evaluasi kinerja pegawai di kantor kecamatan sumur

Click here to load reader

Post on 01-Dec-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

SUMUR KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2014
S K R I P S I
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial
Pada Program Studi Administrasi Negara Konsentrasi Manajemen Publik
Disusun oleh :
MAMAN NURALAM
NIM : 6661081097
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
diiringi oleh rasa syukur, kesabaran dan keikhlasan”
PERSEMBAHAN
Semoga skripsi ini dapat menjadi awal tanda terima kasih
atas seluruh pengorbanan yang telah diberikan
demi keberhasilanku.
Pegawai Di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang Tahun 2014.
Pembimbing I : Dr. Ayuning Budiati., M.PPM dan pembimbing II :
Listyaningsih, S.Sos., M.Si
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pegawai di Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang saat ini serta untuk mengetahui seberapa besar
persentase kinerja pegawai menurut tanggapan masyarakat sebagai obyek dari
pelayanan publik di kantor Kecamatan Sumur. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode kuantitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
desain deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate area
random sampling dengan jumlah sebanyak 96 responden. Pengolahan data
penelitian dilakukan dengan menggunakan alat uji statistik yakni SPSS Versi 17.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa prosentase kinerja pegawai kantor
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang tahun 2015 sebesar 44% atau lebih
kecil dari nilai yang dihipotesiskan sebesar 65%. Berkaitan dengan kinerja yaitu
kuantitas, kualitas pekerjaan dan kreatifitas pegawai berada dalam kondisi yang
kurang baik dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Pimpinan
Kecamatan Sumur sebaiknya dapat melakukan evaluasi kinerja pegawai negeri
sipil secara lebih menyeluruh berkaitan dengan melakukan pembinaan jiwa korps
dan kode etik kerja, pelatihan komputer untuk pemerintahan, peningkatan disiplin
kerja dengan menyempurnakan aturan dan tata tertib dalam bekerja, melakukan
pengawasan melekat dan memberikan sanksi kepada pegawai yang melanggar
peraturan dan tata tertib yang berlaku di Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang.
ABSTRACT
Program University of Sultan Ageng Tirtayasa . Thesis. Employee Performance
Evaluation in the Office of Pandeglang District Sumur 2014. Supervisor : Dr.
Ayuning Budiati., M.PPM and mentors II : Listyaningsih, S. Sos., M.Si
This study aimed to evaluate the performance of employees in the Office of
Pandeglang District Sumur at this time and to know how large a percentage of
employee performance according to community feedback as an object of public
service in the office of the District Sumur. The method used is quantitative
method. The design used in this study consisted of descriptive design. The
sampling technique using proportionate random sampling area with a total of 96
respondents. Processing of research data conducted by using statistical test of the
SPSS Version 17. Based on the findings, note that the percentage of employee
performance in the Office of Pandeglang District Sumur in 2015 amounted to
44% or less than the hypothesized by 65%. Relating to the performance of that
quantity, the quality of the work and creativity of employees are in a poor state in
providing public services to the community. Leaders District Sumur should be
able to conduct a performance evaluation of civil servants more thoroughly with
regard to fostering soul corps and the code of ethics of work, computer training
for government, improvement of labor discipline by refining rules and regulations
in work, to supervise the inherent and sanction employees which violate the rules
and regulations applicable in Pandeglang District Sumur.
Keywords : Employee Performance Evaluation, District Sumur
KATA PENGANTAR
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya kepada
penulis sehingga dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Evaluasi Kinerja
Pegawai Di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang Tahun 2014”
dapat diselesaikan.
Maksud dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu
syarat mencapai gelar Sarjana pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang
Banten. Penulis bersyukur mendapat bantuan dari semua pihak selama proses
penyusunan skripsi serta mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. H. Soleh Hidayat, Drs., M.Pd, sebagai Rektor Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si, sebagai Dekan Fakultas Fisip
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Kandung Sapto N., M.Si, sebagai Wakil Dekan I Fakultas Fisip
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Mia Dwianna, S.Ikom., M.Si, sebagai Wakil Dekan II Fakultas Fisip
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Gandung Ismanto, S.Sos., M.M, sebagai Wakil III Dekan Fakultas
Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
i
Administrasi Negara Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang
Banten.
7. Dr. Ayuning Budiati M.PPM, sebagai pembimbing I yang telah
memberikan arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
8. Listyaningsih, S.Sos., M.Si, sebagai pembimbing II yang telah
memberikan arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
9. Seluruh Staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untirta Banten.
10. Bapak Dr. Epi Sutiasa, M.Si, selaku Kepala Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang yang telah mengizinkan dan membantu
penulis selama melakukan kegiatan penelitian ini.
11. Bapak E. Hadi Kusuma, SE, selaku Sekretaris Kecamatan yang telah
membantu penulis selama proses pengumpulan data penelitian.
12. Buat kedua orang tuaku, beserta keluarga besarku atas semua
pengorbanan yang diberikan kepada penulis selama ini, baktiku untuk
orangtuaku.
13. Buat istriku tercinta, yang setia menemani suami selama penyusunan
skripsi ini, I Love U.
Penulis berharap kritik dan saran dari semua pihak untuk dapat
memperbaiki skripsi ini. Semoga karya kecil ini bermanfaat bagi semua pihak.
Serang, 17 Mei 2015
2.1 Deskripsi Teori……….....................................................................................13
2.3.4 Faktor-faktor dalam Evaluasi Kinerja…………………...……….......18
2.4 Penelitian Terdahulu……………….................................................................19
2.5 Kerangka Berfikir…………….........................................................................21
2.6 Hipotesis………………………………….……..............................................23
3.4 Populasi dan Sampel……….............................................................................29
3.5 Teknik Pengumpulan data………....................................................................33
3.6.1 Teknik Pengumpulan Data……..............................................................34
3.6.2 Tekknik Analisis Data…….....................................................................35
4.2 Deskripsi data.....…..........................................................................................40
4.3 Pengujian Hipotesis………..............................................................................73
Tabel 4.1 Uji Validitas Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Sumur (tahap I)........42
Tabel 4.2 Uji Validitas Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Sumur (tahap II)......44
Tabel 4.3 Uji Realibilitas Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Sumur...................45
Tabel 4.4 Tanggapan Respon Mengenai Pegawai Dapat Menyelesaikan
Pekerjaan..................................................................................................46
Antrian.....................................................................................................47
Pekerjaan..................................................................................................48
Tabel 4.8 Tanggapan Responden Mengenai Kerapihan Penyelesaian
Pekerjaan..................................................................................................50
Tabel 4.11 Tanggapan Responden Mengenai Sikap Cekatan dalam Bekerja...........53
Tabel 4.12 Tanggapan Responden Mengenai Daya Tanggap Pegawai.....................54
Tabel 4.13 Tanggapan Responden Mengenai Pegawai Memiliki Respon yang
Cepat........................................................................................................55
Tabel 4.15 Tanggapan Responden Mengenai Keterampilan Dalam Pengarsipa.......57
Tabel 4.16 Tanggapan Responden Mengenai Latar Belakang Pendidikan
Pegawai...................................................................................................58
Tabel 4.18 Tanggapan Responden Mengenai Masa Kerja yang Cukup....................60
Tabel 4.19 Tanggapan Responden Mengenai Kemampuan Menyelesaikan
Masalah....................................................................................................61
Tabel 4.21 Tanggapan Responden Mengenai Komunikasi yang Baik......................63
Tabel 4.22 Tanggapan Responden Mengenai Komunikasi Pimpinan dan
Bawahan..................................................................................................64
Menyelesaikan Pekerjaan Sesuai Bidang Kerjanya.................................65
Gagasan....................................................................................................66
Tabel 4.26 Tanggapan Responden Mengenai Hadir dan Pulang Tepat Waktu.........68
Tabel 4.27 Tanggapan Responden Mengenai Mematuhi Tata Tertib..............,........69
Tabel 4.28 Tanggapan Responden Mengenai Mengenakan Atribut Kepegawaian...70
Tabel 4.29 Tanggapan Responden Mengenai Kinerja Pegawai................................71
Tabel 4.30 Statistik Deskriptif (One Sample Statistic)..............................................73
Tabel 4.31 Ranking Dimensi Kinerja Pegawai Kecamatan Sumur...........................76
vi
Gambar 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia................……….....………..41
Gambar 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan.....……….....………...41
Gambar 4.4 Pengukuran Kinerja Secara Kontinum........................……….....………..75
vii
Birokrasi merupakan suatu sistem kerja yang berdasarkan atas tata
hubungan kerja sama antara jabatan-jabatan secara langsung mengenai persoalan
yang formil menurut prosedur yang berlaku dan tidak adanya rasa sentimen tanpa
emosi atau pilih kasih, tanpa pamrih dan prasangka. Menurut Subarsono
(2012:14), birokrasi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengorganisir secara
teratur suatu pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang.
Tata Pemerintahan yang baik (Good Governence) menjadi slogan
penyelenggaraan tata kelola pemerintahan mulai dari pusat hingga daerah ini
memerlukan Pegawai Negeri Sipil sebagai penggerak instansi pemerintah yang
memiliki kecakapan kerja, memiliki kedisiplinan, dapat bekerjasama dengan baik,
memiliki daya tanggap, bertanggung jawab serta taat kepada aturan hukum. Jika
hal ini dilaksanakan secara terprogram (sistemik) dan berkelanjutan dapat
meningkatkan kinerja instansi pemerintah dalam memberikan pelayanan-
pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai salah satu provinsi yang tergolong muda baru yang baru berdiri
selama kurang lebih 12 tahun, Provinsi Banten sampai saat ini terus berupaya
untuk dapat melaksanakan tata kelola aparatur pemerintahannya baik pada
tingkatan provinsi hingga tingkatan kabupaten. Secara geografis, Provinsi Banten
berada pada wilayah yang sangat strategis yaitu sebagai pintu gerbang antara
1
2
Pulau Sumatera dan Pulau Jawa serta berbatasan dengan Jakarta sebagai Ibukota
Negara. Posisi ini sangat menguntungkan bagi perkembangan kegiatan
perekonomiannya, bila pemerintah daerah dapat menggunakan kesempatan dan
memanfaatkan segala sumber daya yang dimilikinya secara optimal.
