five on a treasure island by enid blyton lima · pdf filefive on a treasure island by enid...

79
FIVE ON A TREASURE ISLAND by Enid Blyton LIMA SEKAWAN DI PULAU HARTA alihbahasa: Agus Setiadi Penerbit: PT Gramedia Cetakan Kedua: November 1980 I LIBURAN YANG TAK TERSANGKA “BAGAIMANA, Bu, sudah ada kabar tentang liburan kita?” tanya Julian pada suatu pagi. “Bisakah kita pergi lagi ke Polseath, seperti biasanya?” “Kurasa tidak bisa,” jawab Ibu. “Semua penginapan di sana penuh kali ini.” Ketiga anak yang sedang sarapan itu saling berpandangan. Mereka kecewa, karena sebenarnya kepingin sekali ke Polseath. Mereka menyukai rumah yang biasa mereka sewa dalam liburan. Pantai di Polseath sangat indah. Enak mandi-mandi di sana. “Jangan sedih dong,” kata Ayah membujuk. “Kita pasti masih akan berhasil menemukan tempat berlibur yang sama baiknya. O ya, aku dan Ibu kali ini tidak bisa ikut dengan kalian. Ibu sudah bercerita mengenainya?” “Belum,” sahut Anne. “Betul itu, Bu? Ibu tidak bisa ikut berlibur dengan kami? Selama ini Ibu selalu bisa.” “Kali ini Ayah mengajak ke Skotlandia,” ujar Ibu. “Cuma kami berdua saja! Kalian kan sudah cukup besar. Sudah bisa mengurus diri sendiri. Karenanya kami rasa pasti akan senang, bila sekali-sekali pergi berlibur tidak dengan orang tua. Tapi sekarang ternyata kalian tidak bisa pergi ke Polseath. Ibu sekarang agak bingung, tak tahu ke mana kalian bisa pergi dalam liburan nanti.” “Bagaimana kalau mereka ke Paman Quentin?” kata Ayah tiba-tiba. Paman Quentin itu adik Ayah, jadi paman anak-anak. Mereka baru sekali berjumpa dengan Paman Quentin. Mereka

Upload: tranphuc

Post on 23-Feb-2018

240 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

FIVE ON A TREASURE ISLAND

by Enid Blyton

LIMA SEKAWAN

DI PULAU HARTA

alihbahasa: Agus Setiadi

Penerbit: PT Gramedia

Cetakan Kedua: November 1980

I

LIBURAN YANG TAK TERSANGKA

“BAGAIMANA, Bu, sudah ada kabar tentang liburan kita?” tanya Julian pada suatu pagi. “Bisakah kita pergi lagi ke Polseath, seperti biasanya?”

“Kurasa tidak bisa,” jawab Ibu. “Semua penginapan di sana penuh kali ini.”

Ketiga anak yang sedang sarapan itu saling berpandangan. Mereka kecewa, karena sebenarnya kepingin sekali ke Polseath. Mereka menyukai rumah yang biasa mereka sewa dalam liburan. Pantai di Polseath sangat indah. Enak mandi-mandi di sana.

“Jangan sedih dong,” kata Ayah membujuk. “Kita pasti masih akan berhasil menemukan tempat berlibur yang sama baiknya. O ya, aku dan Ibu kali ini tidak bisa ikut dengan kalian. Ibu sudah bercerita mengenainya?”

“Belum,” sahut Anne. “Betul itu, Bu? Ibu tidak bisa ikut berlibur dengan kami? Selama ini Ibu selalu bisa.”

“Kali ini Ayah mengajak ke Skotlandia,” ujar Ibu. “Cuma kami berdua saja! Kalian kan sudah cukup besar. Sudah bisa mengurus diri sendiri. Karenanya kami rasa pasti akan senang, bila sekali-sekali pergi berlibur tidak dengan orang tua. Tapi sekarang ternyata kalian tidak bisa pergi ke Polseath. Ibu sekarang agak bingung, tak tahu ke mana kalian bisa pergi dalam liburan nanti.”

“Bagaimana kalau mereka ke Paman Quentin?” kata Ayah tiba-tiba. Paman Quentin itu adik Ayah, jadi paman anak-anak. Mereka baru sekali berjumpa dengan Paman Quentin. Mereka

agak takut padanya. Orangnya jangkung, tak pernah tersenyum. Apalagi tertawa! Dia seorang sarjana yang sangat pintar. Ia boleh dibilang terus-menerus sibuk dengan ilmunya saja. Paman Quentin tinggal di tepi laut. Cuma itulah yang diketahui anak-anak tentang paman mereka itu.

“Quentin?” tanya Ibu agak heran. “Kenapa tiba-tiba teringat padanya? Kurasa dia takkan senang jika ada anak-anak yang ribut bermain-main dalam rumahnya.”

“Soalnya begini,” kata Ayah menerangkan duduk perkara. “Baru-baru ini aku bertemu dengan isterinya di kota, karena ada urusan sedikit. Kurasa keuangan mereka saat ini agak sempit. Kata Fanny, dia akan senang sekali jika ada orang menginap di rumah mereka, supaya ada tambahan penghasilan.” Fanny adalah isteri Paman Quentin, jadi bibi anak-anak.

“Kau kan tahu, mereka tinggal di tepi laut,” kata Ayah melanjutkan keterangannya. “Mungkin cocok sekali untuk tempat berlibur bagi anak-anak. Fanny ramah sekali. Pasti anak-anak takkan mengalami kekurangan apa pun juga.”

“Ya, betul juga,” sambut Ibu. “Dan mereka kan juga punya seorang anak. Siapa lagi namanya — masakan sampai bisa lupa. Nanti dulu, agak aneh kedengarannya — ah ya, aku ingat lagi sekarang. Georgina. Berapa umurnya sekarang, ya? Kurasa kurang lebih sebelastahun.”

“Sama dengan aku,” kata Dick. “Bayangkan, kita punya saudara sepupu yang belum pernah kita lihat. Tentunya dia sangat kesepian. Aku bisa bermain bersama-sama Julian dan Anne. Tapi Georgina anak tunggal. Kurasa pasti dia akan gembira jika kita datang.”

“Ya, kata Bibi Fanny anaknya akan senang jika ada teman datang,” ujar Ayah. “Kurasa kalau aku sekarang meneleponnya untuk mengurus kedatangan anak-anak ke sana, persoalannya akan beres. Dengannya Fanny akan agak tertolong, sedang Georgina pasti akan gembira karena ada teman-teman bermain selama liburan. Dan kita bisa tenang, karena ketiga anak kita terurus baik.”

Anak-anak mulai merasa tertarik. Tentunya asyik, pergi ke suatu tempat yang belum pernah didatangi, dan tinggal bersama seorang saudara sepupu yang belum mereka kenal.

“Di sana ada tebing yang tinggi? Ada batu-batu dan pasir?” tanya Anne bertubi-tubi. “Tempatnya enak atau tidak?”

“Aku tak begitu ingat,” jawab Ayah. “Tapi aku merasa pasti, tempat itu mengasyikkan. Pokoknya kalian akan senang di sana! Namanya Teluk Kirrin. Bibi Fanny dilahirkan di sana, dan biar bagaimana takkan mau pergi dari sana.”

“Ayo dong, Yah — telepon Bibi Fanny, dan tanyakan apakah kami bisa ke sana!” seru Dick tak sabar lagi. “Kurasa tempat itu cocok sekali bagi kami. Kedengarannya seperti banyakpetualangan yang bisa dialami di sana!”

“Ah, kau ini kan selalu begitu! Ke mana saja kau pergi, selalu kaukatakan tempat itu banyak petualangannya,” ujar Ayah sambil tertawa. “Baiklah! Kutelepon saja dia sekarang. Kita lihat nanti, barangkali kalian beruntung.”

Anak-anak sudah selesai sarapan. Mereka menunggu Ayah yang akan menelepon. Ayah pergi ke ruang tengah. Kedengaran kesibukannya menelepon.

“Mudah-mudahan saja berhasil,” harap Julian. “Aku kepingin tahu, seperti apa saudara sepupu kita yang bernama Georgina itu. Namanya aneh, ya? Seperti nama anak laki-laki. Kata Ibu tadi umurnya kira-kira sebelas tahun. Setahun lebih muda dari aku. Seumur dengan kau, Dick, dan satu tahun lebih tua dari Anne. Mestinya dia cocok dengan kita. Pasti akan asyik kita bermain bersama-sama.”

Sesudah menelepon selama kurang lebih sepuluh menit, Ayah kembali. Melihat mukanya, dengan segera anak-anak tahu bagaimana hasil pembicaraannya. Ayah tersenyum lebar.

“Beres,” ujarnya. “Bibi Fanny gembira mendengarnya. Katanya untung sekali jika Georginamendapat teman. Anak itu selalu seorang diri. Ke mana-mana tidak berteman. Bibi merasa senang dititipi kalian. Hanya kalian harus hati-hati, jangan sampai Paman Quentin terganggu. Dia sangat sibuk bekerja, dan cepat marah jika merasa terganggu.”

“Kami takkan ribut jika di dalam rumah,” kata Dick. “Sungguh, kami berjanji. Aduh, asyik! Kapan kita pergi, Yah?”

“Minggu depan, jika Ibu bisa selesai saat itu,” kata Ayah. Ibu mengangguk.

“Bisa saja,” katanya. “Tak banyak yang harus dipersiapkan untuk mereka. Hanya pakaian renang, baju kaos dan celana pendek. Cuma itu saja. Pakaian mereka sama semua.”

“Wah, enak! Kita bisa pakai celana pendek lagi,” seru Anne girang, sambil menandak-nandak dalam kamar. “Aku bosan, terus-terusan memakai pakaian seragam sekolah. Aku kepingin memakai celana pendek, atau baju renang. Aku kepingin berenang dan memanjat-manjat dengan Dick dan Julian.”

“Sebentar lagi semuanya bisa kaulakukan,” kata Ibu tergelak melihat kelakuan putrinya itu. “Tapi jangan lupa menyiapkan alat permainan dan buku-buku yang ingin kalian bawa. Jangan banyak-banyak, karena tempatnya tidak banyak untuk itu.”

“Tahun lalu Anne ingin membawa serta kelima belas bonekanya sekaligus,” ujar Dick. “Masih ingat, Anne? Menggelikan sekali kau waktu itu, ya?”

“Tidak,” jawab Anne dengan ketus. Mukanya merah. “Aku sayang pada semua bonekaku. Karena bingung memilih, kuputuskan untuk membawa semuanya saja. Itu sama sekali tidak menggelikan.”

“Kau juga ingat satu tahun sebelumnya lagi? Anne kepingin membawa kuda goyangnya,” kataDick lagi sambil tertawa cekikikan. Kemudian Ibu mencampuri pembicaraan.

“Ya, dan Ibu ingat ada seorang anak laki-laki bernama Dick, yang pernah merengek-rengekingin membawa serta dua boneka hitam, satu beruang-beruangan, tiga anjing-anjingan dan satu boneka monyet ke Polseath.”

Sekarang giliran Dick merasa malu. Cepat-cepat ia berganti pembicaraan.

“Dengan apa kita ke sana, Yah?” tanyanya pada Ayah. “Naik mobil, atau dengan kereta api?”

“Naik mobil,” jawab Ayah. “Barang-barang kita masukkan semuanya ke tempat bagasi. Bagaimana kalau kita berangkat hari Selasa?”

“Kurasa baik sekali,” kata Ibu. “Dengan begitu kita bisa mengantarkan anak-anak, lalu kembali untuk berkemas dengan tenang. Kemudian hari Jum’at kita berangkat ke Skotlandia. Baiklah kita persiapkan saja keberangkatan hari Selasa.”

Jadi hari Selasa mereka akan berangkat. Anak-anak sudah tak sabar lagi menghitung-hitung hari.

Setiap malam Anne mencoret tanggal yang sudah berlalu di penanggalan. Lama sekali rasanya berlalu waktu satu minggu. Tapi akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Dick dan Julian yang tidur sekamar, bangun serempak pada suatu pagi. Keduanya memandangke luar jendela.

“Kelihatannya akan cerah hari ini. Horee!” seru Julian gembira sambil meloncat turun dari tempat tidurnya. “Entah kenapa, tapi bagiku rasanya penting bahwa hari pertama liburan harus cerah. Yuk, kita bangunkan Anne!”

Anne tidur di kamar sebelah. Julian masuk lalu menggoncang-goncang bahu adiknya.

“Ayo, bangun! Sekarang hari Selasa, dan matahari bersinar cerah!”

Mungkin kalian akan heran, kenapa Julian begitu meributkan soal matahari bersinar atau tidak. Tetapi di Inggris, tidak setiap hari Sang Surya muncul untuk memanaskan bumi dengan sinarnya. Di sana sering kali berkabut. Atau kalau tidak, hujan. Dan tidak enak bukan, jika bermain-main di alam yang suram?

Anne terlompat bangun. Dipandangnya abangnya dengan wajah gembira.

“Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu selama ini!” serunya riang. “Aku sudah kuatir, jangan-jangan hari Selasa takkan pernah tiba. Aduh, aku gembira sekali! Tak sabar lagi rasanya, ingin sekarang juga berangkat.”

Mereka berangkat sehabis sarapan. Mobil mereka besar, cukup tempat bagi mereka semua. Ibu di depan di samping Ayah, sedang anak-anak duduk di belakang. Kaki mereka diletakkan di atas dua buah koper. Tempat bagasi di belakang penuh dengan segala macam barang serta sebuah peti kecil. Menurut perasaan Ibu, tak mungkin masih ada yang kelupaan.

Mereka melewati jalan-jalan kota London yang penuh dengan lalu lintas. Pelan sekali mobil mereka berjalan. Tetapi ketika sudah di luar kota, mobil bergerak lebih laju. Taklama kemudian sudah sampai di daerah luaran. Ayah melajukan jalan mobil. Anak-anak bernyanyi-nyanyi. Mereka selalu bernyanyi, jika bergembira.

“Kita nanti berpiknik?” tanya Anne. Tiba-tiba ia merasa lapar.

“Yah,” kata Ibu. “Tapi kau masih harus sabar dulu. Sekarang kan baru pukul sebelas. Setengah satu nanti kita makan siang, Anne.”

“Aduh,” keluh Anne. “Tak kuat aku menahan lapar sampai saat itu.”

Ibu memberikan beberapa batang coklat. Anne bersama kedua saudara laki-lakinya makan coklat dengan nikmat, sambil mengarahkan perhatian ke pemandangan yang dilewati. Bukit,hutan dan tanah pertanian silih berganti.

Mereka berpiknik di puncak sebuah bukit, di tengah lapangan yang melandai ke arah sebuah lembah. Lembah itu nampak cerah kena sinar matahari. Asyik juga mereka piknik disitu! Anne jengkel ketika ada seekor sapi besar berwarna coklat datang mendekat dan memandangnya dengan matanya yang besar. Untung Ayah mengusirnya. Ketiga anak itu banyaksekali makannya. Kata Ibu, pukul setengah lima nanti mereka tidak bisa piknik lagi. Semua roti sudah habis disikat oleh anak-anak, termasuk yang disediakan untuk hidangan bersama teh nanti. Jadi mereka akan mampir saja ke sebuah restoran untuk minum teh. Di Inggris, orang biasa makan roti pada saat minum teh sekitar pukul setengah lima sore. Banyak restoran yang khusus menghidangkan teh serta kue-kue dan roti.

“Pukul berapa kita tiba nanti di rumah Bibi Fanny?” tanya Julian sambil mengunyah potongan rotinya yang terakhir. Ia masih lapar. Rasanya masih sanggup menyikat tiga potong lagi.

“Kalau tak ada gangguan, sekitar pukul enam,” jawab Ayah. “Nah, siapa mau jalan-jalan sebentar? Untuk melemaskan kaki, karena nanti kita akan lama duduk terus di mobil.”

Sehabis jalan-jalan sebentar, mereka masuk lagi ke dalam mobil. Ayah menjalankan kendaraan itu dengan laju. Akhirnya tiba juga saat minum teh. Anak-anak mulai gelisah.

“Pasti kita sudah dekat dengan laut,” ujar Dick. “Aku sudah bisa mencium baunya.”

Betul juga katanya. Mobil mereka meluncur ke atas sebuah bukit. Dan tiba-tiba di depan mereka terbentang air yang sangat luas. Laut biru yang tenang berkilauan kena sinar matahari sore. Ketiga anak itu bersorak serempak.

“Itu dia!”

“Aduh, bagusnya.”

“Aku kepingin berenang sekarang ini juga!”

“Tak sampai dua puluh menit lagi, kita akan sampai di Teluk Kirrin,” ujar Ayah menyabarkan. “Ternyata perjalanan kita lancar. Sebentar lagi akan kelihatan teluknya. Teluk Kirrin termasuk besar, dan ada sebuah pulau aneh di ambangnya.”

Sementara mobil mereka melaju di jalan yang menyusuri pantai, ketiga anak itu sibuk mencari-cari teluk yang dikatakan oleh ayah mereka. Kemudian Julian berteriak gembira.

“Itu dia! Pasti itu Teluk Kirrin. Lihatlah, Dick — alangkah bagusnya. Airnya biru sekali!”

“Dan lihatlah pulau karang yang kecil itu, di ujung teluk,” kata Dick. “Aku kepingin kesana.”

“Itu sudah tak perlu kaukatakan lagi,” kata Ibu. “Sekarang kita harus mencari rumah Bibi Fanny. Namanya Pondok Kirrin.”

Tak lama kemudian mereka sampai di Pondok Kirrin. Letaknya di atas sebuah bukit rendah yang berada di tepi teluk. Nama Pondok Kirrin agak menyesatkan, karena bangunannya samasekali tidak kecil. Besar dan tua, terbuat dari batu berwarna putih. Dinding depannya dirambati tanaman mawar. Kebunnya kelihatan meriah, penuh dengan bunga-bungaan.

“Inilah dia, Pondok Kirrin,” ujar Ayah sambil menghentikan mobil. “Bangunannya sudah tua, kabarnya sudah tiga ratus tahun! Mana Quentin? Nah — itu Fanny datang!”

II

SEPUPU YANG ANEH

TERNYATA Bibi Fanny sudah menunggu-nunggu kedatangan mereka. Begitu melihat ada mobil berhenti di depan, dengan segera ia berlari-lari ke luar. Begitu melihat Bibi Fanny, dengan segera anak-anak menyukainya.

“Selamat datang di Kirrin!” serunya dari jauh. “Halo, apa kabar! Senang sekali rasanya,kalian datang ke mari. Wah, bukan main — anak-anak sudah besar semuanya.”

Sesudah bersalam-salaman, ketiga anak itu masuk ke dalam rumah. Mereka segera menyukai rumah itu. Terasa ketuaannya. Seakan-akan menyimpan rahasia. Perabotan di dalamnya jugatua, dan indah.

“Mana Georgina?” tanya Anne sambil memandang berkeliling. Ia mencari-cari saudara sepupunya itu, ingin berkenalan.

“Nakal benar anak itu! Tadi sudah kubilang, dia harus menunggu kedatangan kalian di kebun,” kata Bibi Fanny. “Tahu-tahu, sekarang sudah menghilang lagi. Perlu kuperingatkan pada kalian, bahwa mungkin kalian akan menganggap Georgina agak sulit

diajak berteman. Maklumlah, selama ini dia selalu sendirian saja. Dan mungkin saja mula-mula dia tak begitu suka kalian ada di sini. Tapi jangan pedulikan! Nanti kan dia akan biasa lagi. Aku merasa syukur bagi George, karena kalian bisa ke mari. Dia sangat memerlukan teman bermain yang sebaya dengannya.”

“Bibi menamakannya George?” tanya Anne heran. “Saya kira namanya Georgina.”

“Memang betul,” jawab Bibi. “Tapi George tak suka jadi anak perempuan. Dia meminta agarkami memanggilnya dengan nama George, seperti anak laki-laki. Dia bandel sekali. Kalau dipanggil Georgina, pasti tak mau menyahut.”

Menurut perasaan ketiga anak itu, Georgina seorang anak yang menarik perhatian. Mereka sangat ingin bahwa dia datang. Tapi yang muncul bukan Georgina alias George, melainkan Paman. Paman Quentin. Kelihatannya angker sekali. Jangkung, berambut hitam, dengan dahilebar yang berkerut.

“Apa kabar, Quentin!” ucap Ayah. “Lama sekali Kita tak berjumpa. Mudah-mudahan saja ketiga anak ini tak terlalu mengganggu kesibukanmu.”

“Quentin sedang sibuk dengan sebuah buku yang sulit,” kata Bibi Fanny. “Tapi untuknya sudah kusediakan sebuah kamar yang terpisah. Kurasa dia takkan terganggu oleh anak-anak.”

Paman Quentin menatap ketiga kemenakannya, lalu menganggukkan kepala. Tetapi mukanya tetap cemberut. Anak-anak menjadi agak takut melihatnya. Syukurlah, dia bekerja di tempat yang terpisah di rumah itu.

“Mana George?” tanya Paman dengan suara berat.

“Entahlah, tahu-tahu sudah menghilang,” jawab Bibi dengan kesal. “Padahal tadi sudah kukatakan agar menunggu di sini, supaya bisa berkenalan dengan ketiga sepupunya.”

“Anak itu minta dipukul rupanya,” kata Paman. Anak-anak tak tahu pasti, apakah Paman hanya bergurau saja atau tidak. “Nah, Anak-anak — mudah-mudahan kalian bisa bersenang-senang di sini. Dan barangkali saja kalian bisa mempengaruhi George, supaya dia tidak aneh lagi.”

Di Pondok Kirrin tidak ada tempat bagi Ayah dan Ibu. Karena itu sehabis makan malam dengan terburu-buru, mereka pergi menginap di sebuah hotel di kota yang terdekat. Besoknya sehabis sarapan, mereka akan segera berangkat lagi ke London. Jadi mereka berpisah dari Julian, Anne dan Dick pada malam itu juga.

Georgina masih belum muncul juga.

“Sayang, kami tidak bisa berjumpa dengan Georgina,” kata Ibu. “Salam kami saja padanya.Mudah-mudahan dia senang bermain dengan ketiga anak ini.”

Sesudah itu Ayah dan Ibu berangkat. Anak-anak memperhatikan mobil besar mereka menghilang di tikungan. Mereka merasa agak kesepian. Tetapi Bibi Fanny cepat-cepat mengajak mereka ke tingkat atas, untuk menunjukkan tempat mereka tidur. Bibi sangat ramah, sehingga tak lama kemudian ketiga anak itu sudah lupa akan kesedihan mereka.

Julian dan Dick disuruh Bibi tidur di sebuah kamar yang miring langit-langitnya, di bawah atap rumah. Dari situ teluk bisa dilihat dengan jelas. Kedua anak laki-laki itu senang sekali mendapat kamar yang demikian bagusnya. Sedang Anne disuruh tidur bersama Georgina dalam sebuah kamar yang ukurannya agak kecilan. Dari jendela kamar itu nampak tanah berpaya-paya yang terbentang luas di belakang rumah. Tapi sebuah jendela samping menghadap ke arah laut. Kamar itu menyenangkan, dengan bunga-bunga mawar yang wangi terangguk-angguk ditiup angin di depan jendela. Anne merasa senang diberi kamar itu.

“Kenapa Georgina tidak datang-datang juga,” ujar Anne pada Bibi. “Saya kepingin sekali bertemu dengannya.”

“Anak itu agak aneh,” kata Bibi Fanny. “Kadang-kadang sikapnya seperti kasar dan sombong. Tapi sebenarnya dia sangat baik budi, lagipula setia. George selalu berkata sebenarnya. Jika sudah sekali bersahabat, tak mungkin diputuskan lagi olehnya. Sayangnya dia sukar bisa berteman.”

Tiba-tiba Anne menguap lebar-lebar. Kedua saudaranya memandangnya dengan kening berkerut. Mereka sudah bisa mengira, apa yang akan terjadi berikutnya. Dan benar juga perkiraan mereka.

“Kasihan, tentunya kau sudah sangat capek, Anne! Ayo, masuk ke tempat tidur sekarang juga. Kalian harus tidur nyenyak malam ini, supaya besok pagi bangun dalam keadaan segar-bugar,” kata Bibi.

“Kau ini memang benar-benar goblok,” ujar Dick dengan kesal pada Anne, ketika Bibi sudah ke luar. “Kau kan sudah tahu pikiran orang-orang dewasa, jika mereka melihat kitamenguap. Padahal aku tadi kepingin jalan-jalan sebentar ke pantai.”

“Maaf deh,” kata Anne menyesal. “Entah kenapa, tak bisa kutahan lagi. Nah, nah — sekarang kau sendiri juga menguap, Dick! Dan kau juga, Julian.”

Memang benar, ketiganya menguap silih berganti. Mereka sudah sangat mengantuk, capek sehabis naik mobil begitu lama. Diam-diam, mereka sebenarnya sudah kepingin masuk ke tempat tidur dan memejamkan mata.

“Aku kepingin tahu di mana Georgina saat ini,” kata Anne sewaktu mengucapkan selamat tidur pada kedua abangnya. “Aneh benar dia itu, tidak mau menunggu untuk mengucapkan selamat datang. Tidak ikut makan malam, dan sampai sekarang belum pulang. Padahal dia akan sekamar dengan aku. Entah pukul berapa dia masuk nanti.” Anne masuk ke kamarnya.

Ketiga anak itu sudah lama terlelap, ketika akhirnya Georgina pergi tidur. Mereka tak mendengarnya, ketika dengan pelan membuka pintu kamar di mana Anne sudah nyenyak. Mereka juga tak tahu lagi, ketika anak itu berganti pakaian dan kemudian menggosok gigi. Tak kedengaran oleh mereka derak tempat tidur, ketika Georgina merebahkan diri diatasnya. Ketiga anak itu sudah begitu capek, sehingga tak mendengar apa-apa lagi. Tahu-tahu terjaga dibangunkan sinar matahari pagi.

Ketika Anne membuka matanya, mula-mula ia tak tahu di mana dia berada. Anak itu berbaring di tempat tidur yang kecil, sambil menatap langit-langit kamar yang miring. Diperhatikannya bunga-bunga mawar merah yang bergerak-gerak ditiup angin di depan jendela. Tiba-tiba ia teringat kembali.

“Aku di Teluk Kirrin — dan sekarang saat berlibur!” katanya pada diri sendiri. Kakinya ditendang-tendangkan ke udara oleh karena kegirangan.

Kemudian Anne memandang ke tempat tidur satu lagi, yang ada dalam kamar itu. Seorang anak berbaring di situ, meringkuk di bawah selimut. Yang kelihatan cuma rambut yang keriting. Lain tidak. Anne menunggu sampai anak yang sedang tidur itu kelihatan bangun.

“He — kau Georgina?” sapanya.

Anak yang berbaring itu dengan seketika duduk. Ditatapnya Anne dengan mata yang biru cerah. Rambutnya keriting dipotong sangat pendek, hampir sependek anak laki-laki. Mukanya coklat terbakar sinar matahari. Tarikan mulutnya agak cemberut, sedang keningnya berkerut. Seperti Ayahnya, Paman Quentin.

“Bukan,” jawab anak itu ketus. “Aku bukan Georgina.”

“Loh!” Anne berseru heran. “Kalau begitu, kau ini siapa?”

“Namaku George,” kata anak itu. “Aku hanya mau menjawab, jika dipanggil dengan nama George. Aku benci jadi anak perempuan. Aku tak mau! Aku tak senang berbuat seperti anak

perempuan. Lebih asyik kesibukan anak laki-laki. Aku lebih cekatan memanjat daripada anak laki-laki. Dan berenang pun lebih cepat dari mereka! Aku tak kalah cekatan dengan anak-anak nelayan di pesisir sini, kalau diadu berperahu layar. Kau harus memanggil akuGeorge. Baru aku mau ngomong denganmu. Kalau tidak, aku tak mau.”

“Wah!” kata Anne. Menurut perasaannya saat itu, saudara sepupu yang baru dikenal ini aneh sekali. “Baiklah! Aku tak ambil pusing, nama mana yang harus kusebut. Menurut pendapatku, George itu nama yang bagus. Aku tak begitu senang pada nama Georgina. Lagipula, kau kelihatan seperti anak laki-laki.”

“Betul?” kata George. Sesaat lenyap kerutan dari dahinya. “Ibu marah-marah ketika aku pulang dari tukang cukur dengan rambut dipotong pendek. Dulu rambutku panjang, sampai ke bahu. Jelek deh!”

Sesaat lamanya kedua anak perempuan itu saling berpandangan. Kemudian George bertanya,

“Kau sendiri — tidak benci rasanya jadi anak perempuan?”

“Tentu saja tidak!” jawab Anne. “Soalnya, aku senang memakai gaun yang bagus. Aku suka bermain dengan boneka. Dan sebagai anak laki-laki, aku tak bisa mengenakan gaun dan bermain dengan boneka.”

“Uaah! Siapa mau peduli dengan gaun yang bagus,” ujar George mencemoohkan. “Apalagi boneka! Kau ini anak kecil.”

Anne merasa tersinggung.

“Sikapmu tidak sopan,” katanya. “Kaulihat saja nanti. Abang-abangku takkan mau mempedulikan, jika kau berlagak tahu segala-galanya. Mereka anak laki-laki sejati, bukannya pura-pura seperti engkau.”

“Biar saja! Kalau mereka jahil, mereka takkan kupedulikan,” tukas George sambil meloncat turun dari tempat tidurnya. “Kan bukan aku yang memanggil kalian. Aku tak mau kalian datang, karena cuma merepotkan saja. Aku sudah senang hidup sendirian. Sekarang aku harus bergaul dengan anak perempuan konyol yang senang pada gaun dan boneka, dan dua sepupu laki-laki yang goblok-goblok!”

Anne merasa awal perkenalan itu tidak bisa disebut baik. Ia tak mengatakan apa-apa lagi. Dengan segera dikenakannya celana jeannya yang kelabu, serta baju kaos merah. George juga memakai jean, tapi baju kaosnya yang biasa dipakai anak laki-laki. Baru saja mereka selesai berganti pakaian, pintu sudah digedor dari luar.

“Lama benar kau berpakaian!” seru Julian dan Dick dari luar. “Georgina ada di situ? Georgina, keluarlah! Kami kepingin bertemu.”

George membuka pintu dengan kasar, lalu ke luar dengan hidung terangkat tinggi-tinggi. Tak dipedulikannya kedua anak laki-laki yang tercengang-cengang memandangnya. Ia terus berjalan dengan kepala terdongak, menuruni tangga menuju ke tingkat bawah. Ketiga anak yang ditinggalkannya cuma bisa berpandang-pandangan saja.

“Dia tak mau menjawab, jika dipanggil dengan nama Georgina,” kata Anne menerangkan duduk perkara. “Kurasa anak itu aneh sekali. Dia tadi bilang, dia tidak menginginkan kita datang ke mari. Karena hanya akan merepotkannya saja. Aku ditertawakannya! Sikapnya kasar.”

Julian merangkulkan lengannya ke bahu Anne, yang kelihatan agak muram.

“Sudahlah, tak perlu sedih,” bujuk Julian. “Kita kan masih ada, yang bisa membelamu. Yuk, kita turun saja. Aku mau sarapan.”

Mereka bertiga lapar sekali. Bau telur dan daging goreng menambah selera makan. Bergegas mereka menuruni tangga, lalu mengucapkan selamat pagi pada Bibi. Bibi Fanny

sedang sibuk menghidangkan sarapan. Paman duduk di ujung meja sambil membaca koran. Ia menganggukkan kepala ke arah anak-anak. Mereka duduk dengan membisu, karena tidak tahu boleh atau tidak ngomong pada saat makan. Di rumah mereka sendiri boleh saja, tetapi Paman Quentin kelihatannya galak sekali.

George sudah duduk, sibuk mengoleskan mentega pada sepotong roti panggang. Ditatapnya ketiga anak itu dengan cemberut.

“Janganlah semasam itu mukamu, George,” larang Bibi. “Kuharap kalian berempat sementaraini sudah saling berteman. Pasti akan menyenangkan, bisa bermain bersama-sama. George, kauajak saudara-saudara sepupumu pagi ini ke pantai. Tunjukkan pada mereka tempat-tempat yang terbaik untuk berenang.”

“Aku mau memancing,” jawab George singkat.

Seketika itu juga ayahnya mendongak dan memandangnya.

“Kau tidak boleh memancing,” katanya. “Sekali ini kau harus bersopan santun. Antarkan saudara-saudara sepupumu ke pantai. Mengerti?”

“Ya,” kata George, dengan muka yang sama masam seperti ayahnya.

“Kalau George kepingin memancing, kami sendiri juga bisa pergi ke teluk,” ujar Anne dengan segera. Menurut perasaannya, lebih baik tidak pergi bersama George apabila dia sedang kesal.

“George harus melakukan apa yang disuruhkan padanya,” kata Paman. “Kalau tidak, dia akan kumarahi.”

Jadi sehabis sarapan, keempat anak itu bersiap-siap akan pergi ke pantai. Mereka melewati sebuah jalan yang mudah ditempuh, dan berlari-lari dengan gembira menuju ke Teluk Kirrin. Sinar matahari menghangatkan tubuh. Bahkan George pun tidak lagi merengut, ketika melihat ombak laut yang biru berkilau-kilauan.

“Kalau kau mau memancing, pergilah,” ujar Anne ketika mereka sampai di pantai. “Kami takkan mengadukan pada Paman. Kami tak mau mengganggu kebebasanmu. Kami sendiri bisa bermain bertiga. Kau tak perlu menemani, jika tidak mau.”

“Tapi kalau kau mau, kami akan senang sekali bermain dengan engkau,” ujar Julian bermurah hati. Menurut pendapatnya George kasar dan tak tahu aturan. Tetapi walau begitu dia merasa senang juga melihat anak perempuan berambut pendek yang kaku sikapnyaitu, yang menatapnya dengan mata yang biru dan dengan mulut cemberut.

“Kulihat saja nanti,” kata George. “Aku tak mau berteman dengan anak-anak, hanya karenamereka kebetulan saudara-saudara sepupuku. Kuanggap berteman dengan jalan begitu, konyol! Aku hanya mau berteman, jika anaknya kusenangi.”

“Kami juga begitu,” balas Julian. “Mungkin saja kami tak suka padamu.”

George melongo sejenak, mendengar jawaban Julian itu.

“Ya — tentu saja,” katanya kemudian. “Mungkin saja kalian tak suka padaku. Pikir-pikir,banyak orang yang tak suka padaku.”

Anne menatap ke arah teluk yang biru airnya. Di ambangnya yang membuka ke laut nampak sebuah pulau kecil. Pulau karang, dan di atasnya nampak sesuatu yang dari jauh kelihatannya seperti sebuah puri kuno yang sudah runtuh.

“Aneh benar pulau itu,” katanya. “Apa namanya, ya?”

“Pulau Kirrin,” jawab George. Matanya yang memandang ke laut, sama birunya seperti air di situ. “Tempatnya asyik untuk didatangi. Kalau aku senang pada kalian, mungkin pada

suatu hari kalian akan kuajak pergi ke sana. Tapi aku tak mau berjanji. Satu-satunya jalan untuk bisa ke sana, naik perahu.”

“Kepunyaan siapa pulau aneh itu?” tanya Julian.

Jawaban George sama sekali tak disangka-sangka ketiga sepupunya.

“Pulau itu kepunyaanku,” katanya. “Maksudku, pada suatu hari nanti akan menjadi milikku. Aku seorang diri yang akan menjadi pemiliknya. Aku akan mempunyai sebuah puri.”

III

KISAH ANEH — DAN TEMAN BARU

KETIGA anak itu memandang George dengan tercengang. George membalas pandangan mereka. Ia diam saja.

“Apa maksudmu?” kata Dick akhirnya. “Tak mungkin Pulau Kirrin itu kepunyaanmu. Kau cumamau menyombong saja.”

“Aku tidak bohong,” jawab George. “Tanya saja pada ibuku. Kalau kau tak mau mempercayaikataku, aku tak mau bilang apa-apa lagi. Aku bukan pembohong. Menurut pendapatku orang yang suka berkata tidak benar itu pengecut. Dan aku bukan seorang pengecut.”

Julian teringat kata Bibi Fanny. Kata Bibi, George selalu berkata sebenarnya. Julian menggaruk-garuk kepala sambil memandang saudara sepupunya. Mana mungkin dia mengatakan sebenarnya?

“Tentu saja kami mempercayaimu, jika kau tak berbohong,” katanya kemudian. “Cuma kedengarannya sukar dipercayai, karena begitu luar biasa. Sungguh! Anak-anak tidak biasa memiliki pulau sendiri. Biar pulau kecil yang aneh seperti itu.”

“Pulau Kirrin tidak aneh, dan juga tidak kecil,” kata George dengan galak. “Pulauku indah. Di sana banyak kelinci. Semuanya jinak-jinak. Di sisi sebelah sana ada burung-burung kormoran yang besar-besar, dan berbagai jenis burung camar. Purinya juga indah, biar sudah menjadi puing.”

