dummy buku pembinaan kapasitasrepository.uinmataram.ac.id/109/2/109 laporan penelitian.pdf · dummy...

60
No. Reg. 171010000008565 DUMMY BUKU Pembinaan Kapasitas PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (BRASSICA JUNCEA L.) PADA MEDIA TANAM HIDROPONIK DAN MEDIA TANAH DI LINGKUNGAN PEJERUK BANGKET KELURAHAN PEJERUK KEC. AMPENAN KOTA MATARAM Oleh : NURDIANA, SP.,MP. NIP. 196905302005012001 PUSAT PENELITIAN DAN PUBLIKASI ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2018

Upload: others

Post on 26-May-2020

103 views

Category:

Documents


5 download

TRANSCRIPT

No. Reg. 171010000008565

DUMMY BUKU

Pembinaan Kapasitas

PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (BRASSICA

JUNCEA L.) PADA MEDIA TANAM HIDROPONIK DAN MEDIA TANAH DI

LINGKUNGAN PEJERUK BANGKET KELURAHAN PEJERUK KEC.

AMPENAN KOTA MATARAM

Oleh :

NURDIANA, SP.,MP.

NIP. 196905302005012001

PUSAT PENELITIAN DAN PUBLIKASI ILMIAH

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

2018

No. Reg. 171010000008565

DUMMY BUKU

Pembinaan Kapasitas

PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (BRASSICA

JUNCEA L.) PADA MEDIA TANAM HIDROPONIK DAN MEDIA TANAH DI

LINGKUNGAN PEJERUK BANGKET KELURAHAN PEJERUK KEC.

AMPENAN KOTA MATARAM

Oleh :

NURDIANA, SP.,MP.

NIP. 196905302005012001

PUSAT PENELITIAN DAN PUBLIKASI ILMIAH

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

2018

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan penelitian yang berjudul “Perbedaan Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau

(Brassica juncea L.) pada Media Tanam Hidroponik dan Media Tanah di Lingkungan

Pejeruk Bangket Kelurahan Pejeruk Kec. Ampenan Kota Mataram” No. Registrasi

171010000008565, dengan klasifikasi Klaster Pembinaan/Peningkatan Kapasitas,

yang disusun oleh:

Nama : Nurdiana, SP.,MP.

NIP : 196905302005012001

No. ID Peneliti : 203005650110000

Bidang Keahlian : IPA Biologi

Yang pembiayaannya bersumber dari dana BOPTN DIPA UIN Mataram Tahun 2018,

sebesar 15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah), telah memenuhi ketentuan teknis dan

akademis sebagai laporan hasil penelitian, sesuai Petunjuk Teknis Penelitian Dosen

UIN Mataram.

Mataram, 29 November 2018

Mengetahui,

Ketua LP2M Kepala P3I

Dr. H. Nazar Na’amy, M.Si. Dr. Winengan, M.Si. NIP.197202012000031001 NIP. 197612312005011007

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb yang Maha mengetahui segala

kejadian, dan yang mengizinkan hati-hati ini berhimpun bagai sebuah konstruksi

yang kokoh. Dialah yang Maha mengizinkan penulis dapat menyelesaikan

penyusunan laporan penelitian yang berjudul: “Perbedaan Pertumbuhan Tanaman

Sawi Hijau (Brassica juncea L.) pada Media Tanam Hidroponik dan Media

Tanah di lingkungan Pejeruk Bangket Kelurahan Pejeruk Kec. Ampenan Kota

Mataram”.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada

1. Bapak Kepala Lingkungan Pejeruk Bangket Kelurahan Pejeruk Kecamatan

Ampenan yang membantu terlaksananya kegiatan penelitian ini.

2. Masyarakat Lingkungan Pejeruk Bangket Kelurahan Pejeruk yang berkenan

membantu dalam kegiatan penelitian ini.

Laporan penelitian ini bukanlah laporan yang sempurna, masih banyak terdapat

kekurangan. Oleh karena itu, saran dari para pembaca sangat diharapkan. Semoga

karya ini bermanfaat bagi para pembaca. Aamiin.

Mataram, Agustus 2018

Peneliti

Nurdiana, SP.,MP.

v

RINGKASAN HASIL PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman sawi

hijau (Brassica juncea L.) pada media tanam hidroponik dan media tanah. Jenis

penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif, rancangan

penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 perlakuan

yaitu perlakuan satu media tanam hidroponik (sekam padi) dan perlakuan dua media

tanah dengan masing-masing ulangan 8. Data dalam penelitian ini diperoleh dari

obsevasi dan dokumentasi dengan mengukur tinggi tanaman, diameter batang,

panjang daun, lebar daun, panjang akar, menghitung jumlah helaian daun,

menimbang berat basah dan berat kering tanaman sawi hijau. Hasil dari penelitian ini

dapat disimpulkan bahwa tinggi rata-rata tanaman sawi hijau media tanam hidroponik

7,125 cm dan media tanah 12 cm. Hasil rata-rata jumlah helaian daun tanaman sawi

hijau media tanam hidroponik 2 helai dan media tanah 4 helai. Hasil rata-rata

diameter batang tanaman sawi hijau media tanam hidroponik 0,593 cm dan media

tanah 0,768 cm. Hasil rata-rata panjang daun tanaman sawi hijau media tanam

hidroponik 5,608 cm dan media tanah 7,707 cm. Hasil rata-rata lebar daun tanaman

sawi hijau media tanam hidroponik 4,128 cm dan media tanah 5,420 cm. Hasil rata-

rata panjang akar tanaman sawi hijau media tanam hidroponik 9,762 cm dan media

tanah 13,537 cm. Hasil rata-rata berat basah (BB) tanaman sawi hijau media tanam

hidroponik 4,850 gram dan media tanah 14,125 gram. Hasil rata-rata berat kering

(BK) tanaman sawi hijau media tanam hidroponik 0,397 gram dan media tanah 1,055

gram. Diantara parameter yang memiliki perbedaan nilai yang paling tinggi yaitu

pada parameter berat basah (BB).

Perbedaan pertumbuhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) pada media

tanam hidoponik dan media tanah terdapat perbedaan pengukuran tinggi tanaman

sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) = 0,003 < 0,05 dan 1 % 0,01). Jumlah

helaian daun tanaman sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) = 0,000 < 0,05 dan 1

% 0,01). Pengukuran diameter batang tanaman sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-

tailed) = 0,059 > 0,05). Pengukuran panjang daun tanaman sawi hijau (5% didapat

nilai Sig (2-tailed) = 0,005 < 0,05 dan 1 % 0,01). Pengukuran lebar daun tanaman

sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) = 0,005 < 0,05 dan 1 % 0,01). Pengukuran

panjang akar tanaman sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) = 0,029 < 0,05).

Berat basah tanaman sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) = 0,001 < 0,05 dan 1

% 0,01). Kemudian berat kering tanaman sawi hijau (5% didapat nilai Sig (2-tailed) =

0,000 < 0,05 dan 1 % 0,01). Maka Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan

pertumbuhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) pada media tanam hidroponik

dan media tanah pada parameter tinggi, jumlah helaian daun, panjang daun, lebar

daun, panjang akar, berat basah dan berat kering.

Kata kunci: Media Tanam, Pertumbuhan, Tanaman Sawi Hijau

vi

DAFTAR ISI

COVER LUAR ............................................................................................................. i

COVER DALAM ......................................................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... iii

KATA PENGANTAR ................................................................................................ iv

RINGKASAN HASIL PENELITIAN .......................................................................... v

DAFTAR ISI .............................................................................................................. vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. viii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 2

C. Signifikansi dan Manfaat Penelitian ................................................................ 3

BAB II. LANDASAN PERSPEKTIF ........................................................................... 5

A. Kajian Penelitian Terdahulu ............................................................................. 5

B. Kajian Teori ...................................................................................................... 6

C. Hipotesis ........................................................................................................ 19

BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 21

A. Desain Penelitian .......................................................................................... 21

B. Metode Pengumpulan Data ........................................................................... 21

C. Analisis Data .................................................................................................. 28

D. Keabsahan Data .............................................................................................. 29

BAB IV. PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU ................ 31

A. Analisis Perbedaan Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau ............................... 31

B. Pengujian Hipotesis ....................................................................................... 40

C. Pembahasan Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau ........................................... 40

BAB V. PENUTUP .................................................................................................... 47

A. Kesimpulan ................................................................................................... 47

B. Implikasi Teoritis ........................................................................................... 47

C. Rekomendasi ........................................................................................... …...47

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 51

LAMPIRAN

BIODATA PENELITI

vii

DAFTAR TABEL

No.Tabel Judul Tabel Hlm.

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian ................................................................................ 23

Tabel 3.2 Denah Penempatan Percobaan RAL ......................................................... 23

Tabel 4.1 Tinggi tanaman sawi hijau ........................................................................ 31

Tabel 4.2 Jumlah helaian daun tanaman sawi hijau .................................................. 32

Tabel 4.3 Diameter batang tanaman sawi hijau ........................................................ 34

Tabel 4.4 Panjang daun tanaman sawi hijau ............................................................. 35

Tabel 4.5 Lebar daun tanaman sawi hijau ................................................................. 36

Tabel 4.6 Panjang akar tanaman sawi ....................................................................... 37

Tabel 4.7 Berat basah tanaman sawi hijau ................................................................ 38

Tabel 4.8 Berat kering tanaman sawi hijau ............................................................... 39

viii

DAFTAR GAMBAR

No.Gambar Judul Gambar Hlm.

Gambar 2.1 Tanaman Padi ....................................................................................... 7

Gambar 2.2 Sekam Padi ........................................................................................... 8

Gambar 2.3 Tanaman Sawi ...................................................................................... 15

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara agraris yang mengutamakan hasil panen sebagai

sumber terbesar penghasilannya. Hasil pertanian Indonesia digunakan untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat maupun untuk mengejar target ekspor. Hasil

pertanian yang utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu hasil

produksi pangan.