Strategisnya letak Provinsi Banten berpotensi menarik masyarakat luar
Banten untuk hidup dan menetap di Provinsi ini. Hal ini tentunya perlu mendapat
perhatian dari aparatur pemerintahan yang ada dalam rangka memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat Banten. Semakin heterogen masyarakatnya
maka akan semakin kompleks pula masalah yang harus ditangani oleh pemerintah
daerah setempat. Oleh karena itu dibutuhkan pegawai negeri sipil yang
profesional dan dapat diandalkan.
Kewajiban pegawai negeri sipil memberikan pelayanan publik tertuang
didalam Undang – undang No 43 Tahun 1999, pada pasal 3 menyatakan
bahwasanya pegawai negeri sipil berkedudukan sebagai pegawai negara yang
bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara professional,
jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintah dan
kegiatan pembangunan.
Kemudian guna dapat mengemban tugas tersebut, salah satu upaya yang
dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja pegawai negeri sipil ialah
dengan melakukan pembinaan jiwa dan korps pegawai negeri sipil pada seluruh
aparatur pemerintahan yang ada di Provinsi Banten maupun di tiap Kabupaten,
termasuk di dalamnya aparatur pemerintahaan di Kabupaten Pandeglang. Upaya
pembinaan jiwa dan korps pegawai negeri sipil tertuang pada Peraturan
3
Pemerintah No 53 tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil yang
didalamnya menerangkan kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi oleh setiap
pegawai negeri sipil. Dengan adanya peraturan pemerintah tersebut diharapkan
pegawai negeri sipil akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja atau
prestasi kerjanya.
Menurut Syamsudin (2007 : 42), pegawai negeri sipil dalam menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya memiliki tiga (3) peranan. Hal ini tentunya juga
berlaku untuk pegawai di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang baik
yang pegawai sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil maupun pegawai yang
masih honorer. Adapun 3 peranan tersebut sebagai berikut :
1. Pegawai kecamatan sebagai pengembang misi organisasi. Sebagai pengembang misi organisasi, pegawai Kantor Kecamatan
Sumur diharapkan dapat menjadi penggagas ide dan inovasi untuk
dapat mengembangkan daerah-daerah yang ada di lingkungan
kecamatannya yang bertujuan untuk membangun kemandirian
masyarakat dan membangkitkan atau menstimulasi kegiatan penduduk
khususnya yang berkaitan dengan kegiatan perekonomian demi upaya
pemerataan pembangunan.
Sebagai pimpinan organisasi, Kantor Kecamatan Sumur merupakan
instansi puncak di Daerah Sumur yang menaungi desa-desa atau
kelurahan yang berada di lingkungan kecamatannya. Di dalam desa
tersebut, terdapat berbagai macam organisasi baik organisasi formal
(pemerintah desa, Kodim, Polsek, sekolah, puskesmas, dan lain
sebagainya) maupun organisasi non formal (badan usaha perseorangan
maupun kelompok, ormas, paguyuban dan lain sebagainya) yang
membutuhkan arahan serta kerjasama agar segala kebijkana maupun
tindakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tersebut sesuai
dengan mekanisme atau prosedur yang ada dan tidak melanggar
peraturan hukum yang berlaku.
Sebagai pekerja, pegawai kecamatan memiliki fungsi untuk dapat
menjalankan kegiatan keadministrasian dan tugas-tugas lainnya yang
ada di Kantor Kecamatan. Dengan kata lain, pegawai kecamatan harus
dapat bekerja dengan memberikan pelayanan publik sesuai dengan
standar kerja yang telah ditetapkan oleh kecamatan.
4
dengan jelas hak dan kewajiban pemberi pelayanan (pegawai Kecamatan Sumur)
dan yang diberi pelayanan (masyarakat Kecamatan Sumur). Tidak dapat diingkari
bahwa rakyat atau masyarakat pada setiap daerah memiliki hak untuk mengawasi
jalannya instansi pemerintahan, yakni pegawai di Kantor Kecamatan Sumur.
Kegiatan pengawasan dan penyampaian keluhan bisa disampaikan secara
langsung kepada instansi pelaksananya yakni Kecamatan Sumur maupun melalui
lembaga-lembaga perwakilan rakyat seperti tokoh-tokoh di desa, ormas dan lain
sebagainya. Menurut Ikhsan (2009 : 3-4), menyatakan bahwa instansi yang
bertugas sebagai penyelenggara jasa pelayanan publik harus memiliki kemauan
dan proaktif terhadap upaya-upaya perbaikan atau peningkatan kinerjanya serta
memberikan ruang publik bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat
baik berupa penilaian, evaluasi, keluhan, saran dan pengawasan.
Saat ini, bentuk-bentuk dari pelayanan publik yang dapat dilakukan oleh
Kecamatan Sumur kepada masyarakat Kecamatan Sumur baik secara langsung
maupun melalui perwakilan petugas dari desa (kelurahan) disajikan pada tabel
berikut ini :
No Jenis Pelayanan Lama Waktu
1 KTP elektronik (e-ktp) 2 – 3 minggu
2 Kartu keluarga (KK) 2 – 3 minggu
3 Akte kelahiran 3 minggu
4 STPT tanah 1 – 2 minggu
5
5 Pajak bangunan dan bumi 1 – 2 minggu
6 Keterangan penduduk / domisili 20 – 30 menit
7 Surat nikah 2 – 3 minggu
8 Surat jual beli hewan 20 – 30 menit
9 Surat keterangan tidak mampu 15 – 20 menit
10 SKCK 20 – 30 menit
11 Surat kematian 10 – 20 menit
12 Surat bepergian 20 – 30 menit
Sumber : Data Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, 2014
Dalam rangka mengetahui kinerja pegawai di kantor Kecamatan Sumur
berkaitan dengan pelayanan publik diperlukan sebuah evaluasi kinerja.
Pelaksanaan evaluasi kinerja bertujuan untuk mengetahui pencapaian atau
realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian visi dan
misi dengan cara pemberian penilaian guna perbaikan pelaksanaan suatu kegiatan
atau program untuk masa yang akan datang.
Menurut Gandung (2010 : 157), hasil evaluasi kinerja dapat diperoleh
dengan cara melakukan pengukuran (kuantifikasi) kinerja yang diperlukan untuk
dapat memberikan penilaian seberapa besar perbedaan (gap) antara kinerja aktual
saat ini dengan kinerja yang diharapkan. Dengan diketahuinya perbedaan (gap)
tersebut, maka upaya perbaikan dan peningkatan kinerja dapat dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, diketahui bahwa
ditemukan beberapa kondisi faktual yang diduga sebagai masalah atau hambatan
yang terjadi saat ini di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang berkaitan
6
menjadi gambaran keseharian dari aktifitas pegawai kantor Kecamatan Sumur.
Pertama, adalah pegawai kantor Kecamatan Sumur sering ditemukan
terlambat masuk kerja dari jam masuk kerja yang seharusnya yakni jam 7.30 Wib.
Selain itu, terdapat beberapa pegawai kantor kecamatan yang tidak masuk kerja
tanpa keterangan atau membolos, bermain game di saat jam kerja, istirahat
sebelum tiba waktu istirahat, pulang sebelum waktunya tanpa izin pimpinan untuk
mengurus keperluan pribadi, jarang ada pegawai yang ada di ruang piket kantor
sebagai front office dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat (Sumber :
penelitian lapangan dan lampiran daftar hadir pegawai, 2014).
Kedua, pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat secara langsung
maupun melalui perwakilan dari sekretaris desa (carik) untuk mengurus KTP
elektronik (e-KTP), pembuatan kartu keluarga (KK) serta akte kelahiran terkesan
dipersulit oleh oknum pegawai kantor Kecamatan Sumur. Bentuk dipersulitnya
kepengurusan tersebut seperti menunda pelayanan, meminta berkas persyaratan
yang sebenarnya tidak diperlukan, lama waktu pemerosesan e-ktp dan kartu
keluaraga hingga satu setengah bulan dimana waktu normalnya adalah 2-3
minggu serta terdapat oknum pegawai yang meminta sejumlah uang dalam bentuk
isyarat agar permintaan dapat lebih cepat diproses (Sumber : hasil wawancara
dengan Sekretaris Desa Sumber Jaya, Hari selasa, 10 Juni 2014).
Ketiga, pegawai Kantor Kecamatan Sumur dianggap kurang berkompeten.
Hal ini ditunjukkan dari 28 pegawai Kantor Kecamatan Sumur hanya ada 5 orang
yang menguasai atau dapat mengoperasionalkan komputer. Selain itu, saat ini
7
terdapat pegawai satpol PP yang bertugas sebagai pegawai Kantor Kecamatan
Sumur yang sebenarnya tidak tercatat sebagai pegawai Kecamatan Sumur secara
sah atau legal (Sumber : hasil wawancara dengan Sekretaris Desa Kerta Mukti,
Hari Kamis, 12 Juni 2014).
Keempat, pegawai Kantor Kecamatan Sumur dianggap tidak memiliki
kecakapan kerja yang memadai. Hal ini ditunjukkan dengan pegawai tidak
mengerti prosedur atau mekanisme kerja untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan
seperti tidak hafal syarat-syarat pembuatan surat keterangan tidak mampu,
pengurusan STPT tanah, surat keterangan izin usaha kecil menengah dan lain
sebagainya. Namun hal yang cukup memprihatinkan adalah etos kerja dan
keterampilan pegawai dalam memberikan pelayanan publik kurang baik yang
akhirnya membangun citra negatif kepada Kantor Kecamatan Sumur yang dinilai
oleh masyarakat tidak bisa bekerja dengan baik(Sumber : hasil wawancara dengan
masyarakat Sumber Jaya, Hari selasa, 10 Juni 2014).
