File Sinopsis

Download File Sinopsis

Post on 10-Jul-2015

193 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN QURAN HADIS DI MTS SYAROFUL MILLAH SEMARANG</p> <p>SINOPSIS</p> <p>Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam</p> <p>oleh: AHMAD MUHTARIZUL MAHASIN SYAROFI NIM : 095112061</p> <p>PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2011</p> <p>Implementasi Metode Pembelajaran Inkuiri Dalam Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Quran Hadis Di MTs Syaroful Millah Semarang A. MUHTARIZUL MAHASIN S. Abstrak : Pembelajaran mata pelajaran Quran Hadis di madrasah saat ini masih menunjukkan berbagai permasalahan. Mayoritas metode pembelajaran yang digunakan selama ini lebih ditekankan pada metode konfensional seperti ceramah dan hafalan, akibatnya siswa kurang memahami kegunaan dan manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam materi Quran Hadis. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Syaroful Millah Penggaron Kidul Pedurungan Semarang, menunjukkan bahwa hasil belajar dan aktivitas belajar siswa masih rendah (ketuntasan belajar klasikal masih sebesar 47,6% dan aktivitas belajar siswa 52%). Salah satu penyebabnya adalah metode pembelajaran yang digunakan berupa metode ceramah dan hafalan. Penelitian ini menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Alasan pemilihan metode inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kandungan Quran dan Hadis dengan investigasi yang dilakukan oleh siswa yang merupakan tulang punggung metode inkuiri. Metode ini mengupayakan penanaman dasardasar berfikir pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak belajar sendiri dan mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Dari sini diharapkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dirancang dua siklus dengan tiga kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Syaroful Millah Penggaron Kidul Pedurungan Semarang, pada semester II tahun pelajaran 2010/2011, yang berjumlah 42 orang siswa terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 20 siswi perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april sampai dengan bulan mei 2010. Setelah melakukan aplikasi model, observasi proses, evaluasi hasil, dan refleksi perilaku pembelajaran sebanyak dua siklus, diperoleh data bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Quran Hadis. Evaluasi selama proses pembelajaran berupa tes dan observasi menunjukkan adanya peningkatan. Aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 76% dan menjadi 87% pada siklus II dan Hasil belajar dari siklus I sebesar 73,8% menjadi 95,2% pada siklus II ini berarti ketuntasan individual dan klasikal tercapai.</p> <p>Kata Kunci: Inkuiri, aktivitas belajar, prestasi belajar.</p> <p>1</p> <p>A. Pendahuluan Masalah yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Syaroful Millah Penggaron Kidul Pedurungan Semarang dalam pembelajaran Quran Hadis di kelas VII adalah kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran yang akhirnya mengakibatkan kurang tuntasnya hasil belajar yang dicapai. Indikasi ini berdasarkan pengamatan awal peneliti terhadap proses pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Quran Hadis siswa kelas VII MTs Syaroful Millah. Hasil observasi awal peneliti, menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang selama ini sering digunakan adalah metode ceramah, maju hafalan dan mengerjakan soal LKS. Penggunaan metode-metode tersebut menyebabkan beberapa siswa terlihat agak bosan, kurang aktif dan kurang bersemangat dalam pembelajaran, terutama siswa dari latar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD) non keagamaan. Beberapa siswa juga terlihat kurang memperhatikan guru yang sedang mengajar, tidak bertanya tentang materi yang belum dipahami dan tidak pernah mengungkapkan pendapat terkait materi pembelajaran. Hal tersebut dikuatkan dengan ketuntasan hasil belajar siswa yang masih banyak dibawah KKM (nilai 65). Berdasarkan data yang diperoleh dari guru mata pelajaran Quran Hadis, Fauzi, S.Ag., dari 42 siswa kelas VII, nilai mid semester ganjil tahun 2010/2011, yang berada dibawah KKM sebanyak 19 siswa (44,23%), sedangkan pada semester ganjil tahun 2010/2011, nilai siswa yang berada dibawah KKM sebanyak 11 siswa (26,19%). Melihat hasil observasi awal ini, maka dapat diketahui beberapa permasalahan pembelajaran Quran Hadis di kelas VII MTs Syaroful Millah Semarang., yakni: 1. Hasil belajar siswa masih rendah (nilai rata-rata kelas 62,5 masih di bawah nilai ketuntasan individual yaitu 6,5 dan ketuntasan klasikal 47,6% masih jauh dari standar nilai ketuntasan klasikal yaitu 85% siswa mencapai nilai ketuntasan individu 6,5.