fonologi dan morfologi ‘arepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/39497/... ·...

Click here to load reader

Post on 15-May-2019

272 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

FONOLOGI DAN MORFOLOGI

BAHASA ARAB A

iii

KATA PENGANTAR

Alh}amdulilla>hirabbila>lami>n Ucapan syukur penulis panjatkan kepada Rabb yang Maha

Kasih dan Maha Sayang, yang telah memberikan penulis segala nikmat

iman, Islam, kesempatan, serta kekuatan yang telah diberikan oleh-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

S{alawat beriring salam untuk tuntunan kepada qudwah dan uswah Nabi Muhammad saw, keluarga beserta para sahabatnya yang telah memperjuangkan dakwah Islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai

yang terkandung di dalamnya dengan segenap pengorbanan sehingga

dengan izin Allah, seluruh manusia di penjuru dunia dapat merasakan

indahnya Islam.

Tesis ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar

magister agama bidang pendidikan dengan judul Fonologi dan

Morfologi Bahasa Arab A

iv

Ibunda tercinta Hj. St. Rumah yang tak pernah letih memberikan

motivasi serta kasih sayang yang tulus kepada penulis. Selain itu,

kepada kakak-kakak tercinta Safinah, Mahfud, Maftuhi, Haefullah,

Muawanah, Muniroh, Mulyanah dan adik tersayang Muflihah. Semoga

Allah senantiasa melindungi kalian semua.

Keempat, dengan penuh rasa hormat, penulis sampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman kelompok

diskusi Cab.Com dengan dewan penasihat Bpk. Andi Gunawan dan

Ade Fakih Kurniawan yang telah banyak memotivasi penulis untuk

segera menyelesaikan studi di kampus tercinta UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Kelima, tak ketinggalan penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada teman-teman yang selalu memberikan semangat kepada penulis

dalam menyelesaikan studi di SPs UIN Jakarta ini, kepada Muhammad

Zaenal Muttaqin, Buya Arif Nursihah, Ade Fauzi, Lc. MA. Hum., K.H.

Syafiuddin Al-Ayyubi, Lc. MA. Hum., Moch. Khoiruddin, MA. Hk.,

Desi Amalia, MA. Hk., Mamih Sri Wahyuni, MA. Hk., Suhirman, SQ.

S.H.I MA. Ek., Raden Siti Fadhilah, Mas Rofiq, Sofiyuddin, MA. Pd.,

Khoirul Umam, serta yang lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu. Semoga Allah SWT memberikan balasa yang berlipat ganda

kepada semua pihak. Demi perbaikan selanjutnya, saran dan kritik

yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati.

Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri, dan semoga

dengan hadirnya karya ini dapat memberikan kontribusi dan manfaat

dalam memperkaya wawasan intelektual, khususnya bagi

perkembangan bahasa Arab.

Jakarta, 27 Oktober 2015

Mufrodi

v

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mufrodi

Tempat/Tanggal Lahir : Serang, 24 April 1989

NIM : 12.2.00.1.18.01.0019

Jenjang Pendidikan : S2 Pengkajian Islam

Konsentrasi : Pendidikan Bahasa Arab

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis berjudul Fonologi dan

Morfologi Bahasa Arab A

vii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tesis dengan judul Fonologi dan Morfologi Bahasa Arab A

ix

LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI

Tesis dengan judul Fonologi dan Morfologi Bahasa Arab

A

xi

PERNYATAAN PERBAIKAN SETELAH VERIFIKASI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mufrodi

NIM : 12.2.00.1.18.01.0019

Judul Tesis : Fonologi dan Morfologi Bahasa

Arab A

xiii

ABSTRAK

Kesimpulan tesis ini membuktikan bahwa bahasa a>miyah dialek

Mesir (BADM) dan Saudi (BADS) memiliki pola variasi fonologis dan

morfologis yang hampir sama yaitu berupa pergantian bunyi, penambahan

bunyi, pelesapan bunyi (deletion/syncope), dan metatesis. Kedua dialek

tersebut memiliki pola morfologis - akronim (naht) - yang beraneka ragam

yang dirasa sulit bagi pelajar yang hanya mempelajari Arab fus}h}a>. Bahasa

Arab a>miyah dalek Mesir memiliki ragam fonologis dan mofologis yang

cukup berbeda jauh dengan bahasa Arab fush}a> dibanding dialek Saudi.

Tesis ini mendukung pendapat Fathi 'Ali> Yu>nu>s (2009) bahwa

perbedaan antara Arab fus}h}a> dengan a>miyah sangat signifikan. Tesis ini juga mendukung pendapat Omar F. Zaidan (2012) bahwa perbedaan antara dialek

dengan Arab fus}h}a> lebih didasarkan pada tataran fonetik, dan walaupun dialek yang satu dengan yang lainnya berbeda namun cukup dapat dipahami

jika seorang pelajar memahami suatu dialek tertentu seperti halnya pendapat

Jalal Ami>n dan Wafa> Neja>r (2010). Emil Badi Yaqu>b (1982) yang

menyatakan bahwa perkembangan bahasa -dialek- merupakan hal yang positif

dan merupakan bentuk dari peradaban manusia. Wilbur Schramm yang

menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil jika yang disampaikan oleh

komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) komunikan. Dan penelitian ini merupakan kritik terhadap pendapat Anwa>r al-Jundi> (1928)

bahwa adanya a>miyah merupakan sebuah masalah besar, berdampak negatif dan dapat merusak bahasa fus}h}a> yang notabene merupakan bahasa sumber ajaran Islam.

Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan (library research). Sumber data dalam penelitian ini yaitu berupa data primer Colloquial Arabic of Egypt yang ditulis oleh Jane Wightwick dan Mahmoud Ga>far (2013), danColloquial Arabic of The Gulf and Saudi Arabia yang ditulis oleh Clive Holes, diterbitkan oleh Routledge tahun 2000 berikut file listening (istima), dan lagu-lagu serta film yang menggunakan Arab a>miyah untuk mengetahui secara jelas ragam fonologis yang terjadi dalam kedua dialek. Data sekunder

yang terkait dengan fonologi dan morfologi, serta pembahasan mengenai

dialek-dialek Arab. Selain itu didukung juga oleh sumber-sumber kepustakaan

yang terkait dengan tema pembahasan tersebut. Kemudian data tersebut

dianalisis dengan menggunakan metode analisis-deskriptif-komparatif dengan

pendekatan analisis isi (content analysis).

xv

.

. -

. (9002)

(9009) .

- (0299). (9000) .

. ( 0299)

. " "

" " (9002) 9000

.

.

.

xvii

ABSTRACT

This thesis proves that the Arabic a>miyah dialect of Egypt and Saudi has a various pattern of phonological and morphological that

almost similar term of sound turn, adding sound, deletion sound

(syncope), and metathesis. And both these dialects have diverse

morphological pattern -acronym- which is considered difficult for

students who only learn Arabic fus}ha>. Arabic a>miyah Egyptian dialect has a variety of phonological and morphological quite different from the

Arabic fush}a> than the Saudi dialect. This study supports Fathi Ali> Yu>nu>s statement (2009) who says

that the difference between Arabic fus}h}a> and a>miyah is very significant. And also Omar Zaidan F. (2012) who says that the

difference between a>miyah dialects with Arabic fus}h}a> more based on the phonetic level, and although the dialect is different from one

another, but quite understandable if a student understands a certain

dialects as well as Jalal Ami>n and Wafa> Neja>r (2010) opinion. Emil

BadiYa'qu>b (1982) which states that language development -dialect- is

a positive thing and is a form of human civilization. Wilbur Schramm

says that the communication will be successful if it were sent by the

sender matches the reference frame (frame of reference) communicant.

And this study is a critique of Anwa>r al-Jundi> (1982) which states that

the existence of a>miyah is a big problem, a negative impact and can damage the fus}h}a> language which incidentally is the source language of Islam.

This study is a review of the literature (library research). The

source of the data in this study is of primary data Colloquial Arabic of

Egypt written by Jane Wightwick and Mahmoud Ga>far (2013), and

"Colloquial Arabic of the Gulf and Saudi Arabia," written by Clive

Holes, published by Routledge in 2000 following the file of listening

(istima'), music and Arab movies to know clearly the diverse phonological occur in both dialects. Secondary data is related to

phonology and morphology, as well as the discussion of Arab dialects.

In additionally supported by the data which was an exploration of the

sources of literature related to the theme of the discussion. Then the

data was analyzed using analytical methods -descriptive-comparative

approach to content analysis.

xix

PEDOMAN TRANSLITERASI

Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam

penelitian ini adalah ALA-LC ROMANIZATION tables yaitu sebagai

berikut:

A. Konsonan

Tanda Huruf Latin Tanda Huruf Latin

}D A B }Z T Th Gh J F }H Q Kh K D L Dh M R N Z H S W Sh Y }S

B. Vokal 1. Vokal Tunggal

Tanda Nama Huruf Latin Nama

Fatah A A

Kasrah I I

D{ammah U U

xx

2. Vokal Rangkap

Tanda Nama GabunganHuruf Nama

... Fath}ah dan ya Ai A dan I

... Fath}ah dan

wawu Au A da U

Contoh:

H{aul : H{usain :

3. Vokal Panjang

Tanda Nama GabunganHuruf Nama

l : m Apabila diikuti dengan huruf qamariyah, ditulis al.

