enamel hipoplasia linier

Download Enamel Hipoplasia Linier

Post on 18-Jan-2016

226 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Enamel Hipoplasia Linier adalah salah satu bentuk kelainan dalam pembentukan enamel yang dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi permanen yang berupa garis linier seperti cincin pada seluruh permukaan enamel gigi.

TRANSCRIPT

BAB IPendahuluan

Enamel merupakan jaringan dalam tubuh dengan kadar kalsium dan mineral yang tinggi. Pembentukan enamel membutuhkan interaksi dari beberapa faktor, dapat berupa faktor genetik dan juga lingkungan. Faktor-faktor ini harus berjalan secara sinkron dengan baik untuk menghasilkan enamel yang baik secara kuantitatif dan kualitatif. Adanya gangguan yang terjadi pada sinkronisasi ini dapat menyebabkan hipoplasia (Jayam, et al., 2013). Adapun saat terjadinya gangguan bervariasi dapat terjadi saat dalam kandungan, maupun saat sesudah lahir. Saat sesudah lahir dapat terjadi pada periode neonatal, ataupun masa anak anak (Syarief, 2011).Keadaan ini dapat terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan baik faktor herediter, dan lingkungan baik lingkungan lokal maupun lingkungan sistemik (Syarief, 2011). Faktor-faktor lingkungan yang umumnya terlibat dalam hipoplasia enamel adalah kekurangan mineral seperti kalsium, defisiensi vitamin, kekurangan gizi; penyakit sistemik seperti hypothyroidism, penyakit ginjal hypoparathyroidism; obat-obatan seperti tetrasiklin, polusi lingkungan seperti fluoride, logam berat, dan beberapa penyebab lainnya. Beberapa faktor lingkungan bertindak pada periode yang berbeda dari waktu keterlibatan dan lamanya waktu sehingga menghasilkan berbagai tipe hipoplasia. Pembentukan enamel gigi terjadi pada interval waktu yang berbeda dan pada tingkat yang berbeda. Gangguan yang terjadi pada periode waktu tertentu akan terlihat secara fisik di bagian enamel yang terbentuk pada waktu tersebut. Oleh karena itu perbedaan hipoplasia akibat faktor lingkungan dari hipoplasia karena faktor genetik (seperti amelogenesis imperfekta) adalah tidak semua bagian dari gigi terlibat pada hipoplasia akibat faktor lingkungan (Jayam, et al., 2013). Defek email merupakan kelainan struktur email yang lebih memudahkan terjadinya kerusakan baik pada gigi sulung maupun gigi permanem, bila dibanding dengan gigi normal tanpa defek. Hal ini menurunkan kualitas emailnya sehingga rapuh, dan mempunyai nilai estetika yang buruk. Oleh karena itu hal ini harus segera diintervensi secara dini agar kerusakannya tidak bertambah parah (Syarief, 2011). Hipoplasia enamel linier adalah jenis hipoplasia spesifik akibat faktor lingkungan yang ditandai dengan beberapa defek simetris dan seperti cincin yang melibatkan semua permukaan gigi pada banyak gigi. Amelogenesis adalah salah satu proses yang berjalan dalam satu waktu, setiap malformasi yang terjadi dapat menyebabkan kelainan permanen pada enamel. Satu kali enamel yang rusak telah terbentuk maka tidak dapat diperbaiki seperti jaringan tubuh lainnya; maka setiap defek yang terbentuk memiliki dampak yang kuat terhadap kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Konsekuensi hipoplasia tergantung pada tingkat keparahan hipoplasia yang terjadi, interaksi agen etiologi dan usia pasien datang memeriksakan giginya dengan keluhan hipoplasia. Berbagai keluhan yang bervariasi dapat muncul terkait dengan hipoplasia enamel linier, yang meliputi rasa sensitif terhadap stimulus udara, dingin, hangat dan mekanik, ketidakmampuan untuk mengunyah makanan, karies gigi, dan seterusnya. Pasien mungkin juga merasakan keluhan kegagalan restorasi yang berulang ulang. Oleh karena itu diagnosis awal dan rencana perawatan serta penentuan hipoplasia enamel linier sangat diperlukan (Jayam, et al., 2013).

