draft - sophie – social policy & human rights ?· web viewdalam hal salah satu calon gubernur,...

Download DRAFT - SOPHIE – Social Policy & Human Rights ?· Web viewDalam hal salah satu calon gubernur, bupati…

Post on 03-Mar-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DRAFT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR TAHUN

TENTANG

PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:a.bahwa dalam rangka mewujudkan Pemilihan gubernur, bupati dan walikota yang demokratis sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu diatur penyelenggaraan pemilihan kepala daerah;

b.bahwa penyelenggaraan Pemilihan gubernur, bupati dan walikota sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan sehingga perlu diatur dalam Undang-Undang tersendiri;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang tentang Pemilihan Kepala Daerah;

Mengingat :Pasal 5 ayat (1), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20, dan Pasal 22 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan

:

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi yang selanjutnya disebut DPRD Provinsi atau sebutan lainnya adalah lembaga perwakilan rakyat daerah di Provinsi dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut DPRD Kabupaten/Kota atau sebutan lainnya adalah lembaga perwakilan rakyat daerah di Kabupaten/Kota sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

6. Kepala Daerah adalah gubernur untuk provinsi dan bupati/walikota untuk kabupaten/kota.

7. Pemilihan Kepala Daerah yang selanjutnya disebut/disingkat Pilkada adalah Pemilihan gubernur dan pemilihan bupati/walikota yang merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di provinsi dan kabupaten/kota untuk memilih gubernur dan bupati/walikota berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

8. Partai Politik adalah partai politik peserta pemilihan umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Partai Politik dan termasuk partai politik lokal di Aceh.

9. Fraksi adalah kepanjangan dari partai politik peserta pemilihan umum yang memiliki kursi di DPRD atau sebutan lainnya dan sebagai wahana berhimpunnya anggota DPRD atau sebutan lainnya.

10. Calon Gubernur adalah peserta pemilihan yang diusulkan oleh Fraksi atau gabungan Fraksi DPRD Provinsi atau sebutan lainnya yang didaftarkan di KPU Provinsi.

11. Calon bupati/walikota adalah peserta pemilihan yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik atau perseorangan yang mendaftar atau didaftarkan di KPU Kabupaten/Kota.

12. Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, selanjutnya disebut KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota, adalah Penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah di provinsi dan kabupaten/kota.

13. Panitia Pemilihan di DPRD Provinsi atau sebutan lainnya yang selanjutnya disebut Panlih adalah panitia yang dibentuk dengan keputusan Pimpinan DPRD Provinsi atau sebutan lainnya dan bertugas untuk menyusun peraturan tata tertib pemilihan Gubernur serta menyelenggarakan pemilihan.

14. Badan Pengawas Pemilu gubernur, selanjutnya disebut Bawaslu Provinsi, adalah lembaga yang mengawasi penyelenggaraan Pemilihan gubernur

15. Panitia Pengawas Pemilihan bupati dan walikota, selanjutnya disebut Panwas Kabupaten/Kota, adalah panitia yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilihan bupati/walikota.

16. Pemilih untuk Pemilihan Gubernur adalah Anggota DPRD Provinsi atau sebutan lainnya.

17. Pemilih untuk Pemilihan bupati/walikota adalah Anggota DPRD kabupaten/kota.

BAB II

ASAS DAN PRINSIP PELAKSANAAN

Bagian Kesatu

Asas

Pemilihan gubernur, bupati, dan walikota dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Bagian Kedua

Prinsip Pelaksanaan

(1) Pemilihan gubernur, bupati, dan walikota dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali serentak secara nasional.

(2) Calon gubernur, bupati, dan walikota berasal dari proses uji publik.

(1) DPRD provinsi memberitahukan secara tertulis kepada Gubernur dan KPU provinsi mengenai berakhirnya masa jabatan gubernur selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum berakhir masa jabatan gubernur;

(2) DPRD kabupaten/kota memberitahukan secara tertulis kepada bupati/walikota dan KPU kabupaten/kota mengenai berakhirnya masa jabatan bupati/walikota selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum berakhir masa jabatan bupati/walikota

(1) Pemilihan gubernur, bupati dan walikota diawali dengan pendaftaran bakal calon dan uji publik;

(2) Pemilihan gubernur, bupati dan walikota diselenggarakan melalui 2 (dua) tahapan yaitu tahapan pertama dan tahapan kedua.