</p> <p>2</p> <p>2.</p> <p>Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah seperti yang tercantum dalam tabel 3.1, adapun aktivitas yang paling rendah yaitu aktivitas partisipasi dalam penyampaian ide atau gagasan dan aktivitas bertanya.</p> <p>3.</p> <p>Rendahnya nilai hasil belajar siswa ini diasumsikan disebabkan oleh rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang disebabkan oleh penggunaan metode mengajar guru yang tidak mengacu pada metode mengajar siswa aktif (guru lebih sering menggunakan metode ceramah). Peneliti tidak menilai bahwa metode pembelajaran yang selama ini</p> <p>digunakan adalah salah atau kurang baik, akan tetapi perlu dilakukan inovasi penggunaan metode pembelajaran mata pelajaran Quran Hadis agar siswa dapat ikut aktif terlibat dalam pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan mata pelajaran Quran Hadis pada tingkat MTs yaitu agar peserta didik gemar untuk membaca al-Quran dan Hadits dengan benar, serta mempelajari, memahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya.1 Uzer, mengemukakan bahwa untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif setidaknya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa, yakni (1) melibatkan siswa secara aktif, (2) menarik minat dan perhatian siswa, (3) membangkitkan motivasi siswa, (4) prinsip individualitas, serta (5) peragaan dalam pengajaran.2 Penggunaan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, baik kesesuaian waktu maupun kesesuaian penggunaan perangkat pembelajaran yang ada, agar mampu membantu mensukseskan standar kompetensi yang akan dilaksanakan dalam kurikulum tersebut. Berbagai macam metode pembelajaran yang berkembang saat ini, antara satu dengan yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda.3 Tetapi dari berbagai macam bentuknya, metode pembelajaran diterapkan untuk mencapai tujuan yang sama yaitu untuk memotivasi belajar siswa sehingga tercipta proses belajar mengajar yang aktif, kondusif dan menyenangkan.</p> <p>3</p> <p>Menyikapi perihal di atas, diperlukan suatu perumusan dan pemilihan penggunaan metode yang tepat, terarah, efektif dan efisien dalam pembelajaran, agar proses pembelajaran akan benar-benar menghasilkan peserta didik yang berkepribadian, memiliki keterampilan dalam menjalani kehidupannya dengan baik.4 Salah satu metode pembelajaran yang dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inkuiri. David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry, mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: Inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, Inkuiri berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.5 Istilah discovery sering dipertukarkan pemakaiannya dengan penyelidikan (inquiry). Menurut pendapat Sund (1975) sebagaimana dikutip oleh Suryosubroto, discovery adalah proses mental di mana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Sedangkan inquiry menurut dia dibentuk meliputi discovery. Dengan kata lain, inquiry adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya.6 Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran Inkuiri sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode Inkuiri memiliki lima komponen umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources.7 Alasan rasional penggunaan metode Inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kandungan Quran dan Hadis. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode Inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Quran dan Hadis.</p> <p>4</p> <p>Metode Inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode Inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan, namun dimungkinkan juga, masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.8 Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti apakah dengan menggunakan metode pembelajaran Inkuiri ini dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Quran Hadis di MTs Syaroful Millah Penggaron Kidul Pedurungan Semarang.