Kelima, pegawai Kantor Kecamatan Sumur tidak pernah melakukan
pembinaan kepada aparatur pemerintahan desa atau kelurahan berkaitan dengan
mekanisme dan kegiatan keadministrasian publik. Akibat dari tidak
dilaksanakannya pembinaan atau penyuluhan tersebut, banyak sekretaris desa
(carik) yang menjadi bingung apabila dimintai untuk mengurus berkas-berkas
yang mereka inginkan seperti pembuatan e-ktp, kartu keluarga, surat pengantar
SKCK, surat keterangan domisili, surat keterangan tidak mampu dan lain
sebagainya(Sumber : hasil wawancara dengan Kepala Desa Kerta Jaya, Hari
selasa, 10 Juni 2014).
terindikasi terlibat pelanggaran netralitas PNS dalam hal politik. Hal tersebut
terlihat oleh peneliti dalam observasi awal di lapangan, ada oknum PNS yang
membicarakan dan mengarahkan PNS terhadap partai politik tertentu ketika jam
kerja masih berlaku pada momen pemilihan presiden periode tahun 2014.
Terkadang oknum pegawai tersebut menggunakan fasilitas Kantor untuk kegiatan
mobilisasi dan kampanye yang dilakukan secara terang-terangan (Sumber : hasil
wawancara dengan masyarakat Sumber Jaya, Hari selasa, 10 Juni 2014).
Ketujuh, tidak adanya pemberian penghargaan dan sanksi (reward and
punishment). Dalam hal pemberian penghargaan hampir tidak pernah
dilaksanakan sama sekali di Kantor Kecamatan Sumur. Sedangkan sanksi
hukuman hanya dilakukan dalam bentuk teguran lisan saja padahal kesalahannya
mengharuskannya diberikan sanksi dalam bentuk lain yang lebih tegas (Sumber :
hasil wawancara dengan Sekretaris Desa Sumber Jaya, Hari selasa, 10 Juni 2014).
Kedelapan, Kepala Camat jarang melakukan pengawasan dan evaluasi
berkaitan dengan kinerja dari pegawainya. Hal ini dipengaruhi karena Kepala
Camat lebih sering pergi ke luar dan jarang berada di Kantor Kecamatan Sumur
sehingga pegawai tidak dapat dikontrol pekerjaannya. Di samping itu, Kepala
Camat dinilai tidak memiliki kepemimpinan yang kuat dan berkarakter sehingga
mampu mengontrol kerja dari bawahannya (Sumber : hasil wawancara dengan
masyarakat Sumber Jaya, Hari selasa, 10 Juni 2014).
9
Berdasarkan fenomena permasalahan diatas yang saat ini terjadi di Kantor
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang tentunya akan memberikan dampak
yang kurang baik yakni menurunnya kinerja pegawai yang bekerja di Kecamatan
Sumur. Selain itu, apabila hal ini tidak segera ditindaklanjuti maka opini
masyarakat yang akan terbentuk nantinya adalah pegawai Kantor Kecamatan
Sumur diragukan kredibilitasnya serta memperoleh pencitraan yang kurang baik.
Hal ini menarik dan mendorong peneliti untuk melakukan kajian lebih
mendalam mengenai kinerja Pegawai pada kantor Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang Provinsi Banten yang kemudian peneliti tetapkan sebagai lokasi
penelitian. Penelitian ini kemudian diangkat dalam bentuk skripsi yang berjudul
“Evaluasi Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang Tahun 2014”
1.2 Identifikasi Masalah
masalah berkaitan dengan kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang sebagai berikut :
1. Pegawai kantor Kecamatan Sumur sering ditemukan terlambat masuk
kerja dari jam masuk kerja yang seharusnya yakni jam 7.30 Wib, tidak
masuk kerja tanpa keterangan, bolos kerja, bermain game di saat jam
kerja, istirahat sebelum tiba waktu istirahat, pulang sebelum waktunya
tanpa izin pimpinan untuk mengurus keperluan pribadi, jarang ada
pegawai yang ada di ruang piket kantor.
10
dipersulit oleh oknum pegawai kantor Kecamatan Sumur.
3. Pegawai Kantor Kecamatan Sumur dianggap kurang berkompeten
khususnya dalam mengoperasikan komputer. Hal ini ditunjukkan dari
28 pegawai Kantor Kecamatan Sumur hanya ada 5 orang yang dapat
mengoperasionalkan komputer. Selain itu, saat ini terdapat pegawai
satpol PP yang bertugas sebagai pegawai Kantor Kecamatan Sumur
yang sebenarnya tidak tercatat sebagai pegawai yang sah.
4. Pegawai Kantor Kecamatan Sumur dianggap tidak memiliki
kecakapan kerja yang memadai. Hal ini ditunjukkan dengan pegawai
tidak mengerti prosedur atau mekanisme kerja untuk menyelesaikan
sebuah pekerjaan.
pembinaan kepada aparatur pemerintahan desa atau kelurahan
berkaitan dengan mekanisme dan kegiatan keadministrasian publik.
6. Terdapat oknum pegawai Kantor Kecamatan Sumur yang terindikasi
terlibat pelanggaran netralitas PNS dalam hal politik. Oknum pegawai
membicarakan dan mengarahkan PNS terhadap partai politik tertentu
ketika jam kerjadan menggunakan fasilitas Kantor untuk kegiatan
mobilisasi dan kampanye yang dilakukan secara terang-terangan.
7. Tidak adanya pemberian penghargaan dan sanksi (reward and
punishment) sehingga memperlemah motivasi kerja pegawai.
11
8. Pimpinan Kecamatan yakni Kepala Camat jarang melakukan
pengawasan dan evaluasi berkaitan dengan kinerja dari pegawainya.
Hal ini dipengaruhi karena Kepala Camat lebih sering pergi ke luar
dan jarang berada di Kantor Kecamatan Sumur.
1.3 Batasan Masalah
peneliti memberikan batasan masalah guna memperkecil fokus pembahasan dalam
penelitian ini yakni mengenai “Evaluasi Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang Tahun 2014”.
1.4 Rumusan Masalah
Kabupaten Pandeglang tahun 2014 ? ”
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini
adalah untuk mengetahui evaluasi kinerja pegawai pada Kantor Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang.
Dari judul penelitian “Evaluasi Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang Tahun 2014”, peneliti berharap akan memberikan
manfaat yang berarti baik secara teoritis maupun secara praktis. Berikut ini
manfaat yang diharapkan oleh peneliti yang antara lain :
1.6.1 Manfaat Teoritis
pengetahuan mengenai instansi pemerintah terkait.
2. Diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran khususnya bagi
pengembangan ilmu Administrasi Negara.
memiliki kesamaan variabel penelitian.
1. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan saran yang tepat dalam
rangka meningkatkan kinerja pegawai sehingga Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang dapat meningkatkan kinerja pegawai
dan dapat memberikan pelayanan publik secara prima.
2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan mampu memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai kinerja pegawai di Kantor
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang.
2.1 Deskripsi Teori
generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan
perilaku dalam berbagai organisasi. Deskripsi teori ini merupakan acuan dasar
dalam menunjang sebuah penelitian, sebagaimana yang peneliti lakukan. Pada
bagian deskripsi teori ini dimaksudkan untuk dapat mengetahui teori-teori apa saja
yang digunakan sebagai referensi yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan teori kinerja pegawai. Adapun penjelasan dari
teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini.
2.2 Teori Organisasi Publik
kehidupan. Organisasi dalam siklus hidupnya mengalami masa-masa layaknya
manusia seperti lahir, tumbuh, dewasa, tua dan mati. Namun agak berbeda sedikit
dengan manusia, organisasi dapat senantiasa diperbaharui. Ketika siklusnya mulai
menurun, organisasi harus segera berbenah dan menyesuaikan dengan
lingkungannya agar dapat sejalan dengan perkembangan zaman.
Publik berasal dari bahasa latin “Public” yang berarti “of people” yaitu
berkenaan dengan masyarakat. Menurut Syafi’i (1999 : 22), mendefinisikan
publik ialah sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berpikir, perasaan,
13
14
harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma
yang mereka miliki. Dengan kata lain publik tidak langsung diartikan sebagai
penduduk, masyarakat, warga negara ataupun rakyat, karena kata-kata tersebut
berbeda.
sebagai birokrasi pemerintah. Menurut Taliziduhu (1999 : 14), mendefinisikan
organisasi publik sebagai berikut :
“Organisasi yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan msyarakat akan jasa publik dan layanan kemasyarakatan”.
Menurut Sutarto (2002 : 25), organisasi publik dapat didefinisikan sebagai
berikut :
untuk pencapaian maksud bersama”.
kewenangan yang absah (terlegitimasi) di bidang politik, administrasi
pemerintahan, dan hukum secara terlembaga sehingga mempunyai kewajiban
melindungi warga negaranya, dan melayani keperluannya, sebaliknya berhak pula
memungut pajak serta menjatuhkan hukuman sebagai sanksi penegakan hukum.
Organisasi ini bertujuan untuk melayani kebutuhan masyarakat demi
kesejahteraan sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi sebagai pijakan dalam
kegiatan operasionalnya. Organisasi publik berorientasi pada pelayanan kepada
masyarakat tidak pada keuntungan. Menurut Thoha (2001 :58), memprediksi
bahwa organisasi-organisasi dimasa mendatang yang salah satunya di bidang
15
sifat yang unik.
menganalisis lebih lanjut struktur formal yang ada. Sehingga banyak dijumpai
organisasi-organisasi tandingan yang nonstruktural. Keadaan seperti ini sering
dinamakan gejala proliferation dalam organisasi. Suatu pertumbuhan yang cepat
dari suatu organisasi, sehingga banyak dijumpai organisasi-organisasi formal yang
nonstruktural yang dibentuk untuk menerobos kesulitan birokrasi.
2.3 Teori Kinerja Pegawai
perusahaan. Dengan kinerja pegawai yang baik pada suatu perusahaan, maka
perusahaan tersebut akan dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.
Menurut Cordoso Gomes (2006 : 135), mendefinisikan kinerja sebagai
berikut ini :
“Catatan outcome yang dihasilkan fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu tertentu”.
Menurut Anwar Prabu (2011 : 67), mendefinisikan kinerja sebagai berikut :
“Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya”.
yaitu :
berbagai kemungkinan seperti standar hasil kerja, target dan sasaran atau
kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama”.
Menurut Winardi (2003 : 118), mengatakan bahwa pengertian kinerja
sebagai berikut :
Menurut Pasolong (2007 : 176), mendefinisikan kinerja adalah :
“Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Dalam hal ini jika hasil kerja ingin menempati nilai baik maka
dalam bekerja harus benar-benar disiplin dalam segala hal yang positif.
