fakultas teologi universitas kristen satya · pdf filemencapai gelar sarjana teologi . program...

Click here to load reader

Post on 06-Mar-2019

251 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

Peran Pastoral Gereja Masehi Injili Di Timor(GMIT) Getsemani Asam Tiga Terhadap

Pengungsi Timor Leste Yang Mengalami Trauma Pasca Referendum 1999

OLEH

ARIF MENDEL DJARA

712011038

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Teologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk

Mencapai Gelar Sarjana Teologi

Program Studi Teologi

FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2016

2

PERAN PASTORAL GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR (GMIT) GETSEMANI

ASAM TIGATERHADAP PENGUNGSI TIMOR LESTE YANG MENGALAMI

TRAUMA PASCA REFERENDUM 1999

712011038 - ARIF MENDEL DJARA

Abstrak

Tulisan ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa peranan pastoral

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Getsemani Asam Tiga terhadap pengungsi Timor Leste

yang mengalami trauma pasca referendum 1999. GMIT Getsemani Asam Tiga merupakan salah

satu jemaat yang memiliki kuantitas warga pengungsi dari Timor Leste yang cukup tinggi.

Para pengungsi dari Timor Leste pasca referendum mengalami gangguan psikologis dan

trauma karena mengalami depresi penolakan, rasa bersalah, dan kegelisahan. Dalam upaya

mencapai tujuan penulisan ini maka metode penelitian yang dipakai ialah metode deskriptif

kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi langsung. Informan

sebagai sumber data dalam penelitian ini yaitu GMIT Asam Tiga yang terdiri dari pelayan

maupun para jemaat yang notabene adalah pengungsi dari Timor Leste dan beberapa orang

yang tinggal di pos-pos pengungsi di Naibonat Kupang Nusa Tenggara Timur. Keadaan yang

dialami para pengungsi pasca konflik di Timor Leste menjadi salah satu hal yang perlu

diperhatikan oleh berbagai pihak, salah satunya oleh gereja sebagai lembaga keagamaan. Jemaat

GMIT Getsemani Asam Tiga melihat adanya suatu kebutuhan yang perlu dilakukan bagi jemaat

pengungsi yaitu melalui perkunjungan pastoral. Peran pastoral dapat menolong para

pengungsi yang secara psikis mengalami traumatik bahkan melalui berbagai pelayanan seperti

memberikan sembako (diakonia), serta menunjukan rasa penerimaan terhadap orang-orang

Timor Leste.

Kata Kunci: Peran Pastoral Gereja, Trauma, Timor Leste

3

PERAN PASTORAL GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR (GMIT)

GETSEMANI ASAM TIGATERHADAP PENGUNGSI TIMOR LESTE

YANG MENGALAMI TRAUMA PASCA REFERENDUM 1999

I. PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Konflik merupakan pergumulan kekuasaan atas berbagai perbedaan, sehingga

konflik didefinisikan sebagai keadaan-keadaan baik emosional maupun subtansi yang

dapat dihasilkan oleh adanya berbagai perbedaan antara pihak-pihak yang karena alasan

apapun berada dalam hubungan yang tegang satu dengan yang lainnya.1 Ralf Dahrendorf

berpendapat bahwa semua perubahan merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat.2

Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik sosial dan perubahan sosial, selalu

melekat dalam struktur masyarakat. Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan

kelas masyarakat antara kelompok tertindas dengan kelompok penguasa, sehingga akan

mengarah pada perubahan sosial.

Konflik kelas sosial memberikan dampak perubahan sosial terhadap sisi psikologi

pihak yang menjadi korban, seperti melakukan tindakan kriminal yaitu membunuh

seseorang yang dicurigai, mencuri serta menjarah bahkan membunuh diri dengan cara

membakar diri sendiri dan mengalami gangguan stress pasca trauma atau yang dikenal

Pasca-traumatic stress disorder (PTSD) yang adalah gangguan kecemasan yang

didiagnosis ketika seseorang mengalami, menyaksikan atau berhadapan dengan suatu

peristiwa atau peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau terancam atau serius

cedera, atau ancaman bagi integritas fisik diri atau lainnya dan respon orang terlibat

1 J.D. Engel, M.Si, Gereja dan Masalah Sosial,(Salatiga:Tisara Grafika,2007).105

2 Ralf Dahrendrof, Class Conflict In Industrial Society,(California:Stanford University Press,1959).8

4

ketakutan, ketidakberdayaan atau horor.3 Sehingga di dalam konseling pastoral tetap

menggunakan konsep-konsep psikologi konseling atau psikoterapi pada umumnya,

seperti hubungan pertolongan (helping rela-tionship) atau relasi terapeutik. Sepanjang

sejarahnya, konseling pastoral terinspirasi secara variatif oleh berbagai pendekatan

teoretis maupun praktis dalam psikologi, seperti (1) Psikoanalisis Sigmund Freud (yang

menekankan ketidaksadaran; yang menurut sejumlah ahli dapat sejalan dengan

konsepteologis imoralitas), (2) Psikoanalisis Carl Gustav Jung (yang menekankan

pentingnya kenyataan spiritual dalam kepribadian), (3) Psikoterapi interper-sonal (yang