Contoh:

: al-Qalam

xxi

F. Daftar Singkatan Swt : Subh}a>nahu> wa taa>la>

Saw : S{alla Alla>hu alaih wa sallam

w : wafat

l : Lahir

t.th : Tanpa tahun

t.p : Tanpa penerbit

t.tp : Tanpa tempat

ra : Radhiya Alla>h anhu

m : Masehi

h : Hijriah

H : High

L : Low

ed : Editor

terj : Penterjemah

BAF : Bahasa Arab Fas}i>h}ah BADM : Bahasa Arab Dialek Mesir

BADS : Bahasa Arab Dialek Saudi

MSA : Modern Standard Arabic

CA : Colluqial Arab

C : Consonan/Konsonan

V : Vokal

CaC : Consonan/konsonan dengan vokal a dan konsonan

CuC : Consonan/konsonan dengan vokal u dan konsonan

CiC : Consonan/konsonan dengan vokal I dan konsonan

f : Feminin

m : Maskulin

s : Singular (mufrad) pl : Plural (jama) dl : Dual (muthanna)

xxi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI v

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING vii

LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI ix

PERNYATAAN PERBAIKAN SETELAH VERIFIKASI xi

ABSTRAK xiiii

PEDOMAN TRANSLITERASI xix

DAFTAR ISI xxi

BAB I: PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Masalah Penelitian 16

C. Tujuan Penelitian 20

D. Signifikansi Penelitian 21

E. Penelitian Terdahulu yang Relevan 21

F. Metode Penelitian 23

G. Sistematika Penulisan 25

BAB II: DISKURSUS BUNYI BAHASA ARAB FUS{H{A< DAN

A

xxii

G. Panjang Pendek Bunyi Bahasa 121

BAB IV: KOMPARASI MORFOLOGIS MIYAH DIALEK

SAUDI DAN MESIR 123

A. Triliteral Verb (fi'il thula>thi) 124

B. Non Triliteral Verb 135

C. Fiil Ajwa>f (hollow verb) 137

D. Fiil Mithal (first weak verb) 142

E. Mutall A

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bahasa1 memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan

manusia sebagai media dalam menyampaikan maksud, kebutuhan dan

tujuan mereka, baik dengan bahasa verbal, maupun non verbal. Dengan

media bahasa pula Tuhan menyampaikan pesan (risa>lah) kepada Nabi Muhammad Saw (yang dinamakan al-Qur'a>n) yang secara faktual bahwa

alquran sebagai wahyu ilahiah, hidup dalam ruang historis dan

manusiawi. Artinya, ia telah mengalami transformasi, dari al-kala>m [email protected] (The Idea of God) menuju al-Kala>m al-Lafz}i> yang memakai simbol bahasa manusia.2 Karena manusia adalah makhluk sosial, maka

manusia memerlukan media untuk bersosialisasi, menyampaikan

maksud dan tujuan mereka, dan media tersebut adalah bahasa. Bahasa

merupakan simbol dan alat komunikasi yang sangat penting bagi

manusia. Maka tak heran jika Ernest Cassirer menyebutkan bahwasanya

manusia adalah animal simbolicum, yaitu makhluk yang menggunakan simbol karena dalam kegiatan berfikirnya menggunakan simbol.3

Bahasa dan budaya memiliki keterkaitan satu sama lain. Ada

tiga pandangan mengenai hubungan antara bahasa dan kebudayaan.4

Pertama, bahasa sebagai refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yanag bersangkutan. Pandangan ini menjadi dasar sebagian

antropolog untuk memahami suatu masyarakat melalui bahasa yang

digunakan. Kedua, bahasa adalah bagian (salah satu unsur) dari

1Terdapat banyak pengertian mengenai bahasa, namun semuanya memiliki

kesepakatan bahwa tujuan bahasa itu adalah untuk menyatakan tujuan dan komunikasi

satu sama lain. Lihat Ibnu Jinni, Al-Khas}a>is}, Jilid 1, (Kairo: Dar al-Hadi>th, 2007), 76. Abd. Munjid Sayyid Ahmad Mans}u>r, Ilmu al-Lughah al-Nafsi> (Riya>d}: Ja>miah al-Mulk Suud, 1982), 5. Lihat Abd. Ghafa>r H{a>mid Hila>l, al-Lahaja>t al-Arabiyah Nashatan wa Tat}awwuran (Kairo: Maktabah Wahbah, 1993), 33. Dan Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Soiolinguistik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 14.

2Islah Gusmian, Lompatan Stilistik Dan Transformasi Dunia Makna al-

Quran, Jurnal Studi al-Quran, Vol. 2, No. 2 (2007): 438. 3Jujun S. Suriasimantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta:

Pustaka Sinar Harapan, 2007), 171. Ernest Cassirer dalam An Essay on Man (New Heaven: Yale University Press, 1944)

4Heddy Ahimsa Putra, seperti yang dikutip oleh Ishlah Gusmian, Lompatan

Stilistik Dan Transformasi Dunia Makna al-Quran, Jurnal Studi al-Quran, Vol. 2, No. 2 (2007): 452

2

kebudayaan, artinya bahwa bahasa dipandang bukan merupakan

fenomena yang khas, melainkan fenomena yang tidak berbeda dengan

unsur-unsur budaya lainnya, seperti kesenian. Ketiga, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Ada dua makna dalam pandangan

ini. Pertama, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan dalam arti diakronis, artinya kita dapat mengetahui masyarakat Jawa, Sunda

ataupun yang lainnya melalui bahasa. Kedua, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk

membangun bahasa pada dasarnya sama dalam membentuk kebudayaan.

Dalam pandangan penulis bahwa bahasa dan budaya memiliki

hubungan yang sejajar, tidak tumpang tindih antara keduanya, dalam

arti bahwa bahasa berada di bawah budaya ataupun sebaliknya budaya

berada di bawah bahasa. Ketika orang Arab yang menggunakan bentuk

d}ami}r jama' (prenomina plural) sebagai bentuk penghormatan, misalnya

Hal tersebut . atau misalnya ungkapan dapat diketahui bahwa orang Arab tersebut masih kental dengan tradisi-

tradisi kerajaan. Dengan budaya pula dapat diketahui bagaimana

seseorang berbahasa. Orang-orang yang selalu menjunjung tinggi etika

misalnya, ketika berbahasa pasti menghindari hal-hal yang sekiranya

tidak layak atau dianggap tabu untuk diungkapkan, dan lebih memilih

ungkapan ungkapan lain, misalnya dengan menggunakan bentuk maja>z,

seperti sebagai ungkapan pengganti untuk mengungkapkan hubungan badan dengan istri, atau misalnya ungkapan sebagai ungakapan pengganti untuk mengungkapkan buang air besar.5

Al-Quran pun banyak menggunakan ungkapan maja>zi> dalam

pewahyuannya, misalnya saja kata (h}arth) dalam surat al-Baqarah ayat 223 yang secara leksikal makna kata tersebut adalah tanah atau

ladang yang diolah.6 Tidak hanya dapat mengetahui budaya melalui

5A. Sayuti Anshari Nasution, Memahami Ragam Bahasa Melalui Pendekatan

Budaya, Afaq Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 3 No. 2, Desember (2008): 115-118.

6Ibra>him Anis, al-Mujam al-Wasi>t} (Kairo: T.p., 1972), 164.

3

bahasa, akan tetapi, dengan bahasa pula inetelektualitas manusia dapat

diketahui.7

Perkembangan bahasa Arab yang merupakan rumpun bahasa

Semit8 sudah berlangsung lama. Budaya Arab telah lahir lebih dari 2000

tahun yang lalu, bahkan Muhibbuddi>n al-Khat}i>b berpendapat bahwa

bahasa Arab sudah ada sekitar 3600 SM.9 Jadi bahasa Arab telah eksis

dan akan selalu eksis. Terbukti dengan adanya penelitian pada tahun

2009 yang membuktikan bahwa bahasa Arab digunakan oleh 300 juta

orang yang hidup di 22 negara, di antara negar-negara tersebut paling

dikenal adalah Mesir, Arab Saudi, Maroko, dan Iraq, dan negara-negara

yang lainnya, yaitu Djibouti dan Comoros.10 Dan lebih dari dua ratus

juta orang berbicara dengan menggunakan suatu dialek Arab. Negara-

negara yang menggunakan bahasa Arab ini meliputi kebanyakan bagian

utara benua Afrika, dari Mauritania hingga Mesir, Levante/Levantin,

Jazirah Arab, dan Iraq.11 Dalam artikel terakhir disebutkan bahwa

bahasa Arab digunakan hampir mencapai 500 juta jiwa yang hidup di 22

negara.12

7Heidi Byrnes, et al, Educating for Advanced Foreign Language Capacities

(Washington DC: Georgetown University Press, 2007), 16. 8Kata semit diambil dari nama Sam anaknya nabi Nuh AS. Ketika banjir

menyapu penduduk bumi, tak ada yang selamat kecuali Nabi Nu>h} dan ketiga anaknya,

yaitu Sa>m, Ha>m, Ya>fith serta kedua istrinya. Dan dari ketiga anakanya ini terbagi

menjadi bebrapa bangsa, yang nama bangsanya diambil dari nama anaknya Nu>h} AS

yaitu Sa>miyah, H{a>miyah, dan Ariyah (Yafit\hiyah). Sa>m bertempat tinggal di Asia

bagian barat, dan generasinya berkembang dari masa ke masa. Seiring perkembangannya

generasi ini, Sa>m atau semit ini terbagi menjadi tiga bagian pokok utama yang diiringi

pula dengan perkembangan bahasanya yaitu Aramia, Ibrani, dan Arab. Lihat Emil Badi

Yaqu>b, Fiqh al-Lughah al-Arabiyyah wa Khas}a>is}uha>, (Beirut: Da>r al-Ilmi Li al-Mala>yi>n, 1982) 108-109. Lihat pula 'Abd. Qa>dir Mustafa> al-Maghribi>, Al-Ishtiqa>q wa Al-Tari>b, (Kairo: Al-Hila>l, 1908), 31.

9A. Sayuti Anshari Nasution, Memahami Ragam Bahasa Melalui Pendekatan

Budaya, Afaq Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 3 No. 2, Desember (2008): 108

10Ragy Ibrahim, Learn Arabic the Fast and Fun Way (USA: Barrons, 2009), 3.

11Sunita Shah, Arabic: A Profile (London: London SIG Bilingualism, 2007), 1.

12Yun Eun Kyeong, A Study on the Efficient Teaching Method of the Arabic Language From the viewpoint of Arabic Sociolinguistics (Seoul: Hankook University, 2012), 92.

4

Bahasa Arab, setelah datangnya Islam dijadikan sebagai bahasa

al-Qura>n sehingga antara bahasa Arab dan Islam memiliki kaitan yang

sangat erat karena dengan kehadiran Islam bahasa Arab semakin

menyebar ke berbagai wilayah. Theodor Noldeke (1836-1939)13

memberikan komentar mengenai bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa

bahasa Arab tidak akan menjadi bahasa dunia yang sejati tanpa

kehadiran al-Qura>n.14 Hal ini senada dengan pendapat Brockelmann

(1868-1956) bahwa bahasa Arab menjadi bahasa yang sangat

mengagumkan karena umat Islam percaya bahwa bahasa Arab adalah

satu-satunya bahasa yang dapat digunakan dalam s}alat sehingga

melampaui bahasa-bahasa lainnya di dunia.15

Bahasa Arab terbagi menjadi berbagai macam dialek. Adanya

berbagai macam dialek dalam suatu bahasa, baik bahasa Arab ataupun

bahasa lain pada umumnya seolah menimbulkan masalah, karena

pengguna bahasa harus berfikir bagaimana caranya menggunakan suatu

bahasa dalam masyarakat bahasa tertentu. Namun ini adalah keunikan

suatu bahasa, yang dengan keberadaannyalah bahasa selalu dikaji dan

dipelajari. Jika ada statement yang mengatakan mengenai penggunaan

bahasa -dalam hal ini bahasa Arab misalnya- agar dapat menggunakan

bahasa Arab, ikutilah kaidah-kaidah gramatikal bahasa Arab.