“Asyik kedengarannya,” ujar Dick. “Bagaimana pulau itu bisa jadi kepunyaanmu, Georgina?”

George tidak menjawab, cuma melotot saja memandangnya.

“Wah, maaf,” kata Dick tergesa-gesa. “Aku keliru tadi. Maksudku hendak menyebut George — eh, tahu-tahu yang keluar Georgina.”

“Ayohlah George — ceritakanlah bagaimana pulau itu bisa sampai jadi milikmu,” ujar Julian sambil menggandeng saudara sepupunya yang sedang merajuk. Anak itu menyentakkan lengannya.

“Jangan begitu,” katanya ketus. “Aku belum tahu, apakah aku mau berteman dengan kalian

atau tidak.”

“Terserah!” balas Julian. Ia sudah tidak sabar lagi. “Mau jadi musuh, atau jadi apa — kami tak peduli. Tapi kami senang pada ibumu. Dan kami tak mau menyebabkan dia mengira kami yang tak kepingin berteman.”

“Kau senang pada ibuku?” kata George. Sinar matanya yang biru menjadi agak lembut. “Memang — ibuku baik, ya? Baiklah! Akan kuceritakan, bagaimana Puri Kirrin bisa jadi milikku. Kita duduk saja di sudut sana, supaya tak terdengar orang lain.”

Keempat anak itu duduk di pasir, di kaki tebing yang agak menjorok masuk. George memandang ke pulau kecil yang terdapat di ujung teluk.

“Soalnya begini,” katanya membuka cerita. “Dulu, hampir semua tanah di sekitar sini milik keluarga ibuku. Kemudian mereka jatuh miskin, sehingga terpaksa menjual hampir semua tanah yang dimiliki. Tapi pulau kecil itu tidak bisa dijual, karena tak ada pembeli yang berminat. Dianggap tidak berharga. Apalagi purinya sudah lama runtuh.”

“Bayangkan, tak ada orang mau membeli pulau kecil sebagus itu!” seru Dick. “Kalau aku punya uang, dengan segera akan kubeli.”

“Dari harta milik keluarga Ibu, yang tinggal hanyalah Pondok Kirrin tempat kediaman kami, serta sebuah tempat pertanian yang letaknya tak seberapa jauh dari sini. Dan Pulau Kirrin,” kata George. “Kata Ibu, pulau itu akan diwariskan padaku, jika aku sudahbesar. Tapi katanya sekarang pun dia sudah tak menghendakinya. Karena itu dihadiahkannya saja padaku. Aku yang memilikinya sekarang. Pulau itu milikku sendiri! Tak kuperbolehkan siapa pun juga ke sana, kalau tidak kuijinkan.”

Ketiga anak itu memandangnya. Mereka mempercayai kata-kata George, karena jelas sekali anak perempuan itu menceritakan kebenaran. Bayangkan, punya pulau milik sendiri! Merekamerasa George sangat beruntung.

“Wah, Georgina! Eh, maksudku George!” kata Dick. “Kau ini sungguh-sungguh bernasib baik. Pulau itu bagus sekali kelihatannya. Mudah-mudahan saja kau mau berteman dengan kami, lalu mau mengajak kami ke sana dalam waktu dekat. Kami kepingin sekali ke sana.”

“Yah — mungkin saja kalian akan kuajak ke sana,” kata George. Senang hatinya, karena ketiga anak itu sangat tertarik mendengar ceritanya. “Kulihat saja nanti. Anak-anak dari sekitar sini sudah sering meminta-minta, tapi belum pernah ada yang kuajak. Aku tak senang pada mereka, jadi tak kuajak ke sana.”

Sesaat semuanya diam. Keempat anak itu memandang ke seberang teluk, ke arah pulau yang nampak di kejauhan. Saat itu sedang pasang surut. Air laut dangkal sekali kelihatannya,seakan-akan bisa berjalan kaki sampai ke pulau. Dick menanyakan kemungkinan itu.

“Tidak,” jawab George. “Aku sudah bilang tadi, satu-satunya cara ke sana adalah dengan perahu. Pulau itu cuma kelihatannya saja dekat. Teluk ini dalam sekali airnya. Dan di mana-mana ada beting karang. Berperahu di sini, kalau tak hafal benar jalannya bisa membentur karang. Pesisir daerah ini berbahaya. Sudah banyak sekali kapal yang karam.”

“Kapal karam!” seru Julian dengan mata bersinar-sinar. “Wah, hebat! Aku belum pernah melihat bangkai kapal tua. Apakah ada yang bisa dilihat?”

“Sekarang tidak ada lagi, karena semua sudah disingkirkan,” jawab George. “Kecuali sebuah, yang karam di sisi sana Pulau Kirrin. Perairan di situ sangat dalam. Kalau kitaberdayung pada saat laut tenang dan memandang ke dalam air, bisa kelihatan patahan tiangnya. Kapal karam itu juga kepunyaanku.”

Sekarang sudah sukar sekali bagi ketiga anak itu untuk masih bisa percaya. Tapi George menganggukkan kepala dengan pasti.

“Ya, betul,” katanya tegas. “Kapal itu kepunyaan salah seorang kakek moyangku. Aku tak

tahu persis yang mana. Pokoknya sewaktu karam di depan Pulau Kirrin, kapalnya itu sedang mengangkut emas.”

“Wah! Lalu, apa yang terjadi dengan emasnya?” tanya Anne tercengang. Matanya membesar, nyaris sebulat jengkol.

“Tak ada yang tahu,” kata George. “Kurasa sudah dicuri orang. Tentu saja ada beberapa orang yang menyelam untuk memeriksa di situ. Tapi emas tak berhasil mereka temukan.”

“Aduh, kedengarannya asyik sekali,” ucap Julian. “Kepingin sekali rasanya bisa melihat bangkai kapal itu.”

“Yah — mungkin kita bisa ke sana sore ini, jika air surut sedang serendah-rendahnya,” kata George. “Laut kelihatannya sangat tenang dan jernih hari ini, jadi kita akan bisa melihatnya sedikit.”

“Asyik, asyiik,” seru Anne. “Aku kepingin sekali melihat bangkai kapal hidup-hidup!”

Anak-anak tertawa mendengarnya.

“Mana ada bangkai hidup, Anne,” kata Dick. “He George, bagaimana kalau kita berenang sekarang?”

“Aku harus menjemput Tim dulu,” kata George sambil berdiri.

“Tim itu siapa?” tanya Dick.

“Kau bisa menyimpan rahasia?” tanya George. “Orang di rumah tak boleh tahu.”

“Ayoh ceritalah — apa rahasianya?” tanya Julian. “Kau bisa mempercayakannya pada kami. Kami ini bukan pengadu.”

“Tim itu temanku yang paling baik,” ujar George. “Aku merasa kesepian, kalau dia tak ada. Tapi Ayah dan Ibu tak suka padanya. Karena itu aku berteman dengannya secara sembunyi-sembunyi. Aku pergi sebentar menjemputnya.”

Lari mendaki jalan yang menuju ke atas tebing bukit. Ketiga saudara sepupunya memperhatikan dari tempat mereka duduk. Menurut perasaan mereka, George anak perempuan teraneh yang pernah mereka kenal.

“Siapa lagi anak yang bernama Tim itu?” tanya Julian dengan heran. “Kurasa pasti seorang anak nelayan, yang tidak disukai orang tua George.”

Mereka merebahkan tubuh ke pasir yang halus. Mereka menunggu. Tak lama kemudian terdengar suara George berseru-seru di atas bukit.

“Ayoh, Tim! Ayo, ikut.”

Ketiga-tiga anak itu cepat-cepat duduk, lalu menoleh ke belakang untuk melihat anak yang bernama Tim. Mereka tak melihat anak nelayan, tetapi seekor anjing keturunan campuran. Anjing itu besar, berbulu coklat dan berbuntut panjang sekali. Moncongnya lebar. Kelihatannya seperti sedang nyengir! Anjing itu meloncat-loncat mengelilingi George, sambil menyalak dengan gembira. Anak perempuan itu berlari-lari menuruni lerengbukit.

“Dia ini Tim,” katanya sesampai di bawah. “Bagus sekali, ya?”

Dinilai sebagai anjing, Tim jauh dari bagus. Bentuknya aneh sekali. Kepalanya terlalu besar, kupingnya terlalu lancip, buntutnya terlalu panjang. Tak ada yang bisa mengatakan, Tim itu sebenarnya anjing jenis apa. Tapi dia kocak sekali, dan sangat ramah. Begitu bertemu dengan segera Julian beserta kedua adiknya merasa sayang pada Tim.

“Manis benar kau ini!” seru Anne.

“Dia memang bagus,” ujar Dick sambil menepuk-nepuk kepala anjing itu. Tim gembira, lalumeloncat-loncat mengelilingi mereka.

“Aku kepingin punya anjing seperti ini,” kata Julian. Dia memang suka pada anjing, dan sudah selalu ingin memelihara seekor. “Wah George, Tim memang hebat. Tentu kau bangga memilikinya.”

Anak perempuan itu tersenyum. Seketika itu juga air mukanya berubah menjadi manis dan cerah. Ia mendudukkan diri ke pasir, sementara Tim merapatkan diri ke kakinya.

“Aku sayang sekali padanya,” kata George. “Aku menemukannya setahun yang lalu di rawa belakang rumah, ketika dia masih kecil sekali. Mula-mula Ibu suka padanya. Tapi Tim menjadi nakal sekali ketika sudah agak besar.”

“Apa yang diperbuatnya?” tanya Anne.

“Dia senang sekali menggigit-gigit,” ujar George. “Semua mesti digigiti olehnya. Permadani yang baru dibeli oleh Ibu, topinya yang paling disenangi, sandal Ayah, kertas-kertas kerjanya. Pokoknya barang-barang seperti itu tak pernah aman dari gigitannya. Dan Tim sering menyalak. Aku suka mendengarnya, tapi Ayah tidak. Katanya, dia nyaris gila sebagai akibatnya. Tim dipukulnya. Aku marah karenanya, lalu berani membantahnya.”

“Kemudian kau dipukulnya?” tanya Anne. “Aku tak berani berbuat kurang ajar terhadap ayahmu. Kelihatannya dia galak sekali.”

George memandang ke tengah teluk. Mukanya sudah cemberut kembali.

“Aku tak peduli terhadap hukuman yang kuterima,” katanya. “Tapi aku sedih sekali ketikaAyah mengatakan bahwa aku tak boleh lagi memelihara Tim. Ibu sependapat dengan Ayah. Katanya Tim harus pergi. Berhari-hari aku menangis. Padahal aku biasanya tak pernah menangis. Anak laki-laki tak pernah menangis, dan aku kepingin seperti anak laki-laki.”

“Ah, anak laki-laki pernah juga menangis,” kata Anne sambil memandang Dick. Tiga atau empat tahun yang lalu, abangnya itu cengeng. Sedikit-sedikit menangis. Dick menyikutnyadengan keras, sehingga Anne terdiam.

George memandang Anne.

“Anak laki-laki tidak menangis,” katanya berkeras. “Pokoknya, aku belum pernah melihat anak laki-laki sedang menangis. Aku juga selalu berusaha agar jangan menangis. Seperti anak kecil! Tapi waktu Tim harus pergi, aku tak bisa menahan tangis. Tim juga ikut menangis.”

Ketiga saudara sepupunya memandang Tim dengan kagum. Mereka belum pernah mendengar ada anjing yang bisa menangis.

“Maksudmu benar-benar menangis — sampai keluar air mata?” tanya Anne.

“Tidak sampai begitu,” jawab George. “Tim tidak sebegitu cengeng. Dia menangis melolong-lolong. Kelihatannya memelas sekali. Remuk rasa hatiku melihatnya. Saat itu kusadari, bahwa aku tak mungkin bisa berpisah dengannya.”

“Apa yang terjadi sesudah itu?” tanya Julian.

“Aku mendatangi Alf. Dia itu kenalanku, seorang anak nelayan,” kata George. “Aku minta tolong padanya untuk memeliharakan Tim. Untuk itu aku bersedia memberikan semua uang saku yang kuterima. Alf mau, dan dia menepati janji. Karena itulah aku tak pernah punyauang untuk jajan. Semuanya habis untuk Tim. Dia kelihatannya banyak sekali makannya.

Betul, Tim?”

Tim menggonggong sambil berguling-guling di pasir. Julian menggelitiknya.

“Bagaimana caranya jika kau kepingin membeli manis-manisan atau eskrim?” tanya Anne. Kalau dia, hampir seluruh uang sakunya habis untuk jajanan.

“Aku tidak jajan,” kata George.

Kedengarannya berat sekali bagi ketiga saudara sepupunya, yang semua senang sekali makan eskrim, coklat dan manis-manisan. Karena itu mereka memandang George dengan heranbercampur kasihan.

“Tapi mestinya anak-anak yang bermain-main di pantai, sekali-sekali memberi manis-manisan dan eskrim mereka padamu,” kata Julian.

“Aku tak pernah mau,” jawab George tegas. “Rasanya tidak adil, karena aku takkan pernahbisa memberi apa-apa pada mereka. Karenanya aku selalu menolak, jika ditawari.”

Saat itu dari kejauhan terdengar denting lonceng tukang es. Julian merogoh kantongnya, lalu melompat bangkit dan lari sambil mendencing-dencingkan uangnya. Beberapa detik kemudian ia sudah kembali dengan membawa empat batang eskrim. Satu diberikannya pada Dick, satu untuk Anne. Kemudian disodorkannya sebatang pada George. Anak perempuan itu memandang eskrim yang di depan hidungnya. Kelihatannya kepingin sekali. Tapi ia menggelengkan kepala.

“Tidak, terima kasih,” katanya. “Aku sudah bilang tadi — aku tak punya uang untuk membeli, dan karenanya aku juga tak bisa membagi esku dengan kalian. Oleh sebab itu akutak bisa menerima pemberianmu. Tak pantas menerima pemberian orang, jika tidak bisa membalas biar sedikit.”

“Dari kami boleh saja,” kata Julian sambil mencoba meletakkan eskrim itu ke tangan George. “Kami kan sepupumu.”

“Tidak, terima kasih,” kata George lagi. “Tapi kau baik budi.” Ia menatap Julian denganmatanya yang biru cerah. Dahi Julian berkerut. Ia sedang mencari akal, supaya anak gadis yang keras kepala itu mau menerima eskrim yang disodorkannya. Akhirnya Julian tersenyum.

“Begini sajalah,” katanya. “Kau memiliki sesuatu yang sangat kami ingini. Kau bahkan banyak memiliki barang-barang yang kami ingini, apabila Kauperbolehkan. Kau membaginya dengan kami, dan terimalah barang-barang pemberian kami. Misalnya saja eskrim ini. Setuju?”

“Barang-barang apa saja kepunyaanku yang kalian ingini?” tanya George heran.

“Kau punya seekor anjing,” kata Julian sambil menepuk-nepuk Tim. “Kami ingin bermain-main dengannya. Lalu kau memiliki sebuah pulau yang indah. Kami akan bergembira sekali,jika sekali-sekali diajak ke sana. Kau juga mempunyai bangkai kapal tua. Kami kepingin melihatnya. Eskrim dan manis-manisan kalah hebat dengan barang-barang kepunyaanmu. Tapikan asyik jika kita saling berbagi.”

George memandang mata coklat yang menatapnya dengan tenang. Mau tak mau, dia merasa senang pada Julian. George tak biasa membagi-bagi barang milik. Selama itu dia selalu anak tunggal, yang kesepian. Seorang anak kecil yang keras kepala dan pemarah, serta salah dimengerti. Selama itu dia belum pernah punya teman. Tim memandang Julian. Dilihatnya anak itu menawarkan sesuatu yang enak, seperti coklat, pada George. Anjing itu melonjak-lonjak dengan gembira.

“Lihat — Tim ingin bermain,” kata Julian sambil tertawa. “Baginya akan lebih asyik, kita mempunyai tiga teman baru.”

“Betul juga,” jawab George. Diterimanya eskrim yang disodorkan. “Terima kasih, Julian. Tim jadi milik kita bersama. Tapi kalian harus berjanji, jangan bercerita di rumah bahwa Tim masih kupelihara.”

“Tentu saja kami berjanji,” ujar Julian. “Walau tak bisa kubayangkan bahwa Ayah atau Ibumu akan berkeberatan. Asal saja Tim tidak tinggal di rumah mereka. Bagaimana esnya —enak?”

“Hmmm, belum pernah aku merasakan yang seenak ini,” kata George sambil menggigit-gigit eskrimnya. “Rasanya dingin sekali! Tahun ini aku belum pernah makan eskrim. Wah, SEDAAAP!”

Tim meminta bagian, dan diberi sedikit oleh George. Kemudian anak itu berpaling dan tersenyum pada ketiga saudara sepupunya.

“Kalian anak-anak yang baik,” katanya. “Aku sekarang toh merasa senang, karena kalian datang ke mari. Bagaimana, sore ini kita berperahu ke pulauku untuk melihat kapal yang karam di sana?”

“O ya!” seru ketiga sepupunya serempak. Bahkan Tim ikut-ikut mengibaskan ekor. Seakan-akan dia mengerti, kenapa anak-anak bergembira.

IV

SUATU SORE YANG MENGASYIKKAN

SEPAGIAN mereka asyik mandi-mandi di laut. Julian dan Dick terpaksa mengakui bahwa George lebih pandai berenang daripada mereka. Geraknya tangkas dan cepat sekali. Ia bahkan pandai berenang di bawah air. Tahan sekali ia menyelam.

“Pandai sekali kau berenang,” ujar Julian kagum. “Sayang Anne tak begitu bisa. Anne, kau harus sungguh-sungguh berlatih! Kalau tidak, kau takkan pernah bisa ikut berenang bersama kami sampai jauh ke tengah.”

Menjelang saat makan siang, perut mereka terasa lapar sekali. Cepat-cepat mereka mendaki jalan ke atas bukit. Mudah-mudahan saja di rumah banyak makanan. Dan harapan mereka itu terkabul! Bibi Fanny sudah menduga bahwa mereka pasti akan sangat lapar. Karenanya disediakan makanan banyak-banyak. Masakan daging dingin dengan selada, kue buah prem, kemudian puding telur dan akhirnya keju. Anak-anak makan dengan lahap.

“Apa rencana kalian siang ini?” tanya Bibi.

“George mengajak kami berperahu di teluk. Kami hendak dibawanya melihat bangkai kapal karam di sisi pulau sebelah sana,” kata Anne. Bibi heran mendengarnya.

“George mengajak kalian?” ucapnya tercengang. “Wah, George — mimpi apa kau tadi malam? Selama ini kau tak pernah mau mengajak siapa-siapa ke sana, walau sudah cukup sering kusuruh.”

George diam saja. Ia terus makan puding. Selama waktu makan, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Anak-anak merasa lega, karena Paman Quentin tidak makan bersama

mereka.

“Aku merasa senang bahwa kau mau berusaha mematuhi kata Ayah,” kata Bibi lagi. Tetapi George cuma geleng kepala.

“Aku melakukannya bukan karena disuruh,” ujarnya. “Aku melakukannya, karena aku mau sendiri. Kalau aku tak senang orangnya, biar siapa pun takkan kuajak melihat kapal karamku. Biar Ratu Inggris, aku tetap tak mau!”

Ibunya tertawa.

“Syukurlah bahwa kau senang pada saudara-saudara sepupumu,” katanya. “Mudah-mudahan saja mereka senang juga padamu!”

“O ya!” seru Anne dengan segera. Maksudnya hendak membela saudara sepupunya yang aneh itu. “Kami senang sekali pada George, dan kami juga senang pada Ti....”

Nyaris saja Anne mengatakan bahwa ia beserta kedua abangnya juga senang pada Tim. Tetapi sebelum nama itu disebut, Anne sudah terjerit kesakitan karena mata kakinya kenatendang. Sampai terbersit air matanya. George memandangnya dengan mata melotot.

“George! Mengapa Anne kautendang? Padahal dia kan mengatakan senang padamu,” kata Bibi dengan marah. “Ayoh, tinggalkan meja saat ini juga. Aku tak suka melihat kelakuanmu.”

George berdiri, lalu pergi ke kebun dengan tidak mengatakan apa-apa. Sepotong roti beserta keju yang baru saja diambil, ditinggalkannya begitu saja di atas piring. Ketigasaudara sepupunya menatap makanan yang ditinggalkannya itu dengan kebingungan. Anne menyesal sekali. Dia merasa tolol sekali. Bagaimana sampai bisa lupa bahwa ia tak bolehmenyebut-nyebut nama Tim di depan orang tua George!

“Bibi, ijinkanlah George masuk kembali,” pintanya pada Bibi Fanny. “Dia tadi tak sengaja menendang kaki saya.”

Tetapi Bibi masih tetap marah.

“Ayoh, cepat habiskan makan kalian,” katanya pada ketiga anak itu. “Kurasa George sekarang merajuk. Susah sekali adat anak itu!”

Julian dan kedua adiknya sebetulnya tidak begitu peduli apabila George merajuk. Mereka hanya kuatir, jangan-jangan George sekarang tidak mau lagi membawa mereka melihat bangkai kapal karam.

Mereka menyelesaikan makan sambil membisu. Bibi pergi mendatangi Paman, untuk menanyakan apakah dia mau kue lagi. Paman makan siang di kamar kerjanya. Begitu Bibi keluar dari kamar makan, dengan cepat Anne menyambar roti keju dari piring George dan membawanya ke kebun.

Kedua abangnya diam saja. Mereka tidak marah padanya. Mereka tahu bahwa Anne sering terlanjur ngomong. Tetapi dia selalu berusaha memperbaiki kekeliruannya sesudah itu. Mereka merasa Anne berani, karena mau mencari George yang sedang merajuk.

George berbaring menengadah di bawah sebuah pohon yang besar dalam kebun. Anne datang menghampiri.

“Maafkan aku tadi, George,” katanya menyesal. “Nyaris rahasiamu terbongkar. Ini roti kejumu, kubawakan untukmu. Aku berjanji takkan lupa lagi, bahwa nama Tim tak boleh disebut-sebut.”

George bangkit dari baringnya, lalu duduk.

“Bagusnya kau ini tak kuajak untuk melihat bangkai kapal karam,” katanya ketus. “Anak totol!”

Hati Anne berdebar-debar. Inilah yang dikuatirkannya sedari tadi.

“Baiklah, kau bisa saja tidak mengajakku,” katanya. “Tapi kedua abangku kan boleh. Karena mereka tadi tidak melakukan sesuatu hal yang tolol, seperti aku. Lagipula aku tadi sudah kautendang keras-keras. Lihat saja sendiri! Biru mata kakiku sebagai akibatnya.”

George mengamat-amati mata kaki, lalu memandang Anne.

“Kau tidak sedih, bila aku hanya mengajak Julian dan Dick saja?” tanyanya.

“Tentu saja aku sedih,” kata Anne. “Tapi aku tak mau menyebabkan mereka tak jadi ikut, walau aku sendiri tidak diajak.”

Tiba-tiba George melakukan sesuatu yang tak tersangka-sangka. Anne dipeluknya! Sesudah itu ia kelihatan sangat malu, karena menurut perasaannya anak laki-laki takkan berbuat seperti itu. Sedang dia selalu berusaha untuk bertindak-tanduk seperti anak laki-laki.

“Sudahlah,” katanya dengan ketus sambil mengambil roti keju yang disodorkan oleh Anne. “Kau nyaris saja berbuat tolol, lalu kau kutendang. Jadi sudah impas. Tentu saja sore ini kau boleh ikut.”

Anne bergegas masuk ke rumah, untuk bercerita pada kedua abangnya bahwa semua sudah beres kembali. Lima belas menit kemudian keempat anak itu berlari-lari menuruni bukit menuju ke pantai. Di dekat sebuah perahu berdiri seorang anak nelayan. Kulitnya coklat,terbakar sinar matahari. Umurnya kira-kira empat belas tahun. Ia ditemani oleh Tim.

“Perahunya sudah siap, Master George,” ujarnya sambil nyengir. Anak itu menyapa George dengan kata ‘Master’, yang artinya ‘sinyo’ atau ‘tuan muda’. Anak itu tahu, George senang jika diperlakukan sebagai anak laki-laki. “Tim juga sudah siap untuk ikut.”

“Terima kasih,” jawab George lalu menyuruh ketiga sepupunya masuk ke perahu. Tim juga ikut meloncat masuk. Buntutnya dikibas-kibaskan kian ke mari dengan sibuk. George mendorong perahu masuk ke air, lalu meloncat masuk.

George sangat cekatan mendayung, dan perahu itu meluncur di atas air teluk yang biru. Sore itu sangat indah, dan anak-anak gembira menikmati gerak perahu di atas air. Tim berdiri tegak di haluan. Setiap ombak yang datang disongsongnya dengan gonggongan.

“Anjingku kocak dan ribut,” kata George sambil mendayung sekuat tenaga. “Senangnya menggonggong kalau ada ombak besar datang. Kalau sampai basah tersiram ombak, dia marahsekali. Tim sangat pandai berenang.”

“Senang rasanya membawa anjing bersama kita,” ujar Anne. Dia berusaha menarik hati George, agar anak itu melupakan kesalahannya tadi. “Aku suka padanya.”

Tim menoleh ke arah Anne, lalu menyalak sambil mengibas-kibaskan ekor.

“Kurasa dia mengerti apa kataku tadi,” ujar Anne dengan gembira.

“Tentu saja,” sambut George. “Tim mengerti setiap kata orang.”

“He — kita sudah hampir sampai ke pulaumu,” ujar Julian penuh gairah. “Ternyata lebih besar dari sangkaanku semula. Dan purinya — mengasyikkan sekali kelihatannya!”

Perahu mendekat ke pulau. Ketiga anak kota itu melihat bahwa dalam air di sekelilingnyabanyak sekali bertaburan batu-batu yang runcing. Kalau tak tahu jalannya yang benar, takkan ada perahu atau kapal yang bisa merapat ke pulau cadas yang kecil itu. Di tengahpulau, di atas sebuah bukit rendah terdapat puri yang disebut oleh Julian. Puri itu tinggal reruntuhannya saja lagi. Puri itu dulunya dibangun dari bongkah-bongkah batu putih yang besar-besar. Tetapi yang tinggal dari bangunan yang pernah megah dan kokoh,

hanya gerbang-gerbang lengkung yang sudah runtuh, menara-menara yang sudah mau rubuh dan tembok-tembok ambruk. Sekarang puing puri itu ditinggali oleh burung-burung yang sejenis dengan burung gagak. Sedang burung-burung camar duduk bertengger di batu-batuanteratas.

“Kelihatannya seperti terselubung rahasia,” kata Julian. “Aku kepingin sekali turun ke darat dan melihat-lihat puri itu. Tentunya akan sangat asyik jika kita menginap semalamdua malam di sini.”

George berhenti mendayung ketika mendengar ucapan Julian itu. Matanya bersinar-sinar.

“Wah!” katanya dengan gembira. “Belum pernah pikiranku sampai ke situ! Benar katamu — pasti asyik jika kita menginap semalam di pulauku. Cuma kita berempat saja, tidak dengan ditemani orang lain. Menyiapkan makanan sendiri! Kita pura-pura hidup di sini. Tentu akan menyenangkan, bukan?”

“Pasti,” sahut Dick sambil memandang dengan rasa kepingin ke arah pulau. “Kau kira — menurut perasaanmu, ibumu akan mengijinkan?”

“Entah,” kata George. “Mungkin saja. Coba saja kautanyakan.”

“Kita tidak bisa turun ke darat sore ini?” tanya Julian.

“Tidak, kalau kalian masih mau melihat bangkai kapal karam,” jawab George. “Kita harus sudah kembali ke rumah pada saat minum teh. Waktunya pas-pasan untuk berdayung ke sisi pulau sebelah sana dan kembali lagi ke pantai.”

“Aku juga kepingin melihat bangkai kapalmu,” kata Julian. Ia bingung memilih antara Pulau Kirrin dan bangkai kapal. “Sinilah, kubantu kau mendayung sebentar, George. Masakan kau harus terus-terusan seorang diri.”

“Aku sanggup,” kata George. “Tapi sekali-sekali enak juga duduk beristirahat dalam perahu. Begini sajalah! Aku terus mendayung sampai melewati tempat yang banyak batu-batunya ini. Sudah itu kau yang mendayung, sampai tiba lagi di tempat yang gawat. Sungguh, batu-batu yang berserakan di teluk ini sangat berbahaya.”

Kemudian George berganti tempat dengan Julian. Julian cukup pintar mendayung, tetapi tidak sekuat George. Perahu melaju teroleng-oleng pelan. Mereka mengitari Pulau Kirrin,dan memandang puri dari sudut yang lain. Dilihat dari arah laut, kelihatannya lebih rusak lagi.

“Angin lebih kencang bertiup dari lautan terbuka,” kata George menerangkan sebabnya. “Di sebelah sini tak banyak lagi yang tersisa, kecuali tumpukan batu-batu. Tapi bagi yang tahu jalannya, di situ ada tempat berlabuh yang baik dalam sebuah teluk kecil.”

Tak lama kemudian berganti George lagi yang mendayung. Perahu didayungnya sampai agak jauh dari pulau. Kemudian ia berhenti, lalu memandang ke arah pantai.

“Bagaimana kau bisa tahu bila sudah berada di atas bangkai kapalmu?” tanya Julian dengan heran. “Aku pasti takkan mungkin tahu.”

“Kaulihat menara gereja di daratan sana itu?” tanya George sambil menunjuk. “Dan kaulihat puncak bukit yang itu? Nah, jika keduanya sudah berada segaris di antara keduamenara puri Pulau Kirrin, maka kau kurang lebih sudah berada di atas bangkai kapal. Akusendiri yang berhasil mengetahuinya. Sudah lama sekali.”

Ketiga saudara sepupunya melihat bahwa puncak bukit di kejauhan dan menara gereja sudahsegaris, dipandang dari tempat mereka terapung. Dan seperti dikatakan oleh George, puncak bukit dan menara gereja itu nampak di antara dua menara puri di Pulau Kirrin. Dengan segera mereka menatap ke dalam air, kepingin melihat bangkai kapal yang diceritakan oleh saudara sepupu mereka.

Air di situ jernih sekali. Permukaannya hampir tak berombak. Tim juga ikut-ikut memandang ke bawah. Kepalanya dimiringkan, sedang telinganya meruncing ke atas. Seolah-olah tahu apa yang sedang dicari! Anak-anak tertawa melihat tingkahnya.

“Kita belum persis berada di atasnya,” kata George yang juga menatap ke bawah. “Tunggu sebentar, akan kudayung perahu kita sedikit ke kiri.”

Tiba-tiba Tim menggonggong sambil mengibas-kibaskan ekor. Saat itu juga ketiga anak itumelihat sesuatu yang letaknya jauh di bawah permukaan air.

“Itu dia kapalnya!” seru Julian. Nyaris saja dia jatuh ke air karena ribut menunjuk-nunjuk. “Aku bisa melihat tiangnya yang patah. Itu Dick, lihatlah!”

Keempat anak itu memandang ke dalam air dengan penuh perhatian. Tim juga ikut memandang. Setelah memperhatikan sebentar, mereka berhasil mengenali bayangan tubuh kapal yang gelap. Dari tengah bayangan itu menonjol tiangnya yang patah.

“Berbaringnya agak miring,” kata Julian. “Kasihan, kapal tua itu. Pasti tak enak terbaring dengan tidak berdaya di dasar laut, hancur dengan perlahan-lahan. George, akukepingin menyelam ke bawah. Aku kepingin memperhatikannya dari lebih dekat.”

“Kenapa tidak kaulakukan?” kata George. “Kau kan memakai celana berenang. Aku sudah sering menyelam ke bawah. Kalau kau mau, kutemani menyelam. Asal Dick bisa menjaga agarperahu kita tetap berada di sekitar sini. Di sini ada arus yang bisa menyeret perahu ketengah laut. Dick, kau harus terus mendayung dengan pelan ke arah pantai, supaya janganhanyut.”

Dengan cepat George membuka pakaiannya, disusul oleh Julian. Mereka berdiri berdampingan dengan pakaian renang. George melompat masuk ke air dari ujung perahu, langsung menyelam ke bawah. Anak-anak yang lain memperhatikan betapa dia bergerak dengan cepat ke dasar laut.

Sesudah beberapa saat George muncul lagi untuk mengambil napas.

“Aku tadi menyelam, hampir sampai ke tempat bangkai kapal,” katanya dengan napas sengal. “Kelihatannya masih seperti biasa. Penuh dengan rumput laut dan bermacam-macam kerang. Aku kepingin bisa menyelam sampai masuk ke kapal. Tapi napasku terlalu pendek. Sekarang ganti kau yang menyelam, Julian.”

Julian terjun masuk ke air. Tetapi dia tak sepandai George berenang di bawah air, sehingga tak bisa turun begitu jauh ke bawah. Tetapi Julian bisa berenang dengan mata terbuka. Karena itu ia masih sempat memperhatikan keadaan geladak kapal karam itu. Kelihatannya asing dan menyedihkan. Julian tak begitu senang melihatnya, karena menimbulkan perasaan sedih. Ia merasa syukur ketika sudah muncul kembali ke atas permukaan air. Ia merasa berbahagia bisa menghirup udara dalam-dalam, dan merasakan sinar matahari yang hangat di atas kepala.

Julian naik ke perahu.

“Asyik deh,” katanya. “Wah, aku kepingin bisa melihat-lihat kapal itu dengan seksama. Maksudku turun ke bawah geladaknya dan masuk ke dalam bilik-bilik untuk memeriksa. Bayangkan, kalau kita berhasil menemukan peti-peti berisi emas!”

“Mustahil,” ujar George. “Sudah kukatakan, penyelam-penyelam sejati sudah pernah turun ke bawah. Tapi mereka tak menemukan apa-apa. Eh, pukul berapa sekarang? Kita pasti terlambat, bila tidak buru-buru pulang sekarang.”

Mereka bergegas-gegas mendayung ke arah pantai, dan hanya lima menit saja terlambat dari waktu yang ditetapkan. Sehabis minum teh mereka jalan-jalan ke daerah rawa di belakang rumah, dengan diiringi oleh Tim. Saat tidur mereka sudah sangat mengantuk. Kelopak mata sudah mau tertutup saja.

“Selamat tidur, George,” kata Anne sambil merebahkan diri ke tempat tidurnya. “Sehari ini kita senang sekali, karena engkau.”

“Aku pun sehari ini senang sekali,” kata George dengan suara agak ketus. Ia agak kikuk,karena tak biasa bersikap ramah. “Dan itu karena kalian. Aku senang kalian datang ke mari. Kita pasti akan bisa bersenang-senang. Dan kalian pasti akan menyukai puri dan pulau kecilku!”

“Terang,” jawab Anne. Malam itu ia bermimpi rentang beratus-ratus kapal karam, puri danpulau-pulau. Ah, kapankah mereka akan diajak George ke pulaunya?

V

KE PULAU

KEESOKAN harinya Bibi mengajak pergi piknik.

Mereka berangkat ke sebuah teluk kecil yang letaknya tak seberapa jauh, di mana mereka bisa berenang dan berperahu sepuas hati. Piknik itu menyenangkan. Tetapi dalam hati mereka, Julian dan kedua adiknya lebih suka apabila bisa ke pulau kepunyaan George. Mereka sangat kepingin ke sana.

George sebetulnya tak mau ikut. Bukan karena tidak suka piknik, melainkan karena Tim tidak bisa dibawa serta. Tetapi ibunya menyuruh ikut, dan George terpaksa tak bisa bermain-main sehari dengan Tim.

“Sial!” kata Julian pada George. Ia bisa menebak, kenapa saudara sepupunya itu bermuka muram. “Aku tak mengerti, kenapa tak kauceritakan saja tentang Tim kepada ibumu. Aku yakin dia tidak keberatan, jika Tim dipelihara orang lain untukmu. Aku tahu, kalau ibuku pasti takkan keberatan.”

“Aku tak mau menceritakannya pada siapa pun kecuali kalian,” kata George. “Aku selalu mengalami kericuhan di rumah. Kurasa yang salah memang aku sendiri. Tapi lama-kelamaan bosan juga, selalu dimarahi. Ayah kepingin sekali memanjakan kami. Ia ingin membeli barang yang mahal-mahal untuk Ibu dan aku. Tapi tak bisa, karena penghasilannya tak seberapa sebagai pengarang buku-buku ilmu pengetahuan. Karena itulah dia selalu marah-marah. Ayah ingin menyekolahkan aku ke internat yang baik. Tapi ia tak punya uang untukitu. Syukurlah! Aku tak mau pergi bersekolah ke tempat lain. Aku senang di sini. Aku tak bisa berpisah dengan Tim.”

