founding fathers communication

Download Founding Fathers Communication

Post on 13-Jul-2015

700 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Harold D. LasswellPosted on Desember 4, 2007 by Vinsensius

Semua mahasiswa Ilmu Komunikasi pasti mengenal formula arus komunikasi tertua di dunia: Who says what in which channel to whom with what effect. Formula ini dibuat oleh Harold Lasswell. Seperti kebanyakan ilmuwan yang meminati ilmu komunikasi, Lasswell berasal dari disiplin ilmu politik. Terakhir dia tercatat sebagai dosen di Universitas Chicago, tempat pengabdian intelektual sekaligus almamaternya, hingga ia wafat pada 18 Desember 1978. Ketika masih menjalani pendidikan sarjana di Universitas Chicago pada tahun 1920, pemikiran beliau sangat dipengaruhi oleh perspektif pragmatisme yang dilahirkan oleh Filsuf Amerika ternama, John Dewey dan George Herbert Mead. Lasswell memandang proses komunikasi dimulai dari sumber sebagai titik awal komunikasi itu berasal. Dalam diri sumber terjadi proses pengkodean (encoding), yakni ketika ide diubah menjadi kode atau simbol bahasa, gerak-gerik dan sebagainya di alam pikirannya kemudian diekspresikan menjadi sebuah pesan berupa produk fisik seperti kata-kata yang diucapkan, dicetak, ekspresi wajah dan lain-lain yang disampaikan melalui saluran tertentu kepada penerima. Pesan tersebut diterima berupa ide atau simbol dan terlebih dahulu melalui proses pembacaan kode (decoding) dalam diri penerima dengan menyusunnya kembali guna memperoleh pengertian. Demikian selanjutnya terjadi proses yang sama dalam diri komunikan yang berubah menjadi komunikator (sumber) yaitu proses encoding maupun decoding dalam menyampaikan pesan sebagai feedback atau respon.

Proses ini terus berlanjut secara sirkuler sampai akhirnya proses komunikasi itu berakhir.

Teori Komunikasi Harold D. Lasswell

A. Pengertian Komunikasi Menurut Harold D. Lasswell. Menurut Harold Lasswell Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?).

B. 5 Unsur komunikasi menerut Harold D. Lasswell

1. 2. 3. 4.

Who? (siapa/sumber). Says What? (pesan). In Which Channel? (saluran/media). To Whom? (untuk siapa/penerima).

5. With What Effect? (dampak/efek). C. Model Komunikasi menurut Harold D. Lasswell D. Penerapan Dalam teori Harold D. Lasswell lebih menekankan dalam penerapan penelitian komunikasi massa, hal ini terlihat dari ke 5 unsur teori ini, terkandung dan membutuhkan media/ saluran sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kepada komunikan, hal ini menunjukan terpenuhinya syarat sebagaimana komunikasi massa.

Paul F. LazarsfeldRIWAYAT HIDUP Lazarsfeld lahir dan mengahiskan 30 tahun masa hidupnya di Wina.Lazarsfeld melihat ayahnya sebagai pengacara yang sangat miskin dan tidak sukses. Kehidupan Lazarsfeld merupakan perpaduan antara dunia akademik dan bisnis. Ibunya tidak memiliki pendidikan formal, tetapi dikenal sebagai penulis buku How the woman Experiences the Male yang terbit di Eropa tahun 1931. Lazarsfeld mmperoleh bekal pendidikan yang memadai sebagaimana tipikal naka-anak kalangan menengah di Wina. Pada tahun 1925, dalam usia 24 tahun, Lazarsfeld memperoleh gelar doktor dalam matematika terapan dari Universitas Wina. Lazarsfeld merupakan salah seorang pemikir dan ahli ilmu sosial eropa yang muncul pada awal PD II. Dia menyebut dirinya sebagai positivis eropa. Lazarsfeld dikenal dengan lembaganya The Bureau of Applied Social Research yang banyak melakukan penelitian tentang radio dan surat kabar. PENELITIAN 1.metodologi kuatitaif Paul F. Lazarsfeld (1940) Communication Effect and the Erie County Study Paul Lazarsfel dikenal dengan focus kajiannya pada efek media massa, dia juga dikenal sebagai ilmuan sosial yang menggunakan metodologi kuatitaif dalam melakukan studi tentang perilaku pemilih yang dikenal dengan Erie County Study dalam pemilihan presiden. Dalam penelitian itu dia melihat bagaimana efek media massa dalam mempengaruhi perilaku pemilih dalam pemilihan presiden, penelitiannya tersebut menemukan bahwa media massa tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku pemilih waktu itu, kebanyakan pemilih sudah menentukan pilihan sebelum masa kampanye dimulai. 2. media massa dalam mempengaruhi kondisi sosial masyarakat Dalam tulisannya yang berjudul Mass Communication, Popular Taste and Organized Social Action, Paul F. Lazarsfeld dan Robert K. Merton menggunakan istilah Narcotizing Dysfunction sebagai istilah yang ditimbulkan oleh media massa dalam mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Studi kasus yang diambil adalah masyarakat Amerika Serikat. Dalam studinya mereka menerangkan bahwa banjir informasi telah membius orang Amerika ke dalam apatisme massa. Media massa membuat mereka kecanduan, layaknya sebuah narkotika sosial. Mengutip pendapat Idi Subandy, informasi media mempunyai efek tak ubahnya seperti efek obat bius atau narkotika. Pada gilirannya orang-orang menjadi kurang tercerahkan dan berkurang pula minatnya untuk terlibat dengan hal-hal yang bersifat aktual. Lebih lengkap Lazarsfeld dan Merton berpendapat, increasing dosages of mass communications may be inadvertently transforming the energies of men from active participation into passive knowledge. (Meningkatnya dosis komunikasi massa dengan kurang hati-hati bisa saja mengubah energi manusia dari partisipasi aktif menjadi pengetahuan pasif). Pendapat penulis ini setidaknya bisa menjadi rujukan kita bersama ketika masyarakat tidak melakukan proses kritis,

