ekspor import

Download Ekspor Import

Post on 18-Jul-2015

61 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    1/62

    BAB VIIDAYA SAING AGRO INDUSTRI GULA

    Oleh: Mahmud Thoha

    7.1. PendahuluanGula merupakan salah satu jenis kebutuhan pokok masyarakat yangsangat vital, disamping beberapa jenis kebutuhan pokok lainnyaseperti beras, daging, minyak goreng dan lain-lain. Selain sebagaibarang konsumsi untuk minuman, gula juga rnerupakan komponenutama pada harnpir semua jenis rnakanan seperti roti, kue dan anekapenganan dan masakan. Oleh karena itu permintaan terhadap gulameningkat seiring dengan pertarnbahan penduduk.Penduduk Indonesia dewasa ini rnencapai 216.948.400 jiwa (2003),dengan permintaan gula diperkirakan mencapai 130 juta ton setahun.Permintaan sebanyak itu baru dapat dipenuhi dari dalarn negeri sekitarseparuhuya. Dengan demikian ada kesenjangan yang cukup lebarantara permintaan dan penawaran gula di dalarn negeri. Selainmerupakan masalah, kesenjangan ini sekaligus adalah peluang dantantangan. Ketidakmampuan industri gula dalam memasok kebutuhandi dalam negeri merupakan indikasi adanya "supply bottleneck" dalamindustri ini. Dengan perkataan lain, ada kelernahan pada sisi suplaiatau aspek produksi dalam industri gula sehingga tidak rnarnpu

    194

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    2/62

    memenuhi permintaan pasar yang jumlahnya cukup besar. Hal inibertolak belakang dengan beberapa kornoditi seperti ayam, telor danberbagai jenis komoditi lainnya pada umumnya yang mengalamikesulitan dalarn rnernasarkan produk.Kelemahan pada sisi suplai atau produksi dapat dilihat dari rendahnyaefisiensi teknis maupun ekonornis dari pabrik-pabrik gula diIndonesia. Survei singkat yang dilakukan oleh tim penelitiDepartemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 1999 memberikangambaran tentang kondisi 44 pabrik gula (PG) di Jawa sebagai berikut(Agus Pakpahan, 2004: 92-93):

    10 PG berada pada posisi efisien baik secara teknis maupunekonomis, yakni PG Jatiroto, PG Krembung, PG Tulangan, PGGempolkerep, PG Watutulis, PG Cukir, PG Jombang Barn, PGPesantren Barn, PG Merican, PG Lestari.

    26 PG tidak efisien baik secara teknis maupun ekonomis, 2 PG efisien secara teknis, tetapi tidak efisien secara

    ekonomis. 2 PG efisien secara ekonomis, tetapi tidak efisien secara

    teknis.Sementara itu dari 9 PG di luar Jawa, hanya 2 PG yang efisien baiksecara teknis maupun ekonomis yakni PG Gunung Madu Plantationsdan PG Gula Putih Mataram, sedangkan 7 PG lainnya tidak efisien.

    195

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    3/62

    Rendahnya efisiensi pabrik-pabrik gula tersebut disebabkan karenasebagian besar pabrik gula mempunyai kapasitas giling yang relatifkecil, yaitu di wabah 3000 ton tebu per hari. Faktor lain yang menjadisumber inefisiensi tersebut adalah umur mesin dan teknologi yangsudah terlalu tua serta kualitas bahan baku tebu yang rendah (RachmatPambudy, 2004: xx - xxi). Akibatnya produktivitas ,gula hablurmenjadi rendah sebagaimana ditunjukkan oleh terns menurnnnyaproduktivitas gula nasional dari 9,0 tonlhektar pada tahun 1960-1970menjadi 6,1 ton/hektar pada dekade 1980-1990 dan hanya 4,8tonJhektar pada periode 1999-2001.Kelemahan pada sisi suplai inilah yang menyebabkan produk gulaIndonesia tak berdaya saing sebagaimana diindikasikan oleh besarnyavolume gula impor dari tahun ke tahun. Oleh karena itu pembahasanindustri gula ini terntama akan digunakari untuk menjelaskan faktor-faktor yang menjadi/penyebab rendahnya daya saing industri gula ditanah air, dengan menggunakan pendekatan "diamond" klusterMichael Porter, yakni faktor permintaan, faktor input, faktor industripendukung dan penunjang, faktor strategi industri dan kompetisi, sertafaktor peluang.7.2. Faktor PermintaanPermasalahan industri gula Indonesia tidak dapat dilepaskanketerkaitannya dengan perkembangan permintaan dan penawaranguladalam pasar global. Produsen gula dewasa ini menyebar di berbagai