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja
merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas
yang sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya selama waktu tertentu.
2.3.2 Pengertian Evaluasi
Rangkaian dari fungsi pengawasan dalam manajemen salah satunya adalah
penilaian (evaluating). Proses evaluasi atau penilaian sangat penting dalam proses
manajemen, karena dalam evaluasi itulah dapat dipastikan ada atau tidak adanya
kemajuan manajemen dalam menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dengan evaluasi yang sistematik dan tepat dapat diketahui adanya kemunduran
atau kemajuan sehingga dilakukan tindakan tepat untuk memperbaikinya.
17
“Proses pembandingan antara standar dengan fakta dan analisis hasilnya”.
Selain itu, menurut Payaman (2005 : 105), mendefinisikan penilaian
(evaluasi) sebagai berikut :
sejauhmana kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan hasil semestinya (target).
2.3.3 Pengertian Evaluasi Kinerja
yang penting yaitu evaluasi dan pengawasan. Evaluasi kinerja merupakan metode
dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau
unit-unit kerja organisasi atau instansi.
Menurut Payaman (2005 : 73), evaluasi kinerja juga dapat berarti sebagai
penilaian kinerja sebagai bahwa :
Selain itu, menurut Anwar Prabu (2005 : 75), mendefinisikan evaluasi atau
penilaian kinerja sebagai berikut :
“Suatu proses yang digunakan pimpinan untuk menentukan apakah seorang karyawan melakukan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya”.
sebagai berikut :
“Evaluasi yang sistematis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat
dikembangkan. Penilaian dalam proses penafsiran atau penentuan nilai,
kualitas atau status dari beberapa objek orang ataupun sesuatu (barang)”.
Menurut Payaman (2005 : 141), bahwa ada beberapa tahap yang dapat
dilakukan dalam evaluasi kinerja yaitu:
1. Tahap pertama, menghimpun semua informasi yang berkaitan dengan kinerja dimaksud, baik menyangkutkinerja peroranganatau kelompok
orang, maupun menyangkut kinerja unit kerja atau kinerja lembaga
secara keseluruhan.
yang dihimpun, sehingga kinerja termuat dalam informasi tersebut.
3. Tahap ketiga, membuat kajian atas kinerja, serta membandingkannya
dengan tolok ukur atau sasaran yang harus dicapai.
4. Tahap keempat, menarik kesimpulan dari pelaksanaan penilaian.
5. Tahap kelima, merumuskan saran-saran tindak lanjut.
Dari beberapa pendapat diatas, disimpulkan bahwa sistem penilaian kinerja
ialah proses untuk mengukur prestasi kerja pegawai berdasarkan peraturan yang
telah ditetapkan, dengan cara membandingkan sasaran (hasil kerjanya) dengan
persyaratan deskripsi pekerjaan (target pekerjaan) selama periode tertentu.
2.3.4 Faktor-faktor dalam Evaluasi Kinerja
Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja pegawai, terdapat beberapa
faktor yang lebih difokuskan kepada individu dalam suatu organisasi. Menurut
Marihot (2005 : 52) faktor-faktor dalam evaluasi kinerja antara lain :
19
1. Kuantitas Pekerjaan (Quantity of Work). Merupakan volume atau banyaknya beban pekerjaan atau jumlah yang
harus diselesaikan oleh seseorang pegawai diukur dari kemampuan
secara kuantitatif di dalam mencapai target atau hasil kerja sesuai
dengan apa yang dibebankan.
Merupakan tingkat sejauh mana pekerjaan itu baik atau buruk buat
pegawai ini dapat dilihat dari segi ketelitian, kerapian kerja, kecepatan
untuk menyelesaikan pekerjaan, keterampilan dan kecekatan pegawai
dalam bekerja.
Merupakan proses penempatan seseorang pegawai yang disesuaikan
dengan background pendidikan atau keahliannya dalam suatu
pekerjaan. Hal ini dapat ditinjau dari kemampuan pegawai dalam
memahami hal-hal berkaitan dengan tugas yang mereka lakukan.
4. Kerjasama Tim (Team Work)
Merupakan upaya kerjasama antar sesama pegawai dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Kerjasama tidak hanya sebatas
vertikal atau kerjasama antar pegawai, akan tetapi kerjasama secara
horisontal pun merupakan faktor yang sangat penting dalam
kehidupan berorganisasi yaitu dimana pimpinan organisasi dan para
pegawainya terjalin suatu hubungan yang kondusif dan menghasilkan
hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
5. Kreatifitas (Creatifity).
setiap pekerjaan dengan cara-cara atau inisiatif sendiri dianggap
efektif dan efisien serta mampu menciptakan perubahan. Perubahan
guna untuk melakukan perbaikan demi kemajuan organisasi.
2.4 Penelitian Terdahulu
ditunjang dari buku literatur juga dari jurnal penelitian terdahulu yang memiliki
kesamaan variabel dengan variabel dalam penelitian ini. Adapun penelitian
terdahulu dengan kesamaan variabel penelitian disajikan pada tabel berikut:
20
pegawai pada kantor
Badan Pusat Statistik
kinerja karyawan pada
PT. Jamsostek Kantor
Cabang Gatot Subroto
pengembangan karir
terhadap kinerja
Disiplin kerja pegawai negeri sipil di Kantor Dinas Badan Keluarga
Berencana
dinas BKBPMP Kabupaten Serang
78.84%
tanggung jawabnya. Kecamatan Sumur memiliki kewajiban memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan
atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa (kelurahan) guna
mempermudah urusan keadministrasian dan pelayanan publik lainnya kepada
masyarakat yang ada di wilayah tugasnya.
Dalam rangka mengetahui kinerja pegawai di kantor Kecamatan Sumur
berkaitan dengan pelayanan publik diperlukan sebuah evaluasi kinerja.
Pelaksanaan evaluasi kinerja bertujuan untuk mengetahui pencapaian atau
realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian visi dan
misi dengan cara pemberian penilaian guna perbaikan pelaksanaan suatu kegiatan
atau program untuk masa yang akan datang. Hasil evaluasi kinerja diperoleh
dengan cara melakukan pengukuran (kuantifikasi) kinerja yang diperlukan untuk
dapat memberikan penilaian seberapa besar perbedaan (gap) antara kinerja aktual
saat ini dengan kinerja yang diharapkan. Dengan diketahuinya perbedaan (gap)
tersebut, maka upaya perbaikan dan peningkatan kinerja dapat dilakukan
(Gandung, 2010 : 157).
membuata kerangka pemikiran yang disajikan pada gambar dibawah ini :
Permasalahan Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang
1. Pegawai kantor Kecamatan Sumur sering terlambat masuk kerja, tidak masuk kerja
tanpa keterangan, bolos kerja, bermain game di saat jam kerja, istirahat sebelum tiba
waktunya, pulang sebelum waktunya tanpa izin pimpinan, jarang ada pegawai yang
ada berjaga di ruang piket kantor.
2. Pelayanan publik untuk mengurus KTP elektronik (e-KTP), pembuatan kartu
keluarga (KK) serta akte kelahiran terkesan dipersulit oleh oknum pegawai.
3. Pegawai kecamatan dianggap kurang berkompeten khususnya dalam
mengoperasikan komputer. Hal ini ditunjukkan sedikit sekali pegawai yang bisa
mengoperasionalkan komputer. Selain itu, terdapat pegawai satpol PP yang bertugas
sebagai pegawai Kantor Kecamatan Sumur yang sebenarnya tidak tercatat sebagai
pegawai yang sah. 4. Pegawai Kantor Kecamatan Sumur dianggap tidak memiliki kecakapan kerja yang
memadai. Hal ini ditunjukkan dengan pegawai tidak mengerti prosedur atau
mekanisme kerja untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.
5. Pegawai Kantor Kecamatan Sumur tidak pernah melakukan pembinaan kepada
aparatur pemerintahan desa atau kelurahan berkaitan dengan mekanisme dan
kegiatan keadministrasian publik.
6. Oknum pegawai Kantor Kecamatan Sumur yang terindikasi terlibat pelanggaran
netralitas PNS dalam hal politik. Oknum pegawai membicarakan dan mengarahkan
PNS terhadap partai politik tertentu menggunakan fasilitas Kantor untuk kegiatan
kampanye
7. Tidak adanya pemberian penghargaan dan sanksi (reward and punishment) sehingga
memperlemah motivasi kerja pegawai.
8. Pimpinan Kecamatan yakni Kepala Camat jarang melakukan pengawasan dan
evaluasi berkaitan dengan kinerja dari pegawainya. Hal ini dipengaruhi karena
Kepala Camat lebih sering pergi ke luar dan jarang di Kantor Kecamatan Sumur.
(Survey lapangan oleh Peneliti, 2014)
Indikator Evaluasi Kinerja
Indikatornya, antara lain:
3. Pengetahuan Kerja (Job Knowledge).
4. Kerjasama Tim (Team Work)
5. Kreatifitas (Creatifity).
Kabupaten Pandeglang saat ini
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
teori yang relevan belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang
diperoleh melalui pengumpulan data.
ini sebagai berikut :
Jika H0 ; µ ≥ 65%, maka Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang dikatakan berhasil jika lebih dari 65%.
2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Jika Ha ; µ ≤ 65%, maka Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang dikatakan tidak berhasil jika kurang
dari 65%.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha yang digunakan untuk mengetahui
metode ilmiah. Menurut Sugiyono (2011 : 43), metode penelitian merupakan cara
ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam
penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yaitu
pendekatan yang menjelaskan nilai suatu variabel dengan mengolah data-data
yang ada kedalam suatu angka.
Sedangkan desain penelitian memberikan gambaran kepada penulis
mengenai langkah–langkah yang harus dilakukan secara sistematis dengan
mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang benar. Sehingga keberadaan desain
penelitian ini akan sangat membantu dan memudahkan penulis untuk dapat
memecahkan permasalahan yang sedang diteliti.