berfokus pada dinamika pengalaman dan kualitas relasi,kelekatan dan kehilangan,

komunikasi dan konflik), (4) Psikologi kognitif (yang menekankan fungsi dan asumsi-

asumsi kognitif).4 Dilihat adanya keterikatan antara konflik, psikologi, dan pastoral oleh

sebab itu menurut, Howard C. Pastoral dapat dan sepantasnya terjadi dalam semua fungsi

pelayanan, termasuk di dalamnya gangguan emosional.5

Orang-orang yang mengalami gangguan emosional sebagai hasil dari berbagai

persoalan di dalam rumah tangga yang terpengaruh dalam tubuh, pikiran, jiwa dan

kehidupan sosial mereka juga terganggu. Mereka membutuhkan dukungan dan

penyembuhan karena psikologis yang kompleks dari gangguan emosional yang sering

ada di dalam diri mereka. Sigmund Freud mengatakan,telah menjadi sebuah anggapan

umum bahwa orang-orang yang menderita dari kemalangan psikologis dapat dibantu

dengan berbicara tentang hal tersebut. Jika akar penyebab dapat disingkapkan dan diakui,

hal tersebut dapat menangani korban dari emosi dan dampak dari masalah-masalah yang

dihadapi termasuk masalah trauma.6

Menurut Harvey, trauma is a specific term referring to extreme psychological

and psychological reactions to major losses, such as the death of close other, yang

3 Bilal,Muhammad Sami, Rana Mowadat Hussain, Ullah Khan,Cool Safi,Qayyum Rashid, Eficacy of Eye movement

Desensitization and Reprocessing Beyond Complex Post Traumatic Strees Disorder: A Case Study of EMDR in Pakistan, Professional Medical Journal, 2015, Vol 22 Issue 4,p514-521.8p. 4 Nasib Sembiring dan Yosef Dedy Pradipto, Psikologi Konseling Pastoral,(Yogyakarta: Kanisius,2013), halaman

pengantar editor ahli - V 5 Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), halaman

32 6 Davies, Petronella J.; Dreyer, Yolanda, A pastoral psychological approach to domestic violence

in South Africa, Hervormde Teologiese Studies. 2014, Vol. 70 Issue 3, p1-8. 8p.

5

berarti bahwa trauma adalah salah satu konsep yang spesifik yang mengarah kepada

suatu kondisi psikologis yang berujung kepada suatu kehilangan kesadaran yang di

akibatkan oleh kematian dan hal-hal lain sebagainya. 7 Perasaan yang ditimbulkan oleh

pengalaman traumatik tersebut dapat mengakibatkan reaksi yang cukup ekstrim baik pada

fisik maupun psikis seseorang. Ini merupakan tanda bahwa trauma adalah sebuah

kejadian yang tidak biasa yang mungkin bisa terjadi akibat peristiwa kehilangan yang

mendalam, seperti kematian dari keluarga, pasangan atau orang-orang yang mempunyai

hubungan cukup erat dengannya. Saat seseorang mengalami peristiwa yang menyebabkan

trauma, ia akan mengalami berbagai dampak dari pengalaman traumatic tersebut.

Dampaknya seperti perasaan tergoncang, kekacauan dalam hidup, merasa adanya

penolakan, depresi, rasa bersalah, kegelisahan hingga perasaan diserang.

Merupakan hal yang sering terjadi apabila seseorang yang mengalami atau

menyaksikan kejadian mengerikan seperti bencana alam, kecelakaan, terorisme, perang,

atau kematian seseorang yang dicintai akan mengalami trauma, seperti yang terjadi dan

dialami oleh para pengungsi Timor Leste yang berada di Nusa Tenggara Timur, beberapa

mungkin sudah mengalami kesembuhan dan kembali beraktivitas normal, namun masih

ada dan masih banyak yang mengalami trauma berkelanjutan sehingga mengembangkan

gangguan stress pasca trauma.

Pasca referendum Timor Leste pada tahun 1999, yang mengakibatkan lepasnya

Timor Leste dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, menimbulkan masalah baru yaitu

pengungsi merupakan salah satu masalah yang timbul pasca jajak pendapat 1999. Mereka

adalah para pengungsi yang mengalami gangguan psikologis dan trauma karena

mengalami depresi penolakan, rasa bersalah, dan kegelisahan. Hal tersebut

mengakibatkan terjadinya arus pengungsi Timor Leste yang ke Provensi Nusa Tenggara

Timur pada tahun 1999, sekitar 250.000 orang, sebagian besar dari mereka tinggal di pos

pos pengungsian yang tersebar di Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah

Selatan dan Kupang, laporan lain mengatakan bahwa para pengungsi kembali ke Timor

Leste dari waktu ke waktu dan berdasarkan pada informasi tahun 2001, terdapat 120.000

pengungsi Timor Leste di NTT. Dari kabupaten Timor Tengah Utara mereka diberitahu

View more