(3) Tahapan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi :

a. Pengumuman pendaftaran calon gubernur, bupati dan walikota;

b. Pendaftaran calon gubernur, bupati dan walikota;

c. Penelitian persyaratan administrasi calon gubernur, bupati dan walikota; dan

d. Penetapan calon gubernur, bupati dan walikota;

(4) Tahapan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimulai paling lambat 4 (empat) bulan sebelum berakhir masa jabatan gubernur, bupati dan walikota.

(5) Tahapan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus diselesaikan paling lama 90 (sembilan puluh) hari.

(6) Tahapan kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:

a. Penyampaian visi dan misi;

b. Pemungutan dan penghitungan suara;

c. Penetapan hasil pemilihan; dan

d. Penyampaian keberatan.

(7) Tahapan kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dimulai 7 (tujuh) hari setelah tahapan pertama pemilihan selesai.

BAB III

PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA

(2) Gubernur dipilih oleh Anggota DPRD Provinsi secara demokratis berdasar asas langsung, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

(3) Bupati/walikota dipilih oleh Anggota DPRD kabupaten/kota secara demokratis berdasar asas langsung, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

(1) Penyelenggara Pemilihan Gubernur adalah:

a. KPU Provinsi; dan

b. DPRD Provinsi.

(2) KPU Provinsi menyelenggarakan tahapan pertama sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (3).

(3) DPRD Provinsi menyelenggarakan tahapan kedua sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (6).

(4) Penyelenggara Pemilihan bupati/walikota adalah:

a. KPU kabupaten/kota; dan

b. DPRD kabupaten/kota.

(2) KPU kabupaten/kota menyelenggarakan tahapan pertama sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (3).

(3) DPRD kabupaten/kota menyelenggarakan tahapan kedua sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (6).

Dalam melaksanakan tahapan pertama pemilihan gubernur, bupati dan walikota, KPU Provinsi dan KPU kabupaten/kota mempunyai kewajiban :

a. mengumumkan pendaftaran bakal calon;

b. melaksanakan menyelenggarkan uji publik yang meliputi kompetensi dan integritas;

c. mengumumkan pendaftaran calon;

d. melaksanakan kegiatan pendaftaran;

e. melaksanakan kegiatan seleksi persyaratan calon;

f. melaksanakan kegiatan penetapan calon; dan

g. menyampaikan nama-nama calon beserta dokumen kelengkapan calon kepada DPRD Provinsi dan/atau DPRD kabupaten/kota;

DPRD Provinsi, kabupaten dan kota dalam melaksanakan tahapan kedua sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (7) membentuk Panlih.

(1) Panlih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk paling lambat 4 (empat) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan gubernur.

(2) Anggota Panlih terdiri dari unsur-unsur fraksi dan masing-masing fraksi dapat diwakili 3 (tiga) orang, yang ditentukan secara proporsional.

(3) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD Provinsi, kabupaten dan kota karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panlih merangkap anggota.

(4) Sekretaris DPRD Provinsi, kabupaten dan kota karena jabatannya adalah Sekretaris Panlih, bukan anggota.

(5) Apabila seseorang anggota Panlih dicalonkan atau mencalonkan diri menjadi calon gubernur, yang bersangkutan harus mengundurkan diri dari keanggotaan Panlih, dan keanggotaannya dalam Panlih digantikan oleh anggota DPRD Provinsi, kabupaten dan kota dari fraksi yang sama.

(6) Tugas Panlih berakhir setelah penetapan calon gubernur, bupati dan walikota terpilih.

(7) Dalam hal terjadi sengketa pemilihan gubernur, bupati dan walikota, tugas Panlih sebagaimana dimaksud ayat (6) berakhir setelah Panlih melaksanakan putusan Mahkamah Agung.

(8) Guna menjamin transparansi dan efisiensi, Komisi Pemberantasan Korupsi mengawasi Panlih dalam pelaksanaan tugasnya.

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10,

Recommended

View more >