Adapun desain penelitian yang digunakan oleh penulis dalam melakukan
penelitian ini adalah desain Deskriptif. Menurut Sugiyono (2011 : 44), desain
deskriptif adalah desain yang menjabarkan atau melukiskan sifat atau karakteristik
dari sesuatu fenomena tertentu. Desain ini dapat memberikan gambaran yang
sebenarnya di lapangan dengan cara mengumpulkan data. Pada umumnya desain
digunakan untuk penelitian yang menggunakan variabel mandiri dan atau tanpa
melakukan perbandingan atau mencari korelasi antar variabel.
24
25
bidang kerjanya
2 Pegawai Kecamatan dapat memberikan pelayanan publik pada saat terjadi antrian
masyarakat (umumnya terjadi pada hari
senin dan selasa)
3.2 Intrumen Penelitian
angket yang disebarkan kepada responden yang menjadi sampel penelitian.
Kemudian peneliti membuat dimensi dari evaluasi kerja yang diklasifikasikan
sebagai berikut ini :
b. Lama waktu penyelesaian pekerjaan
2. Kualitas Pekerjaan, terdiri dari :
a. Ketelitian dalam bekerja
b. Kerapihan dalam bekerja
c. Kecepatan dalam bekerja
b. Pengalaman kerja pegawai
a. Hubungan kemanusian antara sesama pegawai
b. Hubungan kerja antara sesama pegawai
5. Kreatifitas, terdiri dari :
b. Kedisiplinan pegawai
ditabulasikan dan di interpretasikan satu persatu. Adapun tabel keterkaitan antara
dimensi dengan indikator dan item pertanyaan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Keterkaitan Dimensi, Indikator dan Item Pertanyaan
26
3 Pegawai Kecamatan dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan batas waktu
yang diberikan
4 Pegawai Kecamatan dapat mempercepat waktu penyelesaian pekerjaannya dari waktu normalnya
2 Kualitas Pekerjaan
Ketelitian dalam bekerja
5 Pegawai Kecamatan memiliki ketelitian dalam bekerja, khususnya ketika melayani
keperluan atau permintaan masyarakat
6 Pegawai Kecamatan dapat segera melakukan perbaikan apabila ditemukan kesalahan dalam hasil pekerjaannya
Kerapihan pekerjaan 7 Pegawai Kecamatan memiliki kerapihan dalam menyelesaikan pekerjaannya yang
ditunjukkan dari sedikitnya kesalahan yang
mereka lakukan
keperluan atau permintaan masyarakat
terkode dan tertata rapih
10 Pegawai Kecamatan memiliki sikap yang cekatan dalam bekerja
11 Pegawai Kecamatan memiliki daya tanggap yang baik dalam menterjemahkan atau
menafsirkan permintaan atau keluhan dari
masyarakat yang datang
12 Pegawai kecamatan memiliki respon yang cepat terhadap permintaan untuk
menyelesaikan pekerjaan atau keluhan dari
masyarakat yang datang
khususnya komputer
pengarsipan (pengkodean dan penataan
15 Pegawai Kecamatan memiliki ketrampilan dalam surat menyurat baik secara manual
maupun secara elektronik (email)
16 Pegawai Kecamatan memiliki latar belakang pendidikan yang cukup minimal sarjana tingkat satu
17 Pegawai Kecamatan dapat memberikan arahan yang tepat jika ditemukan
persyaratan keadministrasiannya tidak
Pengalaman kerja pegawai
18 Pegawai Kecamatan telah memiliki lama masa kerja yang cukup yaitu minimal
pernah menjadi pegawai honorer agar tidak
perlu dilakukan penataran atau pendidikan
ulang mengenai tugas dan tanggung
jawabnya
19 Pegawai Kecamatan memiliki cara pandang yang luas dalam menangani pekerjaan atau menyelesaikan permasalahan yang ada
4 Kerjasama Tim
21 Pegawai Kecamatan memiliki komunikasi yang baik
Hubungan kerja antara sesama
23 Pegawai Kecamatan memiliki komunikasi yang baik, antara pimpinan dan
bawahannya
pekerjaan dengan membagi pekerjaan
Kreatifitas 25 Pegawai Kecamatan memiliki ide dan gagasan dalam meningkatkan kinerja atau
ketika menyelesaikan suatu permasalahan
pekerjaannya atau ketika menyelesaikan
27 Pegawai Kecamatan mampu menyerap aspirasi masyarakat atas pelayanan yang
diberikan saat ini untuk merumuskan
mekanisme pelayanan yang lebih baik lagi
28
waktu
29 Pegawai Kecamatan tidak keluar kantor sebelum jam kerja selesai atau mengurus keperluan pribadi tanpa izin pimpinan
30 Pegawai kecamatan menggunakan atribut kepegawaian secara lengkap, rapih dan
bersih
Sedangkan skala pengukuran instrumen yang digunakan adalah skala Likert. Skala
Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang
fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini diterapkan secara spesifik
oleh peneliti yang disebut sebagai variabel penelitian (Sugiyono, 2010:107).
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi
indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai tolak ukur
untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau
pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang digunakan skala Likert
mempunyai gradiasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang jawaban setiap
item diberi skor, seperti berikut :
Tabel 3.2 Skala Likert
3 Setuju / Baik
1 Sangat Tidak Setuju / Sangat Kurang Baik
Sumber : Sugiyono (2010:108)
Mengenai sumber data yang diperoleh dalam mendapatkan informasi yang
dijadikan sebagai sumber dalam memperoleh data maka sumber data ini dibagi
menjadi dua, yaitu :
1. Data primer ialah data yang diperoleh langsung dari subyek atau
obyek yang diteliti (sampel atau responden). Data primer biasanya
bersifat masih mentah karena belum diolah atau diinterpretasikan sifat
dan kualifikasinya.
2. Data sekunder adalah data yang bersumber dari informasi media yang
dimiliki relevansi dengan masalah penelitian dan layak dijadikan
referensi, dokumentasi internal dalam melakukan penelitian.
a. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan
menggunakan dokumen-dokumen yang diperoleh dari tempat
penelitian yakni laporan dari kantor Kecamatan Sumur.
b. Studi Kepustakaan, pemanfaatan bahan-bahan referensi sebagai
rujukan teori dan asumsi yang berkaitan serta menunjang
penelitian. Studi kepustakaan ini meliputi data-data yang didapat
dari dokumen-dokumen dan jurnal penelitian terkait.
3.4 Populasi dan sampel
karakteristik atau hasil unit pengukuran yang menjadi objek penelitian. Penulis
mencoba menetapkan suatu populasi dengan menyesuaikan objek penelitiannya
30
masyarakat di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang yang saat ini berjumlah
22.581 jiwa.
menurut Usman (2006 :44), sampel adalah sebagian anggota populasi yang
diambil dengan menggunakan tehnik tertentu yang disebut teknik sampling.
Teknik sampling berguna agar mereduksi anggota populasi menjadi anggota
sampel yang mewakili populasinya (representatif), sehingga kesimpulan populasi
dapat dipertanggung jawabkan, lebih teliti menghitung yang sedikit daripada yang
banyak, serta menghemat waktu, tenaga dan biaya (Usman, 2006:44). Sementara
rumus yang digunakan dalam menghitung jumlah sampel adalah rumus Slovin.
N
n =
Diketahui:
dapat diketahui bahwa jumlah populasi sebanyak 22.581 jiwa dengan tingkat
kesalahan (error) sebesar 10% (0,1), maka diperoleh hasil sampel sebanyak 96
responden yan akan dijadikan sampel penelitian.
Kemudian, tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan tehnik proportionate area random sampling. Dimana sampel
dihitung berdasarkan ketentuan besaran sampel atas besaran populasi. Di samping
itu, peneliti juga mempertimbangkan bahwa penyebaran kuesioner dilakukan
kepada responden yang telah berusia di atas 25 tahun karena dianggap telah
memiliki kemampuan dalam memberikan penilaian kinerja pegawai kantor
kecamatan sumur kabupaten pandeglang secara lebih objektif.
Teknik ini digunakan karena jumlah populasi terdiri dari sub populasi yang
tidak homogen sehingga pada setiap populasi akan diwakili sesuai dengan
proporsinya masing-masing dan dapat menghasilkan sampel yang representatif.
Dibawah ini tabel dari teknik perhitungan sampel penelitian.
32
No Desa Jumlah
Akhir
1 Kerta Jaya. 3.877 jiwa 3.877 x 100%=17.16%x 96 22.581
16.47 16
2 Sumber Jaya 4.048 jiwa 4.048x 1%=17.92%x 96 22.581
17.20 17
3 Tunggal Jaya 2.947 jiwa 2.947 x 100% =13.30%x 96 22.581
12.76 13
4 Ujung Jaya 3.957 jiwa 3.957 x 100% =17.52%x 96 22.581
16.81 17
5 Taman Jaya 2.542 jiwa 2.542x 100% =11.25%x 96 22.581
10.8 11
6 Kerta Mukti 2.817 jiwa 2.817x 100% =12.47 %x 96 22.581
11.97 12
10.16 10
Berdasarkan tabel 3.3, maka peneliti mengambil sampel sebanyak 96
sampel yang tersebar di 7 (tujuh) Desa di Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang yaitu Desa Kerta Jaya, Sumber Jaya, Tunggal Jaya, Ujung Jaya,
Taman Jaya, Kerta Mukti, dan Cigorondong, dimana sebanyak 96 sampel tersebut
merupakan penduduk yang ber-umur 25 tahun ke atas yang akan mewakili dari
jumlah keseluruhan yang mencapai 22.581 jiwa.
33
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang memiliki indikator-indikator yang
dijadikan sebagai dasar dalam menyusun item-item yang dapat dijadikan sumber
data, dimana teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti sebagai
berikut ini :
untuk mengumpulkan data dengan cara membagi daftar pertanyaan
atau pernyataan kepada responden (masyarakat Kecamatan Sumur)
agar dapat memberikan isian atau jawabannya. Kuesioner dalam
penelitian ini akan diberikan kepada para masyarakat yang tersebar di
7 desa yang berada dalam wilayahadministratif Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang.
dilakukan secara langsung terhadap subyek atau obyek penelitian
melalui mata, telinga, dan perasaan dengan melihat fakta-fakta fisik
dari obyek yang diteliti dan mendapat masukan dari pihak-pihak
terkait didalam penelitian ini. Fakta-fakta dan informasi yang
diperoleh secara langsung dilapangan dicatat dan dirangkum, untuk
dijadikan data sekunder sebagai pendukung data primer yang
diperoleh dari hasil jawaban responden melalui kuesioner.
