ea9366819bd84320a6bcbbaa5edebf89laporanakhirklasterca ...· web viewpelaksanaan sl-gap budidaya...

Download ea9366819bd84320a6bcbbaa5edebf89LaporanAkhirklasterCa ...· Web viewPelaksanaan SL-GAP budidaya cabai

Post on 07-May-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ea9366819bd84320a6bcbbaa5edebf89LaporanAkhirklasterCabe.doc

LAPORAN AKHIR

PELAKSANAAN PILOT PROJECT KLASTER NASIONAL CABE

KBI BANDAR LAMPUNG TAHUN 2011

A. Ringkasan Eksekutif

Sebagaimana diketahui bahwa inflasi dapat timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation) dan dari ekspektasi inflasi. Secara nasional inflasi masih didominasi oleh cost push inflation akibat terjadinya negative supply shocks yang disebabkan terjadinya bencana alam atau terganggunya distribusi.

Adanya karakteristik inflasi nasional yang disebabkan oleh supply shock beberapa komoditas pertanian dalam arti holistic misalnya telur, daging, beras dan cabe mengakibatkan Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk melakukan kerjasama sinergis dengan Kementerian Pertanian sebagai stakeholders pemangku kebijakan di sektor pertanian yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman Bersama antara Gubernur Bank Indonesia dengan Menteri Pertanian Republik Indonesia pada tanggal 16 Maret 2011 tentang Kerjasama Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian.

Menindaklanjuti nota kesepahaman tersebut, Bank Indonesia Bandar Lampung bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung serta Kabupaten Lampung Selatan berupaya untuk mengembangkan klaster nasional cabe di wilayah Lampung Selatan. Upaya tersebut perlu dilakukan karena adanya fenomena kenaikan harga (inflasi) di wilayah Lampung sering disebabkan oleh volatilitas harga cabe di pasar akibat terganggunya distribusi dan kenaikan harga cabe pada musim-musim tertentu misalnya pada hari besar keagamaan (Idul Fitri dan Idul Adha) maupun pada saat musim tanam cabe.

Sebagai langkah awal program pengembangan klaster nasional cabe yaitu dilaksanakannya Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP) kepada 6 kelompok tani cabe yang ada di Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Tujuan pelaksanaan SL-GAP adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani cabe dalam melakukan budidaya sesuai dengan prinsip Good Agricultural Practices sehingga dapat mendorong produktivitas hasil panen cabe. Penutupan SL-GAP telah dilaksanakan pada tanggal 21 November 2011 yang diikuti dengan penyerahan mesin tepat guna berupa 13 unit handsprayer mesin kepada 6 kelompok tani cabe sebagai bagian dari upaya sinergi program Bank Indonesia Social Rensponsibility (BSR) dengan kegiatan pengembangan sektor rill dan UMKM.

Selanjutnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani cabe, Bank Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung serta Kabupaten Lampung Selatan berupaya untuk memfasilitasi pemasaran cabe kepada pasar industri melalui program kerjasama kemitraan pemasaran cabe dengan PT. Mitratani Agro Unggul (PT. MAU) yang merupakan grower atau supplier bahan baku cabe bagi perusahaan makanan skala nasional (PT. ABC Heinz dan Indofood). Tujuan utama dari program kemitraan pemasaran dengan PT. MAU semata-mata untuk meningkatkan kapasitas perekonomian dan kesejahteraan petani cabe karena perlu diinformasikan bahwa marjin keuntungan dari kenaikan harga cabe di pasar secara umum tidak dinikmati oleh petani cabe namun lebih banyak diambil oleh pedagang pengumpul atau tengkulak cabe.

Program kemitraan pemasaran ini perlu dilakukan untuk mengurangi perilaku spekulasi dari pedagang pengumpul cabe yang secara aktif mengambil hasil panen petani untuk didistribusikan pada wilayah di luar Provinsi Lampung sehingga mengakibatkan pasokan cabe di wilayah Lampung mengalami kekurangan. Disamping itu untuk memperkuat indutri cabe pada sisi hulu, Bank Indonesia berupaya untuk memfasilitasi kerjasama penyediaan input usaha tani cabe melalui kerjasama kelompok tani cabe dengan PT. Surya Mentari sehingga kebutuhan sarana produksi pertanian (saprodi) dapat dipenuhi tepat waktu, tepat mutu dan jumlah.

Pada tahap awal sebanyak 12 petani yang tersebar di 7 kecamatan mengikuti program kerjasama kemitraan tersebut melalui penyediaan lahan seluas 18,5 ha. Penandatanganan kerjasama kemitraan pemasaran cabe telah dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2011. Harga yang disepakati pada kerjasama tersebut sebesar Rp6.250,00 per kilogram cabe petik tangkai dengan spesifikasi yang dibutuhkan adalah cabe jenis biola, hot beauty dan fantastic. Kesepakatan harga tersebut bersifat dinamis yaitu ketika harga cabe di pasar mengalami kenaikan maka selisih kenaikan harga tersebut dibagi secara proporsional antara kelompok tani mitra dengan perusahaan pengumpul. Sedangkan pada saat harga cabe turun petani memperoleh lindung nilai cabe dengan harga pembelian sesuai dengan kesepakatan.