    196

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    4/62

    wilayah terutama Eropa Barat, Eropa Timur, Afrika, Amerika Tengahdan Utara dan Asia. Produksi gula di Eropa Barat dan Afrika sertaAmerika Tengah dan Utara mengalami pertumbuhan yang lamb anatau konstan, bahkan di Eropa Timur mengalami pertumbuhan negatif.Pertumbuhan produksi paling pesat terjadi di wilayah Amerika Selatandengan pertumbuhan mencapai 7,7% per tahun selama satu dasawarsa1990-an. Pertumbuhan yang cukup tinggi juga terjadi di Asia (3.7%)dan Oceania (2,9%) (lihat Tabel 7.1)

    Tabel7.1Pcrkembangan Produksi Gula Dunia Berdasarkan WilayahnyaTahun 1990/1991 s.d, 1998/1999 (juta ton)Taboo Pertum-

    Wilayah 90 / 91 9 1 1 92 92193 93/9 4 94/95 95196 96 /97 97/9 8 9 8 /9 9 huban(%J

    Eropa 21.03 19,92 20,76 20,93 18.71 18,96 20,66 22,18 21,41 1,12BaratEropa 13,50 10,63 9,92 10,93 8,57 9,80 9.63 8,25 7,76 -5,73TimurAfrika 8,09 7,84 6,68 7,01 7,42 8,01 6,23 8,77 9,12 1,45Arnerika 21,45 20,74 19,57 18,71 19,17 19,85 20,32 20,53 20,59 -0,14Tengah& UtaraAmerika 14.42 15,25 16,65 16.17 18,90 21,45 21,21 24,21 27,50 7,73SelatanAsia 30,06 38,49 34,23 31,99 37,77 40,94 37,19 37,54 42,30 3,74Oceania 4,17 3,94 4,88 5,59 5,29 6,16 6,46 6,21 5,14 2,95Total 115,72 116,80 112,68 111,37 115,83 125,18 123.70 127,70 133,81 2,27

    , .Sum ber: F .O . Lich, W orld Sugar Statistics 1999 /2000

    Dilihat dari pangsa produksi tahun 1998/99, Asia masih mendominasi(32%), disusul oleh Amerika Selatan (27.5%) dan Eropa Barat(21,0%). Juga tampak bahwa produsen gula utama adalah Asia dan

    197

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    5/62

    Amerika Selatan dengan total produksi meningkat dari 44 juta tallpada tahun 1990 /91 menjadi 70 juta ton 199E/99 . Secara keseluruhanproduksigula dunia meningkat dari 115 juta tonmenjadi 133 juta tonatau mengalami kenaikan 2,3% rata-rata per tahun selama periodetersebut. Produksi total tersebut selalu melampaui - konsumsinyasehingga stock atau cadangan gula dunia terus meningkat dari 20 jutaton menjadi 35 juta ton selama periode tersebut. Hal inilah yangmenjadi salah satu sebab utama tertekannya harga rata-rata gula dunia(lihat Tabel 7.2).