Selain produksi pangan di Indonesia adalah hal pokok dan penting untuk

terpenuhi. Pertanian di Indonesia memiliki peranan penting dalam menghasilkan

berbagai komoditi sayur-sayuran yang merupakan produksi holtikultura. Di

kalangan masyarakat Indonesia komoditi sayur-sayuran ditanam secara

konvensional atau menanam dilahan persawahan. Namun hal tersebut tidak dapat

dilakukan terus-menerus dikarenakan berdasarkan hasil obsevasi awal yang

dilakukan peneliti pada tanggal 18 Februari 2018 dengan pengamatan secara

langsung dilapangan yaitu observasi di Pejeruk Bangket terlihat lahan persawahan

yang sempit karena letaknya diperkotaan membuat lahan-lahan persawahan

berubah menjadi pemukiman warga.

Lahan pertanian setiap tahun berkurang yang dapat menurunkan produksi

sayuran. Penurunan lahan pertanian akibat konversi sektor pertanian ke sektor non

pertanian yang menyebabkan penyediaan lahan budidaya mengalami kendala.1

Sedangkan jumlah penduduk tetap bertambah tiap tahunnya.

Jika petani terus-menerus mengandalkan menanam sayuran dengan cara

konvensional, maka kebutuhan sayuran tidak akan dapat terpenuhi karena

membutuhkan lahan sawah yang luas. Salah satu sayuran yang diminati oleh

masyarakat yaitu sawi hijau (Brassica juncea L.). Sawi hijau (Brassica juncea L.)

termasuk sayuran daun dari keluarga Cruciferae yang mempunyi nilai ekonomis

tinggi. Selain bernilai ekonomis tinggi, tanaman ini juga mengandung mineral,

1 Pradyto Moerhasrianto, “Respon Pertumbuhan tiga sayuran pada berbagai nutrisi larutan

Hidroponik” (Skripsi, Universitas Jember, Jember, 2011), h. 1.

2

vitamin, protein dan kalori. Tanaman sawi berasal dari Tiongkok (Cina) dan Asia

Timur.

Menanam dengan sistem hidroponik memiliki berbagai keuntungan atau

kelebihan dalam penggunaan untuk menanan tumbuhan yaitu tidak memerlukan

lahan yang luas, kebutuhan air, unsur hara dan sinar matahari dapat diatur sesuai

dengan kebutuhan tanaman dan menurut jenisnya, baik secara manual maupun

mekanik, hama lebih terkontrol.2

Sistem hidroponik ini dapat diaplikasikan atau digunakan untuk menanam

sawi hijau (Brassica juncea L.). Jika tanaman sawi hijau ditanam dengan

menggungakan media tanam yang berbeda yaitu media tanam hidroponik dan

media tanam tanah dapat menghasilkan kualitas sawi yang berbeda. Kualitas sawi

dapat dilihat dari berbagai hal yang dapat diukur yaitu jumlah helaian daun, tinggi

tanaman, luas lebar daun, berat basah, berat kering, diameter batang, bahkan

panjang akar akan menunjukkan perbedaan kualitas setiap sawi yang ditanam

dengan media tanam yang berbeda.

Berdasarkan hal di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

pengembangan penelitian mengenai pengaruh media tanam hidroponik dan media

tanah terhadap kualitas sawi hijau (Brassica juncea L.) di lingkungan Pejeruk

Bangket Kelurahan Pejeruk Kec. Ampenan, Mataram.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan

pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada media tanam hidroponik

dan media tanah di lingkungan Pejeruk Bangket Kelurahan Pejeruk Kec.

Ampenan, Mataram”.

2 Hudoro Sameto, “Hidroponik Sederhana Penyejuk Ruangan” (Bogor: Penebar Swadaya,

2004), h. 2-3.

3

C. Signifikansi dan Manfaat Penelitian

1. Signifikansi Penelitian

Agar penelitian ini memiliki arah yang jelas dan konsisten pada masalah

yang diteliti, maka peneliti memberi batasan masalah sebagai berikut:

a. Media tanam yang digunakan adalah media hidroponik dan media tanah.

Media hidroponik dengan media tanam sekam padi mentah. Sehingga

penelitian ini menggunakan dua perlakuan. Perlakuan pertama yaitu

media tanam hidroponik dengan sekam padi. Perlakuan kedua yaitu

media tanam tanah.

b. Sistem hidroponik dalam penelitian ini dengan menggunakan pipa

paralon yang dilubangi dan gelas air mineral untuk meletakkan media

tanam dan tempat menanam sawi hijau (Brassica juncea L.).

c. Media tanam tanah dengan menggunakan wadah polybag berukuran 15 X

15 cm untuk menanam sawi hijau (Brassica juncea L.).

d. Penelitian ini terbatas pada kualitas sawi hijau (Brassica juncea L.).

Pertumbuhan yang diukur dalam penelitian iini adalah tinggi tanaman,

jumlah helaian, lebar daun, panjang daun, berat basah dan kering (gram),

diameter batang, dan panjang akar. Pengukuran tinggi tanaman, jumlah

daun, diameter batang dilakukan sebanyak 4 kali setelah waktu

penanaman dengan selang waktu 7 hari per pengukuran. Sedangkan l,

berat basah, berat kering, dan panjang akar diukur setelah panen.

e. Penyemaian benih sawi hijau dilakukan selama 2 minggu (14 hari)

sebelum ditanam pada media tanam hidroponik atau media tanah. Media

semai yang digunakan yaitu sekam padi bakar yang diletakkan di tray

semai.

f. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan sampai panen.

g. Sawi yang digunakan adalah sawi hijau (Brassica juncea L.).

4

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini antara lain:

a. Bagi Peneliti

Sebagai bahan pengetahuan bagi peneliti mengenai pertumbuhan sawi

hijau (Brassica juncea L) pada media tanam hidroponik dan media tanah.

b. Bagi Masyarakat

Sebagai bahan untuk meningkatkan kualitas sayuran dapat dimanfaat

dan diterapkan oleh masyarakat, terutama bagi para petani yang

membudidayakan sayuran sawi hijau (Brassica juncea L.) dalam upaya

meningkatkan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L.).

5

BAB II LANDASAN PERSPEKTIF

A. Kajian Penelitian Terdahulu

1. Aulia Rakhman dkk (2015) “Pertumbuhan Tanaman Sawi Menggunakan

Sistem Hidroponik dan Akuaponik” hasil penelitian menunjukkan bahwa

pertumbuhan tanaman dengan sistem hidroponik (L1) lebih baik dari pada

akuaponik (L2 dan L3). Dengan tinggi tanaman sawi rata-rata saat panen

untuk L1, L2, dan L3 adalah 24,6 cm; 9,1 cm; 14,0 cm; secara berurutan.

Jumlah daun tanaman sawi rata-rata saat panen untuk L1, L2, dan L3 adalah

10,2; 7,2; 7,7; secara berurutan. Panjang akar tanaman sawi untuk L1, L2, dan

L3 adalah 27,3 cm; 10,6 cm; 15,0 cm; secara berurutan. Berat total tanaman

sawi untuk L1, L2, dan L3 adalah 77,08 gr; 9,7 gr; 28,6 gr; secara berurutan.3

2. Dwi Harjoko (2009) “Studi Macam Media dan Debit Aliran Terhadap

Perumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) secara Hidroponik

NFT” penelitian menunjukkan hasil penggunaan debit air 2 inlet

(1,5liter/menit) menghasilkan tinggi tanaman 31,10 cm bila dibandingkan

dengan debit 1 inlet (0,75 liter/menit) tinggi tanaman sawi 34,44 cm. Debit

aliran 1,5 liter/menit dan 0,75 liter/menit menghasilkan kecepatan aliran yang

sama sesuai bagi tanaman sawi sehingga mampu mendukung hasil sawi.

Media dakron mampu mendukung pertumbuhan akar lebih baik daripada

kerikil dan kertas. Media dakron, kerikil, dan kertas dapat meratakan aliran

nutrisi sehingga mampu mendukung pertumbuhan akar. Tidak ada interaksi

antara penggunaan media dengan debit aliran terhadap pertumbuhan dan hasil

tanaman sawi.4

3 Aulia rakhman, dkk., “Pertumbuhan Tanaman Sawi Menggunakan Sistem Hidroponik dan

Akuaponik. Jurnal Teknik Pertanian Lampung. No.4. Vol. 4. (Oktober, 2015), h. 253. 4 Dwi Harjoko,”Studi Macam Media Tanam dan Debit Aliran Terhadap Pertumbuhan dan Hasil

Sawi (Brassica juncea L.) Secara Hidroponik NFT”, Jurnal Agronomi Fakultas Pertanian Universitas

Sebelas Maret, No. 11, Vol. 2 (Juli 2009), h. 62.

6

B. Kajian Teori

1. Media Tanam atau Tumbuh

a. Pengertian Media Tanam atau Tumbuh

Media tanam adalah media yang berfungsi untuk menumbuhkan

tanaman dan tempat berpegangnya akar yang mengokohkan tanaman.

Media tanam tidak tidak harus mengandung unsur hara. Media tanam

hanya berfungsi untuk mengokohkan tanaman atau berpegangnya akar.5

Media tanam atau tumbuh merupakan komponen utama ketika akan

melakukan budidaya atau bercocok tanam. Media tanam atau tumbuh

harus sesuai dengan tanaman yang akan ditanam.

b. Jenis-jenis Media Tanam atau Tumbuh

Berdasarkan dari jenis bahan penyusunnya, media tanam atau tumbuh

dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.

1). Bahan Organik

Media tanam yang dikatakan terbuat dari bahan organik

umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian

tumbuhan seperti daun, batang, bunga, buah atau kulit kayu.6 Hal

tersebut dikarenakan bahan organik sudah menyediakan unsur-unsur

hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik memilik pori-pori makro

dan mikro yang seimbang. Sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan

cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi. Salah satu media

tanam yang berbahan organik adalah sekam padi.

Sekam padi adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah

digiling. Sekam padi yang biasa digunakan berupa sekam bakar dan

sekam mentah (tidak dibakar).

5 Indah Sukawati. “Pengaruh Kepekatan Larutan Nutrisi Organik terhadap Pertumbuhan dan

Hasil Baby Kailan (Brassica oleraceae VAR. albo-glabra) pada Berbagai Komposisi Media Tanam

dengan Sistem Hidroponik Substrat”.Skripsi Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2010.h. 23-24. 6 M. Fathurrahim Mz,”Pengaruh Media Tumbuh …, h. 9.

7

Gambar 2.1. Tanaman Padi (Oryza sativa L.).7

Keterangan:

1. Bulir padi

2. Daun padi (Folium)

3. Batang padi (Caulis)

4. Akar padi (Radix)

Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama.