Satatement ini benar, namun tidak selamanya benar. Karena jika hanya

mematuhi kaidah-kaidah saja, bahasa yang kita gunakan mungkin tidak

bisa diterima di kebanyakan masyarakat Arab karena bahasa Arab yang

hanya mematuhi kaidah-kaidah saja merupakan bahasa formal, dan

digunakan dalam acara-acara formal, sedangkan dalam acara non formal

hal tersebut kurang dapat atau bahkan tidak dapat diterima. Adapun

diterima, namun tidak etis. Contohnya saja dalam bahasa Indonesia kata

ganti orang kedua adalah kamu atau engkau. Kedua kata tersebut ada

dalam kaidah bahasa Indonesia untuk menyapa orang kedua, namun

faktanya secara sosial tidak dapat digunakan untuk menyapa orang yang

lebih tua atau orang yang terhormat, baik guru maupun orang yang

status sosialnya lebih tinggi karena bentuk kata ganti orang kedua

tersebut hanya digunakan untuk orang yang sebaya, lebih muda maupun

yang secara kedudukannya lebih rendah dari pembicara.

13Theodor Noldeke adalah seorang orientalis yang terkenal dengan bukunya

yang berjudul The History of The Quran. 14Ramd}a>n 'Abd. T{awwa>b, Fus}u>sul Fi> Fiqhi al-Arabiyyah, Cet. II (Kairo:

Maktabah al-Khanji, 1999), 109. 15Anwar al-Jundi>, al-Fush}a> Lughatu al-Qur'a>n (Beirut: Da>r al-Kutub al-

Lubna>ni>, 1982), 205.

5

Dalam bahasa Arab misalnya kalimat dalam bahasa Arab formal atau disebut fas}i>hah atau juga disebut Modern Standard Arabic (MSA) diungkapkan tus}bih}u ala khayr, sedangkan dalam bahasa non formal atau dialek dituturkan menjadi tis}bah}/ tis}bah}i> ala kheir.

Tercatat dalam sejarah bahwa masyarakat Islam pada masa

kejayaannya, mempelajari bahasa Arab fus}h}a>,16 baik berupa bahasa lisan maupun tulisan. Akan tetapi seiring dengan kemunduran Islam, sekitar

abad XIII M perhatian masyarakat terhadap bahasa Arab fus}h}a mengalami kemunduran pula.17 Akibat dari kemunduran perhatian

masyarakat terhadap bahasa Arab fus}h}a, bahasa Arab fus}h}a pun hanya digunakan sebagai bahasa tulisan saja dan kurang digunakan sebagai

bahasa lisan. Lain halnya dengan bahasa Arab a>miyah yang terbagi menjadi bermacam-macam dialek (lahjah),18 bahasa a>miyah lah yang selalu digunakan sebagai bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari, dan

dialek tersebut berbeda-beda berdasarkan lingkungan dan iklim suatu

daerah.19 Bahasa Arab fus}h}a> hingga saat ini hanya digunakan sebagai bahasa tulis, yaitu dalam media cetak, baik terdapat dalam buku maupun

16Arab fus}h}a menurut al- Bara>zi> adalah bahasa yang digunakan dalam

penulisan buku-buku, koran, majalah, urusan peradilan dan perundang-undangan,

administrasi, serta digunakan dalam khut}bah, kegiatan belajar mengajar dan seminar.

Lihat Majid al-Bara>zi>, Mushkila>t al-Lughat al-Arabiyah (Oman: Maktabah al-Risa>lah, 1989), 55.

17Ali Abdul Wa>hid Wa>fi>, Fiqh Lughah (Kairo: Nahd}ah Mas}r, 2004), 184. 18Dialek atau lahjah merupakan suatu cara dalam berbahasa yang terdapat

dalam lingkungan tertentu atau masyarakat tertentu. Lihat Abd. Ghaffa>r H{a>mid Hill,

al-Lahaja>t al-Arabiyyah Nashatan wa Tat}awuran (Kairo: Maktabah Wahbah, 1993), 33. Dialek juga menurut pendapat lain merupakan kumpulan sifat-sifat kebahasaan yang

berkaitan erat dengan lingkungan tertentu. Lihat Muhammad Riya>d} Kari>m, Al-Muqtad}ab Fi> Lahaja>t al-Arab (Kairo: tp, 1996), 55. Menurut Ibra>hi>m Ani>s, dialek merupakan sifat-sifat kebahasaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat pada

daerah tertentu. Lihat Ibra>hi>m Ani>>s, al-lahaja>>t al-Arabiyah (Kairo: al-Maktabah al-Anjelo), 16. M. Ali al-Khu>li> mendefinisikan bahwa dialek merupakan cara

mengucapkan bahasa yang digunakan masyarakat pada daerah, kemasyarakatan, dan

budaya tertentu. Pada setiap bahasa mempunyai beberapa dialek yang masing-masing

mempunyai karakteristik yang berbeda dengan yang lainnya dari aspek fonem, morfem,

dan sintaksis. Dengan berjalannya waktu, kadang dialek berkembang menjadi bahasa

yang lepas dari daerah, politik, dan kebudayaan asal. Lihat M. Ali al-Khl, A Dictionary of Theoretical Lingustic (Beirut: Librairie Du Liban, 1982), 73. Dalam KBBI disebutkan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai, misalnya

bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu.

Lihat KBBI. 19Muhammad Riya>d} Kari>m, Al-Muqtad}ab Fi Lahaja>t al-'Arab (Kairo: tp,

1996), 47.

6

dalam majalah dan koran, dan digunakan sebagai bahasa lisan hanya

dalam acara-acara resmi, yaitu dalam pidato/khutbah, kegiatan ibadah,

atau misalnya dalam kegiatan resmi, yaitu seminar. Sebaliknya, dalam

kegiatan sehari-hari, bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab

'a>miyah atau lahjah/dialek yang telah berkembang di seluruh Jazi>rah 'Arab. Dilihat dari segi penggunaannya, berarti realitas sosial dan kontekslah yang menjadi pembeda antara penggunaan bahasa Arab

fus}h}a> dan 'a>miyah. Adanya fenomena kemunduran penggunaan bahasa Arab fus}h}a>,

ternyata menjadi kesempatan bagi suatu golongan untuk

menghancurkan fondasi Islam. Pada awal abad 20, terdapat seruan untuk

menggantikan bahasa Arab fus}h}a> (MSA) dengan a>miyah yang bergaung di Mesir dengan awal pencitraan bahwa bahasa Arab sangat

sulit dipelajari.20 Tujuan tersebut yaitu untuk menjauhkan Muslim dari

al-Quran dan Sunnah sehingga tak jarang memunculkan perdebatan pro

dan kontra dengan adanya bahasa Arab a>miyah. Dan ini yang dijadikan alasan bagi orang-orang yang tidak setuju dengan adanya a>miyah. Jika dicermati lebih lanjut, pada dasarnya argumentasi orang-orang yang

tidak setuju akan adanya a>miyah adalah bersifat teologis, yaitu karena kekhawatiran mereka akan kurangnya pemahaman orang-orang Islam

terhadap sumber ajarannya yaitu al-Quran dan Sunnah.

Dengan adanya fenomena kemunduran penggunaan bahasa

Arab fus}h}a> ini akhirnya bahasa Arab a>miyah seolah menjadi kambing hitam agar tidak digunakan dengan alasan teologis dan sebagainya.

Apakah memang alasan orang-orang yang menyerukan agar bahasa

Arab a>miyah ini dihilangkan demi bahasa Arab fus}h}a> tetap lestari sehingga ajaran Islam tak terlupakan ataukah memang dengan alasan

tidak menyukai orang-orang yang menggunakan bahasa Arab a>miyah atau tidak menyukai orang-orang yang menggalakan bahasa Arab

a>miyah. Padahal jika dilihat dengan kacamata bahasa dan budaya, a>miyah ini sangatlah unik yaitu keragaman bahasa Arab yang sangat variatif yang tergantung pada wilayah tertentu. Dengan banyaknya

ragam bahasa Arab, justru ini menjadi hal yang positif akan keunikan-

keunikan serta kelebihan-kelebihan bahasa Arab yang paling kaya di

dunia. Dan jika a>miyah ini tidak digunakan, maka akan bertambah bahasa Arab a>miyah yang akan mati karena tidak digunakan oleh

20Fath}i Ali Yunus dalam Muhbib Abdul Wahab, Metode Penelitian Dan

Pembelajaran Nahwu: Studi Teori Linguistik Tammm Hassn (Jakarta: SPs UIN Syarif Hidayatullah, 2008) 4.

7

masyarakat bahasa. Soha Abboud Haggar21 menyebutkan dalam

artikelnya bahwasanya ada varietas bahasa Arab yang telah hilang

sepenuhnya di mana bahasa Arab pernah digunakan, seperti yang pernah

terjadi di Andalusia dan Sisilia. Keadaan yang sama juga terjadi di Iran

karena bahasa Arab sudah benar-benar hilang dalam penggunaan sehari-

hari, dan hanya penulisan hurufnya saja yang masih digunakan.22

Banyak para pakar mengemukakan bahwasanya berbahasa

adalah bagaimana menghasilkan rangkaian kata-kata untuk menjadi

kalimat-kalimat yang sesuai dengan aturan-aturan atau kaidah-kaidah

bahasa yang digunakan. Namun fakta di lapangan menunjukan bahwa

berbahasa bukan hanya bagaimana menghasilkan kalimat-kalimat yang

sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku karena bahasa terbagi

menjadi bahasa formal dan non formal. Dalam percakapan sehari-hari

misalnya, seseorang yang menggunakan bahasa formal yang secara

kaidah sudah benar, namun hal itu dirasa kurang efektif ketika

dibicarakan dalam kegiatan non formal, misalnya saja di pasar ataupun

di tempat non formal lainnya. Maka dari itu, manusia lebih lebih sering

menggunakan bahasa a>miyah dengan kelenturannya dalam berkomunikasi, tidak seperti bahasa Arab fus}ha> atau MSA.

