edisi 96 (februari 2012)

Download Edisi 96 (Februari 2012)

Post on 06-Apr-2018

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/3/2019 Edisi 96 (Februari 2012)

    1/16

    pembaruantani@spi.or.id www.spi.or.id Edisi 96, Februari 2012

    M I M B A R K O M U N I K A S I P E T A N I

    Pembaruan Agraria Sejati

    Harga Mati!!!

    Aksi Petani Haiti Tuntut

    Reforma Agraria Pasca

    Dua Tahun Gempa Bumi

    SPI Kutuk Pembakaran

    Rumah dan Lahan

    Petani Merangin

    SPI Sumbar Gelar

    Pendidikan Pertanian

    Berkelanjutan di Atas

    Tanah Reklaiming

    WagiminKetua BPW SPI Sumatera Utara

    "Dengan organisasi tani yangkuat, petani akan memiliki

    posisi tawar yang kuat"8 12 14

    INDEKS BERITA

    (Foto: Hadiedi Prasaja). Barisan polisi yang siap siaga menjaga gedung DPR-MPR pada saat aksi Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama Sekretaris Bersama (12/01/2012)menolak perampasan tanah dan menuntut pelaksanaan reforma agraria seja secepat mungkin untuk mengatasi konik agraria di Indonesia. Aksi sempat ricuh karenaDPR sempat dak ingin bertemu dengan massa aksi sekaligus untuk mendesak tanda tangan minimal 25 orang anggota DPR untuk segera membentuk Pansus Penyele -saian Konik Agraria. Simak liputan lengkapnya di edisi kali ini

  • 8/3/2019 Edisi 96 (Februari 2012)

    2/16

    Penanggung Jawab: Henry Saragih Pemimpin Umum: Zaenal Arin Fuad Pemimpin Redaksi: Tita Riana Zen Redaktur Pelaksana & Sekre-taris Redaksi: Hadiedi Prasaja Redaksi: Achmad Yakub, Ali Fahmi, Agus Rully, Cecep Risnandar, Muhammad Ikhwan, Wilda Tarigan, Syahroni

    Reporter: Elisha Karni Samon, Susan Lusiana, Yudha Fathoni, Wahyu Agung Perdana, Rahmat Hidayat, Megawa, Andriana Keuangan: SriWahyuni Sirkulasi: Supriyanto, Gunawan Penerbit: Serikat Petani Indonesia (SPI) Alamat Redaksi: Jl. Mampang Prapatan XIV No. 5 Jakarta

    Selatan 12790 Telp: +62 21 7993426 Email: pembaruantani@spi.or.id Website: www.spi.or.id

    D A P U R T A N I

    -Henry Saragih -

    Artikel ini juga dimuat di Harian Sore Sinar Harapan, Edisi Senin 17 Oktober 2011

    PEMBARUAN TANIEDISI 96FEBRUARI 20122

    Kedaulatan Pangan, Solusi Ancaman Krisis Pangan (3)

    Di samping kebijakan impor, target ketahanan pangan ( baca: ketersediaan pangan) juga merekomendasikan panganrekayasa genetika. Bahkan Pemerintah telah mengeluarkan Permentan nomor 61/2011 yang mengatur prosedur penguji-

    an, penilaian, pelepasan dan penarikan varietas rekayasa genetika. Seharusnya Pemerintah jangan bermain-main denganpangan rekayasa genetik, teknologi tersebut belum sepenuhnya terjamin dari segi keamanan pangan dan sudah terbuktimerugikan petani skala kecil. Kita harus mencegah benih rekayasa genetika masuk Indonesia. Ada empat hal yang me-nyebabkan benih rekayasa genetik tidak boleh dikembangkan di Indonesia. Pertama, dari aspek keamanan pangan. Belumada satu penelitian pun yang menjamin bahwa pangan rekayasa genetik 100 persen aman untuk di konsumsi. Malah daribeberapa riset akhir-akhir ini, pangan hasil rekayasa genetika menjadi penyebab berbagai penyakit.