Sebagai media tanam keduanya memiliki peran penting dalam perbaikan

struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi

lebih baik.

7Munawi Inside, "Sistem Perakaran Tumbuhan” dalam http://belajar-di-

rumah.blogspot.co.id/2015/03/sistem-perakaran-tumbuhan.html diakses pada tanggal 18 April 2017

pukul 05.30 WITA.

1

2

3

4

8

Keterangan:

1. Sekam padi

Gambar 2.2. Sekam Padi IR 64.8

Penggunaan sekam bakar dan sekam mentah memiliki kelebihan

dan kekurangan masing-masing. Sekam bakar untuk media tanam tidak

perlu disterilisasi lagi karena mikro patogen sudah mati pada proses

pembakaran. Sekam bakar memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi

sehingga membuat media tanam menjadi gembur. Namun, sekam bakar

cenderung mudah lapuk.9

Sekam mentah digunakan sebagai media tanam karena mudah

mengikat air dan tidak mudah lapuk. Sekam metah merupakan sumber

kalium (K) yang dibutuhkan untuk tanaman, dan tidak mudah

menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan

sempurna. Namun cenderung miskin unsur hara.

Oleh karena itu penggunaan media tanam sekam mentah lebih aman

karena tidak mudah lapuk oleh jamur atau cendawan yang dapat

merugikan tumbuhan. Namun harus tetap disuplai unsur hara dari luar.

2). Bahan Anorganik

8Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Sekam” dalam https://upload.wikimedia.org/

wikipedia/commons/thumb/d/d6/Rice_chaffs.jpg/250px-Rice_chaffs.jpg diakses pada tanggal

14/03/2017 pukul 05.10 WITA. 9 Tim Karya Tani Mandiri, ”Pedoman Budi Daya secara Hidroponik” (Bandung: Nuansa Aulia,

2010), h. 38.

9

Bahan anorganik adalah bahan yang memiliki unsur mineral

tinggi yang brasal dari pelapukana batuan induk di dalam bumi. Proses

pelapukan tersebut bisa diakibatkan oleh berbagai hal seperti

pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi. Selain itu,

bahan anorganik dapat berasal dari bahan sintetis atau kimia buatan

pabrik.10

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari

pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4, yaitu:

a). Kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm).

b). Pasir (berukuran 1-2 mm).

c). Debu (berukuran 2-50µ).

d). Tanah liat (berukuran kurang dari 2 jµ).

a. Hidroponik

1. Pengertian Hidroponik

Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro yang

berarti air dan ponics yang artinya daya atau tenaga atau tenaga

kerja.11 Istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tentang cara

bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.

Media hidroponik dapat berupa padat dan air atau cairan larutan

nutrisi. Media padat seperti pasir putih atau pasir kali, arang kayu,

pecahan genteng, kerikil, dan zeolit,.12

2. Keuntungan Hidroponik

Bertanam secara hidroponik dapat berkembang dengan cepat

dikarenakan memiliki banyak kelebihan. Kelebihan yang utama dari

10 Tim Karya Tani Mandiri, ”Pedoman Budi Daya …, h. 40. 11 Pinus Lingga, “Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah Edisi Revisi” (Jakarta: Penebar

Swadaya, 2011), h. 1. 12 R. H. Paeru dan Trias Qurnia Dewi, “Panduan Praktis Bertanam Sayuran di Pekarangan.

Bogor: Penebar Swadaya. 2016.… h. 65.

10

sistem hidroponik adalah tanaman akan tumbuh dan berproduksi lebih

terjamin. Selain itu, kelebihan sistem hidroponik lainnya adalah

sebagai berikut:

a.) Tidak memerlukan lahan yang luas. Dengan sistem hidroponik,

tanaman dapat ditanam di dalam bejana atau pot. Tanaman dapat

disusun dalam rak tanaman dan dapat dipindahkan sesuai

keinginan pemiliknya.

b.) Kebutuhan air, unsur hara dan sinar matahari dapat diatur sesuai

dengan kebutuhan tanaman dan menurut jenisnya, baik secara

manual maupun mekanik.13

c.) Perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih terkontrol atau

dapat dikurangi. Selain itu, tidak ada risiko kebanjiran, erosi,

kekeringan atau ketergantungan pada kondisi alam karena

beberapa jenis tanaman bisa dibudidayakan di luar musim.

d.) Kondisi tanaman dan lingkungan kerja bersih dikarenakan sistem

hidroponik tidak menggunakan tanah. Dan tanaman tumbuh

dengan pesat dan tidak rusak.

e.) Tanaman tumbuh lebih cepat, pemakaian pupuk dan air lebih

hemat (efisien).

f.) Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang

baru.

g.) Tidak membutuhkan banyak tenaga kasar karena metode kerja

lebih hemat dan memiliki standarisasi.

h.) Hasil produksi lebih kontinu dan lebih tinggi dibandingkan dengan

penanaman di tanah.

i.) Harga jual produk hidroponik lebih tinggi dibandingkan dengan

non-hidroponik.14

13 Pinus Lingga, “Hidroponik Bercocok Tanam…, h. 4-5.

11

j.) Menanam hidroponik dapat dilakukan diberbagai lokasi yang tidak

memungkinkan seperti halaman rumah, garasi, atap, dan dapur.15

3. Kekurangan Hidroponik

Selain sistem hidroponik memiliki berbagai keuntungan juga

memiliki berbagai kekurangan atau kelemahan atau kendala dari

sistem hidroponik antara lain sebagai berikut:

a.) Ketersedian dan pemeliharaan perangkat hidroponik agak sulit.16

b.) Memerlukan keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu

bahan kimia.

c.) Investasi awal yang relatif lebih besar atau mahal.17

4. Jenis-jenis Hidroponik

Jika dilihat dari media tanam ada dua macam hidroponik, yaitu

hidroponik metode substrat dan hidroponik metode non-substrat.

a.) Hidroponik Metode Substrat

Hidroponik substrat tidak mengguankan air sebagai media,

tetapi menggunakan media padat tapi bukan tanah yang dapat

menyerap air atau menyediakan nutrisi, air, oksigen serta

mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi tanah.18 Beberapa

contoh bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam

hidroponik metode substrat adalah arang, sekam padi, pasir, kerikil

batu apung atau cocopeat, rock wool, dan spons.19

b.) Hidroponik Metode Non-subtrat

Metode hidroponik non-substrat tidak menggunakan media

tanam. Karena akar tanaman langsung masuk pada talang saluran

air. Biasa disebut dengan NFT (Nutrient Film Technique). Selain

14 Hudoro Sameto, “Hidroponik Sederhana Penyejuk…, h. 2-3. 15 Kunto Herwibowo dan N.S. Budiana, “Hidroponik Sayuran untuk…, h. 19. 16 Kunto Herwibowo, Ibid. 17 Tim Karya Tani Mandiri, “Pedoman Budi Daya…, h. 26. 18 Pinus Lingga, “Hidroponik Bercocok Tanam..., h. 7. 19 Tim Karya Tani Mandiri, “Pedoman Budi Daya…, h. 56.

12

itu ada juga aeroponik dimana air nutrisi disemperotkan langsung

ke akar tanaman. Hidoponik tersebut lebih praktis tetapi

dibutuhkan modal yang lumayan besar.20

b. Tanah

1. Pengertian Tanah

Tanah merupakan media alamiah tamanan sebagai tempat

berlangsungnya kehidupan tumbuh-tumbuhan. Tanah berasal dari

pelapukan batu-batuan dan bercampur dengan sisa-sisa bahan organik

dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di dalam ataupun di

atas tanah.21

2. Jenis-jenis Tanah

Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan daratan yang

luas dan memiliki berbagai jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini

jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut:

a.) Tanah Humus

Tanah humus adalah tanah yang sangat subur yang

terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan

tropis.

b.) Tanah Pasir

Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik untuk

pertanian. Tanah pasir terbentuk dari batuan beku dan batuan

sedimen yang memiliki butiran yang kasar dan berkerikil.

c.) Tanah Endapan atau Tanah Alluvial

Tanah endapan adalah tanah yang dibentuk dari lumpur

sungai yang mengendap di daratan rendah yang memiliki sifat

tanah yang subur dan cocok untuk bertanam pertanian.

20 Tim Karya Tani Mandiri, Panduan BudiDaya…, h. 57. 21 M. Fathurrahim Mz,”Pengaruh Media Tumbuh terhadap Pertumbuhan Tinggi Tanaman

Bayam (Amaranthus hibrida) serta Potensinya sebagai Bahan Kajian Mata Kuliah Ekologi

Tumbuhan. Mataram: IAIN Mataram. 2014, h. 9.

13

d.) Tanah Podzolit

Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada

di pengunungan dengan curah hujan tinggi dan bersuhu dingin atau

rendah. 22

3. Fungsi Tanah

Fungsi tanah sebagai media tanam atau tumbuh tanaman adalah

sebagai berikut:

a.) Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran.

b.) Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur

hara).

c.) Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh:

hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin

anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara).

d.) Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena

terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan

primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak

negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.23

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

a.) Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman,

dan

b.) Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan

hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah

industri yang berbahaya.24

4. Kelebihan Tanah dibanding Media Tanam Lain

Kelebihan tanah sebagai media tanam atau tumbuh tanaman

adalah sebagai berikut:

22 M. Fathurrahim Mz, Ibid., h. 18. 23 Kemas Ali Hanafiah, “Dasar-dasar Ilmu Tanah Edisi 1” (Jakarta: Rajawali Pers, 2012). 24 Kemas Ali Hanafiah, Ibid.

14

a.) Lebih kuat dlm menyangga tanaman.

b.) Dapat menyediakan unsur hara.

c.) Dapat mengatur ketersediaan air.

d.) Filter dari kontaminan.

e.) Tempat hidup biota yang menghasilkan unsur yang berguna bagi

tanaman.25

5. Kelemahan Tanah dibanding Media Tanam Lain

Kelemahan tanah sebagai media tanam atau tumbuh tanaman

sebagai berikut:

a.) Tanah dijaman sekarang ini sulit didapat apalagi dikota-kota besar.

b.) Pengolahannnya memakan biaya yang besar.

c.) Penggunaan pupuk kurang efisien dibanding dengan media lain.

d.) Tempat hidup biota yang bisa merugikan tanaman.

c. Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)

1. Pengertian Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)

Sawi hijau merupakan tanaman yang dapat tumbuh pada

daratan rendah maupun daratan tinggi. Pada umumnya, sawi hijau

dapat tumbuh baik di tanah yang subur, kaya humus, serta drainase

tanahnya baik. Keasaman atau pH tanah yang dibutuhkan adalah 6-7.