    Tabel7.2Neraca Gula Dunia Tahun 1991 s.d, 200 IHarga

    Stock rata-rataTahun Stock Produksi Impor Total Ekspor Konsum si Akhir white

    Suplai sugar(US$/ton)[991 19,395 113,458 32,538 165,391 32,538 111,925 20,927 268,201992 20,927 116,512 30,802 [68,24[ 30,802 113,929 23,510 247,801993 23,510 112,089 28,982 164,581 28,982 114,025 21,574 255,801994 21,574 109,787 29,864 161,225 29,864 112,747 18,614 344,991995 18,614 115,842 30,530 164,986 30,530 113,622 20,834 396,131996 22,756 122,212 32,457 177,425 32,457 116,574 28,394' 366,701997 26,569 122,496 32,803 181,868 32,803 119,667 29,398 315,871998 26,276 124,997 32,494 183,767 32,494 122,918 28,355 255,191999 25,463 130,228 34,697 190,388 34,697 123,738 31,953 200,612000 30,454 135,641 35,110 201,205 35,110 126,859 39,236 221,732001 34,789 [29,653 35,528 199,970 35,528 128,787 35,655 249,31Sumber. USDA, Sugar: W orld Markets and Trade, November 2001, diolah oleh Sekretariat Dewan

    Gula Nasional 2002

    198

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    6/62

    Gambaran lebih mutakhir memperlihatkan bahwa selama 5 tahunterakhir (1999/2000 - 2003/2004) produksi gula dunia berkisar antara130,4 juta ton hingga 143,2 juta ton. Sementara stock akhir guladunia berkisar 27,1 - 37,2 juta ton selama kurun waktu tersebut.Harga rata-rata gula dunia berkisar antara US$ cent 7 - 13/1b.Sedangkan harga gula dunia sangat rendah yakni: US$ 216/ton diLondon dan US cent 6,75/lb di New York. Tetapi biaya produksi rata-rata lebih dari US cent 13/Ib. Dengan kondisi seperti itu makasebenamya hampir semua produsen gula dunia akan tutup, karenaharga jual tak mampu menutup biaya produksinya. Namun demikian,Uni Eropa mampu mengekspor sekitar 5 juta ton gula, atau merupakaneksportir terbesar kedua dunia setelah Kuba. Hal ini merupakanindikasi bahwa sistem produksi dan pasar gula dunia tidak mumidikendalikan oleh mekanisme pasar, melainkan penuh dengan distorsiatau intervensi pemerintah (Agus Pakpahan, 2004: 96).Melimpah ruahnya produksi gula dunia dibandingkan denganpermintaan (konsumsi)-nya menyebabkan banyak negara produsenmenjual produk tersebut di bawah harga rata-rata produksinya, yangmengakibatkan banyak negara lainnya mengambil langkah-langkahprotektif untuk melindungi industri gula dalam negerinya. Beberapanegara maju yang menggembar-gemborkan perdagangan bebas sepertiAmerika Serikat dan Uni Eropa telah menentukan tarif di atasketentuan World Trade Organization (WTO) yakni "base rate tariff'sebesar 110% dan "binding rate tariff' sebesar 95%. Sebagai negara

    199

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    7/62

    eksportir utama, pada tahun 2002 Uni Eropa mengenakan tarif imporsebesar 240%, sementara itu sebagai negara importir, Amerika Serikatmengenakan tarif sebesar 155%. Indonesia sebagai negara sedangberkembang dan sekaligus pengimpor gula justru hanya mengenakantarif sebesar 32% untuk "raw sugar" dan 43% untuk gula jadi. Inimerupakan tarif terendah di antara negara-negara importir maupuneksportir, kecuali Mesir yang mengenakan tarif 30%. Padahalberdasarkan ketentuan WTO, Indonesia sebenamya bisa menentukantarif gula sebesar 95%.

    Tabe1 7.3TarifImpor Gula Tebu di Beberapa Negara

    No. Negara TarifImpor Negara Importir TarifEksportir (%) ImporUtama (%)

    1. Uni Eropa 240 Bangladesh 2002. Kolumbia 130 Arnerika Serikat 1553. Afrika Selatan 124 Philipina 1334. Thailand 104 India 1505. Brasilia 55 Cina 7 66. - - Srilanka 6 67 . - - Mesir 308. - - Indonesia 32&43Sumber: Asosiasi Gula Indonesia (AGI)

    200

  • 5/15/2018 Ekspor Import

    8/62

    Dari kebijakan tarif impor gula di berbagai negara di atas tampakbahwa negara-negara lain lebih "concern" melindungi produsen guladalam negerinya sedangkan Indonesia lebih "concern" terhadapkonsumennya. Pemerintah Indonesia lebih berkepentin:gan untukmenyediakan gula yang murah daripada memikirkan kepentinganpet