    Kedua, dari aspek lingkungan. Di beberapa negara yang mencoba menanam benih rekayasa genetik terjadi polusigenetik. Lahan-lahan yang bersebelahan dengan tanaman rekayasa genetik berpotensi untuk tercemar oleh gen-gen hasilrekayasa genetik. Sehingga petani di sebelahnya yang menanam tanaman non rekayasa genetik bisa dituduh melanggarhak cipta karena dinilai telah membajak hak cipta perusahaan benih, padahal persilangan tersebut dilakukan oleh alam.Selain itu, tanaman rekayasa genetik berpotensi merusak keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Hama dan penyakittanaman akan lari ke ladang-ladang konvensional sehingga mau tidak mau petani tersebut harus beralih menjadi peng-guna benih rekayasa genetik yang harganya mahal.

    Ketiga, aspek legal. Belum ada peraturan yang komprehensif mengenai pangan rekayasa genetik. Memang ada Un-

    dang-Undang (UU) Pangan, UU Budidaya tanaman, dan UU perlindungan varietas tanaman namun belum ada peraturanturunan dari UU tersebut yang secara rinci mengatur produk pangan rekayasa genetik. Sehingga implementasinya dilapangan berpotensi merugikan konsumen dan para petani.

    Keempat, aspek pengusaan ekonomi. Berdasarkan pengalaman petani di berbagai negara dan juga para petani yangpernah menjadi korban percobaan kapas rekayasa genetik di Sulawesi Selatan, gembar-gembor benih yang dikatakantahan terhadap serangan hama dan produktivitasnya tinggi hanya omong kosong. Malah petani di Sulsel yang beralih kebenih genetik mengalami kerugian besar akibat ketergantungan penyediaan benih. Tiba-tiba harga benih melambungtinggi dan susah dicari, sementara itu petani sendiri tidak bisa mengembangkan benih secara swadaya karena teknolo-ginya sarat modal. Hal ini menyebabkan kerugian yang besar dipihak petani dan mereka mulai membakar ladang-ladangkapas mereka dan segera beralih ke produk non transgenik. Petani hanya dijadikan objek untuk semata-mata keuntungandagang saja.Berkaitan dengan keuntungan dagang yang diperoleh lewat jalur spekulasi, penimbunan dan penguasaan teknologi reka-yasa genetika yang masih belum aman dari sisi keamanan pangan, maka dalam jangka panjang akses masyarakatterhadap pangan akan semakin sulit dan hal tersebut akan menyebabkan pula terjadinya kelaparan baik di Indonesiamaupun dunia internasional. FAO melaporkan bahwa kelaparan pada tahun 2010 mencapai 925 juta di seluruh dunia.Bila trend perdagangan adalah perdagangan bebas, maka tidak menutup kemungkinan angka tersebut akan bertambahseiring dengan perubahan iklim ekstrim.

    Oleh karena La Via Campesina sebagai payung gerakan dari SPI di tingkat Internasional memberikan alternatif ataskonsep ketahanan pangan yang merekomendasikan kebijakan impor, perdagangan bebas dan rekayasa genetika, sertakorporaio pangan dan pertanian sebagaimana yang diuraikan di atas, berupa konsep Kedaulatan Pangan. Konsep kedau-latan pangan (Food Sovereignty) bagi umat manusia di dunia ini dipaparkan pada World Food Summit(WFS) yang dilak-sanakan pada bulan November 1996 di Roma, Italia.

    Kedaulatan Pangan adalah konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Kedaulatan pangan merupakan konseppemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanianyang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Artinya, kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasipangan sesuai dengan budaya lokal yang ada. Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk me-nentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasiskan keluargayangberdasarkan pada prinsip solidaritasbukan pertanian berbasiskan agribisnisyang berdasarkan pada profit semata.