“Kau pasti senang jika bersekolah di internat,” kata Anne. “Kami bertiga masuk asrama. Asyik deh di sana!”

“Tidak, aku tidak senang,” jawab George berkeras kepala. “Terang tidak enak berkumpul beramai-ramai, dengan anak-anak perempuan tertawa-tawa dan berteriak-teriak di sekelilingku. Aku pasti membencinya.”

“Ah, tidak mungkin,” kata Anne. “Itu semuanya kan asyik. Kurasa ada baiknya jika kau juga bersekolah dalam asrama, George.”

“Kalau kau mau mulai mengajari dan mengatakan apa yang baik untukku, aku nanti akan

benci padamu,” kata George dengan keras. Air mukanya tiba-tiba kelihatan galak. “Ayah dan Ibu selalu menyebut-nyebutkan hal-hal yang baik untukku — dan semuanya tak kusenangi.”

“Ya, sudahlah,” ujar Julian sambil tertawa geli. “Ya ampun, kau ini cepat benar marah! Kurasa kalau saat ini ada orang mau merokok, dia bisa menyalakan rokoknya pada nyala yang memancar-mancar dari matamu!”

George tertawa mendengar kelakar Julian, walau sebetulnya dia tak mau tertawa. Memang susah merajuk terus, jika menghadapi Julian yang periang.

Untuk kelima kalinya hari itu mereka masuk lagi ke dalam air. Tak lama kemudian mereka sudah asyik bercebur-ceburan air dengan gembira. George bahkan sempat mengajar Anne berenang. Anak perempuan yang masih kecil itu belum begitu tahu bagaimana caranya berenang dengan baik. George merasa bangga, ketika Anne akhirnya berhasil meluncur di air dengan gaya yang benar.

“Terima kasih,” ujar Anne sambil berusaha mengikuti gerak saudara sepupunya. “Aku takkan pernah bisa berenang sebaik engkau — tapi aku kepingin menandingi abang-abangku.”

Dalam perjalanan pulang, George mengajak Julian bicara.

“Bisakah kau minta ijin sebentar pada ibuku — katakan saja ingin membeli perangko atau salah satu barang?” tanyanya. “Dan aku ikut bersamamu. Jadi aku bisa menjenguk Tim sebentar. Pasti dia sudah heran, kenapa hari ini aku tak datang untuk mengajaknya jalan-jalan.”

“Setuju!” kata Julian. “Aku tak memerlukan perangko, tapi kepingin makan eskrim. Dick dan Anne bisa membantu ibumu membawa barang-barang pulang ke rumah. Tunggu sebentar di sini, aku akan segera menanyakannya pada Bibi Fanny.”

Julian lari menghampiri bibinya.

“Bolehkah aku pergi membeli eskrim?” tanyanya. “Sehari ini kami belum makan es. Aku takkan pergi lama-lama. Dan bolehkah George kuajak ikut?”

“Kurasa dia takkan mau,” jawab Bibi. “Tapi tanya saja sendiri.”

“George, ayoh ikut aku!” seru Julian, lalu lari cepat-cepat ke desa. George nyengir lalu lari mengejar. Dengan segera Julian berhasil disusulnya. George tersenyum gembira.

“Terima kasih,” katanya. “Kau sekarang pergi saja membeli eskrim, sedang aku akan menengok Tim.”

Mereka berpisah. Julian pergi membeli empat eskrim, lalu berjalan pulang. Ia berjalan pelan-pelan sambil menunggu George. Beberapa menit kemudian saudara sepupunya menyusul dari belakang. Mukanya bersinar gembira.

“Aku sudah menengoknya,” kata George. “Wah, bukan main girangnya ketika melihat aku datang! Aku nyaris jatuh ditubruknya. Loh, aku mendapat eskrim lagi? Baik benar kau ini, Julian. Aku mesti cepat-cepat membalas kebaikan budimu. Bagaimana kalau kita besokpergi ke pulau?”

“Astaga!” seru Julian dengan mata bersinar karena gembira. “Kau sungguh-sungguh mau mengajak kami ke sana besok? Ayoh, kita menceritakannya kepada kedua adikku!”

Keempat anak itu duduk di kebun sambil makan eskrim. Julian menceritakan ajakan George.Mereka gembira sekali. George merasa senang. Sebelumnya dia selalu merasa dianggap penting, jika bisa dengan angkuh menolak untuk mengajak anak-anak lain ke Pulau Kirrin.Tetapi entah bagaimana, rasanya lebih puas setelah setuju akan mengantarkan saudara-saudara sepupunya dengan perahu ke pulaunya.

“Dulu aku selalu menyangka lebih senang jika melakukan segala-galanya seorang diri,” katanya dalam hati sambil mengulum potongan eskrimnya yang terakhir. “Tapi ternyata lebih asyik jika bersama-sama dengan Julian dan adik-adiknya.”

Anak-anak dipanggil masuk. Mereka disuruh membersihkan badan, karena tak lama lagi akanmakan malam. Mereka masuk sambil mengobrol dengan ramai tentang kunjungan mereka besok ke Pulau Kirrin. Bibi Fanny tersenyum mendengarnya.

“Aku senang mendengar bahwa George mau membagi miliknya dengan kalian,” ujar Bibi. “Maukah kalian makan siang dan bermain-main seharian di sana? Kurasa sayang waktunya jika kalian berdayung dengan susah-payah ke sana, apabila sesudah itu mesti kembali lagi cepat-cepat.”

“Wah, bibi Fanny — tentu saja kami akan senang jika diperbolehkan makan siang di sana!”seru Anne girang.

George memandang ibunya.

“Ibu juga ikut?” tanyanya.

“Dari caramu bertanya, aku mendapat kesan bahwa kau tak ingin aku ikut,” ujar Bibi agaktersinggung. “Kemarin pun kau kelihatan kesal, ketika mendengar bahwa aku ikut piknik. Tidak! Aku tidak ikut besok. Tapi tentunya saudara-saudara sepupumu menganggap kau ini aneh, karena tak senang jika ibumu ikut.”

George diam saja. Dia jarang membantah apabila kena marah. Ketiga saudara sepupunya juga berdiam diri. Mereka tahu, kenapa George begitu. Bukan karena tak suka ibunya ikut, melainkan karena ia ingin mengajak Tim.

“Pokoknya, aku tidak bisa ikut dengan kalian,” sambung Bibi Fanny. “Aku harus mengurus kebun. Kalian aman, bila pergi bersama George. Dia cekatan sekali mendayung perahu.”

Begitu bangun keesokan harinya, Julian dan kedua adiknya cepat-cepat menjulurkan kepalake luar jendela. Mereka hendak melihat keadaan cuaca. Matahari bersinar cerah. Udara bagus nampaknya.

“Bagus sekali hari ini, ya?” kata Anne pada George sambil mengenakan pakaian. “Aku sudah tidak sabar lagi, ingin cepat-cepat ke pulau.”

“Terus terang saja, menurut pendapatku lebih baik kita tidak jadi pergi,” ujar George.

“Kenapa?” seru Anne. Ia kecewa mendengar kata sepupunya yang tak disangka-sangka itu.

“Kurasa nanti akan ada angin ribut,” kata George sambil memandang ke arah barat daya.

“Kenapa kaukatakan begitu, George?” tanya Anne dengan kesal. “Lihat saja sendiri, matahari bersinar cerah! Hampir tak nampak satu awan pun di langit.”

“Tapi angin bertiup dari arah buruk,” jawab George. “Dan kau tak melihat itu — buih memutih di atas ombak yang berdebur dekat pulauku? Itu selalu merupakan pertanda cuaca buruk.”

“Aduh George! Kami akan sangat menyesal, bila tidak jadi pergi hari ini,” keluh Anne. Dia memang tak kuat menghadapi kekecewaan, baik kecil maupun besar. “Lagipula kalau kita mendekam saja di rumah karena takut angin ribut, kita takkan bisa bermain-main dengan Tim,” tambahnya untuk membujuk George.

“Betul juga katamu,” kata George mempertimbangkan. “Baiklah! Kita akan pergi. Tapi ingat — bila nanti ada angin ribut, kau tak boleh takut seperti anak kecil. Kau harus menikmatinya, dan jangan cengeng.”

“Wah, aku sebenarnya tak begitu suka pada angin ribut,” kata Anne agak kuatir. Tetapi ia tak jadi meneruskan kata-katanya, karena dilihatnya George memandang dengan agak mencemoohkan. Mereka turun ke bawah. Sambil sarapan George menanyakan kepada ibunya, apakah mereka boleh membawa bekal makan siang seperti direncanakan semula.

“Ya,” jawab Bibi. “Kau dan Anne bisa membantuku, menyiapkan roti. Julian dan Dick pergike kebun, untuk memetik buah-buahan yang akan dibawa. Kalau sudah, Julian pergi ke desauntuk membeli limun beberapa botol. Terserah, apa kesukaan kalian.”

“Aku suka limun jahe!” seru Julian, disusul dengan permintaan yang sama oleh ketiga saudaranya. Anak-anak sangat gembira. Pasti menyenangkan, karena akan bisa mendatangi pulau kecil yang aneh itu. Sedang George merasa gembira, karena akan bisa bermain-main dengan Tim sepanjang hari.

Akhirnya mereka berangkat juga. Makanan ditaruh dalam dua buah keranjang. Mula-mula mereka pergi menjemput Tim. Anjing itu diikat dengan tali di halaman belakang rumah anak nelayan yang memeliharanya. Anak itu ada di rumah. Ia nyengir ketika melihat mereka datang.

“Selamat pagi, Master George,” katanya menyapa. Ketiga saudara sepupu George merasa janggal sekali mendengar Georgina yang perempuan disapa dengan sebutan ‘Master’. Tapi George sendiri tertawa senang.

“Dari tadi Tim sudah ramai menggonggong-gonggong,” ujar anak nelayan itu. “Rupanya sudah merasa bahwa hari ini kau akan datang menjemputnya.”

“Tentu saja dia tahu,” kata George sambil melepaskan ikatan. Begitu terlepas, Tim melonjak-lonjak sambil lari-lari mengelilingi anak-anak. Ia berlari kian ke mari denganbuntut lurus ke bawah dan kuping rapat ke kepala.

“Kalau dia seekor ‘greyhound’, setiap perlombaan pasti akan dimenangkan olehnya,” ujar Julian dengan kagum. ‘Greyhound’ adalah jenis anjing yang biasa dipertandingkan dalam perlombaan-perlombaan lari. Begitu banyak debu mengepul, sampai Tim nyaris tak nampak lagi. “Tim! Sini Tim. Ayoh, ke marilah, bilang selamat pagi!”

Tim melompat dan menyambar tangan Julian sambil lari melewatinya. Kemudian dia tenang kembali, lalu berlari-lari di sisi George yang berjalan bersama ketiga saudara sepupunya menuju ke pantai.

Sesampai di pantai, dengan segera mereka masuk ke perahu. George mendorong sampai ke air, lalu melompat naik. Anak nelayan itu melambai-lambai dari darat.

“Kalian jangan terlalu lama pergi,” serunya memperingatkan. “Kelihatannya nanti akan ada angin ribut.”

“Aku tahu,” seru George menjawab. “Tapi mungkin sebelum sampai ke mari, kami sudah kembali. Sekarang masih jauh sekali.”

George sendiri yang mendayung sampai ke pulau. Tim berpindah-pindah dari ujung ke ujungperahu. Ia ribut menggonggong, bila ada ombak bergulung ke arahnya. Anak-anak menatap Pulau Kirrin yang semakin mendekat. Kelihatannya lebih mengasyikkan daripada kemarin.

“George, kau tahu di mana harus mendarat?” tanya Julian. “Tak bisa kubayangkan, kau tahu betul jalan di sela-sela batu seram yang berserakan di sini. Aku kuatir, sebentar lagi kita akan terbentur.”

“Aku akan mendarat di teluk kecil yang kuceritakan kemarin,” kata George. “Jalan ke situ cuma ada satu, tapi aku sudah hafal sekali. Tempatnya tersembunyi di sisi pulau sebelah timur.”

Dengan cekatan didayungnya perahu mengelakkan batu-batu yang tersembul di air. Sehabis mengitari sederetan batu karang yang runcing, tiba-tiba nampaklah teluk yang

dimaksudkan oleh George. Teluk itu merupakan pelabuhan alam. Air di situ tenang, terlindung di balik beting karang yang tinggi. Perahu mereka masuk ke dalam teluk. Begitu masuk, perahu tak oleng lagi.

“Wah, enak di sini!” kata Julian dengan mata bersinar-sinar karena gembira. George memandangnya. Matanya juga bersinar-sinar, biru secerah air laut. Baru kali itulah ia mengajak orang lain ke pulaunya. Dan George merasa gembira karenanya.

Perahu mereka mendarat di pasir yang putih.

“Kita benar-benar sudah sampai di pulau!” seru Anne sambil menandak-nandak. Tim ikut melonjak-lonjak, seperti kemasukan setan. Anak-anak yang lain tertawa melihat keduanya.George menarik perahu sampai jauh ke tengah pasir.

“Kenapa begini jauh?” tanya Julian sambil membantu. “Sebentar lagi kan sudah pasang tinggi. Tak mungkin air akan sampai di sini.”

“Kan sudah kukatakan tadi, sebentar lagi akan ada angin ribut,” ujar George. “Saat itu ombak akan bergulung-gulung melanda di sini. Dan kita tak kepingin kehilangan perahu, bukan?”

“Ayohlah! Kita periksa pulau ini,” seru Anne. Anak itu mendaki tebing batu, dan sudah berdiri di atas pelabuhan alam itu. “Ayohlah!”

Anak-anak yang lain menyusul naik. Tempat itu benar-benar mengasyikkan. Di mana-mana ada kelinci berlompatan! Tetapi binatang-binatang itu tidak lari bersembunyi ketika melihat anak-anak datang.

“Jinak sekali mereka,” kata Julian dengan heran.

“Tak ada orang lain yang pernah ke mari, kecuali aku,” kata George, “Dan aku tak pernahmenakut-nakuti mereka. Tim! Kupukul engkau, jika kelinci-kelinci itu kaukejar!”

Tim memandang George dengan sedih. Dia selalu menurut kata George, kecuali kalau persoalannya mengenai kelinci. Untuk Tim, kelinci itu cuma satu saja gunanya, yaitu untuk diburu. Tim tak bisa mengerti, mengapa George melarangnya. Tetapi Tim menahan diri. Ia berjalan mendampingi anak-anak, sementara matanya mengikuti tingkah laku kelinci-kelinci yang berlompatan di sekitarnya. Ia sangat kepingin mengejar, tapi dilarang oleh George. Sial!

“Kurasa mereka pasti akan mau mengambil makanan dari tanganku,” kata Julian.

Tetapi George menggelengkan kepala.

“Aku sudah pernah mencoba,” katanya. “Tapi mereka tidak mau. Lihatlah kelinci-kelinci yang masih kecil-kecil itu. Lucu ya?”

Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya, lalu hendak mendekati. George menggeram untuk memperingatkannya. Dengan serta merta Tim kembali dengan buntut terkulai.

“Itu dia puri!” kata Julian. “Bagaimana, kita memeriksa juga ke sana? Aku kepingin melihatnya.”

“Ayohlah,” kata George. “Lihatlah — dulu itu jalan masuk ke dalam, lewat gerbang yang sudah runtuh itu!”

Anak-anak memandang ke arah gerbang besar yang sudah setengah runtuh. Di belakangnya nampak tangga batu yang sudah pecah-pecah, menuju ke tengah puri.

“Puri ini dulunya berdinding kokoh, dengan dua buah menara,” ujar George. “Menara yang satu sudah hampir runtuh sama sekali. Tapi yang satu lagi masih lumayan. Setiap tahun burung-burung gagak membuat sarang di dalamnya. Menara itu sudah hampir penuh dengan

ranting-ranting.”

Ketika anak-anak sudah dekat ke menara yang masih bisa dikatakan utuh, dua ekor burung gagak terbang mengitari mereka sambil berkaok-kaok dengan ributnya. Tim meloncat-loncatseolah-olah hendak menangkap, tetapi burung-burung itu terbang terlalu tinggi. Kedua gagak itu ribut mengejeknya.

“Ini dia bagian tengah puri,” ujar George. Mereka melewati ambang yang sudah nyaris runtuh, dan masuk ke suatu tempat yang kelihatannya seperti pekarangan luas. Dulu di situ terdapat lantai batu. Tetapi sekarang sudah penuh dengan rumput serta tumbuh-tumbuhan lain. “Di sinilah penghuninya hidup di jaman dulu. Kalian bisa melihat bekas ruangan-ruangannya. Lihatlah, di sebelah sana masih ada yang cukup utuh. Masuk saja lewat pintu kecil itu. Nanti kalian lihat sendiri.”

Mereka berjalan beriringan melewati sebuah ambang pintu, dan sampai di sebuah kamar. Kamar itu gelap, berdinding dan berlangit-langit batu. Di salah satu sisinya nampak sebuah tempat yang dulunya perapian. Ruangan itu dirasakan aneh dan penuh rahasia.

“Sayang semuanya sudah ambruk,” ujar Julian sambil berjalan ke luar. “Rupanya cuma kamar itu saja yang masih termasuk utuh. Kamar-kamar lain juga masih ada, tapi kalau bukan tak beratap lagi pasti salah satu dindingnya sudah lenyap. Hanya kamar yang satu itu saja yang masih bisa ditempati. Apakah puri ini ada tingkat atasnya, George?”

“Tentu saja,” jawab George. “Tapi tangga ke situ sudah tak ada lagi. Lihatlah! Sebagiandari sebuah kamar tingkat atas bisa kaulihat dari sini. Itu, dekat menara tempat burung-burung gagak bersarang. Tapi kita tak bisa naik ke sana. Aku sudah mencobanya. Nyaris saja patah leherku karenanya. Batu-batunya sudah rapuh.”

“Di sini juga ada sel di bawah tanah?” tanya Dick.

“Aku tak tahu,” jawab George. “Tapi kurasa mesti ada. Walau begitu tak ada yang bisa menemukan, karena semuanya sudah rimbun dengan tumbuh-tumbuhan.”

Benar juga kata George itu. Di sana sini tumbuh semak-semak pohon bes. Dari celah-celahbatu bermunculan belukar yang lebat. Di mana-mana tumbuh rumput besar, begitu pula tumbuh-tumbuhan lainnya.

“Menurut perasaanku tempat ini indah sekali,” kata Anne. “Benar-benar indah.”

“Begitu?” kata George. Ia senang karena Anne memuji purinya. “Lihatlah, kita sekarang sudah berada di sisi satunya lagi dari pulauku, yang berhadapan dengan laut. Kalian lihat batu-batu besar di sana, yang diduduki oleh burung-burung besar yang kelihatannyaaneh itu?”

Ketiga saudara sepupunya memandang ke arah yang ditunjuk oleh George. Mereka melihat beberapa buah batu tersembul di atas permukaan air. Beberapa ekor burung besar berbulu hitam mengkilat duduk dengan sikap aneh di atasnya.

“Itu burung-burung kormoran,” ujar George. “Mereka sudah berhasil menangkap cukup banyak ikan untuk makan mereka, dan sekarang mereka duduk di situ untuk mencernakannya.Loh! Mereka terbang. Kenapa mereka lari?”

Segera sesudah itu ia juga tahu, karena tiba-tiba dari arah barat daya kedengaran bunyiguruh bergulung-gulung.

“Guruh!” kata George. “Rupanya angin ribut datang lebih cepat daripada yang kusangka semula.”

VI

AKIBAT ANGIN RIBUT

KEEMPAT anak itu menatap ke laut. Selama itu mereka begitu asyik melihat-lihat puri tuayang menarik itu sehingga tak ada yang sempat memperhatikan perubahan cuaca.

Sekali lagi terdengar bunyi guruh bergulung-gulung. Seolah-olah di atas langit ada seekor anjing besar yang sedang menggeram. Tim membalas, kedengarannya seperti guruh berukuran kecil.

“Ya ampun, kita terjebak,” ujar George dengan agak ngeri. “Kita takkan sempat kembali ke pantai. Itu sudah pasti Angin bertiup sangat kencang. Kalian pernah melihat perubahan di langit seperti itu?”

Sewaktu mereka berangkat, langit masih berwarna biru cerah. Tetapi sekarang sudah kelabu gelap. Awan tebal yang menutupi, sangat rendah nampaknya. Awan-awan itu seakan lari berkejar-kejaran. Angin yang meniup menimbulkan suara melolong-lolong, sehingga Anne merasa ketakutan mendengarnya.

“Hujan sudah mulai turun,” kata Julian. Setetes air yang besar membasahi tangannya yangdiulurkan. “Sebaiknya kita cepat-cepat mencari perlindungan, George! Kalau tidak, nantikita basah kuyup.”

“Ya, sebentar lagi,” kata George. “Aduh, coba lihat betapa besar ombak yang datang bergulung-gulung itu. Badainya akan benar-benar dahsyat rupanya. Astaga — seram benar kilat itu!”

Ombak memang mulai meninggi. Anak-anak tercengang melihat perubahan yang terjadi. Ombakmakin lama makin membesar, bergulung melampaui deretan batu karang, lalu melaju dengan suara keras menuju ke pantai.

“Kurasa lebih baik perahu kita tarik lebih tinggi lagi,” ujar George tiba-tiba. “Kelihatannya badai yang akan mengamuk dahsyat sekali. Kadang-kadang badai di musim panas lebih hebat daripada di musim dingin.”

Bersama Julian, George lari ke tempat perahu mereka. Untung saja, karena ombak yang besar-besar sudah mulai menyambar ke dekat perahu. Kedua anak itu menyeretnya hampir sampai ke puncak sebuah bukit batu yang rendah. George menambatkannya ke pangkal sebuahsemak kokoh yang tumbuh di situ.

Sementara itu hujan sudah turun seperti dicurahkan dari langit. Dengan cepat George danJulian sudah basah kuyup.

“Mudah-mudahan Dick dan Anne ingat dan berlindung dalam kamar yang masih utuh dinding dan langit-langitnya,” kata George.

Ternyata keduanya memang berlindung di situ. Mereka kelihatan menggigil, karena agak kedinginan dan ketakutan. Kamar itu gelap, karena cahaya hanya masuk dari dua jendela kecil dan dari lubang pintu sempit.

“Bisakah kita menyalakan api, supaya suasana di sini agak enak?” kata Julian sambil memandang berkeliling. “Di mana bisa kita dapatkan ranting-ranting yang kering?”

Seolah-olah menjawab pertanyaan, segerombolan burung gagak berteriak-teriak sambil

terbang berputar-putar di tengah badai.

“Ya, tentu saja. Di dasar menara banyak bertaburan ranting-ranting!” seru Julian. “Maksudku di mana burung-burung itu bersarang. Di sana banyak ranting yang terjatuh.”

Julian lari di tengah hujan, menuju ke menara. Dengan cepat diraupnya ranting-ranting yang ada di situ, lalu lari kembali ke tempat berteduh.

“Bagus!” kata George. “Dengannya kita bisa menyalakan api unggun. Ada yang punya kertasdan korek api untuk membakarnya.”

“Kalau korek api, aku punya,” kata Julian. “Tapi tak ada yang membawa kertas.”

“Ada,” kata Anne tiba-tiba. “Roti kita dibungkus dalam kertas. Kita keluarkan saja rotinya, supaya kertas itu bisa kita pakai untuk menghidupkan api.”

“Bagus idemu itu,” kata George. Mereka lantas membuka bungkusan roti. Rotinya disusun rapi di atas sekeping batu pecah, sesudah dibersihkan terlebih dulu. Kemudian mereka menghidupkan api unggun. Kertas pembungkus ditaruh paling bawah, setelah itu ranting-ranting diatur bersilang di atasnya.

Senang sekali mereka ketika kertas mulai terbakar. Nyala membesar dan membakar ranting-ranting dengan segera. Ranting-ranting itu kering semuanya. Tak lama kemudian api unggun sudah menyala. Kamar sempit itu diterangi cahaya api yang menari-nari. Di luar sudah gelap sekali. Awan mendung sangat rendah, nyaris menyentuh ujung menara puri. Awan itu melayang dengan cepat ke arah timur laut, seperti diburu dari belakang oleh angin yang bertiup menderu-deru. Suaranya sama keras seperti deru ombak yang memecah dipantai pulau itu.

“Belum pernah kudengar laut berbunyi begitu ribut,” kata Anne. “Kedengarannya seperti sedang berteriak sekuat-kuatnya.”

Anak-anak nyaris tak bisa mendengar suara mereka sendiri, karena kalah dengan bunyi angin dan ombak. Mereka terpaksa berteriak-teriak.

“Ayoh, kita makan saja sekarang!” seru Dick. Dia sudah merasa lapar, seperti biasanya. “Selama badai masih mengamuk, kita toh tak bisa berbuat apa-apa.”

“Ayohlah,” sambut Anne sambil melihat ke arah roti dengan rasa kepingin. “Asyik juga, berpiknik mengelilingi api unggun di kamar yang gelap ini. Aku kepingin tahu, berapa lama waktu yang sudah lewat sejak ada orang-orang jaman dulu makan di sini. Aku kepingin bisa melihat mereka.”

“Aku tidak mau,” ujar Dick, sambil memandang berkeliling dengan agak takut-takut. Seolah-olah dia mengira akan ada orang-orang jaman dulu masuk dan ikut piknik bersama mereka. “Hari ini sudah cukup aneh. Tak perlu lagi mengharapkan kejadian seperti itu.”

Mereka merasa lebih enak, setelah menghabiskan bekal roti dan minuman. Api unggun menyala semakin besar ketika semakin banyak ranting-ranting yang terbakar. Nyalanya menghangatkan tubuh. Untunglah, karena sebagai akibat angin yang bertiup sangat kencang, udara menjadi lebih dingin dari semula.

“Kita berganti-ganti mengambil kayu kering,” kata George. Tetapi Anne tak mau pergi seorang diri. Ia berusaha sedapat-dapatnya untuk tidak menampakkan rasa takutnya terhadap badai. Namun ia tak sanggup keluar dari kamar yang hangat itu, untuk mengambilkayu di tengah hujan lebat. Apalagi kilat dan petir menyambar-nyambar.

Tim juga tidak menyukai badai. Anjing itu duduk merapatkan diri pada George. Kupingnya tegak, dan setiap kali terdengar bunyi guruh ia ikut menggeram. Anak-anak mengumpaninyadengan potongan-potongan roti. Tim makan dengan lahap, karena ia pun merasa lapar.

Setiap anak mendapat empat potong biskuit.

“Punyaku akan kuberikan semua pada Tim,” kata George. “Aku tak membawa biskuit makanannya. Sedang kelihatannya ia sangat lapar.”

“Jangan,” kata Julian. “Kita masing-masing memberikan sebuah padanya. Jadi Tim mendapatempat biskuit, sedang untuk kita masing-masing masih ada tiga buah. Untuk kita, itu kansudah banyak.”

“Kau baik sekali,” kata George. “Bagaimana pendapatmu, Tim, baikkah mereka ini?”

Tim menyalak untuk menyatakan persetujuannya dengan kata-kata George. Anak-anak tertawamendengarnya. Tim merebahkan diri, lalu digelitik oleh Julian perutnya.

Anak-anak tak lupa memasukkan ranting-ranting kering ke api supaya jangan padam, sambilmakan-makan. Kemudian tiba lagi giliran Julian untuk mengambil kayu bakar. Ia ke luar dan lari ke tengah hujan. Ia berdiri sambil memandang berkeliling, sementara air hujan membasahi kepalanya.

Rupanya saat itu badai sudah tepat berada di atas pulau. Kilat menyambar, diiringi bunyi petir pada saat bersamaan. Julian sebenarnya sama sekali tidak takut terhadap badai. Tetapi mau tidak mau, hatinya agak gentar juga sekali itu. Badai dahsyat sekali!Kilat sambar-menyambar, diiringi bunyi petir yang nyaringnya memekakkan telinga. Seolah-olah di sekelilingnya ada gunung-gunung rubuh.

Di sela-sela bunyi petir dan guruh terdengar deru laut. Bunyinya juga mengagumkan. Percikan ombak terbang begitu tinggi, sehingga membasahi Julian yang sedang berdiri di tengah reruntuhan puri.

“Aku kepingin melihat wujud ombak di tengah angin ribut,” katanya pada diri sendiri. “Kalau percikannya saja bisa membasahi tubuhku di sini, mestinya ombak itu besar sekali!”

Julian berjalan keluar dari puri, lalu menaiki bekas tembok yang dulu mengelilingi puri. Julian berdiri di atas runtuhan tembok, memandang ke arah lautan. Ia berdiri tercengang-cengang! Ia kagum melihat pemandangan di depannya.

Ombak laut kelihatan seperti tembok tinggi berwarna hijau tua bercampur kelabu, melandabatu-batu karang yang berhamparan sekeliling pulau. Percikannya nampak putih kemilau didepan langit yang berwarna kelabu kelam. Ombak besar itu bergulung-gulung sampai ke pantai dan terbanting dengan keras di situ. Benturannya begitu keras, sehingga tembok tempat Julian berpijak tergetar sebagai akibatnya.

Julian takjub memandang laut yang sedang mengamuk. Sesaat dikiranya ombak akan membanjiri Pulau Kirrin. Tetapi ia tahu hal itu tak mungkin terjadi. Sementara sedang menatap ombak besar yang datang bergulung-gulung, ia melihat sesuatu yang aneh.

Ada sesuatu benda di dekat batu-batu di depan pantai, kecuali ombak. Benda itu besar dan berwarna gelap. Kelihatannya seperti akan tersembul keluar dari air, lalu surut kembali. Benda apakah itu?

“Tak mungkin sebuah kapal,” ujar Julian pada dirinya sendiri. Hatinya mulai berdebar-debar keras, sementara ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas di sela hujandan percikan ombak. “Tapi kelihatannya mirip sekali seperti kapal. Mudah-mudahan saja bukan, karena tak mungkin ada yang bisa diselamatkan dalam badai sedahsyat ini.”

Julian berdiri sambil memandang ke arah benda gelap yang timbul tenggelam dalam laut. Kemudian diambilnya keputusan untuk memberitahukan pada anak-anak. Dengan bergegas ia kembali ke kamar yang diterangi cahaya api unggun.

“George! Dick! Di batu-batu depan pulau ini ada sesuatu benda aneh?” serunya sekuat tenaga. “Kelihatannya seperti kapal, tapi mustahil. Lihat sajalah sendiri!”

Anak-anak memandangnya keheranan, lalu meloncat bangkit. George cepat-cepat mencampakkan beberapa potong ranting ke api supaya tidak padam, lalu lari bersama anak-anak menyusul Julian yang sudah mendahului.

Badai sudah agak mereda. Hujan sudah tidak lagi selebat tadi. Bunyi guruh agak menjauh,sedang kilat pun tidak begitu sering lagi menyambar. Julian lari mendahului ke tembok, di mana ia sebelumnya berdiri memandang ke laut.

Semua ikut memanjat dan menatap ke laut. Mereka melihat air berwarna hijau gelap bergejolak. Ombak besar-besar datang bergulung-gulung dan memecah di batu-batu, lalu memburu ke pulau seolah-olah hendak menerkam. Anne memegang lengan Julian erat-erat. Anak itu merasa kecil dan ketakutan.

“Kau tak perlu takut, Anne,” ujar Julian keras-keras. “Perhatikanlah, sebentar lagi akan nampak sesuatu yang aneh.”

Mereka semua asyik memperhatikan. Mula-mula tak ada yang kelihatan kecuali ombak yang membubung tinggi. Tiba-tiba nampak oleh George benda yang dimaksudkan Julian.

“Ya Tuhan,” serunya, “Itu kapal! Betul, sebuah kapal! Terdamparkah dia di situ? Itu kapal besar — bukan perahu layar atau sekoci nelayan.”

“Ada orang di dalamnya?” tanya Anne setengah menangis.

Anak-anak memperhatikan seperti terpaku di tempat mereka berdiri. Tim menggonggong dengan ribut, ketika dilihatnya benda gelap yang aneh terombang-ambing dipukul ombak yang besar-besar. Kapal itu didorong alun ke arah pantai.

“Sebentar lagi pasti terbanting ke batu-batu itu,” kata Julian tiba-tiba. “Lihatlah!”

Saat ia sedang berkata begitu, terdengar bunyi berderak nyaring, seperti ada benda yangpecah. Kapal itu terdampar ke batu-batu runcing yang terdapat di sebelah barat daya Pulau Kirrin.

“Dia terdampar,” kata Julian, “tak bisa bergerak lagi. Sebentar lagi laut akan surut sedikit, dan kapal itu akan tetap tersangkut di situ.”

Sementara Julian sedang ngomong, awan yang sudah menjadi tipis merenggang sebentar dan melewatkan sinar matahari yang pucat. Tetapi hanya sebentar saja, sesudah itu awan merapat kembali.

“Bagus!” kata Dick sambil menengadah. “Sebentar lagi matahari akan muncul. Tubuh kita bisa menjadi hangat kembali, dan pakaian kita akan kering. Mudah-mudahan nanti kita bisa melihat, kapal apa yang sial itu. Mudah-mudahan tak ada orang di dalamnya. Mudah-mudahan semua sudah berhasil menyelamatkan diri dengan sekoci-sekoci ke darat.”

Awan semakin tipis. Angin sudah tidak menderu-deru lagi. Matahari memancarkan sinarnya agak lama. Terasa oleh anak-anak kehangatannya. Mereka semua menatap ke kapal yang terdampar di batu karang. Sinar matahari meneranginya.

“Ada sesuatu yang aneh pada kapal itu,” kata Julian sambil berpikir-pikir. “Sesuatu yang aneh sekali. Aku belum pernah melihat kapal semacam itu.”

George menatapnya dengan pandangan aneh. Kemudian ia berpaling memandang ketiga saudarasepupunya. Mereka heran, karena mata George bersinar-sinar gembira. Ia demikian gembira, sehingga nyaris tak bisa ngomong.

“Ada apa?” tanya Julian sambil memegang tangannya.

“Julian — itu — Julian, itu bangkai kapalku!” jerit George dengan suara melengking tinggi. “Masakan kau tak bisa menebak apa yang telah terjadi tadi! Laut yang bergolak karena badai mengangkatnya dari dasar laut, lalu membantingnya sehingga kandas di atas

batu karang itu. Itu bangkai kapalku!”

Seketika itu juga ketiga saudara sepupunya melihat bahwa kata George benar. Itu memang bangkai kapal tua yang karam. Pantas kelihatannya aneh! Karena itulah kelihatannya sangat tua dan gelap, dan berbentuk asing. George benar. Itu bangkai kapalnya, yang terangkat dari tempat peristirahatannya di dasar laut dan terbanting ke atas batu di depan pantai.

“George! Kita sekarang bisa naik perahu ke kapal itu!” seru Julian. “Kita akan bisa memeriksanya dengan seksama, dari haluan sampai buritan. Barangkali saja kita akan menemukan peti-peti yang penuh berisi emas. Wah, George!”

VII

KEMBALI KE PONDOK KIRRIN

KEEMPAT anak itu sangat tercengang dan tertarik, sehingga lebih dari semenit mereka takbisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya melotot memandang bangkai kapal tua itu. Pikiran mereka penuh dengan angan-angan, membayangkan segala macam yang mungkin akan ditemukan di dalamnya. Kemudian Julian memegang lengan George erat-erat.

“Wah, hebat ya?” katanya. “Benar-benar luar biasa!”

George masih membisu. Matanya masih menatap bangkai kapal, sementara dalam pikirannya terbayang bermacam-macam hal. Kemudian ia berpaling ke Julian.

“Mudah-mudahan kapal itu masih punyaku, setelah terlempar ke atas seperti itu,” ujarnya. “Aku tak tahu apakah bangkai-bangkai kapal menjadi milik Ratu, seperti halnya harta terpendam. Tapi bagaimanapun juga, kapal itu dulu milik keluargaku. Tak ada yang mempedulikannya sewaktu terbenam di dasar laut. Bagaimana pendapatmu, apakah aku masih boleh memilikinya setelah terangkat ke atas?”

“Kita jangan bercerita pada orang lain!” kata Dick.

“Janganlah setolol itu,” ujar George. “Salah seorang nelayan pasti akan melihatnya, sewaktu berangkat meninggalkan teluk. Kemudian dengan cepat akan tersebar beritanya.”

“Kalau begitu, lebih baik kita cepat-cepat memeriksanya dengan teliti, sebelum didahului orang lain!” kata Dick bersemangat. “Sekarang belum ada orang yang tahu, kecuali kita. Tidak bisakah kita ke situ, apabila ombak sudah agak mereda?”

“Kita tak bisa jalan kaki ke batu-batu sana, jika itu yang kaumaksudkan,” kata George. “Kalau dengan perahu mungkin bisa. Tapi sekarang belum. Karena ombak masih terlalu besar. Dan hari ini pasti belum akan reda, karena tiupan angin masih terlalu kencang.”