Waktu tanam yang baik adalah pada akhir musim hujan. Namun, sawi

hijau dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan tersedia cukup

air.26

25 Kemas Ali Hanafiah, “Dasar-dasar Ilmu…, 26 Hesti Dwi Setyaningrum, “Panen Sayur Secara Rutin di Lahan Sempit” (Jakarta: Penebar

Swadaya, 2014), h. 179-180.

15

Gambar 2.3. Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.).27

Keterangan:

1. Daun (Folium)

2. Batang (Cauilis)

2. Morfologi tanaman sawi hijau

Morfologi tanaman sawi hijau dibagi menjadi 2 yaitu alat hara dan alat

reproduksi.

a.) Alat hara (Organum nutritivum)

Tumbuhan memiliki alat hara yang berfungsi sebagai alat

penyalur berbagai unsur hara dari dalam tanah. Alat hara tanaman

sawi hijau yakni:

1.) Akar (Radix)

2.) Batang (Caulis)

3.) Daun (Folium)

b.) Alat reproduksi (Organum reproductivum)

1.) Bunga (Flos)

27 Dimas Ragil, “Budidaya Tanaman Sawi Hijau” dalam http://pet4nimuli4.blogspot.co.id/

2016/02/budidaya-tanam-sawi-hijau_14.html diakses pada tanggal 14/3/2017 pukul 04.44 WITA.

1

2

16

2.) Buah (Fructus)

3.) Biji (Semen)

3. Klasifikasi Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)

Menurut klasifikasi dalam sistematika tumbuhan, tanaman sawi hijau

termasuk dalam:

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Angiospermae

Sub kelas : Dicotyledonae

Ordo : Papavorales

Famili : Brassicaceae

Genus : Brassica

Spesies : Brassica juncea L.

4. Jenis-jenis Tanaman Sawi

Sawi termasuk famili cruciferae, dari jenis ini dikenal tiga

varietas antara lain sebagai berikut:28

1.) Sawi putih atau disebut sawi jagung (Brassica juncea L. var.

rugosa Roxb. & Prain)

Sawi putih sangat digemari banyak orang karena rasanya

yang enak. Tulang daunnya lebar, berwarna hijau keputih-putihan,

bertangkai pendek, dan bersayap. Sayap tersebut melengkung ke

bawah. Batang sawi putih pendek dan tegap.

2.) Sawi Hijau

Sawi hijau kurang disukai karena rasanya agak pahit. Sawi

hijau batangnya pendek dan tegap. Daun-daunnya lebar, berwarna

hijau tua, dan bertangkai pipih.

28 Hendro Sunarjono, Ibid., h. 84-85.

17

3.) Sawi Huma

Sawi huma ini pun enak rasanya, tetapi masih kurang enak

jika dibandingkan dengan sawi putih. Batang sawi huma panjang,

kecil, dan langsing. Daun-daunnya panjang sempit, berwarna hijau

keputih-putihan, bertangkai panjang, dan bersayap.

5. Syarat Tumbuh

Semua tanaman atau tumbuhan memiliki berbagai keriteria atau

syarat tumbuh yang dimilikinya agar bisa tumbuh. Tanaman sawi

dapat tumbuh dan berkembang bila syarat-syarat tumbuh sawi

terpenuhi dengan baik. Faktor iklim dan tanah merupakan faktor yang

paling dominan mempengaruhi tanaman sawi. Kedua faktor ini saling

mempengaruhi yaitu:

a.) Syarat iklim

Kondisi iklim yang baik untuk pertumbuhan tanaman sawi

adalah kondisi daerah yang mempunyai suhu malam 15,6oC dan

siangnya 21,1oC serta lama penyinaran matahari setiap harinya

yaitu 10-13 jam29.30

b.) Syarat tanah

Pada umumnya tanaman sawi dapat ditanam diberbagai

jenis tanah, namun yang baik adalah jenis tanah yang lempung

berpasir, seperti tanah andosol, untuk jenis tanah liat perlu

dilakukan pengolahan lahan secara sempurna antara lain dengan

penambahan pasir dan pupuk organik dalam dosis tinggi. Jadi

syarat tanah yang ideal untuk menanam tanaman sawi adalah

subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tata udara

dalam tanah berjalan dengan baik dan pH tanah antara 6-7.31

29 Haryanto Eko, dkk.,”Sawi & Selada. Jakarta: Penebar Swadaya. 2001, h. 34. 30 Haryanto Eko, Ibid, h. 9. 31 Rahmat Rukmana, “Bertanam Sawi & Selada. Yogyakarta: Kasinus. 2003, h. 35.

18

6. Manfaat Tanaman Sawi

Tanaman sawi yang dimanfaatkan baik setelah diolah maupun

yang dimakan secara langsung sebagai lalapan, ternyata kandungan

beragam zat esensial untuk kesehatan. 32

7. Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau

a. Pengertian Pertumbuhan

Pendapat lain, pertumbuhan adalah pertambahan biomassa

atau ukuran (berat, volume atau jumlah) yang bersifat irreversible.

Pertumbuhan merupakan proses kuantitatif.33

b. Fase Pertumbuhan

1) Fase vegetatif

2) Fase generativ

Beberapa parameter pertumbuhan sawi yang dapat terliat secara

vegetatif antara lain sebagai berikut:

a. Tinggi tanaman

Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering

diamati karena mudah dilihat.34

b. Jumlah daun

Jika jumlah daun semakin banyak maka tanaman akan

menghasilkan fotosintat yang banyak yang berarti pertumbuhan

tanaman meningkat.

c. Diameter batang

Diameter batang merupakan salah satu parameter

pertumbuhan tanaman karena semakin besar diameter batang hal

32 Haryanto Eko, dkk., “Sawi & Selada.., h. 6-7. 33 Herdiyana Fitriani dan Husnul Jannah, “Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Biji.

Mataram: Duta Pustaka Ilmu. 2014. h. 32. 34 Indah Sukawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan Nutrisi Organik terhadap Pertumbuhan dan

Hasil Baby Kailan (Brassica oleraceae VAR. albo-glabra) pada Berbagai Komposisi Media Tanam

dengan Sistem Hidroponik Substrat. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2010” h. 38.

19

tersebut menunjukkan bahwa daya hantar zat nutrisi tanaman untuk

melakukan fotosintesis dapat terjadi lebih cepat.

d. Panjang akar

Panjang akar merupakan salah satu parameter pertumbuhan

tanaman karena jika tanaman memiliki akar yang panjang dapat

menunjukkan tanaman tersebut mendapatkan nutrisi yang baik karena

dapat menjangkau unsur hara yang dibutuhkan.

e. Berat basah

Berat brangkas basah atau segar tanaman merupakan gabungan

dari perkembangan dan pertambahan jaringan tanaman seperti jumlah

daun, panjang daun, lebar daun, dan tinggi tanaman. Berat brangkas

basah atau segar tanaman digunakan sebagai parameter

pertumbuhan.35 Berat basah merupakan total berat tanaman yang

menunjukkan hasil aktivitas metabolik tanaman.

f. Berat kering

Berat kering tanaman merupakan akibat dari pertumbuhan dan

hasil asimilasi O2 sepanjang pertumbuhan tanaman serta

mencerminkan status nutrisi tanaman yang sangat bergantung pada

laju fotosintesis. Perkembangan tanaman merupakan kombinasi dari

sejumlah proses kompleks yaitu pertumbuhan dan diferensiasi yang

mengarah pada akumulasi berat kering.36

C. Hipotesis

Adapun hipotesis yang terdapat dalam penelitian ini terbentuk 2

hipotesis sesuai dengan rumusan masalah, yaitu:

Ha: ada perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada

media tanam hidroponik dan media tanah).

35 Indah Sukawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan…” h. 47. 36 Ibid

20

Ho: tidak ada perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada

media tanam hidroponik dan media tanah.

21

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan strategi untuk memperoleh data yang valid

sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Desain penelitian

atau rancangan pada dasarnya merupakan keseluruhan proses pemikiran dan

penentuan yang matang tentang hal-hal yang akan dilakukan.37 Desain

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian

eksperimen (penelitian murni), pada penelitian ini yang diteliti tentang

perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada media tanam

hidroponik dan media tanah. Jenis penelitian eksperimen yang digunakan

yaitu true eksperimental.

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah suatu proses

menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat

menemukan keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.

B. Metode Pengumpulan Data

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan Pejeruk Bangket kelurahan

Pejeruk Kec. Ampenan, Mataram dan dilakukan selama 1 bulan dari Juli-

Agustus 2018.

2. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau

subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dari

37 Margono, “Metodologi Penelitian” (Jakarta: Refika Aditama, 2010), h. 100.

22

definisi populasi tersebut, populasi dalam penelitian ini adalah tanaman sawi

hijau (Brassica juncea L.) yang terdapat di Pejeruk Bangket Ampenan,

sebayak 100 tanaman sawi hijau berumur 2 minggu.

b. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti.

Adapun Sampel dalam penelitian ini adalah 16 tanaman sawi hijau dalam

polybag dan hidroponik. Setiap polybag dan hidroponik berisi masing-

masing 1 tanaman sawi hijau.

3. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan Rancangan Acak Rengkap (RAL). Rancangan acak

lengkap umumnya cocok untuk digunakan di kondisi lingkungan, alat, bahan

dan media yang homogen. Selain itu rancangan acak lengkap biasanya

digunakan untuk percobaan-percobaan di laboratorium, rumah kaca, dan

percobaan-percobaan yang terkendali.38 Dalam percobaan yang akan

dilakukan peneliti menggunakan 2 perlakuan (media tanam) yaitu media

tanam hidroponik dengan menggunakan sekam padi dan media tanam tanah

yang menggunakan tanah humus. Kemudian diulangi sebanyak 8 kali ulangan

totalnya sebanyak 16 unit percobaan. Percobaan ini tanpa lokal control.

