dr. ir. sutrisno

Download Dr. Ir. Sutrisno

Post on 13-Jan-2017

227 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PROSIDING SEMINAR NASIONALPENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR

    Pusat Teknologi Akslerator don Proses BahanYogyakarta, 28 Agustus 2008

    PENINGKATAN KANDUNGAN LOKAL SEBAGAI SOLUSIPENGARUH KADALUWARSA PAD A PERANGKAT NUKLIR

    Dr. Ir. Sutrisno

    Kepala Pusat Kajian & Pengembangan Kebijakan Industria/isasi Universitas Gacijah Mada

    ABSTRAK

    Seratus tahun kebangkitan nasional menyadarkan bangsa Indonesia tentang apayang sudah dicapai setelah 100 tahun mengenal omanisasi, yang kemudianberkembang dalam kehidupan berbangsa dan omanisasi bemeaara. Oi jamanMajapahit pemah Nusantara ini menggapai kejayaan. Dalam makalah ini diterangkanbahwa kita telah masuk era-nonlinieritas, atau "era turbulensi" menurut AlanGreenspan, yaitu era pengujian kemampuan bangsa ini beroganisasi. Ancaman bagibangsa Indonesia makin meningkat, selain masih dibelit krisis, lambat laun dan secarasistematik mulai dilibat oleh lenqan qurita bisnis dan oerdaqanqan intemasional,seperti masalah benih jagung, pakan temak, jaringan Supply-Chain produk otomotif,produk-produk lewat supermarket dan mall, dan korbannya mulai dari petani kecil,usaha mikro, ibu rumah tangga, sampai rakyat di sudut-sudut pedesaan, hinggakehidupan profesional di perkotaan.Makalah ini membahas kenapa jaringan supply-chain asing bisa menggurita, negaraproduktif cenderung tumbuh mengikuti the law of increasing retum denganmemanfaatkan peran teknologi, supply-chain technology, supply-chain economy,manajemen teknologi, strategi blue-ocean. Diterangkan pula peran penting KNRistek,BPPT, LlPI dan BA TAN untuk membantu kebangkitan bangsa. Penyelamatan bangsaini menuntut perbaikan Karakter SDM, Karakter Sistem dalam Berbangsa. TeknologiNuklir banyak dipakai bangsa tetangga untuk tumbuh membentuk jaringan Supply-Chain intemasional. Pengembangan strategi KNRistek, BPPT, LlPI dan BA TAN harusmenyesuaikan dan mengejar ketertinggalan tersebut. Pakar tenaga nuklir harusmenjadi pensejahtera bangsa lebih dahulu, barulah kemudian menjadi pakarpengelola risiko teknologi energi unggulan.Sayang penerapan teknologi banyak mendapatkan dan menimbulkan masalah, selainkebijakan yang kurang menguntungkan, difusi teknologi untuk pemberdayaan sosialmemerfukan beberapa langkah penyesuaian. Di sini langkah-Iangkah solusi difusidapat diformulasikan, dibahas pula permasalahan produsen yang memerfukan awalteknologi gratis, pendampingan, biaya difusi yang bisa diatasi dengan socialentrepreneurship. Dengan langkah ini akan membantu mempercepat terbentuknyateknologi Indonesia. Khusus untuk BA TAN, perangkat kadaluwarsa berarti sistemlebih elementer, memiliki lebih banyak peluang untuk modemisasi dengan lebihmudah memanfaatkan kreativitas, sedangkan menurut konsep Jepang pada awalindustrialisasinya, kadaluwarsa berarti akan lebih rendah idle-time nya, bila perawatandiberikan optimal. Perfu disadari bahwa banvak eksoor oertanian neqara tetanaqaberhasilluarbiasa dengan memanfaatkan kecanggihan penerapan teknologi nuklir.Memang banyak godaan untuk langsung menjualnya kepada pemodal besar danindustri besar. Hal ini berarti membiarkan 68% rakyat yang petani kecil dan UMKMtersapu oleh geJombang globalisasi dengan free-trade nya. Perbaikan Karakter SDMdan karakter sistem berbangsa memang sangat mendesak dilakukan.Bebarapa "solusi permasalahan dalam makaJah ini", diperoleh dari penerapan metodamatematik non-Iinier "matched asymptotic expansion" termodifikasi, yangmenekankan pada matching harga variabel, derivat pertama dan derivat kedua.

