eureka! edisi februari 2012

Download eureka! edisi februari 2012

Post on 29-Mar-2016

230 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sebuah majalh yang diterbitkan oleh Pers Mahasiswa ITB. Edisi kali bercerita tentang potret pendidikan di Indonesia.

TRANSCRIPT

  • eureka!

    POTRET DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

    Diterbitkan oleh Pers Mahasiswa ITB

  • Terima kasih kepada semua teman-teman calon kerabat kerja Pers Mahasiswa ITB , diawali dengan diskusi panjang, akhir-nya diputuskan Eureka! edisi terbaru ini bertema potret pendidikan indonesia. Banyak orang skeptis tentang jalannya pendidikan di Indonesia. Memang, se-telah tim melakukan penelusuran men-dalam didapatkan bahwa beberapa fakta di lapangan tidak sesuai dengan cita-cita pendidikan di Indonesia. Kami mencoba mengungkapkan itu di Eureka! edisi kali ini.

    PERS MAHASISWA ITB

    Pemimpin umumHusein Abdulsalam S

    Redaktur SeniorWigaty Agdi, Petrus, Anna

    Redaktur seniorIndah Yuliana, Edi Cahyono, Rachmat Cahyono Lasmana

    Pemimpin RedaksiAndrean Eka LuciantoPemimpin Perusahaan

    M Khairul HamidReporter

    Annida Ferani, Annisa Ferani, Neli Syahida, Pipit Dian P, Hisni Rahmat, Teguh Imam, Andrean Eka Lucianto,

    M Khairul HamidDesain Sampul

    Nixon Berlin ManaluPemasaranMuchsinFachrizal

    SERAMBI

  • dikan Indonesia pada umumnya? Apakah dunia pendidikan Indo-nesia di dalam juga sebaik pembe-ritaan prestasi Indonesia di luar negeri? Kita tidak dapat membo-hongi diri kita bahwa dunia pen-didikan di Indonesia masih me-merlukan banyak perbaikan. Se-tiap tahun masih selalu ada siswa yang tidak memenuhi standar ke-lulusan ujian nasional. Padahal untuk dapat melanjutan pendidi-kan ke jenjang yang lebih tinggi adalah dengan memiliki ijazah ke-lulusan pada pendidikan sebelum-nya.

    Menurut United Nations Development Programme Report tahun 2005, Indonesia menempati peringkat 85 dari 175 negara un-tuk tingkat melek huruf. Masih tertinggal dari Thailand (72), Si-ngapura (74), dan Malaysia (82). Indonesia masih harus bekerja ke-ras untuk memperbaiki ranking ini ke depannya, karena untuk da-pat menuntut ilmu seseorang ha-rus dapat membaca.

    Selama tiga dasawarsa tera-khir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkem-bang sangat cepat. Pada mtahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru masing-masing sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Badan litbang Depdikbud, tahun 1999). Jadi, dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentu perkem-bangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan terse-but tidak diikuti dengan pening-katan kual i tas pendidikan

    ndonesia, suatu negeri yang 65 tahun lalu tidak begitu di-Iperhitungkan oleh negara lain

    di dunia, kini telah menjelma menjadi satu dari 20 kelompok ne-gara dengan perekonomian besar di dunia atau yang lebih kita kenal dengan G20. Hal ini adalah se-buah pencapaian yang luar biasa bagi Indonesia mengingat usia ne-geri ini belum genap 1 abad tetapi sudah dapat disandingkan dengan negara maju lainnya seperti Ame-rika Serikat, Inggris, Rusia dan 16 negara lainnya dalam forum G20.

    Tidak hanya di bidang eko-nomi, Indonesia juga menorehkan catatan gemilangnya diberbagai aspek pentingh lainnya seperti pendidikan. Dunia pendidikan In-donesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan 2 dekade terakhir ini. Berbagai prestasi te-lah ditorehkan putra-putri Indo-nesia di kancah internasional. Te-ngok saja TOFI, TOMI, TOKI, dan tim olimpiade pendidikan Indonesia lainnya yang telah mengoleksi puluhan medali emas dari berbagai kejuaraan dunia. Hal ini membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga mampu ber-saing dengan negara lain dalam bidang ilmu pengetahuan dan tek-nologi. Puncaknya adalah ketika salah satu siswa Indonesia men-jadi juara dunia dalam ajang International Physics Olympiad tahun 2006 lalu di Singapura. Prestasi ini tentu saja men-dongkrak popularitas Indonesia di mata dunia dan membuat Indo-nesia menjadi negara yang dise-gani oleh negara-negara lain di dunia.

    Tetapi apakah semua prestasi gemilang ini merepresentatifkan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya? Apakah dunia pendi-

    Akibatnya, muncul berbagai ke-timpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, yang terma-suk sangat menonjol adalah ke-timpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, ketimpa-ngan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar penduduk kaya dan penduduk miskin.

    Di samping itu, di dunia pen-didikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang te-lah disebutkan di atas. Pertama, pendidikan cenderung menjadi sa-rana stratifikasi sosial. Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni ilmu penge-tahuan yang terlalu bersifat text-bookish sehingga bagaikan sudah diceraikan baik dari akar sumber-nya maupun aplikasinya.

    Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan un-tuk meningkatkan kualitas pen-didikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasilnya. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidi-kan di tanah air kita dapat dikata-kan senantiasa gagal menjawab problem masyarakat? Sesungguh-nya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di tanah air kita bukan semata-mata terle-tak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersi-fat tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan pe-nentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan so-sial yang sudah usang. Ketergan-tungan ini menyebabkan adanya harapan yang tidak realistis.