34
mendapatkan gambaran teori yang tepat terhadap penelitian ini,
menurut beberapa ahli, yakni dengan cara mempelajari dan membaca
buku-buku, literatur, serta karya ilmiah yang pernah dibuat dan
dipublikasikan sebagai bahan referensi yang ada keterkaitan dengan
penulisan peneliti ini.
3.6.1 Teknik Pengolahan Data
pengolahan data merupakan tahapan dimana data dipersiapkan, diklasifikasikan,
dan diformat menurut aturan tertentu untuk keperluan proses berikutnya yaitu
analisis data. Data yang telah terkumpul diolah dengan melalui beberapa proses
sebagai berikut :
atas kuesioner yang telah disebarkan. Data yang diinput dari kuesioner
tanggapan responden mengenai kinerja pegawai adalah data ordinal
dengan skala likert dengan bobot 4, 3, 2 dan 1.
2. Editing, yaitu tahap mengoreksi kesalahan yang ada pada data yang
harus dilakukan secara berulang-ulang dan cermat.
3. Tabulating, yaitu tahap penyusunan data secara akumulatif dengan
menggunakan alat bantu Methode Succesive Interval (MSI) untuk
merubah data ordinal menjadi data interval agar dapat dilaksanakan uji
statistik dengan alat bantu SPSS versi 17.
Setelah itu dilakukan pengujian Validitas dan Realibilitas instrumen
penelitian yakni kuesioner mengenai kinerja pegawai. Uji validitas digunakan
35
dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur serta mampu
menunjukkan tingkat kesesuaian antar konsep dan hasil pengukuran. Menurut
Muhidin (2007 : 37), keputusan pada sebuah butir atau item pertanyaan dapat
dianggap valid apabila r > 0.3. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan
metode korelasi pearson product moment dengan menggunakan alat bantu
program Statistik Program for Social Science atau SPSS versi 17.
Reliabilitas berasal dari kata dalam bahasa inggris ’rely’, yang berarti
percaya, dan reliable yang artinya dapat dipercaya. Dengan demikian reliabilitas
dapat diartikan sebagai keterpercayaan. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan
teknik Alpha Cronbach. Hasil pengukuran dapat dipercaya atau dikatakan reliabel
jika nilai cronbach alpha > rtabel, dimana jika nilai alpha < 0,6 adalah kurang baik,
sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik (Sekaran, 1992).
3.6.2 Teknik Analisis Data
menyajikan data dengan mengelompokkan dalam suatu bentuk yang berarti
sehingga mudah dipahami dan diinterpretasi oleh pembaca atau penguji. Dalam
hal ini peneliti dalam menganalisa dan menggunakan metode analisis data
kuantitatif, yaitu suatu metode analisis data dengan menggunakan angka-angka
pemecahan masalah dapat dihitung secara pasti dengan penghitungan matematis.
Pengujian hipotesis menggunakan formula z-test digunakan untuk
mengetahui deksriptif dari variabel penelitian yakni kinerja pegawai Kecamatan
36
SPSS Versi 17. Adapun langkah pembuktiannya sebagai berikut :
1. Uji Hipotesis
terhadap masalah yang eksis dan menjadi fokus penelitian. Hipotesis disusun
berdasarkan kenyataan bahwa di satu sisi sebagai organisasi birokrasi tentu
persoalan yang dihadapi sangat kompleks, sehingga mengharapkan hadirnya
aparatur yang baik secara pribadi maupun kinerja pegawai.
Adapun hipotesis nol (H0) yang diajukan oleh peneliti yaitu H0 : µ 0 ≥ 65 %.
Dengan kata lain “kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang dikatakan Baik jika lebih tinggi atau sama dengan 65 persen”.
Hipotesis nol (H0) dapat diterima apabila harga nilai zhitung < nilai ztabel. Secara
statistik, hipotesis nol di atas dapat dirumuskan sebagai berikut ini :
H0 : µ ≥ 65 %
Adapun hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan oleh peneliti yaitu Ha : µ 0 <
65 %. Dengan kata lain “kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten
Pandeglang dikatakan tidak berhasil jika lebih rendah dari 65 persen”. Hipotesis
alternatif (Ha) dapat diterima apabila harga nilai zhitung > nilai ztabel. Secara
statistik, hipotesis alternatif di atas dapat dirumuskan sebagai berikut ini :
Ha : µ < 65 %
Penelitian Evaluasi Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang dilakukan di Kecamatan Sumur, yang terdiri dari 7 Desa
antara lain Desa Sumber Jaya, Kerta Jaya, Tunggal Jaya, Taman Jaya, Ujung Jaya,
Kertamukti, dan Cigorondong. Prakiraan waktu pelaksanaan penelitian dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.4
Jadwal Penelitian
Kecamatan Sumur merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Pandeglang Provinsi Banten. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan
bahwa aparatur pemerintah kewilayahan yakni kecamatan dan kelurahan
merupakan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang mendapat pelimpahan
sebagian kewenangan Bupati dan Walikota untuk menangani sebagian urusan
otonomi daerah. Berdasarkan Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 18 Tahun
2008, pada pasal 1 menyatakan bahwa kecamatan adalah wilayah kerja camat
sebagai perangkat daerah kabupaten yang ditetapkan dengan peraturan daerah
yang berpedoman pada peraturan pemerintah.
Kecamatan Sumur memiliki kewajiban memberikan pelayanan publik
kepada masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan atau yang belum
dapat dilaksanakan pemerintahan desa (kelurahan) guna mempermudah urusan
keadministrasian dan pelayanan publik lainnya kepada masyarakat yang ada di
wilayah tugasnya. Dalam upaya memberikan pelayanan publik, Kecamatan Sumur
akan sangat dipengaruhi oleh luas wilayah, jumlah kelurahan atau desa, jumlah
penduduk serta faktor-faktor lainnya. Kecamatan Sumur memiliki luas wilayah
sebesar 50.000 Km 2 . Adapun jumlah penduduknya hingga tahun 2013 tercatat
sebanyak 22.581 jiwa (Sumber : Data Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang
Tahun 2013). Sedangkan letak geografisnya berbatasan dengan :
38
39
1. Pada bagian utara dari letak Kecamatan Sumur berbatasan dengan
Kecamatan Cimanggu.
2. Pada bagian timur dari letak Kecamatan Sumur berbatasan dengan
Kecamatan Cidahu.
3. Pada bagian selatan dari letak Kecamatan Sumur berbatasan dengan
Kecamatan Ciseuat.
Adapun pemerintah desa (kelurahan atau desa) yang terdapat di Kecamatan
Sumur Kabupaten Pandeglang terdiri dari 7 kelurahan atau desa antara lain :
1. Desa Kerta Jaya, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai saat
ini sebanyak 3.877 jiwa.
2. Desa Sumber Jaya, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 4.048 jiwa.
3. Desa Tunggal Jaya, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 2.947 jiwa.
4. Desa Ujung Jaya, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 3.957 jiwa.
5. Desa Taman Jaya, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 2.542 jiwa.
6. Desa Kerta Mukti, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 2.817 jiwa.
7. Desa Cigorondong, memiliki jumlah penduduk yang tercatat sampai
saat ini sebanyak 2.393 jiwa.
40
penelitian (responden) yakni masyarakat di setiap Desa yang termasuk kedalam
wilayah Kecamatan Sumur guna pengumpulan data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini. Responden dalam penelitian ini sebanyak 96 orang responden.
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada tabel
berikut ini :
Gambar 4.1
35%
65%
Laki-laki
Perempuan
Berdasarkan gambar 4.1, diketahui bahwa mayoritas respoden yang
melakukan pengisian kuesioner atau yang umumnya dijumpai oleh peneliti saat
melakukan penelitian lapangan didominasi oleh laki-laki dengan persentase
sebesar 65 % dibandingkan perempuan dengan persentase sebesar 35%.
Karakteristik responden berdasarkan pengelompokkan usianya adalah
sebagai berikut :
Berdasarkan gambar 4.2, diketahui bahwa mayoritas respoden yang
melakukan pengisian kuesioner didominasi oleh responden dengan usia antara 31
- 40 tahun sebesar 40%. Kemudian responden dengan usia antara 21 - 30 tahun
sebesar 32% dan responden dengan usia usia lebih dari 40 tahun sebesar 28%.
Selain daripada itu, pengelompokkan responden juga dilakukan berdasarkan
tingkat pendidikan akhir responden yang disajikan pada tabel berikut:
Gambar 4.3
42
akhirnya merupakan lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) sebesar
33%. Adapun responden yang berpendidikan akhirnya sarjana hanya sebesar 6%
4.2.2 Uji Validitas dan Realibilitas
4.2.2.1 Uji Validitas
penelitian (kuesioner), artinya instrumen dapat digunakan untuk mengukur apa
yang seharusnya diukur. Keputusan pada sebuah butir atau item pertanyaan dapat
dianggap valid apabila rhitung (koefisien korelasi pearson) > rtabel (0.3). Uji validitas
menggunakan metode pearson product moment dengan program SPSS versi 17.
Untuk dapat mengetahui apakah butir atau item pertanyaan dari kuesioner
kinerja pegawai di Kantor Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang dinyatakan
valid atau tidak valid disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1
Item Koefisien
Korelasi Pearson
P3 0.082 Tdk Valid P18 0.586** Valid
P4 0.612** Valid P19 0.679** Valid
P5 0.530** Valid P20 0.714** Valid
P6 -0.029 Tdk Valid P21 0.661** Valid
P7 0.549** Valid P22 0.010 Tdk Valid
43
P11 0.614** Valid P26 0.103 Tdk Valid
P12 0.531** Valid P27 0.635** Valid
P13 0.686** Valid P28 0.738** Valid
P14 0.581** Valid P29 0.647** Valid
P15 -0.203 Tdk Valid P30 0.534** Valid
Sumber: Data diolah tahap I, 2015
Berdasarkan tabel 4.1, diketahui bahwa nilai korelasi pearson pada masing-
masing item atau butir pertanyaan memiliki nilai korelasi yang bervariasi.