    Kata kunci: kandungan lokal, perbaikan karakter sdm, supply-chain, teknologiindonesia, ekspor pertanian

    Sutrisno ISSN 1410 - 8178 XI

  • PROSIDING SEMINAR NASIONALPENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR

    Pusat Teknologi Akselerator don Proses Bahan

    Yogyakarta, 28 Agustus 2008

    LA TAR BELAKANG

    Saat ini kesadaran bangsa tentang suasana kebangsaan sangat tinggi, dipengaruhi suasana lOO tahunKebangkitan Nasional, menyadari besar kemungkinan bangsa ini akan mengalami kembali sepertikejayaan Madjapahit di masa lalu. Pengharapan ini makin besar dengan menyadari bagaimana penguasaansains nuklir dan teknologi nuklir bisa meraih keunggulan-keunggulan. walau dengan beberapa keterbatasan.Untuk berusaha menuju masa kejayaan itu, kita harus menyadari potensi pengembangan, ketertinggalanterutama dari sisi komponen kandungan lokal, problem-problem yang ada, tantangan yang dihadapi danstrategi yang mungkin diterapkan.

    Kajian ini diawali dari tulisan Prigogine dan Stengers (1984) "Order Out of Chaos: Man's NewDialogue with Nature", yang mengkhawatirkan terjadinya proses dehumanisasi di masyarakat. Prigogineadalah pemenang Hadiah Nobel 1977 bidang kimia dan biologi, yang menemukan karakter kaotik dalamrekasi kimia dan kehidupan biologi akibat proses non-linier di dalam sistem non-equilibrium. Pendapat inididukung Alvin Toffler, yang menulis kata pengantar buku tersebut, bahwa proses ini terjadi akibat kebiasaanilmuwan barat yang suka memecah-mecah ilmu tetapi lupa untuk menggabungkannya kembali. Beberapapemenang Hadiah Nobel Ekonomi memperkaya "studi non-linier" ini. Prof. J.F. Nesh (1994) menemukanpula indahnya "roh kerjasama", Prof. Stiglitz (2002) menerangkan tentang penindasan si kuat akibat"kepemilikan informasi tidak-simetris", seperti ketidak adilan dalam ''free-trade'', Prof. O. Kahnemann(2003), seorang psikolog menemukan "ekonomi perilaku", sebagai kebiasaan rasional sebagai pedomantindakan ekonomi. Kontribusi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Prof. Mohammad Yunus, yangmenekankan "empati-kemanusiaan" dalam micro-finance, membantu pemberdayaan usaha mikro. Berangkatdari studi non-Iinier ini penulis melakukan kajian, hasilnya (Sutrisno, 2003a dan 2003b, 2005,2006a sampai2006g, dan 2008) yang disampaikan secara skematis dalam makalah ini.

    Elemen budaya temyata berpengaruh besar. Temyata karena budaya tulis barat, kemajuan ilmubarat lebih mudah dipelajari dan diadopsi. Perkembangan i1mu bangsa di dunia ketiga sangat dipengaruhioleh perkembangan ilmu barat tegas diwarnai oleh rasionalisasi dan karakter individual, sehingga peranfaktor materi, modal dan kapital sangat dominan. Kebanyakan negara dunia ketiga kurang dipengaruhi olehperkembangan ilmu bangsa timur, yang lebih berwatak pola budaya dan karakter kemanusiaan.