Adapun rancangan acak lengkap yang digunakan adalah rancangan akar

lengkap dengan ulangan sama. Hasil suatu percobaan yang dilakukan dengan

rancangan acak lengkap, mendapat t perlakuan semua perlakuan tersebut

mendapatkan ulangan yang sama yaitu sebanyak r ulangan. Rancang

penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 3.1 dibawah ini.

38 Kusriningrum R.S., “Perancangan Percobaan” (Surabaya: Airlangga university Press, 2012),

h. 99.

23

Tabel 3.1. Rancangan Penelitiaan

Perlakuan

(M)

Ulangan

(U)

1 2 3 4 5 6 7 8

M1

(Media tanam

hidroponik)

M1U1 M1U2 M1U3 M1U4 M1U5 M1U6 M1U7 M1U8

M2

(Media tanam tanah) M2U1 M2U2 M2U3 M2U4 M2U5 M2U6 M2U7 M2U8

Pengacakan penempatan percobaan dilakukan secara sederhana dengan

menggunakan teknik undian atau lotre.39 Sehingga diperoleh penempatan

percobaan pada denah penempatan percobaan rancangan acak lengkap tersusun

sebagai berikut dapat dilihat pada table 3.2.

Tabel 3.2. Denah Penempatan Percobaan RAL

M1U8 M1U6 M1U3 M1U4 M1U2 M1U5 M1U7 M1U1

M2U5 M2U2 M2U4 M2U7 M2U6 M2U1 M2U3 M2U8

4. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.) Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat

kerperluan menyemai, menanam, dan pengamatan adalah sebagai berikut

1.) Alat penyiram (Gembor plastik)

2.) Timbangan digital

3.) Pipa paralon

4.) Gelas plastik

5.) Polybag

6.) Penggaris

39 Kusriningrum R.S., Ibid., h. 16.

24

7.) Tali

8.) Gergaji

9.) Selang aerator

10.) Pompa air kolam ikan

11.) Bak besar

12.) Penyambung pipa paralon T dan L

13.) Mesin bor

14.) Meteran

15.) Sambungan pipa dari 3 inchi ke 2inchi

16.) Kabel tis

17.) Penutup pipa

18.) Tray semai

19.) Penyemprot

b.) Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai

berikut:

1.) Tanah humus

2.) Sekam padi mentah dan bakar

3.) Benih tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

4.) Kertas label

5.) Air

5. Prosebur Penelitian

a. Prosedur penelitian

Adapun prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:

Penyemaian

1) Membakar sekam padi mentah

2) Menyiapkan tray semai yang memiliki 100 lubang

3) Memasukkan sekam padi bakar ke dalam tray semai

25

4) lubangi media tanam sekam padi bakar sedalam 2 cm kemudian

masukkan benih sawi hijau.

5) Lakukan penyemprotan media semai setiap pagi dan sore hari.

6) Ambil tanaman sawi hijau yang telah berumur 2 minggu dan

barulah pindahkan ke media tanam baik itu media tanam hidroponik

dengan sekam padi dan polybag dengan media tanah.

Persiapan tempat penanaman

Adapun persiapan tempat penanaman yang harus dipersiapkan

adalah sebagai berikut:

1) Persiapan tempat penanaman dengan media tanam hidroponik

a) Menyiapkan pipa paralon yang akan digunakan di sistem

hidroponik yang telah diberikan lubang berdiameter lingkaran 6

cm untuk tempat meletakkan wadah media tanam pada pipa

paralon ukuran 3 inchi dengan panjang 1,5 meter.

b) Pipa paralon dilubangi sebanyak 8 lubang sesuai dengan

jumlah ulangan. Jarak antar lubang yaitu 10 cm.

c) Setiap lubang akan diletakkan gelas plastik berukuran 7 X 9 cm

sebagai wadah media tanam hidroponik.

d) Gelas plastik yang akan diletakkan dalam lubang terlebih

dahulu diisi dengan media sekam padi setinggi 7 cm dari dasar

gelas ke permukaan gelas dan dipadatkan.

e) Sebelum sekam padi dimasukkan kedalam wadah gelas terlebih

dahulu diberikan lubang agar air bisa mengalir melalui media

tanam dan akar.

2) Persiapan tempat penanaman dengan media tanah

a) Persiapan tempat penanaman berupa polybag ukuran 15 X 15

cm dengan jumlah 8 poly bag sesuai dengan jumlah ulangan.

Jarak antar polybag 10 cm.

26

b) Tanah yang digunakan adalah tanah humus yang berada di

lapisan top soil.

c) Sebelum memasukkan tanah ke polybag terlebih dahulu

menghomogenkan tanah atau mencampurkan tanah agar tanah

tidak menggumpal dan seragam.

d) Setelah itu masukkan tanah setengah ukuran polybag.

Penanaman

1) Penanaman dilakukan sore hari dengan memilih tanaman yang

sehat, kuat, dan berukuran seragam.

2) Tanaman sawi hijau yang siap dipindahkan harus dicabut dengan

hati-hati dari media tanam.

3) Tanaman sawi kemudian ditanam pada media tanam baik itu media

tanam hidroponik maupun media tanah.

Pemeliharaan tanaman

Adapaun pemeliharaan tanaman dalam penelitian ini meliputi:

1) Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk menggantikan bibit yang mati

sampai maksimal 1 minggu setelah tanam. Penyulaman dilakukan

pada tanaman sawi hijau yang mati atau rusak akibat pindah tanam.

2) Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap 2 kali sehari yaitu pagi dan sore

hari pada setiap perlakukan dan ulangan.

3) Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan

pengendalian manual.

27

6. Parameter penelitian

Adapun parameter penelitian yang ingin diteliti dalam penelitian ini

adalah parameter pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea.L) antara lain

sebagai berikut:

1) Tinggi tanaman

Tinggi tanaman sawi (Brassica juncea L) dalam centimeter (cm)

dilakukan 4 kali pengukuran yaitu minggu ke I (hari ke 7), minggu ke II

(hari ke 14), minggu ke III (hari ke 21), dan minggu ke IV (hari ke 28)

setelah tanam.

2) Jumlah helaian daun (Folium)

Jumlah helaian daun sawi hijau (Brassica juncea L.) dalam helai

dilakukan 4 kali penghitungan yaitu minggu ke I (hari ke 7), minggu ke

II (hari ke 14), minggu ke III (hari ke 21), dan minggu ke IV (hari ke

28) setelah tanam.

3) Diameter batang (Caulis)

Diameter batang tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) dalam

centimeter (cm) dilakukan 4 kali pengukuran penghitungan yaitu

minggu ke I (hari ke 7), minggu ke II (hari ke 14), minggu ke III (hari

ke 21), dan minggu ke IV (hari ke 28) setelah tanam.

4) Lebar daun(cm)

Lebar daun (cm) sawi hijau (Brassica juncea L.) dilakukan

pengukuran sebanyak 1 kali yaitu pada saat panen. Pengukuran pada

setiap daun yang ada pada tumbuhan sawi hijau.

5) Panjang daun (cm)

Panjang daun (cm) sawi hijau (Brassica juncea L.) dilakukan

pengukuran sebanyak 1 kali yaitu pada saat panen. Pengukuran pada

setiap daun yang ada pada tumbuhan sawi hijau.

6) Berat basah

28

Berat basah tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) dalam gram

(gr) ditimbang pada saat panen dengan menimbang semua bagian

tanaman yang meliputi: akar, batang, dan daun menggunakan timbangan

digital.

7) Berat kering

Berat kering tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) dalam gram

(gr) diperoleh dengan menimbang semua bagian tanaman yang meliputi

akar, batang, dan daun dilakukan seminggu setelah panen dan melalui

proses pengeringan yaitu mengering anginkan. Penimbangan

menggunakan timbangan digital.

8) Panjang akar (Radix)

Panjang akar tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) diperoleh

dengan melakukan pengukuran setelah panen. Pengukuran panjang akar

di ukur dari pangkal akar sampai ujung akar dalam centimeter (cm).

C. Analisis Data

Analisis data untuk mengetahui adanya pengaruh media tanam

hidroponik dan media tanah, data yang didapatkan dianalisis dengan

menggunakan analisis komparatif sampel tidak berkorelasi (Independent-

Sample t-test) dengan menggunakan SPSS 16.0. pada taraf signifikan 5%.

Adapun langkah-langkah dalam analisis data adalah sebagai berikut:

1) Uji persyaratan

Uji persyaratan dilakukan untuk dapat melakukan analisis parametrik

yaitu uji normalitas data. Penelitian yang melakukan pengujian hipotesisi

dengan menggunakan uji-t menuntut asumsi yang harus diuji yaitu harus

berdistribusi normal.

29

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data jadi inputan

atau objek penelitian terdistribusi normal atau tidak.40 Dalam penelitian ini

uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan uji ini dapat

diketahui data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. Apabila nilai

signifikan hitung lebih besar dari 0,05 (Sig hitung > 0.05) maka data tersebut

berdistribusi normal dan begitu sebaliknya.

2) Independent Sample t-test (Analisis komparatif tidak berkolerasi)

Independent Sample t-test (analisis komparatif tidak berkolerasi)

digunakan untuk uji perbandingan untuk mengetahui apakah ada perbedaan

media tanam terhadap pertumbuhan sawi hijau. Dalam penenelitian ini,

peneliti menggunakan bantuan program SPSS versi 16.0for windows untuk

mengatahui nilai independent sample t-test dari data yang terkumpul dalam

penelitian ini. Sebagai kaidah keputusan pengujian adalah sebagai berikut:

a) Jika nilai Sig hitung > 0,05 maka Ho diterima. Artinya tidak terdapat

perbedaan tidak nyata (non sigrnifikan) diantara perlakuan (pada hasil

Sig hitung ditandai dengan ns).

b) Jika nilai Sig hitung < 0,05 maka Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan

nyata (nyata signifikan) diantara perlakuan (pada hasil Sig hitung

ditandai dengan *).

c) Jika nilai Sig hitung < 0,01 maka Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan

sangat nyata (sangat nyata signifikan) diantara perlakuan (pada hasil

Sig hitung ditandai dengan **).

D. Keabsahan Data

1. Validasi internal (Kredibilitas) : adalah ukuran mengenai kebenaran

data yang didapat dengan instrument.

40 R. Gunawan Sudarmanto, “Statistik Terapan Berbasis Komputer dengan Program IBM SPSS

Statistics 19” (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013), h. 104.