</p> <p>B. Implementasi Metode Pembelajaran Inkuiri Dalam Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Quran Hadis 1. Belajar Dalam bukunya the Psychology Of Learning And Memory, Hintzman berpedapat bahwa learning is a change in behavior as a result and experience. Artinya, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.9 Menurut Arno F. Wittig: learning is relatively permanent change in behavior that occurs as a result of experience. Artinya belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang di hasilkan dari praktek pengalaman.10 Proses belajar adalah berbuat, bereaksi, menjalani, mengalami menghayati.11</p> <p>5</p> <p>Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.</p> <p>2. Aktivitas Belajar Saat ini, pendidikan lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan apabila siswa mengalami aktivitas yang baik, maka dapat mengoptimalkan hasil belajar. Aktivitas siswa tersebut meliputi seluruh aspek dalam diri siswa, baik fisik, mental, intelektual, maupun emosional. Aktivitas siswa dalam pembelajaran dikembangkan melalui tanya jawab, berfikir kritis, diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam pelaksanaan praktikum, pengamatan, diskusi dan mempertanggungjawabkan segala hasil dari pekerjaan yang ditugaskan. Aktivitas, dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah keaktifan, kegiatan, atau kesibukan.12 Dalam kegiatan belajar mengajar, setiap siswa terdapat prinsip aktif yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Kemauan berbuat dan bekerja dalam belajar inilah yang dinamakan aktivitas belajar.13 Berdasarkan pemaparan diatas, aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran untuk mengembangkan aspek fisik, mental, intelektual, maupun emosional sebagai pengalaman dan latihan siswa dalam interaksi dengan lingkungannya. Soemanto,14 Djamarah15 menyebutkan contoh aktivitas belajar dalam beberpa situasi, yaitu: a. b. c. d. e. f. g. Mendengarkan. Memandang Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap Menulis atau mencatat Membaca. Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi. Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan. 6</p> <p>h. i. j. k.</p> <p>Menyusun paper atau kertas kerja. Mengingat. Berpikir. Latihan atau praktek Oemar Hamalik,16 dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, menyebutkan</p> <p>pengklasifikasian aktivitas belajar oleh para ahli sebagai berikut: a) Paul D. Dierich, membagi aktivitas belajar dalam 8 kelompok, yaitu: a. Kegiatan-kegiatan visual. b. Kegiatan-kegiatan lisan (oral). c. Kegiatan-kegiatan mendengarkan. d. Kegiatan-kegiatan menulis. e. Kegiatan-kegiatan menggambar. f. Kegiatan-kegiatan metrik. g. Kegiatan-kegiatan mental. h. Kegiatan-kegiatan emotional. b) Gretude M. Whipple, membagi aktivitas belajar siswa sebagai berikut: a. Bekerja dengan alat-alat visual. b. Ekskursi dan trip. c. Mempelajari masalah-masalah. d. Mengapresiasi literatur. e. Ilustrasi dan konstruksi. f. Bekerja menyajikan informasi. g. Cek dan test. 3. Hasil Belajar Dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia, hasil adalah sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh usaha, pikiran.17 Hasil adalah perolehan, atau tercapainya suatu maksud atau tujuan. Jadi hasil belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang dari suatu kegiatan belajar mengajar (KBM). Hasil belajar dapat juga dipandang sebagai ukuran seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai. Dengan kata lain hasil belajar</p> <p>7</p> <p>siswa dapat diartikan sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 18 Adapun faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut: 1. Faktor Eksternal a) Lingkungan Ketika siswa berada di sekolah, maka dia berada dalam system sosial di sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus ditaati. Lahirnya peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku siswa yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah. Lingkungan sosial budaya diluar sekolah ternyata merupakan sisi kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan siswa di sekolah.19 b) Instrumental Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tersebut tentu saja pada tingkatan kelembagaan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Semua dapat diperdayagunakan menurut fungsi masing-masing kelengkapan sekolah. Kurikulum dapat dipakai guru dalam merencanakan program pengajaran. Program sekolah dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaikbaiknya agar berdaya guna dan berhasil guna bagi kemajuan belajar siswa di sekolah. 2. Faktor Internal a) Kondisi Fisiologis Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlaina...</p>