    Pada saat pertemuan perdagangan intemasional belum berbenturan, saat itu perkembangan ilmubarat sangat mengagumkan. Akan tetapidi era-turbulen ini persoalan yang melanda dunia ketiga sangatdiwamai oleh tantangan globalisasi danfree-trade. Inilah yang teljadi didunia, yang menurut Reinert (2007),sistem kehidupan bernegara digerogoti oleh proses dehumanisasi dan primitivisasi. Beberapa negara, sepertiThailand, Malaysia, China, Taiwan, menyadari problem non-linier ini, peran budaya dan kemanusiaan.Bangsa dunia ketiga lainnya, seperti bangsa Indonesia, kehabisan "cara dan strategi" untuk keluar dari krisis,sementara bangsa lain telah terbebas mulai menjadi ancaman bagi Indonesia, menjadi korban dari kemajuanperadaban sekaligus ekspansi mereka.

    Kondisi kaotik ini, yang didominasi karakter non-linier sistem, karakter turbulen, meninggalkanberbagai tapak, ciri-ciri atau pola-pola, seperti yang diidentifikasi oleh Prigogine & Stenger (1984) danJordan & Smith (1987). Akhimya, buku "Menuju Indonesia Pemain Utama Ekonomi Ounia" (Sutrisno, 2008)berhasil merumuskan strategi bangsa Indonesia untuk keluar dari krisis, mampu menandingi kekuatan lengangurita jaringan Supply-Chain internasional, dan bahkan menjadi pemain utama dunia. Oalam bab 1\1diterangkan strategi jangka pendek, yang lebih mengutamakan pemberdayaan usaha mikro dan petani kecil,bab IV usulan rancangan sistem pembangunan bangsa Indonesia, bagaimana membangun TeknologiIndonesia, yaitu teknologi yang mensejahterakan bangsa, dan bab V adalah strategi percepatan pencapaiantujuan tersebut, yang tidak lain adalah perbaikan karakter SOM Indonesia, perbaikan karakter sistembernegara, yaitu strategi Peningkatan Peran Kandungan Lokal bangsa. Itulah faktanya, Malaysia, Thailand,dan negara lain telah terbebas dari krisis, kenapa Indonesia belum?

    Problem awal bangsa Indonesia, dimulai dari kesimpang siuran terminologi, sehingga komunikasiantar pakar "seling surup", misalnya penggunaan definisi teknologi, industrialisasi dan budaya. Faktor lain,perkembangan ilmu sosial di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kajian Iinier, sekuensial, materia//y-dominated, teoretica//y-strressed, sedang perkembangan ilmu budava sangat berlandaskan pada kajian non-tinier, pattern-oriented, dan empirically-based investigation. Oi lain pihak pakar ekonomi dan pakar politikmenggunakan asumsi "calculated cost" dan "power-orientation". Akibatnya, pakar-pakar eksakta menjadimakin "dis-oriented" dengan pendapat dan argumen yang simpang siur ini, m~njadi bingung pula, mana yangharus dipakai sebagai landasan. Bagaimana sikap, landasan berpijak bagi tindakan & penerapan di lapanganbagi pakar eksakta? Oemikianlah yang terjadi selama pembangunan bangsa ini, pakar eksakta lebih bersifatmengekor, padahal di abad teknologi, mereka adalah pakar sebenarnya, yang harus memimpin diskusi.

    XII ISSN 1410-8178 Sutrisno

  • PROSIDING SEMINAR NASIONALPENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR

    Pusat Teknologi Akslerator don Proses BahanYogyakarta, 28 Agustus 2008

    Penyelesaiannya dimulai dengan kesepakatan bahwa ilmu pengembangannya di perguruan tinggidan institusi keilmuan, sedang pengetahuan berkembang dalam praktek di luar institusi di lapangan.Penerapan ilmu dan pengetahuan dalam praktek menghasilkan teknologi yang mensejahterakan kehidupanbangsa. Jadi Teknologi Indonesia adalah "terapan ilmu dan pengetahuan yang berhasil menseiahterakanbangsa Indonesia". Sebagai contoh teknologi Finlandia itu Nokia, teknologi India adalah ICT, teknologiThailand adalah produk food-industry.

    Dalam paper ini istilah industri bukan yang sektor se

Recommended

View more >