Sama halnya dengan bahasa lainnya yang memiliki historisitas

yang cukup panjang, bahasa Arab terbagi menjadi bahasa Arab fas}i>h}ah atau disebut juga Modern Standard Arabic (MSA) dan a>miyah yang terbagi menjadi bermacam-macam dialek, dan tiap-tiap dialek memiliki

ciri khas masing-masing berdasarkan daerah teritorialnya. Dialek Mesir

misalnya, tentu berbeda dengan Saudi, maupun dengan Levantin, baik

dari aspek fonologis, morfologis, maupun sintaksis. Sebagai suatu

contoh, dalam aspek fonologis, huruf qaf )( dalam dialek Mesir diungkapkan menjadi hamzah, misalnya kata . Dalam dialek Saudi huruf qaf diungkapkan /g/ sehingga menjadi (gahwa).23 Sedangkan dalam dialek Mesir, kata tersebut diungkapkan menjadi (ahwa=kopi),

ahwa) ,(ahwa maz}bu>ta=kopi dengan gula sedang) zaya>da=kopi dengan banyak gula), (ahwa sa>da =kopi tanpa

21Soha Abboud Haggar adalah anggota dari kajian bahasa Arab American

Univeristy yang berada di Kairo. 22Soha Abboud Haggar, Teaching Arabic Dialectology in European

Universities: Why, What, and How, Studies in Semitic Language and Linguistics, Vol. 42 (2005), 123.

23Dalam dialek Yaman dituturkan menajdi gahwe

8

gula).24 Kemudian kata dalam MSA (fas}i>hah) diungkapkan kabi>r, sedangkan dalam dialek Mesir diungkapkan kibi>r. Yang unik di sini dalam dialek Levantin karena dalam dialek tersebut terdapat dua

konsonan secara bersamaan (consonant cluster/double consonant) pada awal kata yang tidak terjadi pada bahasa a>miyah lain sehingga kata tersebut diungkapkan menjadi kibi>r.25 Dalam aspek morfologi, misalnya

kalimat (jumlah) (aru>h lil Yaman=saya akan pergi ke Yaman) dalam dialek Saudi, berbeda dengan dialek Mesir yaitu (ana ra>yih lil Yaman), yang artinya saya akan pergi ke Yaman. Dalam dialek Saudi lebih menggunakan bentuk verba (fiil), sedangkan dalam dialek Mesir menggunakan bentuk isim fa>il dan tidak menggunakan huruf.

Sedangkan perbedaan dalam aspek sintaksis, misalnya kalimat sebagai bentuk pertanyaan dalam dialek Saudi, kata tersebut

diungkapkan ish tegu>l? (artinya: apa yang kamu katakan?), akan berbeda dari aspek sintaksisnya dengan dialek Mesir sehingga kalimat

tersebut dalam dialek Mesir menjadi (tiul i>h). Dalam dialek Saudi, kata tanya lebih didahulukan dalam awal kalimat, sedangkan dalam dialek Mesir kata tanya diletakkan di akhir kalimat.

Terdapat sekitar 30 macam perbedaan bahasa Arab percakapan

sehari-hari, termasuk di dalamnya yaitu Mesir, yang digunakan oleh

sekitar 46 juta jiwa di Mesir. Al-Jazair, bahasa sehari-hari yang

digunakan oleh sekitar 22 juta jiwa di Aljazair. Maroko, digunakan oleh

sekitar 19,5 juta jiwa di Maroko. Sudan, digunakan oleh sekitar 19 juta

jiwa di Sudan. Saudi digunakan oleh sekitar 19 juta jiwa di Mesir.

Levantin, bahasa Arab yang digunakan oleh 15 juta jiwa di Libanon,

Yordania, Israel, Palestin, dan Syria. Mesopotamia, digunakan oleh

sekitar 14 juta jiwa di Iraq, Iran, dan Syria. Najdi/Nejd, digunakan oleh

sekitar 10 juta jiwa di Saudi Arabia, Iraq, Yordania, dan Syria. MSA

(Modern Standard Arabic), yaitu bahasa Arab resmi yang digunakan di

seluruh negara Arab di dunia. MSA ini bukan merupakan bahasa ibu

(mother tongue), melainkan bahasa kedua yang dipelajari di sekolah. 26 Terjadinya deviasi antara bahasa Arab fus}h}a> dan a>miyah lebih

didasarkan pada faktor-faktor tata bahasa yang mencakup dengan

bentuk kata dan sistem tanda. Ahmad Izzan menambahkan bahwa

24Ahmed Abdel Hady, Egyptian Arabic Phrasebook (New York: Rough

Guides Ltd, 2006), 251. 25Youssef A. Haddad, Dialect and Standard in Second Language Phonology:

The Case of Arabic, SKY Journal of Linguistics, No. 19 (2006): 149. 26Sunita Shah, Arabic: A Profile, 1.

9

pertumbuhan dan perkembangan bahasa a>miyah telah menimbulkan deviasi dengan bahasa fush}a>. Menurutnya, hal tersebut dapat dilihat dalam aspek tata bunyi, bentuk kata, tata kalimat maupun kosakata.

Perbedaan yang sangat siginifikan yaitu terdapat hilangnya tanda-tanda

irab, dan perubahan bentuk akhir sebuah kata.27 Diriwayatkan bahwa

bani Tami>m mengungkapkan kata daripada untuk mengungkapkan makna debitor, serta kata yang sama maknanya dengan . Dan kata diucapkan menjadi 28.

Dalam bahasa Arab a>miyah Mesir lebih sering menggunakan tanda baca kasroh29 pada bentuk fiil dan menggunakan huruf ba pada verba (fiil) yang berbentuk mud}a>ri' yang menandakan bahwa pekerjaan

tersebut sedang dikerjakan. Sebagai suatu contoh, yaitu kata ) dalam bahasa Arab fus}h}a>).30 Ini merupakan kaidah dalam dialek Mesir. Jika pekerjaan itu sedang dilaksanakan, maka digunakan bentuk verba

imperfek yang didahului oleh konsonan ba, sedangkan tidak demikian dalam bahasa Arab fus}h}a>. Hal ini tentu dirasa sulit oleh pelajar bahasa Arab yang hanya mempelajari bahasa Arab fus}h}a>.

Dalam bahasa sehari-hari, manusia lebih suka menggunakan

bahasa yang sederhana, tak terikat oleh kaidah-kaidah yang ada, karena

inti dalam berbahasa itu adalah untuk saling memahami, dalam artian

memahami maksud, tujuan ataupun keinginan orang yang berbicara.

Maka tak heran jika dalam kegiatan sehari-hari, orang yang

menggunakan bahasa resmi, tak jarang ditertawakan oleh kebanyakan

orang. Dalam bahasa Betawi misalnya, ketika seorang Betawi ditanya

dan kemudian bertanya balik, misalnya kalimat lah ngapa emangnye? apakah secara kaidah itu benar?! Tentu ini tidak sesuai dengan kaidah

[email protected] D{aif, Tah}ru>fa>t al-A: fi> al-Qawa>'id wa al-Binya>t wa

al-H{uru>f wa al-Haraka>t (Kairo: Dr al-Marif, 1994), hal.16. Lihat juga Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung: Humaniora, 2007), 30.

28Muhammad Riyd} Karm, Al-Muqtad}ab fi> Lahaja>t al-'Arab (Kairo: tp, 1996), 44.

29Kasrah merupakan tanda Irab bagi isim mufrad, jamak taksir, jama muannats tha>lim. Lihat Fuad Nimah, Mulakhkhas}: Qawidu al-Lughah al-Arabiyyah (Beirut: Dr al-Thaqfah al-Islmiyyah, t.th), 94.

30Dalam kaidah bahasa Arab fus}h}a> tentu ini menyalahi aturan karena dalam

kaidah tersebut, huruf ba tidak diperbolehkan mendahului verba imperfek (fiil mud}a>ri).

Huruf ba yang mendahului verba imperfek merupakan ba ha>liyah yaitu sebagai penunjuk

keadaan/waktu dilaksanakannya pekerjaan tersebut.

10

bahasa Indonesia. Kalimat tersebut jika disusun dengan menggunakan

bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada akan

berbunyi Loh, memangnya kenapa/mengapa? Kata ngapa ini sebenarnya dari kata mengapa/kenapa namun mengalami pelesapan

bunyi, yang seharusnya diucapkan me-nga-pa, hanya diucapkan

ngapa. Dan kata emangnye mengalami pelesapan bunyi pada awal kata, yaitu /m/ dan pergantian vokal dengan vokal, yaitu vokal /a/

menjadi /e/ dalam kata memangnya sehingga menjadi emangnye. Bahasa Arab Mesir merupakan bahasa Arab yang terkenal

dengan inventarisasi huruf vokal yang lebih luas dibanding bahasa Arab

klasik, di antaranya 5 vokal pendek dan 5 vokal panjang, berbeda dengan

bahasa Arab klasik yang hanya memiliki 6 vokal, yaitu 3 vokal pendek

dan 3 vokal panjang.31

Dalam bahasa Arab a>miyah dialek Mesir terjadi perbedaan secara fonologis dengan bahasa Arab fush}a> yaitu hal-hal semacam pelesapan bunyi, pergantian bunyi, penambahan bunyi ataupun yang

lainnya, misalnya kalimat bititkallim ingili>zi>? dalam bahasa fus}h}a> hal tatakallam al-injili>ziyyah yang artinya apakah kamu (lk) berbicara bahasa Inggris?, dan kalimat harh il-Qa>hira, dalam bahasa fus}h}a> usa>firu/sa- usa>firu ila al-Qa>hirah yang artinya saya akan pergi ke Kairo. Dalam kalimat pertama terjadi penambahan bunyi bi sebelum verba imperfek sebagai penanda bahwa pekerjaan tersebut sedang

dilaksanakan. Dan dalam kalimat pertama pula terjadi perubahan vokal

/a/ dengan /i/ sehingga yang sebelumnya dalam bahasa Arab fus}h}a> dilafalkan tatakallamu menjadi titkallim, dan terjadi pula perubahan konsonan dengan konsonan, yaitu bunyi konsonan /j/ dilafalkan /g/

sehingga menjadi ingili>zi>. Dalam bahasa Arab amiyah, bunyi konsonan /j/ yang secara fonologis merupkan bunyi palatal dilafalkan /g/ yang

secara fonologis merupakan bunyi uvular frikatif32 Kemudian pada

kalimat kedua juga terjadi penggantian bunyi /s/ yang menunjukkan

makna akan, diganti dengan bunyi ha. Bunyi /s/ secara fonologis merupakan bunyi alveolar frikatif, dan bunyi /ha/ merupakan bunyi faringal frikatif.33 Kemudian contoh lain, misalnya kalimat bah}ibbik, dalam bahasa Arab fus}h}a>, kalimat tersebut sebenarnya adalah uh}ibbuki, namun dalam amiyah terjadi beberapa perubahan, yaitu adanya huruf ba dalam fiil (kata kerja), yang secara kaidah bahasa Arab fus}h}a> yang

31Sunita Shah, Arabic: A Profile, 5. 32Abdulrahman Ibrahim Alfozan, Assimilation in Classical Arab: A

Phonological Study (Glasgow: University Of Glasgow, 1989), 1. Dan A. Sayuti Anshari Nasution, Bunyi Bahasa..