“Kalau begitu bagaimana kalau besok pagi-pagi!” tanya Julian. “Sebelum ada orang lain yang tahu? Kurasa jika kita bisa paling dulu datang ke kapal itu, segala yang ada di situ akan bisa kita temukan!”

“Ya, mungkin saja,” kata George. “Kataku para penyelam sudah pernah turun dan memeriksanya seseksama mungkin. Tapi itu sangat sukar, karena mereka harus bekerja

dalam air. Mungkin saja kita akan menemukan sesuatu yang tidak mereka lihat waktu itu. Wah, rasanya seperti sedang mimpi. Sukar kupercaya bahwa bangkai kapal tuaku muncul dari dasar laut!”

Sementara itu awan gelap sudah menyingkir. Sinar matahari yang hangat dengan cepat mengeringkan pakaian keempat anak itu yang tadinya basah kuyup. Nampak uap air mengepuldari pakaian mereka. Dan dari bulu tubuh Tim juga nampak kebut halus naik ke udara. Anjing itu kelihatannya tak menyenangi bangkai kapal yang tiba-tiba muncul, karena ia menggeram dengan suara berat.

“Kau ini aneh, Tim,” ujar George sambil menepuk-nepuk anjingnya. “Kapal itu kan tidak mengapa-apakan dirimu! Kau kira itu apa?”

“Mungkin dikira ikan paus,” kata Anne berkelakar. Ia tertawa. “Wah, George — ini hari yang paling mengasyikkan selama hidupku. Tidak bisakah kita naik saja ke perahu sekarang dan mencoba datang ke kapal itu?”

“Tidak bisa!” kata George. “Aku sendiri juga kepingin. Tapi itu mustahil, Anne. Pertama-tama kurasa kapal itu belum tetap letaknya di batu-batu. Ia masih akan tetap goyah, selama pasang belum surut. Kulihat lambungnya masih terangkat sedikit, setiap ada ombak yang sangat besar datang menamparnya. Sekarang masih berbahaya masuk ke situ.Dan selanjutnya, aku juga tak kepingin perahuku hancur berkeping-keping terbentur batu,dan kita tercampak ke laut yang masih bergolak itu. Itulah yang akan terjadi jika kita mencoba juga sekarang. Kita harus menunggu sampai besok. Bagus ide tadi, untuk berangkat ke situ pagi-pagi. Kurasa orang-orang dewasa banyak yang akan beranggapan bahwa urusan merekalah memeriksa kapalku itu.”

Sesudah mengamat-amati bangkai kapal yang terdampar itu beberapa saat lagi, anak-anak kemudian berjalan-jalan mengitari Pulau Kirrin. Pulaunya tak begitu besar, tetapi sangat menarik hati. Pantainya berbatu-batu, dengan sebuah teluk kecil di mana perahu mereka tertambat. Lalu runtuhan puri dengan burung-burung sejenis gagak yang terbang berputar sambil berteriak-teriak ribut, serta kelinci-kelinci yang berlompatan ke sana ke mari.

“Aku senang pada pulau ini,” kata Anne. “Sungguh! Ukurannya cukup kecil, sehingga masihbisa kelihatan bentuk pulaunya. Kebanyakan pulau terlalu besar, sehingga kesan yang timbul cuma sebagai daratan saja. Maksudku Inggris juga sebuah pulau. Tapi tak ada orang yang hidup di situ akan tahu bahwa ia tinggal di sebuah pulau, kalau hal itu tidak dikatakan kepadanya. Kalau ini rasanya benar-benar seperti pulau, karena di mana pun kita berdiri tepinya yang satu lagi masih bisa kelihatan. Aku senang pada pulau ini.”

George merasa bahagia. Ia sudah sering ke situ sebelumnya, tetapi selalu sendirian. Hanya Tim saja yang ikut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri takkan mengajak orang lain ke situ, karena dirasakannya hanya akan merusak suasana. Tetapi ternyata suasana tak rusak karena kehadiran Julian beserta kedua adiknya. Bahkan menjadi semakin asyik. Untuk pertama kalinya George menyadari bahwa kesenangan yang dibagi dengan orang lain merupakan kenikmatan yang berlipat ganda.

“Kita tunggu dulu sampai ombak tak begitu tinggi lagi. Sudah itu baru kita pulang,” katanya. “Kurasa hujan masih akan turun lagi, dan kalau kita berangkat sekarang pakaiankita akan basah kuyup. Kita akan baru sampai di rumah saat minum teh, karena berat mendayung melawan arus air surut.”

Keempat anak itu agak capek, karena sepagian sibuk terus. Tak banyak mereka berkata-kata sewaktu berdayung pulang. Mereka silih berganti memegang dayung. Hanya Anne saja yang tidak ikut mendayung, karena ia masih terlalu kecil. Takkan kuat ia melawan arus pasang surut. Sambil bergerak ke arah pantai, mereka menoleh ke belakang untuk melihat Pulau Kirrin. Bangkai kapal tak nampak oleh mereka karena letaknya di sisi yang lain, menghadap ke laut.

“Untung saja letaknya di sebelah sana,” kata Julian. “Jadi tak ada orang lain yang bisa

melihat dari pantai. Kapal itu baru akan kelihatan apabila ada perahu nelayan berangkathendak menangkap ikan. Besok kita berangkat sepagi perahu nelayan. Kuusulkan, kita bangun subuh.”

“Wah, pagi sekali,” kata George. “Kau bisa bangun sepagi itu? Aku sudah biasa bangun subuh, tapi kalian kan belum!”

“Tentu saja kami bisa bangun,” jawab Julian. “Nah — kita sudah sampai lagi di pantai. Syukurlah! Lenganku sudah pegal. Perutku juga sudah sangat lapar. Rasanya semua makananyang ada di rumah akan sanggup kusikat habis.”

“Wah,” Tim menggonggong untuk menyatakan persetujuannya.

“Aku harus memulangkan Tim ke rumah Alf,” kata George sambil meloncat keluar dari perahu. “Kaunaikkan perahu kita ke pantai, Julian. Sebentar lagi aku akan sudah kembali.”

Tak lama kemudian keempat anak itu sudah duduk menghadapi hidangan teh. Bibi Fanny memanggang beberapa potong roti empuk yang biasa dihidangkan pada saat minum teh di Inggris, serta kue jahe dengan setrup kental berwarna hitam. Kuenya berwarna coklat tuadan agak lengket. Anak-anak memakannya sampai habis. Rasanya belum pernah mereka menikmati hidangan teh seenak itu.

“Asyik kalian sehari ini?” tanya Bibi.

“O ya!” seru Anne bersemangat. “Angin ribut tadi betul-betul hebat. Sampai terangkat....”

Julian dan Dick serempak menendangnya. George duduk agak jauh. Kalau tidak, pasti ia juga ikut menendang. Anne melotot ke arah kedua abangnya, dengan air mata berlinang-linang karena kesakitan.

“Ada apa lagi ini!” kata Bibi. Ia tak melihat kejadian itu, karena kaki-kaki keempat anak itu semua berada di bawah meja. “Kau ditendang, Anne? Kalian tak boleh lagi tendang-menendang di bawah meja. Kasihan Anne! Kakinya biru-biru nanti. Apa yang diangkat oleh ombak ke atas, Sayang?”

“Ombak besar yang terangkat ke atas, Bi,” kata Anne sambil memandang ketiga anak itu dengan sikap menantang. Dia tahu, mereka pasti mengira bahwa dia akan mengatakan ombak mengangkat kapal karam ke atas. Tetapi mereka keliru sangka! Dan dia ditendang dengan tidak bersalah.

“Maaf deh, kau tadi kutendang,” ujar Julian. “Aku tak sengaja, kakiku tergelincir.”

“Kakiku juga,” sambung Dick. “Betul Bi, pemandangan yang nampak dari pulau benar-benar mengagumkan. Ombak besar berkejar-kejaran masuk ke dalam teluk kecil yang ada di sana. Sampai perahu kami harus ditarik naik sampai hampir ke puncak bukit batu kecil.”

“Aku sebetulnya tak takut pada badai,” kata Anne. “Aku tak setakut Ti....”

Anak-anak semuanya tahu bahwa Anne nyaris menyebutkan nama Tim. Seketika itu juga mereka ngomong dengan nyaring, agar suara anak perempuan kecil itu tak terdengar oleh Bibi. Julian masih sempat menendangkan kaki.

“Aduh!” teriak Anne. Tetapi teriakannya dikalahkan oleh keributan anak-anak ngomong.

“Kelinci di sana jinak-jinak,” kata Julian keras-keras.

“Kami melihat burung-burung kormoran,” kata Dick. George juga ikut-ikut ngomong keras-keras.

“Burung-burung gagak berisik sekali, berkaok-kaok tak henti-hentinya.”

“Kalian juga seperti burung gagak berisiknya, ngomong serempak seperti begini!” ujar Bibi Fanny geli. “Nah, kalian sudah selesai makan? Kalau begitu lekas cuci tangan kalian yang lengket itu. Ya George, kau juga harus cuci tangan. Tanganmu juga lengket! Aku tahu, karena akulah yang membuat kue jahe tadi, dan kau makan tiga iris. Sudah itu bermainlah dengan diam-diam di kamar sebelah. Kalian tak bisa ke luar, karena hari hujan. Tapi ingat, jangan sampai mengganggu Ayah, George. Ia sibuk sekali.”

Anak-anak pergi mencuci tangan.

“Goblok!” tukas Julian pada Anne. “Nyaris dua kali kau membongkar rahasia kita!”

“Yang pertama kali, aku tak bermaksud mengatakan seperti yang kaukira!” jawab Anne dengan jengkel.

George menyela pertengkaran itu.

“Aku lebih suka rahasia kapal karam yang kaubuka daripada rahasiaku tentang Tim,” katanya. “Kau ini kurang hati-hati kalau ngomong.”

“Memang,” ujar Anne dengan sedih. “Kurasa lebih baik aku tidak ngomong saja pada saat makan. Aku senang sekali pada Tim, jadi rasanya kepingin selalu bicara tentang dia.”

Mereka pergi bermain-main ke kamar sebelah. Julian menggulingkan sebuah meja sehingga terbalik dengan suara keras.

“Kita bermain kapal karam,” katanya. “Ini kapalnya. Sekarang kita akan memeriksa.”

Pintu kamar terbuka dengan keras. Di ambangnya muncul muka seseorang yang merengut. Paman Quentin! Marah sekali kelihatannya.

“Suara apa yang ribut tadi?” tanyanya ketus. “George! Siapa yang membalikkan meja itu?”

“Saya, Paman,” kata Julian. “Maaf, saya tadi lupa Paman sedang sibuk bekerja.”

“Kalau kalian masih berisik juga, besok harus tinggal di kamar semua,” ujar ayah George. “Georgina, jaga supaya saudara-saudara sepupumu tidak ribut.”

Pintu tertutup kembali. Paman pergi meninggalkan anak-anak yang saling berpandangan.

“Ayahmu galak sekali, ya?” kata Julian. “Aku menyesal karena tadi berisik. Aku lupa.”

“Lebih baik kita melakukan suatu permainan yang tenang,” kata George. “Kalau tidak, besok kita akan dihukumnya dan tak boleh keluar. Padahal kita hendak memeriksa kapal karam.”

Mereka ngeri membayangkan akan dikurung dalam rumah. Anne bangkit, hendak mengambil boneka-bonekanya. Ternyata dia berhasil membawa beberapa buah. Julian mengambil buku bacaan.

George melanjutkan pekerjaan tangannya mengukir sebuah perahu kecil yang indah dari sepotong kayu. Dick berbaring menelentang di bangku, sambil memikirkan tentang kapal karam yang menarik itu. Hujan masih turun terus. Keempat anak berharap, semoga besok pagi sudah tidak hujan lagi.

“Kita harus bangun pagi-pagi benar,” kata Dick sambil menguap. “Kita cepat tidur saja malam ini. Aku capek mendayung tadi.”

Biasanya anak-anak itu tak ada yang senang cepat-cepat masuk ke tempat tidur. Tetapi malam itu lain, karena akan datang suatu peristiwa yang mengasyikkan.

“Dengan begitu, besok akan cepat tiba,” kata Anne. Diletakkannya boneka yang sedang

ditimang-timangnya. “Sekarang saja kita tidur?”

“Apa kata Ibu nanti, jika kita langsung tidur sehabis minum teh?” kata George. “Nanti dikira kita semua sakit. Jangan, nanti saja kita tidur sehabis makan malam. Kita bilangsaja capek karena berdayung. Itu kan memang kenyataannya! Malam ini kita tidur nyenyak,dan besok pagi-pagi siap menghadapi petualangan yang ramai. Besok kita memang akan bertualang. Tak banyak orang yang memperoleh kesempatan untuk memeriksa bangkai kapal yang tua sekali seperti itu, yang sebelumnya terbenam di dasar laut!”

Pukul delapan malam anak-anak sudah masuk ke tempat tidur. Sampai heran Bibi Fanny melihatnya. Anne langsung tertidur. Julian dan Dick segera menyusul terlelap. Tetapi George masih agak lama juga belum bisa tidur. Ia memikirkan pulaunya, bangkai kapalnya — dan tentu saja ingatannya juga melayang ke anjingnya yang tersayang.

“Aku harus mengajak Tim,” pikirnya sesaat sebelum tidur. “Tim harus kita ikut sertakan dalam petualangan ini!”

VIII

MEMERIKSA KAPAL TUA

KEESOKAN harinya Julian bangun paling cepat. Ia terjaga ketika matahari muncul di kaki langit sebelah timur. Langit berwarna keemasan kena sinar matahari pagi. Sejenak Julianmasih berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tetapi sekonyong-konyong ia teringat kembali pada kejadian-kejadian yang dialami kemarin. Ia cepat-cepat duduk di tempat tidur, lalu berbisik senyaring mungkin,

“Dick, bangun! Kita akan mendatangi bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut. Ayoh,bangunlah!”

Dick bangun dan nyengir memandang Julian. Ia merasa gembira, sebab sebentar lagi akan bertualang. Ia meloncat dari tempat tidur, lalu lari menyelinap ke kamar George dan Anne. Pintu dibukanya dengan hati-hati. Dilihatnya kedua anak perempuan itu masih tidur. Anne berbaring meringkuk dalam selimut.

Dick menggoncang-goncangkan tubuh George, dan menyodok punggung Anne. Kedua anak perempuan itu terbangun, lalu duduk.

“Cepat!” bisik Dick. “Matahari baru saja terbit. Kita harus bergegas.”

Dengan mata bersinar-sinar, Anne cepat-cepat berpakaian. Anne sibuk kian ke mari mengambil pakaian yang hendak dikenakan. Baju renang, celana jean, baju kaos dan sepatukaret. Dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah siap.

“Sekarang kita ke bawah. Hati-hati di tangga, jangan sampai berderik-derik terpijak. Dan jangan batuk-batuk, atau cekikikan!” ujar Julian memperingatkan ketika mereka berdiri di pangkal tangga sebelah atas. Anne mudah meletus tertawanya, dan sudah seringkali rencana rahasia mereka ketahuan karena ia tiba-tiba cekikikan. Tetapi sekali itu Anne bersungguh-sungguh, seperti ketiga anak lainnya. Ia juga berhati-hati. Mereka menyelinap turun tangga, lalu membuka pintu depan. Tak sedikit pun suara yang terdengar. Pintu mereka tutup kembali. Sudah itu mereka menuju ke pintu pekarangan,

lewat jalan kebun. Pintu itu selalu berderik sewaktu dibuka. Oleh karena itu mereka keluar dengan jalan memanjatnya.

Matahari belum tinggi, tetapi sinarnya sudah memanaskan tubuh. Langit nampak biru cerah, sehingga Anne mendapat kesan seolah-olah baru habis dicuci.

“Kelihatannya seperti baru kembali dari tukang cuci,” katanya.

Anak-anak tertawa mendengar kata-katanya itu. .Anne kadang-kadang kocak sekali omongannya. Tetapi mereka tahu, apa yang dimaksudkan olehnya. Hari itu memberikan kesanbaru dan indah. Awan merah muda di langit yang biru cerah, sedang laut nampak begitu rata dan segar. Susah sekali membayangkan bahwa sehari sebelumnya air di situ bergejolak dengan ganas.

George mengambil perahunya. Sesudah itu ia pergi menjemput Tim, sementara Julian dan Dick menghela perahu ke air. Alf, anak nelayan yang dimintai tolong memelihara Tim, heran melihat George muncul begitu pagi. Alf saat itu sedang bersiap-siap hendak turun ke laut mengikuti ayahnya. Ia nyengir memandang George.

“Kau juga mau memancing?” tanyanya. “Wah, bukan main dahsyatnya angin ribut kemarin. Kukira kau terjebak tak dapat pulang.”

“Memang,” jawab George. “Ayoh, Tim! Ayoh, ikut aku!”

Tim senang karena George datang pagi-pagi sekali. Anjing itu melonjak-lonjak mengelilingi George yang lari menggabungkan diri kembali dengan ketiga saudara sepupunya. Nyaris ia tersandung sebagai akibat tingkah Tim. Begitu sampai di perahu, Tim langsung meloncat ke dalam dan berdiri di haluan. Lidahnya terjulur ke luar, sedangbuntutnya dikibas-kibaskan.

“Bukan main ributnya anjing ini,” ujar Anne. “Awas Tim, nanti buntutmu copot.”

Mereka berangkat ke Pulau Kirrin. Mendayung perahu gampang sekarang, karena laut tenang. Mereka sampai di pulau itu, lalu mengitarinya untuk menuju ke sisi seberangnya.

Itu dia bangkai kapal tua, tertengger di atas batu-batu runcing. Kedudukannya sudah kokoh, tidak terayun-ayun lagi kena ombak yang meluncur di bawahnya. Lambungnya agak miring, dan tiangnya yang patah mencong sedikit.

“Itu dia kapal kita,” kata Julian bergairah. “Kasihan, sekarang mestinya sudah lebih bobrok lagi dari sebelumnya. Bukan main berisik bunyinya sewaktu terbanting ke batu-batu itu kemarin.”

“Bagaimana cara kita naik ke situ?” tanya Anne sambil memandang batu-batu runcing menyeramkan yang bertaburan di sekeliling situ. Tetapi George tak gentar. Ia mengenal hampir setiap jengkal perairan di sekitar pulau kecilnya. Dengan gerakan tetap didayungnya perahu, dan tak lama kemudian sudah sampai ke dekat batu-batu tempat kapal tua itu terdampar.

Anak-anak memperhatikan dari perahu. Kapal itu besar. Jauh lebih besar daripada perkiraan mereka, sewaktu memandangnya ketika masih terbenam di dasar laut. Tubuhnya penuh dengan sejenis kerang-kerangan, sedang ganggang coklat dan hijau terjuntai di mana-mana. Mereka mencium bau aneh. Sisi kapal berlubang-lubang besar, bekas benturan ke batu-batu. Geladaknya juga berlubang-lubang. Kapal itu kelihatan tua dan menyedihkan. Tetapi menurut perasaan keempat anak yang sedang memperhatikannya, nampak sangat menarik.

Perahu didayung ke batu tempat kapal terdampar. Ombak mengalun menyapunya. George memandang berkeliling.

“Perahu kita tambatkan ke kapal itu,” katanya. “Dan kemudian dengan mudah kita bisa naik ke geladak, dengan jalan memanjat sisi kapal. Julian! Lemparkan jerat tali ini ke

potongan kayu patah yang menonjol dari sisi sebelah sana itu!”

Julian mengikuti petunjuknya. Jerat itu dikencangkan, sehingga perahu tertambat erat. Kemudian George menaiki sisi kapal. Gerakannya sangat cekatan, seperti seekor kera layaknya! George memang pintar memanjat. Julian dan Dick menyusul. Tetapi Anne harus dibantu naik. Tak lama kemudian keempat-empatnya sudah berdiri di atas geladak yang agak miring. Lantai di situ licin karena dilapisi ganggang laut yang baunya menusuk hidung. Anne tak tahan menciumnya.

“Nah, ini geladaknya,” ujar George, “dan dari situ awak kapal keluar masuk.” Ia menunjuk ke sebuah lubang besar. Berempat mereka ke situ, lalu memandang ke bawah. Sebuah tangga besi yang sudah berkarat masih terpasang di situ. George mengamat-amatinya.

“Kurasa tangga itu masih cukup kuat,” katanya kemudian. “Aku turun paling dulu. Ada yang membawa senter? Di bawah kelihatannya sangat gelap.”

Julian membawa senter, lalu diberikannya pada George. Anak-anak terdiam semuanya. Perasaan mereka tegang pada saat menatap ke dalam perut kapal besar itu. Di dalam gelapsekali. Apakah yang akan mereka temukan di situ? George menyalakan senter, lalu mulai menuruni tangga. Ketiga saudara sepupunya ikut dari belakang.

Cahaya senter menampakkan pemandangan yang sangat aneh. Bagian kapal di bawah geladak berlangit-langit rendah, yang terbuat dari papan kayu tebal. Anak-anak harus berjalan membungkuk di situ. Kelihatannya beberapa tempat di bawah geladak itu dulunya kamar-kamar. Tetapi bekas-bekasnya tak jelas, karena semuanya sudah rusak dan lapuk serta penuh dengan ganggang. Bau rumput laut yang mengering busuk sekali.

Anak-anak berkeliling memeriksa perut kapal, sambil tergelincir-gelincir di atas ganggang. Dilihat dari dalam, ternyata tidak begitu besar ukurannya. Di bawah tingkat di mana terdapat kamar-kamar, mereka memeriksa ruang palka yang besar dengan bantuan cahaya senter.

“Mestinya di sinilah peti-peti berisi emas itu ditaruhkan,” kata Julian. Tetapi dalam palka tak ada apa-apa, selain air laut dan ikan. Anak-anak tak bisa turun ke bawah, karena genangan air di situ terlampau dalam. Di air terapung satu dua tong. Tetapi tong-tong itu sudah pecah. Di dalamnya tak ada apa-apa.

“Kurasa tong-tong itu dulunya berisi Air. Atau mungkin juga daging kering atau biskuit,” kata George. “Lebih baik kita pergi saja ke bagian yang ada kamar-kamarnya. Aneh ya, melihat tempat-tempat baring yang pernah ditiduri kelasi-kelasi. Coba lihat kursi kayu itu! Bukan main, masih ada setelah bertahun-tahun terbenam dalam air. Dan lihat barang-barang yang tergantung pada sangkutan-sangkutan di sana itu. Semuanya sudah berkarat dan diselaputi ganggang. Tapi pasti dulunya semua itu adalah panci-panciuntuk masak dan piring-piring.”

Ganjil sekali rasanya berkeliling dalam kapal tua yang sudah rusak itu. Anak-anak menajamkan mata mereka, mencari-cari peti yang mungkin berisi batang-batang emas. Tetapi kelihatannya dalam kapal tak ada satu peti pun juga!

Kemudian mereka sampai di sebuah kamar, yang ukurannya agak lebih luas dari kamar-kamarselebihnya. Di satu pojoknya ada sebuah tempat tidur. Seekor kepiting besar duduk di situ. Sepotong perabot tua yang kelihatannya seperti meja berkaki dua tersandar pada tempat tidur. Perabot itu penuh dilapisi kerang yang berwarna kelabu. Rak-rak kayu yangkelihatan seperti dihiasi dengan ganggang hijau, bergantungan lintang-pukang di dindingkamar.

“Pasti itu kamar nakhoda,” kata Julian. “Ukurannya yang paling besar. Lihatlah, benda apakah itu di pojok?”

“Sebuah cangkir tua,” ujar Anne sambil mengambilnya. “Dan di sini ada piring tatakannya, tinggal sebelah. Rupanya waktu kapal karam, nakhoda sedang duduk di sini

sambil minum teh.”

Kemungkinan itu menyebabkan anak-anak merasa agak seram. Kamar kecil itu gelap dan bau.Lantainya lembab serta licin. George mulai beranggapan bahwa kapal tua itu lebih menarik dan menyenangkan pada saat masih terbenam di dasar laut.

“Kita pergi saja dari sini,” katanya dengan suara agak gemetar. “Aku kurang senang di sini. Aku tahu, kapal tua ini mengasyikkan — tetapi juga agak menakutkan.”

Mereka berpaling dan hendak melangkah ke luar. Julian menyoroti kamar itu untuk terakhir kali dengan cahaya senternya. Ia sudah hendak memadamkannya dan menyusul anak-anak yang sudah berjalan lebih dulu, ketika ia tiba-tiba tertegun. Julian melihat sesuatu benda yang tadi tak sempat diperhatikan. Diarahkannya cahaya senter pada benda itu, lalu berseru memanggil anak-anak yang lain.

“He, tunggu dulu. Di dinding ada sebuah lemari. Kita periksa sebentar, barangkali ada isinya!”

Kedua adiknya serta George datang kembali mendengar panggilannya. Mereka melihat semacam lemari kecil dalam dinding kamar. Perhatian Julian tertarik pada lubang kunci. Tetapi kuncinya tidak ada.

“Barangkali saja ada sesuatu di dalamnya,” kata Julian. Dicobanya mengumpil daun pintu dengan jari-jarinya supaya terbuka, tetapi sia-sia belaka.

“Pintunya terkunci,” katanya. “Tentu saja!”

“Kurasa kuncinya sekarang pasti sudah aus,” kata George, lalu ikut mencoba. Dikeluarkannya pisau sakunya yang besar dan kuat. Pisau itu dibukanya dan diselipkan kecelah antara daun pintu dengan dinding kamar. Sekuat tenaga ditekankannya pisau ke samping, dan — tiba-tiba kunci jebol! Benarlah katanya, kunci itu sudah aus karena tuanya. Pintu terayun membuka. Di dalamnya nampak sebuah rak dengan beberapa buah benda.

Anak-anak melihat sebuah peti kayu yang sudah mengembung kena air laut. Lalu ada dua tiga benda yang kelihatannya seperti buku, tetapi tak keruan lagi rupanya karena busuk.Kecuali itu masih ada pula sebuah gelas besar yang sudah retak, serta dua atau tiga benda aneh yang tak bisa dikenali lagi wujudnya karena sudah rusak sama sekali kena airlaut.

“Tak ada yang menarik kecuali peti ini,” kata Julian sambil mengambil benda yang dimaksudkannya. “Kurasa apa pun isi di dalamnya, pasti sekarang sudah rusak. Tapi tak ada salahnya jika peti ini kita buka.”

Pada tutup peti tertera huruf-huruf H.J.K.

“Kurasa itu huruf-huruf depan nama nakhodanya,” ujar Dick.

“Bukan, ‘H.J.K.’ adalah huruf-huruf awal nama kakek dari kakekku!” seru George. Tiba-tiba matanya bersinar-sinar. “Aku sudah banyak sekali mendengar tentang dia. Nama lengkapnya Henry John Kirrin. Kapal ini kepunyaannya. Mestinya ini peti milik pribadinya, di mana tersimpan surat-surat atau buku hariannya. Wah! Peti ini harus kitabuka.”

Dengan dibantu oleh Julian, George berusaha membuka kunci peti kayu tua itu secara paksa. Tetapi sia-sia, karena peralatan mereka tak memadai. Akhirnya mereka menyerah kalah. Julian mengangkat peti untuk dibawa ke perahu.

“Kita buka saja di rumah nanti,” katanya dengan suara bergairah. “Kita akan mempergunakan palu atau alat lain. Pokoknya peti ini harus terbuka. Wah, George — ini benar-benar penemuan namanya!”

Mereka semua merasa menemukan sesuatu benda yang terselubung rahasia. Berisikah peti itu? Dan kalau berisi, apa isinya? Mereka ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan membukapeti.

Mereka naik ke geladak lewat tangga besi tua. Begitu sampai di atas, nampak oleh merekabahwa sementara itu orang-orang lain juga telah menemukan bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut itu.

“Astaga! Kelihatannya seperti setengah dari semua perahu nelayan yang ada di teluk sudah berkumpul di sini!” seru Julian sambil memandang perahu-perahu nelayan yang mengelilingi bangkai kapal tua. Tetapi mereka tak berani terlalu dekat, karena takut terhempas ke batu-batu runcing. Para nelayan yang ada dalam perahu-perahu itu memandangkapal tua dengan tercengang-cengang. Begitu nampak keempat anak di atas geladak kapal, mereka berseru-seru dengan nyaring.

“Ahoy!” Para nelayan itu menyapa seperti lazimnya pelaut-pelaut. “Kapal apa itu?”

“Bangkai kapal yang terbenam di dasar laut!” seru Julian menjawab pertanyaan itu. “Kemarin sewaktu badai terangkat ke atas!”

“Jangan bilang apa-apa lagi,” kata George sambil mengerutkan dahi. “Ini bangkai kapalku. Aku tak mau pelancong-pelancong datang berbondong-bondong ke mari!”

Karenanya Julian tak mengatakan apa-apa lagi. Keempat anak itu lekas-lekas masuk ke perahu mereka, lalu berdayung pulang secepat-cepatnya. Saat sarapan sudah lewat. Mungkin sesampai di rumah, mereka akan kena marah. Bahkan mungkin pula mereka akan dikurung dalam kamar, seperti yang telah diancamkan oleh Paman Quentin yang galak. Tetapi mereka tak peduli! Mereka sudah memeriksa bangkai kapal tua, dan sekarang pulangdengan membawa sebuah peti. Dan isinya barangkali — yah, kalau bukan emas berbatang-batang, sebatang emas yang kecil pun sudah lumayan!

Sesampai di rumah, mereka benar-benar kena marah. Mereka juga tidak bisa sarapan sampaikenyang. Kata Paman Quentin, anak-anak yang terlambat pulang tak pantas diberi daging dan telur goreng. Mereka harus merasa puas dengan roti bakar serta selai saja. Sedih rasanya diomeli!

Peti mereka sembunyikan di bawah tempat tidur dalam kamar yang dipakai oleh Julian dan Dick. Tim dikembalikan pada anak nelayan yang memeliharanya. Lebih tepat jika dikatakanbahwa anjing itu ditambatkan lagi di halaman belakang rumah anak itu, karena Alf sudah turun ke laut untuk menangkap ikan bersama ayahnya. Saat itu ia sedang berdiri dalam perahu ayahnya dan memandang kapal aneh yang terdampar di atas batu-batu karang.

“Kita akan mendapat banyak uang, jika kita mengangkut para pelancong ke mari untuk melihat bangkai kapal tua ini,” katanya. Dan sebelum malam turun, sudah banyak sekali orang-orang yang tertarik melihat kapal tua itu dari geladak perahu-perahu motor dan kapal-kapal nelayan.

George marah sekali karenanya. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena seperti dikatakan oleh Julian, siapa saja berhak untuk melihat!

IX

PETI HARTA

BEGITU selesai sarapan, dengan segera anak-anak mengambil peti yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Peti itu dibawa ke gudang tempat menyimpan alat-alat di kebun. Mereka sudah kepingin sekali membukanya. Dalam hati, mereka semua merasa yakin bahwa didalamnya tersimpan harta. Entah apa, tetapi pokoknya harta!

Julian mencari-cari alat yang bisa dipakai. Ia menemukan sebuah pahat. Menurut perasaannya alat itu cocok sekali dipakai untuk membuka peti secara paksa. Ia langsung mencobanya, tetapi pahat tergelincir dan mengenai jari-jari tangannya. Dicobanya kemudian berbagai alat lain. Tetapi peti itu tetap saja tak bisa terbuka. Kesal anak-anak dibuatnya.

“Aku tahu akal,” ujar Anne akhirnya. “Kita bawa saja peti ini ke tingkat paling atas, lalu kita bantingkan dari jendela ke tanah. Pasti pecah!”

Saudara-saudaranya mempertimbangkan usul itu.

“Bisa saja kita mencobanya,” kata Julian. “Cuma risikonya, barang yang ada di dalam bisa patah atau rusak sebagai akibatnya.”

Tetapi mereka tak melihat jalan lain lagi. Karenanya Julian membawa peti ke dalam rumah, lalu naik sampai ke tingkat teratas. Ia masuk ke dalam loteng dan membuka jendela yang ada di situ. George dan kedua adiknya berdiri sambil menunggu di bawah. Julian membantingkan peti sekuat tenaga ke bawah. Peti itu melayang di udara, lalu membentur alas batu di tanah dengan suara nyaring.

Seketika itu juga terbuka pintu serambi yang menghadap ke situ. Paman Quentin muncul seperti disengat lebah.

“Apa lagi yang kalian perbuat sekarang?” serunya marah. “Kalian kan tidak berlempar-lemparan dari jendela? Barang apa lagi ini, yang terletak di tanah?”

Anak-anak memandang peti yang dilemparkan oleh Julian dari atas. Peti itu terletak di batu yang merupakan alas serambi luar. Tutupnya terbuka, dan di dalamnya nampak sebuah kotak dari timah yang kedap air. Barang yang tersimpan dalam peti tidak bisa rusak kenaair laut, dan tetap kering!

Dick berlari untuk mengambil peti.

“Aku bertanya tadi, barang apa itu yang terletak di tanah?” teriak Paman sambil melangkah ke depan.

“Ini — barang ini kepunyaan kami,” ujar Dick. Mukanya menjadi merah.

“Nah, kalau begitu kurampas saja,” ujar Paman.

“Kalian nakal, mengganggu kesibukanku! Berikan barang itu padaku. Dari mana kalian mendapatnya?”

Anak-anak tidak ada yang menjawab. Paman Quentin mengerutkan dahi, sampai kaca matanya nyaris copot.

“Dari mana kalian mengambilnya?” bentak Paman sambil melotot ke arah Anne yang berdiri paling dekat.

“Dari bangkai kapal tua,” kata Anne tergagap-gagap karena takut.

“Dari kapal tua!” kata Paman tercengang. “Maksudmu dari bangkai kapal yang terangkat dari dasar laut kemarin? Aku juga mendengar kabarnya. Jadi kalian masuk ke kapal itu?”

“Ya,” jawab Dick. Saat itu Julian datang menggabungkan diri lagi. Ia kelihatan cemas. Jangan-jangan pamannya akan merampas peti yang akhirnya berhasil dibuka. Dan ternyata memang itulah yang terjadi.

“Mungkin dalam peti ini ada barang penting,” katanya sambil mengambil peti yang ada di tangan Dick. “Kalian tak boleh mengacak-acak dalam bangkai kapal tua itu, karena jangan-jangan terambil barang yang penting artinya.”

“Tapi itu kan kapal kepunyaanku,” kata George membantah. “Ayah, berikanlah peti itu kepada kami. Kami baru saja berhasil membukanya. Menurut perasaan kami isinya mungkin harta. Barangkali saja sebatang emas!”

“Sebatang emas!” kata ayahnya mencemoohkan. “Kau ini memang anak kecil yang tak tahu apa-apa! Peti sekecil ini tak mungkin dipakai sebagai tempat menyimpan barang berharga seperti itu. Lebih mungkin isinya merupakan keterangan menyangkut emas berbatang-batangitu. Aku sudah selalu berpendapat bahwa emas itu sudah diantar dengan selamat ke salah satu tempat. Dan sesudah membongkar muatan berharga itu, kapal membentur karang sewaktukeluar dari teluk lalu karam.”

“Aduh Ayah, bolehkah kami meminta peti itu,” kata George merengek-rengek. Ia sudah hampir menangis. Tiba-tiba ia merasa yakin, peti itu berisi surat-surat yang mungkin akan merupakan petunjuk tentang batang-batang emas yang diangkat oleh kapal yang bernasib sial itu. Tetapi dengan tidak mengatakan apa-apa lagi Paman berpaling dan masuk ke rumah. Peti yang sudah pecah tutupnya dikepit di bawah ketiak.

Anne menangis.

“Jangan salahkan aku karena mengatakan bahwa peti itu kita ambil dari bangkai kapal,” katanya tersedu-sedu. “Jangan salahkah aku. Habis, Paman melotot memandangku. Jadi aku terpaksa mengatakan.”

“Sudahlah, Dik,” kata Julian sambil merangkul Anne. Ia kelihatan marah sekali. Paman dianggapnya tidak adil, karena dengan begitu saja merampas peti. “Aku tak rela! Biar bagaimanapun, peti itu harus kita ambil lagi dan kita periksa isinya. Ayahmu pasti tak mau merepotkan diri dengan peti itu, George. Dia pasti sudah mulai lagi menulis buku yang sedang dikarangnya, dan melupakan soal peti kita. Aku akan menunggu kesempatan baik untuk menyelinap masuk ke dalam kamar kerjanya, lalu mengambil peti itu. Biar aku dipukul kalau sampai ketahuan!”

“Bagus, kalau kau mau begitu!” kata George. “Kami akan berjaga-jaga, untuk melihat barangkali saja Ayah ke luar.”