30

2. Validasi eksternal (Transferabilitas) : adalah validasi yang berkaitan

dengan masalah generalisasi yaitu sampai manakah generalisasi yang

dirumuskan berlaku untuk kasus-kasus lain yang berbeda diluar

penelitian.

3. Dependabilitas : adalah indeks yang menunjukkan sampai sejauh mana

alat ukur bisa diandalkan atau bisa dipercaya.

4. Objektivitas : adalah penelitian dapat dikatakan objektif jika

dibenarkan atau konfirmasi oleh peneliti yang lain.

31

BAB IV PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica

juncea L.)

1. Analisis komparatif tidak berkorelasi (independent sample t-test)

Data penelitian semua parameter penelitian memiliki data yang berdistribusi

normal maka dilanjutkan dengan menganalisis data dengan analisis komparatif

tidak berkolerasi (independent sample t-test) sebagai berikut:

a. Tinggi tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.1.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test (Perubahan

Pertumbuahn Tinggi TanamanSawi Hijau pada Media Tanam yang

Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

4.704 .048 -3.632 14 .003 -4.87500 1.34214 -7.75360 -1.99640

Equal

variances

not

assumed

-3.632 7.709 .007 -4.87500 1.34214 -7.99043 -1.75957

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitung = 0,05. Nilai Sig hitung dilihat pada Sig

32

(2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat jalur

Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak homogen

(jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed. Karena data

pertumbuhan tinggi memiliki variasi data homogen (0,048 dibulatkan 0,05

= 0,05) maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed. Jadi

analisis independent sample t-test pada pertumbuhan tinggi tanaman sawi

hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 dan 0,01 yaitu 0,003 < 0,05

dan 0,01 yang menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan

pertumbuhan tinggi tanaman sawi hijau pada media tanam hidroponik dan

media tanah pada taraf 5% dan 1% yang berarti perbedaan sangat

signifikan.

b. Jumlah helaian daun tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.2.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Perubahan Jumlah Helaian Daun Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam

yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

3.839 .070 -4.771 14 .000 -2.37500 .49776 -3.44260 -1.30740

33

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

3.839 .070 -4.771 14 .000 -2.37500 .49776 -3.44260 -1.30740

Equal

variances

not

assumed

-4.771 9.135 .001 -2.37500 .49776 -3.49848 -1.25152

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

Karena data pertumbuhan jumlah helaian daun memiliki variasi data

homogeny (0,070 > 0,05) maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances

assumed. Jadi analisis independent sample t-test pada pertumbuhan jumlah

helaian daun tanaman sawi hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05

dan 0,01 yaitu 0,000 < 0,05 dan 0,01 yang menandai Ha diterima. Artinya

terdapat perbedaan pertumbuhan jumlah helaian daun tanaman sawi hijau

pada media tanam hidroponik dan media tanah pada taraf 5% dan 1% yang

berarti perbedaan sangat signifikan.

34

c. Diameter batang tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.3.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Perubahan Diameter Batang Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam

yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

1.050 .323 -2.053 14 .059 -.175000 .085239 -.357819 .007819

Equal

variances

not assumed

-2.053 11.971 .063 -.175000 .085239 -.360769 .010769

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

Karena data pertumbuhan diameter batang memiliki variasi data homogen

(0,323 > 0,05) maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed.

Jadi analisis independent sample t-test pada pertumbuhan diameter batang

tanaman sawi hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung > 0,05 yaitu 0,059 >

0,05 yang menandai Ho diterima. Artinya tidak terdapat perbedaan

35

pertumbuhan diameter batang tanaman sawi hijau pada media tanam

hidroponik dan media tanah pada taraf 5% yang berarti perbedaan non

signifikan.

d. Panjang daun tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.4.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Panjang Daun Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T Df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

6.085 .027 -3.174 14 .007 -2.098750 .661190 -3.516861 -.680639

Equal

variances

not

assumed

-3.174 7.602 .014 -2.098750 .661190 -3.637450 -.560050

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05. Nilai Sig hitung dilihat pada Sig

(2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat jalur

Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak homogen

(jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed. Karena data

panjang daun memiliki variasi data tidak homogen (0,027 < 0,05) maka Sig

(2-tailed) pada jalur Equal variances not assumed. Jadi analisis

36

independent sample t-test pada pertumbuhan panjang daun tanaman sawi

hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 yaitu 0,014 < 0,05 yang

menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan pertumbuhan panjang

daun tanaman sawi hijau pada media tanam hidroponik dan media tanah

pada taraf 5% dan 1% yang berarti perbedaan sangat signifikan.

e. Lebar daun tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.5.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Lebar Daun Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

1.064 .320 -3.287 14 .005 -1.291250 .392835 -2.133798 -.448702

Equal

variances

not

assumed

-3.287 11.999 .006 -1.291250 .392835 -2.147171 -.435329

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

37

Karena data lebar daun memiliki variasi data homogen (0,320 > 0,05) maka

Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed. Jadi analisis

independent sample t-test pada pertumbuhan panjang daun tanaman sawi

hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 dan 0,01 yaitu 0,005 < 0,05

dan 0,01 yang menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan

pertumbuhan panjang daun tanaman sawi hijau pada media tanam

hidroponik dan media tanah pada taraf 5% dan 1% yang berarti perbedaan

sangat signifikan.

f. Panjang akar tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.6.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Perubahan Panjang Akar Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam yang

Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

Nilai Equal

variances

assumed

.332 .573 -2.431 14 .029 -3.77500 1.55275 -7.10531 -.44469

Equal

variances

not assumed

-2.431 13.544 .030 -3.77500 1.55275 -7.11587 -.43413

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

38

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

Karena data panjang akar memiliki variasi data homogen (0,573 > 0,05)

maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed. Jadi analisis

independent sample t-test pada pertumbuhan panjang akar tanaman sawi

hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 yaitu 0,029 < 0,05 yang

menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan pertumbuhan panjang

tanaman sawi hijau pada media tanam hidroponik dan media tanah pada

taraf 5% yang berarti perbedaan nyata signifikani.

g. Berat basah tanaman sawi hijau

Tabel 4.7.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Berat Basah Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

nilai Equal

variances

assumed

3.785 .072 -4.327 14 .001 -9.27500 2.14366

-

13.8726

9

-4.67731

Equal

variances

not assumed

-4.327 9.942 .002 -9.27500 2.14366

-

14.0551

7

-4.49483

39

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

Karena data berat basah memiliki variasi data homogen (0,072 > 0,05)

maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed. Jadi analisis

independent sample t-test pada berat basah daun tanaman sawi hijau

menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 dan 0,01 yaitu 0,001 < 0,05 dan

0,01 yang menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan pertumbuhan

berat basah tanaman sawi hijau pada media tanam hidroponik dan media

tanah pada taraf 5% dan 1% yang berarti perbedaan sangat signifikan.

h. Berat kering tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

Tabel 4.8.

Tabel Hasil Analisis Independent Samples t-Test

(Berat Kering Tanaman Sawi Hijau pada Media Tanam yang Berbeda)

Independent Samples Test

Levene's

Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T df

Sig. (2-

tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference

95% Confidence

Interval of the

Difference

Lower Upper

nilai Equal

variances

assumed

3.637 .077 -4.994 14 .000 -.65750 .13165 -.93986 -.37514

Equal

variances

not assumed

-4.994 9.755 .001 -.65750 .13165 -.95183 -.36317

40

Dari data analisis independent sample t-test yang didapatkan

menunjukkan bahwa nilai Sig hitungan < 0,05 dan 0,01. Nilai Sig hitung dilihat

pada Sig (2-tailed) jika variasi data homogen (jika Sig ≥ 0,05) maka dilihat

jalur Equal variances assumed dan sebaliknya jika variasi data tidak

homogen (jika Sig ≤ 0,05) maka lihat Equal variances not assumed.

Karena data berat kering memiliki variasi data homogen (0,077 > 0,05)

maka Sig (2-tailed) pada jalur Equal variances assumed. Jadi analisis

independent sample t-test pada pertumbuhan panjang daun tanaman sawi

hijau menunjukkan bahwa nilai Sig hitung < 0,05 dan 0,01 yaitu 0,000 < 0,05

dan 0,01 yang menandai Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan

pertumbuhan panjang daun tanaman sawi hijau pada media tanam

hidroponik dan media tanah pada taraf 5% dan 1% yang berarti perbedaan

sangat signifikan.

2. Pengujian Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini terdiri atas:

Ha: ada perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada

media tanam hidroponik dan media tanah).

Ho: tidak ada perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea L) pada

media tanam hidroponik dan media tanah.

3. Pembahasan Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dari parameter penelitian

ini, menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.)

pada media tanam hidroponik dan media tanah memiliki perbedaan. Dengan

respon pertumbuhan yang berbeda pada masing-masing perlakuan. Perbedaan

tersebut disebabkan oleh perbedaan adaptasi (penyesuaian diri) tumbuhan

terhadap media tanam saat semai dan perlakuan serta respon metabolisme

41

fisiologis masing-masing tanaman yang dipengaruhi media tanam yang berbeda

setiap perlakuan.

Media tanam hidroponik dan media tanam memiliki perbedaan

pertumbuhan yang signifikan pada tinggi tanaman, jumlah helaian daun, panjang

daun, lebar daun, panjang akar, berat basah (BB) dan berat kering (BK). Namun

pada diameter tidak terdapat perbedaan signifikan (non signifikan). Rata-rata

tinggi tanaman sawi hijau yang paling tinggi dengan media tanah (12 cm)

dikarenakan ketersedian unsur hara yang baik pada media tanah yaitu N

(nitrogen) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman. Tinggi

terendah pada media tanam hidroponik (7,125 cm) dikarenakan ketersedian unsur

hara serperti N (nitrogen) yang kurang disebabkan pemberian pupuk yang

dilakukan awal penanaman dan pada media sekam miskin unsure hara. Tinggi

tanaman merupakan penentu utama dari pertumbuhan karena semakin tinggi

tanaman maka tanaman tersebut memiliki pertumbuhan baik. Perbedaan yang

signifikan dibuktikan dengan hasil analisis komparatif tidak berkorelasi

(independent sample t-test) yaitu Sig hitung < 0,05 dan 0,01 (0,003 < 0,05 dan

0,01) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan tinggi pada

media tanam hidroponik dan media tanah.

