Sikka dan Lamaholot). Bahasa-bahasa kerabat di Flores,

    termasuk bahasa Lio mewariskan ciri-ciri fonologis, morfologis, leksikal, gramatikal,

    dan semantik asali dari bahasa asalnya. Selain kadar dan ciri-ciri divergensi

    kelinguistikan yang genetis, unsur-unsur serapan dari Proto-Papua juga ada dalam

    bahasa itu.

  • 5

    Sebagai bahasa lokal yang menyatu dengan dan menjadi ciri jati diri guyub tutur

    pemilik dan para pewarisnya yakni para anggota guyub tutur bahasa Lio, bahasa Lio

    mengemban fungsi-fungsi yang sangat penting bagi masyarakat Lio. Bahasa Lio adalah

    perekat persatuan sebagai Orang Lio, sarana komunikasi dan interaksi verbal

    antarwarga etnik Lio, perekam dan pengalih (transmisi) kebudayaan Lio antargenerasi;

    kebudayaan Lio dalam pelbagai seginya. Bahasa Lio juga menjadi sarana pengungkap

    seni sastra dan budaya Lio, dan menjadi ciri pembeda jati diri Orang Lio dengan etnik-

    etnik lainnya di Flores dan Indonesia umumnya. Seperti disingggung di atas, bahasa Lio

    pula yang membedakan Orang Lio dengan Orang Sikka, Orang Ende, Orang Nagekeo,

    Orang Ngada, Orang Manggarai, Orang Lamaholot, dan Orang Riung. Sebagaimana

    telah disinggung di atas, diinformasikan bahwa sesungguhnya secara linguistis, guyub

    tutur dan penutur bahasa Lio terdapat pula di bagian barat Kabupaten Sikka, khususnya

    di Kecamatan Paga dan Mego. Penduduk Kabupaten Sikka di kedua kecamatan itu,

    menguasai bahasa Lio dialek Paga-Mbengu dengan ciri suprasegmentalnya yang khas.

    Seain itu di antara mereka juga ada yang menguasai dan menggunakan bahasa Sikka,

    dan tentunya bahasa Indonesia.

    Sebagai warisan sejarah dan elemen budaya masa lalu, bahasa Lio telah hidup

    dan berfungsi bagi guyub tuturnya dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat dan

    kebudayaan etnik Lio sejak ratusan bahkan ribuan tahuan silam. Sistem

    kemasyarakatan, adat istiadat, tradisi, dan kebudayaan Lio diungkapkan, diwadahi, dan

    diwariskan antargenerasi dengan dan dalam bahasa Lio. Lagu-lagu rakyat atau musik

    etnik Lio yang cukup terkenal itu bersyairkan bahasa Lio. Demikian juga teks-teks

    sastra lisan dengan paralelisme semantik sebagai pilar estetik dalam berekspresi secara

    verbal, merupakan produk-produk seni-budaya bernilai tinggi. Karya sastra lisan yang

  • 6

    bernilai tinggi dan tertuang dalam mitos Ine Pare ‘Dewi Padi’, merupakan pusat dan

    puncak adicita (ideology) etnik Lio yang hingga kini masih terawat kuat dalam bahasa

    dan budaya agraris komunitas etnik Lio. Mitos Ine Pare ‘Dewi Padi’ adalah sastra suci

    bagi masyarakat Lio terutama dalam konteks perladangan asli.

    Peredaran waktu dan dinamika ruang telah pula mengubah banyak segi

    kebudayaan Lio. Jikalau sebelum masa Kemerdekaan (1940an hanya ada sara Lio

    (bahasa Lio) dan sara Melaju (bahasa Melayu), pasca Kemerdekaan Indonesia memang

    mengubah lingkungan kebahasaan bahasa Lio. Masyarakat etnik Lio yang semula

    umumnya ekabahasa (yang secara terbatas didampingi sara Melaju ‘bahasa Melayu’ di

    kalangan tertentu khususnya kaum terdidik kala itu, perubahan lingkungan kebahasaan

    pun semakin meluas dan mendalam. Meluas, karena semakin banyak pembelajar dan

    pengguna bahasa Indonesia khususnya etnik Lio, dan semakin mendalam karena banyak

    segi kehidupan diwahanai oleh bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa nasional,

    dan bahasa Negara. Pembelajaran, penggunaan, pemerluasan wilayah pakai bahasa

    nasional, bahasa resmi bahasa Indonesia sebagai penyatu bangsa Indonesia yang

    majemuk dan posisi itu jelas menggeser kedudukan bahasa Lio. Jikalau pada masa lalu

    bahasa Lio menjadi bahasa ibu sebagian besar etnik Lio di kota, terutama di pedesaan,

    setakat ini, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa ibu bagi sebagian etnik Lio. Seiring

    dengan itu, semakin terpinggir pula kedudukan dan semakin menyusut pula fungsi

    sosiokultural bahasa Lio (lihat Mbete, 1994).

    Kehadiran bahasa Indonesia ju

Recommended

View more >