Anak-anak silih berganti menjaga. Tetapi benar-benar mengesalkan, karena sepanjang pagiPaman Quentin tak ke luar sama sekali dari kamar kerjanya. Bibi Fanny heran ketika melihat sepanjang pagi selalu ada satu atau dua orang anak dalam kebun.

“Mengapa kalian tidak bersama-sama semuanya dan bermain-main ke pantai, atau pergi berenang?” tanyanya. “Atau kalian bertengkar?”

“Tidak,” jawab Dick. “Tentu saja tidak.” Tetapi ia tak mengatakan, kenapa mereka berganti-ganti hadir dalam kebun!

“Ayahmu tidak pernah ke luar ya?” tanyanya pada George, ketika anak itu datang untuk menggantinya berjaga. “Menurut perasaanku, dengan begitu hidupnya tidak sehat!”

“Hidup para sarjana memang tak pernah sehat,” jawab George dengan nada pasti, seolah-olah ia mengenal semua sarjana. “Tapi siang ini ia mungkin tertidur. Kadang-kadang hal itu terjadi, karena capek bekerja!”

Siang itu giliran Julian menjaga dalam kebun. Ia duduk sambil membaca buku di bawah pohon. Tak lama kemudian perhatiannya tertarik oleh suatu bunyi aneh. Dengan seketika ia tahu, bunyi apa itu.

“Itu suara Paman Quentin mendengkur!” katanya. Syarafnya menegang, sementara ia menajamkan telinga untuk meyakinkan. “Betul, Paman sudah tertidur! Kucoba saja sekarang, menyelinap masuk lewat pintu serambi untuk mengambil peti!”

Julian mengendap-endap ke pintu-pintu serambi. Satu di antaranya terbuka sedikit. Julian menguakkannya sehingga menganga lebih lebar lagi. Dilihatnya Paman duduk tersandar di sebuah kursi besar yang empuk. Mulutnya agak terbuka, sedang matanya tertutup rapat. Paman tertidur! Terdengar bunyi dengkurnya setiap kali menarik napas.

“Kelihatannya nyenyak sekali tidurnya,” pikir Julian. “Dan peti ada di belakangnya, di atas meja. Sebaiknya kucoba saja. Kalau sampai ketahuan, pasti aku akan dipukul. Sudahlah, apa boleh buat bila hal itu sampai terjadi!”

Julian menyelinap masuk. Paman masih mendengkur terus. Anak itu berjingkat-jingkat menuju ke meja yang letaknya di belakang kursi besar tempat Paman tidur. Dengan hati-hati diambilnya peti.

Tiba-tiba sepotong kayu tutup peti yang pecah terjatuh ke lantai. Paman menggeliat, lalu membuka matanya. Secepat kilat Julian bersembunyi di belakang kursi besar. Ia nyaris tak berani bernapas.

“Bunyi apa itu?” terdengar suara Paman bertanya pada diri sendiri. Julian tetap merunduk, dengan tidak bergerak sama sekali. Paman merebahkan diri kembali ke sandaran kursi, lalu memejamkan mata. Beberapa saat setelah itu, sudah terdengar lagi bunyi dengkurnya yang teratur.

“Hore!” Kata Julian girang. Tetapi tentu saja hanya dalam hati. “Dia sudah pulas lagi.”

Dengan tidak menimbulkan bunyi sedikit pun, Julian bangkit. Peti dipegangnya erat-erat.Sambil berjingkat-jingkat, ia ke luar lalu lari melewati jalan kebun. Ia tak bermaksud menyembunyikan peti itu. Ia ingin selekas-lekasnya mendatangi anak-anak yang menunggu dan menunjukkan hasilnya!

Ia berlari ke pantai, di mana George dan kedua adiknya sedang berbaring di pasir sambilmenjemur badan.

“He!” serunya dari jauh. “He — aku berhasil! Aku berhasil!”

Ketiga anak yang sedang berbaring di pantai duduk dengan serempak. Hati mereka berdebar-debar melihat peti yang ada di tangan Julian. Mereka tak ingat lagi pada orang-orang lain yang juga ada di situ. Julian merebahkan diri ke pasir sambil tertawa meringis.

“Ayahmu tertidur,” katanya pada George. “Lalu aku menyelinap masuk. Sewaktu peti kuangkat, sepotong kayu terjatuh ke lantai. Ayahmu terbangun karenanya!”

“Ya ampun!” seru George. “Lalu, apa yang terjadi sesudah itu?”

“Aku bersembunyi di balik kursinya, sampai ia tertidur kembali,” ujar Julian. “Kemudianaku lekas-lekas lari. Sekarang kita periksa saja apa isi peti ini. Kurasa ayahmu sama sekali tak mengapa-apakannya.”

Memang benar. Kotak timahnya masih utuh, walau sudah karatan karena bertahun-tahun terendam dalam air asin. Tutupnya terpasang rapat sekali, sampai hampir saja mereka takberhasil membuka.

Tetapi George pantang menyerah! Tutup itu dikorek-koreknya dengan pisau saku, untuk menghilangkan karat. Sesudah sibuk selama tiga perempat jam, akhirnya berhasil juga dibuka tutup itu.

Dengan penuh perhatian anak-anak memandang ke dalam. Mereka melihat sejumlah kertas tua

dan semacam buku bersampul hitam. Cuma itu saja isinya. Sama sekali tak ada batang emas. Tak ada harta di dalamnya. Anak-anak merasa agak kecewa.

“Semuanya kering,” kata Julian dengan heran. “Sama sekali tak terasa lembab. Rupanya bungkus timah mengawetkan semuanya.”

Diambilnya buku bersampul hitam, lalu dibukanya.

“Ini buku catatan kakek dari kakekmu, tentang pelayaran kapalnya,” katanya kemudian. “Tulisannya hampir-hampir tak dapat kubaca. Begitu kecil dan aneh!”

George memungut selembar kertas yang terletak dalam peti. Kertas itu terbuat dari perkamen, dan sudah kuning warnanya karena tua. George menghamparkannya ke pasir, lalu duduk memperhatikan. Ketiga saudaranya turut meneliti. Tetapi mereka tak berhasil mengetahui maknanya. Nampaknya seperti sebuah peta.

“Mungkin itu peta dari suatu tempat yang harus didatangi olehnya,” kata Julian. Tetapi tangan George yang memegang peta tiba-tiba gemetar. Ia menatap anak-anak dengan mata bersinar-sinar. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tetapi tak terdengar suaranya ke luar.

“Ada apa?” tanya Julian ingin tahu. “Apa yang terjadi? Kau jadi bisu ya?!”

George menggeleng. Ketika sudah bisa bicara lagi, kata-kata berhamburan ke luar.

“Julian! Kau tahu ini gambar apa? Ini peta puri tuaku. Ini peta Puri Kirrin, ketika masih utuh. Dan dalamnya tertera ruang-ruang di bawah tanah. Dan lihatlah! Coba kaubacatulisan di pojok gambar ruang-ruang ini!”

George menunjuk dengan jari gemetar ke salah satu bagian dalam peta itu. Anak-anak mencondongkan tubuh mereka ke depan, supaya bisa melihat lebih jelas. Di tempat yang ditunjuk oleh George tertera sepatah kata aneh, ditulis dengan huruf-huruf kuno. Kata itu adalah: INGOTS

”Ingots!” kata Anne heran. “Apa artinya? Aku belum pernah mendengar kata itu.”

Tetapi kedua abangnya tahu.

“Masakan kau tak mengetahui artinya?! Bagaimana pelajaran bahasa Inggrismu, Anne!” seruDick. “Ingot berarti emas batangan.”

“Semua logam dalam bentuk batang disebut begitu,” kata Julian membetulkan keterangan itu. Mukanya merah karena gembira. “Tapi karena kita mengetahui bahwa dalam kapal tua dulu ada emas, maka kelihatannya kata itu di sini memang berarti emas batangan. Wah! Bayangkan, barangkali saja logam mulia itu masih tersembunyi di salah satu tempat di bawah runtuhan Puri Kirrin. George! Bayangkan saja — asyik kan?!”

George mengangguk. Badannya gemetar karena menahan perasaan yang hendak meluap-luap.

“Coba kita bisa menemukannya!” katanya dengan suara berbisik. “Coba kita berhasil menemukannya!”

“Kita cari saja,” jawab Julian. “Pasti pekerjaan itu akan sangat sukar, karena purimu sudah tinggal puing saja lagi. Dan juga sudah penuh ditumbuhi semak belukar. Tetapi biar bagaimana, batang-batang emas akan berhasil kita temukan. Emas! Emas-emas!”

Tim bingung melihat anak-anak ribut bersorak-sorak. Ia mengibas-kibaskan ekor dan mendatangi keempat anak itu satu per satu. Tetapi sekali itu tak ada yang sempat memperhatikannya. Tim sama sekali tak mengerti. Sesudah beberapa saat ia lalu duduk agak jauh sambil membelakangi anak-anak. Kupingnya terkulai.

“Aduh, lihatlah Tim. Kasihan dia!” kata George. “Ia tak bisa mengerti, kenapa kita

begini gembira. Tim, sini anjingku yang manis. Kau sama sekali tidak kena marah. Tim, kita mempunyai rahasia yang paling asyik!”

Tim meloncat bangkit dengan buntut mengibas ke kanan kiri. Ia merasa senang, karena kembali mendapat perhatian. Diletakkannya kaki depannya yang besar itu ke atas peta harta. Seketika itu juga anak-anak berseru-seru melarangnya.

“Astaga! Peta ini tak boleh sampai sobek!” kata Julian. Kemudian dipandangnya anak-anakdengan kening berkerut. “Apa yang harus kita lakukan dengan peti itu. Maksudku, pasti ayah George akan merasa kehilangan. Jadi kita harus mengembalikannya.”

“Bagaimana jika peta ini kita tahan?” kata Dick mengusulkan. “Dia kan tak mengetahui isi peti, karena belum memeriksa. Sedang yang lain-lainnya tak begitu penting — karena cuma catatan tua serta beberapa lembar surat.”

“Supaya aman, kita salin saja peta ini,” kata Julian. “Dengan begitu peta aslinya bisa kita kembalikan, lalu peti ditaruh lagi ke tempat semula.”

Anak-anak menyetujui usul itu. Mereka kembali ke Pondok Kirrin, lalu menjiplak peta dengan secermat-cermatnya. Mereka melakukannya dalam gudang peralatan, karena tak inginada orang lain melihat. Peta itu ganjil, karena terbagi dalam tiga bagian.

“Bagian yang ini menunjukkan ruangan-ruangan yang di bawah puri,” kata Julian. “Yang ini merupakan denah lantai dasar — sedang yang ini merupakan bagian paling atas.” Denahadalah gambar letak ruangan-ruangan dari sebuah bangunan. “Bukan main, asyik benar tempat ini jaman dulu. Di bawah tanah terdapat ruangan-ruangan. Pasti menyeramkan, karena dulu merupakan sel-sel tempat mengurung orang. Aku kepingin tahu, bagaimana caranya bisa masuk ke bawah tanah.”

“Peta ini harus kita pelajari dengan lebih seksama,” kata George. “Saat ini kelihatannya masih membingungkan bagi kita. Tapi jika peta ini kita bawa ke puri dan dipelajari lagi di sana, maka mungkin akan berhasil kita ketahui jalan untuk pergi ke ruangan-ruangan yang tersembunyi di bawah tanah. Wah, bukan main! Kurasa tak ada anak-anak lain yang bisa mengalami kejadian menarik seperti ini.”

Julian menyimpan salinan peta dalam kantong celana jeannya. Ia bermaksud akan menyimpannya baik-baik. Peta itu sangat berharga. Sedang peta asli ditaruhkannya kembali ke dalam peti. Ia memandang ke arah rumah.

“Bagaimana kalau sekarang saja kita kembalikan?” katanya. “Barangkali ayahmu masih tidur, George.”

Tetapi Paman Quentin sudah bangun. Untung saja ia tak memperhatikan bahwa peti tidak ada lagi di tempatnya. Ia masuk ke kamar makan untuk minum teh bersama keluarga. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Julian. Setelah minta ijin, ia cepat-cepat ke luar lalu mengembalikan peti ke meja di belakang kursi tempat Paman tidur tadi!

Ketika ia kembali, dikejapkannya mata ke arah anak-anak. Mereka merasa lega. Semuanya takut pada Paman Quentin, dan tak kepingin kena marah olehnya. Selama makan, Anne sama sekali tidak membuka mulut untuk ngomong. Ia sangat kuatir akan terlanjur kata, dan membuka rahasia mereka. Baik tentang Tim, atau tentang peti harta. George, Julian dan Dick juga tidak banyak bicara. Tiba-tiba telepon berdering. Bibi Fanny bangkit untuk menerimanya. Tak lama kemudian ia kembali.

“Untukmu, Quentin,” katanya pada Paman. “Rupa-rupanya bangkai kapal tua itu sangat menarik perhatian orang banyak. Ada beberapa wartawan dari London yang ingin menanyakanbeberapa hal mengenainya padamu.”

“Katakan pada mereka, aku bisa menerima pukul enam,” kata Paman. Anak-anak saling berpandangan dengan perasaan kecut. Mudah-mudahan saja Paman tidak menunjukkan peti kepada para wartawan itu. Mereka kuatir rahasia emas yang tersembunyi akan terbongkar!

“Untung saja peta itu sempat kita jiplak,” kata Julian sesudah selesai makan dan minum.“Tapi aku menyesal juga, kenapa peta yang asli kita kembalikan ke dalam peti. Jangan-jangan ada orang lain yang akan menebak rahasia kita!”

X

TAWARAN YANG MENGEJUTKAN

KEESOKAN harinya surat kabar penuh dengan berita-berita tentang kapal tua itu, yang terangkat dari dasar laut secara luar biasa. Para wartawan berhasil mengorek cerita dari Paman, tentang kapal yang karam dan tentang batang-batang emas yang hilang. Beberapa dari wartawan itu bahkan berhasil pergi ke Pulau Kirrin dan membuat foto-foto puri tua di sana.

George sangat marah karenanya.

“Itu puriku!” amuknya terhadap Bibi Fanny. “Dan Pulau Kirrin kepunyaanku. Ibu bilang, aku boleh memilikinya. Ibu sudah bilang dulu!”

“Aku juga tahu, George, anakku yang manis,” kata ibunya. “Tetapi kau tak boleh marah-marah seperti itu. Pulau itu takkan rusak karena didatangi orang, dan puri juga takkan apa-apa jika dipotret.”

“Tapi aku tak mengijinkan,” ujar George dengan wajah cemberut. “Aku yang memilikinya. Dan kapal tua itu kepunyaanku. Ibu sendiri yang mengatakannya.”

“Dulu kan aku tak tahu bahwa kapal itu akan terangkat ke atas,” ujar Bibi Fanny. “Pakailah otakmu, George. Apalah salahnya, jika orang-orang berdatangan untuk melihatnya? Kau toh tak bisa menghalang-halangi mereka.”

Memang betul, tetapi kenyataan itu tak mengurangi kemarahan George. Anak-anak heran sekali, karena sangat besar minat yang ditimbulkan oleh bangkai kapal yang terangkat oleh angin ribut itu. Dan karenanya, Puri Kirrin juga menjadi perhatian orang banyak. Para pelancong dari berbagai tempat berduyun-duyun datang untuk melihatnya. Para nelayan berhasil menemukan teluk kecil yang tersembunyi, dan mendaratkan para pelancongdi situ. George menangis karena marah. Julian berusaha membujuk.

“Dengarlah, George! Belum ada orang yang mengetahui rahasia kita. Kita menunggu dulu sampai kegemparan sudah mereda. Lalu kita ke Puri Kirrin dan menemukan emas yang hilang.”

“Asal jangan ada orang yang mendahului,” kata George sambil menyeka air mata. Ia jengkel pada dirinya sendiri karena menangis. Tetapi sekali itu ia tak dapat menahan air matanya lagi.

“Bagaimana mereka bisa menemukannya?” kata Julian. “Selama ini belum ada orang yang melihat isi peti kita. Aku sekarang sedang menunggu-nunggu kesempatan baik. Aku hendak mengeluarkan peta dari dalamnya, sebelum terlihat orang lain!”

Tetapi ternyata Julian tidak mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggunya itu, karena sebelumnya sudah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan! Paman Quentin menjual peti

tua itu pada seseorang yang biasa membeli barang-barang antik. Sehari dua hari setelah kegemparan pecah tentang kapal tua. Paman muncul dari kamar kerjanya dengan wajah berseri-seri.

“Aku baru saja mujur,” katanya pada isterinya. “Kau masih ingat pada peti tua berlapis timah yang diambil anak-anak dari bangkai kapal? Nah, orang yang datang tadi adalah seorang pengumpul benda-benda aneh serupa itu. Peti itu dibelinya dengan harga mahal. Benar-benar beruntung aku kali ini! Hasilnya bahkan melebihi pembayaran yang mungkin kuterima dari hasil penjualan buku karanganku. Begitu orang itu melihat peta tua dan buku harian yang terdapat di dalamnya, dengan segera ia mengatakan mau memborong semuanya.”

Anak-anak menatapnya dengan kaget. Peti itu dijual oleh Paman! Sekarang pasti ada orangyang akan meneliti peti itu, dan berhasil menarik kesimpulan tentang arti kata ‘ingot’.Kisah tentang emas yang hilang sudah dibeberkan dalam semua surat kabar. Jadi takkan mungkin ada orang yang tak mengetahui makna peta itu, jika mempelajarinya dengan cermat.

Anak-anak tak berani menceritakan hal yang mereka ketahui kepada Paman Quentin. Memang,sekarang dia tersenyum-senyum. Paman bahkan berjanji akan membeli jela baru untuk menangguk udang, begitu pula sebuah rakit untuk mereka. Tetapi sifat Paman cepat berubah-ubah. Dia mungkin akan marah-marah lagi jika mendengar bahwa Julian mengambil peti dan membukanya, sewaktu Paman sedang tidur.

Ketika mereka sudah sendiri, keempat anak itu sibuk membicarakan persoalan yang serius itu. Mereka sudah mempertimbangkan, apakah sebaiknya menceritakan rahasia mereka kepadaBibi Fanny. Namun rahasia itu begitu berharga dan sangat mengasyikkan! Mereka tak inginada orang lain ikut mengetahui.

“Sekarang begini saja!” kata Julian pada akhirnya. “Kita meminta ijin pada Bibi Fanny agar diperbolehkannya pergi ke Pulau Kirrin dan menginap sehari dua hari di sana. Kalaudiperbolehkan, kita akan mendapat kesempatan barang sedikit untuk melihat-lihat dan berusaha menemukan emas itu. Aku yakin, dalam beberapa hari mendatang takkan ada lagi pelancong yang akan masih datang. Barangkali saja kita akan berhasil menemukan jalan keruangan bawah tanah, sebelum orang lain mengetahui rahasia kita. Bahkan mungkin orang yang membeli peti itu sama sekali tak mengira bahwa peta yang ada di dalamnya adalah gambar Puri Kirrin.”

Anak-anak menjadi agak gembira. Sebelumnya mereka lesu, karena tak ada yang diperbuat. Begitu mereka mengadakan rencana untuk bertindak, perasaan menjadi lebih enak. Mereka memutuskan untuk menanyakan pada Bibi Fanny besok, apakah mereka boleh menginap akhir pekan itu di puri. Cuaca sangat cerah, dan acara mereka pasti akan menyenangkan. Merekaakan membawa bekal makanan sebanyak-banyaknya.

Ketika mereka mendatangi Bibi Fanny untuk minta ijin, kebetulan Paman Quentin ada di situ. Kelihatannya sedang gembira. Julian bahkan ditepuk-tepuk punggungnya sambil tersenyum-senyum.

“Wah, ada utusan!” kelakarnya. “Ada perlu apa?”

“Kami ingin menanyakan sesuatu pada Bibi,” jawab Julian dengan sopan. “Bibi, cuaca hariini sangat cerah. Bolehkah kami menginap di Puri Kirrin akhir pekan ini? Kami ingin tinggal di sana sehari dua hari. Kami betul-betul sangat kepingin!”

“Bagaimana pendapatmu, Quentin!” tanya Bibi sambil berpaling memandang suaminya.

“Kalau mereka kepingin, bisa saja,” kata Paman. “Dalam waktu dekat mereka toh tak bisa lagi. Anak-anak, kita menerima penawaran baik! Ada orang kepingin membeli Pulau Kirrin.Ia berniat memugar puri untuk dijadikan hotel. Pulau Kirrin hendak dijadikannya tempat berlibur. Nah, bagaimana pendapat kalian?”

Keempat anak itu cuma bisa memandang Paman Quentin yang tak henti-hentinya tersenyum.

Mereka kaget sekali. Ada orang yang hendak membeli pulau mereka! Mungkinkah rahasia mereka telah terbongkar? Mungkinkah orang itu mau membeli puri karena telah melihat peta, dan tahu bahwa di situ tersembunyi emas sejumlah besar?

Napas George tersentak. Matanya menyala-nyala.

“Ibu!” serunya marah. “Kalian tak bisa menjual pulauku! Kalian tak bisa menjual pulauku! Aku tak mau mengijinkannya!”

Kening Paman berkerut.

“Janganlah setolol itu, Georgina,” katanya. “Pulau itu bukan benar-benar milikmu. Kau sendiri juga mengetahuinya. Ibumu yang memilikinya. Dan dengan sendirinya Ibu ingin menjualnya, kalau bisa! Kita sangat membutuhkan uang. Kalau pulau sudah terjual, bermacam-macam benda yang bagus-bagus akan bisa kaupunyai.”

“Aku tak kepingin barang-barang bagus!” jerit George yang malang. “Pulauku dan puriku merupakan milikku yang paling bagus. Ibu! Ibu kan tahu sendiri. Ibu pernah bilang bahwaaku boleh memilikinya. Ibu kan tahu! Aku percaya pada kata Ibu waktu itu.”

“George sayang, memang maksud Ibu waktu itu kau boleh memilikinya sebagai tempat bermain-main, ketika kusangka keduanya sama sekali tak ada harganya,” ujar Bibi dengan bingung. “Terapi keadaannya sekarang sudah lain. Ayahmu mendapat penawaran harga yang sangat baik! Jauh lebih baik dari perhitungan kita. Jadi kita akan rugi jika tawaran itu sampai ditolak.”

“Jadi pulau hanya Ibu berikan padaku ketika menyangka tak ada harganya sama sekali,” ujar George. Mukanya pucat karena marah. “Tetapi begitu ternyata berharga, lantas diambil kembali. Itu kan jahat! Menurut pendapatku, tindakan begitu tidak — tidak layak!”

“Cukup, Georgina,” kata ayahnya dengan marah. “Ibumu mengikuti nasihatku. Kau masih anak kecil. Ibumu dulu tidak sungguh-sungguh memberikannya padamu. Ia cuma ingin menyenangkan hatimu saja. Tetapi kau juga tahu bahwa uang yang akan kita peroleh bisa ikut kaunikmati. Kau membeli apa saja yang kauingini, bisa!”

“Aku tak mau sedikit pun dari uang itu!” kata George dengan suara serak. “Kalian akan menyesal menjualnya.”

Dengan terhuyung-huyung, George keluar dari kamar. Anak-anak yang lain merasa kasihan padanya. Mereka bisa membayangkan perasaannya. George terlalu sungguh-sungguh menghadapi segala hal. Menurut pendapat Julian, George tak memahami sifat orang-orang dewasa. Tak ada gunanya menentang mereka, karena orang dewasa toh akan berbuat semau mereka. Jika mereka bermaksud hendak mengambil pulau dan puri milik George, mereka bisasaja! Bila hendak dijual, juga bisa! Tetapi Paman Quentin tak mengetahui bahwa di pulauitu mungkin tersimpan harta berupa emas berbatang-batang. Julian memandang pamannya sambil berpikir-pikir. Apakah sebaiknya Paman diberitahukan? Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Siapa tahu, mungkin mereka berempat berhasil lebihcepat menemukan emas itu!

“Kapan pulau itu akan dijual, Paman?” tanyanya tenang.

“Surat jual belinya akan ditandatangani minggu depan,” jawab Paman. “Jadi jika kalian sungguh-sungguh ingin menginap sehari dua hari di sana, sebaiknya cepat-cepat sajalah! Karena mungkin jika sudah dijual, kalian tak diijinkan lagi datang ke sana oleh pemiliknya yang baru.”

“Yang hendak membelinya, apakah dia orang yang membeli peti tua?” tanya Julian lagi.

“Betul,” jawab Paman. “Aku sendiri juga agak heran mulanya, karena kukira dia hanya membeli barang-barang antik saja. Yang kuherankan adalah bahwa dia mendapat gagasan untuk membeli Pulau Kirrin, dan memugar puri untuk dijadikan hotel. Tetapi kurasa

mengusahakan hotel di situ akan mendatangkan untung besar. Romantis rasanya tinggal di pulau kecil seperti itu. Tamu pasti akan datang berbondong-bondong. Aku sendiri bukan pengusaha. Aku takkan mau menanamkan modal pada suatu tempat seperti Pulau Kirrin. Tetapi kurasa dia tahu apa yang diperbuatnya.”

“Ya, dia pasti tahu,” pikir Julian dalam hati sewaktu ke luar bersama Dick dan Anne. “Dia sudah melihat peta, dan mencapai kesimpulan sama seperti kami. Emas yang hilang tersimpan di salah satu tempat di pulau itu. Dan dia berniat untuk mengambilnya. Orang itu sama sekali tak bermaksud hendak membangun sebuah hotel. Ia mengejar harta yang tersembunyi! Kurasa penawaran yang diajukan pada Paman Quentin rendah sekali. Hanya Paman yang malang itu saja yang memandangnya luar biasa tinggi. Wah, kejadian ini gawatsekali!”

Julian mencari George, dan ditemukannya dalam gudang peralatan. Mukanya pucat seperti tak berdarah. Katanya ia merasa tak enak badan.

“Itu kan hanya karena perasaanmu sedang kacau,” ujar Julian. George dirangkulnya. Sekali itu saudara sepupunya tak menepiskan lengannya. George merasa terhibur. Air matanya mulai berlinang-linang. Dengan jengkel George mengejap-ngejapkan mata, berusahamelenyapkan bukti tangisnya.

“Kita tak boleh putus asa, George!” ujar Julian. “Besok kita ke Pulau Kirrin. Kita akanberusaha keras untuk menemukan jalan turun ke ruangan di bawah tanah, serta menemukan emas yang hilang. Kita takkan pulang sebelum berhasil. Ayo, bergembiralah sedikit, karena kami memerlukan bantuanmu merencanakan segala-galanya. Untung peta itu sudah kita buat jiplakannya.”

George agak berkurang sedihnya. Ia masih marah terhadap orang tuanya. Tetapi perasaannya menjadi agak enak, karena membayangkan akan menginap sehari dua hari di Pulau Kirrin. Dan Tim akan diajak serta.

“Menurut perasaanku, orang tuaku tidak baik hati,” katanya.

“Ah, sebetulnya bukan begitu,” kata Julian. “Bagaimanapun juga, jika mereka sangat membutuhkan uang maka bodohlah untuk tidak menjual sesuatu benda yang menurut perkiraanmereka tak ada harganya. Dan lagi ayahmu kan sudah mengatakan bahwa kau boleh meminta apa saja yang kauingini. Kalau aku jadi engkau, aku tahu apa yang akan kuminta!”

“Apa!” tanya George ingin tahu.

“Tentu saja Tim!” kata Julian. Mendengarnya, George tersenyum lebar. Dadanya terasa menjadi lapang seketika itu juga!

XI

BERANGKAT KE PULAU KIRRIN

BERSAMA George, Julian pergi mencari kedua adiknya. Ternyata mereka menunggu dalam kebun. Dick dan Anne kelihatan bingung. Mereka gembira melihat Julian beserta George, lalu lari menyongsong.

Anne menggenggam tangan George erat-erat.

“Aku sedih mengingat pulaumu dijual, George,” katanya.

“Aku juga,” kata Dick menambahkan. “Memang dasar sedang sial!”

George tersenyum malu.

“Aku tadi berbuat seperti anak perempuan,” katanya. “Tapi aku sungguh-sungguh kaget.”

Julian menceritakan rencana yang telah dibuat kepada kedua adiknya.

“Kita berangkat besok pagi,” katanya. “Kita harus menyusun daftar barang-barang yang diperlukan di sana. Kita mulai saja sekarang.”

Ia mengambil pensil dan sebuah buku catatan. Ketiga saudaranya memperhatikan.

“Bahan makanan,” kata Dick dengan segera. “Harus banyak sekali, karena kita pasti akan merasa lapar.”

“Minuman,” ujar George. “Di pulau tak ada air. Dulu kabarnya ada sebuah sumur yang permukaannya lebih rendah dari permukaan laut, dan tawar airnya. Tapi aku tak pernah berhasil menemukannya.”

“Jadi makanan — dan minuman,” kata Julian sambil menulis. Sudah itu dipandangnya anak-anak.

“Sekop,” ucapnya bersungguh-sungguh, lalu menuliskan kata itu.

Anne memandangnya dengan heran.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Kalau kita mencari jalan ke bawah menuju ruangan bawah tanah, tentunya kita juga harusmenggali,” kata Julian.

“Tali,” kata Dick. “Mungkin kita akan memerlukannya.”

“Dan lampu-lampu senter,” sambung George. “Dalam ruangan bawah tanah pasti gelap.”

“Wah!” ujar Anne. Ia agak merinding, takut bercampur senang membayangkan petualangan ditempat gelap.

“Selimut-selimut wol,” kata Dick. “Kalau kita tidur dalam kamar yang kecil itu, malam hari pasti dingin.”

Julian menuliskannya.

“Mangkuk-mangkuk untuk minum,” katanya. “Kita juga akan membawa seperangkat perkakas. Siapa tahu, mungkin akan diperlukan!”

Setelah sibuk selama setengah jam, tersusun daftar yang panjang. Keempat anak itu merasa senang dan asyik. George mulai lupa akan kemarahan dan kekecewaannya. Kalau saatitu ia sendirian dan terus-menerus memikirkan kejadian yang baru lewat, maka pasti ia akan semakin marah dan merajuk. Tetapi ketiga saudara sepupunya begitu tenang dan berkepala dingin. Mereka tetap riang. Ia tak bisa merajuk lama-lama jika sedang bersamamereka.

“Kurasa aku akan lebih ramah, jika tidak sendirian saja selama ini,” pikir George sambil menatap kepala Julian yang sedang tunduk. “Banyak gunanya membicarakan persoalanyang dipikirkan dengan teman. Dengan begitu persoalannya tak terasa sangat gawat lagi. Rasanya menjadi biasa dan lebih bisa dipikul. Aku senang sekali pada saudara-saudara

sepupuku. Aku senang, karena mereka selalu ngomong dan tertawa-tawa. Mereka selalu riang dan baik hati. Aku kepingin seperti mereka. Aku ini perajuk, pemarah dan galak. Tak heran Ayah kurang senang terhadapku dan sering memarahi. Ibu baik budi. Aku tahu sekarang kenapa aku dikatakannya anak yang repot. Aku lain dengan saudara-saudara sepupuku. Mereka mudah bergaul, dan setiap orang senang pada mereka. Aku senang bahwa mereka datang. Karena mereka, watakku berubah mendekati seharusnya.”

Sekali itu lama sekali George berpikir. Tampangnya kelihatan serius. Julian mendongak sebentar dan menangkap pandangan mata George yang terarah kepadanya. Julian tersenyum.

“Apa yang sedang kaupikirkan?” tanyanya.

“Ah, tidak apa-apa,” jawab George. Mukanya menjadi merah. “Aku sedang berpikir-pikir mengenai kalian. Kau dan adikmu baik-baik semua. Aku kepingin seperti kalian.”

“Kau anak yang sangat baik,” ujar Julian, sehingga George tercengang dibuatnya. “Bukan salahmu bahwa kau anak tunggal. Anak-anak tunggal jika tak berhati-hati memang selalu agak aneh. Menurut perasaanku, kau seorang anak yang sangat menarik.”

Sekali lagi muka George menjadi merah. Ia merasa senang.

“Ayoh, kita jemput Tim dan mengajaknya berjalan-jalan,” katanya. “Pasti dia sudah heran, ke mana saja kita hari ini.”

Mereka pergi bersama-sama. Tim menyongsong kedatangan keempat anak itu dengan gonggongan nyaring. Kemudian mereka pergi berjalan-jalan.

Keesokan harinya mereka sibuk sekali. Akhirnya mereka berangkat dengan perahu, sedang semua perbekalan disusun rapi di ujung perahu. Sebelumnya Julian masih memeriksa, dengan jalan membacakan daftar dan mencocokkannya dengan barang-barang yang terkumpul. Nampaknya tak ada yang kelupaan lagi.

“Petanya kaubawa?” tanya Dick tiba-tiba.

Julian mengangguk.

“Aku memang berganti celana jean pagi ini,” katanya. “Tapi jangan kuatir. Aku tak lupa menaruhkan peta ke dalam kantong. Ini dia!”

Peta dikeluarkannya — dan langsung disambar angin! Peta itu jatuh ke laut dan terapung-apung ditiup angin. Keempat anak itu berteriak kaget. Peta mereka yang berharga!

“Cepat kejar!” seru George sambil memutar haluan perahu. Tetapi masih ada lagi yang lebih cepat dari dia! Tim melihat kertas ditarik angin dari tangan Julian. Ia juga mendengar dan memahami teriakan-teriakan kaget yang terlontar dari mulut keempat sahabatnya. Tim terjun ke laut dan berenang mengejar peta.

Tim pandai berenang, tambahan lagi kuat dan tangkas. Dengan segera peta sudah berada dalam moncongnya. Tim berenang kembali ke perahu. Anak-anak kagum melihatnya!

George menariknya naik ke perahu, lalu mengambil kertas peta yang ada dalam moncongnya.Nyaris tak nampak bekas gigitan pada kertas itu. Dengan cemas anak-anak memeriksa, apakah ada garis-garis yang hilang kena air. Tetapi Julian menjiplak dengan menekankan pinsil kuat-kuat. Jadi gambarnya tetap utuh, walau kertas itu basah. Julian meletakkannya ke tempat duduk supaya kering. Dick disuruhnya memegang, jangan sampai tertiup angin lagi!

“Nyaris saja rencana kita gagal,” ujarnya. Anak-anak sependapat dengannya.

George mulai mendayung kembali ke arah Pulau Kirrin. Tim mengibas-kibaskan bulunya yangbasah, sehingga anak-anak terciprat air. Tim dihadiahi sepotong biskuit atas jasanya menyelamatkan peta.

George mendayung perahu dengan cekatan melewati batu-batu karang. Ketiga saudara sepupunya mengagumi kemampuannya mendayung perahu mereka di sela-sela batu yang berbahaya, dengan tidak terbentur barang sekali pun. Perahu sampai ke teluk kecil dengan selamat. Anak-anak berlompatan ke pasir. Perahu mereka tarik jauh ke darat, agarjangan hanyut kalau pasang naik sampai tinggi sekali. Sesudah itu mereka mulai menurunkan muatan.

“Barang-barang ini sebaiknya kita bawa ke kamar yang kecil,” kata Julian. “Di sana aman, dan tidak basah jika hujan turun. Mudah-mudahan saja tak ada orang ke mari selamakita ada di sini, George.”

“Kurasa takkan ada,” jawab George. “Kata Ayah, baru seminggu lagi akan ditandatangani surat-surat perjanjian jual beli. Selama itu pulau ini belum menjadi milik pembelinya. Kita mempunyai waktu satu minggu.”

“Kalau begitu kita tidak perlu mengatur penjagaan untuk mengawasi kalau-kalau ada orangdatang,” kata Julian. Sebetulnya ia merasa baik sekali apabila seorang dari mereka menjaga di teluk kecil, untuk memberitahukan pada teman-teman jika ada orang datang. “Ayoh, kita berangkat! Kau yang membawa sekop, Dick! Aku dan George mengangkut makanan dan minuman. Sedang Anne mengurus barang yang kecil-kecil.”

Makanan dan minuman ditaruh dalam sebuah kotak besar, karena anak-anak tak mau menderita kelaparan selama berada di Pulau Kirrin. Mereka membawa beberapa batang roti,mentega, biskuit, selai, beberapa kaleng buah-buahan, lalu buah-buah prem yang matang, beberapa botol air jahe, sebuah ceret untuk memasak teh. Pokoknya segala macam makanan dan minuman yang teringat oleh mereka! George dan Julian terhuyung-huyung mendaki bukitdengan membawa kotak besar itu. Beberapa kali mereka harus meletakkannya sebentar untukberistirahat.

Semuanya dimasukkan ke kamar dalam puri. Sesudah itu mereka kembali lagi ke perahu, untuk mengambil selimut-selimut. Selimut-selimut itu diatur di pojok-pojok kamar. Menurut pendapat mereka, menginap di situ akan sangat mengasyikkan.