Jumlah helaian daun tanaman sawi hijau yang paling banyak pada media

tanah dengan rata-rata (4 helai) dipengeruhi ketersedian unsur nitrogen yang

sesuai dengan tanaman. Jumlah helaian daun sedikit pada media tanam

hidroponik rata-rata (2 helai) diperngaruhi oleh ketersedian unsur nitrogen yang

tidak sesuai kebutuhan tanaman dikarenakan nitrogen berfungsi memicu

pertumbuhan daun dan batang. Dibuktikan dengan pendapat Lingga dalam

Helmei, menjelaskan bahwa unsur N berfungsi untuk memicu pertumbuhan pada

fase vegetatif terutama daun dan batang.41 Perbedaan yang signifikan pada

jumlah helaian daun dibuktikan dengan hasil analisis komparatif tidak

41 Helmei Anjarwaati dkk, “Pengaruh Macam Media dan Takaran Pupuk Kambing terhadap

Pertumhan dan Hasil Sawi Hijau (Brassica rapa L.)”, Vegetalika, No. 6, Vol. 1 (Juli 2016), h. 40.

42

berkorelasi (independent sample t-test) yaitu Sig hitung < 0,05 dan 0,01 (0,000 <

0,05 dan 0,01) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan jumlah

helaian daun pada media tanam hidroponik dan media tanah. Pertumbuhan

jumlah daun secara umum merupakan penghasil fotosintat utama. Pengamatan

jumlah daun sangat diperlukan sebagai indikator pertumbuhan yang dapat

menjelaskan proses pertumbuhan tanaman. Pengamatan daun dapat berdasarkan

fungsi daun sebagai penerima cahaya dan alat fotosintesis. Fungsi daun adalah

penghasil fotosintat yang sangat diperlukan tanaman sebagai sumber energi

dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.42 Jika jumlah daun semakin

banyak maka tanaman akan menghasilkan fotosintat yang banyak yang berarti

pertumbuhan tanaman meningkat.

Diameter batang tanaman sawi hijau tidak terdapat perbedaan yang

signifikan. Diameter yang paling besar pada media tanah dengan rata-rata (0,768

cm) dipengaruhi oleh ketersediana unsur nitrogen yang cukup karena unsur

nitrogen memicu pertumbuhan batang. Diameter batang tanaman sawi hijau yang

kecil pada media tanam hidroponik dengan rata-rata (0,593 cm) dipengaruhi oleh

ketersediana unsur nitrogen yang kurang cukup karena unsur nitrogen memicu

pertumbuhan batang. Perbedaan yang non signifikan dibuktikan dengan hasil

analisis komparatif tidak berkorelasi (independent sample t-test) yaitu Sig hitung

> 0,05 (0,059 < 0,05) Ho diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan

pertumbuhan diameter batang pada media tanam hidroponik dan media tanah.

Pertumbuhan diameter yang besar maka menunjukkan bahwa daya hantar zat

nutrisi tanaman untuk melakukan fotosintesis dapat terjadi lebih cepat

disebabkan jaringan pengangkut lebih banyak untuk meneransfer zat untuk

fotosintesis. tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.).

Panjang daun tanaman sawi hijau yang paling panjang pada media tanah

dengan rata-rata (7,707 cm) dipengaruhi jumlah daun karena semakin banyak

42 Indah Sukawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan…” h. 41.

43

daun sehingga panjang daunnya lebih tinggi. Panjang daun pendek pada media

tanam hidroponik (sekam) dengan rata-rata (5,608 cm) dipengruhi jumlah daun

yang sedikit sehingga panjang daun lebih rendah. Perbedaan yang signifikan

pada panjang daun dibuktikan dengan hasil analisis komparatif tidak berkorelasi

(independent sample t-test) yaitu Sig hitung < 0,05 dan 0,01 (0,000 < 0,05 dan

0,01) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan panjang daun

pada media tanam hidroponik dan media tanah.

Lebar daun tanaman sawi hijau yang paling lebar pada media tanah

dengan rata-rata (5,420 cm) dipengaruhi jumlah daun yang banyak yang

mengakibatkan rata-rata lebar daun lebih tinggi. Lebar daun kurang lebar pada

media tanam hidroponik dengan rata-rata (4,128 cm) dipengaruhi jumlah daun

yang sedikit yang mengakibatkan rata-rata lebar daun lebih rendah. Perbedaan

yang signifikan lebar daun dibuktikan dengan hasil analisis komparatif tidak

berkorelasi (independent sample t-test) yaitu Sig hitung < 0,05 dan 0,01 (0,005 <

0,05 dan 0,01) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan lebar

daun pada media tanam hidroponik dan media tanah.

Panjang akar tanaman sawi hijau yang paling panjang pada media tanah

dengan rata-rata (13,537 cm) dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara yang

menandakan akar tanaman dapat menjangkau unsur hara yang jauh. Panjang akar

yang pendek pada media tanam hidroponik dengan rata-rata (9,762 cm)

dikarenakan unsur hara yang dapat dijangkau hanya sedikit sehingga

pertumbuhan akar pendek. Perbedaan yang signifikan dibuktikan dengan hasil

analisis komparatif tidak berkorelasi (independent sample t-test) yaitu Sig hitung <

0,05 (0,029 < 0,05) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan

panjang akar pada media tanam hidroponik dan media tanah. Tanaman memiliki

akar yang panjang dapat menunjukkan tanaman tersebut mendapatkan nutrisi

yang baik karena dapat menjangkau unsur hara yang dibutuhkan.

Berat basah tanaman sawi hijau yang paling berat pada media tanah

dengan rata-rata (14,125 gram) dipengaruhi oleh hasil fotosintesis karena

44

berpengaruh terhadap bobot basah tanaman selain itu juga dipengaruhi oleh

kandungan air jaringan, unsur hara, dan hasil metabolisme, media ini memiliki

bobot basah yang tinggi karena tinggi tanaman, jumlah helaian daun, panjang

daun, lebar daun, panjang akar lebih tinggi. Berat basah yang ringan pada media

tanam hidroponik dengan rata-rata (4,850 gram) dikarenakan akumulasi hasil

fotosintesis dan metabolisme yaitu karena tinggi tanaman, jumlah helaian daun,

panjang daun, lebar daun, panjang akar lebih rendah yang menunjukkan

kandungan air jaringan, unsur hara, dan hasil metabolisme rendah. Perbedaan

yang signifikan dibuktikan dengan hasil analisis komparatif tidak berkorelasi

(independent sample t-test) yaitu Sig hitung < 0,05 dan 0,01 (0,001 < 0,05 dan

0,01) Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan pertumbuhan berat basah pada

media tanam hidroponik dan media tanah. Berat brangkas basah atau segar

tanaman merupakan gabungan dari perkembangan dan pertambahan jaringan

tanaman seperti jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan tinggi tanaman.

Berat basah merupakan total berat tanaman yang menunjukkan hasil aktivitas

metabolik tanaman.43

Berat kering tanaman sawi yang paling berat pada penelitian ini pada

media tanah dengan rata-rata berat 1,055 gram dikarenkan pertambahan organ

vegetatif yang lebih tinggi yang menyebabkan peningkatan bobot kering lebih

tinggi. Berat kering tanaman sawi hijau yang ringan pada media tanam

hidroponik (sekam) dengan rata-rata berat yaitu 0,397 gram dikarenakan

pertambahan organ vegetatif yang lebih rendah yang menyebabkan peningkatan

bobot kering lebih rendah. Dibuktikan dengan pernyataan Goldsworthy dan

Fisher dalam Helmei menyatakan bahwa menambahan tinggi tanaman jumlah

daun mengakibatkan luas daun meningkat. Peningkatan pertumbuhan organ

vegetatif seperti peningkatan jumlah daun, penamabahan tinggi tanaman, serta

pemanjangan akar dan efisiensi distribusi asimilat ke bagian-bagian tanaman

43 Indah Sukawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan...,

45

akan berdampak pada peningkatan bobot kering yang terbentuk.44 Sehingga

bobot kering memiliki perbedaan yang signifikan dibuktikan dengan hasil

analisis komparatif tidak berkorelasi (independent sample t-test) yaitu Sig hitung

< 0,05 dan 0,01 (0,000 < 0,05 dan 0,01) Ha diterima yang artinya terdapat

perbedaan pertumbuhan berat kering pada media tanam hidroponik dan media

tanah. Berat kering tanaman merupakan akibat dari pertumbuhan dan hasil

asimilasi O2 sepanjang pertumbuhan tanaman serta mencerminkan status nutrisi

tanaman yang sangat bergantung pada laju fotosintesis. Perkembangan tanaman

merupakan kombinasi dari sejumlah proses kompleks yaitu pertumbuhan dan

diferensiasi yang mengarah pada akumulasi berat kering. Semakin berat kering

artinya jaringan pada tanaman berat yang memunjukkan jaringan tanaman bagus.

Pertumbuhan tanaman pada media tanam yang berbeda memiliki

perbedaan dikarenakan media tanam yang berbeda memiliki kondisi yang

berbeda untuk tanaman dapat menyerap unsur hara dan media tanam memiliki

kandungan unsur hara yang berbeda-beda. Kelembaban dari media tanam

berbeda-beda yang akan mengakibatkan pertumbuhan akar tidak maksimal. Hal

ini didukung oleh Gardner et.al dalam Morgan kelembaban dan aerasi yang baik

dari suatu media tanam diperlukan untuk pertumbuhan akar maksimal karena

efektifitas pemupukan atau pemberian larutan nutrisi dipengaruhi oleh media

tanam. Terganggunya respirasi akar dapat menyebabkan akar kurang mampu

menyerap unsur hara yang diberikan. Kurangnya oksigen disekitar perakaran

tanaman dapat mengurangi kemampuan akar dalam menyerap air dan mineral

dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan tanaman serta menyebabkan

terjadinya akumulasi racun.45

Penelitian ini menunjukkan media tanah tetap lebih unggul dibandingkan

media sekam dengan sistem hidroponik pada pertumbuhan tanaman sawi hijau

(Brassica juncea L.). dikarenakan media tanah memiliki unsur hara yang

44 Helmei Anjarwaati dkk, “Pengaruh Macam Media…, h. 42.

45 Indah Kusumawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan…, h. 26.

46

dibutuhkan tanaman sawi hijau untuk tumbuh. Terlebih tanah yang digunakan

adalah tanah persawahan (humus) yang sudah memiliki unsur hara dan mikro

organisme. Hal ini didukung dengan pendapat Kemas Ali Hanafiah bahwa tanah

sebagai media tanam atau tumbuh memiliki berbagai kelebihan diantaranya

adalah adalah lebih kuat dalam menyangga tanaman, dapat menyediakan unsur

hara, dapat mengatur ketersediaan air, filter dari kontaminan dan tempat hidup

biota yang menghasilkan unsur yang berguna bagi tanaman.46 Unsur hara yang

terdapat dalam tanah terdapat unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur

hara makro terdiri dari C, N, P, K, Mg, CaCO3, S, dan O. sedangkan unsure hara

mikro terdiri dari Cl, Ba, Fe, Mn, Mo, Zn, Si, Na, dan Co. Unsur yang

bepengaruh terhadap pertumbuhan yaitu N, P, K.