33 Assimilation In Classical Arab: A Phonological Study,,,, 1.

11

dipelajari di sekolah-sekolah di Indonesia bahwa huruf ba tidak bisa disertakan dalam fiil melainkan hanya boleh terjadi pada isim (kata benda). Kemudian perubahan fonologis yang terjadi yaitu adanya

perubahan vokal dengan vokal, yaitu vokal /u/ dirubah menjadi /i/, dan h}arakat akhir tidak disebutkan, yang seharusnya ki melainkan disukunkan sehingga menjadi bah}ibbik. Tidak adanya h}arakat akhir pada suatu kata melainkan ciri khas dari bahasa Arab a>miyah. Perubahan fonologis juga tidak hanya terjadi pada colloquial suatu bahasa, melainkan dapat terjadi pula pada kata serapan (loanword). Hal ini disebabkan tidak adanya suatu konsonan yang sama dari bahasa yang

dipinjam dan meminjam sehingga dapat memudahkan pengguna suatu

bahasa dalam melafalkan suatu kata serapan (loanword) dari bahasa yang dipinjam.34 Di antara perubahan kata serapan dalam bahasa

Indonesia yaitu pelafalan konsonan yang dilafalkan /l/ dalam kata serapan bahasa Indonesia, misalnya hafal dari kata hafaz}, lahir dari kata z}a>hir, dan lalim dari kata z}a>lim.35

Bahasa Arab a>miyah memiliki perbedaan dengan Arab fus}h}a>. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi pada aspek fonetis dan pilihan

kata. Pada tataran fonetik telah penulis jelaskan sebelumnya, sedangkan

pada tataran pilihan kata, misalnya kalimat (muddatu iqa>mti> huna thala>thatu asa>bi>: Im here for three weeks).

Kalimat tersebut dalam a>miyah Mesir diungkapkan (ana hina tala>tasa>bi), dan dalam Gulf Arabic (termasuk Saudi merupakan

bagian Gulf) diungkapkan (ana hina mudah thala>tha asa>bi), sedangkan dalam Levantine Arabic diungkapkan ana hoon li tala>ti esa>bi).36 Perbedaan-perbedaan semacam ini) tentu membuat pelajar merasa kesulitan untuk berkomunikasi dalam

bahasa a>miyah yang notabene merupakan bahasa sehari-hari. Dan sebagaimana diketahui bahwa kecakapan dalam berkomunikasi

merupakan salah satu kemahiran yang dituntut dalam belajar bahasa.

34Untuk mengetahui konsonan bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa

Indonesia maupun sebaliknya, silahkan lihat A. Sayuti Anshari Nasution, Bunyi Bahasa.. 118-120.

35Nikolaos van Dam, Arabic Loan-word in Indonesian Revisited, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya (Depok: Universitas Indonesia, 2009), 7.

36BBC Team, Levantine Arabic (Melbourne: Lonely Planet Publication, t.th), 95.

12

Bahasa Arab memiliki empat keterampilan (maha>rah), yaitu keterampilan mendengar (istima>), berbicara (kala>m), membaca (qira>ah), dan keterampilan menulis (kita>bah). Salah satu masalah yang dihadapi oleh kebanyakan pelajar bahasa Arab yaitu keterampilan

berbicara (kala>m) karena keengganan para pelajar untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Arab. Keengganan tersebut dilatar

belakangi banyak faktor, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal

dalam diri pelajar. Faktor internal yang penulis maksud di sini yaitu

faktor kemalesan pelajar dalam berbicara menggunakan bahasa Arab,

dan boleh jadi karena tidak ada lawan bicara yang bisa diajak berbicara.

Adapun faktor eksternal yang penulis maksud yaitu adanya stigma

negatif dari orang-orang sekitar terhadap orang-orang yang berbicara

atau yang sedang melatih keterampilan berbicara mereka dengan

menggunakan bahasa Arab.

Beeby menyatakan bahwa salah satu kelemahan umum

pengajaran dalam kelas di Indonesia terletak pada komponen

metodologi pengajarannya. Guru-guru cenderung mengajar secara rutin

dan kurang bervariasi dalam penyampaian materi, padahal hasil belajar

berkorelasi positif dengan metode mengajar yang diikuti cara belajar

anak didik.37 Orientasi belajar bahasa Arab di kebanyakan lembaga

pendidikan dirasa kurang tepat sasaran. Dewasa ini pembelajaran bahasa

Arab lebih cenderung bersifat filosofis sehingga belajar bahasa Arab

merupakan hal yang sulit, padahal setiap bahasa memiliki tingkat

kesulitan dan dan kemudahan masing-masing sesuai dengan

karakteristik bahasa itu sendiri, baik dari segi fonologi, morfologi,

maupun sintaksis dan semantiknya.38 Ketika peserta didik belajar

Nahwu misalnya, sering kali pembelajaran nahwu tersebut lebih

mengarah kepada pembelajaran ira>b, bukan mengarah kepada Nahwu yang sifatnya fungsional. Maka dari itu belajar Nahwu sering kali

disibukkan dengan materi ira>b. Muhbib 'Abdul Waha>b mengemukakan bahwa orientasi pembelajaran nahwu masih cenderung tradisional dan

redaksional (analisis ira>b) dan tidak fungsional serta kontekstual.39 Teringat ketika penulis duduk di bangku sekolah MTs, Siswa diminta

sebanyak-banyaknya untuk meng-ira>b contoh-contoh kalimat (Jumlah dalam bahasa Arab) sampai diadakan lomba ira>b pada jam mata

37C.E. Beeby, Pendidikan di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1982), 81-85. 38Muhbib A. Wahab, Metode dan Pembelajaran Nahwu (Studi Teori inguistik

Tammm H{assn) (Jakarta: SPs Uin Syarif Hidayatullah, 2008) 39Muhbib A. Wahab, Metode dan Pembelajaran Nahwu 237.

13

pelajaran Nahwu sehingga para peserta didik disibukkan dengan

penghafalan kaidah-kaidah guna penunjang dalam meng-ira>b setiap kalimat yang disuguhkan dan akan disuguhkan oleh pendidik sehingga

melupakan esensi dari pembelajaran bahasa Arab, yaitu untuk

kemahiran berbahasa Arab. Maka dari itu, mempelajari nahwu lebih

tepatnya mempelajari ira>b. Ketika pelajar mempelajari bahasa asing, pada saat yang sama

sebenarnya pelajar mempelajari pula budaya bahasa tersebut. David

Crystal mengemukakan bahwa saat ini pembelajaran bahasa asing dapat

berarti pembelajaran persoalan penting mengenai peradaban dan budaya

asing tersebut pada waktu yang bersamaan.40 Seorang Arab yang

mengucapkan "s}allu ala an-nabi>" ketika sedang mendorong mobil yang mogok atau ketika melihat orang yang sedang berselisih, maksud

pembicara bukan untuk bershalawat kepada Nabi, melainkan maksud

yang dikehendaki pembicara adalah ungkapan siap-siap untuk

mendorong mobil tersebut atau untuk melerai orang yang sedang

berselisih yang dalam budaya di Indonesia ini adalah ungkapan

menghitung persiapan yaitu satu dua tiga.

Pelajar bahasa asing lebih dibekali oleh mater-materi untuk

kemahiran membaca, tanpa ada pembekalan kemahiran yang lainnya,

seperti berbicara. Chaedar mengungkapkan bahwa dewasa ini, tujuan

utama pembelajaran bahasa asing adalah pemerolehan kemampuan

membaca bukan berbicara.41

Orientasi pembelajaran bahasa Arab setidaknya ada empat, yaitu

Pertama. orientasi religius, yaitu mempelajari bahasa Arab dengan kepentingan memahami dan memahamkan ajaran Islam. Kedua, orientasi akademik, yaitu pembelajaran bahasa Arab dengan tujuan

mendalami bahasa Arab sebagai sebuah disiplin ilmu. Ketiga, orientasi praktis dan pragmatis, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan

praktis pragmatis dan hanya pada aspek-aspek tertentu seperti

keterampilan berbicara. Orientasi ini biasanya dipilih oleh calon TKI

atau diplomat yang akan bekerja di Timur Tengah. Keempat, orientasi ideologis-ekonomis-politis, yaitu belajar bahasa Arab yang berorientasi

40David Crystal, Encyclopedia of Language (Cambridge: Cambridge

University Press, 2007), 53. 41A. Chaedar Alwasilah, Dari Cicalengka Sampai Chicago: Bunga Rampai

Pendidikan Bahasa (Bandung: Angkasa, 1993), 30-31.