“Kalian berdua bisa tidur di atas tumpukan selimut sebelah situ,” kata Julian pada George dan Anne. “Dan kami berdua di sini.”

George kelihatannya tak suka disuruh berkumpul dengan Anne, karena dengan begitu ia digolongkan sebagai anak perempuan. Tetapi Anne tak mau tidur sendirian. Dipandangnya George dengan penuh harap, sehingga anak perempuan yang lebih besar itu tersenyum. Ia tidak jadi menyatakan keberatannya. Menurut perasaan Anne, George makin hari semakin ramah.

“Nah, sekarang kita membicarakan tujuan kita datang ke mari,” kata Julian sambil mengeluarkan peta dari dalam kantong. “Peta ini harus kita pelajari baik-baik. Kita harus mencari jalan masuk ke ruangan bawah tanah Ke marilah semuanya. Kita harus berusaha sebaik-baiknya untuk menemukan tempat itu. Kita harus memutar otak — dan mendahului orang yang membeli pulau!”

Keempat anak itu memperhatikan gambar peta yang dijiplak dari yang asli. Kertasnya sudah tak basah lagi. Nampak jelas, di jaman dulu puri itu tempat yang benar-benar mengasyikkan.

“Perhatikanlah,” ujar Julian sambil menunjuk ke gambar denah ruangan bawah tanah. “Ini kelihatannya semua berada di bawah puri. Dan ini — lalu ini — dan tanda-tanda yang rupa-rupanya tempat jenjang atau tangga.”

“Betul,” kata George. “Kurasa itu memang tangga. Kalau demikian, nampaknya ada dua jalan untuk turun ke ruangan-ruangan bawah tanah. Tangga yang satu kelihatannya terdapat tak jauh dari kamar kecil ini, sedang yang satu lagi di bawah menara itu. Dan ini — menurut pendapatmu apa ini, Julian?”

George bertanya sambil menunjuk ke sebuah lubang bundar. Lubang itu tidak saja nampak dalam denah ruangan bawah tanah, tetapi juga di bagian lantai dasar Puri Kirrin.

“Entahlah,” jawab Julian. Ia memikir sebentar, lalu menyambung, “Ah ya, sekarang aku bisa menduga gambar apa itu! Kau ingat bahwa kau pernah bercerita tentang sebuah sumur tua yang ada di sekitar sini? Nah, kurasa itu sumur yang kaumaksudkan. Mestinya sangat dalam, untuk bisa .mendapat air tawar dari dasar laut. Kalau begitu lubangnya juga melewati ruangan bawah tanah. Wah, asyik ya pekerjaan ini?”

Saudara-saudaranya sependapat dengannya. Mereka merasa gembira dan tertarik. Ada sesuatu yang harus mereka temukan. Mereka harus berhasil dalam waktu sehari dua hari. Mereka berpandang-pandangan.

“Nah — di mana kita akan memulainya?” kata Dick. “Apakah kita akan mencari jalan masuk yang kelihatannya terdapat di dekat-dekat sini? Mungkin saja ada sebuah batu besar, yang bila kita angkat akan membuka jalan menuju ke ruangan bawah!”

Kemungkinan itu menggembirakan mereka. Anak-anak berloncatan bangkit. Julian melipat peta dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia memandang berkeliling. Lantai batu kamar mereka diselimuti tanaman merambat. Tanaman itu harus disingkirkan terlebih dahulu, sebelum mereka bisa melihat apakah ada salah satu batu ubinnya yang kelihatan seperti bisa diangkat.

“Kita mulai saja sekarang,” ujar Julian sambil mengambil sebuah sekop. “Tanaman liar ini harus kita singkirkan dengan sekop. Harus dikeruk — nah, lihat — begini caranya — dan sudah itu setiap batu ubin kita periksa!”

Anak-anak mengambil sekop sebuah seorang. Tak lama kemudian bilik kecil itu penuh dengan bunyi anak-anak mengeruk tanaman dari lantai batu. Pekerjaan itu tak begitu sulit, dan anak-anak bekerja dengan kemauan bulat.

Tim yang paling ribut. Ia sama sekali tak tahu menahu tentang pekerjaan yang sedang dilakukan. Tetapi walau begitu ia ikut dengan rajin. Keempat kakinya mencakar-cakar lantai. Tanaman liar berhamburan ke udara kena cakarannya!

“Tim!” seru Julian sambil menepiskan segumpal tanah yang melekat ke rambutnya. “Kau terlalu rajin bekerja. Tahu-tahu nanti batu pun ikut melayang kaucakar. Wah George — Tim memang hebat. Selalu ikut dalam setiap hal!”

XII

PENEMUAN-PENEMUAN MENARIK

TAK lama kemudian lantai kamar itu sudah bersih dari tanah, pasir dan rumput liar. Ternyata lantai terdiri dari batu-batu pipih. Ukurannya semua sama besar, dan bentuknyapersegi empat. Satu per satu batu diteliti dengan senter. Mereka mencari-cari, barangkali ada yang bisa diangkat.

“Mungkin kita akan menemukan sebuah batu besar dengan gelang besi terpasang dalam lekukan,” kata Julian. Tetapi dugaannya meleset. Semua batu sama saja wujudnya. Benar-benar mengecewakan!

Julian mencoba menyelipkan sekopnya ke celah-celah yang ada di antara masing-masing ubin batu itu. Ia hendak memeriksa, kalau-kalau ada yang bisa digerakkan. Tetapi ternyata tidak. Semuanya kelihatan terpasang di tanah yang padat. Sesudah bekerja kerasselama kira-kira tiga jam, anak-anak berhenti untuk makan.

Perut mereka lapar sekali. Mereka bersyukur karena banyak makanan tersedia. Sambil makan mereka membicarakan persoalan yang hendak mereka pecahkan.

“Kelihatannya jalan masuk ke ruangan bawah tanah toh tidak terdapat di bawah lantai kamar ini,” kata Julian. “Memang mengecewakan — tapi menurut pendapatku tempatnya bukandi sini. Kita ukur saja peta itu. Barangkali dengan jalan demikian kita akan bisa mengetahui di mana sebenarnya letak tangga. Tapi tentu saja ada kemungkinan ukuran-ukuran pada peta tidak tepat! Jadi tak ada gunanya sama sekali. Walau begitu kita bisa mencobanya.”

Karenanya mereka lalu mengukur sebaik-baiknya, agar bisa mengetahui dengan tepat di mana kiranya tempat tangga yang menuju ke ruangan bawah tanah. Tetapi hal itu mustahil,karena denah ketiga lantai kelihatannya dibuat berdasarkan skala yang berbeda-beda. Julian menatap peta dengan bingung. Harapan sudah tipis sekali. Masakan mereka harus memeriksa seluruh lantai Puri Kirrin! Pasti akan memakan waktu lama.

“Lihat,” kata George dengan tiba-tiba. Jarinya menunjuk lubang yang mereka perkirakan merupakan gambar sumur. “Kelihatannya jalan masuk ke ruangan bawah tanah, letaknya tak jauh dari sumur ini. Kalau kita berhasil menemukan sumurnya dulu, sesudah itu kita bisamencari-cari sekitarnya. Sumur digambarkan di kedua denah. Letaknya kurang lebih di tengah puri.”

“Idemu bagus sekali,” kata Julian memuji. “Kita pergi saja sekarang ke tengah-tengah puri. Kita bisa memperkirakan, di mana letak sumur tua itu. Karena menurut denah, letaknya pasti sekitar pusat pekarangan yang di luar itu.”

Keempat anak itu ke luar, ke pekarangan yang cerah diterangi sinar matahari. Mereka merasa penting dan bersungguh-sungguh. Hebat rasanya mencari-cari batang-batang emas yang hilang. Mereka semua meyakini bahwa yang dicari benar-benar ada di salah suatu tempat di bawah kaki mereka. Tak terpikir oleh siapa pun di antara keempat anak itu, adanya kemungkinan bahwa batang-batang emas yang dicari bukan tersimpan di bawah puri.

Mereka berdiri di pekarangan yang dulu pernah merupakan pusat Puri Kirrin. Mereka mengukur letak pertengahan pekarangan. Setelah terukur mereka berdiri di situ. Dengan sia-sia mereka mencari salah satu tempat yang mungkin merupakan lubang sumur tua. Semuatempat di situ penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Pasir bertumpuk tertiup angin dari pantai,sedang rumput dan semak-semak bertumbuhan di mana-mana. Batu-batu pipih yang dulu merupakan alas pekarangan luas itu sekarang sudah pecah-pecah, dan tidak lagi terletak mendatar. Kebanyakan dari batu-batu itu tertutup pasir atau rumput.

“Lihat! Ada kelinci!” seru Dick. Seekor kelinci berwarna keputih-putihan meloncat-loncat dengan tenang melintasi pekarangan, lalu menghilang dalam sebuah liang yang terdapat di seberang. Kemudian muncul seekor kelinci lagi. Kelinci itu duduk sebentar dan memandang anak-anak, lalu menghilang pula. Anak-anak sangat tertarik, karena belum pernah melihat kelinci-kelinci sejinak itu.

Sudah itu muncul kelinci ketiga. Kelinci itu kecil. Telinganya besar sekali, sedang buntutnya kecil dan berwarna putih. Kelinci itu sama sekali tak melihat ke arah anak-anak, melainkan meloncat-loncat bagaikan bermain-main. Anak-anak gembira sekali ketika kelinci kecil itu mengangkat kaki depannya dan mulai membersihkan telinga. Mula-mula telinga kanan yang ditarik ke bawah, sudah itu menyusul yang kiri.

Tim tak tahan lagi. Anjing itu diam saja ketika melihat kedua kelinci yang pertama meloncat-loncat melintasi pekarangan dan kemudian menghilang dalam liang. Tetapi seekorkelinci yang duduk diam-diam di depannya sambil membasuh kuping, benar-benar merupakan godaan yang keterlaluan untuk anjing yang mana saja. Tim mendengking, lalu lari melesat

ke arah kelinci.

Sesaat lamanya kelinci itu tak bergerak. Ia belum pernah ditakut-takuti atau dikejar sebelumnya. Karena itu ia tetap duduk sambil memandang anjing yang datang memburu dengan matanya yang besar. Tetapi kemudian kelinci itu berpaling lalu lari secepat-cepatnya. Buntutnya yang putih terayun-ayun mengikuti gerak larinya. Kelinci itu menghilang di bawah sebuah semak yang letaknya tak jauh dari tempat anak-anak berdiri. Tim mengejarnya, dan ikut menghilang ke bawah semak.

Sesudah itu anak-anak melihat pasir dan tanah berhamburan. Rupanya Tim berusaha mengejar kelinci ke dalam liangnya. Anjing itu mengorek-ngorek tanah dan pasir dengan kedua kaki depannya yang kuat. Ia mendengking-dengking karena bergairah, seolah-olah tak mendengar suara George memanggil-manggilnya. Tim bertekad hendak menangkap kelinci itu. Seperti kemasukan setan, ia terus mengorek-ngorek lubang yang makin lama semakin membesar.

“Tim! Tulikah engkau? Ayoh, ke mari!” seru George. “Kau tak boleh memburu kelinci di sini. Kau tahu aku sudah melarang. Kau nakal sekali. Ayoh, ke luar!”

Tetapi Tim tidak ke luar. Ia terus saja mengorek-ngorek dengan giatnya. George menyusul, maksudnya hendak mengambil anjingnya yang nakal itu. Tetapi sewaktu ia sudah dekat ke semak, tiba-tiba tanah dan pasir tak berhamburan lagi. Terdengar bunyi dengking ketakutan. Sudah itu sepi. Suara Tim tak terdengar lagi. Dengan heran George mengintip ke bawah semak.

Ternyata Tim sudah tak ada lagi di situ. Anjing itu lenyap. Yang kelihatan cuma sebuah liang kelinci yang besar, yang semakin diperbesar oleh Tim.

“Julian — Tim hilang,” ujar George. Suaranya terdengar agak takut. “Dia kan tak mungkinmasuk ke dalam liang kelinci itu? Badannya terlalu besar!”

Anak-anak mengerumuni semak. Dari suatu tempat di bawah terdengar samar suara mendengking. Julian melongo,

“Tim ada dalam liang itu!” serunya. “Aneh! Belum pernah kudengar selama ini, ada anjingyang benar-benar masuk ke dalam sebuah liang kelinci. Bagaimana cara kita mengeluarkannya?”

“Pertama-tama semak ini harus kita gali sampai tercabut,” kata George tegas. Kalau perlu dia akan menggali Puri Kirrin sampai terbongkar semuanya. Pokoknya, Tim harus diselamatkan! “Aku tak bisa diam saja mendengar suara Tim melolong-lolong minta tolong.”

Semak itu terlalu lebat dan banyak durinya, sehingga anak-anak tidak bisa merangkak ke bawahnya. Julian merasa bersyukur, karena membawa berbagai macam alat. Ia pergi mengambil kapak. Mereka berbekal sebuah kapak kecil. Alat itu memadai untuk dipakai memotong tangkai-tangkai dan batang semak yang menghalangi-halangi. Dengan giat anak-anak menebas daun-daun semak itu, dan dalam waktu singkat saja sudah mulai kelihatan gundul.

Tetapi menebangnya memakan waktu agak lama, karena batangnya kokoh dan liat. Ketika akhirnya rubuh juga, tangan keempat anak itu penuh goresan kena duri. Sekarang mereka bisa melihat lubang di situ dengan jelas. Julian menyorotkan senternya ke dalam lubang.Seketika itu juga ia berteriak kaget.

“Aku tahu apa yang terjadi tadi! Ini dia sumur tua yang kita cari-cari. Liang kelinci berada di sisi sumur. Sewaktu Tim sedang sibuk mengorek-ngorek liang untuk melebarkannya, tergali pula olehnya tanah yang menimbuni lubang sumur. Kemudian ia terjatuh ke dalamnya!”

“Ya Tuhan,” seru George kebingungan. “Tim, Tim — kau selamat?”

Terdengar suara mendengking jauh di bawah. Rupanya Tim ada di suatu tempat di bawah tanah. Anak-anak saling berpandangan.

“Yah! Hanya ada satu yang bisa kita kerjakan,” ujar Julian. “Kita mengambil sekop kita sekarang juga, lalu menggali tanah yang menimbuni sumur ini sehingga lubangnya terbuka sama sekali. Sudah itu barangkali kita bisa mengulurkan seutas tali ke bawah, lalu turun untuk mengambil Tim.”

Mereka mulai menggali dengan sekop. Sama sekali tidak sukar pekerjaan menggali lubang yang cuma tertutup akar-akar semak, batu-batu tembok yang runtuh dan batu-batu kecil serta tanah dan pasir. Rupa-rupanya dulu ada sebongkah tembok yang besar dari menara jatuh ke tanah dan menutupi sebagian dari lubang sumur. Dan setelah itu tanah dan pasiryang diterbangkan angin serta semak yang tumbuh melenyapkan sumur itu dari pandangan.

Keempat anak itu menggabungkan tenaga untuk mendorong bongkah tembok ke samping. Di bawahnya nampak tutup dari kayu yang sudah sangat lapuk. Rupanya tutup itu di jaman dulu dipakai untuk melindungi air sumur dari kotoran. Kayunya begitu lapuk, sehingga ketika tertekan kaki Tim langsung jebol.

Julian menyingkirkan tutup itu. Anak-anak kemudian bisa melihat ke dalam lubang sumur. Kelihatannya sangat dalam dan sangat gelap. Dasarnya sama sekali tak nampak dari atas. Julian mengambil sebutir batu dan menjatuhkannya.

Anak-anak menajamkan telinga untuk mendengar bunyinya tercemplung ke air. Tetapi merekatak mendengar apa-apa. Kalau begitu mungkin sumur itu sudah tak berair lagi. Atau bisa juga begitu dalamnya, sehingga bunyi batu jatuh ke air tak tertangkap oleh mereka!

“Kurasa sumur ini sangat dalam,” kata Julian. “Kalau begitu, di mana Tim?”

Disorotkannya senter ke bawah. Itu dia Tim! Rupanya ada sebongkah tembok yang dulu jatuh ke dalam sumur dan tersangkut di tengah lubang. Dan Tim terjatuh ke atas bongkah itu. Ia duduk sambil menengadah dengan ketakutan. Anjing itu sama sekali tak mengerti, apa yang telah terjadi dengan dirinya tadi.

Di sisi lubang terdapat sebuah tangga tua yang terbuat dari besi. Tahu-tahu George sudah menuruni tangga itu. Ia tak peduli apakah tangga itu kuat atau tidak. Dengan segera ia sudah sampai ke tempat Tim jatuh. Entah dengan cara bagaimana, George berhasil mengangkat anjing kesayangannya ke pundak. Kemudian anak itu naik lagi dengan pelan-pelan, sambil memegang Tim dengan tangan sebelah. Ketiga saudara sepupunya membantu menariknya ke luar. Begitu menginjak tanah yang aman, Tim melonjak-lonjak mengelilingi anak-anak sambil menggonggong-gonggong. Rupanya ia pun merasa lega!

“Nah, Tim,” ujar Dick. “Lain kali jangan suka memburu kelinci lagi, ya! Tapi di pihak lain kau sudah berjasa pada kami, karena berhasil menemukan sumur. Sekarang kita tinggal mencari lagi sebentar, sebelum menemukan jalan masuk ke ruangan bawah tanah!”

Mereka melanjutkan kesibukan mencari. Semua semak disodok-sodok dengan sekop. Batu-batuyang menonjol ditarik ke luar. Tanah di bawahnya digali dengan harapan tiba-tiba akan berhadapan dengan sebuah lubang menganga. Benar-benar mengasyikkan!

Ternyata Anne yang berhasil menemukan jalan masuk dicari-cari. Caranya dengan kebetulanbelaka. Ia merasa capek, lalu duduk untuk beristirahat sebentar. Ia berbaring menelungkup sambil mengorek-ngorek pasir di depannya. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu benda yang keras dan dingin. Dengan cepat disingkirkannya pasir yang menutupi —dan ia memandang sebuah gelang besi! Anne berseru sehingga anak-anak menoleh ke arahnya.

“Di sini ada sebuah batu. Dalamnya terpasang sebuah gelang besi!” seru Anne dengan ramai. Saudara-saudaranya berlarian menghampiri. Dengan segera Julian bekerja dengan sekopnya. Tak lama kemudian seluruh permukaan batu itu sudah bersih dari pasir dan tanah. Benarlah, di tengah batu ada sebuah gelang besi. Sedang gelang seperti itu hanyadipasang pada batu yang bisa diangkat. Jadi tentunya inilah batu yang menutupi jalan

masuk ke ruangan bawah tanah!

Anak-anak silih berganti mencoba untuk menarik gelang besi itu. Tetapi batu tetap tak bergerak sedikit pun. Kemudian Julian menambatkan seutas tali ke gelang. Keempat anak itu menarik tali sekuat tenaga mereka.

Akhirnya batu itu bergerak juga. Hal itu terasa jelas oleh anak-anak. Mereka menjadi semakin bersemangat.

“Sekali lagi —bersama-sama!” seru Julian. Sekali lagi mereka menarik dengan sekuat tenaga. Batu itu bergerak kembali, lalu terangkat. Batu itu terangkat ke atas, sehinggaanak-anak berpelantingan ke belakang dan saling tindih-menindih. Tim lari ke lubang yang terbuka. Sambil menjengukkan kepala ke dalam ia menggonggong dengan ribut. Seolah-olah semua kelinci di seluruh dunia tinggal dalam lubang itu!

Julian dan George bergegas bangkit dan lari ke lubang yang tadinya tertutup batu. Mereka berdiri di situ sambil memandang ke bawah. Muka mereka bersinar-sinar karena gembira. Mereka berhasil menemukan jalan masuk ke ruangan bawah tanah. Di bawah kaki mereka nampak jenjang batu yang dipahat dari dasar pulau itu sendiri. Arahnya menurun ke dalam gelap.

“Ayohlah!” seru Julian sambil menyalakan senternya. “Kita sudah menemukan jalan yang kita cari. Sekarang kita mendatangi ruangan bawah tanah!”

Jenjang batu itu sangat licin. Tim yang paling dulu turun. Anjing itu terpeleset lalu berguling-guling jatuh di tangga, terdengking-dengking ketakutan. Julian menyusul ke bawah, diikuti oleh George dan sudah itu Dick dan Anne. Hati mereka berdebar-debar semua. Mereka sudah mengharapkan akan melihat emas bertumpuk-tumpuk, serta berbagai macam harta karun bertebaran di bawah!

Tangga yang terjal itu gelap dan berbau pengap. Anne tak tahan mencium bau itu.

“Mudah-mudahan saja udara di bawah segar,” kata Julian. “Kadang-kadang ruangan di bawahtanah bisa berbahaya. Kalau ada yang merasa aneh lebih baik cepat-cepat mengatakannya, supaya kita bisa naik ke atas lagi sebelum terjadi apa-apa.”

Tetapi walau mungkin ada anak yang merasa dirinya agak aneh, tetapi tak seorang pun yang mengatakannya. Mereka terlalu ingin melihat ke bawah, sehingga tak ada yang sempatmeributkan rasa aneh.

Tangga itu ternyata cukup tinggi, tetapi akhirnya mereka sampai juga di dasarnya. Julian menjejakkan kaki turun dari anak tangga terakhir, lalu menyorotkan senternya ke sana ke mari. Di depannya nampak pemandangan yang menakjubkan.

Ruangan Puri Kirrin yang di bawah tanah rupanya digali di tengah-tengah batu dasar pulau itu sendiri. Anak-anak tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah sebelumnya di situ memang sudah ada rongga-rongga gua, atau semuanya merupakan hasil penggalian oleh tangan manusia. Tetapi pokoknya semua kelihatannya penuh rahasia, gelap dan di mana-mana terpantul gema suara mereka. Julian mendesah sebagai tanda ketegangan perasaannya saat itu. Desahan itu terpantul pada dinding-dinding ruangan dan menggema bertalu-talu.Seolah-olah dalam tempat yang gelap itu ada makhluk hidup yang meniru-nirukan mereka. Anak-anak merasa agak seram dibuatnya.

“Aneh ya?” kata George setengah berbisik. Seketika itu juga pertanyaan menggema makin lama makin nyaring, “Aneh ya? — ANEH YA? — ANEH YA? — NEH YA? HYA? — Ya? YA — YAYAYA —”

Anne memegang tangan Dick erat-erat. Ia merasa takut. Ia tahu yang terdengar hanya gemabelaka. Tetapi kedengarannya persis seperti suara orang-orang yang bersembunyi dalam rongga-rongga bawah tanah itu!

“Di mana kira-kiranya emas itu?” kata Dick. Dengan seketika perkataannya menggema kembali, “EMAS ITU — MAS ITU — MAS ITU — ASITU—SITU—ITU—ITUITUITU—”

Julian tertawa mendengarnya, dan suara tertawanya juga langsung menggema. Benar-benar ajaib!

“Ayoh, kita masuk saja ke dalam,” ujar Julian. “Mungkin gema di situ tak segawat sini.”

“SINI,” terdengar gema suaranya, “SINI—SINISINISINI!”

Anak-anak masuk dan memeriksa ruangan terdekat. Sebetulnya ruangan-ruangan itu hanya berupa kolong batu di bawah Puri Kirrin. Mungkin saja di jaman dulu ada tawanan-tawananmalang yang terkurung di situ, tetapi umumnya kolong-kolong itu dipakai untuk tempat menyimpan barang.

“Aku kepingin tahu, ruangan mana yang dipakai sebagai tempat penyimpanan emas,” kata Julian. Ia berhenti melangkah, lalu mengeluarkan gambar peta dari kantong. Diperhatikannya peta itu dengan bantuan sinar senter. Tetapi walau di situ diberi tandadengan jelas di mana ruangan tempat penyimpanannya, tetapi ia tak tahu arah mana yang harus diambilnya.

“He, lihat ini,” seru Dick tiba-tiba. “Di sini ada pintu yang menuju ke ruangan lain. Pasti itulah ruangan yang kita cari-cari! Tanggung di dalamnya ada emas!”

XIII

DI BAWAH TANAH

EMPAT buah senter disorotkan sekaligus ke pintu kayu. Pintu itu besar dan kokoh, serta diperkuat dengan paku-paku besi yang besar. Julian berseru kegirangan dan lari mendekati. Ia merasa pasti, di belakang pintu terdapat ruangan tempat penyimpanan barang-barang.

Tetapi ternyata pintu itu tertutup rapat. Anak-anak mendorongnya sekuat tenaga, tetapi sia-sia. Pada daun pintu ada lubang kunci. Tetapi anak kuncinya tidak ada! Anak-anak menatap pintu dengan kesal. Sialan! Mereka menyangka sudah hampir berhasil, tahu-tahu pintunya tidak bisa dibuka.

“Kita ambil kapak,” kata Julian. “Barangkali saja bisa kita rusakkan kayu sekitar lubang kunci ini, lalu kita dobrak.”

“Setuju!” seru George bergembira. “Ayoh, kita mengambilnya.”

Anak-anak berusaha kembali ke tempat semula, menuju ke tangga. Tetapi ruang-ruang di bawah tanah itu luas sekali dan bercabang-cabang, sehingga mereka tersasar. Kaki merekatersandung-sandung pada tong-tong tua yang sudah pecah dan berserakan di lantai. Begitupula banyak di situ potongan-potongan kayu lapuk, botol-botol kosong dan macam-macam benda lain.

“Benar-benar menjengkelkan!” kata Julian akhirnya. “Aku benar-benar tak tahu lagi, ke arah mana kita harus menuju untuk bisa sampai ke tempat naik ke atas. Kita selama ini keluar masuk ruangan, melewati lorong-lorong yang semuanya persis serupa — gelap, bau dan penuh rahasia!”

“Jangan-jangan kita akan terkurung di sini seumur hidup,” kata Anne dengan murung.

“Tolol,” kata Dick sambil meraih tangan adiknya. “Sebentar lagi kita akan berhasil menemukan jalan ke luar. Eh! Apa ini —”

Anak-anak berhenti berjalan. Mereka tiba di suatu tempat yang kelihatannya seperti cerobong. Cerobong itu dindingnya terbuat dari batu bata, dan tegak dari langit-langit sampai ke lantai. Julian menyorotkan senternya ke cerobong itu. Ia heran melihatnya.

“Aku tahu!” seru George tiba-tiba. “Sudah pasti ini dinding sumur! Kau masih ingat, dalam denah dari ruangan bawah tanah tertera gambarnya. Begitu pula dalam denah tingkatdasar puri. Nah, inilah dia — dinding sumur itu. Mungkinkah di sini ada lubang, supaya juga bisa mengambil air dari ruangan di bawah tanah?”

Anak-anak memeriksa sekeliling dinding sumur itu. Di sebelah sananya ada sebuah lubang kecil. Seorang anak bisa menyusupkan badan lewat lubang itu. Anak-anak silih berganti melakukannya, sambil menyorotkan senter ke atas dan ke bawah. Sumur itu dalam sekali, sehingga dari tempat itu pun masih belum terlihat dasarnya. Julian kembali menjatuhkan sebutir batu, tetapi tak terdengar bunyinya tercemplung ke air. Juga tidak bisa diketahui apakah mungkin sumur itu sudah kering, karena bunyi gedebuk pun tak kedengaran. Ia memandang ke atas. Nampak olehnya samar-samar sinar terang di sela bongkah batu yang tersangkut di tengah-tengah lubang sumur. Ke atas batu itulah Tim tadi terjatuh.

“Betul, ini sumur yang tadi,” katanya. “Aneh! Tapi karena sumur sudah kita temukan, maka mestinya jalan masuk ke bawah sini tak jauh lagi!”

Kenyataan itu menggembirakan mereka. Sambil bergandengan tangan mereka mencari-cari jalan dalam gelap, dibantu sinar senter yang disorotkan ke sana ke mari.

Tiba-tiba Anne terpekik girang.

“Itu dia jalan masuknya,” serunya. “Pasti itu dia, karena dari sini bisa kulihat remang-remang sinar matahari.”

Anak-anak melewati suatu tikungan. Dan benarlah, di depan mereka tegak tangga batu terjal, yang menuju ke atas. Julian memandang berkeliling sebentar, supaya tahu jalan bila turun kembali nanti. Ia sama sekali tak merasa yakin akan bisa berhasil menemukan pintu kayu itu kembali!

Mereka naik ke atas. Lega rasanya ketika sudah bisa lagi merasakan kehangatan sinar matahari yang memancar di atas ubun-ubun, sesudah sekian lama berada dalam ruangan bawah tanah yang dingin dan pengap. Julian berseru kaget ketika melirik ke arlojinya.

“Sudah setengah enam sore! Sekarang sudah setengah enam sore!” serunya. Saat itu di Inggris sedang musim panas, jadi matahari masih bersinar sampai malam. Bahkan di pertengahan musim panas, pukul setengah sepuluh matahari masih ada di langit!

“Pantas aku merasa lapar,” katanya lagi. “Kita tak sempat makan sore dan minum teh tadi. Rupanya berjam-jam kita bekerja dan kemudian tersasar dalam ruangan-ruangan bawahtanah.”

“Kalau begitu sebelum kita lanjutkan bekerja, sebaiknya kita makan sore dan malam dulu,” usul Dick. “Rasanya aku seperti tak makan berbulan-bulan.”

“Padahal waktu makan siang tadi kau menelan dua kali lebih banyak dari yang lain-lainnya,” kata Julian kesal. Kemudian ia meringis. “Aku juga selapar engkau,” katanya. “Ayohlah, kita makan saja dulu! George, bagaimana bila kau memasak air untuk membikin minuman coklat? Badanku terasa dingin, karena begitu lama berada di bawah tanah.”

Asyik rasanya memasak air dengan api yang dibuat dari ranting-ranting kering. Enak

rasanya berbaring disinari matahari sore, sambil memakan roti keju, kue dan biskuit. Anak-anak makan dengan nikmat. Tim juga makan sekenyang-kenyangnya. Ia tadi tak begitu suka berada di bawah tanah. Ia terus membuntuti anak-anak ke mana pun mereka pergi, dengan ekor terkepit di sela kaki belakang. Ia pun ngeri mendengar bunyi gema yang datang dari segala penjuru.

Sekali ia menggonggong. Gema yang menyusul setelah itu menyebabkan Tim mengira bahwa ruangan bawah tanah itu penuh dengan anjing. Dan semuanya menggonggong lebih nyaring dari dia! Sejak itu ia tak berani bersuara lagi. Bahkan dengkingan pelan pun tak kedengaran keluar dari kerongkongannya. Tetapi sekarang ia sudah senang kembali, karenabisa memakan potongan-potongan roti dan kue yang diberikan anak-anak padanya.

Anak-anak baru selesai makan dan berbenah ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Julian memandang saudara-saudaranya. Matahari hampir terbenam, dan di luar sudah tak begitu hangat lagi.

“Bagaimana pendapat kalian?” tanyanya. “Kalau aku, rasanya segan turun ke bawah sekarang. Biarpun di bawah ada pintu yang harus didobrak dengan kapak! Aku capek — dan aku pun tak kepingin tersasar di bawah pada waktu malam!”

Anak-anak sependapat dengannya. Apalagi Anne, yang diam-diam sudah takut harus turun kebawah malam-malam. Anak kecil itu sudah hampir tertidur, karena capek bekerja keras seharian. Ditambah lagi dengan ketegangan perasaan sewaktu tersasar!

“Ayoh, Anne!” ujar George sambil menolongnya bangkit. “Kau harus tidur. Kita akan berbaring berdekatan di atas selimut tebal di pojok kamar kita yang kecil. Dan besok pagi kita akan bangun dengan gembira, karena akan mendobrak pintu kayu.”

Keempat anak itu pergi ke kamar batu mereka yang kecil, diikuti oleh Tim. Julian dan Dick berbaring di satu pojok, sedang George dan Anne tidur di pojok lain. Sedang Tim berbaring dekat ambang pintu.

George merasa bahagia. Ia menginap di pulaunya sendiri. Tim ada bersama mereka. Dan taklama lagi pasti akan sudah ditemukan emas yang dicari-cari. George merasa yakin bahwa mereka akan berhasil. Sambil berpikir begitu, George tertidur.

Anak-anak tidur dengan nyenyak sampai pagi. Mereka merasa aman, karena ada Tim yang menjaga. Tetapi pagi-pagi anjing itu melihat seekor kelinci lewat, lalu bangkit hendak mengejar. George terjaga sebagai akibatnya. Ia duduk sambil menggosok-gosok mata.

“Bangun! Ayoh, bangun,” serunya. “Ayoh, semua bangun! Hari sudah pagi. Dan kita ada di pulau!”

Ketiga saudara sepupunya terbangun. Mereka bergembira pada saat duduk dan teringat kembali pada kejadian-kejadian kemarin. Dengan segera Julian teringat pada pintu kayu yang ada di bawah. Ia merasa yakin akan berhasil mendobraknya dengan kapak. Dan apakah yang akan ditemukan di sebaliknya?

Anak-anak sarapan. Banyak sekali makan mereka, seperti biasa. Kemudian Julian mengambilkapak dan mengajak saudara-saudaranya turun ke bawah lewat tangga. Tim ikut di belakangsambil mengibas-kibaskan ekor. Tetapi sebetulnya anjing itu tak begitu senang masuk ke tempat di mana terdengar suara gonggongan ramai, padahal di situ tak ada anjing lain kecuali dia sendiri. Kasihan! Tim tak bisa memahami timbulnya gema.

Sesampai di bawah, ternyata mereka tidak bisa menemukan jalan yang menuju ke pintu kayu. Benar-benar menjengkelkan!

“Kita akan tersasar lagi,” kata George putus asa. “Ruangan-ruangan di bawah tanah ini benar-benar bersimpang siur. Belum pernah aku melihat rongga bawah tanah yang serumit tempat ini! Jangan-jangan nanti kita tak bisa kembali lagi ke tangga masuk.”

Tetapi Julian tahu akal. Di kantongnya ada sepotong kapur putih. Diambilnya kapur itu,

lalu pergi kembali ke tangga. Dinding di situ diberinya tanda. Setiap lorong yang dilewati dalam gelap di bawah tanah itu diberinya tanda. Akhirnya mereka sampai di sumur. Julian merasa senang.

“Nah — sekarang kalau kita nanti kembali ke sini, setidak-tidaknya akan mudah ditemukanjalan kembali ke tangga. Kita ikuti saja tanda-tanda yang telah kubuat dengan kapur. Soalnya kini — ke arah mana kita harus berjalan dari sini? Sebaiknya kita mencari saja.Akan kububuhkan tanda-tanda sepanjang jalan yang kita lalui. Kalau ternyata keliru, kita kembali lagi ke mari. Tanda-tanda yang sudah kubuat kita hapuskan lagi, dan mulai dengan tanda-tanda baru pada jalan berikutnya.”

Idenya itu baik sekali, karena ternyata mereka salah jalan. Keempat anak itu kembali kesumur, lalu menempuh arah lain. Dan sekali ini mereka berhasil menemukan pintu kayu!

Anak-anak memandang pintu yang kokoh berpaku-paku besi yang sudah berkarat itu dengan perasaan senang. Julian mengangkat kapak, lalu mengayunkannya kuat-kuat.

Kapak yang tajam memakan kayu sekitar lubang kunci. Tetapi kayunya kuat sekali, sehingga mata kapak hanya masuk sebanyak dua atau tiga sentimeter belaka. Julian mengayunkan kapak sekali lagi. Kapak itu mengenai sebuah paku besar dan tergelincir agak ke samping. Seserpih kayu terlontar dan mengenai pipi Dick. Anak itu menjerit kesakitan. Julian kaget lalu berpaling memandang adiknya. Pipi Dick berdarah!

“Ada sesuatu terlempar dari daun pintu dan mengenai pipiku,” ujar anak yang malang itu.“Kurasa seserpih kayu.”

“Astaga!” seru Julian, lalu mengarahkan cahaya senter ke pipi adiknya. “Kau harus menahan sakit sejenak, sementara aku mencabut serpih itu dari pipimu.”

Tetapi Dick sendiri yang mencabutnya. Mukanya mengernyit kesakitan. Ia kelihatan sangatpucat.

“Lebih baik kau naik sebentar ke atas,” kata Julian. “Pipimu harus dicuci dan dihentikan perdarahannya. Anne membawa sapu tangan yang masih bersih. Kita basahkan sapu tangan itu, lalu lukamu dicuci dengannya. Untung kita membawa air bersih.”

“Aku ke atas dengan Dick,” kata Anne. “Kau tinggal saja di sini bersama George. Tak perlu kita semuanya naik ke atas.”

Tetapi Julian ingin mengantar adiknya sampai ke atas dulu, sebelum melanjutkan pekerjaan mendobrak pintu. Diserahkannya kapak pada George.