Media sekam mentah yang digunakan dalam penelitian ini memiliki daya

serap air baik tapi daya menurunkan air kurang baik sehingga tanaman tidak

dapat tumbuh dengan baik dikarenakan media sekam terlalu lembab. Selain itu

media sekam tidak memiliki mikro organisme yang akan memecah kandungan

yang ada dalam sekam tersebut. Oleh sebab itu nilai rata-rata tinggi tanaman,

jumlah helain daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun, panjang akar,

berat basah dan berat kering lebih tinggi pada media tanah dibandingkan media

tanam hidroponik (sekam). Namun pada parameter diameter batang setelah

dilakukan uji independent sample t-test tidak menunjukkan perbedaan atau non

signifikan.

46 Kemas Ali Hanafiah, “Dasar-dasar Ilmu…,

47

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis data penelitian ini dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan sawi hijau (Brassica juncea

L.) pada media tanam hidroponik dan media tanah. Dengan rata-rata

pertumbuhan pada media tanah lebih tinggi sedangkan rata-rata pertumbuhan

pada media hidropnik lebih rendah.

B. Implikasi Teoritis

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pertumbuhan sawi hijau pada media

tanam hidroponik dan media tanah, pertumbuhan pada media tanah tetap lebih

unggul dibandingkan media sekam dengan sistem hidroponik pada pertumbuhan

tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). dikarenakan media tanah memiliki

unsur hara yang dibutuhkan tanaman sawi hijau untuk tumbuh. Terlebih tanah

yang digunakan adalah tanah persawahan (humus) yang sudah memiliki unsur

hara dan mikro organisme. Hal ini didukung dengan pendapat Kemas Ali

Hanafiah bahwa tanah sebagai media tanam atau tumbuh memiliki berbagai

kelebihan diantaranya adalah adalah lebih kuat dalam menyangga tanaman, dapat

menyediakan unsur hara, dapat mengatur ketersediaan air, filter dari kontaminan

dan tempat hidup biota yang menghasilkan unsur yang berguna bagi tanaman.

C. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian tersebut dapat diajukan saran-saran

seperti berikut:

1. Untuk petani dan masyarakat

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa media tanam tanah lebih tinggi

daripada media tanam hidroponik menggunakan sekam padi, sehubungan

dengan itu para petani dan masyarakat bisa mencoba menggunakan

hdiroponik jenis lain.

48

2. Untuk dinas-dinas terkait

Disarankan kepada dinas pertanian dapat memberikan penyuluhan kepada

masyarakat cara menanam menggunakan hidroponik.

DAFTAR PUSTAKA

Aulia Rakhman, dkk., “Pertumbuhan Tanaman Sawi Menggunakan Sistem

Hidroponik dan Akuaponik. Jurnal Teknik Pertanian Lampung. No.4. Vol. 4.

(Oktober, 2015), h. 253.

Dwi Harjoko,”Studi Macam Media Tanam dan Debit Aliran Terhadap Pertumbuhan

dan Hasil Sawi (Brassica juncea L.) Secara Hidroponik NFT”, Jurnal

Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, No. 11, Vol. 2 (Juli

2009), h. 62.

Haryanto Eko, dkk.,”Sawi & Selada. Jakarta: Penebar Swadaya. 2001, h. 34.

Helmei Anjarwaati dkk, “Pengaruh Macam Media dan Takaran Pupuk Kambing

terhadap Pertumhan dan Hasil Sawi Hijau (Brassica rapa L.)”, Vegetalika,

No. 6, Vol. 1 (Juli 2016), h. 40.

Hendro Sunarjono, Ibid., h. 84-85.

Herdiyana Fitriani dan Husnul Jannah, “Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Biji.

Mataram: Duta Pustaka Ilmu. 2014. h. 32.

Hesti Dwi Setyaningrum, “Panen Sayur Secara Rutin di Lahan Sempit” (Jakarta:

Penebar Swadaya, 2014), h. 179-180.

Hudoro Sameto, “Hidroponik Sederhana Penyejuk Ruangan” (Bogor: Penebar

Swadaya, 2004), h. 2-3.

Indah Sukawati, “Pengaruh Kepekatan Larutan Nutrisi Organik terhadap

Pertumbuhan dan Hasil Baby Kailan (Brassica oleraceae VAR. albo-glabra)

pada Berbagai Komposisi Media Tanam dengan Sistem Hidroponik Substrat.

Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2010” h. 38.

Kemas Ali Hanafiah, “Dasar-dasar Ilmu Tanah Edisi 1” (Jakarta: Rajawali Pers,

2012).

Kunto Herwibowo dan N.S. Budiana. Hidroponik Sayuran untuk Hobi & Bisnis.

Bogor: Penebar Swadaya. 2015.

Kusriningrum R.S., “Perancangan Percobaan” (Surabaya: Airlangga university

Press, 2012), h. 99.

M. Fathurrahim Mz. Skripsi: Pengaruh Media Tumbuh terhadap Pertumbuhan

Tinggi Tanaman Bayam (Amaranthus hibrida) serta Potensinya sebagai

Bahan Kajian Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan. Mataram: IAIN Mataram.

2014.

Margono, “Metodologi Penelitian” (Jakarta: Refika Aditama, 2010), h. 100.

Munawi Inside, "Sistem Perakaran Tumbuhan” dalam http://belajar-di-

rumah.blogspot.co.id/2015/03/sistem-perakaran-tumbuhan.html diakses pada

tanggal 18 April 2017 pukul 05.30 WITA.

Pinus Lingga, “Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah Edisi Revisi” (Jakarta:

Penebar Swadaya, 2011), h. 1.

Pradyto Moerhasrianto, “Respon Pertumbuhan tiga sayuran pada berbagai nutrisi

larutan Hidroponik” (Skripsi, Universitas Jember, Jember, 2011), h. 1.

R. Gunawan Sudarmanto, “Statistik Terapan Berbasis Komputer dengan Program

IBM SPSS Statistics 19” (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013), h. 104.

R. H. Paeru dan Trias Qurnia Dewi, “Panduan Praktis Bertanam Sayuran di

Pekarangan. Bogor: Penebar Swadaya. 2016.… h. 65.

Rahmat Rukmana, “Bertanam Sawi & Selada. Yogyakarta: Kasinus. 2003, h. 35.

Suharsimi Arikunto, “Prosedur Penelitian Siuatu Pendekatan Praktik”

(Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 156.

Tim Karya Tani Mandiri, ”Pedoman Budi Daya secara Hidroponik” (Bandung:

Nuansa Aulia, 2010), h. 38.

Wikipedia Ensiklopedia Bebas, “Sekam” dalam https://upload.wikimedia.org/

wikipedia/commons/thumb/d/d6/Rice_chaffs.jpg/250px-Rice_chaffs.jpg

diakses pada tanggal 14/03/2017 pukul 05.10 WITA.

Dimas Ragil, “Budidaya Tanaman Sawi Hijau” dalam

http://pet4nimuli4.blogspot.co.id/2016/02/budidaya-tanam-sawi hijau_14.html

diakses pada tanggal 14/3/2017 pukul 04.44 WITA.

KOMPETENSI PENELITI (CV)

IDENTITAS DIRI

Nama : Nurdiana, SP, MP.

NIP/NIK : 196505302005012001

Tempat dan Tanggal Lahir: Mataram, 30 Mei 1969

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Golongan / Pangkat : Penata/III d

Jabatan Akademik : Lektor

Perguruan Tinggi : UIN Mataram

Alamat : Kampus 1: Jl. Pendidikan No. 35 Mataram,

Kampus 2: Jl. Gajah Mada Jempong-Mataram,

Alamat/Tlp. : Jln. Anyelir No. 18 Mataram/(0370)621307

Hp. :081915956066

Alamat e-mail : [email protected]

PENGALAMAN PENELITIAN

Tahun Judul Penelitian Ketua/Anggota Tim Sumber Dana

2012

Pengaruh gizi buruk dan pembrantasan

busung lapar terhadap kelangsungan

hidup masyarakat di desa Batu Nyale

Lombok Tengah

Ketua DIPA IAIN

Mataram

2013

Studi kasus dampak pasien terifeksi

penyakit jamur (Mikosis superfisiologis)

dan cara penangulangannya di RSU di

Mataram

Ketua DIPA IAIN

Mataram

2014

Pengaruh masak fisiologis tanaman padi

(Oriza sativa L) terhadap mutu beni

beberapa varietas padi Ketua

DIPA IAIN

Mataram

2015

Pemberian air cucian beras terhadap

pertumbuhan tanaman bayam cabut

(Amaranthus sp).

Ketua DIPA IAIN

Mataram

2016

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar

hemoglobin pada siswa sekolah

menengah pertama di daerah pantai

Kabupaten Lombok Utara.

Ketua DIPA IAIN

Mataram

2017

Perbedaan efektivitas terapi bekam basah

dan kering terhadap hipertensi dalam

menurunkan tekanan darah di desa

Pemenang Timur,Kecamatan Pemenang

Kabupaten Lombok Utara.

Ketua DIPA UIN

Mataram

2018

Perbedaan Pertumbuhan Tanaman Sawi

Hijau (Brassica juncea L.) pada Media

Tanam Hidroponik dan Media Tanah di

Lingkungan Pejeruk Bangket Kelurahan

Pejeruk Kec. Ampenan Kota Mataram

Ketua DIPA UIN

Mataram

Yang menyatakan,

(Nurdiana, SP, MP.)

NIP. 196505302005012001