Kedepan, Bank Indonesia berupaya untuk mengembangkan kelembagaan berbasis kelompok dengan membangun modal sosial kelompok tani cabe agar melaksanakan kesepakatan kerjasama dengan perusahaan mitra sekaligus mendorong penyadaran petani cabe untuk merintis terbentuknya Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Kelompok tani yang mempunyai visi dan misi bersama bergabung membentuk kelompok tani sebagai rintisan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Berkembangnya LKM dapat menjadi katalisator terwujudnya financial inclusion melalui fasilitasi pembiayaan perbankan melalui linkage program.

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan klaster nasional cabe tersebut adalah penumbuhan kelembagaan sehingga diperlukan pendampingan yang intensif. Kepentingan masing-masing petani yang beragam dapat menjadi tantangan sekaligus peluang dalam penyadaran petani untuk berkelompok. Dominasi pengumpul cabe yang melakukan kegiatan spekulatif dengan menjual cabe di suatu wilayah dengan harga yang tinggi mengakibatkan adanya supply shock yang pada akhirnya dapat memicu inflasi pada wilayah sentra cabe.

B. PROFIL KLASTER

Profil klaster akan menguraikan tentang lokasi dan profil kelompok tani peserta program klaster serta kondisi klaster dari hulu sampai dengan hilir melalui pendekatan analisis rantai nilai (value chain).

1. Lokasi Klaster

Lokasi pilot project klaster nasional cabe adalah di Lampung Selatan. Pemilihan Kabupaten Lampung Selatan sebagai pilot project pengembangan klaster nasional cabe dikarenakan wilayah tersebut merupakan salah satu sentra cabe yang mempunyai share yang cukup besar dalam produksi cabai di wilayah Lampung. Disamping itu pengembangan klaster nasional cabai di Kabupaten Lampung Selatan dilakukan untuk mendukung program pemerintah daerah dalam mewujudkan Lampung Selatan sebagai sentra budidaya cabai sehingga diharapkan dapat berkontribusi lebih banyak lagi dalam pemenuhan supply cabai di Provinsi Lampung. Secara spesifik lokasi klaster cabe di Provinsi Lampung diilustrasikan pada Gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Lokasi Pilot Project Klaster nasional Cabe Provinsi Lampung

Petani cabe merah di Kecamatan Kalianda menggunakan lahan sawah dan ladang/tegalan/kebun untuk melakukan budidaya cabe merah. Luas lahan budidaya cabe merah di Kecamatan Kalianda mencapai 42,70 hektar, yang tersebar di beberapa desa yaitu di desa Suka Jaya, Agom Jaya, Kesugihan dan Margo Catur.

2. Profil Kelompok Tani

Kelompok tani klaster yang mengikuti kerjasama kemitraan dengan PT. MAU berjumlah 12 (dua belas) orang dari 12 kelompok tani cabe (Kelompok Tani Harapan II, Sari Mandala, Tani Jaya, Sinar Harapan, Kelompok Wanita Tani Dahlia, Harapan Tani, Karya Bakti II, Hegar Tani, Margomulyo, Timbang Rasa, Baguway Jejama dan Kelompok Tani Sejahtera) yang tersebar di 7 kecamatan di wilayah Lampung Selatan. Kelompok tani tersebut mempunyai usaha utama yaitu budidaya cabe merah disamping melakukan budidaya komoditas pertanian lainnya (padi sawah dan palawija). Secara umum rata-rata luasan lahan untuk yang dimiliki petani dalam melakukan budidaya cabe di Kecamatan Kalianda berkisar antara 0,25 2 hektar.

Akses petani cabe merah terhadap informasi harga jual hasil panen cukup baik. Para petani telah mengetahui harga jual cabe sebelum memutuskan untuk menjual hasil panennya. Informasi yang diperoleh berasal dari pedagang pengumpul cabe atau melihat perkembangan harga cabe di pasar. Pada saat panen umumnya petani mencari informasi harga di tingkat pedagang cabe merah setempat dan sesama petani. Pencarian informasi harga tersebut dilakukan oleh petani dalam interval waktu seminggu sekali.

Akses petani terhadap pembiayaan perbankan belum berkembang dengan baik. Fenomena tersebut dapat terlihat dari banyaknya petani yang menggunakan modal sendiri untuk melakukan usahatani cabe. Disamping itu, terdapat beberapa petani yang meminjam dana dari pedagang pengumpul maupun pedagang Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) sebagai modal usahatani cabe. Hanya sebagian kecil petani cabe di wilayah Kalianda yang dapat melakukan akses pembiayaan perbankan. Alasan utama petani tidak dapat melakukan akses pembiayaan perbankan dikarenakan adanya keterbatasan jaminan kredit yang dimiliki petani.

Pada umumnya pembiayaan petani cabe yang diperoleh dari pedagang pengumpul dibayar setiap panen dengan marjin keuntungan sesuai dengan kesepakatan bersama. Petani yang memperoleh pembiayaan dari pedagang pengumpul umumnya mempunyai keterikatan pemasaran sehingga tidak dapat menjual hasil panennya pada pedagang lain. Pembiayaan yang diperoleh dari pedagang Saprodi meliputi benih cabe merah, pupuk, insektisida, fungisida dan herbisida. Petani mengembalikan seluruh pinjaman dari pedagang Saprodi setelah panen.

Gambar 2. Sumber Pembiayaan Petani Cabe di Kalianda, Lampung Selatan

Secara umum pemanfaatan pembiayaan yang diperoleh petani digunakan untuk modal usahatani cabe khususnya dalam pengadaan sarana produksi. Kondisi sumber pembiayaan petani cabe diilustrasikan selengkapnya pada Gambar 2 di atas. Petani yang memperoleh pembiayaan dari perbankan pada umumnya membayar pelunasan kredit sec