“Sementara aku ke atas, kau bisa melanjutkan sebentar,” katanya pada anak itu. “Agak lama juga sebelum pintu setebal ini berhasil didobrak. Sebentar lagi aku akan sudah kembali.”

“Baik,” jawab George sambil menerima kapak yang disodorkan. “Kasihan Dick — mukamu pucat dan berlumuran darah.”

Setelah itu George mulai mengampak daun pintu, ditemani oleh Tim. Sedang Julian mengajak Dick dan Anne ke atas. Anne mencelupkan sapu tangannya ke ceret yang berisi air masak, lalu mengelap pipi abangnya dengan hati-hati. Banyak darah yang keluar, tetapi lukanya sendiri sebenarnya tak berbahaya. Luka di pipi memang selalu banyak darahnya. Tak lama kemudian Dick sudah merasa seperti biasa lagi. Ia bahkan ingin turunlagi ke ruangan bawah tanah.

“Tidak,” larang Julian. “Lebih baik kau beristirahat sebentar. Berbaring sajalah! Aku tahu itu cara yang baik untuk menghentikan hidung berdarah. Barangkali darah yang mengalir dari pipi yang luka bisa terhenti dengan cara begitu. Bagaimana jika kau bersama Anne pergi ke batu sebelah atas sana. Duduk atau berbaringlah barang setengah jam di situ. Dari tempat itu kalian bisa melihat bangkai kapal. Ayohlah! Kuantar kalianke sana. Sebaiknya jangan bangun dulu, sebelum pipimu berhenti berdarah.”

Julian mengantarkan kedua adiknya keluar dari pekarangan Puri Kirrin, menuju ke batu-batu yang terletak di sisi pulau yang menghadap ke laut. Bangkai kapal tua masih tetap kandas di atas batu karang. Dick berbaring menengadah sambil menatap ke langit. Mudah-mudahan saja darah di pipinya cepat terhenti. Ia tak mau ketinggalan menghadapi saat-saat yang mendebarkan hati!

Anne memegang tangan abangnya. Anak itu merasa agak kuatir sebagai akibat kecelakaan kecil itu. Walau sebetulnya ia juga tak mau ketinggalan, tetapi ia akan mendampingi Dick sampai abangnya itu merasa sudah agak enak. Julian duduk menyertai mereka berdua selama beberapa menit. Sesudah itu ia kembali ke tangga dan menghilang ke bawah tanah. Diikutinya tanda-tanda kapur yang dibuatnya di tembok ruangan-ruangan. Tak lama kemudian ia sudah sampai di tempat George yang sedang sibuk mengampak daun pintu.

Kayu sekeliling lubang kunci sudah banyak yang terkampak. Tetapi pintu masih tetap belum bisa dibuka. Julian mengambil kapak dari tangan George, lalu mengayunkannya kuat-kuat ke daun pintu.

Sesudah satu dua kali, terjadi sesuatu pada kunci. Besinya terlepas dan tergantung agakmiring.

Julian meletakkan kapaknya.

“Kurasa pintu sudah bisa dibuka sekarang,” katanya dengan suara bergairah. “Ayoh, minggir sebentar, Tim. Kita dorong bersama-sama, George!”

Kedua anak itu mendorong sekuat tenaga. Terdengar bunyi mendecit, dan pintu besar itu terbuka berderak-derak. Julian dan George masuk ke dalam, sambil mengarahkan cahaya senter mereka ke sana ke mari.

Ruangan itu sebenarnya sebuah gua batu. Tetapi dalamnya lain isinya. Bukan tong-tong dan peti-peti tua seperti yang ditemukan dalam ruangan-ruangan lain. Di sebelah belakang ruangan itu terdapat sebuah tumpukan yang tidak teratur. Batang-batang logam berbentuk batu bata dan berwarna kuning kecoklat-coklatan tertumpuk di sini. Julian mengambil sebuah di antaranya.

“George!” serunya. “Ini dia emas yang kita cari-cari. Aku tahu, wujudnya sama sekali tak seperti emas — tapi ini emas. George! Banyak sekali harta yang bertumpuk dalam ruangan ini. Dan semua milikmu! Kita berhasil menemukan harta yang hilang!”

XIV

TERJEBAK!

GEORGE tidak bisa berkata apa-apa. Ia berdiri sambil menatap emas berbatang-batang di depannya. Tangannya yang satu memegang sebatang. Sukar rasanya percaya, bahwa benda-benda aneh berbentuk seperti batu bata itu memang benar-benar emas. Hatinya berdebar-debar. Hebat benar penemuan mereka itu!

Tiba-tiba Tim menggonggong dengan nyaring. Ia berdiri membelakangi anak-anak. Hidungnyamengarah ke pintu. Ribut sekali gonggongannya.

“Diam, Tim!” kata Julian. “Apa yang kaudengar tadi? Adik-adikku datang kembali?”

Ia pergi ke pintu. Sambil menjengukkan kepala ke lorong yang di luar, ia berteriak keras-keras,

“Dick! Anne! Kaliankah itu? Cepatlah ke mari, karena kami telah berhasil menemukan batang-batang emas itu. KAMI TELAH MENEMUKAN EMAS! AYOH, CEPATLAH SEDIKIT!”

Sementara itu Tim tidak menggonggong lagi. Ia mulai menggeram George memandangnya dengan heran.

“Kenapa dia?” tanyanya. “Masakan menggeram terhadap Dick dan Anne.”

Setelah itu anak-anak terkejut bukan kepalang — karena tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menggema dalam lorong.

“Siapa di sana? Ada orang di bawah?”

George memeluk Julian dengan ketakutan. Tim masih menggeram. Bulu kuduknya berdiri tegak.

“Diam, Tim!” bisik George sambil memadamkan senternya. Tetapi Tim tak bisa disuruh diam. Ia terus menggeram, seolah-olah bunyi guruh yang jauh kedengarannya.

Kemudian anak-anak melihat ada cahaya senter yang terang-benderang datang dari balik tikungan lorong. Sorotannya maju, maju terus, sampai akhirnya menyinari mereka. Orang yang memegang senter berhenti melangkah. Rupanya ia kaget.

“Wah, wah!” katanya. “Ada tamu rupanya. Dua orang anak datang ke puriku.”

“Siapa bilang ini purimu!” seru George dengan marah.

“Ini puriku, karena saat ini sedang diurus persoalan jual belinya,” kata orang yang takdikenal itu. Kemudian terdengar suara orang lain, lebih kasar dari suara pertama.

“Apa yang kalian perbuat di sini? Apa maksud kalian tadi sewaktu berteriak-teriak menyebut ‘Dick’ dan ‘Anne’, dan mengatakan bahwa emas sudah ditemukan? Mana emasnya?”

“Jangan jawab,” bisik Julian pada George. Tetapi ia lupa bahwa ruangan bawah tanah itu bergema. Bisikannya terpantul ke dinding dan menggema, makin lama makin nyaring, “JANGAN JAWAB! JANGAN JAWAB!”

“Jadi kau tak mau menjawab,” kata orang yang kedua, lalu bergerak mendekati anak-anak yang meringkuk ketakutan. Tetapi Tim tidak bisa digertak. Anjing itu menggeram sambil memperlihatkan taring-taring yang panjang dan runcing. Orang itu pergi ke pintu, lalu menyorotkan senternya ke dalam ruangan. Detik berikutnya ia bersiul karena kaget dan gembira.

“Jake, ke marilah! Lihat ini!” katanya. “Ternyata kau benar. Emasnya memang ada di sini. Kita tinggal mengangkutnya saja. Emas! Berbatang-batang! Wah, penemuan kita kali ini bukan main hebatnya!”

“Emas itu milikku,” kata George. Ia sangat marah. “Pulau dari Puri Kirrin adalah kepunyaan ibuku. Begitu pula dengan semua benda yang ada di sini. Emas itu dibawa dan disimpan oleh kakek dari kakekku di sini, sebelum kapalnya mengalami bencana dan karam.Emas itu bukan kepunyaanmu, dan takkan pernah menjadi milikmu. Kalau aku pulang nanti, akan kuceritakan pada orang tuaku apa yang kami temukan di sini. Jadi jangan harap akanbisa membeli Puri atau Pulau Kirrin! Kau cerdik sekali, karena berhasil mengetahui adanya emas di sini setelah melihat peta yang tersimpan dalam peti tua. Tapi kau kalah cerdik dengan kami. Kami menemukannya lebih dulu!”

Kedua orang itu mendengarkan George yang sedang marah-marah. Setelah itu seorang dari mereka tertawa.

“Kau ini anak kecil,” katanya. “Kau mengira akan bisa menghalang-halangi kami? Kami akan membeli pulau ini beserta seluruh benda yang terdapat di sini. Begitu surat perjanjian jual beli selesai ditandatangani, emas akan kami ambil. Dan kalaupun Pulau Kirrin tidak bisa kami beli, emasnya toh akan kami ambil juga. Tak sukar mendatangkan kapal ke mari dan mengangkut batang-batang emas ini dengan perahu ke kapal. Pokoknya, kami akan mencapai kemauan kami.”

“Tidak!” pekik George sambil melangkah ke luar. “Aku akan pulang sekarang juga. Akan kuceritakan kata-katamu pada Ayah!”

“Kau tidak bisa pulang. Nak,” kata orang pertama. Dipegangnya bahu George dan didorongnya masuk kembali ke ruangan. “Dan suruh anjingmu yang galak itu supaya diam. Kalau tidak, akan terpaksa kutembak!”

George kaget dan takut melihat pistol di tangan orang itu. Cepat-cepat dipegangnya kalung leher Tim dan ditariknya anjing itu ke dekatnya.

“Diam, Tim,” katanya. “Jangan ribut! Tidak ada apa-apa. Semuanya beres.”

Tetapi Tim tahu bahwa keadaan saat itu sama sekali tidak beres. Ia masih terus menggeram. Sementara itu kedua orang yang hendak merampas emas itu saling berunding sambil berbisik-bisik.

“Kalian dengarkan baik-baik kataku ini,” kata salah seorang dari mereka setelah itu. “Kalian takkan kami apa-apakan, asal saja kalian menurut. Tetapi kalau tetap membandel,nanti menyesal! Kami akan pergi sebentar dengan perahu motor, sementara kalian akan kami kurung dalam ruangan ini. Kami hendak mengambil kapal guna menjemput emas berbatang-batang yang ada di sini. Menurut perasaan kami tak ada gunanya lagi membeli pulau, karena emasnya telah kami temukan.”

“Dan kalian harus menulis surat pada teman-teman yang menunggu di atas. Katakan pada mereka bahwa kalian sudah berhasil menemukan emas yang dicari. Suruh mereka turun untukmelihatnya,” sambung orang kedua. “Kalau mereka sudah di sini, kalian semua akan kami kurung dalam ruangan ini. Akan kami sediakan makanan dan minuman secukupnya, sampai kami datang lagi. Selama itu kalian bisa bermain-main dengan batang-batang emas. Nah — ini pinsil. Tulislah surat pada Dick dan Anne, lalu suruh anjingmu ke atas membawanya ke teman-teman kalian. Ayoh, cepat!”

“Aku tidak mau,” ujar George. Mukanya merah karena marah. “Aku tak mau! Kalian tak bisamemaksaku. Aku tak mau memanggil Dick dan Anne ke mari, karena nanti dikurung oleh kalian. Dan emas yang baru saja kutemukan ini, takkan kuserahkan pada kalian.”

“Kalau kau tak mau menurut, anjingmu akan terpaksa kami tembak,” kata orang pertama dengan tiba-tiba. George menjadi lesu mendengarnya. Ia merasa kedinginan karena ketakutan.

“Jangan — jangan —” ratapnya dengan sedih.

“Kalau begitu, ayoh tulis surat!” kata orang itu lagi sambil menyodorkan kertas besertapensil. “Ayoh cepat! Kukatakan apa yang harus kautulis.”

“Aku tak bisa!” kata George tersedu-sedu. “Aku tak sanggup memanggil Dick Anne ke bawah, karena aku tahu mereka akan dikurung.”

“Baiklah! Kutembak saja anjingmu,” kata orang itu dengan kejam. Diacungkannya pistol kearah Tim yang malang. George menjerit, lalu memeluk anjingnya.

“Tidak! Jangan. Akan kutulis surat itu. Tapi Tim jangan kautembak! Jangan kautembak dia!”

Dengan tangan gemetar diambilnya kertas dan pinsil, lalu mendongak ke arah orang yang memegang pistol.

“Sekarang kau mulai menulis,” ujar orang itu. “Dick dan Anne, kami telah berhasil menemukan emasnya. Cepat datang. Sudah itu kautandatangani dengan namamu.”

George menulis seperti yang dikatakan oleh orang itu. Kemudian dibubuhkannya namanya dibawah surat. Tetapi bukan nama ‘George’ yang dituliskannya, melainkan ‘Georgina’. Ia merasa yakin bahwa kedua saudara sepupunya yang ada di atas akan tahu pasti bahwa ia sendiri tak pernah mau memakai nama yang sebenarnya. Dengan demikian diharapkannya kedua anak itu akan tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Orang yang memegang pistolmengambil surat itu, lalu menyelipkannya ke kalung leher Tim. Anjing itu masih terus menggeram. George tak henti-hentinya memperingatkan agar jangan menggigit.

“Sekarang suruh dia pergi ke teman-temanmu,” kata orang itu.

“Tim! Cari Dick dan Anne,” perintah George. “Ayoh, Tim! Cari Dick dan Anne. Dick dan Anne! Berikan surat itu kepada mereka.”

Tim sebenarnya tak mau meninggalkan George. Tetapi George terus mendesak dengan sangat.Anjing itu memandangnya, lalu lari ke luar lorong. Ia sudah tahu jalan sekarang. Cepat-cepat Tim menaiki tangga batu, lalu meloncat ke luar. Ia berhenti di pekarangan sambil mencium-cium tanah. Di mana Dick dan Anne?

Tim berhasil mencium jejak kaki mereka, lalu lari dengan hidung didekatkan ke tanah. Tak lama kemudian kedua anak itu berhasil ditemukannya. Mereka masih ada di atas batu. Dick duduk di situ, karena sudah merasa segar kembali. Pipinya sudah tak begitu berdarah lagi.

“He!” serunya heran ketika melihat Tim datang. “Ini Tim! Kau ke atas untuk menjenguk kami? Sudah bosan di bawah tanah yang gelap?”

“Lihat, Dick! Ada sesuatu terselip di kalungnya,” ujar Anne. Mata anak perempuan itu sangat tajam. Dengan segera ia melihat kertas yang terselip. “Surat rupanya. Kurasa pasti dari Julian dan George, memanggil kita supaya ke bawah. Tim sangat pintar, bisa disuruh mengantar surat!”

Dick mengambil surat yang terselip di leher Tim, lalu dibukanya.

“Dick dan Anne,” katanya sambil membaca, “Kami telah berhasil menemukan emasnya. Cepat datang! Georgina.”

“Wah!” seru Anne dengan mata bersinar-sinar karena girang. “Mereka sudah menemukannya. Bagaimana Dick — kau sudah sehat kembali. Kalau sudah, kita cepat-cepat saja ke bawah.”

Tetapi Dick tetap duduk sambil menatap surat. Ia kelihatan heran.

“Ada apa?” tanya Anne tak sabar.

“Kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh?” ujar Dick sambil berpikir. “George menandatangani surat ini dengan ‘Georgina’. Kau tahu, ia tak senang menjadi anak perempuan dan memakai nama perempuan. Kau juga tahu, dia tak mau menjawab jika dipanggil dengan nama Georgina. Sekarang dalam surat ini ia menandatangani dengan nama yang tidak disukainya itu. Aneh! Seolah-olah ia hendak memberitahukan bahwa ada sesuatuyang tidak beres.”

“Ah! Kau ini ada-ada saja, Dick,” ujar Anne. “Apa yang bisa tidak beres? Ayohlah kita ke bawah.”

“Aneh, aku ingin melihat dulu ke teluk kecil. Aku ingin memeriksa, kalau-kalau ada orang datang,” kata Dick. “Kau menunggu di sini.”

Tetapi Anne tidak mau ditinggal sendirian. Ia ikut berlari-lari menelusuri pantai bersama Dick. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia mengomel. Dick dikatakannya tolol.

Tetapi begitu sampai di teluk kecil, mereka melihat sebuah perahu lain di samping kepunyaan mereka. Sebuah perahu motor! Rupanya ada orang lain di pulau!

“Lihatlah!” kata Dick berbisik. “Ternyata memang ada orang datang. Dan kurasa orang itulah yang mau membeli pulau ini. Pasti dia telah mempelajari peta tua yang ada dalam peti. Dan karenanya sekarang tahu bahwa di sini ada emas. Lalu mereka memergoki George dan Julian di bawah. Sekarang kita semua hendak dikumpulkannya dalam ruangan bawah tanah. Kita akan dikurung, supaya ia bisa mencuri emas dengan aman. Tapi George ternyata anak cerdik. Ketika ia disuruh menulis surat ini, ia menandatanganinya dengan nama yang tak disukainya. Dengan cara itu ia hendak memperingatkan kita! Sekarang kita harus mempertimbangkan masak-masak. Apa yang harus kita lakukan?”

XV

DICK BERAKSI

DICK menarik tangan Anne, dan mengajaknya cepat-cepat pergi dari teluk kecil itu. Ia takut, jangan-jangan orang yang datang kemudian ada di dekat-dekat mereka. Ia tak mau kelihatan oleh orang itu. Diajaknya Anne pergi ke kamar yang kecil tempat mereka menginap, lalu duduk di pojok.

“Mestinya orang yang datang itu memergoki Julian dan George sewaktu mereka sedang mendobrak pintu,” katanya berbisik. “Aku bingung, tak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang. Kita tidak boleh turun ke ruangan bawah tanah, karena pasti nanti akan tertangkap. Eh — Tim ke mana?”

Selama beberapa saat anjing itu duduk dalam kamar menemani mereka. Tetapi tiba-tiba ia lari ke luar dan menuju ke jalan masuk ke ruangan bawah tanah. Anjing itu menghilang kebawah. Tim bermaksud hendak kembali ke George, karena tahu bahwa anak perempuan itu dalam bahaya. Dick dan Anne memandangnya dengan perasaan kecut. Selama anjing itu mendampingi mereka, rasanya agak tenteram. Dan sekarang Tim lari ke bawah!

Mereka benar-benar tak tahu akal. Tetapi kemudian Anne mendapat ilham.

“Aku tahu akal!” katanya. “Kita naik perahu dan kembali ke darat. Kita mengambil bantuan!”

“Kemungkinan itu juga sudah terpikir olehku tadi,” kata Dick dengan murung. “Tapi kau sendiri juga tahu bahwa kita tak mengenal jalan keluar masuk di sela-sela batu karang yang berbahaya. Kalau kita mencobanya juga, pasti perahu akan rusak terbentur batu. Danaku yakin, kita juga tidak cukup kuat untuk mendayung sampai ke darat. Jaraknya terlalujauh. Aduh! Bingung aku rasanya.”

Kedua anak itu tidak sempat berlama-lama bingung. Kedua orang jahat yang memergoki Julian dan George keluar dari ruangan bawah tanah, dan mulai mencari-cari Dick Dan Anne. Sewaktu Tim kembali, mereka melihat bahwa surat tak ada lagi di kalung leher anjing itu. Karenanya mereka tahu bahwa surat sudah diambil oleh kedua anak yang ada di

atas. Kedua orang itu bingung, mengapa Dick dan Anne tidak turun ke bawah seperti diminta oleh George dalam surat!

Dick mendengar suara kedua orang itu memanggil-manggil. Anne diperingatkannya agar jangan bicara. Kemudian ia mengintip lewat ambang pintu yang sudah rusak. Nampak olehnya bahwa kedua orang itu berjalan ke arah berlawanan dengan tempat mereka bersembunyi.

“Anne! Aku tahu di mana kita bisa bersembunyi!” kata Dick. “Dalam sumur tua! Kita bisa menuruni tangga besi dan bersembunyi di situ. Pasti mereka tidak akan mencari ke sana!”

Anne sebenarnya sama sekali tak kepingin masuk ke dalam sumur. Tetapi Dick menariknya sehingga ia bangkit. Didorongnya adiknya itu ke tengah-tengah pekarangan. Kedua orang yang tak dikenal saat itu sedang mencari mereka di bagian lain dari Puri Kirrin. Jadi kedua anak itu mempunyai waktu untuk lari dan bersembunyi ke dalam sumur. Dick menggeserkan tutup sumur yang terbuat dari kayu, lalu menolong Anne turun ke dalam. Anak perempuan itu sangat ketakutan. Sudah itu Dick menyusul masuk dan menggeserkan tutup kayu ke tempatnya semula.

Bongkah batu tempat Tim tersangkut sewaktu jatuh ke dalam sumur masih ada di tempat. Dick menuruni tangga besi dan mencoba kekokohan letak batu. Ternyata kokoh sekali, karena sama sekali tak bergerak ketika dipijaknya.

“Kau bisa duduk di sini Anne, apabila tak mau terus-menerus berdiri di tangga,” bisiknya. Anne menuruti usulnya, dan duduk sambil gemetar di batu. Mereka menunggu nasib. Apakah tempat persembunyian mereka akan ketahuan? Terdengar suara kedua orang yang mencari-cari di luar. Kadang-kadang dekat, dan kemudian menjauh lagi. Kedua orang itu berteriak-teriak.

“Dick! Anne! Kalian dipanggil oleh teman-teman yang di bawah! Di mana kalian? Ada kabarmenarik.”

“Kalau kata mereka benar, kenapa mereka tak membiarkan Julian dan George naik ke atas untuk menceritakannya pada kita?” bisik Dick. “Pasti ada sesuatu yang tidak beres! Cobakita bisa pergi ke tempat Julian dan George, untuk mengetahui hal yang telah terjadi.”

Kedua orang itu masuk ke pekarangan sebelah dalam. Terdengar suara mereka marah-marah.

“Ke mana kedua anak itu?” kata Jake. “Perahu mereka masih ada di teluk. Jadi tak mungkin mereka sudah pergi. Mestinya bersembunyi di salah satu tempat. Kita tak bisa menunggu seharian, sampai mereka muncul.”

“Kita antarkan saja makanan dan minuman untuk kedua anak yang terkurung di bawah,” kataorang yang satu lagi. “Dalam kamar batu yang kecil itu banyak tersimpan makanan dan minuman. Kurasa itu perbekalan yang dibawa anak-anak dari darat. Setengahnya kita tinggalkan di situ, supaya kedua anak yang lain juga mendapat bagian. Kita pergi dan membawa perahu mereka, sehingga anak-anak tidak bisa melarikan diri.”

“Betul,” jawab Jake. “Kita harus mengangkut emas itu secepat mungkin. Sedang anak-anak harus tidak bisa pergi dari sini, sampai kita berhasil pergi membawa emas dengan aman. Tak ada gunanya lagi membeli pulau. Kan gunanya hanya supaya kita bisa mendapatkan batang-batang emas itu.”

“Ayohlah,” kata temannya. “Kita antarkan saja makanan dan minuman ke bawah. Kedua anak yang masih di atas sini tak perlu kita pedulikan. Aku saja yang turun ke ruangan bawah tanah. Kau tinggal di sini. Siapa tahu kedua anak itu muncul.”

Dick dan Anne mendengar percakapan kedua orang itu dengan napas tertahan. Mudah-mudahansaja mereka tak melihat ke dalam sumur! Terdengar langkah-langkah orang menuju ke kamarbatu. Jelaslah bahwa ia hendak mengambil makanan dan minuman yang akan dibawa ke Juliandan George yang terkurung di bawah. Orang yang satu lagi tetap berada di pekarangan sambil bersiul-siul pelan.

Anak-anak merasa sudah lama sekali menunggu ketika akhirnya orang yang pertama datang lagi Mereka ngomong sebentar, lalu pergi ke teluk. Dick mendengar suara mesin perahu mereka dihidupkan.

“Sekarang kita sudah bisa ke luar, Anne,” katanya. “Di sini dingin. Lega rasanya, bisa ke luar lagi dan kena sinar matahari.”

Mereka ke luar, lalu berjemur sebentar memanaskan badan di bawah pancaran sinar matahari. Di kejauhan nampak perahu motor melaju ke arah daratan.

“Mereka sudah pergi untuk sesaat,” kata Dick. “Dan ternyata mereka tidak jadi membawa perahu kita, seperti direncanakan tadi. Kalau saja Julian dan George bisa kita selamatkan, maka kita akan bisa pergi meminta bantuan. George bisa mendayung perahu ke daratan.”

“Kenapa kita tidak bisa menolong mereka?” seru Anne dengan mata berkilat-kilat penuh semangat. “Kita kan bisa saja menuruni tangga batu, lalu membukakan pintu dari luar!”

“Tidak bisa,” jawab Dick. “Lihatlah!”

Anne memandang ke arah yang ditunjuknya. Di atas lubang tempat masuk ke ruangan bawah tanah nampak tertumpuk bongkah-bongkah batu yang besar-besar. Rupanya kedua orang tadi yang menaruhnya di sana. Bongkah-bongkah itu sangat besar, sehingga tak mungkin bisa dipindahkan oleh Dick dan Anne.

“Kita tidak bisa ke bawah,” kata Dick. “Mereka sudah mengusahakan pencegahannya! Dan kita tidak mengetahui jalan masuk yang satu lagi. Kita hanya tahu, tempatnya dekat dengan menara.”

“Kita mencarinya saja sekarang,” usul Anne bergairah. Kedua anak itu pergi ke menara yang terdapat di sebelah kanan Puri. Sesampai di sana, mereka menyadari bahwa kalaupun jalan masuk itu ada di situ, pasti tak bisa dilewati lagi sekarang! Menara itu sudah runtuh. Yang tinggal hanya batu-batu pecah bertumpuk-tumpuk. Tak mungkin mereka bisa menyingkirkan puing sebanyak itu. Anak-anak berhenti mencari.

“Sialan!” umpat Dick. “Sedih rasanya mengingat Julian dan George yang malang, terkurungdi bawah tanah! Dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka. Anne — pakailah otakmu! Kau tidak tahu jalan?”

Anne duduk di atas sebongkah batu sambil memutar otak. Ia merasa cemas. Tetapi tak lamakemudian nampak air mukanya menjadi cerah. Ia berpaling dan memandang Dick.

“Dick! Apakah kita tidak bisa — maksudku, mungkinkah kita bisa menuruni sumur?” katanyasetengah bertanya. “Kan lubangnya juga lewat ruangan bawah tanah. Dan di sana ada lubang di dinding sumur. Masih ingatkah engkau — kita kan menjulurkan badan ke dalam sumur dan bisa melihat ke luar! Bagaimana pendapatmu? Bisakah kita melewati celah yang ada di sisi bongkah batu tempatku duduk tadi?”

Dick mempertimbangkan usul adiknya itu. Ia pergi ke sumur, lalu melihat ke dalam lubang.

“Kurasa kau benar, Anne,” katanya kemudian. “Mungkin saja kita bisa menyusup lewat celah sempit di bawah itu. Tapi aku tak tahu, sampai sejauh mana tangga besi ini terpasang.”

“Kita mencobanya saja, Dick,” kata Anne mendesak. “Karena itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Julian dan George.”

“Baiklah, aku akan mencoba,” kata Dick. “Tapi kau jangan ikut, Anne. Aku tak mau kau terjatuh ke dalam sumur. Mungkin saja tangga ini sudah patah di tengah. Macam-macam yang bisa terjadi nanti. Kau menunggu saja di sini. Aku akan berusaha sebisa-bisaku.”

“Hati-hati,” kata Anne cemas. “Bawa tali. Siapa tahu kau nanti akan memerlukannya. Jadikau tak perlu naik lagi ke atas.”

“Bagus idemu itu,” kata Dick. Ia pergi ke kamar batu dan mengambil seutas tali yang ditaruh di situ. Tali itu dililitkannya ke perutnya. Kemudian ia kembali ke sumur.

“Nah, kita coba saja sekarang,” katanya dengan gembira. “Kau tak perlu menguatirkan diriku. Aku akan selamat.”

Muka Anne pucat. Ia takut sekali, Dick nanti terjatuh ke dasar sumur. Diperhatikannya abangnya menuruni tangga batu, sampai ke bongkah batu yang tersangkut di tengah lubang.Ia berusaha menyusupkan tubuh melewati celah antara batu dan dinding sumur. Kelihatannya sukar sekali, karena celah itu sangat sempit. Tetapi akhirnya berhasil juga! Sesudah itu Anne tak dapat melihatnya lagi. Tetapi suaranya masih terdengar, karena ia terus memanggil-manggil.

“Sampai di sini tangganya masih utuh, Anne! Semuanya beres. Kau bisa mendengar?”

“Ya,” seru Anne ke dalam sumur. Terdengar gema suaranya memantul dari bawah. Aneh kedengarannya! “Hati-hati, Dick. Mudah-mudahan tangga itu utuh sampai ke bawah.”

“Kurasa begitu!” terdengar suara Dick membalas. Tetapi tiba-tiba ia berseru nyaring. “Sialan! Tangganya patah di sini. Atau mungkin juga memang hanya sampai di sini. Aku terpaksa mempergunakan tali.”

Sesaat tak terdengar suaranya, sementara Dick membuka tali yang melilit pinggang. Ujungtali itu diikatkannya erat-erat ke anak tangga besi nomor dua dari bawah, yang dirasakannya cukup kokoh.

“Sekarang aku akan turun lewat tali!” serunya pada Anne. “Jangan cemas, aku tak apa-apa. Aku turun sekarang!”

Sesudah itu Anne tak bisa lagi menangkap kata-kata Dick, karena gema menyebabkan seruan-seruannya tak jelas lagi. Tetapi walau begitu, Anne masih merasa lega karena suaranya masih terdengar. Ia berseru menjawab, dengan harapan semoga abangnya bisa mendengarnya.

Dick meluncur ke bawah. Kedua belah tangannya memegang tali erat-erat, sedang kedua kakinya juga dikepitkan dengan kuat. Dick merasa bersyukur bahwa dia pandai bersenam. Ia ingin tahu, apakah saat itu ia sudah berada di dekat ruangan bawah tanah; rasanya sudah jauh juga ia menuruni tali. Ia berhasil mengeluarkan senter dari dalam kantong, lalu dinyatakannya. Senter dimasukkan ke mulut dan dijepitnya dengan gigi, supaya tangannya bisa tetap bebas. Cahaya yang memancar dari senter menerangi dinding sumur sekitarnya. Tetapi ia tetap tak tahu, apakah ia masih berada di atas ruang bawah tanah,atau sudah melewatinya. Ia tak berniat turun sampai ke dasar sumur!

Menurut perasaannya, ia mestinya baru saja melewati lubang yang menuju ke rongga bawah tanah. Tali dipanjatnya lagi. Ternyata dugaannya benar! Ia merasa lega ketika melihat bahwa lubang itu berada agak di atas kepalanya. Dick meneruskan panjatannya sampai lubang itu sama tinggi dengannya. Kemudian diayunkannya tubuh ke sisi sumur, ke arah lubang. Ia berhasil memegang pinggir lubang, lalu berusaha masuk ke dalam ruangan bawahtanah.

Lubang itu sangat sempit. Tetapi untunglah, badan Dick tidak terlalu besar. Akhirnya iaberhasil melewati lubang. Dick menghela napas lega. Ia sudah berada dalam ruangan bawahtanah! Sekarang ia bisa mengikuti tanda-tanda kapur yang ada di dinding, menuju ke ruangan tempat emas tersimpan. Ia merasa yakin di situlah Julian dan George terkurung.

Disorotkannya cahaya senter ke dinding. Benarlah! Ia melihat tanda yang dibuat oleh Julian dengan kapur di situ. Dick memasukkan kepalanya ke dalam lubang sumur, lalu berseru keras-keras ke atas,

“Anne, aku sudah berada dalam ruangan bawah tanah! Hati-hati, kalau kedua orang tadi datang kembali!”

Kemudian ia berjalan mengikuti tanda-tanda kapur. Hatinya berdebar keras. Setelah beberapa lama berjalan, ia sampai ke pintu ruangan yang dituju. Seperti sudah diperkirakannya, pintu itu dikunci dari luar agar George dan Julian tidak bisa melarikan diri. Ada dua buah kunci sorong di sebelah atas dan bawah pintu. Kedua anak yang terkurung di dalam menggedor-gedor pintu sekuat tenaga, tetapi sia-sia belaka. Mereka tak bisa ke luar.

Kemudian mereka duduk. Mereka merasa capek dan marah. Di dalam ada makanan dan minuman yang diantarkan orang yang mengurung mereka. Tetapi kedua anak itu tak mau menyentuhnya. Tim ada di dalam bersama mereka. Anjing itu berbaring di lantai dengan kepala ditaruh di antara kedua kaki depan. Ia agak marah pada George, karena tak diijinkan menerkam kedua orang itu. Padahal ia sudah kepingin sekali. Tetapi George kuatir bahwa Tim akan ditembak mati bila berani menggigit.

“Pokoknya Dick dan Anne tidak ke mari, jadi tidak bisa ikut dikurung,” kata George menghibur diri. “Cerdas juga kedua anak itu! Mereka dengan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suratku, ketika melihat bahwa aku menandatanganinya dengan Georgina — dan tidak dengan George. Aku ingin tahu, apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Mestinya sedang bersembunyi.”

Tiba-tiba Tim menggeram. Ia meloncat dan pergi ke pintu yang terkunci. Ia berdiri di situ, sambil memiringkan kepala. Sudah jelas, ia mendengar sesuatu.

“Mudah-mudahan saja kedua orang tadi belum kembali,” kata George. Kemudian ia memandangke arah Tim dengan heran. Disorotkannya senter ke anjing itu. Tim mengibas-kibaskan ekor!

Pintu digedor dengan keras, sehingga mereka terkejut setengah mati. Sudah itu terdengarsuara Dick yang memanggil-manggil dengan riang,

“He! Julian! George! Kalian ada di dalam?”

Mendengar suara anak itu. Tim langsung menggonggong-gonggong sambil menggaruk-garuk daun pintu.

“Dick!” seru Julian dengan gembira. “Cepat, buka pintu!”

XVI

NYARIS CELAKA!

DICK membuka kunci sorong sebelah atas dan bawah. Begitu pintu terbuka, ia dengan segera berlari masuk dan menepuk-nepuk punggung George dan Julian. Ia sangat gembira.

“Nah!” katanya. “Bagaimana rasanya diselamatkan?”

“Senang!” seru Julian, sementara Tim ribut mengelilingi mereka.

George nyengir memandang Dick.

“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyanya.

Dick menceritakan dengan singkat. Diceritakannya bagaimana ia menuruni lubang sumur. George dan Julian hanya bisa tercengang-cengang mendengarnya. Julian mengepit lengan adiknya.

“Kau ini hebat!” pujinya. “Benar-benar hebat! Dan sekarang — apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”

“Kalau perahu kita mereka tinggalkan di sini, kita bisa berdayung kembali ke daratan secepat-cepatnya,” kata George. “Aku tak mau dekat-dekat dengan orang yang mengacung-acungkan pistol. Ayohlah! Kita ke atas lewat lubang sumur, lalu pergi ke perahu.”

Ketiga anak itu berlari ke lubang sumur. Satu per satu menyusup ke dalam, lalu memanjattali ke atas. Tak lama kemudian mereka sampai ke tangga besi. Julian memutuskan untuk naik satu persatu. Ia kuatir, kalau-kalau tangga itu tak kuat menahan beban tiga orang anak sekaligus.

Tidak lama sesudah itu mereka sudah berada lagi di luar. Dengan gembira mereka memeluk Anne. Dengan air mata berlinang-linang anak perempuan itu menyatakan kegembiraannya karena bisa melihat saudara-saudaranya lagi.

“Sekarang kita harus bergegas!” kata George setelah itu. “Kita harus ke perahu. Cepat! Sebentar lagi kedua orang itu akan sudah bisa datang lagi!”

Mereka cepat-cepat lari ke teluk kecil. Perahu mereka masih ada di tempat semula. Tetapi sampai di sana, anak-anak kaget.

“Dayung-dayungnya tak ada lagi!” seru George. “Jahat sekali kedua orang itu! Mereka tahu, kita tak bisa pergi kalau tidak ada dayung. Mereka kuatir Dick dan Anne akan lari. Mereka tak mau repot-repot menyeret perahu, dan karenanya mengambil dayung saja. Sekarang kita tidak bisa lari!”

Benar-benar mengecewakan. Anak-anak hampir menangis karena kecewa dan jengkel. Mereka mengira segala-galanya akan beres setelah Dick berhasil menyelamatkan Julian dan George. Tetapi ternyata perkiraan mereka itu meleset!

“Kita harus berpikir tenang-tenang,” ujar Julian. Ia duduk di suatu tempat, dari mana dengan segera akan nampak bila ada perahu atau kapal datang. “Kedua orang itu pergi, mungkin untuk mengambil kapal yang akan dipakai mengangkut emas dan kemudian melarikan diri. Kurasa mereka takkan cepat kembali, karena menyewa kapal agak lama juga urusannya. Kecuali kalau mereka sendiri punya kapal!”