Terdapat sebanyak 25 item pertanyaan yang memiliki nilai rhitung (koefisien
korelasi pearson) > rtabel (0,3) yang ditunjukkan dengan tanda bintang ganda,
menunjukkan bahwa item pertanyaan tersebut dapat dikatakan “valid”. Selain itu,
ditemukan sebanyak 5 item pertanyaan yang memiliki nilai rhitung (koefisien
korelasi pearson) < rtabel (0,3), menunjukkan bahwa item pertanyaan tersebut
dikatakan “tidak valid”.
pertanyaan yang tidak valid maka dapat diambil tindakan dengan menghilangkan
atau menghapus item pertanyaan tersebut atau melakukan perbaikan isi dari item
pertanyaan tersebut dengan yang lain dan kemudian disebarkan kembali.
Berdasarkan rujukan tersebut, peneliti mengambil tindakan untuk menghilangkan
44
atau menghapus item pertanyaan yang tidak valid guna efesiensi langkah-langkah
penelitian berikutnya.
Kemudian setelah diambil tindakan dengan menghilangkan atau menghapus
item pertanyaan yang tidak valid maka hasil pengujian validitas akhir atau tahap II
disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.2
Item Koefisien
Korelasi Pearson
P13 0.691** Valid - - -
P14 0.609** Valid - - -
P16 0.490** Valid - - -
P17 0.638** Valid - - -
P18 0.577** Valid - - -
Berdasarkan tabel 4.2, diketahui bahwa seluruh item pertanyaan sebanyak
25 item memiliki nilai rhitung (koefisien korelasi pearson) > rtabel (0,3) yang
45
tersebut dapat dikatakan “valid” dan dapat dilakukan tahapan selanjutnya yakni
pengujian realibilitas.
dipercaya atau menunjukkan bahwa instrumen penelitian (kuesioner) yang
digunakan memiliki konsistensi dalam pengukuran. Pengujian reliabilitas
dilakukan dengan membandingkan nilai cronbach alpha dari hasil pengolahan
data dengan ketentuan dari Sekaran (2002), dimana nilai koefisien reliabilitas
yang ditunjukkan dari nilai cronbach alpha < 0.6 adalah kurang baik, nilai
cronbach alpha > 0.7 adalah dapat diterima dan nilai cronbach alpha > 0.8 baik.
Hasil pengujian realibilitas instrumen penelitian (kuesioner) kinerja pegawai
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
sehingga kuesioner disebut reliabel yang berada dalam kategori “baik” karena
nilai cronbach alpha > 0.8 (0.932 > 0.8).
46
Untuk mengetahui bagaimana kinerja pegawai Kantor Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang berdasarkan tanggapan responden yang telah melakukan
pengisian kuisioner, dimana kuesioner penelitian sebanyak 25 item pertanyaan
yang telah dinyatakan valid dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diketahui tanggapan responden
atas indikator pegawai kecamatan dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya
sesuai bidang kerjanya disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.4
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 16 16.67%
2 Baik 21 21.88%
3 Buruk 40 41.67%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.4, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 16 responden atau sebanyak 16.67%, yang menyatakan baik
sebanyak 21 responden atau sebanyak 21.88%, yang menyatakan buruk sebanyak
40 responden atau 41.67% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 19
responden atau 19.79%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai Kecamatan
Sumur saat ini dianggap tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini dapat
47
dilihat dari pegawai yang sering melempar tugas kepada pegawai yang lain ketika
ada masyarakat yang meminta pelayanan publik kepada mereka. Selain itu
pegawai juga terkesan mempersulit persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi
oleh masyarakat dan melambatkan waktu atas penyelesaian pekerjaan.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan dapat memberikan
pelayanan publik pada saat terjadi antrian masyarakat (umumnya terjadi pada hari
senin dan selasa) disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 17 17.71%
2 Baik 31 32.39%
3 Buruk 33 34.38%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.5, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 17 responden atau sebanyak 17.71%, yang menyatakan baik
sebanyak 31 responden atau sebanyak 32.39%, yang menyatakan buruk sebanyak
33 responden atau 34.38% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 15
responden atau 15.63%.
memberikan pelayanan publik ketika terjadi antrian masyarakat yang relatif cukup
banyak. Hal ini dicerminkan dari pegawai kecamatan yang tampak stres ketika
48
melayani masyarakat dalam jumlah yang banyak atau antrian yang cukup panjang.
Ini biasanya ditemukan di awal-awal minggu seperti hari senin ataupun hari selasa
dimana masyarakat lebih sering mendatangi kantor kecamatan untuk meminta
bantuan pelayanan publik dengan berbagai bentuk pelayanan.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan dapat mempercepat
waktu penyelesaian pekerjaannya dari waktu normal disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.6
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 16 16.67%
2 Baik 33 34.38%
3 Buruk 28 29.17%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.6, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 16 responden atau sebanyak 16.67%, yang menyatakan baik
sebanyak 33 responden atau sebanyak 34.38%, yang menyatakan buruk sebanyak
28 responden atau 29.17% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 19
responden atau 19.79%.
dianggap dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan dari waktu normalnya. Hal
ini dapat dilihat dari beberapa pegawai kecamatan yang dapat menyelesaikan
49
berkas pekerjaannya dan melanjutkan berkas pekerjaan yang baru ditandai dengan
tidak adanya berkas pekerjaan yang menumpuk di meja kerja mereka.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki ketelitian
dalam bekerja, khususnya ketika melayani keperluan atau permintaan masyarakat
disajikan pada tabel berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 15 15.63%
2 Baik 27 28.13%
3 Buruk 39 40.63%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.7, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 15 responden atau sebanyak 15.63%, yang menyatakan baik
sebanyak 27 responden atau sebanyak 28.13%, yang menyatakan buruk sebanyak
39 responden atau 40.63% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 15
responden atau 15.63%.
kecamatan kurang memiliki ketelitian dalam bekerja atau dalam memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari seringnya
kesalahan yang dilakukan oleh beberapa pegawai ketika memberikan pelayanan
seperti kesalahan mengetik nama, kesalahan pengetikan tanggal atau bulan, isi
50
berkas yang tertukar dengan berkas yang lainnya dan lain-lain hal sebagai bentuk
kurang telitinya pegawai kecamatan dalam melayani masyarakat.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki kerapihan
dalam menyelesaikan pekerjaannya yang ditunjukkan dari sedikitnya kesalahan
yang mereka lakukan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.8
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 19 19.79%
2 Baik 25 26.04%
3 Buruk 32 33.33%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.8, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 19 responden atau sebanyak 19.79%, yang menyatakan baik
sebanyak 25 responden atau sebanyak 26.04%, yang menyatakan buruk sebanyak
32 responden atau 33.33% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 20
responden atau 20.83%.
kurang memiliki kerapihan dalam bekerja. Kerapihan dalam bekerja ditunjukkan
dengan berkas pekerjaan yang tidak kotor, berkas pekerjaan diarsipkan kedalam
map-map sesuai dengan jenis pelayanan serta berkas pekerjaan yang sudah dicek
kembali isinya apakah masih terdapat kesalahan dalam pengetikan. Sampai saat
51
dalam bekerja saat memberikan pelayanan publik.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki kehati-
hatian dalam menyelesaikan pekerjaan, khususnya yang berkaitan dengan
pemberkasan dan ketika melayani keperluan masyarakat disajikan pada tabel
berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 16 16.67%
2 Baik 29 30.21%
3 Buruk 37 38.54%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.9, diketahui bahwa dari 96 responden yang menyatakan
sangat baik sebanyak 16 responden atau sebanyak 16.67%, yang menyatakan baik
sebanyak 29 responden atau sebanyak 30.21%, yang menyatakan buruk sebanyak
37 responden atau 38.54% dan yang menyatakan sangat buruk sebanyak 14
responden atau 14.58%.
kurang memiliki kehati-hatian dalam bekerja. Hal ini ditunjukkan dari berkas
pekerjaan tidak diarsipkan kedalam map-map sesuai dengan jenis kategori
52
pelayanan serta berkas pekerjaan yang sudah dicek kembali isinya apakah masih
terdapat kesalahan dalam pengetikan.
pekerjaan didalam lemari pengarsipan yang terkode dan tertata rapih disajikan
pada tabel berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 19 19.79%
2 Baik 27 28.13%
3 Buruk 36 37.50%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.10, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 19 responden atau sebanyak 19.79%, yang
menyatakan baik sebanyak 27 responden atau sebanyak 28.13%, yang
menyatakan buruk sebanyak 36 responden atau 37.50% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 14 responden atau 14.58%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwasanya berkas-berkas
pengerjaan tidak disimpan kedalam lemari pengarsipan melainkan ditempatkan
didalam kardus-kardus. Hal ini mengingat jumlah lemari pengarsipan di kantor
Kecamatan memang hanya ada sebanyak 3 buah lemari arsip. Selain itu, pegawai
kecamatan tidak berupaya untuk merubah data pekerjaan yang berbentuk
53
hardcopy menjadi softcopy dengan scanning data. Hal ini mengakibatkan apabila
sewaktu-waktu data tersebut dibutuhkan akan sulit untuk ditemukan karena
penyimpanannya yang kurang baik.