    Potret Dunia Pendidikan di Indonesia

    KOLOM

    eureka!1

    oleh : Teguh Imam

  • didikan yang berpancasila. panca-sila yang berdasarkan pada ketu-hanan. Ketuhanan adalah prinsip yang ultimat, mendasar dan mu-tlak serta esensial dalam seluruh kehidupan berbangsa mencakup pula dunia pendidikan. Meskipun dalam realita kita tidak akan ke-sulitan menemukan gabungan (atau interaksi) antara pendidikan dan agama, namun kita perlu me-nelaah sejauh mana sintesis ke-duanya bersesuaian dengan prin-sip Ketuhanan dalam pancasila. Pesantren, Sekolah Islam, Seko-lah Kristen, Sekolah Katolik ada-lah rentetan contoh-contoh in-teraksi antara pendidikan-agama yang tidak asing kita jumpai. Tapi seperti dua sisi mata koin, diteng-ah membludaknya sintesis pen-didikan-agama, berkembang pula rangkaian kasus terorisme, radi-kalisme, anarkisme dan fanatisme ekstrim yang didalangi oleh sin-tesis pendidikan-agama. Kasus ledakan bom di pesantren Umar bin Khattab juli 2011 lalu adalah salah satu dari sekian banyak con-toh nyata indikasi menyim-pangnya sintesis pendidikan-aga-ma, hal ini akhirnya juga menda-pat kecaman keras dari PBNU yang merasa terdapat sejumlah sintesis pendidikan-agama yang telah mencapai ekstrim.

    Pendulum pun berpindah ke sisi lain, dimana fanatisme ditan-dingi dengan skeptisisme. Pendi-dikan dirasa tidak lagi relevan da-lam sintesisnya dengan agama. Pendidikan harus berdiri sendiri, tanpa agama. Agama menjadi tu-gas rumah ibadah, sementara pen-didikan menjadi tugas sekolah. Pendidikan tanpa agama hanya a-kan mengajarkan manusia men-jadi manusia seutuhnya, yang ti-dak perlu Tuhan atau menjadikan

    ndonesia lahir dengan mem-bawa pancasila sebagai haki-Ikat diri dan cara pandang da-

    lam kehidupan berbangsa dan ber-negara. Namun ironis, justru se-karang semakin hilangnya kepe-dulian masyarakat akan pancasila fenomena yang sangat kentara un-tuk dihadapi bangsa ini. Prinsip-prinsip yang hakiki yang di-rumuskan oleh para pendiri ne-gara ini tidak lagi dijaga dan di-lestarikan. Nilai-nilai pancasila satu-persatu mulai luntur dari baju merah putih setiap warga negara Indonesia. Satu dari antaranya a-dalah prinsip berketuhanan yang Maha Esa. Kehadiran prinsip Ke-tuhanan menjadi salah satu sila dalam dasar negara ini tidak selayaknya dimengerti hanya se-bagai kewajiban negara beragama untuk mencantumkan istilah Tuhan dalam konsepsi dasar negaranya atau sekedar menun-jukkan pengakuan dan hormat akan Tuhan. Demikian pula pe-nempatan sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai sila pertama dari pancasila tentu mengandung makna yang lebih mendasar dari sekedar kocokan urutan-urutan. Ketuhanan yang ditempatkan se-bagai sila pertama menyatakan bahwa ketuhanan merupakan lan-dasan dan jiwa bagi seluruh sila lainnya. Tanpa ketuhanan yang benar, prinsip kemanusiaan, ke-satuan, mufakat dan keadilan ha-nya akan akan seperti daging tan-pa jiwa, tubuh tanpa semangat, a-tau perjalanan tanpa arah.

    Seluruh struktur kehidupan berbangsa tidak dapat dilepaskan dari prinsip yang ada dalam pan-casila. Demikian pula compang-campingnya dunia pendidikan In-donesia mengharuskannya bercer-min kembali kepada cetusan pen-

    rasio nya Tuhan. Pendidikan tanpa nilai ketika nilai ujian yang di-peroleh tetap tinggi. Pendidikan yang hanya mencetak cendikia bersenjata lengkap dan canggih, tapi tanpa tau cara menggunakan senjata tersebut. Mengembang-biakkan pendidikan dengan pola seperti ini menjadikan pendidikan tidak lagi berdiri diatas tulang yang kokoh, melainkan diatas lumpur hisap yang cepat atau lam-bat akan menelannya. Maka, wa-jar saja bila semakin populernya skeptisisme abad ini membuat pendidikan kehilangan arah dan semakin mudah disetir oleh ke-pentingan luar.

    Kembali kepada hakikat pen-didikan, pendidikan pada ke-lahirannya tidak serta merta dapat dipisahkan dari motif agama. Seorang murid mau dididik kare-na dia percaya ada kebenaran yang mutlak yang bisa dipelajari. Ke-benaran yang tidak majemuk, ti-dak relatif, tidak subjektif dan ti-dak tercerai berai, disinilah titik a-wal pertemuan antara Ketuhanan (agama) dan pendidikan. Pen-didikan harus didasari dengan se-mangat mencari kebenaran dida-lam setiap bidang. Inilah sema-ngat pengejawantahan semangat Ketuhanan yang perlu diusung o-leh pendidikan. Sintesis Pendi-dikan-agama harus menyentuh isu yang paling mendasar, diman