14

pada ideologis dan politis tertentu, seperti yang dilakukan oleh

orientalis barat.42

Di Indonesia, cenderung hanya mempelajari bahasa Arab fus}h}a>, dengan rasionalitas bahwa bahasa tersebut merupakan bahasa Al-

Qura >n dan Al-Sunnah (orientasi Religius), karena tujuan utama studi

bahasa Arab adalah untuk kepentingan memahami sumber-sumber

ajaran Islam. Sebagian kalangan cenderung anti bahasa Arab a>miyah, karena mempelajari bahasa Arab pasaran itu dapat merusak bahasa Arab

fus}h}a>.43 Dengan adanya fenomena bahasa Arab fus}h}a> dan a>miyah,

memunculkan stigma baru terhadap bahasa Arab, baik yang timbul dari

pelajar bahasa Arab maupun dari pelajar bahasa lainnya yang

sebelumnya pernah mengenal bahasa Arab. Teringat ketika penulis

duduk di bangku kuliah pertama, salah satu dari kenalan penulis

berbicara buat apa mas ngambil jurusan bahasa Arab, kenapa enggak bahasa yang lain, soalnya belajar bahasa Arab enggak bisa ngobrol ama orang Arab. Di sini muncul stigma negatif bahwa belajar bahasa Arab adalah sia-sia karena tidak dapat berkomunikasi dengan orang Arab.

Dan ini merupakan tantangan bagi pengajaran dan pembelajaran bahasa

Arab sehingga pengajaran bahasa Arab di kita memiliki orientasi yang

jelas dan pasti. Dewasa ini tuntutan belajar bahasa Arab bukan sekedar

memahami teks semata, ada tuntutan lain yang tidak kalah pentingnya,

yaitu kemampuan berkomunikasi. Bahasa Arab sebagai bahasa

internasional yang banyak berfungsi untuk pergaulan global terutama

dengan negara-negara timur tengah, maka metode tata bahasa tidak

dapat menjadikan pelajar mampu menggunakan bahasa tersebut.44

Pengajaran bahasa Arab masih kurang menekankan pentingnya aspek

tata bunyi (fonetik dan fonologi) yang notabene sebagai alat dasar untuk

memperoleh kemahiran menyimak dan berbicara (maha>rat al-istima> wa al-kala>m). Hal ini memang kembali lagi kepada orientasi pengajaran bahasa Arab. Jika orientasi pengajaran bahasa Arab hanya untuk

kepentingan memperdalam sumber-sumber ajaran Islam (orientasi

42Muhbib 'Abdul waha>b, Tantangan dan Prospek Pendidikan Bahasa Arab di

Indonesia, Afaq Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 2 No. 1, Juni (2007): 4. Dan lihat Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 89-90.

43Muhbib 'Abdul Waha>b, Epistimologi &Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2008)

44Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 45.

15

religius), maka fonetik dan fonologi dianggap tidak relevan dengan

orientasi tersebut.

Pembelajaran bahasa asing pada umumnya, dan Arab khususnya

tidak hanya bertujuan agar para peserta didik mampu membaca

literatur-literatur bahasa Arab. Akan tetapi, agar peserta didik memiliki

kemampuan dasar dalam keterampilan mendengar dan berbicara

(maha>rat al-istima> wa al-kala>m). Kamal badri mengungkapkan bahwa kemahiran yang digunakan manusia dalam memahami bahasa ketika

orang lain mengungkapkan maksud dan gagasannya adalah meliputi

mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.45

Pemahaman mengenai fonetik dan fonologi merupakan dasar

utama untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa asing. Adanya

perbedaan vokal atau konsonan dapat merubah arti, seperti kalimat

gibna dan gebna. Dalam kedua kalimat tersebut terdapat perbedaan

vokal /i/ dan /a/. kalimat gibna berasal dari Jubnu () yang berarti keju. Konsonan /g/ merupakan representasi dari konsonan dalam dialek Mesir. Dan kalimat gebna berasal dari jaibuna () yang berarti saku/kantong kita. Hal ini tentu akan dirasa sulit bagi pelajar non Arab

jika tidak memahami fonetik dan fonologi Arab a>miyah. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka

penelitian tentang Fonologi dan Morfologi Bahasa Arab a>miyah layak diteliti. Dengan pemahaman ragam fonologis bahasa Arab a>miyah, diharapkan para pelajar bahasa Arab atau masyarakat yang sudah

memiliki modal dalam bahasa fush}a> dapat memahami -setidaknya sedikit memahami- bahasa lisan atau tulis a>miyah sehingga tidak ada lagi stigma negatif mengenai kesia-siaan belajar bahasa Arab karena

tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan pengguna bahasa asli.

Harus disadari bahwa tujuan belajar bahasa asing bukan hanya untuk

menelaah materi cetak, dalam artian hanya mengkaji materi-materi

tertulis, melainkan juga agar dapat berkomunikasi secara lisan.46 Alasan

lain yaitu masyarakat Indonesia yang penuh dengan budaya sakralitas-

transendental, telah membentuk paradigma dan sikap tertentu terhadap

bahasa Arab. Bahasa Arab dipandang sebagai bahasa Tuhan dan bahasa

surga sehingga dianggap dapat memberikan pahala dan ketenangan bagi

orang yang mendengarkannya walaupun bahasa Arab tersebut berbau

45Kama>l Ibra>him Badri>, Al-As}wa>t wa al-Niza>m al-S}aut Mutbiqan 'ala> al-

lughah al-'Arabiyah (Riya>d}: al-Maktabah Ja>mi'ah al-Malik Su'ud, 1982), 31. 46Youssef A. Haddad, Dialect and Standard in Second Language Phonology:

The Case of Arabic, SKY Journal of Linguistics, No. 19 (2006): 147.

16

vulgar, seperti halnya lagu-lagu Arab yang banyak menggunakan bahasa

a>miyah yang jarang dapat dipahami oleh masyarakat. Banyak masyarakat ketika mendengar lagu-lagu Arab yang makna

di dalamnya berbau vulgar dianggap sebagai s}alawat oleh masyarakat

awam sehingga banyak masyarakat yang memperdengarkannya di

tempat yang sakral seperti masjid/mus}alla atau misalnya dalam acara-

acara perayaan hari besar. Hal tersebut disebabkan oleh ketidak

pahaman mereka terhadap makna yang terkandung di dalamnya

sehingga bahasa Arab yang memiliki makna apapun dapat memberikan

ketenangan dan pahala bagi siapa saja yang mendengarkannya. Alasan

pemilihan judul ini juga didasarkan atas kurangnya penelitian mengenai

studi dialek (Arabic Dialectology) sehingga ketika pelajar bahasa Arab yang ingin mengetahui lebih mengenai dialek-dialek Arab, sulit untuk

mendapatkan informasi, dan juga didasarkan atas pendapat Johann Fuck

(1938), yang berpendapat bahwa mayoritas perbedaan antara a>miyah dan fus}h}a> adalah pada tataran bunyi, struktur kata (sintaksis), dan leksikon.47

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Bahasa Arab yang tersebar luas dan terbagi menjadi

berbagai kabilah sehingga bahasa a>miyah (bahasa sehari-sehari atau juga disebut bahasa non formal) terbagi menjadi berbagai

ragam a>miyah sehingga baik secara fonetik dan strukturnya tergantung letak geografis maupun budaya setempat. Antara

bahasa a>miyah Arab Saudi dan Mesir misalnya, terdapat perbedaan antara keduanya, baik secara fonologis maupun

strukturnya. contoh:

(1 (2 (3

Kalimat nomor satu merupakan bahasa Arab a>miyah Saudi, dan dilafalkan (ish tegu>l) yang secara fonologis dan strukturnya berbeda dengan a>miyah Mesir yang dilafalkan (tiul ih). Dalam contoh kalimat pertama, kata tanya lebih

47Johann Fuck, al-Arabiyyah: Dira>sa>t fi> al-Lughah wa al-Lahaja>t wa al-

Asa>li>b. Diterjemahkan oleh Ramd}an Abd. Tawwa>b (Kairo: Maktabah al-Khanji, 1980),

15.

17

didahulukan, dan ini berbeda dengan a>miyah Mesir yang

mengakhirkan kata tanya yaitu (ih). Kemudian contoh kalimat yang terakhir dilafalkan menjadi el-ustad ghay. Secara fonologis dan sintaksis, tentu ini berbeda dengan bahasa Arab

fas}i>hah (Modern Standard Arabic). Dalam MSA kalimat terakhir diungkapkan/ditulis berupa bentuk jumlah filiyah,

yaitu dan pelafalannya pun berbeda dengan a>miyah Mesir yaitu (ja-a al-usta>dh). Contoh lain misalnya dalam penekanan suatu kata atau yang biasa disebut nabr (stress)

seperti: . Dalam dialek Mesir, penekanan (nabr) berada di tengah kata ( / -/ - ), posisi nabr ada pada huruf ke-2, sedangkan dalam MSA posisinya berada pada awal kata

yaitu pada huruf dan pertama. Contoh lain misalnya yang dirasa sulit bagi pelajar non

Arab yaitu perbedaan vokal dan konsonan yang dapat merubah

arti yang dimaksud oleh pembicara, yaitu antara kalimat:

1) 'umna dan 'omna 2) gebna dan gibna 3) mayyit (air) dan mayyit (mayit)

Pada contoh nomor satu yaitu 'umna dan 'omna terdapat

perbedaan vokal /u/ dan /o/. 'umna berasal dari kalimat (Qumna, konsonan Qaf dalam dialek Mesir dilafalkak hamzah sehingga menjadi 'umna) yang tentu berbeda dengan 'omna

karena kalimat tersebut berasal dari . Selanjutnya contoh nomor dua yaitu antara gebna dan gibna. Gibna berasal dari

Jubnu () yang berarti keju. Sedangkan kalimat gebna berasal dari jaibuna () yang tentu berbeda dengan gibna. Dan yang terakhir yaitu mayyiti untuk bermakna air dilafalkan seperti ada gabungan konsonan mim dengan mim, dan pelafalan vokal /a/ seperti melafalkan vokal /o/. akan tetapi,

jika tidak dilafalkan demikian maka bermakna mayit (orang

yang telah meninggal).

Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang dirasa sulit

bagi pelajar non Arab yang menyebabkan pelajar tidak mampu

berkomunikasi dengan semua orang Arab -terlepas dari

berpendidikan atau tidaknya orang Arab tersebut-. Bahkan

18

terdapat bahasa Arab a>miyah yang sangat berbeda dengan

MSA, yaitu seperti kalimat (ish lo>nak) yang artinya sepadan dengan dalam MSA. Kata merupakan bentuk tanya sebagai pengganti kata tanya / dalam Arab fus}h}a>, sedangkan yang artinya warnamu merupakan gabungan antara (warna) dan (objek yang ditujukan kepada maskulin ataupun feminin. Jika dilafalkan

ak, maka ditujukan untuk maskulin, dan jika ik, maka ditujukan untuk feminin). Dalam kalimat tersebut, keadaan

baik (sehat) atau tidaknya seseorang dilambangkan dengan

warna () karena orang yang sehat biasanya memiliki warna muka yang cerah yang tentunya berbeda dengan orang yang

tidak dalam keadaan sakit karena biasanya memiliki warna

muka yang merah atau kusam.