BAB IIPresentasi Kasus

Anak laki-laki berusia 14 tahun, datang dengan keluhan adanya goresan pada permukaan banyak gigi. Sejarah lebih lanjut mengungkapkan bahwa goresan tersebut telah ada sejak gigi tumbuh dalam rongga mulut. Tidak ada riwayat trauma yang ditemukan. Dilaporkan bahwa gigi sulung tidak memiliki kelainan yang serupa. Orang tua yang datang menyertai anaknya tersebut ditanyakan mengenai riwayat pre-natal dan post-natal. Orang tua pasien menjelaskan bahwa anaknya sempat dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang signifikan, sekitar 1 tahun pada usia 2-3 tahun. Alasan yang disebutkan untuk rawat inap tersebut yaitu kekurangan gizi. Pemeriksaan umum yang dilakukan juga mengungkapkan bahwa pasien menderita kekurangan gizi.Pemeriksaan intraoral menunjukkan gigi yang telah tumbuh sesuai dengan usia erupsi kronologis untuk anak berusia 12 tahun. Beberapa lesi hipoplasia (kuantitatif) terlihat pada beberapa gigi. Deformitas hipoplasia terlihat di 1/3 servikal dari gigi 12, 13, 22, 23, 33, 43; 1/3 tengah dari gigi 14, 24, 34 dan 44, serta puncak cusp gigi 15, 25, 35 dan 45. (Gambar 1-5) (Pada gambar 2 dan 3 ditandai dengan pensil untuk membedakan hipoplasia dari enamel normal untuk kepentingan fotografi dan representasi yang lebih baik bagi pembaca). Keunikan dari lesi ini adalah bahwa lesi yang nampak berupa garis linier, seperti cincin (semua permukaan gigi terlibat), simetris (gigi di kontralateral rahang memiliki lesi yang sama pada posisi gigi yang sama) dan yang paling penting kronologis (area gigi berhubungan dengan mineralisasinya pada titik waktu tertentu). Dengan demikan, berdasarkan posisi dapat disimpulkan bahwa hipoplasia terjadi sekitar usia 2- 2 tahun. Temuan ini sesuai dengan riwayat medis pasien, di mana anak tersebut dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang signifikan.

Gambar 1. Aspek labial

Gambar 2. Aspek lateral kanan

Gambar 3. Aspek lateral kiri

Gambar 4. Aspek palatal

Gambar 5. Aspek lingual

Orangtua pasien tidak menyetujui untuk dilakukan prosedur perawatan dengan restorasi estetik. Oleh karena itu yang akan dilakukan hanya prosedur perawatan preventif seperti fluoride topikal untuk mengurangi gejala yang diakibatkan dari hipoplasia. Pasien disarankan untuk melakukan follow-up.

BAB IIITinjauan Pustaka

1. Hipoplasia EnamelAmelogenesis terjadi dalam dua tahap. Pada tahap pertama,terjadi pembentukan matriks enamel, dan pada tahap kedua, matriks mengalami mineralisasi atau kalsifikasi. Faktor lokal atau sistemik yang mengganggu proses normal amelognenesis menyebabkan pembentukan matriks permukaan enamel tidak sempurna dan terjadi penyimpangan yang disebut dengan hipoplasia enamel. Faktor-faktor yang mengganggu kalsifikasi dan pematangan enamel menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan hipokalsifikasi enamel (McDonald, et al., 2004).