“Sedang kita sendiri tak bisa meninggalkan pulau ini untuk meminta bantuan, karena mereka mengambil dayung perahu kita,” kata George. “Kita juga tak bisa memberi isyarat pada perahu-perahu nelayan, karena saat ini takkan ada satu pun yang lewat. Sekarang belum waktunya yang tepat. Jadi kelihatannya kita akan terpaksa menunggu di sini dengansabar. Kita harus menanti sampai kedua orang itu datang lagi dan mengambil emasku! Kitatidak bisa menghalang-halangi mereka.”

“He — kurasa aku mendapat akal,” kata Julian sambil berpikir-pikir. “Tunggu dulu, jangan mengganggu. Aku sedang berpikir.”

Saudara-saudaranya menunggu dengan diam. Julian duduk dengan kening berkerut. Ia sedangmemikirkan rencananya. Kemudian ia memandang anak-anak sambil tersenyum.

“Kurasa rencanaku akan bisa berhasil,” katanya. “Dengarkan baik-baik! Kita menunggu di sini, sampai kedua orang itu kembali. Kemudian, apa yang akan mereka lakukan? Batu-batuyang bertumpuk di atas jalan masuk ke ruangan bawah tanah akan mereka singkirkan.

Sesudah itu mereka akan turun ke bawah. Mereka akan pergi ke ruangan di mana kami tadi terkurung. Mereka pasti akan menyangka aku dan George masih ada di dalam. Kedua-duanya akan masuk ke dalam ruangan itu. Nah! Sekarang, bagaimana jika salah seorang di antara kita bersembunyi di bawah, siap untuk mengunci pintu begitu mereka masuk? Sudah itu kita bisa pergi dengan perahu motor mereka, atau dengan perahu kita sendiri jika dayung-dayungnya mereka bawa kembali. Kita ke daratan untuk mencari bantuan!”

Menurut pendapat Anne, rencana itu sangat baik. Tetapi Dick dan George kurang yakin.

“Kalau begitu kita harus turun dan mengunci pintu kembali, supaya kelihatannya seakan-akan kita masih terkurung di dalam,” kata George. “Lalu bagaimana jika anak yang bersembunyi di bawah ternyata tak berhasil mengurung kedua orang itu? Tidak mudah menutup pintu cepat-cepat dengan kunci sorong. Jangan-jangan anak yang bertugas menutuppintu kemudian tertangkap oleh mereka! Dan sesudah itu mereka naik lagi untuk mencari kita.”

“Betul juga,” kata Julian sambil termenung. “Katakanlah, Dick yang harus turun ke bawah. Nah! Kalau dia tak berhasil mengunci pintu dan mengurung mereka di dalam, maka tentunya kedua orang itu akan naik ke atas lagi. Baiklah! Sementara mereka di bawah, kita yang berada di atas cepat-cepat menumpukkan kembali bongkah-bongkah batu besar di atas jalan masuk. Jadi mereka tidak bisa ke luar!”

“Bagaimana dengan Dick yang masih di bawah?” tanya Anne cemas.

“Aku bisa naik ke atas lewat sumur lagi,” kata Dick dengan bersemangat. “Akulah yang akan bersembunyi di bawah. Aku akan berusaha sebisa-bisaku, agar kedua orang itu terkurung dalam ruangan yang akan kukunci pintunya dari luar. Kalau tak berhasil dan aku harus lari, aku akan naik lagi lewat lubang sumur. Kedua orang itu tak tahu-menahu tentang lubang kecil yang ada di dinding sumur. Jadi kalaupun mereka tak berhasil dikurung dalam kamar, mereka masih akan terkurung di bawah tanah!”

Anak-anak membicarakan rencana itu. Akhirnya mereka sepakat, bahwa memang itulah jalan sebaik-baiknya yang bisa dipikirkan. Kemudian George mengatakan, sebaiknya mereka makandulu. Mereka sudah sangat lapar, karena perasaan kuatir dan tegang sudah lenyap!

Mereka mengambil makanan dari kamar batu dan memakannya di teluk kecil. Mereka hendak berjaga-jaga terus, menunggu kembalinya kedua orang tadi. Dua jam kemudian mereka melihat sebuah perahu nelayan yang besar muncul di kejauhan. Dan mereka juga mendengar bunyi mesin sebuah perahu motor.

“Itu mereka!” seru Julian sambil bangkit. “Itu kapal yang hendak dipakai untuk melarikan diri dengan mengangkut emas curian! Dan mereka sendiri kembali dengan perahu motor! Cepat, Dick! Turun ke bawah lewat sumur, dan bersembunyi sampai kau mendengar mereka sudah masuk ke dalam ruangan bawah tanah!”

Dick lari dengan segera. Julian berpaling pada George dan Anne.

“Sekarang kita harus bersembunyi,” katanya. “Karena pasang sedang surut, kita bersembunyi saja di balik batu-batu yang nampak di sebelah sana itu. Kurasa mereka takkan mencari Dick dan Anne — tapi siapa tahu! Ayoh, cepatlah sedikit!”

Ketiganya bersembunyi di balik batu-batu yang keluar dari air pada waktu pasang surut itu. Mereka mendengar bunyi mesin perahu motor yang memasuki teluk yang kecil itu. Mereka juga mendengar suara-suara orang yang saling memanggil. Kedengarannya kali ini yang datang lebih dari dua orang. Kemudian orang-orang itu meninggalkan teluk. Mereka mendaki bukit batu rendah, menuju Puri Kirrin.

Julian merangkak keluar dari balik batu. Ia mengintip, karena ingin mengetahui apa yangsedang dilakukan orang-orang yang baru datang. Ia merasa yakin, saat itu mereka sedang menyingkirkan batu-batu yang ditumpukkan di atas jalan masuk ke ruangan bawah tanah.

“Ayoh, George!” kata Julian setengah berbisik. “Kurasa orang-orang itu sekarang sudah

menuruni tangga. Kita harus mencoba mengembalikan batu-batu ke atas jalan masuk. Cepat!”

George, Julian dan Anne lari menyelinap ke pekarangan puri. Ternyata batu-batu yang menutupi jalan masuk sudah disingkirkan, dan orang-orang itu sudah tak kelihatan lagi. Pasti mereka sudah turun ke bawah.

Ketiga anak itu berusaha sekuat tenaga. Mereka menarik-narik bongkah-bongkah batu besar. Tetapi tenaga mereka tak sekuat orang dewasa. Mereka tak berhasil mengembalikan batu-batu besar ke lubang yang merupakan jalan masuk. Karenanya mereka meletakkan tiga bongkah batu yang agak kecil di situ. Julian berharap, mudah-mudahan saja batu-batu ituakan sukar digeser dari bawah!

“Mudah-mudahan Dick berhasil mengurung mereka dalam kamar emas,” katanya. “Ayohlah, kita sekarang ke sumur. Dick harus ke luar lewat sana, karena tak bisa lagi melalui tangga batu.”

Mereka pergi ke sumur. Tutupnya yang dari kayu tergeletak di tanah, karena disingkirkanoleh Dick. Anak-anak memandang ke bawah dari tepi sumur. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Apakah yang sedang dilakukan oleh Dick saat itu? Dari sumur mereka tak bisa mendengar apa-apa di bawah. Mereka ingin sekali mengetahui apa yang sedang terjadidi bawah tanah.

Ternyata kedua orang yang kembali ke daratan, datang lagi dengan ditemani seorang lagi.Mereka bertiga turun ke ruangan bawah tanah. Tentu saja mereka mengira Julian dan George serta anjingnya masih terkurung dalam kamar yang berisi emas. Mereka berjalan melewati dinding sumur. Mereka tak tahu di balik dinding itu sedang bersembunyi seoranganak, yang sudah bersiap-siap ke luar lewat lubang kecil apabila mereka sudah lalu.

Dick mendengar langkah mereka lewat. Ia keluar dari sumur, lalu mengikuti orang-orang itu dari belakang. Ia berjalan dengan hati-hati. Tak terdengar langkahnya menyelinap. Ia bisa melihat cahaya terang, yang berasal dari senter orang-orang yang berjalan di depan. Dick menyelinap lewat lorong-lorong pengap dengan hati berdebar-debar. Akhirnya ketiga orang itu membelok, dan memasuki lorong lebar. Di situlah terdapat ruangan tempat emas tersimpan!

“Di sinilah tempatnya,” terdengar seorang dari mereka berkata. Orang itu menyorotkan senter ke pintu besar. “Emasnya ada di dalam — dan juga kedua anak itu.”

Ia membuka kunci sorong sebelah atas. Sesudah itu menyusul yang sebelah bawah. Dick merasa bersyukur karena tak lupa menutup kembali kedua kunci sorong itu. Bayangkan, kalau ia lupa tadi! Pasti orang-orang itu akan segera tahu bahwa Julian dan George berhasil melarikan diri, dan karenanya segera waspada!

Orang yang memegang senter menyorotkannya ke dalam ruangan. Ia berseru kaget.

“Anak-anak itu tak ada lagi di dalam!” katanya. “Aneh! Di mana mereka?”

Saat itu dua orang sudah berada dalam ruangan, sedang yang ketiga menyusul. Dick melejit ke pintu lalu membantingnya sehingga tertutup dengan suara menggelegar. Gemanyamemantul ke mana-mana. Dengan tangan gemetar, Dick berusaha menarik kunci-kunci sorong.Keduanya sudah kaku karena karatan. Susah sekali menariknya sampai tertutup. Dan sementara itu ketiga orang yang ada di dalam juga tidak tinggal diam.

Dengan cepat mereka berpaling, ketika mendengar pintu ditutup dengan keras. Seorang dari mereka langsung mendorongnya dengan bahu. Saat itu Dick hampir berhasil mengatupkan sebuah kunci sorong. Tetapi ketika ketiga orang yang berada di dalam mendorong pintu secara serempak, kunci itu terlepas lagi!

Dick hanya bisa memandang dengan ngeri. Pintu besar itu terbuka! Ia berbalik, lalu larike lorong yang gelap. Cahaya senter mengejarnya dari belakang dan menyinari tubuhnya. Seketika itu juga ketiga orang itu lari memburunya,

Dick lari ke dinding sumur. Untung saja lubang kecil terdapat di sebelah sana, sehinggaia bisa menyusup ke dalam dengan tidak kelihatan oleh orang-orang yang mengejar. Merekalewat sambil berlari-lari, ketika ia baru saja masuk ke lubang sumur. Tak seorang pun dari mereka mengira bahwa anak yang dikejar berada dalam dinding sumur yang baru saja mereka lewati. Mereka bahkan sama sekali tak tahu bahwa di situ ada sumur.

Dengan tubuh gemetar, Dick memanjat tali yang dibiarkannya tergantung dari anak tangga besi. Begitu sampai di tangga, dibukanya simpul tali. Ia kuatir kalau-kalau ketiga orang yang di bawah menemukan lubang kecil pada dinding sumur, lalu ikut naik lewat tali itu. Tetapi sekarang tidak bisa lagi, karena tali sudah tidak ada lagi!

Dick cepat-cepat menaiki tangga, lalu menyusupkan diri lewat celah sempit antara dinding sumur dan bongkah batu yang tersangkut. Ketiga saudaranya berdiri mengelilingi bibir sumur.

Begitu mereka melihat air muka Dick, dengan segera mereka tahu bahwa anak itu gagal. Dengan cepat mereka menariknya ke atas.

“Gagal,” kata Dick dengan napas terengah-engah. “Aku tak berhasil. Sewaktu aku masih sibuk hendak mengunci, mereka sudah mendobrak pintu lagi. Mereka mengejarku. Untung akumasih sempat menyelinap masuk lubang!”

“Dan sekarang mereka berusaha ke luar lewat jalan masuk!” seru Anne tiba-tiba sambil menunjuk. “Cepat! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita harus cepat-cepat mencari akal, karena kalau tidak sebentar lagi akan tertangkap oleh mereka!”

“Cepat, ke perahu!” seru Julian. Ia lari sambil membimbing tangan Anne. “Ayohlah! Hanyaitu kesempatan kita untuk menyelamatkan diri. Mungkin orang-orang itu akan berhasil menyingkirkan batu-batu yang menutupi jalan.”

Keempat anak itu lari melintasi pekarangan. George mampir sebentar ke kamar batu, lalu keluar lagi dengan membawa kapak. Dick heran melihat saudara sepupunya itu. Tim lari mengikuti mereka sambil menyalak-nyalak.

Mereka sampai di teluk kecil. Perahu mereka masih ada di situ, tetapi dayungnya tidak ada. Perahu motor juga ada di situ. George meloncat ke dalam, lalu berseru dengan gembira.

“Ini dia dayung-dayung kita!” serunya. “Ambillah, Julian — aku masih ada perlu sedikit di sini. Cepat, turunkan perahu kita ke air!”

Julian dan Dick mengambil kedua dayung yang diacungkan oleh George. Sudah itu mereka menyeret perahu ke air. Mereka heran mendengar bunyi berderak-derik dalam perahu motor.Apakah yang sedang dilakukan oleh George di situ?

“George! George! Ayoh, cepatlah sedikit. Orang-orang itu sudah keluar!” seru Julian tiba-tiba. Ia melihat ketiga orang itu berlari-lari menuju ke bukit batu di tepi teluk.George meloncat keluar dari perahu motor, lalu lari ke saudara-saudara sepupunya yang tak sabar lagi menunggu. Mereka mendorong perahu air. Dengan segera George mengambil dayung dan mulai mendayung perahu dengan sekuat tenaga.

Ketiga orang itu berlari ke perahu motor mereka. Sesampai di situ mereka tertegun. Ketiga-tiganya kaget dan marah, karena ternyata perahu mereka rusak. George bekerja tidak kepalang tanggung! Dengan kapak dirusaknya setiap bagian mesin yang bisa tercapai— dan sekarang perahu motor itu tidak bisa dihidupkan lagi mesinnya. Mau dibetulkan juga tidak bisa, karena orang-orang itu tak banyak membawa peralatan.

“Anak nakal!” seru Jake sambil mengacung-acungkan tinju ke arah. George. “Tunggu, akan kubalas nanti!”

“Aku akan menunggu!” teriak George membalas ancaman itu. Matanya berkilat-kilat karena

marah. “Dan kau juga boleh menunggu di situ. Kalian tak bisa lagi meninggalkan pulauku!”

XVII

AKHIR PETUALANGAN YANG SERU

KETIGA orang itu berdiri di pinggir laut sambil memandang perahu yang didayung dengan kuat oleh George, menjauhi pantai. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena perahu motor mereka sudah rusak.

“Perahu nelayan besar yang menunggu di luar tidak bisa lewat di jalan masuk yang sempititu,” kata George sambil mendayung sekuat tenaga. “Ketiga orang itu harus tetap di pulau, sampai ada yang menjemput dengan perahu. Pasti mereka jengkel sekali sekarang!”

Perahu mereka harus lewat dekat perahu nelayan besar. Di situ ada seorang laki-laki. Iamenyapa sewaktu mereka lewat dekatnya.

“Ahoy! Kalian datang dari Pulau Kirrin?”

“Jangan menjawab,” kata George. Karenanya tak seorang pun dari mereka membalas pertanyaan orang itu. Mereka pura-pura tak mendengarnya.

“AHOY!” jerit orang itu dengan marah. “Tulikah kalian? Aku bertanya tadi, apakah kaliandatang dari Pulau Kirrin!”

Anak-anak tetap tak menjawab. Mereka membuang muka, sementara George terus mendayung. Orang yang di perahu nelayan berhenti memanggil-manggil. Ia memandang dengan agak gelisah ke arah pulau di depannya. Ia merasa yakin bahwa anak-anak itu datang dari sana. Dan karena ia juga sudah mendengar cerita kawan-kawannya mengenai hal-hal yang terjadi di situ, maka ia mulai kuatir. Mungkin ada yang tidak beres di sana!

“Barangkali sebentar lagi ia akan menurunkan sekoci dan pergi ke pulau untuk melihat keadaan,” kata George. “Tak banyak yang bisa dilakukannya. Paling-paling menjemput orang-orang tadi, lalu lari dengan membawa beberapa batang emas! Tetapi kurasa mereka takkan berani mengangkut emas, karena kita berhasil melarikan diri dan bisa melaporkan mereka.”

Julian menoleh ke belakang. Beberapa kemudian nampak sebuah sekoci diturunkan dari perahu nelayan ke air.

“Dugaanmu benar,” kata Julian pada George. “Mereka curiga. Sekarang mereka hendak ke pulau untuk menyelamatkan ketiga orang itu. Sayang!”

Begitu haluan perahu mereka mencecah daratan, anak-anak berlompatan ke air yang dangkaldan menarik perahu ke pantai. Tim ikut menarik dengan ekor mengibas kian ke mari. Ia senang sekali ikut-ikut melakukan segala kesibukan anak-anak.

“Apakah Tim harus kita antarkan pulang dulu ke Alf?” tanya Dick.

George menggeleng.

“Tidak,” katanya. “Kita tak boleh membuang-buang waktu lagi. Kita harus cepat-cepat pulang dan menceritakan segala hal yang telah terjadi. Tim akan kutambatkan ke pagar depan rumah.”

Mereka bergegas lari menuju Pondok Kirrin. Bibi Fanny sedang sibuk bekerja di kebun. Iatercengang ketika melihat anak-anak datang tergesa-gesa.

“Kukira kalian baru akan kembali besok atau lusa!” serunya. “Atau ada terjadi sesuatu? Ada apa dengan pipi Dick?”

“Ah, ini soal kecil,” jawab Dick.

“Bibi, mana Paman?” tanya saudara-saudaranya. “Ada sesuatu hal penting yang harus kami ceritakan padanya!”

“Ibu, kami mengalami suatu kejadian seru di pulau,” ujar George menyela, tetapi Julian menyambung lagi,

“Bibi Fanny, banyak sekali yang harus kami ceritakan pada Bibi. Sungguh!”

Bibi Fanny memandang anak-anak yang berpakaian tak keruan itu dengan tercengang.

“Apakah yang telah terjadi di sana?” tanyanya. Kemudian Bibi berpaling ke arah rumah sambil berseru-seru memanggil, “Quentin! Quentin! Anak-anak sudah kembali! Ada sesuatu yang ingin mereka ceritakan padamu!”

Paman Quentin ke luar. Kelihatannya agak marah, karena ia sedang sibuk bekerja.

“Ada apa?” tanyanya.

“Soalnya mengenai Pulau Kirrin, Paman,” ujar Julian bersemangat. “Paman kan belum menjualnya?”

“Yah, boleh dibilang sudah,” jawab Paman Quentin. “Aku sudah menandatangani surat jual belinya, sedang pembelinya akan membubuhkan tanda tangannya besok. Kenapa? Apa urusanmumenanyakannya?”

“Paman, orang-orang itu takkan menandatanganinya besok,” kata Julian. “Paman tahu, kenapa mereka ingin membeli Pulau Kirrin beserta purinya? Bukan karena mereka ingin membangun hotel, atau hal-hal serupa itu! Mereka hendak membelinya, karena tahu bahwa emas yang hilang tersembunyi di sana.”

“Omong kosong apa lagi yang kaukatakan itu?” tukas Paman.

“Bukan omong kosong, Ayah,” seru George dengan tersinggung. “Kata Julian benar. Dalam peta yang Ayah jual ada sebuah peta dari Puri Kirrin. Dan di peta itu tertera di mana kakek dari kakek Ibu menyembunyikan emas yang berbatang-batang itu.”

Ayah George kelihatan heran dan kesal sekaligus. Ia sama sekali tak percaya. Tetapi setelah melihat wajah anak-anak yang begitu bersungguh-sungguh, Bibi Fanny dengan segera menyadari bahwa benar-benar telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Kemudian dengan tiba-tiba Anne menangis tersedu-sedu. Segala ketegangan yang dialami sangat mempengaruhi ketenangannya. Ia tak tahan melihat Paman tak mau mempercayai cerita saudara-saudaranya.

“Bibi Fanny, yang kami ceritakan itu betul,” katanya tersedu-sedu. “Kenapa Paman Quentin tak mau percaya pada kami! Aduh, Bibi Fanny — orang itu membawa pistol, dan Julian serta George dikurungnya dalam ruangan bawah tanah — dan Dick harus turun lewat sumur untuk menyelamatkan mereka. Dan George merusak perahu motor, sehingga mereka tak bisa melarikan diri!”

Bibi dan pamannya tak bisa mengikuti ceritanya yang simpang siur itu. Tetapi Paman Quentin tiba-tiba merasa bahwa persoalannya memang serius, dan patut diperiksa lebih jauh.

“Merusak perahu motor!” katanya. “Untuk apa? Ayoh, kita masuk ke dalam. Aku harus mendengar ceritanya, dari awal sampai akhir. Sukar rasanya bagiku untuk mempercayainya.”

Mereka berbondong-bondong masuk ke rumah. Anne duduk di pangkuan Bibi Fanny, sambil mendengarkan George dan Julian bercerita. Kedua anak itu menceritakannya dengan baik. Tak satu persoalan pun mereka lupakan. Sambil mendengarkan, air muka Bibi semakin bertambah pucat. Apalagi ketika mendengar bagaimana Dick menuruni sumur.

“Kau bisa mati terjatuh,” katanya. “Wah, Dick! Berani benar engkau!”

Paman Quentin mendengarkan dengan heran. Selama itu ia tidak begitu suka pada anak-anak, yang mana pun juga. Apalagi kagum! Selama itu ia menganggap semua anak berisik, rewel dan konyol. Tetapi pandangannya tentang keempat anak yang berada di depannya saatitu berubah dengan segera, setelah ia mendengarkan cerita Julian.

“Kalian sangat cerdik,” pujinya. “Dan juga sangat berani. Aku bangga pada kalian. Ya, betul — aku bahkan sangat bangga. Tak mengherankan bahwa kau tak mau menjual pulau itu,George. Kau tahu bahwa di sana ada emas yang tersembunyi. Kenapa tidak langsung kauceritakan padaku.”

Anak-anak tidak menjawab. Mereka hanya memandangnya saja. Mereka kan tak bisa mengatakan, “Yah, kami tidak menceritakannya — pertama karena Paman toh tak mau percaya. Kedua, Paman cepat marah dan tidak adil. Kami takut! Dan ketiga, kami tidak yakin Paman akan mengambil langkah yang tepat.” Memang, mereka tak mungkin bisa mengatakan hal-hal itu pada Paman.

“Kenapa kalian tidak menjawab?” tanya Paman. Bibi yang menjawabkan untuk mereka.

“Quentin,” ujar Bibi dengan suara lembut, “Anak-anak takut karena kegalakanmu, dan kurasa mereka segan datang menceritakannya padamu. Tetapi sekarang mereka telah bercerita. Jadi sekarang kau bisa mengambil tindakan! Anak-anak tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena mereka masih kecil. Kau harus menelepon polisi dan melaporkan kejadianini. Kita lihat saja, apa yang akan mereka lakukan!”

“Betul,” kata Paman Quentin. Dengan segera ia bangkit. Punggung Julian ditepuk-tepuknya. “Kalian semua telah bekerja dengan baik,” kata Paman. Kemudian diusap-usapnyarambut George yang pendek dan ikal. “Aku juga bangga terhadapmu, George,” katanya. “Kauhebat, seperti anak laki-laki!”

“Wah, Ayah!” ujar George. Mukanya menjadi merah, karena senang dan heran mendengar pujian yang tak tersangka-sangka itu. George tersenyum pada ayahnya. Senyumnya itu dibalas. Anak-anak melihat bahwa Paman berwajah ramah, jika tersenyum. George memang sangat mirip dengan ayahnya. Kedua-duanya tidak kelihatan menarik apabila sedang merajuk dan merengut. Tetapi begitu mereka tertawa atau tersenyum, senang rasanya melihat wajah mereka!

Paman Quentin menelepon polisi. Ia juga menelepon pengacara hukumnya. Anak-anak duduk sambil makan kue dan biskuit. Mereka sibuk bercerita pada Bibi.

Ketika mereka sedang duduk-duduk sambil bercerita, tiba-tiba terdengar suara gonggongannyaring dari arah pekarangan depan. George memandang ke arah suara itu.

“Itu Tim,” ujarnya sambil memandang ibunya dengan was-was. “Aku tadi tak sempat membawanya pulang ke Alf, yang memeliharanya untukku. Ibu, di pulau kami merasa tenteram karena ada Tim. Maaflah karena dia ribut menggonggong sekarang — tapi kurasa dia lapar.”

“Kalau begitu, bawa dia ke mari,” kata Bibi dengan tidak disangka-sangka. “Dia juga besar jasanya! Kita harus memberinya makan yang enak-enak.”

George tersenyum girang. Dengan cepat ia lari ke luar, mendatangi Tim. Begitu tali pengikatnya dilepaskan, anjing itu dengan segera berlari ke dalam sambil mengibas-kibaskan buntutnya yang panjang. Ia berdiri di depan Bibi dengan telinga diruncingkan ke atas.

“Anjing manis,” kata Bibi sambil menepuk-nepuk kepala Tim. Betul, Bibi menepuk-nepuk kepala anjing itu! “Kuambilkan makanan untukmu.”

Tim mengikuti Bibi masuk ke dapur. Julian nyengir memandang saudara sepupunya.

“Coba lihat itu!” katanya pada George. “Ibumu baik sekali, ya?”

“Ya — tapi aku tak tahu apa kata Ayah nanti, bila ia melihat Tim ada lagi di rumah,” jawab George agak ragu-ragu.

Saat itu ayahnya masuk kembali ke ruang makan. Mukanya kelihatan serius.

“Polisi menganggap persoalan ini sangat serius,” katanya. “Begitu pula pendapat pengacaraku. Mereka sama-sama setuju bahwa kalian sungguh-sungguh cerdik dan berani. Dan George — menurut pengacaraku, emas itu sudah jelas milik kita. Banyakkah yang tersimpan di sana? Ada Berapa batang?”

“Ayah! Berapa batang? Beratus-ratus!” seru George. “Sungguh, beratus-ratus batang emas!Semuanya tertumpuk dalam ruangan bawah tanah itu. Wah! Akan kayakah kita, Ayah?”

“Ya,” kata Paman. “Kita akan menjadi kaya. Kita akan cukup kaya, sehingga kau dan ibumuakan mendapat segala benda yang sudah sejak bertahun-tahun ingin kubelikan, tapi tak bisa. Aku sudah cukup keras bekerja demi kalian — tetapi pekerjaanku bukan pekerjaan yang menghasilkan uang bertimbun-timbun! Karena itulah aku menjadi cepat marah dan mudah tersinggung. Tapi sekarang, kau akan mendapat segala-galanya yang kauingini!”

“Sebenarnya semua yang kuingini sudah kupunyai,” kata George. “Tapi masih ada satu yangpaling kuingini, melebihi segala-galanya di dunia ini. Dan Ayah tak perlu membelikannya. Aku bisa mendapatnya dengan cuma-cuma!”

“Ambil saja. Anakku,” kata Paman sambil merangkul George. Anak itu sama sekali tak menyangka ayahnya akan seramah itu terhadapnya. “Katakan saja, apa barang itu! Biarpun mahal, kau boleh memilikinya.”

Saat itu di lorong menuju kamar itu terdengar bunyi langkah-langkah kaki berirama. Sebuah kepala besar dan berbulu tebal mendorong pintu sampai terbuka, lalu memandang semua yang hadir dengan pandangan bertanya. Siapa lagi yang datang, kalau bukan Tim! Paman Quentin memandang dengan terperanjat.

“Loh, itu kan Tim!” serunya. “Halo, Tim!”

“Ayah! Tim yang paling kuingini di dunia ini,” kata George sambil memijit lengan ayahnya. “Ia teman yang menghibur kami selama di pulau — dan ketika kami terancam, ia hendak menerkam dan berkelahi dengan orang-orang itu. Tak ada hadiah yang kuingini selain Tim, Ayah! Aku ingin memeliharanya di sini. Sekarang kita mampu membuatkan kandang untuknya di luar. Akan kujaga jangan sampai Ayah terganggu olehnya. Sungguh!”

“Tentu saja kau boleh mengambilnya,” ujar Paman. Seketika itu juga Tim masuk ke kamar sambil mengibas-kibaskan ekor. Kelihatannya seakan-akan ia memahami seluruh pembicaraanmengenainya. Ia bahkan mengusapkan kepalanya ke tangan Paman. Menurut perasaan Anne, Tim benar-benar berani!

Tetapi Paman Quentin sudah bukan paman mereka yang lama, yang suka marah-marah. Ia kelihatan sangat lega, seolah-olah sudah tersingkir beban berat yang selama itu harus

dipikul olehnya.

Mereka sekarang kaya! George akan bisa dikirim ke sebuah sekolah yang baik. Bibi bisa memiliki segala benda indah yang sudah selalu ingin dihadiahkan Paman kepadanya. Dan Paman sendiri akan bisa melanjutkan pekerjaan yang dicintainya, dengan tidak perlu merasa bersalah karena penghasilannya tidak mencukupi untuk hidup sentosa. Paman memandang berkeliling dengan wajah berseri-seri. Kelihatannya sangat gembira.

George merasa sangat berbahagia, karena diperbolehkan memelihara Tim di rumah. Dipeluknya leher ayahnya. Sudah lama ia tak pernah begitu lagi. Paman nampak heran, tetapi sekaligus juga sangat senang.

“Wah, wah,” katanya. “Bukan main! Benar-benar sangat senang hatiku. Eh — polisi sudah datang?”

Betul. Beberapa orang polisi datang, lalu bicara sebentar dengan Paman. Kemudian seorang dari mereka mencatat laporan anak-anak dalam buku notesnya, sedang yang lain berangkat lagi mengambil perahu untuk pergi ke Pulau Kirrin.

Ternyata ketiga orang itu sudah tak ada lagi di sana. Sekoci yang diturunkan dari perahu nelayan menjemput mereka, dan kini baik perahu nelayan maupun sekoci lenyap! Tetapi perahu motor masih terdampar di pantai teluk. Rupanya ditinggalkan, karena tak bisa dipakai lagi. Inspektur polisi memandang perahu motor itu sambil nyengir.

“Galak benar Georgina,” katanya. “Ia bekerja tak setengah-setengah! Tak mungkin ada orang yang bisa lari dengan perahu motor ini. Kita harus menyeretnya ke pelabuhan.”

Polisi membawa serta beberapa batang emas, untuk ditunjukkan pada Paman Quentin. Pintu ruangan bawah tanah ditutup rapat, supaya tak ada orang bisa masuk sebelum Paman siap untuk menjemput emasnya. Semuanya berlangsung dengan cermat serta melewati jalan yang seharusnya. Menurut perasaan anak-anak, terlalu lamban! Mereka sudah berharap, semoga orang-orang itu tertangkap dan dimasukkan ke penjara — dan polisi membawa semua batang-batang emas sekaligus!

Malam itu mereka capek sekali. Karenanya mereka sama sekali tidak membantah ketika disuruh cepat-cepat tidur oleh Bibi. Mereka berganti pakaian. Sesudah itu Julian dan Dick pergi ke kamar anak-anak perempuan, untuk makan malam bersama di situ. Untuk sekali itu diperbolehkan oleh Bibi. Tim juga hadir, siap untuk menyambar setiap potong roti yang terjatuh ke lantai.

“Wah! Pengalaman kita benar-benar mengasyikkan,” kata Julian sambil menguap lebar-lebar. “Aku agak menyesal, karena sekarang sudah selesai. Tapi ada juga saat-saatnya aku tak menyukainya! Apalagi ketika aku dan George terkurung dalam ruangan bawah tanah.Hih! Seram rasanya.”

George menggigit-gigit kuenya dengan wajah gembira. Ia meringis memandang Julian.

“Bayangkan, mula-mula aku benci ketika mendengar kalian akan berlibur di sini,” katanya. “Aku sudah berniat akan jahat sekali terhadap kalian. Aku ingin membuat kaliantak betah di sini. Dan sekarang, satu-satunya yang bisa menimbulkan kesedihanku adalah pikiran bahwa kalian akan pergi lagi dari sini. Tentu saja kalian akan pulang ke rumah apabila liburan sudah habis! Sesudah mendapat tiga teman baru dan mengalami kejadian-kejadian yang mengasyikkan, aku akan sendirian lagi. Selama ini aku belum pernah merasakesepian. Tapi aku tahu, jika kalian pergi aku akan merasa sepi.”

“Kau tak perlu kesepian,” kata Anne tiba-tiba. “Kau bisa berbuat sesuatu, agar kau tak pernah lagi merasa kesepian.”

“Berbuat apa?” tanya George marah.

“Kau bisa meminta agar disekolahkan di internat yang sama dengan aku,” kata Anne. “Internat itu bagus sekali! Dan kita diperbolehkan membawa binatang kesayangan. Jadi

Tim bisa ikut!”

“Wah! Betul katamu itu?” kata George dengan mata bersinar-sinar. “Kalau begitu, aku mau! Selama ini aku selalu tidak mau — tetapi sekarang aku mau, karena kusadari lebih baik dan senang jika hidup berteman daripada sendirian. Dan kalau aku juga boleh membawa Tim — wah! Hebat!”

“Julian! Dick! Sebaiknya kalian kembali saja ke kamar kalian,” ujar Bibi Fanny yang saat itu muncul di pintu. “Lihat saja — Dick sudah nyaris terguling karena mengantuk! Malam ini kalian pasti bermimpi bagus, karena telah mengalami hal-hal yang bisa kalian banggakan. George — bukankah itu Tim yang berbaring di bawah tempat tidurmu?”

“Wah — betul, Bu,” kata George berpura-pura kaget. “Ya Ampun! Tim, apa yang kaukerjakandi situ?”

Tim merangkak keluar dari bawah tempat tidur, mendekati kaki Bibi Fanny. Ia tetap duduk, sementara kepalanya ditengadahkan. Tim memandang Bibi Fanny, seolah-olah memintadengan sangat.

“Kau kepingin tidur di kamar anak-anak perempuan malam ini?” tanya Bibi sambil tertawa.“Baiklah — sekali ini!”

“Wah, Ibu!” seru George dengan sangat gembira. “Aduh, terima kasih banyak! Bagaimana Ibu bisa tahu, aku malam ini tak ingin berpisah dengan Tim! Aduh, senang sekali hatiku!Tim, kau tidur di atas permadani sana itu.”

Empat anak yang berbahagia berbaring di tempat tidur masing-masing. Pengalaman mereka yang mengasyikkan berakhir dengan kebahagiaan. Masa libur masih panjang. Dan karena Paman Quentin tidak miskin lagi, ia bisa memberikan segala macam hadiah yang ingin diberikan olehnya. George akan bersekolah se-internat dengan Anne. Dan Tim boleh dipeliharanya lagi. Sedang pulau dan Puri Kirrin masih tetap menjadi miliknya pula. Semuanya benar-benar menyenangkan!

“Aku merasa senang karena Pulau Kirrin tidak jadi dijual, George,” kata Anne sambil menguap lebar-lebar. “Aku ikut senang, bahwa pulau itu masih milikmu.”

“Pulau Kirrin juga kepunyaan tiga orang lain,” kata George. “Pulau itu kepunyaanku — dan juga kepunyaanmu serta Julian dan Dick. Aku sudah melihat, enak rasanya jika menikmati sesuatu bersama-sama. Besok aku akan membuat surat akte — kurasa begitu namanya — dan dalamnya akan kutulis bahwa kalian bertiga akan kuhadiahi masing-masing seperempat bagian. Pulau dan Puri Kirrin akan menjadi milik kita bersama!”

“Wah, George! Terima kasih,” kata Anne dengan gembira. “Pasti Julian dan Dick akan sangat senang mendengarnya. Aku merasa ba....”

Tetapi Anne sudah tertidur, sebelum menyelesaikan perkataannya itu. George juga ikut pulas. Kedua anak laki-laki di kamar sebelah sudah terlelap pula. Mereka bermimpi tentang emas berbatang-batang, tentang ruangan-ruangan di bawah tanah dan tentang berbagai kejadian yang mengasyikkan.

Tetapi masih ada yang belum tidur. Tim masih bangun. Ketika melihat George terlelap, anjing itu mendekati tempat tidur. Dikais-kaiskannya kaki depannya ke selimut. George membuka matanya sebentar.

“Wah, Tim! Kita berlima akan mengalami kejadian-kejadian yang asyik lagi, ya?”

Betul! Tetapi itu cerita lain.

Scan & DJVU:

pelestaribuku

http://pelestaribuku.wordpress.com

Konversi, Edit, Spell & Grammar Check:

clickers

http://epublover.blogspot.com

http://facebook.com/epub.lover

(Pengeditan HANYA dengan metode pemeriksaan Spell & Grammar, bukan full-edited)