Dialek terdiri dari berbagai macam, baik klasifikasi

dialek berdasarkan geografis, historis dan sosiologis. Ala

Elgibali mengklasifikasikan dialek secara geografis terbagi menjadi dua inti yaitu oriental (arab bagian timur), dan

oksidental (Arab bagian barat),48 yg mana keduanya memiliki

karakteristiknya masing-masing. Seperti kecenderungan arab

bagian barat yg tidak menyebutkan huruf vokal pada bentuk

kata orang pertama dan menghubungkannya dengan nun, yg mana Arab bagian timur menyebutkan huruf vokal tersebut /a/.

Secara umum pembagian dialek secara geografis terbagi

menjadi beberapa bagian seperti dialek Saudi, Yaman, Mesir,

Sudan, Irak dan sebagainya yang memiliki karakteristiknya

masing, seperti pelafalan konsonan dan vokal yang tidak

terdapat dalam Arab fas}i>hah, peniadaan konsonan yang terdapat dalam Arab fas}i>hah bahkan cara yang berbeda yang dimiliki masing-masing dialek dalam memisahkan tiga

konsonan secara berurutan, seperti:

48Ala Elgibali, Acquisition of Arabic as a Native Language: Implications for

Linguistic Analysis, Studies in Semitic Languages and Linguistics, Vol. 42 (2005), 23. Dan Soha Abboud Haggar, Teaching Arabic Dialectology in European Universities:

Why, What, and How, Studies in Semitic Language and Linguistics, Vol. 42 (2005), 123.

19

a. Saudi, tarjamt+lu menjadi tarjamtalu, yang artinya aku/kamu menterjemahkan untuknya (lk)

b. Mesir, tarjamt+lu menjadi tarjamtilu c. Dialek Sudan, shuft+hin menjadi shuftahin yang

artinya aku/kamu melihat mereka (pr).

d. Dialek Iraq (ibn+na menjadi ibinna, kitabt+la menjadi kitabitla, yang artinya aku menulis untuknya)

2. Pembatasan Masalah Agar penelitian ini fokus dan terarah, maka penulis

perlu untuk melakukan pembatasan. Berdasarkan identifikasi

masalah yang telah disebutkan di atas, maka penulis hanya akan

membatasi bahasa Arab a>miyah kairo untuk dialek geografis Mesir dan Jeddah/Mekah untu dialek geografis Saudi49.

Pembatasan dialek ini tidak berarti penulisan menafikan dialek-

dialek lainnya.

Alasan penulis memilih bahasa Arab a>miyah Mesir dan Saudi tidak berarti penulis memandang bahwa bahasa Arab

a>miyah yang lainnya tidak penting. Akan tetapi pemilihan a>miyah Mesir dan Saudi ini yaitu dapat menjadi pengetahuan dasar bagi pelajar yang hendak melanjutkan studi di Mesir

karena dari tahun ke tahun para pelajar Indonesia semakin

banyak yang melanjutkan studi mereka di negara tersebut,

diharapkan dengan adanya pengenalan bahasa Arab a>miyah terhadap pelajar bahasa Arab dapat menjadi bekal agar para

pelajar tidak terlalu merasa asing ketika mendengar orang-

orang Mesir berbicara, dan juga sebagai pengetahuan dasar

bagi para jamaah haji/umrah.

Dialek yang diambil sebagai kajian dalam penulisan ini

adalah dialek secara geografis. Bahasa Arab Mesir secara

praktis dikenal dengan satu dialek yaitu dialek Kairo. Farida

Abu Haidar menyatakan dalam artikelnya bahwa pada tahun

1950 dan 1960 an, bahasa Arab Mesir secara praktis dikenal

dengan satu dialek yaitu dialek Kairo.50 Hal senada juga

dikemukakan oleh Catherine Miller bahwa Sejak abad 20

49Arab Mesir dituturkan oleh sekitar 50 juta orang di Mesir maupun oleh

masyarakat Mesir imigran di Timur Tengah, Eropa dan Amerika Utara. Lihat Simon

Ager, Omniglot: The Online Encyclopedia of Writing Systems and Language, http://www.omniglot.com. Diakses pada tanggal 24 April 2014.

50Farida Abu Haidar, The Arabic of Rabi 'a: A qaltu dialect of Northwestern

Iraq, Studies in Semitic Language and Linguistics, Vol. 38 (2004), 1.

http://www.omniglot.com/

20

dialek utama kota sering muncul sebagai dialek nasional baik

di maroko maupun di timur tengah.51

3. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas bahwa yang

akan dikaji dalam tesis ini yaitu mengenai ragam fonologis dan

morfologis bahasa Arab a>miyah dialek Mesir dan Saudi, memunculkan pertanyaan yang menjadi masalah dalam

penelitian ini, yaitu bagaimana proses fonologis dan

morfologis yang terjadi dalam bahasa Arab a>miyah dialek Mesir (Kairo) dan Saudi (Jeddah/Mekah)? Dengan

mengkomparasikan antara kedua bahasa tersebut, dan

selanjutnya akan dikomparasikan dengan bahasa Arab fas}i>hah untuk mengetahui perbedaan dalam aspek apakah yang paling signifikan antara kedua dialek tersebut dengan Arab fas}i>hah, manakah di antara kedua dialek yang lebih dekat dengan

fas}i>hah?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan

mengkomparasikan bahasa Arab a>miyah Mesir dan Saudi, kemudian kedua dialek regional tersebut dikomparasikan dengan bahasa Arab

fus}h}a>. Dengan mengetahui perbedaan dan persamaan antara keduanya, dapat menjadi acuan bagi para pelajar bahasa Arab dalam mempelajari

a>miyah melalui bahasa Arab fus}h}a>. Dengan mengetahui dan memahami Arab a>miyah pula diharapkan tidak ada lagi stigma bahwa mempelajari bahasa Arab merupakan hal yang sia-sia karena hanya dapat membaca

literatur Arab dan hanya dapat berkomunikasi dengan native speaker yang tertentu saja tanpa dapat berkomunikasi dengan setiap orang Arab.

Di era globalisasi ini, bahasa Arab bukan hanya sekedar memahami teks

(maha>rat al-Qira>ah) semata, ada tuntutan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu kemampuan berkomunikasi (maha>rat al-kala>m).

Bahasa Arab sebagai bahasa internasional yang banyak berfungsi

untuk pergaulan global terutama dengan negara-negara timur tengah,

maka metode tata bahasa tidak dapat menjadikan pelajar mampu

menggunakan bahasa tersebut. Maka dari itu, tulisan mengenai

Fonologi dan Morfologi Bahasa Arab A

21

bicara, lalu kemudian dapat mengetahui cara berkomunikasi dengan

bahasa tersebut (maha>rat al-istima> dan kala>m), dan aspek morfologi merupakan modal untuk mengetahui bentuk kata. Orang Arab akan

merasa lebih dekat jika kita berkomunikasi dengan menggunakan

bahasa a>miyah. Maka tak heran jika orang-orang Arab yang berpendidikanpun berbicara menggunakan a>miyah ketika berkomunikasi dengan sesamanya.

D. Signifikansi Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif,

baik secara teoritis maupun praktis. 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memperkaya khazanah pengetahuan dan kajian mengenai

bahasa Arab pada umumnya, dan a>miyah khususnya. Dan memberikan kontribusi terhadap wawasan kebahasaan bagi

perkembangan linguistik dan sosiolinguistik.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian sejenis yang akan dilakukan oleh para peneliti berikutnya, serta menjadi bahan pertimbangan untuk mengajarkan bahasa Arab agar para peserta

didik tidak hanya mendapatkan ilmu tentang kebahasaan,

melainkan juga kemahiran bahasa, khususnya kemahiran

mendengar dan berbicara. Dan juga sebagai tugas akhir untuk

mencapai gelar magister dalam pendidikan bahasa Arab.

E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan Penelitian mengenai bahasa Arab a>miyah atau dialek Arab, penulis

temukan dalam karya tulis sebagai berikut:

1) Shauqi D{ayf Tah}ri>fa>t al- A: Fi> al-Qawa>'id wa al-Binya>t wa al-Huru>f wa al-Haraka>t (1994).52 mengemukakan bahwasanya pergeseran antara bahasa Arab fus}h}a> dan a>miyah didasari oleh faktor-faktor tata bahasa yang mencakup bentuk-bentuk kata dan sistem tanda, misalnya

kata dalam kaidah tata bahasa yang resmi tidak . pernah dikenal hal seperti itu, melainkan yang sesuai dengan

kaidah yaitu .

52Shauqi D}ayf Tah}ri>fa>t al- 'A: Fi> al-Qawa>'id wa al-Binya>t

wa al-Huru>f wa al-Haraka>t (1994), 16.

22

2) Soha Abboud Haggar Teaching Arabic Dialectology in European Universities: Why, What, and How (2005). Dalam artikel ini disebutkan bahwa untuk mempelajari bahasa Arab

miyah dialek tertentu, pelajar bahasa harus mengetahui bahasa Arab klasik terlebih dahulu sebagai media untuk

mempercepat pemahaman mereka terhadap dialek tersebut. Di

samping itu juga pemerolehan kosakata merupaka sarat utama

dalam mempelajari bahasa asing.53 3) Ahmed Abdel Hady Egyptian Arabic Phrasebook yang

diterbitkan oleh Lexus pada tahun 2002, dan kemudian direvisi

pada tahun 2006. Buku ini membahas mengenai ungkapan-

ungkapan dengan menggunakan a>miyah Mesir dalam kegiatan sehari-hari ketika berada di pasar, bank, kantor pos, restoran,

hotel, dan sebagainya. Penerjemahan bulan, hari, dan tanggal

dalam dialek Mesir. Buku ini pula membahas mengenai

ajektiva, demonstrativa, dan numeralia. 4) Janet C. E. Watson The Phonology and Morphology of Arabic

yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2007.