2. Etiologi Hipoplasia Enamel3.2.1Faktor GenetikAmelogenesis imperfekta (AI) merupakan defek enamel akibat faktor genetik. Kelainan ini adalah hasil dari mutasi gen yang diikuti autosomal dominan, autosomal resesif, atau pola X-link. (Welbury, 2001). AI terjadi akibat adanya mutasi dari berbagai tipe gen yang terlibat dalam proses amelogenesis. Mutasi yang terjadi pada gen yang berperan terhadap pembentukan matriks enamel seperti seperti ENAM (enamelin), AMELX (amelogenin), menghasilkan enamel yang hipoplastik dan hipomineralisasi (hipokalsifikasi). Termasuk adanya pitting dan groove pada enamel, serta enamel yang tipis dan perubahan struktur normal enamel rod. Mutasi gen MMP20 (enamelysin) dan KLK4 (kallikrein) menghasilkan enamel yang terhipomineralisasi, walaupun ketebalan enamel normal (Hand & Frank, 2014). Studi molekular lebih lanjut menyatakan terdapat berbagai proses mutasi pada gen yang terlibat dalam proses amelogenesis, menyebabkan timbulnya tampilan klinis pada macam-macam tipe AI (Welbury, 2001). Amelogenenesis imperfekta diklasifikasikan menjadi 4 tipe :1. HipoplasiaKarakteristik enamel pada AI tipe ini adalah enamel yang tipis, sehingga dentin dapat terlihat dan menunjukkan warna kuning kecokelatan pada gigi. Bentuk enamel bervariasi, dapat memiliki pit, kasar, atau halus dan mengilap. Bentuk kontur enamel tidak seperti biasa, namun berbentuk kotak. Berkurangnya ketebalan enamel juga menyebabkan gigi tampak kecil, dan tidak memiliki kontak proksimal (White & Pharoah, 2004).

Gambar 6. AI tipe hipoplasia yang menunjukkan adanya tampilan pitted (Laskaris, 2011)

1. HipomaturasiPada AI tipe hipomaturasi, enamel memiliki ketebalan yang normal tetapi memiliki tampilan mottled, yaitu lebih lunak dari normal, dan mudah terkelupas dari mahkota. Warna yang muncul bervariasi dari putih, kuning, atau coklat. Salah satu bentuk dari tipe hipomaturasi ini adalah snow-capped (enamel berwarna putih opak) (White & Pharoah, 2004).

Gambar 7. AI tipe hipomaturasi (Laskaris, 2011)

1. Hipokalsifikasi (Hipomineralisasi)Kepadatan enamel pada tipe normal, tetapi mudah fraktur dan terabrasi jika dipakai untuk fungsi karena permukaannya yang lunak-kasar (soft-rough). Warna gigi yang tampak berwarna putih opak, kuning, atau cokelat tua. Gejala yang dirasakan berupa rasa sensitif, dan pembentukan kalkulus sangat mudah pada AI tipe ini (Hand & Frank, 2014).

Gambar 8. AI tipe hipokalsifikasi (Laskaris, 2011)1. Hipomaturasi dan hipoplasiaKlasifikasi ini mengindikasikan kombinasi antara hipomaturasi dan hipoplasia. Enamel tampak mottled dan berwarna kuning dan coklat (Hand & Frank, 2014).

3.2.2Faktor LingkunganDefek enamel yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dapat disebabkan oleh adanya kelainan sistemik atau dari faktor lokal yang mengganggu perkembangan gigi. Defek yang berasal dari faktor lingkungan ini dapat terjadi pada masa perkembangan enamel gigi sulung dan gigi permanen (Welbury, 2001). Waktu terjadinya defek dari faktor lingkungan ini diindikasikan dari posisi gigi yang terkena serta gigi apa yang terkena. Jika gangguan terjadi saat in utero maka defek akan terlihat pada gigi sulung, gangguan yang terjadi setelah lahir hingga 2 tahun maka defek akan terlihat pada gigi anterior permanen dan gigi molar pertama permanen, dan jika gangguan terjadi pada usia 4 dan 5 tahun maka defek akan terlihat pada gigi kaninus, premolar, dan molar kedua permanen (Warnakulasuriya & Tilakaratna, 2013).

3.2.2.1Kelainan Sistemik1. Defisiensi NutrisiMalnutrisi dapat menyebabkan hipoplasia enamel akibat kurangnya komponen yang dibutuhkan oleh sel untuk membentuk matriks enamel (DeLong &am