pro aktif dan selektif terhadap iklan-iklan para capres yang ditayangkan di televisi maka masyarakat pun pada akhirnya hanya akan menjadi pemilih pasif. Sebagai penutup, efek Narcotizing Dysfunction media massa khususnya televisi pada akhirnya bisa menyebabkan pasifnya pengetahuan seseorang diakibatkan karena mengkonsumsi media tanpa hati-hati. Ruang lingkup yang lebih luas dapat membentuk pseudo-environment yang mempunyai ciri khas hanya menggantungkan kebenaran informasi pada media televisi semata. 3.THE MEDICAL DIFFUSION Ia berkesimpulan bahwa difusi inovasi dalam penggunaan obat yang laku dipasaran karena ada proses penularan dari satu orang kepada orang lainnya dalam sebuah diskusi (komunikasi antar manusia) PEMIKIRAN Paul F. Lazarsfeld dan Robert K. Merton dalam makalah Mass Communication, Popular Taste, and Organized Social Action menambahkan fungsi sosial bagi komunikasi massa, yakni : Fungsi dalam memberi dan mengukuhkan status publik (Status Conferral) Di dalam setiap masyarakat legitimasi dan mengukuhan status oleh masyarakat akan diberikan pada ide-ide, isu-isu, orang-orang, organisasi-organisasi, atau gerakan-gerakan tertentu. Media massa kenudian memiliki fungsi untuk memberikan status masyarakat ini. Setiap ide-ide atau orang-orang yang dimuat oleh media massa akan memiliki prestise tersendiri. Media massa telah memberikan status publik yang tinggi. Misalnya media massa memberitakan aktor Nicholas Saputra mendapatkan penghargaan Panasonic Award sebagai aktor terbaik. Fungsi untuk memperkokoh norma-norma social Media massa mempunyai fungsi untuk memperkuat norma-norma sosial masyarakat. Umumnya media massa akan memuat atau melaporkan adanya penyimpangan-penyimpangan dari normanorma yang ada di dalam masyarakat. Contohnya kasus kekerasan mahasiswa IPDN Cliff Muntu yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Melalui pemberitaan media, timbul berbagai macam tanggapan, tulisan, dan seminar dari masyarakat untuk membahas persoalan tersebut. Disini norma-norma sosial dan pendidikan telah dilanggar dan memerlukan preskripsi untuk memecahkan permasalahan ini. Analisis Fungsi Pengawasan Lingkungan Pemberitaan oleh media massa mengenai kedatangan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush ke Indonesia mempunyai dampak yang luar biasa pada masyarakat. Penyebaran informasi ini dengan cepat mempengaruhi masyarakat bahkan jauh-jauh hari sebelum kedatangan Presiden AS tersebut. Disini media massa berusaha untuk memberikan semacam peringatan kepada masyarakat. Fungsi pemberitaan ini agar masyarakat dapat mengetahui bahwa kedatangan Presiden Bush akan mengakibatkan jalan-jalan di sekitar Bogor mengalami perubahan rute dan

terganggunya sinyal telepon genggam. Sehingga masyarakat dapat memengambil tindakan lain demi kesuksesan kunjungan tersebut. Kemudian dengan kedatangan Bush secara tidak langsung mencerminkan dan menguntungkan Indonesia karena dapat mengembalikan citra Indonesia di dunia internasional. Selain terjadi fungsi, pemberitaan pada media massa juga menghasilkan disfungsi. Pertama, dapat menyebabkan terganggunya stabilitas pada masyarakat. Masyarakat Bogor khususnya akan mengalami berbagai masalah terhadap peristiwa ini. Contohnya perubahan rute angkot dan terganggunya saluran komunikasi telepon genggam. Kedua, menimbulkan kegelisahan pada masyarakat. Contohnya orang-orang yang membenci Bush, terutama teroris, kemungkinan akan datang ke Bogor dan melakukan teror. Hal ini tentu saja mengakibatkan masyarakat menjadi tidak nyaman. Ketiga, menimbulkan penolakan dari masyarakat berupa demonstrasi, baik di Bogor maupun di kota-kota lainnya. Penolakan ini karena citra buruk Presiden Bush di mata masyarakat Indonesia. Analisis Fungsi Korelasi Media massa dalam tajuk rencananya berusaha untuk memberikan pendapat terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Pemberitaan ini menyangkut kehidupan orang banyak, dan akan menjadi stimuli bagi khalayak untuk memberikan tangggapan atau berbuat sesuatu. Fungsi dari editorial tersebut adalah memberikan pandangan alternatif terhadap kekerasan yang ada di masyarakat, terutama dunia pendidikan. Fungsi ini diharapkan dapat membentuk mobilisasi pada masyarakat sehingga mereka dapat mengurangi tindakan kekerasan. Tajuk rencana tersebut juga berfungsi terhadap individu, terutama mereka yang pernah mengalami atau melakukan tindakan kekerasan. Hasil yang diharapkan agar masyarakat dapat bersikap tidak apatis dan privatisasi terhadap fenomena ini. Namun disisi lain editorial