Buku ini adalah studi komparatif bahasa Arab dialek Mesir dan

Sanani (Yaman). Penelitian ini hampir sama dengan buku

tersebut karena merupakan studi komparatif bahasa Arab dialek

Mesir, namun terdapat perbedaan dalam penelitian ini yaitu

studi komparatif antara Arab dialek Mesir dan Saudi, sedangkan

dalam penelitian tersebut mengkomparasikan Arab a>miyah dialek Mesir dan San'an (Yaman).

5) Ahmad Sayuti Anshari Nasution, Bahasa Arab Dialek Mesir dan masih penulis yang sama, namun dengan judul Bahasa Arab Dialek Saudi yang diterbitkan oleh PT. Siwibakti Darma pada tahun 2012.

6) Zeinab Ibrahim Polysemi in Arabic Dialect yang diterbitkan oleh Brill University dalam artikel Studies in Semitic

Languages and Linguistics volume XLII pada tahun 2005.

Artikel ini mengupas tentang polisemi pada dialek Arab, seperti

Mesir, Iraq, Maroko, Yaman dan Tunisia. 7) Enam Al-Wer Variability Reproduced: a Variationist View of

The {{{[D{]/ [D{] Opposition in Modern Arabic Dialects yang diterbitkan oleh Brill University dalam artikel Studies in

53Soha Abboud Haggar, Teaching Arabic Dialectology in European

Universities: Why, What, and How, Studies in Semitic Language and Linguistics, Vol. XLII (2005), 117-132.

23

Semitic Languages and Linguistics volume XXXVIII pada

tahun 2004. Artikel ini menganalisis pelafalan konsonan [D{] dan

[D{] dalam dialek-dialek Arab. Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

Penelitian ini bermaksud untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan

serta mengkomparasikan ragam fonologis yang terjadi dalam bahasa

Arab a>miyah dialek Mesir dan Saudi, baik secara teoritis maupun aplikatif sehingga penjelasannya akan lebih konkret dan memudahkan

pelajar untuk dapat lebih mengetahui bahasa a>miyah. Dalam tulisan ini akan mengkaji ragam fonologis dan morfologis yang terdapat pada

kedua dialek yang kemudian akan dikomparasikan dengan Arab fus}h}a> sehingga dengan mengetahui perbedaan-perbedaan tersebut, pelajar

Arab fus}h}a> akan dengan mudah mengetahui dan memahami Arab a>miyah. Selain itu juga dalam penelitian ini akan disinggung mengenai leksikon dan sintaksis sebagaimana yang diungkapkan Langacker

bahwa leksikon, morfologi, dan sintaksis merupakan satu kesatuan yang

utuh yang terdiri dari kumpulan struktur simbolik.54

Walaupun bahasa Arab a>miyah ini tidak seperti Arab fus}h}a> yang memiliki kaidah-kaidah baku dan tertulis, serta tersebar di seluruh dunia

yang mempelajari bahasa Arab, namun karena bahasa itu bersifat

konvensional, maka masyarakat bahasa yang tidak mematuhinya

dianggap telah melakukan kesalahan, walaupun kaidah-kaidah tersebut

tidak tertulis, namun tertanam dalam diri masyarakat bahasa. Dalam

tulisan ini juga akan dibicarakan mengenai wazan-wazan bahasa Arab fus}h}a> (MSA) dalam kacamata bahasa Arab a>miyah sehingga dengan penguasaan bahasa Arab fus}h}a> yang cukup, maka setidaknya akan lebih mudah memahami bahasa Arab a>miyah. Hal ini sejalan berdasarkan asumsi pemerolehan bahasa bahwa pemerolehan bahasa didapatkan

melalui kosakata dan fonologi yang dipelajari secara bersama.55

F. Metode Penelitian Agar penelitian menjadi lebih terarah maka dikemukakan

mengenai metode penelitian. Dalam metode penelitian yang menjadi

pokok bahasan adalah jenis penelitian, sumber data penelitian,

instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis

data.

54Langacker dalam Heidi Byrnes, et al, Educating for Advanced Foerign

Language Capacities (Washington DC: Georgetown University Press, 2007), 17. 55Tesar, et al dalam Youssef A. Haddad, Dialect and Standard in Second

Language Phonology: The Case of Arabic, SKY Journal of Linguistics, No. 19 (2006): 147.

24

1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan kajian komparatif (comparative

research). Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis ragam dialek Saudi dan Mesir, selanjutnya akan penulis komparasikan

antara kedua bahasa tersebut. Penelitian ini merupakan studi kasus

ragam dialek Mesir (Kairo) dan Saudi (Jeddah/Mekah).

2. Sumber Data Penelitian Sumber data penelitian dalam tesis ini yaitu terdiri dari sumber

primer dan sekunder. Adapun sumber primer yaitu buku

Colloquial Arabic of Egypt, bahasa lisan yang diucapkan oleh penutur asli Mesir, yang didokumentasikan dalam buku berikut file

listening karangan Jane Wightwick dan Mahmoud Gaafar, dan

sumber untuk a>miyah Saudi adalah Colloquial Arabic of The Gulf and Saudi Arabia yang ditulis oleh Clive Holes, keduanya diterbitkan oleh Routledge London dan New York tahun 2009

untuk Mesir, dan 2000 untuk Saudi, dan sumber lainnya yaitu lagu-

lagu Mesir, film dan native speaker agar hasil yang diperoleh lebih

akurat. Sedangkan sumber sekunder yaitu Bunyi Bahasa yang

ditulis oleh A. Sayuti Ans}a>ri Nasution, dan Ragy Ibrahim Learn Arabic the Fast and Fun Way yang diterbitkan oleh Barrons pada tahun 2009, dan Egyptian Arabic yang diterbitkan oleh Lexus pada tahun 2006, dan buku-buku atau artikel yang berkaitan

dengan dialek.

3. Instrumen Penelitian Manusia adalah instrument penelitian, maka dari itu

instrument utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Moch.

Ainin mengemukakan bahwa sebagai penelitian yang bersifat

kualitatif, instrument kunci dalam penelitian ini adalah human instrument, artinya bahwa penelitilah yang mengumpulkan data, menyajikan data, mereduksi data, mengorganisir data, memaknai

data, dan menyimpulkan hasil penelitian.56

Penelitian dikhawatirkan ini akan menjadi subjektif karena

mengkaji dialek suatu daerah yang menggunakan bahasa Arab.

Namun karena objek penelitian ini adalah bahasa lisan yang telah

didokumentasikan dalam sebuah buku Colloquial Arabic of

56Moch. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab (Pasuruan: Hilal Pustaka,

2007), 177.

25

Egypt berikut file listening untuk mengetahui bagaimana cara pengungkapan kata atau kalimat dalam dialek tersebut tak

mengurangi sifat otonomnya, artinya bahwa karena objeknya

bukan manusia yang bisa berubah dan bahkan dapat memanipulasi

data, maka dapat dibuktikan keobjektifannya oleh para peneliti

lain.

4. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berupa data

primer dari bahasa Arab a>miyah dialek Mesir yang didokumentasikan dalam buku Colloquial Arabic of Egypt

berikut file listening (istima) yang diterbitkan oleh Routledge pada tahun 2009 dan Colloquial Arabic of The Gulf and Saudi Arabia yang ditulis oleh Clive Holes serta melalui lagu-lagu, film-film, tulisan berupa karikatur dalam bahasa a>miyah dan wawancara dengan native speaker untuk mengetahui bagaimana

pengucapan suatu kata atau kalimat dalam bahasa Arab a>miyah dialek Mesir dan Saudi. Dan data yang diperoleh kemudian

dianalisis dengan menggunakan metode komparatif.

G. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah dalam memberikan gambaran yang jelas dan

terarah dalam kajian ini, penulis menyusun sistematika penulisan. Tesis

ini terdiri dari lima bab, dan masing-masing bab terdiri dari sub-sub bab.

Masing-masing bab maupun sub bab memilikin keterkaitan dengan bab

maupun sub bab lainnya. Adapun sistematika penulisan ini adalah

sebagai berikut:

Bab satu, berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang

masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan

masalah, tujuan, signifikansi penelitian, kajian terdahulu yang relevan,

metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, sumber data

penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data,

kemudian dilanjutkan dengan sistematika penulisan. Pembahasan dalam

bab ini dimaksudkan sebagai pengantar kepada pembahasan masalah

sehingga dengan adanya bab pendahuluan ini diharapkan akan

tergambar dengan jelas latar belakang dan langkah-langkah yang akan

diambil dalam penelitian ini.

Bab dua merupakan tinjauan teoritis mengenai dikursus bunyi-

bunyi bahasa Arab yang meliputi konsonan, vokal, semi vokal. Dan

fonem bahasa Arab, bahasa Arab a>miyah dan macam-macamnya, faktor-faktor terjadinya bahasa Arab menjadi berbagai macam dialek,

26

dan perdebatan mengenai eksistensi bahasa Arab a>miyah yang dianggap kebanyakan orang merupakan hal negatif, serta karakteristik

bahasa Arab a>miyah Mesir dan Saudi. Selanjutnya bab tiga. Pada bab tiga ini penulis akan

menganalisa dan menjelaskan mengenai silabel, tekanan, pengaruh

tekanan pada kedua dialek, variasi fonologis bahasa Arab a>miyah dialek Mesir dan Saudi, intonasi, dan panjang pendek bunyi bahasa. Dan

penulis akan menganalisa dan mengkomparasikan ragam fonologis yang

terjadi dalam bahasa Arab a>miyah antara dialek Saudi dengan Mesir yang berbeda dengan bahasa Arab fus}h}a> (Modern Standard Arabic).

Bab empat penulis akan membahas mengenai komparasi

morfologis bahasa Arab a>miyah dialek Saudi dan Mesir, meliputi Triliteral Verb (fi'il thulthi), Non Triliteral Verb, Fi'il Ajwf (hollow verb), Fi'il Mithal (first weak verb), Mu'tall a>khir (Final Weak verb), Geminate Verb (fi'il mud}a''af), Plural (jamak) dalam BADS dan BADM, Afiksasi, Proses prosodi dan Akronim (naht). Bab terakhir yaitu bab lima merupakan penutup. Bab ini terdiri

dari dua sub bab yaitu sub bab pertama adalah kesimpulan yang

merupakan kesimpulan besar dari pembahasan tesis ini, dan merupakan

jawaban dari perumusan masalah yang terdapat dalam bab satu.

Sedangkan sub bab kedua yaitu berupa saran-saran atau rekomendasi.