Tabel 4.11
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 18 18.75%
2 Baik 23 23.96%
3 Buruk 39 40.63%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.11, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 18 responden atau sebanyak 18.75%, yang
menyatakan baik sebanyak 23 responden atau sebanyak 23.96%, yang
menyatakan buruk sebanyak 39 responden atau 40.63% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 16 responden atau 16.67%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
tidak memiliki sikap yang cekatan pada saat bekerja. Hal ini dapat disebabkan
pegawai kecamatan tersebut kurang menguasai dalam mengoperasionalkan
komputer. Selain itu pegawai juga suka bertanya kepada pegawai lainnya
54
hafalnya pegawai mengenai prosedur dari pekerjaan tersebut.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki daya
tanggap yang baik dalam menterjemahkan atau menafsirkan permintaan atau
keluhan dari masyarakat yang datang disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.12
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 19 19.79%
2 Baik 19 19.79%
3 Buruk 35 36.46%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.12, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 19 responden atau sebanyak 19.79%, yang
menyatakan baik sebanyak 19 responden atau sebanyak 19.79%, yang
menyatakan buruk sebanyak 35 responden atau 36.46% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 23 responden atau 23.96%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai tidak
memiliki daya tanggap yang baik atas permintaan dari masyarakat yang datang
untuk meminta pelayanan administratif. Pegawai sering melakukan kesalahan
dalam menafsirkan permintaan masyarakat secara tepat. Fenomena ini pernah
55
terjadi saat masyarakat membuat kartu tanda pentuduk elektronik (e-ktp) yang
rata-rata ditemukan kesalahan nama dan tanggal lahir dari yang bersangkutan.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki respon
yang cepat terhadap permintaan untuk menyelesaikan pekerjaan atau keluhan dari
masyarakat yang datang disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.13
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 19 19.79%
2 Baik 26 27.08%
3 Buruk 34 35.42%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.13, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 19 responden atau sebanyak 19.79%, yang
menyatakan baik sebanyak 26 responden atau sebanyak 27.08%, yang
menyatakan buruk sebanyak 34 responden atau 35.42% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 17 responden atau 17.71%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
dianggap tidak memiliki respon yang cepat terhadap penyelesaiaan pekerjaan atau
permintaan dari masyarakat. Masyarakat menilai bahwasanya pegawai kecamatan
dianggap mengulur-ulur waktu sehingga pekerjaan selesainya dalam waktu yang
lebih lama, apalagi bila ada masyarakat yang dianggap dari kalangan kurang
56
mampu justru pegawai kecamatan cenderung saling melemparkan pekerjaan
antara satu pegawai dengan pegawai lainnya karena dianggap tidak akan dapat
memperoleh uang bonus dari masyarakat yang bersangkutan.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki
ketrampilan dalam menggunakan perangkat kerja khususnya komputer disajikan
pada tabel berikut :
2 Baik 29 30.21%
3 Buruk 35 36.46%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.14, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 14 responden atau sebanyak 14.58%, yang
menyatakan baik sebanyak 29 responden atau sebanyak 30.21%, yang
menyatakan buruk sebanyak 35 responden atau 36.46% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 18 responden atau 18.75%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
dianggap kurang menguasai keterampilan dalam mengoperasionalkan komputer.
Hal ini ditunjukkan dari pegawai yang sering saling bertanya kepada sesama
pegawai tentang bagaimana caranya mengaktifkan alat ini maupun itu. Mungkin
57
saja ini disebabkan karena pegawai tersebut tidak memiliki latar belakang
pendidikan yang baik atau tidak pernah mengikuti pembelajaran komputer di
tempat lainnya.
ketrampilan lainnya seperti kemampuan dalam pengarsipan (pengkodean dan
penataan arsip) disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.15
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 11 11.46%
2 Baik 37 38.54%
3 Buruk 36 37.50%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.15, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 11 responden atau sebanyak 11.46%, yang
menyatakan baik sebanyak 37 responden atau sebanyak 38.54%, yang
menyatakan buruk sebanyak 36 responden atau 37.50% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 12 responden atau 12.50%.
Responden yang menyatakan baik berpendapat bahwa beberapa pegawai
memiliki kemampuan dalam pengarsipan. Pengarsipan yang ditata dengan baik
akan sangat bermanfaat ketika masyarakat datang kembali untuk mengambil
berkas yang mereka minta sehingga tidak perlu mencari-cari lagi berkas tersebut.
58
nama desa yang ada di kecamatan sumur.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki latar
belakang pendidikan yang cukup, minimal telah menempuh sarjana tingkat satu
disajikan pada tabel berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 14 14.58%
2 Baik 28 29.17%
3 Buruk 38 39.58%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.16, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 14 responden atau sebanyak 14.58%, yang
menyatakan baik sebanyak 28 responden atau sebanyak 29.17%, yang
menyatakan buruk sebanyak 38 responden atau 39.58% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 16 responden atau 16.67%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
yang ada saat ini, baik pegawai tetap maupun pegawai honorer meski memiliki
latar belakang pendidikan yang cukup namun belum dapat menunjukkan
semangat dan etos kerja yang profesional, khusus pegawai yang masih honorer
59
cenderung lebih banyak mengobrol-obrol di waktu jam kerja dan bermain game di
komputer dan sering mengabaikan keperluan masyarakat.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan dapat memberikan
arahan atau petunjuk yang jelas ketika melayani permintaan masyarakat disajikan
pada tabel berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 15 15.63%
2 Baik 23 23.96%
3 Buruk 39 40.63%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.17, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 15 responden atau sebanyak 15.63%, yang
menyatakan baik sebanyak 23 responden atau sebanyak 23.96%, yang
menyatakan buruk sebanyak 39 responden atau 40.63% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 19 responden atau 19.79%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
terkadang tidak dapat memberikan arahan dan petunjuk kepada masyarakat ketika
terdapat kekurangan persyaratan atas pelayanan yang diminta. Hal ini lebih sering
didominasi oleh pegawai yang tidak hafal dengan prosedur keadministrasian
kecamatan yang ada.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki masa
kerja yang cukup yaitu minimal pernah menjadi pegawai honorer agar tidak perlu
dilakukan penataran mengenai tugas dan tanggung jawabnya disajikan pada tabel
berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 17 17.71%
2 Baik 29 30.21%
3 Buruk 34 35.42%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.18, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 17 responden atau sebanyak 17.71%, yang
menyatakan baik sebanyak 29 responden atau sebanyak 30.21%, yang
menyatakan buruk sebanyak 34 responden atau 35.42% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 16 responden atau 16.67%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwasanya pegawai di
Kantor Kecamatan Sumur saat ini mayoritas adalah pegawai negeri sipil yang
baru bekerja sekitar 2 hingga 3 tahun. Hal ini ditunjukkan dengan pegawai Kantor
Kecamatan Sumur yang lama atau memiliki masa kerja diatas 5 tahun telah
dimutasi ke instansi atau kantor dinas yang lainnya dan digantikan oleh pegawai
baru lulus seleksi pegawai negeri sipil atau dari pegawai honorer.
61
pandang yang luas dan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan atau
menyelesaikan permasalahan yang ada disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.19
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 18 18.75%
2 Baik 29 30.21%
3 Buruk 36 37.50%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.19, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 18 responden atau sebanyak 18.75%, yang
menyatakan baik sebanyak 29 responden atau sebanyak 30.21%, yang
menyatakan buruk sebanyak 36 responden atau 37.50% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 13 responden atau 13.54%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa pegawai kecamatan
saat ini tidak ada yang memiliki kemampuan khusus yang sangat dibutuhkan
untuk mengatasi permasalahan yang ada di wilayah kecamatan sumur seperti
sengketa lahan, konflik antar pemuda, persaingan politik dari tokoh–tokoh desa
hingga aksi demonstrasi dari warga masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari
anggapan masyarakat bahwa pegawai Kecamatan Sumur saat ini tidak ada yang
memiliki wibawa, kurang berpendidikan, kurang pengalaman, masih muda,
62
dianggap tidak memiliki kemampuan menangani permasalahan yang terjadi.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki
keramahan ketika melakukan pelayanan masyarakat disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.20
2 Baik 24 25.00%
3 Buruk 35 36.46%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.20, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 15 responden atau sebanyak 15.63%, yang
menyatakan baik sebanyak 24 responden atau sebanyak 25.00%, yang
menyatakan buruk sebanyak 35 responden atau 36.46% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 22 responden atau 22.92%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwasanya pegawai
kecamatan kurang ramah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
membutuhkan. Hal ini tercermin dari pegawai yang jarang memberikan senyum,
raut muka yang tegang dan terkesan kaku, kurangnya obrolan santai yang dapat
mencairkan suasana, terkesan membeda-bedakan pelayanan khususnya ketika
63
pelayanan publik kepada masyarakat.
komunikasi yang baik dengan masyarakat disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.21
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 18 18.75%
2 Baik 20 20.83%
3 Buruk 38 39.58%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.21, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 18 responden atau sebanyak 18.75%, yang
menyatakan baik sebanyak 20 responden atau sebanyak 20.83%, yang
menyatakan buruk sebanyak 38 responden atau 39.58% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 20 responden atau 20.83%.
Responden yang menyatakan buruk beranggapan bahwa pegawai
Kecamatan Sumur tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Kemampuan komunikasi yang baik umumnya ditunjukkan dengan kemampuan
berinteraksi dengan lawan bicara dengan bahasa verbal. Namun yang dirasakan
64
mereka secara verbal atau melakukan perbincangan.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan memiliki
komunikasi yang baik, antara pimpinan dan bawahannya disajikan pada tabel
berikut :
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 20 20.83%
2 Baik 25 26.04%
3 Buruk 38 39.58%
Total 96 100%
Berdasarkan tabel 4.22, diketahui bahwa dari 96 responden yang
menyatakan sangat baik sebanyak 20 responden atau sebanyak 20.83%, yang
menyatakan baik sebanyak 25 responden atau sebanyak 26.04%, yang
menyatakan buruk sebanyak 38 responden atau 39.58% dan yang menyatakan
sangat buruk sebanyak 13 responden atau 13.54%.
Responden yang menyatakan buruk berpendapat bahwa sepertinya
komunikasi antar pimpinan dan bawahan di Kantor Kecamatan Sumur tidak
berjalan dengan baik. Hal ini disampaikan oleh masyarakat bahwa Kepala
Kecamatan Sumur saat ini bukanlah orang yang bertipe memasyaratkan diri atau
65
bukan orang yang senang bergaul. Selain itu beliau juga sering bepergian ke luar
kantor sehingga tidak ada waktu untuk beramah tamah dengan pegawainya.
Tanggapan responden atas indikator pegawai kecamatan dapat bekerjasama
dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan pekerjaan dengan membagi
pekerjaan sesuai dengan bidang kerjanya disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.23
Menyelesaikan Pekerjaan Sesuai Bidang Kerjanya
No Jenis Tanggapan Frekuensi Persentase
1 Sangat Baik 13 13.54
2 Baik 22 22.92
3 Buruk 40 4