    Bersambung ke Pembaruan Tani, edisi 97, Maret 2012

  • 8/3/2019 Edisi 96 (Februari 2012)

    3/16

    Bersambung ke halaman 11

    PEMBARUAN TANIEDISI 96

    FEBRUARI 2011P E M B A R U A N A G R A R I A 3

    Aksi 12 Januari:Laksanakan Reforma Agraria Sekarang Juga!!!

    JAKARTA. Ribuan petani Serikat PetaniIndonesia (SPI) yang berasal dari Banten

    dan Jawa Barat melakukan aksi menun-

    Aksi SPI yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Pemulihan Hak Rakyat Indonesia di Jakarta (12/01/2012).

    tut dijalankannya reforma agraria danpenghentian perampasan tanah serta

    kriminalisasi (bahkan pembunuhan)

    petani, di Jakarta (12/02). Ribuan petaniSPI ini berbaur dengan puluhan ribumassa aksi lainnya yang berasal dari ber-bagai elemen gerakan sosial Indonesiaseperti kaum buruh, nelayan, mahasiswa,aktivis lingkungan, miskin kota, dan lain-nya

    Massa aksi yang sejak dini hari sudahberkumpul di Mesjid Istiqlal melakukanlong march menuju Istana Negara yangkemudian dilanjutkan ke gedung DPR-MPR di bilangan Senayan, Jakarta. Massajuga sempat menyinggahi gedung

    Mahkamah Agung untuk menyampaikanpetisi dan tuntutannya kepada lembaganegara yang juga sering membela ke-pentingan pemodal besar multinasionalini.

    Di istana negara, massa aksi jugaha- nya sekedar menyampaikan tuntutandan petisinya, karena Susilo BambangYudhoyono, Presiden Republik Indone-sia kebetulan sedang tidak berada diibukota.

    Sementara itu, Eka Wildanu, petaniSPI asal Cirebon menyampaikan bahwaaksi ini juga dilakukannya sebagai soli-

    daritas terhadap beberapa kasus peng-kriminalisasian petani dan perampasantanahnya, mulai dari kasus di Sei Litur,Kampar, Merangin, Mesuji, Bima danlainnya.

    Saatnya petani bangkit melawan ke-sewenangan pemerintah yang selalu sajamementingkan perusahaan dan pemodalbesar. Hari ini kami datang jauh-jauh dariCirebon dan bergabung dengan elemengerakan sosial lainnya untuk bersama-sama meneriakkan derita teman-temanpetani yang sudah dikriminalisasi sede-mikian rupa hanya demi kepentingan

    segelintir orang, tutur Eka.Henry Saragih, Ketua Umum Serikat

    Petani Indonesia memaparkan bahwasalah satu tuntutan dasar pada aksi kaliini adalah agar reforma agraria sejatisegera dilaksanakan.

    Reforma agraria adalah suatu upayakorektif untuk menata ulang strukturagraria yang timpang, yang memung-kinkan eksploitasi manusia atas manusia,menuju tatanan baru dengan strukturyang bersendi kepada keadilan agraria.Keadilan agraria itu sendiri adalah suatu

  • 8/3/2019 Edisi 96 (Februari 2012)

    4/16

    PEMBARUAN TANIEDISI 96FEBRUARI 2012

    P E M B A R U A N A G R A R I A4

    Gelegar Aksi SPI, Tuntut Pelaksanaan ReformaAgraria Sejati di Berbagai Daerah

    Bersambung ke halaman 5

    PEKANBARU. Tidak hanya di ibukota,aksi menuntut segera dilaksanakan-nya reforma agraria sejati juga serentakdilakukan di hampir setiap provinsi diIndonesia. Di Pekanbaru misalnya, parapetani SPI bersama ratusan massa aksilainnya yang tergabung dalam Sekre-tariat Bersama Pemulihan Hak Rakyat

    Indonesia melakukan long march menu-ju kantor DPRD dan Badan PertanahanNasional (BPN) Riau (12/01).

    Massa aksi yang terdiri atas SerikatPetani Indonesia (SPI), Wahana Lin